Sket Dance adalah anime nomor satu saya untuk saat ini, jadi saya pengen mendedikasikan ini buat Sket Dance, dan Bossun serta semua orang yang dia sayangi xD

Disclaimer : Sket Danse is belong to Shinohara Kenta, and this fic dibuat based on my imagination.

Summary : "Sabtu. Jam Sepuluh Malam. Ditaman. Jangan berani-berani tidak datang ya, kau!"Anak itu mengajak Bossun disuatu malam. Ada apa? Maybe they're growing closer, little by little.

LITTLE BY LITTLE

By : kiriohisagi

Bossun menatap ponsel untuk kesekian kalinya dengan gusar, sekarang dia kelihatan seperti orang bodoh. Bayangkan saja, sekarang sudah jam sebelas malam dan dia masih mau-maunya berdiri di taman untuk menemui seseorang. Dan lihat apa yang dia dapat untuk ini? Dia dibiarkan menunggu sendirian, tanpa ada kepastian yang jelas, tanpa ada penjelasan apapun.

"Kuso! Anak itu kemana sih!" Dia mengumpat sambil memencet-mencet ponselnya mencoba menelepon anak itu lagi. Tidak ada hasil. Kata Operatornya, nomor telepon yang sedang dia hubungi sedang berada diluar area atau semacamnya. Bossun tidak terlalu peduli soal itu, yang dia pikirkan cuma satu, kemana anak itu sekarang?

Bossun mengacak rambutnya kesal. Demi apapun, lima menit dari sekarang, kalau anak itu belum muncul, dia akan pergi sendiri.

~aaa~

"Bossuun!" teriakan kencang Himeko mengagetkan bossun yang awalnya lagi enak-enakan tidur di sofa ruang klubnya. Oke! Ditambah ini, bossun sukses menobatkan hari ini sebagai hari yang paling menyebalkan sepanjang tahun.

"Kau tau? Kau tau?" Himeko masih saja repot-repot duduk disebelahnya dan bercerita dengan mata yang berbinar-binar. Bossun separuh tak mendengarkan, sejujurnya. Dia hanya mengangguk jika dibutuhkan, dan menggumam ketika Himeko bertanya "Kau mengerti maksudku kan?"

Well, tentu saja Bossun tidak mengerti. Dia sedang dalam keadaan bad mood tingkat dewa sekarang. Dia hanya mendengar bagian "Dante" dan kata-kata "Debut di TV" tapi selebihnya dia tidak tahu. Dia lagi malas mendengarkan, dia lagi malas melakukan apapun.

"Sabtu. Jam Sepuluh Malam. Ditaman. Jangan berani-berani tidak datang ya, kau!"

Bossun teringat bagaimana anak itu mengajaknya. Dia berkata seperti itu ketika Bossun sedang bersama Switch dan Himeko. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana rasanya setelah itu, seharian Switch dan Himeko mengejeknya, itu memalukan! Belum lagi mengumpulkan keberanian untuk berpamitan kepada ibunya jam setengah sepuluh malam. Siapa yang tahu bagaimana sulitnya Bossun berkelit ketika Ibunya tersenyum menggoda. Juga semua tekanan mental yang Bossun rasakan selama satu setengah jam menunggunya. Apa dia pikir gampang?

Apa katanya waktu itu? Jangan berani-berani tidak datang. The Hell! Justru dia yang tidak datang. Dia yang membiarkan Bossun menunggu sendirian disana.

"Hei, Bossun. Kau kenapa?" Himeko bertanya heran sambil memainkan pellolipop rasa sup miso di mulutnya. Bossun cuma menggaruk tengkuknya, jadi pada akhirnya Himeko bertanya, eh? Huh. Sayang ini adalah hal yang agak sulit untuk diceritakan pada siapapun. Walaupun Bossun tahu bahwa di beberapa kesempatan, Himeko bisasangat mengerti dia.

"Kau tau Himeko, ada saat-saat ketika seseorang lagi malas untuk ngapa-ngapain. Dan aku lagi dalam saat-saat itu. Itu kalau kau mengerti maksudku." Kata Bossun bersandar ke sofa, tidak menghiraukan muka heran Himeko.

"Hah? Kau sedang tidak PMS kan Bossun?" Himeko mencoba melucu, sepertinya. Tapi Bossun tidak sedang dalam keadaan berbaik hati untuk tertawa. Jadi dia hanya menghela nafas berat, berharap dengan itu Himeko mau mengerti.

Himeko menyerah, dia mundur teratur menuju tempat Switch yang dari tadi diam menonton sesuatu di layar komputer. Bossun merasa tidak enak dalam hati pada Himeko, dia sempat mendengar Himeko berbisik sesuatu ke Switch tentang dirinya. Bossun rasa Himeko khawatir padanya. Tapi bagaimana lagi? Dia sedang tidak ingin diganggu.

Tapi pikirannya kembali memaksa Bossun untuk mengingat kemarin malam. Dia mulai menyesal atas semua hal yang dia pernah lakukan pada 'anak itu'. Matanya terpejam, mengingat semua kejadian jauh sebelum malam ketika dia dibiarkan sendirian.

~aaaaa~

~aaa~

Suatu siang disaat semuanya belum terjadi...

"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" Bossun tidak tahu apa yang membuatnya menemukan Tsubaki Sasuke, anak berbulu mata panjang dilapangan yang seramai ini, sedang duduk ditepi, bersandar ke pagar pembatas. Bossun memutuskan untuk duduk disebelahnya, tepat ketika anak itu menoleh ke arahnya.

"Tidak ada sesuatu yang khusus." Jawabnya sambil membuang pandangan kedepan.

"Tumben kau tidak teriak-teriak seperti biasanya. Kemana energi mu yang kayak nggak ada habisnya itu, huh? Hilang kemana, Sasuko-chan?" Tanya bossun dengan nada yang dibuat mengejek. Dia mendapatkan dengusan kesal untuk itu.

"Jangan panggil aku dengan itu, bodoh! Namaku Sasuke! Sa-Su-Ke!" mukanya memerah karena kesal dan semakin merah ketika Bossun tertawa-tawa. "Tidak ada yang lucu dengan itu, kau tahu! Dan untuk kau, cukup panggil aku Tsubaki!"

"Oke.. Oke.." kata Bossun mengelap matanya yang basah karena kebanyakan tertawa. "Bukan berarti aku ingin memanggilmu dengan nama kecilmu kok. Santai saja, aku tetap memanggilmu Tsubaki. Dan kau, kau tetap memanggilku Fujisaki." Kata Bossun lagi.

"Nah, kita sudah setuju. Jadi berhenti memanggilku dengan sebutan blablabla-chan. Aku alergi dengan panggilan macam itu." Katanya kembali membuang mata kedepan, kali ini sambil memeluk lututnya. Bossun terdiam. Dia mengamati laki-laki bernama Tsubaki Sasuke disampingnya ini lalu menghela nafas pelan.

Tsubaki Sasuke, eh? Wakil OSIS disekolahnya yang cukup disiplin, yang suka teriak-teriak disetiap kesempatan, yang gampang dibuat kesal dengan hal-hal kecil, yang sangat lurus pendiriannya, yang tidak pernah Bossun suka, yang tidak pernah cocok dengannya.

Hidup itu memang misteri, kita tidak akan pernah tahu bagaimana hidup menyimpan segala rahasia. Merima kenyataan bahwa Ibu yang selama ini membesarkannya bukan Ibu kandungnya sudah cukup berat bagi Bossun, termasuk ketika dia tahu Ayah dan Ibu kandungnya meninggal didalam kecelakaan terpisah saat dia lahir. Tapi menerima kenyataan yang lain, tentang Tsubaki Sasuke yang ternyata adalah adiknya—adik kembar tepatnya, lebih sulit dari itu.

Dia sudah berusaha sekeras yang dia bisa untuk akrab dengan Tsubaki. Tapi seperti biasanya, semuanya pasti berakhir dengan ribut-ribut, tidak terkecuali saat ini.

"Hei, kau. Aku kembali ke ruang klub ku, oke?" Bossun berdiri, dia hanya meliat sekilas Tsubaki mengangguk ke arahnya, setelah itu Bossun meninggalkannya. Tapi ketika Bossun baru mengambil langkah kelima, Tsubaki memanggilnya.

"Fujisaki." Pelan, tapi cukup keras untuk Bossun dengar. Bossun hanya berhenti tidak menoleh kebelakang. Dia menunggu Tsubaki berkata lagi. Hening… sampai kemudian Tsubaki angkat bicara

"Akhir minggu ini adalah peringatan kematian… uhm—" kata-katanya terhenti.

"Ayah dan Ibu kita?" Tanya Bossun melanjutkan, masih menghadap kearah yang sama.

"Ya." Tsubaki menjawab. "Aku hanya berpikir, mungkin kita bisa mengunjungi makamnya sama-sama. Bagaimana menurutmu?"

Baru kali ini, Bosun menoleh. Dan dia mendapati Tsubaki yang sedang menatap langit. Tanpa Bossun rencanakan, dia tersenyum. Ayah dan Ibunya akan senang, tentu saja.

"Katakan padaku jam berapa dan dimana kita harus bertemu, oke? Aku pergi dulu." Kata Bossun mengakhiri. Tidak perlu ada kata 'ya'. Tsubaki sudah cukup mengerti bahwa Bossun tidak akan mungkin menolak ajakan itu.

~aaa~

"Yo, Yabasawa-san, tadi kau bilang kau meletakkan anting-antingmu disini kan?" suara laptop Switch atas kata-kata yang diketiknya terdengar. Bossun dan Himeko sibuk mencari sesuatu direrumputan, siang ini mereka ada misi untuk mencari anting Yabasawa-san yang tiba-tiba menghilang.

"Iya, Yabasu! Tadi aku meletakkannya didekat jendela, yabasu. Aku baru membelinya tadi pagi untuk Yeti (*) yabasu." Jawabnya. Bossun cuma mengangguk-angguk setelah mendengr penjelasan Yabasawa-san. Ini bukan kasus yang terlalu sulit, dia hanya perlu menemukan anting Yabasawa-san yang sepertinya jatuh disuatu tempat.

"Tadi Yabasawa-san bilang anting warna hijau kan? Sebelum Yabasawa-san ke kelas, Yabasawa-san pergi kemana saja?" Bossun mendengar Himeko bertanya, tapi matanya sekarang sedang mengekor ke seseorang yang baru keluar dari ruang OSIS.

Tsubaki Sasuke. Mungkin sih, dia masih terlalu jauh untuk dipastikan, tetapi postur tubuh itu, caranya berjalan yang tidak bisa santai, itu pasti Tsubaki.

Bossun baru mau kembali fokus ke pencarian anting Yabasawa-san ketika suara seseorang mengagetkannya.

"Sabtu. Jam Sepuluh Malam. Ditaman. Jangan berani-berani tidak datang ya, kau!"

Bossun melongo, apalagi setelah itu Tsubaki pergi tanpa menambahkan kata-kata yang lain. Dan Bossun harus bersabar untuk menerima godaan sepanjang hari dari Himeko dan Switch tentang—apa yang mereka bilang? 'Kencan' nya dengan Tsubaki.

Pertama, Itu bukan kencan! Kedua, Switch dan Himeko terlalu melebih-lebihkan, mereka-dia dan Tsubaki maksud Bossun, tidak seakrab itu. Tapi mungkin... dalam hatinya, Bossun rasa, setelah ini, sedikit-demi sedikit, mereka akan menjadi dekat.

Berpikir seperti itu, Bossun menahan mati-matian keinginannya untuk melihat langit. Dia akan terlihat melankolis jika begitu, dan dia tidak mau. Tapi keinginannya lebih kuat dari rasa gengsinya.

Akhirnya dia menatap langit dan tersenyum, seolah bisa melihat Ayah dan Ibunya diantara awan yang bergerak pelan. Dia berjanji, walaupun sulit, walaupun begitu banyak perbedaan diantara mereka, dia akan mencoba menerima Tsubaki. Demi Ayah dan Ibunya disana.

Bossun tetap melanjutkan senyumnya, tanpa dia tahu… bahwa Tsubaki tidak akan datang malam itu.

Dan Bossun ingin tahu kenapa.

To Be Continued

Percobaan. Saya pengen banget meramaikan fandom Sket Dance :') rasanya menyedihkan ngelihat nggak gitu banyak fic Indonesia di fandom ini. Jadi kalo sekiranya ada yang mau review… saya mau lanjut. Hidup Sket Dance! Hidup Bossun sama Tsubaki!