Yiippii~

Udah nyampe chap 3 ! Gag nyangka bakalan bertahan sampe chap 3..

Makasih buat reviewnya,walaupun sedikit, tapi aku udah ngerasa seneng sendiri,

Nah,sekarang tanpa panjang kali lebar lagi,aku mulai chap 3 ini dengan dan tanpa senyuman yang tertinggal !


Summary : "tak kan kubiarkan siapapun membuatmu menangis. Oleh karena itu,akan kulakukan apapun agar kau tidak akan menangis lagi"

Rated : kayaknya,sih T.

Disclaimer : gag perlu tanya lagi vocaloid udah jelas-jelas punya crypton and yamah, kalau vocaloid punya saya,hancur sudah mereka.

Warning : cerita jelek,gag memenuhi EYD,hati-hati kalo nanti ketularan ke-'sablengannya' author,kalo nekat baca,mending siap-siap muntah(?)


Hari ini cuaca sangat cerah,langit biru membentang luas. Tak ada setitikpun awan yang tampak di langit. Burung-burung kecil bersiul merdu di atas dahan-dahan pohin. Sinar matahari pagi yang hangat, perlahan menyelimuti bumi. Akan tetapi, kehangatan sang mentari ternyata tidak mampu untuk menghangatkan hati seorang gadis berambut tosca twintail yang hanya menundukkan kepalanya sambil berjalan menuju sekolah.

Wajahnya tampak sangat kusut dengan kedua mata yang bengkak. Samar-samar, terlihat garis tipis warna hitam yang melingkar di kantung matanya, tampaknya gadis tosca itu telah meratapi nasib semalam suntuk dengan menangis histeris.

Tiba-tiba, handphonenya berdering. Dengan malas, gadis tosca itu menghentikan langkahnya. Dia merogoh saku roknya dan mengambil benda kecil yang sedang berdering pelan. Gadis tosca itu hanya memandangi handphonenya yang berwarna biru kehijauan, dengan gantungan berbentuk negi kesayangannya. Di layarnya tertera nama,'LEN'. Nama yang mengingatkannya akan pertengkaran yang terjadi kemarin. Nama orang yang telah membuat Rin membencinya. Nama orang, yang telah membuat Rin melakukan hal sekejam itu padanya.

Gadis tosca itu menggeram pelan. Dia menatap tajam pada handphone yang digenggamnya. Tapi, dia kembali mengingat perkataan Mikuo semalam. Tak ada gunanya memendam kemarahan. Lebih baik dilampiaskan.

Dengan nafas yang tertahan, gadis tosca itu mengangkat telepon. Tak ada kata sapaan apapun yang diucapkannya, orang yang ada di ujung sana pun hanya diam.

"Miku-chan.."akhirnya, orang itupun berbicara. Nada bicaranya terdengar agak kacau , tapi gadis tosca itu tak menggubrisnya

"Ya,"gadis tosca itu menjawab singkat dengan ekspresi datar.

"Rin…" Len menyebutkannamanya. Dugaan Miku ternyata benar. Pasti ada sangkut pautnya dengan orang itu. Miku tak menyahut, dia memilih diam sambil memikirkan kata-kata yang mampu menghujam hati sang saudara kembar 'sahabatnya' itu.

"dia…"Miku sudah siap berbicara, dia menarik nafas untuk menyiapkan pasokan oksigennya nanti."meninggal.."

Kata-kata terakhir pemuda itu membuat nafas Miku terhenti. Seolah-olah membuat waktu di sekelilingnya ikut terhenti. Miku diam untuk sesaat hanya untuk mencerna kata-kata pemuda pisang itu.

Rin meninggal? Yang benar saja? Padahal kemarin dia sudah meneriakiku habis-habisan? Pasti ini hanyalah sebuah trik bodoh yang selalu di anggap Rin permainan yang menyenangkan.

Miku tetap tidak memiliki keinginan untuk merespon kata-kata pemuda itu. Miku menganggap hal itu hanyalah sebuah trik murahna, Miku melanjutkan langkahnya kembali.

"aku tidak bohong," Miku tertawa kecil saat mendengarnya. Kata-kata yang sudah tak asing dalam sebuah trik murahan. "bodoh." terdengar kejam memang. Tapi itulah respon yang diberikan sang Hatsune Miku.

"Memangnya kau anggap aku apa?" Sebuah suara yang ketus jawaban dari si pria pisang.

"Baka." lagi, Miku mengucapkannya lagi.

"Apa kau pikir aku sedang bermain trik bodoh itu,hah! Buka matamu,Miku! Aku tidak mungkin berani bermain-main dengan trik nyawa macam itu!"

"lalu?" sebuah respon yang buruk membuat Len kagamine menggeram kesal. Terdengar suara nafas memburu di telepon. Miku berhenti melangkah, dia agak bingung dengan respon Len barusan. Seperti saat Len marah.

"Sahabat macam apa kau? Di saat seperti ini, kenapa kau malah mengataiku bodoh? Dia sudah mati!Dia dibunuh!" Len berteriak nyaring dengan nafas memburu. Miku diam mematung. Suaranya tercekat begitu saja. Gadis tosca itu sudah tidak mampu melawan kata-kata Len.

Tanpa pikir panjang, Miku langsung berbalik arah dan berlari menuju kediaman Kagamine. Nafasnya memburu dengan peluh yang membanjiri wajahnya. Kristal-kristal bening mengalir dari sudut matanya yang bengkak. Langkahnya semakin cepat,seperti orang yang dikejar setan.

'maaf,Rin..maaf…' Miku berulang kali mengucapkan kata maaf, padahal gadis itu tidak ada di dekatnya. Miku sebenarnya sadar, percuma saja dia mengucapkan maaf, gadis yang dia panggil Rin sudah meninggalkan dunia ini dengan begitu cepat.

Miku merasa kalau ada beban yang berat di punggungnya. Miku ingin meminta maaf pada Rin, dia ingin mengucapkan betapa Miku menyayanginya, Miku ingin mengucapkan terimakasih pada sahabat kesayangannya itu. Tapi Tuhan sudah menggariskan takdirnya. Rin harus mati di usianya yang masih terbilang muda.

Miku menghapus air matanya. Dia menatap kediaman Kagamine dari kejauhan. Tepat di gang kecil di samping kediaman Kagamine, ada banyak sekali orang yang berkerumun. Di seberang jalan, terparkir beberapa mobil polisi dan ambulance. Miku berjalan gontai mendekati kerumunan sambil mengatur nafasnya yang naik turun. Kaki mungilnya bergetar hebat, tapi Miku masih tetap berjalan.

"Maaf, permisi.. Maaf.." Miku menyusup diantara kerumunan orang itu. Tubuhnya yang kecil ternyata sangat membantu. Tanpa memakan waktu lama, Miku sudah berada di barisan paling depan, dekat dengan police line.

Miku tercengang melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Di gang kecil itu, tergeletak mayat seorang gadis dengan kondisi yang mengenaskan. Di sekelilingnya polisi tampak sedang mencari bukti yang mungkin masih tertinggal dengan bantuan dokter khusus yang ada. Mayatnya nyaris sulit untuk dikenali.

Tubuh Miku bergetar hebat. Sendi-sendi ditubuhnya seakan lepas begitusaja. Air mata mengalir deras dari matanya yang semakin bengkak. Bibir mungil Miku yang pucat bergetar hebat, gadis tosca itu meremat rambutnya sendiri.

"Rin!"

Miku menangis histeris sambil menjatuhkan dirinya begitusaja. Garis police line dihadapannya robek. Begitu pula dengan hatinya. Sebuah luka penderitaan yang lebar telah melubangi hatinya. Membuatnya buta akan keadaan sekelilingnya.

Miku menerobos masuk,tapi langkahnya dihentikan oleh beberapa polisi yang menghadangnya. Miku masih terus mencoba menorobos masuk. Tak tampak rasa takut sedikitpun di wajahnya. Miku terus meneriakkan nama Rin sambil menangis histeris. Mebuat orang-orang di sekelilingnya menjadi iba pada gadis tosca itu. Akhirnya, setelah sang inspektur mengizinkan Miku untuk melihat dari dekat, Miku mulai bisa diam. Gadis itu menatap wajah sang gadis honey blonde yang pucat pasi dihadapannya.

Miku berteriak histeris. Membuat saudara kembar dari Rin yang sedang diinterogasi di dekat mobil polisi, memalingkan wajahnnya dan berlari ke arah kerumunan itu. Pemuda itu menerobos maju tanpa mengucapkan maaf ataupun permisi.

Ya, disana. Pemuda itu melihat Miku yang menangis histeris di samping jasad saudara kembarnya. Pemuda itu berlari dan memeluk Miku dengan erat. Pemuda itu menutup matanya rapat-rapat. Dia tidak ingin melihat jasad kembarannya yang tewas mengenaskan.

Tubuh gadis honey blonde itu terkoyak dengan sangat kasar. Di bagian dada gadis itu robek sampai perut. Memperlihatkan isi tubuh gadis itu. Tampak seperti sup yang sangat menjijikkan. Darah segar masih tergenang dilubang itu, bau anyir dapat tercium dengan jelas. Membuat siapapun mual bila menciumnya. Tapi pasti pemandangan ini sangat mengerikan , bahkan bisa membuat siapapun berteriak histeris.

Tangan mungilnya tidak lagi menyatu dengan tubuhnya. Kedua tangan itu diikat dengan rantai besi berduri dan di gantung di dahan pohon yang menjorok ke jalan. Kakinya pun bernasib sama. Tersayat -sayat dengan sangat kejam. Tampak urat-urat syarafnya yang masih saja meneteskan darah. Dan bagian wajah gadis itu tampak sangat mengerikan.

Matanya yang cerah seperti langit lenyap begitu saja. Dan dua lubang kosong itu meneteskan darah yang perlahan mengalir di wajahnya. Bibirnya yang mungil robek sampai telinga. Memperlihatkan deretan gigi yang rapi tapi berwarna merah. Di dahi gadis itu terdapat tulisan peninggalan dari sang pembunuh,yang terbuat dari sayatan keji sang pembunuh dan tak henti-hentinya mengeluarkan darah.

'death hell'

Skip Time

Miku memandangi nisan sahabatnya dari kejauhan. Tangisnya sudah tak tertahan lagi. Gadis tosca itu menangis histeris di pelukan kekasihnya, Mikuo, yang hanya menatap makam itu tanpa ekspresi. Tiba-tiba, pemuda itu menyeringai lebar. Seakan sang malaikat maut yang tersenyum.

Pemuda itu menuntun Miku untuk pergi menjauhi makam sahabat kekasihnya, Miku tak bergerak. Tiba-tiba dia jatuh kebelakang. Miku terlalu syok untuk meninggalkan sahabatnya yang kesepian dimakam yang mengerikan itu.

END FLASHBACK

Miku terpaku menatap makam yang masih baru di hadapannya. Di batu nisannya terukir nama Luka Megurine. Nama sahabatnya yang telah meneriakkinya sebagai pembunuh. Nama sang putri sekolah yang dengan beraninya meneriaki Miku seorang pembunuh di hadapan Mikuo kemarin sore. Setelah kematian kekasihnya, Gakupo, emosi Luka menjadi labil. Dan orang yang selalu disalahkannya adalah Miku. Luka menganggap Miku-lah yang telah 'membunuh' pria yang sangat dicintainya. Miku tak menggubrisnya, hatinya sudah mati duluan sebelum Gakupo tewas mengenaskan. Semuanya sama. Tulisan di dahi yang sama, potongan tubuh yang sama, dan karena alasan yang sama.

Di samping gadis tosca itu, ada seorang pemuda tosca yang hanya diam menatap wajah kekasihnya dari dekat. Pemuda itu mengulurkan tangannya dengan lembut dan mengelus kepala Miku perlahan. Senyum penuh kelembutan terukir jelas di wajahnya. Miku menepis tangan pemuda itu dan menampar wajah sang pemilik tangan itu dengan keras.

Miku membalikkan badannya dan berlari menjauhi pemuda itu. Sebuah pemandangan biasa yang selalu terjadi seusai pemakaman. Pemuda itu tertawa penuh kemenangan. Dia tidak merasa sakit hati ataupun sedih. rasa puas yang meluap di rongga dadanya membuat dia tertawa dengan sangat mengerikan.

Langit senja sudah nampak di ujung gagak bertebangan dari dahan pohon yang meranggas. Menerbangkan bulu-bulu mereka yang patah. Menambahkan efek horror pada seorang pemuda tosca yang masih tertawa sambil menyeringai penuh kemenangan.

"Permainan belum selesai,Miku.."

Chap 3 End !

Yey ! Yey ! *nari hula-hula

Maaf,ya..Ceritanya kayak nggak hidup.. T,T

Tapi, ceritanya masih ada lanjutannya, kalau ada review,baru aku lanjutin,deh..*delindes road roller*

Nah,sampai di sini dulu.

Sampai jumpa di chap berikutnya!

Arigatou,

Jaa Nee~..