Love Magic!


Ichigo : Akhirnya bisa update juga!

Rin : Oh...

Ichigo : *nyuekin Rin* Ok, bales ripiu!


Lynn 'Ne'-chan:
Um! Aku suka banget! XD Kita sama, TOS! *apaan sih? abaikan
Yeah! Akhirnya mereka bersatu!
Siapa? Lu jei? Belum tentu lho~ hehe
Ok, makasih udah ngeripiu

Christi Mashiro:
Hehe, nggak juga kok :)
So pasti dong! Sweet~
Iya, ini juga lanjut, makasih udah ngeripiu~

Rie 'AkiHani' Fujimoto:
Konbanwa juga :)
Lu jei Piche? Um... masih rahasia! XD #plak!
Datang kemana? Ga ada linknya... ('o'?)
Jaa~ Arigatou for review

Kyon Kuroblack:
Yang punya OC aku kok yang senang Kyon?
Lu jei Piche, hem... dia masih rahasia, ntar juga tau, hehe
Makasih udah ngeriview~

rinnkagamine02:
Is that so? Thank you! XD
No, its fine, ok! It's update now!
Thank you for review :)

len sinichi:
Ada dong~ Hehe
Makasih udah ngeriview :)


Ichigo : Yosh! Disclaimer!

Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya, melainkan milik Mbah Yamaha dan Om Crypton

Rate : T

Genre : Fantasy, Drama, Romance, Humor/Comedy

Caution : AU, typo, OC

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 18 : Lu jei


"Lu jei Piche."

"Sou, sore wa watashi no namae. Ara ara, kau juga di sini, Bartido Ballentyne-kun. Kukira saat itu aku sudah memusnahkanmu, apa Master of Wizard yang membangkitkanmu?" Tanyanya dengan nada dan senyum yang sangat sinis.

"Mau apa kau?" Tanya balik Bartido dengan pandangan yang tak kalah tajam dan sinis dari Lu jei.

"Bukankah sudah kubilang? Aku memeriahkan pesta ini." Ucapnya cuek sambil mengambil pengikir kuku dan mulai mengikir kuku tangan kirinya.

"Di mana Miku? Kau yang membawanya kan?" Bentak Amoretta karena tidak sabar. Lu jei pun melirik Amoretta sedikit, kemudian melanjutkan urusannya untuk mengikir kukunya.

"Oh, maksudmu nona berambut teal twintail yang panjangnya semata kaki itu?" Tanyanya cuek tanpa mengalihkan pandangannya pada kuku-kukunya yang berwarna merah crimson. "Maksudmu yang ini?"

Kali ini dua sosok laki-laki dan perempuan berambut hitam dan beriris emas terbang dengan sepasang sayap hitam di pungggung mereka dan kemudian mendekati Lu jei sambil membawa sosok Miku yang tidak sadarkan diri di tengah mereka.

"Miku-chan!" Jerit Amoretta. Namun Miku sama sekali tidak merespon. Lu jei pun tertawa sinis.

"Hah! Kau kira dengan teriakanmu itu nona negi ini akan bangun? Apa kau lupa bahwa efek tidurku itu akan berlangsung selama 12 jam?" Ucapnya sinis. "Rui, Rei, amankan nona ini."

"Baiklah nona." Ucap mereka serempak. Mereka pun mengucapkan sebuah mantra dan muncul simbol bintang berwarna merah crimson di depan tubuh Miku. Tubuh Miku pun tiba-tiba seperti dikelilingi oleh kotak kaca bening.

"Mi-Miku! Lu jei, apa yang kau lakukan pada Miku?" Bentak Amoretta pada Lu jei yang masih mengikir kukunya, namun kini dia bepindah ke kuku kanan.

"Amoretta, tenanglah…" Ucap Bartido mencoba untuk menenangkan.

"Hm? Aku hanya kasian padanya, makanya aku masukkan dia ke kotak kaca, tenanglah, dia masih bisa bernapas di dalamnya. Berterimakasihlah padaku untuk berbaik hati padanya." Jawabnya.

"Kuso! Kupanggil kau, Sagitarius!" Beberapa setelah Amoretta mengucapkan itu, sesosok gadis berambut emas dan iris oranye sepinggang muncul, sambil membawa sebuah busur dan anak panah.

"Hai, siapa yang akan menjadi lawanku?" Jawab Sagitarius. Amoretta pun menunjuk ke arah Lu jei.

"Wh-What the Heck! Nona, aku tau kau mengandalkanku, tapi masa lawanku dia? Aku bisa mati!" Bantah Sagitarius. Amoretta pun memukul Sagitarius dengan tongkatnya.

"Ittai! Kenapa nona memukulku!" Rengek Sagitarius.

"Hoi! Lawan dulu, baru ngomong! Lagipula aku tidak akan membiarkanmu mati ditangannya!"

"Ckckck… Sagitarius, sang pemanah. Tenang saja, kau tidak akan melawanku…" Ucap Lu jei sambil tersenyum.

"Fiuh… Rupanya bukan Lu jei…" Ucap Sagitarius lega sambil mengusap-usap dadanya. Sementara Amoretta dan Bartido hanya sweatdrop.

"Yup, bukan aku, tapi mereka, Gemini." Ucap Lu jei dengan santainya sambil menunjuk ke arah Gemini yang tak lain dan tak bukan adalah Rui dan Rei.

"Hai, akan kami lakukan apa saja untuk Lu jei-sama." Jawab mereka serempak, mereka pun kemudian terbang dan melindungi Lu jei dari depan.

"Saa, hajimemashou?" Tanya Rui pada Rei, Rei pun mengangguk, "Un, hajimeyou ni." Ucap Rei. Rui dan Rei pun mengangguk serempak, lalu memandang ke arah Sagitarius yang masih berada di bawah.

"Jiah! Walaupun lawannya bukan Lu jei tapi kalau berdua mah sama aja!" Cerocos Sagitarius.

"Udah jangan banyak omong, lawan aja sana!" Suruh Amoretta pada Sagitarius.

"Iya iya, aku tau." Ucap Sagitarius sambil cemberut. Dia pun kemudian mengambil salah satu anak panahnya dan kemudian bersiap untuk membidik Gemini.

"Sagitarius, tembak!"

WUUZZ

Panah milik Sagitarius pun dengan cepat langsung mengarah menuju Gemini, namun tiba-tiba panah itu berbelok dan mengarah menuju Lu jei dengan kecepatan panuh.

"No-Nona!" Jerit Rui. Dengan sigap dia pun langsung menepis panah itu dengan kekuatannya, namun karena gerakan panah itu terlalu cepat, bahunya tergores cukup dalam dan mengeluarkan darah.

"Cih! Kami lawanmu, bukan nona Lu jei!" Bentak Rei, Sagitarius pun tersenyum.

"Sebagai pemanah, aku mempunya keahlian khusus, kau tau?" Jawab Sagitarius dengan santainya.

"Kuso! Rui, daijobu ka?" Tanya Rei cemas. Rui pun mengangguk pelan walaupun masih meringis karena lukanya itu.

"Rui, sini, biar kusembuhkan lukamu." Ucap Lu jei tiba-tiba. Rui pun tersentak.

"Ta-Tapi nona, kalau nona menggunakan kekuatan nona, nanti nona akan…"

"Daijobu, kalian lebih berharga saat ini, kemarikan tanganmu." Ucap Lu jei sambil tersenyum, kali ini merupakan sebuah senyuman yang sangat tulus. Rui pun dengan terpaksa menyerahkan tangannya karena itu adalah perintah.

Lu jei pun kemudian membaca sebuah mantra dan dari tangannya muncul cahaya berwarna merah crimson, cahaya itu kemudian didekatkan ke luka Rui dan dalam sekejap, luka itu hilang.

"A-Arigatou, Lu jei-sama." Ucap Rui sambil membungkuk hormat.

"Ii yo. Saa, lakukan tugas kalian." Titah Lu jei. Rui dan Rei pun mengangguk mantap dan segera bersiap menyerang Sagitarius.

Mereka pun kemudian membaca sebuah mantra, dan muncul sebuah simbol lingkaran dengan gambar bintang ditengahnya yang berwarna merah.

Sebuah cahaya layaknya laser pun muncul dari simbol itu, dan langsung mengarah ke Sagitarius, Amoretta dan Bartido. Laser itu disertai dengan petir, sehingga membuat orang yang terkena laser itu akan merasa sangat kesakitan.

"Sagitarius, pelindung!" Ucap Amoretta tiba-tiba, namun sebelum pelindung berhasil dibuat, laser itu sudah menyambar mereka duluan.

BOOMM!

Mereka bertiga pun terlempar cukup jauh dengan kondisi tubuh seperti habis terbakar. Namun yang terkena cukup parah adalah Sagitarius, karena dia yang berada di depan.

"Argh… Ittai na…" Erang Amoretta. Dia pun melihat Sagitarius yang terluka sangat parah dan terkapar di tanah. "Sagitarius! Daijobu ka?"

"Go-Gomen ne, nona, aku kalah cepat dari mereka."

"Ie, tugasmu bagus, aku yang salah. Sagitarius, pulanglah, akan kusuruh Virgo untuk mengobati lukamu." Jawab Amoretta, dia pun mengayunkan tongkatnya dan dalam sekejap Sagitarius lenyap dari tempat itu.

"Jadi… kita harus bagaimana?" Tanya Bartido yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Amoretta sambil memegangi bahunya yang berdarah karena tergores.

"Tidak tau, mungkin kita harus menyerah dulu, mereka terlalu kuat." Balas Amoretta pelan.

"No, Nona!" Suara jeritan Rei tiba-tiba terdengar. Amoretta dan Bartido pun langsung menoleh ke asal sumber suara tersebut. Lu jei tiba-tiba saja terlihat sangat pucat dan lemas, dia memegangi kepalanya yang kelihatannya sangat sakit.

"No, nona… ini pasti karena nona telah menyembuhkan lukaku tadi… ma-makanya nona jadi…" Ucap Rui dengan suara bergetar, air mata pun perlahan jatuh dari kedua pelupuk matanya.

"Ahaha, da-daijobu yo… Yare yare, kau seperti anak kecil saja Rui, sudah, jangan nangis lagi ya?"

"Go-gomennasai Lu jei-sama! Huwaa!" Rui pun kemudian menangis. Sementara Lu jei mencoba untuk menenangkan. Rei pun tidak diam, dia pun terbang mendekati Amoretta dan Bartido.

"Kami akan mundur sekarang, tapi bukan berarti kalau kami mengalah pada kalian. Lu jei-sama lebih penting daripada mengurus kalian berdua. Kami kembalikan lagi nona negi ini pada kalian." Ucapnya, Miku pun terbebas dari kotak kaca dan perlahan terbaring di tanah. Dia pun segera terbang kembali menuju Lu jei.

"Tunggu!" Ucap Amoretta tiba-tiba.

"Apa lagi?"

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Lu jei?"

"…Bukan urusanmu." Balasnya singkat, dia pun kemudian terbang ke sisi Lu jei.

"Kita akan bertemu lagi, Amoretta Virgina-san, Bartido Ballentyne-kun." Ucap Lu jei sebelum mereka akhirnya menghilang dan lenyap.

"Apa yang sebenarnya terjadi sih? Kenapa dia jadi pucat dan lemas begitu? Ini membuatku bingung…" Ucap Amoretta sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. "Terlebih lagi kekacauan yang sudah dilakukannya, mattaku, kita terpaksa membereskannya. Belum lagi orang-orang ini, kita perlu menunggu mereka sampai besok. Geezz…" Gerutu Amoretta.

"Ya… mau bagaimana lagi, lakukan saja sihir pengembalian. Aku akan memperbaiki bagian Barat, kau bagian Timur saja." Ucap Bartido, dia pun kemudian berjalan ke Barat gedung olahraga. Lalu membacakan mantra sihir pengembalian, dan secara ajaib, seluruh kaca dan barang-barang yang rusak kembali seperti semula.

"Sigh. Ini akan jadi malam yang panjang…" Ucap Amoretta sambil memperbaiki bagian Timur. Dengan terpaksa, waktu malam minggunya dihabiskan untuk memperbaiki gedung.

Sementara para korban masih tertidur dengan pulasnya. Tidak tahu mereka sedang tidur sambil menindih satu sama lain, maupun bagaimana pose mereka saat tidur. Ada yang terlentang, tengkurap, yang nungging pun ada. Bahkan tak jarang terdengar suara dengkuran yang keras dan iler yang sudah membanjiri lantai.


.

.

.


Dua belas jam mereka tertidur, dan sekarang sudah hari Minggu pagi. Satu persatu dari mereka sudah mulai bangun. Tak jarang, terdengar suara jeritan dari para gadis yang saat mereka bangun, mereka melihat pantulan kuntilanak di kaca yang tak lain dan tak bukan adalah mereka sendiri.

"WTF? MAKE-UP GUEEE! GUE KAYAK KUNTI!"

"RAMBUT GUEE! UDAH KAYAK SAPU IJUK!"

"KYAA! ILER SIAPA INI DI RAMBUT GUEE! BAU AMIS!"

"PUNGGUNG GUE! ENCOK!"

"HAPE GUE MASIH MATII!"

"BERAAAT! TURUN LO DARI PERUT GUE! PLAK!"

Itulah beberapa jeritan histeris para gadis dan para laki-laki yang baru terbangun dari tidur mereka dengan posisi yang sama sekali tidak elit. Tak jarang ada juga yang memukul bahkan menampar temannya sendiri untuk membangunkan mereka.

Sementara itu, duo Kagamine masih belum bangun. Mungkin karena posisi mereka yang bisa dibilang sangat nyaman, dan empuk. Dan juga, tempat itu berada di belakang gedung dan tidak ada satu orang pun yang menyadari bahkan tau kalau mereka ada disana.

"Ngh… Ugh…" Terdengar suara dari salah satu Kagamine, lebih tepatnya dari Rin. Sambil mengumpulkan nyawanya, dia membuka kedua matanya pelan.

!

Dia kaget, tapi tidak berani untuk berteriak. Mukanya langsung memanas. Tentu saja, wajahnya akan memanas karena posisi tidur mereka yang bisa dibilang ehem, mesra. Posisi mereka seperti ini, Len tidur menghadap ke arah Rin sambil memeluk tubuh Rin. Begitu pula dengan Rin, dia memeluk lengan milik Len. Sementara jarak antara wajah mereka sangatlah dekat, sedikit gerakan saja, dan bibir mereka akan saling bertemu satu sama lain.

'Le-Len…' Batin Rin gugup dengan wajah yang sangat merah, jantungnya berdetak kencang tidak menentu dan sangat keras. 'Ka-Kalau Len bangun dan melihat aku sudah terbangun duluan dia pasti kaget. A-Aku harus pura-pura tidur sambil menunggu Len bangun!' Rin pun memutuskan untuk pura-pura tidur dan memjamkan kembali kedua matanya.

Benar saja, beberapa detik setelah Rin memejamkan matanya, Len terbangun dari tidurnya.

"Un… R-Rin?" Ucap Len pelan, dia masih tidak sadar dengan posisi tidurnya yang sangaaaat dekat dengan Rin, mungkin karena nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Setelah beberapa saat, barulah dia tersadar. Wajahnya memanas, sama seperti Rin tadi. Dia ingin berteriak, tapi karena mengira Rin masih tertidur, di urungkan niatnya, dia tidak mau membangunkan Rin yang sedang tertidur layaknya malaikat itu.

'R-Rin… kalau kau sedang tidur, wajahmu sangat manis, persis seperti malaikat. Seandainya aku bisa melihatmu secantik ini setiap hari… Aku pasti akan sangat bahagia…' Batinnya, jantungnya berdegup kencang dan tak beraturan.

'Sedikit gerakan saja… dan kami akan… akh! Apa yang kau pikirkan sih! Kalau aku melakukannya, Rin pasti marah… Tapi… dia kan masih tertidur, mungkin dia tidak akan menyadarinya…' Pikiran negatif milik Len pun akhirnya menang. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rin.

Sementara Rin, yang masih pura-pura tidur juga masih tidak bisa bergerak karena Len juga tidak bergerak sama sekali. Dia pun hanya bisa terus menunggu, sampai Len bergerak dan melepaskan pelukannya. Dia sama sekali tidak tahu dengan rencana Len, sampai pada akhirnya, Len melakukannya pada Rin.

Cup!

'Ke-Kenapa ini? Kenapa bibirku seperti menyentuh sesuatu yang lembut? Dan… hangat?' Tidak berani bergerak dan membuka mata, Rin pun hanya bisa mengintip.

!

Sekali lagi, dia sangat terkejut karena… Karena Len telah menciumnya! Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan dirasakan bibirnya sendiri. Len… seorang cowok yang disukai Rin sejak SMP dan merupakan murid terpopuler disekolah, sampai-sampai memiliki fans girl yang bejibun, telah mencium bibirnya!

Sebuah sensasi yang belum pernah dirasakan oleh Rin pun semakin lama semakin menjalari tubuhnya. Itu adalah ciuman pertamanya, dan dia bersyukur karena yang telah melakukannya adalah Len, pangeran pujaan hatinya.

Saking kaget dan malunya, wajah Rin memerah dan terasa amat sangat merah. Dia berusaha untuk tetap tenang, walaupun dalam hati, dia sedang berteriak kegirangan karena pangeran pujaan hatinya telah mencium bibirnya.

'Le-Len… dia menciumku! Dia menciumku! Apa ini mimpi? Tidak, ini bukan mimpi, aku baru saja bangun. Kalau begitu ini nyata! Apakah itu artinya… Len juga memiliki perasaan yang sama denganku?'

Berselang kira-kira satu setengah menit, bibir mereka pun terpisah. Len merasakan bahwa wajahnya memanas dan merah. Dan karena tidak mau disangka melakukan apa-apa pada Rin, dia pun memutuskan untuk bangun, walaupun sebenarnya dia ingin lebih berlama-lama dengan Rin dalam posisi itu. Sebelum membangunkan Rin, Len berkata dengan amaaaat sangat pelan.

"Rin, aishiteru yo." Ucapnya dengan amaaat sangat pelan, seperti berbisik. Dia pikir, Rin pasti tidak mendengarnya. Namun dia salah, Rin mendengarnya, malahan dengan amaat sangat jelas.

'Na-Nani? Len… di-dia bilang… a-aishiteru? Seseorang, katakan padaku kalau ini bukan mimpi! Apa ini berarti dia juga sama sepertiku? Saling memiliki perasaan yang sama satu sama lain? Tapi sejak kapan? Kenapa baru sekarang? Kenapa… akh, lupakan! Yang terpenting aku harus bangun dari tidur pura-pura ini! Tapi… bagaimana caranya?' Jerit Rin dalam hati.

Perasaan bahagia yang meluap-luap, gugup, malu dan bingung bercampur aduk menjadi satu. Menghasilkan sebuah rasa baru yang belum pernah dirasakan Rin. Apa ini yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta?


.

.

.


Sementara itu, di sebuah pohon sakura yang agak jauh dari Gedung Olahraga, sedang duduk sepasang manusia, yang tak lain dan tak bukan adalah Amoretta dan Bartio, yang kelihatan sangat kecapean. Mereka sudah menguras tenaga untuk memperbaiki Gedung Olahraga semalaman.

"Um… aku cape sekali…" Gerutu Amoretta. Matanya terasa sangat berat, dan tubuhnya terasa lemas karena seluruh tenaganya terkuras. Sementara Bartido duduk disampingnya dan menyandarkan diri di batang pohon, kedua matanya memandang ke arah langit.

"Oi, kau dengar atau tidak sih? Uuh…" Ucap Amoretta sebal sambil menggembungkan pipinya, dia pun memalingkan wajahnya ke arah lain karena kesal.

"Ah, gomen, tadi aku ngelamun, haha…" Ucapnya sambil tertawa garing. "Kau bilang tadi kau cape ya? Mau pulang sekarang?" Namun pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Amoretta tetap diam, tidak bergerak.

"Ne… Kau dengar atau tidak?" Tanyanya lagi sambil melihat ke arah wajah Amoretta.

Ternyata Amoretta tidur. "Eh? Dia tidur… mungkin dia kecapean sekali, apa aku harus menggendongnya sampai mansion ya?" Tanyanya pada diri sendiri sambil melihat ke arah depan.

PLUK

Tiba-tiba saja kepala Amoretta terjatuh ke bahunya. "E-Eh? Hm… mungkin tidak ada salahnya juga untuk terus berada di sini. Aku juga mengantuk, oyasumi ne Amoretta-chan." Ucapnya.

Mereka berdua pun akhirnya tertidur pulas di bawah pohon sakura yang sedang menggugurkan bunga-bunganya yang berwarna merah muda. Sugguh romantis.

Ditambah dengan posisi tidur mereka, terkesan seperti pasangan kekasih. Walapun hubungan mereka sendiri masih belum jelas. Kepala Amoretta berada di atas bahu Bartido dan kepala Bartido berada di atas kepala Amoretta. Akankah suatu saat nanti… mereka saling menyatakan perasaan satu sama lain? Walaupun saat ini pun perasaan mereka satu sama lain masih belum begitu jelas?

Kita nantikan saja di chapter berikutnya…


~~ To be Continued ~~


Ichigo : Finally! Chappie 18 selesai! XD

Are? Kemana semua orang? *liat lagi cript, trus dibaca* hm… Len masih mesra-mesraan ama Rin… Rin masih pura-pura tidur… Amoretta dan Bartido baru tidur… Tahlea gak tau kemana karena dia cuman muncul sedikit… hm…

CLING! - Author punya ide

Ah! Aku panggil Virgo aja! XD

Virgo : Hai ma'am! Apa yang bisa Virgo bantu?

Ichigo : Minta review! XD

Virgo : =3= Dikirain ngapain, taunya minta review… Ya udah deh, minna RnR ya~

Ichigo : Review bagi para readers yang merasa fic ini menarik dan semakin menegangkan plus misterius! XD


.

.

Review!

V