Title: Skip A Beat!

Pairing : EunHae/HaeHyuk (Donghae x Eunhyuk)

Rating: PG-..15, maybe

Summary: Donghae adalah teman masa kecil Hyukjae. Setelah tiga tahun tidak bertemu, Donghae yang sudah menjadi idola kembali- hanya untuk melakukan sesuatu yang membuat Hyukjae bersumpah untuk membalas dendam. "Coba saja kalau kau bisa. Memang dengan cara apa?" -HaeHyuk, Skip!Beat inspired-


A/N: JEONGMAL GOMAWO BUAT REVIEW, FOLLOW DAN FAVORITE NYA ;;A;; *bow 180 degree* Balasan review di PM ya XD anonymous-deul, ini dia:

anchofishy hae nggak akan ngelupain hyuk karena mereka ditakdirkan satu sama lain :') *halah* gomawo udah baca dan review! ^^

anon ah, unsur angstnya memang ada kok, tapi belom keliatan di chapter ini :D keke bosen sama yang hepi? Tapi kasian hyuknya kalo dijahatin hae terus :""( *tapi tetep aja dibikin jahat* iya tenang seiring cerita berjalan, hurt/comfortnya pasti ada~ kalo nggak gabakal kupilih genre ini keke. Gomawo udah baca dan review ^^

Rika. Fika GOMAWOO CHINGU XD haha iya ini terinspirasi dari dramanya, disitu sih tentang perjalanan tokoh utama jadi artis dan terlibat cinta segitiga, tapi ff ini kayaknya agak jauh dari jalan cerita asli skip beat nya :D

Kamiyama Kaoru ini udah lanjut~ :p Gomawoo chingu udah menyempatkan buat review ({})

HaeHyukkieelf lagi tegang? Haha nggak setegang chapter selanjutnya kok.. *ups XD Ga bisa sekilat kemaren, tapi ini udah apdet~ gomawo dan selamat membaca!

D.D. YOO DI WASSUP. Haha ah aku merasa tua. Hoho makasih naak~ iya emang mas hae kurang ajar sama mbak hyuk, disini ada alasannya btw. Ah kalo kerumahku juga pasti kita sibuk sama hal lain sampe baca fic terlupakan u_u Makasih udah meninggalkan reviewmu, beb :* Salam sparkling diamond from your lead vocal!

sweet haehyuk haha temponya udah naik? XD donghae memang terlahir sweet dan jahat pada saat bersamaan hoho, iya minta makan... = hyuk HAHA *oke jk* haha eh kenapa sena kobayakawa nyasar kesini ;;XD Gomawoo chingu udah ngereview~

Aya'kyu ini sudah lanjut ^^ gomawo udah baca dan review chinguu

Leny961013 hahaha perasaanmu sama kayak perasaan author pas lagi nulis ini TT_TT hmm apa chapter ini sudah cukup haehyuk momentnya? Gomawo udah review XDD

Valentina pas banget abis chingu review aku lagi ngeupload...hahaha ini udah lanjuutt gomawo reviewnya ^^

-o-o-


Disclaimer: Super Junior © SM Entertaiment. Super Junior members belong to themselves, their parents, and God. Cuma plot cerita ini milik saya~


Enjoy!

SKIP A BEAT!

::

A Super Junior Fanfiction

::

© AiNeko-chan


~Chapter 2 : What We Used To Be and What We Did Not

.

.

"... Donghae?"

Hyukjae mengucap nama itu dengan tidak percaya, pelan seperti kalau diucapkan lebih keras lagi, orang di hadapannya akan lenyap seakan ia hanya sebuah fatamorgana atau kabut yang tak nyata.

Tapi tidak seperti fatamorgana atau kabut, orang di depannya tertawa kecil dari balik maskernya dan melambaikan telapak tangannya di depan wajah Hyuk.

"Kau seperti melihat hantu saja." Ucapnya dengan suara berat, setengah berbisik. "Lama tidak bertemu, Hyukkie."

Masih membeku di tempat, tidak tahu harus mengatakan apa. Katakan reaksinya berlebihan, tapi ia baru tersadar dari alam bawah sadar ketika tangan yang sama dilambaikan lebih cepat di depan wajahnya. Dan Hyukjae melakukan hal pertama yang terlintas di pikirannya. Tangannya melebar, mencondongkan tubuhnya dan mendekap orang di depannya dalam sebuah pelukan beruang yang erat.

"HAEE!"

.

-o-o-

.

"Rumahmu tidak berubah banyak, ya?" ucap Donghae, memperhatikan interior ruang tamu rumah Hyukjae dengan wajah tertarik. Jaketnya sudah terlepas dan dibiarkan menggantung di satu sisi sofa yang ia duduki. Maskernya masih terpasang menutupi leher.

Hyukjae tersenyum, berjalan dari arah dapur.

"Kau masih ingat seperti apa rumahku tiga tahun yang lalu?"

Ia meletakkan dua cangkir mug di atas meja di depan Donghae dan dirinya sendiri. Mengambil salah satu di antaranya dan memperhatikan raut wajah Donghae dari balik mug saat ia menyeruput minuman berwarna merah muda di dalamnya.

"Tentu saja. Kemana keluargamu, Hyukkie?" jawab Donghae, tertawa kecil.

"Ah, appa sepertinya lembur. Sora-noona baru akan pulang nanti malam. Umma.. sepertinya belanja."

"Jadi kau sendirian di rumah?"

Hyukjae mengangguk kecil.

"Hmm," Donghae bergumam, senyuman kecil muncul di bibirnya.

Keheningan sesaat muncul setelah itu. Hyukjae tidak tahu harus berkata apa. Ia punya banyak pertanyaan untuk diajukan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana dan bertanya seperti apa. Sedikit-sedikit, dari balik mug lagi, ia memperhatikan keseluruhan wajah dan penampilan sahabatnya ketika orang yang dimaksud mengedarkan pandangannya ke luar jendela dan ke seluruh ruangan, seperti memikirkan sesuatu.

Donghae memang— sempurna.

Rambutnya yang dicat coklat tua, panjangnya hampir mencapai leher, warnanya sesuai dengan kulitnya yang jauh lebih putih dari yang Hyukjae ingat tiga tahun lalu— dulu lebih tan. Anting hitam bentuk cincin terpasang di masing-masing telinganya. Kaus putih yang dipakainya membuat postur tubuhnya lebih terlihat, lebih berotot.

Dan matanya yang sesaat beradu pandang dengan Hyukjae kembali, mata coklatnya. Perasaan saja atau terlihat jauh lebih gorgeous dari ingatannya tiga tahun lalu (atau dari layar yang biasa dilihatnya) ?

"Kau memperhatikanku dari tadi, Hyukkie? Ada apa?" seringai muncul di wajah tampan itu.

Pikiran Hyukjae kembali ke dunia nyata. Dan saat itu, ia tersedak minumannya sendiri.

".. Tidak, hanya— uhuk." Hyukjae mengatur suaranya, "….Em, kau berubah banyak ya.."

Donghae berkedip, menatap Hyukjae dengan raut wajah penasaran.

"Semakin tampan, maksudku." Hyukjae cepat menambahkan, tidak ingin Donghae salah mengartikan kata-katanya ke arah negatif.

Tapi segera setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Hyukjae merutuk dirinya dalam hati. Halo, Lee Hyukjae, apa kau baru saja terang-terangan memuji laki-laki lain, 'tampan'? TIDAKKAH DONGHAE AKAN BERPIKIR ITU SANGAT CANGGUNG? Dan— gay?

Keheningan selanjutnya membuat Hyukjae ingin bunuh diri dengan garpu saat itu juga.

Tapi di luar perkiraan, suara tawa keras terdengar.

"Hyukkie, kau lucu sekali!" ucap Donghae di sela-sela tawa. "Terima kasih atas pujiannya. Tentu saja aku bertambah tampan!"

Bibir Hyuk berkerut. "Yah! Kenapa kau jadi narsis!"

"Bukannya kau yang mengatakannya tadi?"

"…."

Donghae tertawa lagi, lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengacak-acak pelan rambut Hyukjae.

"Y-Yah! Berhenti tertawa!"

Sebenarnya, suasana canggung tadi tak terasa lagi dengan tawa Donghae mengisi gendang telinganya. Dan Hyukjae bersyukur ia masih bisa membuat sahabatnya tertawa seperti itu.

"Kau juga bertambah tampan, Hyukkie." puji Donghae.

Namja berambut hitam itu tersenyum lebar, memperlihatkan gusinya kepada Donghae yang sekarang dalam posisi berdiri di depannya. Aneh, dia tidak merasa canggung. Ia justru merasa sangat senang. "Hehe, gomawo."

Donghae tersenyum. Hyukjae menyeruput minumannya lagi. Hening sesaat lagi sampai namja yang berambut coklat memecahnya lagi dengan satu kalimat.

"Ayo pergi keluar."

"Hah? Kemana?" Hyukjae mengerutkan dahi.

"Kita sudah susah-susah bertemu, jangan cuma dihabiskan di dalam rumah," Donghae mengambil jaket dan memakainya. "Aku punya waktu kosong sampai besok pagi."

Berkedip. Kenapa mendadak sekali? Hyuk melirik ke arah jam dinding.

Jarum pendek di angka tujuh, masih ada waktu sebelum jam malam-nya dan sebelum umma-nya pulang. Setelah ragu di dalam pikiran selama beberapa menit, ia lalu mengangguk, "Baiklah."

"Bagus. Ayo!"

"Tunggu- er, Hae!" Hyukjae menyadari sesuatu saat akan melangkahkan kaki keluar ruang tamu.

"Wae?"

"Minumanmu..tidak diminum?"

"Aah," Donghae melirik gelas yang masih penuh dengan cairan merah muda di dalamnya. "Tidak. Aku tidak minum minuman begitu." Ia menjawab dengan senyum manis sebelum menghilang di balik pintu geser yang menghubungkan dengan koridor bersama jaketnya.

Hyukjae tertegun.

Itu.. susu strawberry yang ia dan Donghae sangat suka di masa lalu.

.

-o-o-

.

Suasana di luar rumah gelap dan hanya dihiasi bintang dan lampu jalan. Kerlap-kerlip pusat kota Mokpo terlihat tak jauh dari sana. Angin yang berhembus membawa bau laut beserta suhu dingin bersamanya. Hyukjae menghembuskan nafas di tangannya yang sedikit gemetar, walaupun sudah ditutup sarung tangan yang seharusnya membuat ia cukup merasa hangat.

"Kita mau kemana dulu?" tanyanya.

"Terserah kau." Donghae bersiul mengiringi langkah mereka. "Lebih bagus kalau tempat yang sepi." Ia menambahkan dengan suara yang lebih pelan.

"Mwo? Kau bilang apa?"

"Bukan apa-apa. Bagaimana kalau ke pantai?"

Hyukjae menatap Donghae, berkedip beberapa kali. Donghae mengerutkan dahi.

"Apa?"

"Serius?"

"Wae?"

"..Kukira kau akan lebih memilih game center atau semacamnya."

Donghae tertawa. "Kau pikir aku akan memilih tempat yang bisa kutemukan dengan mudah di Seoul?"

Oh iya. Hyukjae tersenyum kecil. "Baiklah, pantai, kalau begitu?"

"Mmhm." Donghae menjawab tanpa melihat ke arah sahabatnya, tapi melingkarkan satu lengan ke bahu Hyukjae, melewati belakang lehernya dan membuat tubuh ramping itu tertarik lebih dekat dengan tubuhnya.

Mata Hyukjae melebar dengan kontak mendadak tersebut. Ia menengok ke kiri untuk memperhatikan ekspresi wajah Donghae yang tampak santai, sebelum akhirnya tersenyum dan mengangkat tangan kirinya untuk dilingkarkan di bahu sahabatnya juga.

Merasakan kedekatan yang biasa ia dapat tiga tahun lalu lagi, senyum lebar muncul di wajah Hyukjae. Rangkulan Donghae terasa hangat dan membawa kenangan indah. Siapa peduli kalau dia tidak suka milnuman yang sama dengannya lagi? Donghae tetaplah Donghae. Tetap sahabatnya yang dulu.

Fakta itu saja sudah cukup baginya.

.

(Namun tanpa terlihat oleh Hyukjae, sebuah seringai kecil muncul di wajah Donghae.)

-o-o-

"Kita sampai!"

Segera setelah kaki mereka mendarat di atas pasir yang berwarna gelap tanpa penerangan yang cukup, Hyukjae melepaskan diri dari rangkulan Donghae dan berlari ke pesisir pantai. Seperti anak kecil. Donghae memperhatikan dengan bibir yang membentuk senyum tipis.

"Bukannya kau sering kesini?" tanya Donghae selagi ia berjalan mendekati sosok yang duduk santai di atas pasir, membiarkan sebagian kakinya yang tidak dilapisi celana terkena air yang pasang.

"Kata siapa?" Hyukjae merengut. "Terakhir kali aku kesini waktu praktek biologi di sekolah satu bulan yang lalu. Selain itu tidak ada yang mau menemaniku ke sini."

"Eh? Wae?"

"Menurut mereka duduk di kursi dan membantai musuh-musuh virtual lebih menarik dari duduk di atas pasir dan memperhatikan air biru."

Tawa Donghae meledak.

"Yah! Aku serius!" Masih cemberut, Hyukjae membuat gerakan naik-turun dengan tangannya, membawa cipratan air yang diarahkan pada Donghae. "Kadang aku merasa seperti orang tua yang suka mengatakan 'dasar anak-anak zaman sekarang..', tapi— tapi, serius deh, apa yang indah dari makhluk-makhluk virtual yang bisa memukul dan menendang monster, yang hanya bisa kau lihat dan tidak kau sentuh? Sudah untung diberi laut yang indah, mereka malah tidak mau melihat!" ia menghela nafas untuk melanjutkan, "Bahkan orang dewasa juga lebih suka menghabiskan waktu di rumah, menonton TV, main komputer. Ck, orang-orang zaman sekarang memang aneh."

Hening.

".. Donghae?" Mendengar tidak ada respon, Hyukjae melirik ke belakang, penasaran apa yang sahabatnya lakukan.

Pertanyaannya terjawab ketika melihat Donghae, dengan posisi hampir berguling di atas pasir, memegang perut dan jelas terlihat sedang tertawa tanpa suara.

"YAH! Lee Donghae!"

"Puahahahahaha!" yang dipanggil namanya tidak bisa menahan tawa lagi, benar-benar berguling di atas pasir sambil memegang perutnya. "Hyukkie, kau benar-benar terdengar seperti orang tua!"

Wajah Hyukjae memerah. "Y-Yah," Donghae masih terus tertawa, "Berhenti tertawa, Lee Donghae!"

Tawanya malah semakin keras, membuat Hyukjae bertanya-tanya, sebenarnya apa yang lucu?

Kesal, ia menghela nafas dan membuang mukanya, cemberut. "Ternyata kau sama saja seperti yang lain!"

Tawa Donghae memelan. Ia menoleh ke arah Hyukjae, yang pandangannya sudah benar-benar tertuju ke laut biru di depannya sekarang.

"Hyukkie," ia memanggil, dan diabaikan. "Hyukkie~" ia memanggil lagi dengan nada manja. Hyukjae masih mengabaikan.

'Ups.' Donghae berkata dalam hati dan tertawa kecil. 'Ada yang marah.'

Perlahan, dengan kaki dan tangan di atas pasir, ia merangkak menuju Hyukjae (yang masih menatap laut dengan wajah cemberut). Ia menampakkan kepalanya di depan wajah Hyukjae, membuat wajah ter-aegyo yang ia bisa. "Hyukkie-ya~ jangan marah~"

"Aku tidak mau bicara denganmu." jawabnya kesal.

"Tapi kau baru saja bicara denganku."

"..."

Donghae tertawa saat Hyukjae membuang mukanya lagi. "Kau lucu sekali kalau sedang marah, kau tahu?"

"Berhenti memanggilku lucu! Kita sama-sama laki-laki, tahu! Rasanya aneh!"

"Dulu aku sering memanggilmu lucu dan kau tidak protes." Donghae merajuk.

".. Itu karena kita masih muda.."

"Sekarang juga kita masih muda, Hyukkie. Makanya kubilang kau terdengar seperti orang tua." Donghae tersenyum dan melingkarkan tangannya ke pundak Hyukjae, lagi. "Ayolah, berhenti ngambek. Kau tidak mau pertemuan yang langka dengan seorang artis terkenal yang juga teman masa kecilmu dihabiskan hanya dengan cemberut-mu kan?"

Karena kita bahkan tidak tahu kapan kita berjumpa lagi. Hyukjae melanjutkan kalimat yang hampir terdengar seperti lirik lagu itu di dalam hati. Ia menghela nafas dan menyerah, mengatur posisinya agar kepalanya bersender di tangan Donghae.

Momen seperti ini mengingatkannya pada masa lalu.

"Ne, tuan artis terkenal."

"Teman masa kecil," Donghae mengoreksi. Juga menyenderkan kepalanya ke atas kepala Hyukjae, sebelum memulai pembicaraan lain. "Jadi, kau tidak suka main komputer?"

"Siapa bilang? Aku suka kok. Tapi laut masih lebih penting." jawab Hyukjae.

"Senang mendengarnya," Donghae tersenyum lagi, "Jadi, apa kau lihat MV terbaruku?"

Diam sejenak. "Lihat." (Tentu saja!)

"Benarkah? Lalu, lalu, bagaimana pendapatmu?"

(Kau bercanda? Kau terlihat sangatsangatsangat keren! Omo, aku sampai hafal gerakannya karena mengulang videonya seharian penuh. Oh! Dan aku suka gerakan menjatuhkan topi dan memakainya lagi, dan gerakan memutar kaki itu! KEREEEN, Donghae-ah, kuharap aku bisa seperti kau!) "Hmm, bagus." Jawab Hyukjae, berusaha terlihat datar.

"Benarkah?"

"Aku lebih suka MV yang sebelumnya, tapi." (Bedanya sedikit sih. Tapi karena yang itu ada jalan ceritanya dan kau berakting, jadi tentu saja lebih menarik!)

"Kau lihat MVku yang sebelumnya juga?" Donghae tersenyum senang. "Yang mana?"

"Prisoner."

Itu benar. Dengan nada yang menyayat hati, video-klip dengan konsep fantasi dimana Donghae berperan sebagai iblis yang jatuh cinta kepada malaikat, dan jalan ceritanya, Hyukjae hanya satu di antara sekian banyak orang yang menyukai MV itu. Tak heran jika Donghae bisa meraih satu juta views di YouTube dalam satu minggu ketika single kedua itu keluar.

(A/N: Aku tau ini lagunya Sho Fuwa/Shang di Skip Beat asli, tapi cuma ini yang kepikiran lol mianhae bayangkan lagunya sendiri~ XD)

"Benarkah, kau melihat yang itu juga?" Donghae terdengar antusias, ia mendekatkan wajahnya ke Hyukjae. "Hyukkie, apa kau mengikuti karir idolaku?"

(TENTU SAJA! Eh—) "Tunggu, kenapa kita jadi ke topik ini?" Hyukjae pura-pura mengerang kesal.

"Aku ingin tahu! Jadi?"

".. Kenapa aku harus mengikuti karir idola laki-laki sepertimu, Donghae? Tidakkah itu akan membuatku terlihat seperti fanboy maniak yang aneh?" (Yang, er, sebenarnya, itu kau, Lee Hyukjae. TAPI TENTU SAJA DIA TIDAK BOLEH TAHU. ) "Jadi, tidak. Kecewa?"

Donghae mencibir. "Payah, padahal aku akan senang kalau menjadi satu-satunya pengecualian." ia memasang wajah sedih, yang, Hyukjae tahu, hanya pura-pura. "Lalu, kalau kau bukan salah satu fansku, bagaimana kau tahu aku akan datang ke Mokpo, Hyukkie?"

Hyukjae mengerutkan dahi. "Aku tidak—"

"Bukankah kau ada di taman tadi siang, berdiri di antara kerumunan fansku?"

Mata Hyukjae terbuka lebar.

Tunggu.

TUNGGU.

"Kau melihatku?"

"Itu pertanyaan konyol, bukan, Hyukkie? Kita beradu pandang." Sebuah seringai yang terlihat bangga terlihat di wajah Donghae. "Atau itu cuma kebetulan saat kita bertemu di taman? Atau aku salah melihatmu sebagai satu-satunya fanboy yang datang untuk melihatku syuting, di antara sekian banyak wanita? Oh, tidak tahu. Sepertinya aku memang salah. Kau bukan fansku kan, Hyukkie?" ucapan terakhirnya terdengar sarkastik.

...

Hening beberapa saat.

"OW!" Donghae mengeluarkan suara kesakitan saat ujung kepala Hyukjae beradu dengan bawah dagunya. Membuat namja itu hampir tersungkur. Dan saat ia melihat ke atas untuk bertanya kenapa, ia menemukan namja yang lain sudah berdiri dengan wajah memerah.. kesal.

"Jadi kau sadar itu aku?" Hyukjae hampir berteriak. "Kenapa kau tidak katakan saat itu, pabo! Kenapa kau bersikap seolah-olah kau tidak mengenaliku atau tidak sadar aku disitu? Aku bahkan mengira kau sudah tidak ingat dan...ga-galau, sampai kau datang ke rumahku dan- argh. PABO YAAA LEE DONGHAE!" teriak Hyukjae akhirnya, frustasi, mengatakan kalimat terakhir seperti yeoja yang menjerit melihat kecoak. Donghae di depannya sedikit terkejut.

Gampang marah dan berteriak dengan lucu. Hyukjae benar-benar tidak berubah.

"Hyukkie," Donghae tersenyum, mengambil langkah agar lebih dekat dengan Hyukjae. "Bukannya aku tidak mau menyapamu. Tapi, hei. Aku seorang idola sekarang. Apapun yang aku lakukan bisa jadi perbincangan hebat di media cetak. Apalagi fansku ada disana waktu itu. Tidak mungkin aku menyapamu begitu saja,"

Hyukjae mendecih. "Aku bukan salah satu dari fansmu, juga bukan yeoja yang akan digosipkan pacaran denganmu kalau publik tahu kau teman masa kecilku. Tapi, wooow, kau hanya perlu bersikap seolah-olah aku salah satu dari dua option itu, tuan idola."

"Kau lucu sekali kalau sedang marah, Hyukkie."

"Ya! Aku serius! Dan sudah kubilang jangan memanggilku— aisshh." Frustasi dengan sikap tenang Donghae, Hyukjae mengacak-acak rambutnya dan kembali duduk di atas pasir dengan kesal. "Sudahlah. Kau berubah dari kau yang dulu."

"Benarkah?"

"Ya, tuan idola. Aku ragu kau masih menganggapku sahabat seperti dulu." ucapnya sarkastis.

"Kata siapa?" jawab Donghae. "Aku memang tidak menganggapmu begitu."

Bola mata Hyukjae melebar. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya? .. Tunggu, apa maksudnya? Jadi dia benar-benar tidak menganggap Hyukjae sahabat, seperti yang dia rasakan?

Apa Donghae benar-benar seberubah itu?

".. K-kau seri—"

Hyukjae menolehkan kepalanya hanya untuk mendapati Donghae yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya, dengan wajah yang hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya.

"...Erm. Hae, wajahmu terlalu dekat." Hyuk berusaha mengambil jarak dengan mundur ke belakang. Tapi tubuh Donghae mengikutinya.

Namja itu tidak menggubris Hyukjae, malah, ia mengucapkan kalimat berikutnya dengan senyum di bibir.

"Ada apa dengan wajah itu, Hyukkie? Aku memang tidak menganggapmu sahabat, dari dulu." Tangan Donghae menemukan jalan untuk melingkar di sekitar bagian pinggang namja berambut hitam di depannya. "Tapi lebih dari itu."

Dan dengan itu, Donghae menempelkan bibirnya dengan Hyuk. Membuat yang dicium melebarkan bola matanya sekali lagi. Memproses apa yang terjadi.

Seseorang menciumnya. Seorang laki-laki. Seorang idola. Teman masa kecilnya. Seorang Lee Donghae, menciumnya?

'Apa-apaan ini?'

Dengan dua tangan, Hyukjae mendorong tubuh itu. Membuat jarak di antara mereka, walaupun tangan Donghae masih menolak meninggalkan pinggangnya.

"A-Apa yang kau katakan, Hae. Kau pasti tidak serius." ucapnya, tertawa getir seakan itu hanya sebuah lelucon. "Kau tahu kita sama-sama namja, dan—"

"Aku tahu, Hyuk."

"Kalau begitu kau pasti tahu kalau yang kau lakukan— tidak benar!" Hyukjae hampir berteriak.

Tapi kebalikan dengan penolakan dan kepanikan Hyukjae, Donghae tersenyum tenang. Dengan 'ssh' pelan, ia meletakkan telunjuknya di depan bibir Hyukjae, membuat namja itu tertegun dan tidak melanjutkan kalimat penolakannya.

"Tidak ada yang berhak menentukan ini benar atau tidak benar, karena ini hanya tentang kita. Hyukkie, apa kau menganggapku spesial?"

".. Sebagai sahabat—"

"Kau tahu yang kumaksud bukan itu, Hyukjae-ah."

Hyukjae tidak menjawab. Ia tidak mengerti perasaan aneh di dalam dirinya. Apa ia menyukai Donghae, sebagai seorang namja? Walaupun ia juga seorang namja? Ya, ia menyayangi Donghae sebagai sahabatnya. Ia mengagumi Donghae sebagai idolanya. Tapi, cinta? Sesama jenis? Ia tidak yakin.

"Aku benar-benar menganggapmu lebih dari sahabat, Hyukkie. Selama kita tidak bertemu, aku selalu merindukanmu. Kau tidak tahu betapa senangnya aku saat melihatmu siang tadi. Terlalu senang, ingin bertemu, sampai aku menemukan diriku di depan rumahmu." Debaran jantung Hyuk bertambah keras mendengarnya.

"...Katakan kau juga merasakan hal yang sama, Hyukjae-ah."

Kalau digambarkan dengan jabaran matematika, maka isi otak Hyukjae adalah suatu bilangan rumit dan panjang yang bahkan tak bisa dihitung dalam kalkulator. Yang akhirnya menyebabkan tubuhnya kaku, bahkan saat Donghae sekali lagi menautkan bibir mereka tanpa aba-aba. Kali ini dengan lebih kasar dan dalam.

Hyukjae belum menjawab pertanyaan (atau pernyataan?) Donghae sebelumnya, tapi namja ikan itu sepertinya sudah menganggap reaksi tubuh Hyukjae sebagai jawaban "ya".

Permainan lidah mulai terjadi, wajah Hyukjae berubah semerah tomat.

"D-Dong..haee.." Hyukjae mendesah di tengah-tengah ciuman panas tersebut.

Donghae melepaskan ciumannya, mengeratkan pegangannya di pinggang namja yang lebih ramping darinya itu. Dengan nafas yang terengah-engah, ia menatap Hyukjae dengan kedua iris coklatnya yang mencerminkan nafsu.

"Ayo kita ke tempatku, Hyukkie."

.

-o-o-

::TBC


A/N: o_O ...akhir macam apa itu.

AAAAH NEOMU NEOMU MIANHAE CHAPTER INI GAK JELAS. LIKE, SERIOUSLY.

Um, apakah semua sudah bisa menebak isi chapter berikutnya? .. maafkan karena akhirnya berujung kesini. Apa ada yang keberatan fic ini ada rated scene nya? ;;

FYI, Update scheduleku buat fic ini tiap sabtu mulai chapter depan. I'll try to update on time keke. ^^

~AiNeko


Review?