A/N: Last Chapter.Inilah yang saya sebut "perubahan rencana" dan saya puas dengan cerita yang baru ini. Semoga kalian juga suka. Silahkan dibaca.Warning:AU tapi canon, canon tapi AU (?). OOC, karena emang sengaja dibikin OOC.


Cerita Di Balik Cerita

Naruto © Masashi Kishimoto

"Wow!"

Itulah reaksi semua yang hadir disana saat melihat halaman tersebut. Disana terpampang satu halaman penuh gambar tokoh utama dan tokoh perempuan yang sedang berciuman.

Semua orang langsung menatap Naruto dan Hinata untuk melihat reaksi mereka. Naruto terlihat tersenyum senang sedangkan Hinata kaget.

"Kurasa di anime kalian juga harus melakukannya," kata sutradara.

Mata Hinata langsung membulat.

Adengan ciuman langsung terbayang dalam otak Hinata.

"APA?!" Hinata langsung berdiri dari kursinya."Ini gila, aku tidak mau!"

Sutradara, Naruto, artis lain dan para kru langsung kaget mendengar perkataan Hinata. Bahkan Sutradara tak bisa menyembunyikan raut wajah paniknya. Naruto menarik tangan Hinata, mengajaknya untuk kembali duduk. "Hinata, ayolah."

"Aku tidak mau Naruto!" kata Hinata sambil menepis tangan Naruto kasar."Apalagi dilihat semua kru. Bahkan nanti dilihat seluruh dunia."

Naruto menghela nafas panjang. "Aku mengerti perasaanmu, tapi sebagai artis kau harus profesionalHinata, kau sudah terlanjur dicintai para penggemarmu. Tidak lucu kalau peranmu diganti oleh orang lain di episode akhir. Kita sudah sejauh ini."

"Aku bilang tidak!" seru Hinata keras kepala.

"Aku mohon Hinata, tinggal satu episode lagi," tambah sutradara.

Sejenak Hinata berpikir, tapi ia memang tidak bisa. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus berciuman dengan Naruto di tempat shooting, dilihat para kru, dilihat artis lain. Yang paling memalukan adalah nantinya anime ini disiarkan di seluruh dunia dan semua orang akan melihatnya!

"Maaf, aku tidak bisa." Bersamaan dengan itu Hinata membawa tasnya dan berlari pulang.

Sutradara memukul mejanya, mengagetkan semua orang. Ia sudah menduga kalau tokoh utama dan tokoh perempuan itu akhirnya akan bersama, tapi ia tak menyangka kalau Masashi Kishimoto akan membuat adegan ciuman mereka di chapter tahu ini pengalaman pertama Hinata dalam pembuatan anime. Sudah pasti Hinata belum pernah melakukan adegan ciuman. Ini masalah besar! Sialnya lagi, ini terjadi di saat pembuatan anime hampir mencapai akhir.

"Bagaimana sekarang?"tanya Naruto.

Sutradara berusaha menenangkan dirinya, ia tidak ingin semua kru panik gara-gara tingkahnya."Tenang saja, adegan ciuman itu masih jauh. Kita fokus saja pada episode-episode sebelumnya. Kebetulan tidak ada adegan Hinata di episode-episode sebelumnya."

Meski sutradara berusaha tenang, tapi ia yakin dalam hatinya sutradara sangat panik. Kemudian Narutoingat ciuman pertama Hinata dengannya dulu. Jangan-jangan Hinata tidak mau melakukan ciuman dengannya gara-gara kejadian kejadian itu meninggalkan trauma dalam diri Hinata?

"Akan kucoba membujuknya," kata Naruto merasa berlari mengejar Hinata.


Narutolangsung menuju apartemen Hinata untuk membujuk Hinata memikirkan kembali keputusannya. Tapi sambutan Hinata kurang baik, bahkan Naruto sama sekali tidak diizinkan masuk ke apartemennya. Naruto akhirnya mengalah, mungkin Hinata perlu menenangkan diri dulu.

Keesokan harinya Naruto mencoba ke apartemen Hinata lagi, tapi 10 menit kemudian Naruto keluar lagi sambil berlari, dua orang satpam mengejar di belakangnya. Hinata menyuruh satpam mengusir Naruto dengan tuduhan mencuri.

Hari-hari selanjutnya tanggapan Hinata masih sama. Naruto mencoba menghubungi Hinata lewat ponselnya, tapi ponsel Hinata pun tak bisa tak mau Naruto harus bicara jujur kepada sutradara mengenai sikap Hinata ini.

"Maaf, aku tidak bisa membujuknya," kata Naruto sedih.

"Jangan salahkan dirimu. Ini salahku juga. Seharusnya saat Hinata nyaman dengan perannya, aku segera membuat kontrak dengannya. Sekarang terpaksa aku harus mengganti pemeran Hinata. Aku tahu ini beresiko pada rating akhir anime ini, tapi kita tidak punya jalan lain." Sutradara menyandarkan dirinya di kursi, tatapannya lurus ke langit. "Aku tak menyangka akhirnya akan kacau seperti ini."


Untuk mendapatkan pemeran pengganti Hinata yang cocok, sutradara mengadakan audisi tertutup di sela kegiatan shooting. Dari semua peserta yang daftar, tidak ada yang mengalahkan kemiripan Hinata dengan tokoh buatan Masashi Kishimoto.

"Sutradara, bagaimana dengan peserta nomor 5? Ia memiliki kulit yang putih seperti tokoh perempuan itu, aktingnya juga bagus. Kita hanya tinggal mencari wig dan lensa kontak yang cocok," kata asisten sutradara sambil memberikan map berisi data-data peserta audisi.

"Tidak," jawab sutradara lesu.

"Bagaimana dengan peserta nomor 7? Ia punya rambut indigo panjang yang bagus. Katanya ia rela memotong rambutnya agar sama seperti tokoh perempuan itu. Bagaimana menurutmu?"

Sutradara menggeleng.

Asisten sutradara menatap partner-nya itu iba. "Kau jangan selalu membandingkan para peserta dengan Hinata. Kalau kau melakukannya terus, aku yakin kita tidak akan mendapatkan penggantinya."

Sutradara menyadari kata-kata asisten sutradara benar. Ini memang keputusan sulit, tapi ia harus segera mendapatkan pemeran pengganti Hinata.

"Suruh peserta nomor 5 dan 7 menemuiku besok pagi," ujar sutradara sambil berlalu, hendak meninggalkan ruangan. Sebelum ia mencapai pintu, pintu sudah terbuka duluan.

Mata sutradara terbelalak melihat produser berada di hadapannya. Muka atasannya itu terlihat tidak senang. Sutradara menghela napas pasrah. Hanya tinggal menghitung mundur sampai produser memaki dirinya.

"Jadi selama ini kita tidak terikat kontrak dengan Hinata? Lalu kontrak yang kau berikan padaku dulu itu apa? Kontrak palsu?!"tanya produser penuh amarah.

Sutradara mengangguk lemah. Ia paling tidak suka dibentak, sebagai seorang sutradara biasanya ialah yang membentak orang. Tapi sekarang ia hanya bisa menunduk, sekarang ia dalam posisi yang salah.

"Maaf."

"Kau ceroboh! Apa yang ada dipikiranmu? Kau pikir membuat anime itu main-main? Anime ini sudah sukses hingga kini, dan dengan kecerobohanmu segalanya bisa hancur begitu saja. Aku tahu Hinata bukan tokoh utama, tapi ia juga merupakan tokoh pendukung yang juga penting. Kalau begini caranya, kau akan mencoreng nama baik semua yang terlibat, kru, pemain, termasuk aku. Kau- ah sudahlah, sekarang terserah apa yang akan kau lakukan, yang penting anime ini bisa sukses."Setelah itu produser pergi dari lokasi shooting.

Muka sutradara terlihat memerah. Perasaannya campur aduk, sedih, kesal, kecewa. Selama 10 tahun karirnya, ia tak pernah gagal dalam menjalankan tugas sebagai sutradara.

Asisten sutradara mengerti perasaan sutradara kemudian menepuk pundak partner-nya itu.

"Tenang, kami akan terus mendukungmu sampai akhir," katanya menenangkan.

Sutradara mengangkat wajahnya dan menatap ke luar ruangan, disanasemua krunya tersenyum ke arahnya.

"Kalian semua… terima kasih banyak."

Dari kejauhan, Naruto ikut terharu menyaksikannya. Ini bukan pertama kali ia terlibat dalam produksianime, tapi baru pertama kali ia bekerja sama dengan kru yang kompak dan penuh dengan kebersamaan. Padahal masalah yang dihadapi tidak bisa dibilang kecil.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Jadwal release episode terakhir tinggal seminggu lagi. Sebenarnya adegan-adegan lain (yang tidak melibatkan Hinata) sudah selesai. Sutradara juga sudah memilih pemeran pengganti untuk sampai sekarang iabelum mempersiapkan shooting untuk adegan ciuman tokoh utama dan tokoh perempuan.

Keadaan semakin tegang saat 3 hari sebelum jadwal release, sutradara masih belum juga memerintahkan untuk shooting adegan tersebut. Ini membuat kru lain was-was.

"Sutradara, kita hanya punya waktu 3 hari lagi," kata asisten sutradara.

"Aku tahu. Tapi aku masih setengah hati untuk membuat adegan itu. Dari awal aku memilih Hinata. Untuk menggantinya tepat di akhir episode, aku merasa… ah kau tidak akan tahu perasaanku sebagai seorang sutradara."

Asisten sutradara tak bisa menanggapi apa-apa.

"Beri aku waktu sampai besok pagi," tambah sutradara.

Di tempat duduknya, Naruto mendengar kalimat sutradara tersebut. Ia tidak tahu bagaimana rasanya jadi sutradara. Tapi dilihat dari sikap sutradaranya, masalah yang sekarang dihadapi begitu besar dan menjadi beban yang amat berat. Naruto mengepalkan kedua tangannya. Ia tak bisa diam saja!


Malamnya, Naruto nekat kembali menemui Hinata di apartemennya.

Cara biasa memang tak bisa dipakai melawan Hinata, Naruto harus melakukan cara yang lebih kasar. Naruto tersenyum saat melihat jendela apartemen Hinata terbuka. Beruntung apartemen Hinata di lantai sedikit kenekatan, tak membutuhkan waktu lama bagi Naruto untuk mencapai jendela kamar Hinata.

Saat Naruto melihat ke dalam ruangan, Hinata sedang mendengarkan musik, earphone terpasang di kedua telinganya dan kebetulan ia juga tidak menghadap ke arah Naruto.

'Ini kesempatan bagus,' pikir Naruto.

Naruto masuk ke kamar dengan mengendap-endap. SelanjutnyaNaruto membekap Hinata dari belakang. Di luar dugaan Hinata menyikut Naruto dengan keras, sikutan tepat mengenai hidung Naruto. Tapi Naruto tak peduli dan menarik Hinata ke atas kasur, menindih gadis itu hingga tak bisa bergerak. Tangan kirinya menahan kedua tangan Hinata sedangkan tangan kanan Naruto tetap membekap kini mereka berhadapan, Hinata langsung menyadari kalau sosok di hadapannya Naruto, matanya meracau tidak jelas karena mulutnya dibekap, tapi Naruto yakin sekarang Hinata sedang memaki-maki dirinya.

"Aku akan melepas bekapanmu asal kau tak berteriak, mengerti?" tanya Naruto.

Hinata mengangguk cepat.

Begitu bekapan dilepas, Hinata langsung membentak Naruto habis-habisan. "Kau gila! Kenapa kau membekapku? Kau juga masuk lewat jendela, kau mau melakukan hal aneh padaku hah?!"

"Soalnya kalau lewat pintu kau akan memanggil satpam dan menuduhku mencuri lagi," canda Naruto.

Hinata sudah akanmenendang dan mengusir Naruto, tapi niatnya langsung sirna saat setetes darah segar dari hidung Naruto menetes di hidungnya. Mata lavender Hinata membulat. Sikutannya tadi membuat Naruto berdarah. Ia jadi sedikit merasa bersalah.

Kini Naruto melepas pegangannya di tangan Hinata dan duduk di kasur Hinata. Hinata membawa box tisu dan memberikannya kepada Naruto.

"Pakai itu, siapa suruh masuk ke kamarku mengendap-endap," ujar Hinata ketus.

Untuk sementara tak ada yang bicara. Hinata masih diam karena merasa bersalah sedangkan Naruto sibuk menyumbat lubang hidungnya dengan tisu.

"Mau apa kau kemari?" tanya Hinata, memecah keheningan. "Kalau kau datang kesini untuk memaksaku shooting lagi, aku akan mengusirmu."

"Aku tidak akan memaksa kali ini." Naruto menoleh ke arah Hinata, tatapannya serius."Aku hanya akan menceritakan kejadian di tempat shootingsebulan lalu."

Hinata mengerutkan keningnya penasaran, sedangkan Naruto menarik napas dalam-dalam, bersiap memulai ceritanya.

"Sebulan laluproduser marah-marah di lokasi shooting.Ia marah besar kepada sutradara karena ketahuan mengadakan audisi untuk mencari peran penggantimu. Produser juga sadar kalau kontrakmu yang diserahkan sutradara adalah kontrak palsu karena kalian sebenarnya tidak punya kontrak kerja. Sutradara dimarahi habis-habisan dan dituduh telah mencoreng nama baik semuanya. Sutradara sangat terpukul saat itu. Tapi kami tetap mendukungnya. Kami ingin menyelesaikan anime ini sampai akhir."

Naruto berhenti sejenak kemudian tersenyum. "Kau tahu Hinata? Sampai saat ini sutradara belum menyuruh pemeran pengganti itu untuk shooting."

Hinata kaget, padahal jadwal releaseepisode terakhir sebentar lagi.

"Kau bisa bayangkan? Tiga hari lagi ending anime ini harus release, tapi masih ada satu adegan yang belum selesai, yaitu adegan pemeran utama dan pemeran perempuan."

Naruto memberikan jeda lagi, ingin melihat reaksi Hinata. Tapi Hinata tidak mampu bertatapan langsung dengan Naruto. Ia tak menyangka akibat perbuatannya akan sefatal ini.

Karena Hinata tidak merespon, Naruto melanjutkan kalimatnya.

"Hinata, jika kau menganggap aku kesini karena disuruh sutradara, kau salah besar. Kedatanganku kemari tidak ada hubungannya dengan sutradara. Aku kesini karena keinginanku sendiri. Aku tidak ingin kau digantikan oleh pemeran lain. Aku hanya ingin kau yang jadi lawan mainku di episode terakhir ini. Yang menjadikanku semangat untuk shootinghanya kau Hinata, bukan yang lain."

Detak jantung Hinata berubah cepat saat mendengar perkataan Naruto. Awalnya Hinata mengira Naruto hanya bercanda. Tapi saat melihat mata safir Naruto, Hinata yakin tidak ada kebohongan disana. Naruto serius.

Naruto kemudian melanjutkan lagi kalimatnya.

"Satu hal lagi, kau tak tahu betapa berartinya anime ini bagiku. Aku bisa mengenal dan dekat denganmu karena anime ini. Apa kau sadar? Tanpa anime ini mungkin kita tidak akan pernah saling mengenal. Karena itu, aku juga ingin kita mengakhiri animeini bersama, kita jadikan anime ini anime yang tersukses sepanjang sejarah." Naruto mengakhiri penjelasan panjangnya, membuat Hinata tak menyangka kalau anime ini sangat berarti bagi Naruto.

Hinata berpikir kalau Naruto ada benarnya, tanpa anime ini ia tak akan mengenal Naruto. Dan kalau saja ia tak mengenal Naruto, tentu ia tidak akan bebas seperti sekarang. Naruto-lah yang membuatnya keluar dari tekanan dan tuntutan kesempurnaan ayahnya. Naruto-lah yang membawanya keluar dari belenggu kehidupan orang kaya yang selama ini tidak disukai Hinata.

Pikiran Hinata terhenti saat Naruto memegang lembut tangannya. Tapi entah kenapa Hinata tak bisa menolak saat itu. Yang ada malah pipinya mulai merona merah.

"Tolong pikirkan baik-baik. Aku pulang dulu," pamit Naruto.

Hinata menatap Naruto hingga ia keluar dari apartemennya. Hinata mengulangi setiap kalimat yang tadi dikatakan Naruto padanya. Hinata bingung. Nampaknya ia memang perlu berpikir lagi.

'Apa yang harus kulakukan?' tanya Hinata dalam hatinya.


Sepulang dari apartemen Hinata, Naruto terlambat tidur. Pemikiran tentang Hinata masih mengisi setiap sudut otaknya. Karena itulah, saat ia mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya pagi-pagi, ingin sekali ia memukul orang tersebut. Naruto masih ingin melanjutkan tidurnya yang masih kurang.

Tapi akhirnya Naruto memaksakan diri bangun. Naruto membuka pintu apartemen dan mendapati Hinata berdiri di depan pintu apartemennya.

"Apa aku boleh jadi lawan mainmu lagi?"tanya Hinata.

Saat itu juga rasa kantuk yang dirasakan Naruto langsung lenyap, digantikan oleh rasa senang yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Saking senangnya, Naruto refleks memeluk Hinata dengan erat.

"Tentu saja Hinata-chan," bisik Naruto di telinga Hinata.

Hinata langsung panik dan mendorong Naruto. "Jangan seenaknya memelukku baka!"

"Ahaha, maaf aku terlalu senang."

Tanpa buang waktu lagi Narutomempersilahkan Hinata masuk sementara dirinya pergi ke kamar untuk ganti baju. Tapi Hinata menahan Naruto.

Naruto menghentikan langkahnya dan menatap Hinata bingung.

"Naruto, aku memang ingin shooting lagi. Tapi masalahnya aku tidak bisa… berciuman," kata Hinata, ia membuang mukanya ke arah lain. Tak mau Naruto melihat pipinya yang memerah.

"Masa?" tanya Naruto heran.

JDAK!

Saat itu juga Naruto langsung dihadiahi jitakkan di kepalanya.

"Kau kan tahu aku baru 1 kali melakukannya. Itupun tidak sengaja karena kau yang memaksa!" bentak Hinata. Pipinya semakin merah, perpaduan rasa malu dan marah.

"Kalau begitu aku akan mengajarimu," ujar Naruto sambil meringis, menahan kepalanya yang masih sakit.

"A-apa?" Hinata sudah akan memukul Naruto lagi sebelum Naruto menahannya.

"Dengarkan dulu penjelasanku," ujar Naruto, berusaha keras menjelaskan sambil sibuk menangkis pukulan-pukulan Hinata. "Memangnya kau mau kita mengulang adegan itu berulangkali di depan kru? Gara-gara kau tak bisa membuat adegan ciuman yang bagus? Bukannya tadi kau bilang tidak bisa ciuman?"

Hinata terpaku. Kata-kata Naruto memang masuk akal. Keadaan justru akan semakin memalukan jika ia harus mengulangi adegan ciuman secara berulang-ulang.

"Baiklah," kata Hinata akhirnya.

Naruto menelpon sutradara untuk memundurkan jadwal shooting mereka sehari. Untungnya sang sutradara mengerti, apalagi mendengar Hinata mau shooting lagi.

Naruto tersenyum dan mengajak Hinata duduk di sofa. Keduanya duduk bersebelahan. Dada Hinata semakin berdetak kencang saat wajah Naruto mendekati wajahnya.

"Tunggu, jangan kasar seperti dulu ok?" kata Hinata memastikan.

"Ok."

"Janji?"

Naruto mulai tidak tahan dengan Hinata yang banyak tanya. "Kalau begitu kau saja yang mulai," perintah Naruto sambil menegakkan badannya di hadapan Hinata, mengisyaratkan Hinata untuk memulai ciuman duluan.

Hinata mengambil bantal sofa dan memukul kepala Naruto. "Aku perempuan, aku tidak mau memulai duluan!"

"Kalau begitu jangan banyak bicara," protes Naruto.

Hinata mendengus kesal, namun ia tak punya pilihan selain menuruti Naruto.

Naruto menggenggam tangan Hinata dan mulai mendekatkan wajahnya lagi dengan wajah Hinata. Begitu bibir Naruto menyentuh bibirnya, Hinata agak kaget dan mendorong Naruto.

"Maaf," kata Hinata. Wajahnya sudah sangat merah sekarang.

Naruto mengerti kalau Hinata belum terbiasa dengan ini. "Tidak apa-apa," kata Naruto lembut. Ia memegang pipi Hinata dengan tangan kanannya. Hinata mendongak, kini tatapan mereka bertemu. "Aku akan melakukannya pelan-pelan, tenanglah aku yakin kau bisa melakukannya."

Tatapan mata safir yang menenangkan dan tangan Naruto di pipinya membuat rasa gugup Hinata berkurang. Hinata tersenyum dalam hati. Naruto tak terbawa nafsu dan mementingkan perasaan Hinata. Sekarang Hinata percaya sepenuhnya kalau Naruto memang serius ingin mengajarinya.

"B-baiklah, ayo lakukan lagi," kata Hinata.

Wajah Naruto kembali mendekati wajah Hinata. Kali ini Hinata tak terlalu kaget saat bibir Naruto menyentuh bibirnya. Beberapa detik bibir mereka hanya diam. Melihat Hinata masih rileks, Naruto menggerakkan bibirnya, mencium bibir bawah dan atas Hinata secara bergantian. Ia melakukannya selembut mungkin agar Hinata tidak kaget. Nafas Hinata mulai tidak beraturan seiringgerak Naruto yang makin cepat, Hinata kembali merasa tegang. Naruto berusaha menenangkannya dengan mendorong pelan badan Hinata hingga ia bersandar di sofa. Setelah itu Naruto menuntun tangan Hinata dan menyimpannya di lehernya. Setelah Hinata terbiasa Naruto menyimpan kedua tangannya di sofa, di kedua sisi kepala Hinata kemudian memperdalam ciuman meraka.

Setelah cukup lama, Naruto melepas ciumannya.

"Tidak buruk," ujar Naruto. "Kau hanya belum terlalu rileks."

Hinata hanya mengangguk mengerti, rasa gugup membuat dirinya tak banyak bicara.

Keduanya terdiam disana, tak tahu harus bicara apa.

Setelah 10 menit diam. Naruto angkat bicara. "Latihan lagi?" tanyanya ragu.

"Boleh," jawab Hinata pelan. Ia tahu ini memalukan, tapi ini demi shooting-nya besok. Pokoknya jangan sampai ia mengulangi adegan ciuman di shooting besok!

Keduanya kembali memulai ciuman.

Tapi ciuman mereka harus terganggu saat mereka mendengar pintu apartemen yang terbuka. Sontak Naruto dan Hinata melepas ciuman mereka. Di depan pintu tampaklah kakak Naruto yang baru datang dari Inggris.

Dengan posisi tangan Naruto yang masih di pinggang Hinata, tangan Hinata di leher Naruto, serta jarak wajah mereka yang dekat, orang yang melihat pasti langsung tahu apa yang sedang Naruto dan Hinata lakukan. Begitupun kakak Naruto, Uzumaki Naruko langsung tahu apa yang sedang dilakukan adik langsung merona merah melihat pemandangan di hadapannya. Ia terpaku di tempatnya bingung dengan apa yang harus dilakukan. Naruto dan Hinata juga sama-sama bingung dengan apa yang harus dilakukan, mereka menatap Naruko tapi masih dalam posisi semula, saling berpelukan.

Hening.

Ketiganya tak ada yang mengeluarkan suara.

Hingga akhirnya suara ringtoneponsel Naruko berbunyi. Ia langsung terperanjat dan segera menerima telponnya. Naruto dan Hinata tak kalah kaget, mereka sadar posisi mereka sekarang dan langsung duduk saling berjauhan.

"Hello Mom,"kata Naruko menyapa penelepon dari seberang sana yang ternyata adalah sang ibu. "Ya, aku sudah sampai di apartemen Naruto. Cuaca disini… umm… panas. Apalagi di ruangan ini, panaaass sekali," ujar Naruko sambil terkekeh."Naruto? Dia baik-baik saja. Mau bicara? Ah, sepertinya tidak bisa, dia tidak bisa diganggu sekarang. Dia sedang bermesraan dengan pacarnya. You sure understand right? Hehe. Yeah, alright. Bye Mom."

Naruko menyimpan poselnya ke dalam tas kemudian menatap Naruto dan Hinata bergantian. Dua orang yang ditatap malah membuang muka ke arah lain, tak mampu menatap gadis blonde itu saking malunya.

Naruko menghela napas pelan. "Anggap saja aku tidak ada dan aku tidak melihat kalian, silahkan lanjutkan kegiatan kalian,"ujar Naruko cuek sambil berlalu menuju kamarnya.

Mendengar perkataan Naruko yang frontal itu membuat Naruto dan Hinata semakin malu. Naruto pun kali ini harus ikut merasa malu. Ia pasti akan jadi bahan pembicaraan orang tuanya di Inggris begitu sang kakak pulang.

"A-aku mau nonton TV dulu," kata Hinata tiba-tiba, wajahnya menunduk menyembunyikan pipinya yang entah sudah seberapa merah.

"Aku mau menemui kakakku dulu, sudah lama tidak bertemu," kata Naruto tak kalah gugup.


Malamnya Hinata tidur di apartemen Naruto, ia tidur di kamar kakak Naruto. Tapi ia tak bisa tidur memikirkan shooting mereka esok hari. Tengah malam, ia memutuskan untuk menemui Naruto. Sebenarnya Naruto sudah tidur, tapi untungnya ia terbangun lagi saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.

"Aku tidak bisa tidur," kata Hinata saat Naruto membukakan pintu kamarnya.

"Kau pasti memikirkan shooting besok ya?"tanya Naruto. Hinata mengangguk.

Naruto menyuruh Hinata ke ruang tengah, sedangkan dirinya ke dapur mengambil segelas air putih untuk Hinata. Berharap itu bisa menenangkannya. Hinata meminum air putih yang diberikan Naruto.

"Aku takut harus mengulang adegan itu di depan kru. Selain malu, kita juga tidak punyawaktu shooting terakhir karena lusa anime ini harus release." Hinata memeluk lututnya. Sekarang Naruto tahu sisi Hinata yang lain, ternyata gadis keras kepala seperti Hinata juga bisa merasakan takut.

"Tenanglah. Tadi siangkita sudah berlatih dan kau sudah bisa melakukannya," kata Naruto menenangkan.

"Tetap saja."

Melihat Hinata yang masih saja ketakutan, Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya. Di luar dugaan ternyata Hinata tidak menolak. Padahal Naruto sudah mempersiapkan kalau-kalau Hinata akan memukulnya. Setelah merasa Hinata sudah tenang, Naruto melepas pelukannya. "Lebih baik jangan terlalu dipikirkan, sekarang kau cepat tidur."

Bukannya pergi ke kamar kakak Naruto, Hinata malah tetap duduk bersama Naruto. "Cium aku," ujarnya tiba-tiba.

"Hah?" Naruto tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Ini latihan ciuman terakhir sebelum shooting," jelas Hinata. Wajah Hinata menunduk, jadi Naruto tak bisa melihat wajahnya dan melihat ekspresinya.

"Baiklah," balas Naruto.

Setelah itu keduanya kembali berciuman. Naruto merasakan kalau ciuman mereka kali ini berbeda. Kali ini Hinata bisa rileks. Bahkan ia bisa mengimbangi ciuman Naruto. Begitu juga saat Naruto memperdalam ciuman mereka, Hinata ikut memperdalamnya dengan memeluk leher Naruto dengan erat. Setelahkeduanya melepas ciuman mereka, keduanya sama-sama tersipu. Yup, ciuman mereka barusan memang berbeda.

Hinata beranjak duluan dan menuju kamar kakak Naruto. Naruto mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

"Ciuman kita barusan sempurna,"ujar Naruto, sesaat sebelum Hinata menutup pintu kamar. "Besok kau juga harus begitu," tambah Naruto sambil tersenyum.

"Ya," balas Hinata pelan, nyaris tak terdengar oleh Naruto.

"Selamat tidur."

"Selamat tidur."

Setelah itu keduanya menutup pintu kamar masing-masing secara bersamaan. Posisi kamar yang saling berhadapan membuat mereka bisa saling bertatapan sebelum pintu kamar mereka benar-benar tertutup.


Saat tiba waktunya shooting, sutradara dibuat tercengang oleh akting Naruto dan Hinata.

Dalam episode terakhir, setelah melepas kepergian Sasuke, tokoh utama berbincang dengan tokoh perempuan di lantai atas gedung Hokage.

"Selamat Hokage-sama, kini cita-citamu sudah tercapai," ujar Hinata sambil tersenyum.

"Hei, sudah berapa kali kubilang jangan panggil aku Hokage-sama."

"K-karena kau memang seorang Hokage sekarang," kata Hinata, berakting gugup khas tokoh yang diperankannya.

"Baiklah kalau begitu. Sebagai seorang Hokage, sekarang aku memerintahkanmu untuk menikah denganku," ujar Naruto sambil nyengir. Hinata berakting kaget dan nyaris pingsan. Walaupun Naruto tadi hanya akting, hati Hinata sedikit menghangat mendengar kata-kata Naruto. Naruto memegang kedua pundak Hinata.

"Aku juga mencintaimu. Itu jawaban dari pernyataan cintamu dulu, maaf karena aku terlambat menyadarinya," lanjut Naruto. Hinata merasa terharu, sama seperti tokoh yang rasa terharu yang diperlihatkan Hinata saat ini bukanlah akting. Hinata sudah bertahun-tahun memerankan tokoh perempuan ini, ia seperti sudah menyatu dengan tokoh yang diperankannya dan juga mengerti perasaannya. Di saat perasaan tokoh perempuan ini terbalas oleh tokoh utama yang sangat disayanginya, entah kenapa rasa terharu itu muncul begitu saja pada diri Hinata.

Adegan selanjutnya Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata dan akhirnya keduanya berciuman .

Sutradara menatap adegan ciuman Naruto dan Hinata tanpa berkedip.

Naruto dan Hinata melakukan adegan ciuman tanpa terbawa nafsu, mereka tetap memperhatikan sifat dasar tokoh yang mereka perankan.

Begitu adegan ciuman berakhir, semua kru berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. "Tidak percuma aku menunggu sampai hari ini. Ini ciuman terbaik yang pernah kulihat," ujar sutradara. Naruto hanya bisa tersenyum sedangkan Hinata membuang mukanya ke arah lain, dalam hati ia bersyukur sutradara tak menyuruhnya mengulangi adegan itu.


Keesokan harinya seluruh berita dan infotainment di Jepang ramai membicarakan anime yang dibintangi Naruto dan Hinata. Anime ini dinobatkan sebagai anime tersukses sepanjang sejarah. Selain karena seru, penonton menyukainya karena banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari anime ini. Pertama adalah persahabatan antara tokoh utama dan sahabatnya. Kedua semangat pantang menyerah yang diperlihatkan tokoh utama dalam mencapai cita-citanya. Dan yang ketiga adalah rasa cinta yang tulus yang diberikan tokoh perempuan kepada tokoh utama.

Untuk merayakan kesuksesan anime garapannya, sutradara mengadakan pesta yang dihadiri seluruh kru, artis, termasuk Masashi Kishimoto.

"Terima kasih sudah mau menyelesaikan shootinganime ini, kau membuat anime ini sukses," kata sutradara saat Hinata baru sampai di pesta.

"Tapi aku hanya tokoh sampingan," tukas Hinata, pujian berlebihan dari sang sutradara membuatnya tersipu.

Sutradara menggeleng. "Ya, tapi tanpamu aku yakin anime ini tidak akan sesukses ini."

Hinata merasakan kepuasan tersendiri dalam hatinya. Ia merasa begitu dihargai walaupun dirinya bukan pemeran utama.

Begitu pesta selesai, wartawan mengerumuni setiap artis yang keluar dari hotel tempat pesta diadakan. Berbagai pertanyaan diajukan kepada para artis. Begitupun Naruto, ia tak luput dari serangan pertanyaan wartawan.

"Naruto, apa benar kau dan Hinata pacaran?"tanya seorang wartawan.

Naruto langsung bengong. Hinata yang berada di sampingnya pun ikut kaget. Entah dari mana gosip itu berasal. Yang jelas Naruto bingung untuk menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut.

Ia sendiri bingung dengan hubungannya dengan Hinata. Hinata tidak pernah membalas pernyataan sukanya bertahun-tahun lalu. Sampai sekarang mereka memang dekat. Tapi Naruto tidak tahu apa makna dirinya bagi Hinata. Naruto punya ide, karena kebetulan sekarang Hinata ada di sampingnya, lebih baik ia tanyakan langsung saja.

"Bagaimana ya, silahkan tanya saja kepada Hinata," kata Naruto sambil nyengir.

Hinata menyikut Naruto karena kesal telah melemparkan pertanyaan itu padanya.

Hinata mendengus. 'Apa boleh buat,' batinnya. Ia memang sudah lama memikirkan matang-matang masalah ini. Ia yakin pilihannya tidak salah. Kemudian muncullah senyumannya yang sudah bertahun-tahun tak dilihat Naruto. Hinata menarik napasnya dalam-dalam.

"Ya, kami pacaran,"ucap Hinata tanpa melepas senyumannya.

Wartawan langsung heboh dan mengajukan berbagai pertanyaan tambahan. Namun saat itu juga Naruto langsung menarik Hinata menjauh. Naruto mengenggam tangan Hinata erat seakan tak mau melepasnya. Kemudiania menatap Hinata, pandangan mereka bertemu, saat itu untuk pertama kalinya Naruto dan Hinata tersenyum satu sama lain.

Yup, Hinata yakin pilihannya sudah tepat.


Di suatu pagi Hinata terlihat sedang tiduran di kasur Naruto. Sedangkan Naruto sedang mengetik sesuatu di laptop tak jauh darinya.

"Tumben kau kesini pagi-pagi," kata Naruto memulai pembicaraan.

"Memangnya tidak boleh?"tanya Hinata ketus.

Naruto tertawa. "Boleh. Tidak biasa saja kau kesini pagi-pagi."

"Aku sedang bosan." Hinata mengambil sebuah album dari meja di samping tempat tidur Naruto. "Ini…"

"Itu album keluargaku, satu-satunya benda yang kubawa dari Inggris."

Hinata membuka album tersebut dan melihat lembar demi lembar foto Naruto bersama keluarganya.

"Kau mirip sekali dengan ayahmu," ujar Hinata saat melihat sosok lelaki dewasa di album.

"Ya. Oh ya, semalam ayahku menelponku dan memberiku selamat atas kesuksesan animekita. Bagaimana dengan ayahmu?"tanya Naruto, kini ia menoleh ke arah Hinata.

"Hubungan kami sudah membaik. Semalamia meminta maaf dan berjanji tidak akan memaksakan kehendaknya padaku lagi. Dia juga menyuruhku pulang."

"Kau akan pulang ke rumah?"

"Ya, mungkin besok aku akan mulai berkemas."

"Bagus. Aku ikut senang." Naruto tersenyum dan kembali fokus mengetik.

"Ini indah sekali,"kataHinataketikamelihat foto terakhir dalam album. Disana ada foto kota London dari ketinggian.

Naruto melirik foto yang dilihat Hinata. "Aku mengambil foto itu dari London Eye, tempat dimana kau bisa melihat seluruh penjuru kota London. Itu tempat favoritku di Inggris. Setiap aku merasa sedih dan banyak pikiran, aku akan menenangkan diri disana. Tempatnya memang nyaman, bisa membuatmu melupakan masalahmu."

Setelah bicara itu, Naruto kembali mengetik lagi. Ini membuat Hinata penasaran. Apa sebenarnya yang sedang Naruto kerjakan?

"Kau sedang apa?" tanya Hinata.

"Sedang menulis naskah. Aku punya ide untuk membuat movie tentang hubungan NaruHina. Jika dalam serial anime NaruHina tidak terlalu ditonjolkan,maka dalam movie ini akanfokus ke cerita NaruHina. Ceritanya diambil dari 30% anime, 70% animeShippuden serta dari kisah nyata kita," jelas Naruto panjang lebar. "Berdoalah agar sutradara menerima naskah ia menerimanya dan film ini sukses, aku akan mengajakmu berlibur diInggris dan mengajakmu ke London Eye. Aku akan menunjukkan betapa indahnya pemandangan di sana."

"Boleh kulihat?"tanya Hinata.

Naruto memberikan naskah yang sudah di-print. "Itu baru draft, ada beberapa yang harus diperbaiki."

Hinata melihat covernya, disana tertulis. The Chronicles of NaruHina.

Untuk beberapa menit kedepan, Hinata terlarut dalam bacaaannya. Namun saat mencapai akhir cerita, Hinata langsung protes.

"Kenapa ada french kiss?"tanya Hinata heran. "Kau bilang ini dari kisah nyata kita. Kita tidak pernah melakukan french kiss. Kalau kau menulisnya di naskah, kau sama saja melakukan pembohongan publik! Cepat hapus bagian ini!" bentak Hinata.

Naruto mengambil naskah tersebut dan membacanya baik-baik. "Oh benar juga ya. Tapi kalau dihapus sayang. Ini adegan yang bagus."

Naruto berpikir tersenyum saat mendapat ide cemerlang.

"Bagaimana kalau sekarang kita melakukan french kiss? Dengan begitu kita tidak melakukan pembohongan publik dan tak perlu menghapus adegan ini. Benar kan?" tanya Naruto.

BUKH!

"Ouw!" Naruto meringis saat sebuah naskah mendarat dengan sukses di jidatnya.

"Naruto no baka!" bentak Hinata. Lalu mencekik leher Naruto dari belakang

"Argghhhhh…hentikan Hinata! Kalau kau tidak menghentikannya, aku akan memaksamu melakukan french kiss!"

"Baka! Coba saja kalau kau bisa!"

"Argghhhhh!"

The End (?)


A/N: Ceritanya beres, The End. Tapi ada side story di chapter 4, klik next!

That's it! Rencananya oneshot, terus twoshots, jadinya malah 3 chapter. Haha. Maaf, maaf. Akhirnya selesai juga. Jangan lupa review lagi. And… happy NaruHina Fluffy Day 2012 ;) Semoga tahun depan bisa ikutan.

© rifuki