Before

Akupun mengeluarkan bekal makananku di meja belajarku. Saat sedang membuka bekal, ada dua orang yang menghampiriku.

"Hai, Saku. Sudah lama kita nggak bertemu, apa kau masih ingat aku atau Hinata?" tanya seorang gadis bercepol dua.

Rated: T

Warning: aah, nggak tau mau di apakan ni cerita, pokoknya ancur

Typo dll-nya banyak bertebaran atau apalah..

Naruto © Masashi Kisimoto

This story is my idea's

Review dan hanya menerima flame yang membangun yang tidak seperti chap pertamaku

.

.

.

Chap 2

"Maaf, apa kalian atau aku saling mengenal?" tanyaku berpura-pura tidak ingat. Mana mungkin aku melupakan Sahabat terbaikku semasa SMP dulu. Ya, Tenten dan Hinata-chan.

"Ah Sakura, masa kau melupakan sahabatmu yang hebat ini?" Ujar Tenten sambil berkacak pinggang.

"Ya.. Ya.. aku tak akan melupakan sahabatku yang selalu bertingkah seperti 'laki-laki' di depan semua orang terkecuali Neeji dan bertingkah layaknya 'perempuan' di depan Neeji." Kata ku dengan lancar dan dengan penekanan di kata Laki-laki dan Perempuan. Dan juga, Tenten memang bertingkah seperti yang aku katakan tadi.

BLUUSH

Setelah mendengar perkataanku tadi, ku lihat wajah Tenten bersemu. Haha, perkataanku memang selalu tepat sasaran. Setelah itu, akupun langsung menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku. Mengapa? Yaah, setiap aku mengungkit-ungkit tentangnya dan Neeji, Tenten pasti akan berbicara bahkan histeris tidak jelas. Yang pastinya topik yang dihisteriskan dan dibicarakannya tidak lain adalah 'Neeji' atau 'itu bukan urusanmu!'.

"Hihi, su..sudahlah, ba..bagai..mana ka..kalau kita makan be..bekal ber..bersama di atap?" kata Hinata-chan sambil tertawa pelan.

"Di taman aja, aku sudah bosan di atap terus. Sekalian ajak Sakura berkeliling, Ayo!" Ajak Tenten langsung melesat keluar kelas.

Skip Time di Taman.

"Waah, di sini tenang dan menyejukkan." Kataku sambil tersenyum. Tapi, aku tetap tidak bisa menghilangkan raut wajahku yang tegang.

"Sa..Sakura, a..apa ada masalah?" tanya Hinata.

"Aku tidak ada masalah apa-apa kok Hinata-chan" ujarku meyakinkan Hinata-chan agar dia percaya kalau aku baik-baik saja,

"Sudahlah, jujur saja. Aku melihatmu pucat sekali pada saat kau bertemu dengan Sasuke. Awalnya aku juga sepertimu, kaget. Yah, aku kaget karena mengira Sasuke itu adalah S-"

GREB

"Ada apa dengan Teme?" tanya seseorang pemuda yang langsung memeluk secara tiba-tiba dari belakang Tenten.

BUAGH

"Aw, apa-apaan kau Tenten? Sakit tau! Dasar adik yang tidak sopan terhadap kakak!" ringis pemuda itu sambil mengelus kepalanya yang tadi dipukul oleh Tenten, aku masih mengenalnya. Naruto, Uzumaki Naruto.

"Ada apa dengan Sasuke? Tidak ada apa-apa, dan jangan seenaknya memotong dan memelukku sembarangan, Naruto! Lagi pula, kita hanya berbeda beberapa menit saja. jadi aku tidak sudi menganggapmu sebagai kakak!" kata Tenten mendengus.

"Ka..kau ti..tidak apa-apa, Naruto-kun?" tanya Hinata sambil menjongkok di samping kekasih tercintanya itu.

"Sudahlah Hinata, biarkan saja si bodoh itu." Seru seorag pemuda yang di ikuti beberapa pemuda dan seorang gadis.

"Ne..Nejii-nii," kata Hinata.

"Ya, jangan pedulikan." Gumam seorang pemuda (Lagi?) yang muncul dari belakang Nejii.

DEG

'Di..dia... Ah, Saku dia bukan Sai.. ingat dia Uchiha Sasuke bukan Akasano Sai.' Kataku dalam hati setelah melihat pemuda di belakang Nejii yang sedang membaca buku.

'Le..lebih baik aku pergi dari sini, dari pada air mataku meledak seketika karena wajah seseorang yang mirip dengan seseorang.' Fikirku dalam hati.

SET

TAP..TAP..TAP..

"Oi, kau mau kemana Saku? Sudah selesai makannya?" teriak Tenten karena jarak diantara kami sudah hampir mendekati jauh.

"Aku ingin ke perpustakaan, Tenten. Jaa" Kataku sedikit berteriak.

'Lebih baik aku sendirian dari pada bersedih.' Gumamku.

Sesudah menaruh kotak bekal, aku menuju perpustakaan yang tidak jauh dari kelas.

Normal Pov Di Perpustakaan.

GREEK

Seorang siswi masuk ke dalam perpustakaan yang tidak bisa di bilang kecil itu dan segera menulis nama dirinya disebuah buku yang dijaga oleh seorang murid yang sedan membaca sebuah buku. Lalu, gadis itu menuju ke deretan buku yang berisi tentang Romance Novel. Ya, gadis itu tidak lain Sakura. Setelah melihat-lihat buku yang akan di baca, Sakura pun pergi menuju sebuah meja di samping jendela, tempat kesukaannya. Selain mendapat angin dari luar, ia juga bisa melihat taman yang penuh dengan berbagai macam bunga karena sekarang musim semi.

TEEET

'Huh, lagi asik-asik juga, padahal sudah di bagian inti.' Racau Sakura. Jadinya, ia meminjam buku itu dan segera kembali ke kelas.

Setelah sampai di kelas, Sakura langsung duduk di kursinya dan kembali lagi ke novel yang baru di pinjamnya dari Perpustakaan. Baru beberapa menit dia membaca, keadaan kelas atau lebih tepatnya keadaan di sebelah mejanya sudah ribut dengan segala pertanyaan atau ungkapan yang menurut Sakura menjijikan. Ya, karena si bungsu Uchiha baru saja tiba di kelasnya.

"Sasuke~~, pulang sekolah main sama kami yaa~~"

"Hei, aku duluan. Aku sudah janji dengan Sau-kun~~"

"Sama-sama aja, iya kan Sasuke~~"

"Sasukee~~"

"Sasu~~"

TING *emang suara oven gitu?

Telinga Sakura sudah panas. Bagaimana coba, dia mau membaca tapi ributnya seperti di pasar. Akhirnya, Sakura berbicara dengan nada yang bisa dibilang sangat rendah, tandanya sedang menahan emosi. Walaupun dia pasti sudah tau apa resikonya karena telah menggangu FG dari Uchiha itu.

Author: Jiah Saku, kamu emosi hanya gara-gara kegiatan membacamu terganggu?

Saku: mau bagaimana lagi, aku juga orangnya suka sunyi kok. Salah kamu dong, kenpa bikin ceritanya gini.

Author: inikan cerita aku, kenapa Saku yang negdemo gitu

Saku: aah, sudahlah kembali ke cerita!

Back To Story

"Permisi, apa kalian bisa tenang sebentar saja, aku tidak bisa membaca jika ribut. Jika kalian ingin ribut yang tidak karuan seperti tadi, silahkan jangan berada di dekatku. Teriakan seperti tadi menurutku sangat menjijikan." Kata Sakura dengan tetap merendahkan suara.

SIIING

Semua gadis yang berada di dekta Sakura yang mendengar perkataanmya barusan terdiam. Aku sempat melirik ke wajah Uchiha itu, tampak seperti terbengong saja.

"Terimakasih telah mau mendengarkanku" Ujarku kembali sambil membaca novel. Setelah kejadian itu, para siswi mau memprotes tapi ter-urung karena Ibiki-Sensei sudah Tiba di kelas kami.

Skip Time Pulang Sekolah

"Saku, kami main ke rumahmu boleh? Di rumahmu pasti sepi. Kasihankan kau sendirian." Kata Tenten memelukku dari belakang. Kebiasaannya jika mau meminta sesuatu.

"I..Iya, Saku-chan. Aku su..dah lama ti..tidak main ke ru..mahmu." kata Hinata sambil tersenyum.

"Ya sudahlah, ayo berangkat. Sepertinya Kisame-san sudah menunggu di luar." Gumamku sambil berdiri.

"Ayo. Hmm, Sasuke, kami duluan ya." Kata Tenten.

"Hn" jawab Uchiha. Kesanku ke dia adalah, cuek, dingin, irit bicara, benci perempuan itu kesan ke duaku. Kesan pertama hanya 'MIRIP DENGAN SAI'.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's room:

Wah, chap 2 udah update. Maap yang sudah membaca menunggu lama ya. Soalnya selain di rumah nggak ada modem atau WI-FI, Warnet juga jauh, dan Laptop milikku rusak, jadi nggak bisa ngpa-ngpain.

Terimakasih juga sudah me-rivew cerita ku, ini balasannya:

Retno UchiHaruno: Maap ya nggak bisa Update kilat, karena seperti jawaban yang di atas. Insyaallah aku akan usahakan update kilat, Makasih juga sudah mereview. Jangan bosan membaca dan me-review ceritaku.

Just Rizka: Makasih ya sudah membaca dan mereview. Hehe, yang chap kmaren alurnya kecepatan ya, mudah-mudahan chap yang ini agak mendingn dari yang kmarin.

Yah, tentang Naruto dan Tenten, aku juga gak kpikiran langsung buat mereka jadi saudaraan, itu hanya usul dari author di sini namanya akunya YonaShinju (Kalau gak salah..)

Guest: Maaf kalau aku berkata seperti ini, kalau nggak tau apa-apa jangan nge-flame seperti tadi. Itu reviewan dari Adikku yang lupa meng Log-Out aku milikku. Lalu, aku juga gak berharap terlalu besar kalau fic buatanku laku. Asalkan membaca walaupun tidak review, asalkan reader senang atau gak, aku tetap senang kok. Lalu, jangan sembarangan bilang bodoh ke orang yang kamu gak kenal, semua orang punya kelemahan kali. Memangnya kamu siapa bisa bilang aku bodoh. Siapa tau aja kelebihan yang aku miliki lebih memadai dari pada yang kamu punya.

Yak, sekian dariku. Maap banget kalau telat update. Makasih juga sudah mereview. Jangan bosan membaca dan me-review ceritaku.