A/N: Niatnya pengen ikutan NHFD, tapi di pengerjaan chapter 2 ada perubahan rencana yang membuat jalan cerita fic ini jadi "berat". Ga masuk kategori cerita ringan lagi. Dan ujung-ujungnya fic ini jadi 3 chapter (padahal rencananya 2 chapter). Tapi saya senang dengan hasil akhirnya, ceritanya jadi jauuuuhhh lebih asik dari sebelumnya. Warning: AU tapi canon, canon tapi AU (?). Saya juga bingung, baca aja deh. OOC, karena emang sengaja dibikin OOC.


Cerita Di Balik Cerita

Naruto © Masashi Kishimoto

Hinata bersembunyi di balik dinding kayu di persimpangan jalan. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Kiba dan Shino saat melihat Naruto sedang berbincang dengan kedua teman satu timnya itu. Kadang Hinata merasa kesal kepada dirinya sendiri. Orang yang selama ini disukainya telah kembali ke Konoha, Naruto-kun-nya sudah kembali setelah 2,5 tahun berlatih. Tapi lihat Hinata sekarang, ia malah panik harus bagaimana saat Naruto sudah berada di dekatnya. Hinata sama sekali belum siap untuk bertemu dengan sosok pujaannya itu.

Tapi malangnya Hinata, Naruto sudah terlanjur menyadari kehadirannya. Di tengah Hinata sibuk menahan rasa gugupnya, Naruto tiba-tiba saja muncul di sampingnya, membuat Hinata kaget bukan main.

"Hai Hinata," sapa Naruto. Ia sedikit heran kenapa Hinata malah bersembunyi.

Hinata semakin gugup mendapati Naruto kini berada di hadapannya.

"Kenapa kau bersembunyi di sini?" tanya Naruto.

Hinata tak mampu menjawab saking gugupnya.

"CUT!"

Naruto dan Hinata langsung menoleh ke arah teriakan. Tampaklah seorang sutradara sedang mengacak rambutnya frustasi. Sementara cameraman, petugas lighting dan kru lain sudah kesal karena lagi-lagi adegan ini dipotong. Itu berarti pekerjaan mereka harus diulang lagi.

"Hinata, ekspresinya manaaa?" tanya sutradara, greget bercampur kesal.

Sutradara mendekati Hinata dan Naruto sambil berusaha menahan emosinya.

"Hinata, Hinata, Hinata. Ini sudah take ke-25. Sudah berapa kali kubilang, kalian diceritakan sudah 2,5 tahun tidak bertemu. Di adegan ini kau harus terlihat gugup ketika melihat Naruto. Yang tadi itu feel-nya belum dapat. Pipimu harus merona merah saat melihat Naruto," jelas sang sutradara nyaris tanpa jeda.

Hinata mendengus kesal.

"Tapi aku tidak bisa! Kenapa sih tidak pakai pemerah pipi saja?" bentak Hinata sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Tidak!" jawab sutradara. "Rasa gugupmu serta rona merah di pipimu harus terlihat natural."

"Lagipula kau akan terlihat manis sekali jika rona di pipimu itu alami," tambah Naruto sambil tersenyum. Ia tak tahan dari tadi hanya diam melihat dua orang di hadapannya beradu mulut.

"Diam kau Uzumaki!" bentak Hinata. Naruto hanya bisa terkekeh melihat tingkah lawan mainnya itu.

Hinata kembali beralih ke sutradara. "Lalu kenapa kau tidak mengganti pemeran tokoh perempuan ini dengan orang lain saja yang lebih pandai berakting dari pada aku? Kenapa kau bersikeras menjadikanku pemeran perempuan dalam anime ini?" tanya Hinata bertubi-tubi.

"Karena wajahmu mirip sekali dengan pemeran perempuan dalam anime ini. Kau tidak perlu memakai wig dan lensa kontak, rambut serta matamu sudah sangat mirip dengannya. Bahkan kulitmu pun putih, cocok sekali."

"Sudahlah, berapa kalipun kau menyuruhku mengulangi adegan ini, aku tidak bisa melakukannya. Aku pulang," kata Hinata. Ia membawa tasnya dan langsung pergi meninggalkan lokasi shooting.

"Hei, tunggu Hinata! Jangan seenaknya pergi!" bentak sutradara.

"Aku tidak peduli, kita tidak terikat kontrak," balas Hinata tanpa menghentikan langkahnya.

Sutradara terpaku, tak bisa membalas kata-kata Hinata.

Hinata benar. Sejak awal mereka berdua tidak melakukan kontrak kerja, ini memang fatal. Saat mereka pertama bertemu, sutradara langsung jatuh cinta pada kemiripan Hinata dengan tokoh perempuan dalam anime yang akan digarapnya. Meski Hinata menolak bekerja sama karena merasa tidak bisa berakting, sutradara bersikeras bisa melatihnya akting. Hinata akhirnya setuju dan mengikuti pelatihan akting. Celakanya, tokoh perempuan dalam anime ini memiliki sifat yang pemalu dan sering gugup. Pokoknya berbanding terbalik dengan sifat asli Hinata yang cuek, tak peduli dan tomboy. Inilah yang menjadi kesulitan terbesar Hinata.

Dan akhirnya seperti yang kalian lihat. Di akting perdananya Hinata langsung gagal karena harus berakting gugup.

Naruto mengambil sekaleng softdrink, menegaknya, kemudian duduk di dekat sutradara.

"Sekarang bagaimana? Kau hanya punya waktu 1 bulan sebelum episode 33 ini harus release. Apa yang akan kau lakukan? Aku yakin produser tidak akan senang mendengar kabar ini," ujar Naruto.

Sutradara menghela nafas panjang.

"Sejak awal ini memang salahku, bahkan seharusnya kita sudah masuk ke pengerjaan episode 34," katanya lesu. "Kau tahu kan kalau anime ini dibuat berdasarkan manga karangan Masashi Kishimoto. Dan aku terlanjur suka pada kemiripan Hinata dengan tokoh perempuan buatannya itu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi penonton saat kemunculan pertamanya di episode 33. Pasti akan heboh dan banyak yang suka. Tapi kurasa… sekarang aku tak punya pilihan selain mencari pemeran penggantinya, secepatnya."

Naruto kaget mendengar ucapan sang sutradara. Kalau diperhatikan lebih dekat, kaleng softdrink yang dipegangnya sampai cekung tertekan genggaman tangannya.

Naruto tidak mau kalau lawan mainnya diganti. Sejak pertama kali mengetahui para pemeran dalam anime ini, Naruto langsung suka pada Hinata. Padahal semua pemeran perempuan yang lain juga tak kalah cantik. Seperti Sakura, Ino dan Tenten. Tapi entah kenapa ia lebih menyukai Hinata.

Naruto tersenyum saat ia mendapatkan sebuah ide bagus.

"Beri aku waktu sampai jadwal shooting kita selanjutnya. Mungkin aku bisa mengajari Hinata berakting gugup," kata Naruto sambil beranjak pergi.

"Apa yang akan kau lakukan? Guru akting profesionalku saja tak bisa mengajari Hinata." Naruto mengambil tas dan kunci motornya kemudian menaiki motor Ninja hitam kesayangannya.

"Kita lihat saja nanti," jawab Naruto. Seringai tipis terlihat di balik kaca helmnya.


Hinata berjalan lesu menuju rumahnya. Sebenarnya ia tidak betah berada di rumah karena di sana ia harus jadi anak perempuan penurut. Harus jadi anak baik yang menuruti semua perintah ayahnya. Tapi berada di lokasi shooting malah lebih membuat dirinya bad mood.

Langkah Hinata terhenti saat ia mendengar langkah kaki lain di belakangnya. Hinata berbalik, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hinata menghela nafas pelan, ia sempat mengira ia diikuti seseorang.

'Mungkin hanya perasaanku saja,' batin Hinata.

Tapi betapa kagetnya Hinata saat ia berbalik lagi dan mendapati wajah seseorang yang hanya beberapa cm saja di depannya.

"Hai Hinata," sapa orang tersebut.

"Kyaaa!" Hinata refleks berteriak dan mundur beberapa langkah, menjaga jarak. Dan saat itu ia langsung menyadari siapa orang di depannya.

"Naruto?"

"Kau ini seperti melihat hantu saja, dasar penakut," ejek Naruto.

"Itu karena kau mengagetkanku!"

"Oh, maaf. Haha."

"Baka!" bentak Hinata.

Tapi kelihatannya Naruto tidak peduli pada bentakkan Hinata, sudah terbiasa rupanya. Ia malah memandang rumah megah di hadapannya yang merupakan rumah Hinata.

"Aku baru tahu ternyata rumahmu hanya beberapa blok saja dari apartemenku. Kapan-kapan mungkin kita bisa makan malam bersama," ujar Naruto ceria, kontras dengan Hinata yang dari tadi cemberut.

"Kau sudah sering mengajakku makan malam dan selalu kutolak, sekarang kenapa kau berpikir aku akan berubah pikiran?" tanya Hinata sinis.

Sejak mengenal Hinata, Naruto memang sering mengajak Hinata makan malam. Tapi selama ini Hinata selalu menolak. Tapi Naruto tampaknya tak pernah menyerah.

"Lebih baik cepat pergi dari sini!" lanjut Hinata.

"Hinata-chaaannn, ayolaaah…" rengek Naruto. Ia melangkah mendekati Hinata, sedangkan Hinata menjauhinya.

"Pergi kataku!" bentak Hinata lagi.

"Sebelum itu…" Naruto bergerak cepat dan menarik tangan Hinata.

"Naruto, apa yang ka-hmmpht." Sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya, Naruto sudah menempelkan bibirnya di bibir mungil Hinata.

Tak lama kemudian ia langsung melepasnya. Ciuman yang singkat tapi cukup membuat dada Hinata berdegup kencang.

Emosi Hinata semakin memuncak, seenaknya saja Naruto menciumnya. Ia mengepalkan tangannya dan mengarahkan pukulan ke perut Naruto tapi Naruto berhasil mengelak.

"Apa yang baru saja kau lakukan baka!" teriak Hinata.

"Aku akan menjelaskannya, asal kau harus melanjutkan shooting episode 33," kata Naruto sambil berlari menuju motornya.

Mata Hinata membulat. "Tapi aku tidak akan datang karena aku pasti gagal akting lagi!"

"Kalau begitu kau tidak akan mendapatkan penjelasanku." Naruto sudah menaiki motornya, dan mulai menyalakan mesin, tak mempedulikan teriakan Hinata.

"Sampai ketemu di shooting kita selanjutnya," kata Naruto sambil tertawa dan menjalankan motornya, meninggalkan Hinata yang masih marah.

"Narutooo! Dasar kau brengseeek!"


"Apa kau yakin Hinata akan datang?" tanya sutradara. Ia penasaran sekali kenapa Naruto begitu yakin kalau Hinata akan datang. Padahal dilihat dari kelakukan Hinata di shooting sebelumnya, kelihatannya Hinata tidak akan datang lagi.

"Aku yakin dia akan datang, tunggu saja," kata Naruto, menenangkan sutradaranya.

Lima belas menit kemudian orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Sebenarnya Hinata malas datang, tapi ia penasaran ingin meminta penjelasan atas apa yang dilakukan Naruto kepadanya tempo hari. Dan setelah itu, Hinata tidak sabar untuk menghajar cowok pirang itu.

"Kau lihat? Sudah kubilang Hinata pasti datang," kata Naruto.

Sutradara tersenyum puas. Kemudian ia mulai memerintahkan semua kru untuk bersiap. "Semuanya bersiap! Kita lanjutkan pengambilan gambar sebelumnya, yaitu saat Naruto memergoki Hinata dibalik dinding kayu."

Semua kru kembali sibuk bekerja. Tiga puluh menit kemudian shooting dimulai.

"Kamera bersiap. Rolling! Action!"

Naruto dan Hinata mulai berakting melanjutkan adegan sebelumnya.

"Hinata? Kenapa kau bersembunyi?" tanya Naruto.

Inilah saat yang menegangkan, dimana Hinata harus berakting gugup, merona merah, dan pingsan. Sutradara memberikan aba-aba dengan tangan, memberikan semangat kepada Hinata agar ia rileks dan melanjutkan aktingnya.

Hinata berusaha keras berakting segugup mungkin agar pipinya merona merah.

Tiba-tiba Naruto berbisik ke arah Hinata. "Hinata, kau ingat ciuman kita semalam?"

Ingatan Hinata langsung berputar ke kejadian saat Naruto menciumnya (dengan paksa). Pipinya langsung merona.

"NARUTO!" teriak Hinata sambil memukul wajah Naruto.

"CUT!"

"Apa-apaan ini? Hinata, rona merah di pipimu tadi sudah sempurna, kenapa kau tidak melanjutkan ke akting pingsan? Kenapa malah meneriaki Naruto?" tanya sutradara, ia terlihat sangat kecewa sekali.

"Itu karena si brengsek ini!" Hinata menunjuk Naruto yang sedang memegang pipinya kesakitan.

"Tapi paling tidak, kau bisa merona, haha," kata Naruto ditengah rasa sakitnya.

Hinata langsung mendelik ke arah Naruto. "Diam kau!" bentak Hinata.

"Arghhh diam kalian berdua! Ulangi lagi adegan ini!"


"Hinata? Kenapa kau bersembunyi?"

Hinata kembali berakting gugup. Hinata benci bagian ini, saat ini kamera mengarah padanya dan Naruto bisa seenaknya menggoda dirinya tanpa tertangkap kamera. Hinata berusaha mengacuhkan Naruto yang tersenyum di depannya, ia harus berhasil melewati bagian ini.

Hinata berusaha mengingat-ingat kejadian paling memalukan dalam hidupnya. Berharap itu akan membuatnya pipinya memerah. Dan ternyata kejadian paling memalukan yang pernah dialaminya adalah ketika Naruto menciumnya. Pipinya langsung merona.

"Hmmm… Sekarang pipimu memerah sendiri tanpa kupancing," goda Naruto. "Pasti yang ada di otakmu sekarang adalah ciuman kita."

Sial! Dugaan Naruto tepat, ia seperti bisa membaca pikiran Hinata. Hinata ingin sekali memukul wajah Naruto saat itu juga, tapi ia ingin menyelesaikan adegan ini agar ia mendapat penjelasan dari Naruto. Pipi Hinata sudah merona merah, sekarang ia hanya perlu pura-pura pingsan dan menjatuhkan diri ke matras di bawahnya.

Setelah menjatuhkan diri ke matras, Hinata menghela nafas lega. Semoga sutradara puas dengan aktingnya barusan.

"ANNNDDD CUUUT!"

"Bravo Hinata-chaaann! Akting meronamu sempurna sekali," sorak sutradara kegirangan. Ia mengguncang-guncang pundak Hinata (yang kini sudah bangun) saking senangnya. "Sekarang adeganmu dalam episode 33 hanya tinggal 1 lagi. Kau bisa istirahat dulu."

"Tidak usah. Cepat kita selesaikan," ujar Hinata.

Sutradara makin senang dan menyuruh semua kru untuk segera menyiapkan adegan selanjutnya.

Adegan kedua Hinata adalah ketika tokoh perempuan sudah bangun dari pingsan kemudian Naruto dengan tiba-tiba memintanya bergabung jadi timnya. Tokoh perempuan tersebut salah mengartikan ajakan Naruto, ia mengira Naruto mengajaknya kencan dan malah pingsan lagi.

Setelah tahu bagaimana caranya mengakali agar ia berhasil berakting gugup serta merona merah, Hinata bisa menyelesaikan adegan kedua itu dalam satu kali take.

Di akhir shooting, akhirnya Hinata sadar kalau Naruto menciumnya hanya untuk membuatnya merona dalam tiap adegan. Itu memang berhasil, tapi Hinata tidak suka cara Naruto ini. Hinata berjalan tergesa-gesa menuju Naruto.

"Naruto!"

"Apa sayang?" tanya Naruto. Tolong jangan pedulikan Kiba yang muntah di belakang saat mendengar Naruto memanggil Hinata 'sayang'.

"Jangan seenaknya memanggilku 'sayang'! Ikut aku!" kata Hinata.

Dengan senang hati Naruto mengikuti Hinata, menjauh dari para kru agar mereka bisa leluasa bicara.

"Aku baru sadar, kau menciumku kemarin untuk membuatku merona dalam episode ini kan?" tanya Hinata.

"Bisa dibilang begitu," jawab Naruto cuek.

"JADI ITU BENAR?" bentak Hinata.

Naruto terlonjak kaget. "M-maksudku, memang benar. Tapi alasan utamanya bukan itu."

"Bohong!" teriak Hinata. Ia memukuli Naruto, Naruto berusaha menahan pukulan Hinata yang membabi buta itu.

"Dengarkan aku!"

Lama-kelamaan pukulan Hinata melemah. Naruto melihat kalau pundak Hinata mulai bergetar. "K-kau brengsek! Apa kau tahu? Itu ciuman pertamaku. Kau… Kau dengan seenaknya mencurinya," kata Hinata. Kini suaranya juga mulai bergetar.

"Hinata, dengarkan aku!"

Hinata tak peduli dan terus memukuli Naruto. Sekilas Naruto melihat kedua mata lavender Hinata sudah berkaca-kaca. Ini buruk, Naruto takut Hinata menangis, ia harus segera menjelaskan hal yang sesungguhnya.

Naruto menahan kedua tangan Hinata. "Tenang! Kubilang dengar dulu penjelasanku! Aku melakukannya karena aku menyukaimu," kata Naruto dalam sekali tarikan nafas. Suaranya agak keras untuk memastikan Hinata mendengarnya.

Hinata langsung terpaku. Perlahan ia mendongak memandang Naruto yang lebih tinggi darinya. "Hah? K-kau bercanda kan?" tanya Hinata.

Naruto menggeleng. "Aku serius."

Hinata kaget mendengar jawaban Naruto. Ia tak tahu harus bicara apa sekarang.

"Apa kau juga menyukaiku?" tanya Naruto.

Pipi Hinata langsung memerah.

"Umm… entahlah, a-aku perlu waktu."

Bersamaan dengan itu Hinata pergi meninggalkan Naruto. Ini memang terlalu mendadak bagi Hinata. Naruto hanya bisa terdiam memandang Hinata yang pergi meninggalkannya.

"Gugup, pipi merona merah, dan bicara terbata," ujar Naruto pada dirinya sendiri. "Hinata, kau jadi tidak ada bedanya dengan tokoh yang kau perankan," kata Naruto sambil tersenyum.


Setelah kemunculan perdana Hinata di anime, prediksi sutradara ternyata tepat, penonton begitu mengagumi kemiripan Hinata dengan tokoh perempuan dalam manga Masashi Kishimoto. Tidak percuma sutradara bersikeras memilih Hinata sebagai pemerannya.

Tapi berbulan-bulan setelah pernyataan suka Naruto kepada Hinata, Hinata belum menanggapi apa-apa. Naruto juga tidak ingin membahas hal itu kalau bukan Hinata yang membahasnya duluan. Mereka juga jarang bertemu karena Hinata tidak datang ke tempat shooting sesering Naruto, perannya dalam anime ini tidak sebanyak Naruto yang merupakan tokoh utama. Tapi Naruto tidak mempedulikan sikap Hinata itu, ia masih bersyukur sikap Hinata tidak berubah padanya. Itu berarti pengungkapan rasa sukanya dulu tidak merusak hubungan mereka. Naruto berpikir, mungkin Hinata memang butuh waktu.

Siang itu Hinata ada jadwal shooting. Sedangkan Naruto tidak ada, ia hanya bermain ke tempat shooting, menyapa para pemain lain, dan tentu saja yang paling penting ingin melihat Hinata.

Naruto tersenyum sendiri melihat akting Hinata. Ia merasa kemampuan akting Hinata sudah berkembang pesat dibanding dulu. Selain karena ia terus mengikuti latihan akting, artis lain di anime ini juga tak sungkan untuk berbagi ilmu dengannya. Seperti Sakura, yang sudah menyabet belasan penghargaan sebagai aktris muda terbaik, Sasuke, aktor sekaligus model yang juga memiliki segudang prestasi di bidang seni peran, Gaara, pemenang aktor pendatang baru, serta para senior di bidang seni peran lainnya seperti Kakashi dan Tsunade.

Bagaimana dengan Naruto? Naruto sudah jangan ditanya, ia selalu berusaha membantu Hinata sebisanya. Karena ia tidak ingin Hinata digantikan aktris lain, ia ingin Hinata terus bermain dalam anime ini bersamanya.

Akhirnya shooting selesai, seperti biasa Naruto akan menggoda Hinata sebelum pulang.

"Kau cantik sekali hari ini Hinata-chan."

"Gombalanmu tidak mempan padaku!" balas Hinata ketus.

"Hmm. Mau makan malam bersamaku malam ini?" tanya Naruto, meski ia tahu pasti Hinata akan menolak.

"Boleh."

"Uhuk, uhuk, uhuk.." Naruto langsung tersedak minumannya saat mendengar jawaban Hinata. "Apa aku tidak salah dengar?"

"Tidak. Jemput aku jam 7 malam."

Naruto langsung nyengir lebar. "Siap tuan puteri!"


Kini Naruto sudah berada di acara makan malam mereka. Sebenarnya bukan makan malam biasa, lebih cocok kalau dibilang pesta.

"Pesta yang mewah. Seharusnya kau beritahu aku kalau kita akan menghadiri pesta. Tahu begini aku akan memakai baju yang lebih formal," kata Naruto sambil menatap beberapa tamu lain. Malam itu ia memang memakai jas, tapi jas semi formal.

"Tidak apa-apa. Jangan terlalu pedulikan hal itu," ujar Hinata. Mereka sudah selesai makan dan sekarang sedang bersantai di balkon, berusaha menjauh dari keramaian.

"Ini pesta yang membosankan," kata Hinata, berusaha mengganti topik pembicaraan. "Aku tidak akan datang kalau saja ayahku tidak memaksaku hadir. Ia tidak enak kepada penyelenggara pesta yang merupakan teman baiknya jika aku ketahuan tidak hadir. Hanya anak para pengusaha dan bangsawan yang diundang. Lihatlah mereka. Bagiku acara seperti ini lebih mirip pencarian jodoh."

Sekali lagi Naruto memperhatikan para tamu yang datang. Ya, Hinata benar, ini bisa dibilang pesta pencarian jodoh. Berkenalan, ngobrol, dan basa-basi lainnya.

"Aku mengerti sekarang, jadi kau mengajakku kemari agar tak ada laki-laki yang mendekatimu?" tanya Naruto.

"Ya," jawab Hinata.

Hinata menduga kalau Naruto akan marah karena ia memanfaatkannya. Tapi Naruto tidak merespon.

"Kau tidak marah?"

Naruto menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Aku malah menikmati ini. Mau minum?"

"Boleh."

Naruto masuk ke dalam dan mengambil dua gelas minuman, tapi saat ia kembali ia melihat Hinata sedang diajak ngobrol oleh seorang laki-laki.

"Hei bung, dia pacarku," kata Naruto. Hinata dan laki-laki itu menoleh ke arah Naruto. Dada Hinata berdegup kencang mendengar kalimat Naruto barusan, dan Hinata merasa suara Naruto itu terdengar… gagah.

Laki-laki itu meminta maaf dan langsung pergi.

"Apa yang dilakukannya?" tanya Naruto sambil menyerahkan segelas minuman kepada Hinata.

"Biasa. Mengajak kenalan, ngobrol, merayu dan hal-hal menjijikan lainnya."

"Hahaha."

"Jangan tertawa, sekarang letakkan tanganmu di pinggangku agar tidak ada lelaki lain lagi yang mendekat. Tapi ingat jangan macam-macam," kata Hinata

"Aku benar-benar menikmati ini, hahaha."

"Baka," kata Hinata sambil mendengus.

Keheningan tercipta setelahnya, Hinata kembali memulai pembicaraan.

"Aku heran, orang tua kami begitu mementingkan gengsi dan nama baik. Anak-anak mereka seolah tidak diizinkan untuk berpacaran atau menikahi orang-orang kalangan bawah. Aku tidak suka kehidupan seperti ini. Banyak aturan, pesta, acara mewah, buang-buang uang, perjodohan, harus ini lah, harus itu lah, aku tidak suka semua ini. Aku ingin bebas."

Setelah mendengar pembicaraan Hinata, sekarang Naruto mulai mengerti kenapa Hinata bersifat cuek dan tidak peduli. Ia jadi ingat pada kehidupannya dulu.

"Kau tahu Hinata? Kurasa kita tak terlalu berbeda."

Hinata langsung menoleh ke arah Naruto. "Kau dijodohkan juga?"

"Haha. Bukan. Dulu ayahku selalu bilang kalau aku harus meneruskan perusahaannya di Inggris. Aku disekolahkan di sekolah bisnis dan selalu dituntut untuk mempelajari ilmu bisnis, padahal aku tidak menyukainya, keahlianku bukan di bidang itu. Lagipula ayolah, aku masih remaja, remaja-remaja seumurku butuh waktu bermain, bukan dilatih jadi pengusaha. Akhirnya aku memberanikan diri menentang ayahku. Aku bilang kalau aku ingin memilih sendiri jalan hidupku."

"Lalu?" tanya Hinata, penasaran dengan cerita Naruto.

"Ayahku sangat kecewa, karena aku tidak mau meneruskan usaha yang sudah dirintisnya padahal aku anak laki-laki satu-satunya. Tapi aku berusaha meyakinkannya kalau aku tidak cocok di bidang yang dikehendakinya. Aku bilang aku lebih suka seni peran. Dua tahun lalu aku tunjukkan penghargaan pertamaku sebagai aktor muda terbaik. Dan akhirnya ia mau mengerti. Setelah itu aku memilih untuk meninggalkan Inggris dan pergi ke Jepang, tempat kelahiranku. Aku senang tinggal di sini, aku suka budayanya dan orang-orangnya. Pokoknya di sini aku merasa bebas. Aku bisa memilih sekolah yang kusukai dan memilih jalan hidupku sendiri."

"Aku iri padamu," kata Hinata.

Kini Naruto juga menoleh ke arah Hinata, pandangan mereka bertemu.

"Kau sangat beruntung. Aku juga ingin bebas sepertimu," lanjut Hinata.

Untuk pertama kalinya Naruto bisa melihat senyuman Hinata. Senyuman yang Naruto artikan sebagai impian dan harapan Hinata untuk bisa bebas. Naruto terpukau melihat paduan senyuman manis, wajah cantik serta gaun merah muda yang dipakai Hinata malam itu, Hinata terlihat sempurna di mata Naruto.


Tok! Tok! Tok!

"Sebentaaarrr!"

Naruto berlari saat mendengar ketukan dari pintu masuk apartemennya. Padahal ini sedang hujan deras, tadi ia sedang enak-enaknya nonton TV, lengkap dengan selimut yang menghangatkan badannya.

Dari suara ketukannya, Naruto tahu kalau orang tersebut sedang buru-buru.

Begitu pintu dibuka, Naruto langsung kaget melihat sosok di hadapannya.

"Hinata, kenapa kau hujan-hujanan?"

Yang ditanya tidak menjawab. Ia malah tersenyum, senyum yang sama dengan yang dilihatnya semalam, saat di pesta. Berarti ini senyum kedua yang diperlihatkan Hinata padanya selama mereka saling mengenal.

"Kenapa malah tersenyum?" tanya Naruto heran.

"Aku sedang bahagia dan entah kenapa yang pertama kali terpikir olehku adalah menceritakannya padamu. Aku sampai tak peduli pada hujan," kata Hinata sambil tetap tersenyum.

"Memangnya cerita apa?" tanya Naruto lagi.

"Aku sudah bebas sepertimu."

"Bebas? Maksudmu?" Naruto makin heran sekaligus bingung.

"Ayahku sudah mengusirku dari rumah, jadi sekarang aku bebas."

"Hah?"

Perlu waktu beberapa detik untuk membuat Naruto mencerna perkataan Hinata. Gadis di hadapannya ini diusir oleh ayahnya, tapi ia malah senang. Tidak bisa dipercaya! Naruto tidak bisa membayangkan seburuk apa kehidupan Hinata di rumahnya sampai-sampai ia senang ketika diusir.

Akhirnya Naruto mempersilahkan Hinata masuk dan menyuruhnya segera mengganti pakaian basahnya agar tidak masuk angin. Kebetulan di apartemen Naruto ada banyak baju perempuan milik kakaknya. Setiap dua bulan sekali sang kakak memang selalu mengunjungi Naruto jauh-jauh dari Inggris untuk sekedar melihat keadaan Naruto.

"Beruntung sekali aku dan kakakmu ukuran bajunya sama, baju ini pas di badanku. Itu kakakmu?" tanya Hinata sambil menunjuk foto gadis berambut pirang twintails yang sedang bersama Naruto.

"Ya. Jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, tadi kita belum selesai bicara. Kenapa kau diusir?" tanya Naruto sambil menyiapkan segelas teh hangat untuk Hinata.

"Aku bilang pada ayahku aku tidak ingin lagi mengikuti gaya hidup orang kaya. Ayahku marah dan bilang ia akan mengusirku kalau aku tidak menurutinya. Dan aku memilih untuk diusir. Jadi sekarang aku bebas dan bisa melakukan apapun yang kumau," jawab Hinata cuek.

"Kau ini perempuan Hinata. Tidak seharusnya kau pergi dari rumah. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menceritakan pengalamanku padamu kemarin. Aku tidak tahu kalau kau akan melakukan hal yang sama sepertiku."

"Lupakan itu. Lagipula dari gajiku aku bisa menyewa apartemen dan mencukupi kebutuhanku tanpa meminta uang dari ayah dan ibuku."

Naruto menghela nafas pasrah. "Kau ini keras kepala."

Tiba-tiba ada telpon masuk ke ponsel Naruto. Telpon dari sutradara. Karena Naruto belum selesai menyiapkan teh untuk Hinata, ia menyentuh gambar speaker di touchscreen ponselnya untuk mengubah mode panggilan ke loudspeaker. Ia kemudian menyimpan ponselnya di meja.

"Halo."

"Apa kau sudah baca manga chapter 437?" tanya sutradara.

"Belum. Memangnya kenapa?" tanya Naruto sambil mengambil teh dan menuangkan air panas ke dalam gelas.

"Cepat bacalah, ada hal yang menghebohkan." Suara sutradara dari seberang sana terdengar bersemangat sekali, Naruto jadi penasaran.

"Hinata, buka laptopku dan lihat manga chapter 437, katanya sudah release dan ada yang heboh."

Hinata mengambil laptop Naruto yang tak jauh dari tempatnya duduk.

"Hei, Hinata ada di apartemenmu?" tanya sutradara. "Sejak kapan kalian- Ah, sudahlah itu tidak penting. Tapi bagus juga Hinata ada di sana, hal yang menghebohkan ini memang berkaitan dengan kalian berdua."

Naruto dan Hinata beradu tatapan, sama-sama penasaran dengan kata-kata sutradara.

Tak butuh waktu lama sampai Hinata selesai membuka chapter baru yang dimaksud.

"Ternyata benar manga chapter 437 sudah release," ujar Hinata.

"Tolong bacakan Hinata, tanggung tehmu belum selesai," kata Naruto.

Hinata mengangguk. Sutradara mendengar dengan jelas percakapan Naruto dan Hinata dan tanpa mereka ketahui sang sutradara sedang tertawa di tempatnya.

Hinata mulai membaca isi manga chapter 437. Mulai dari tokoh utama yang terjebak oleh besi chakra, sampai Pain yang tinggal selangkah lagi bisa menangkap Jinchuuriki Kyuubi. Setelah itu tibalah pada bagian tokoh perempuan yang melompat menyerang Pain untuk menyelamatkan sang tokoh utama.

Hinata membacakan kata-kata yang diucapkan tokoh perempuan dalam manga tersebut. "Aku di sini karena keinginanku sendiri. Selama ini aku selalu menangis dan menyerah. Aku hampir menuju ke arah yang salah. Tapi kau menunjukkanku arah yang benar. Aku selalu mengejarmu dan berusaha menyusulmu. Aku ingin bersama denganmu. Kau mengubahku, senyumanmu menyelamatkanku. Jadi aku tak takut mati untuk melindungimu. Karena aku…"

Hinata menghentikan kalimatnya saat ia melihat kalimat selanjutnya yang diucapkan tokoh perempuan dalam manga.

"Hinata? Kenapa kau diam?" tanya Naruto.

"Cepat lanjutkan Hinata," kata sutradara, berusaha untuk menyembunyikan tawanya.

Hinata menelan ludahnya. "Karena aku… Karena aku mencintaimu," kata Hinata pelan. Ada rona merah tipis yang muncul di pipi putihnya.

Naruto tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dengan segera ia melesat mendekati Hinata untuk melihat bagian yang tadi dibaca Hinata.

Raut wajah Naruto langsung berubah ceria. "Aku juga mencintaimu, Hinata," kata Naruto tiba-tiba. Membuat rona merah di pipi Hinata makin memerah.

Sebenarnya Hinata ingin menanggapi Naruto dengan komentar pedas, tapi ia malah bingung harus berkomentar apa.

"Hahaha, berita yang menghebohkan kan?" tanya sutradara yang masih belum menutup telponnya. "Tadi aku menghubungi Masashi Kishimoto dan bertanya apa memang ia berencana menjadikan mereka sepasang kekasih, kemudian ia hanya tertawa dan bilang: 'kita lihat saja nanti'. Nah, sekarang kalian berdua sudah tahu, itu berarti dalam anime tokoh perempuan harus melakukan hal yang sama, jadi nanti Hinata akan berakting menyatakan cinta pada Naruto."

"A-aku tidak mau!" tolak Hinata. Naruto malah senang.

"Tenanglah Hinata. Jarak cerita manga dan anime itu jauh. Kalian masih punya banyak waktu, persiapkan saja dari sekarang, terutama kau Hinata. Sampai jumpa. Hahaha." Bersamaan dengan itu sutradara menutup telponnya.

Naruto menyimpan satu tangannya di atas meja sedangkan tangan lainnya menopang dagu. Pandangannya lurus ke arah Hinata. "Aku tidak sabar untuk shooting episode ini dan aku akan bilang 'aku juga mencintaimu, Hinata' sesaat setelah adegan selesai. Ahahaha."

"Naruto, bisakah kau diam?"

"Aku juga mencintaimu, Hinata-chan."

"Kubilang diam!"

"Ahahahahaha. Aku juga mencintaimu, Hinata-chaaann."

To Be Continue…


A/N: Bagaimana cerita selanjutnya? Review dulu dong ;)

Arigatou

-rifuki-