NumpangLewat: are you trying to kill me? =A=

.

.

.

Title: Restu

Genre: Romance

Rating: T

Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.

Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC, typo, foreign language galore, fourthwalling.

Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira

.

.

.

VIII. Epilog

.

.

.

"Nah."

Satu dokumen lagi bertambah dalam tumpukan yang berdiri tinggi di meja Tsuna. Sang Decimo merenggangkan tubuhnya, tampak lega karena akhirnya pekerjaan tulis-menulisnya selesai juga. Ia menoleh ke arah tutornya, yang sedang duduk di salah satu sofa di ruangan itu dan menyesap espresso dengan begitu khidmat.

"Aku berhasil menyelesaikan semuanya sebelum tenggat waktu, Reborn. Kau puas?"

"Sangat," Reborn sedikit menjauhkan cangkirnya dari bibirnya agar suaranya bisa terdengar jelas.

"Dan sesuai perjanjian..."

"... tidak ada tugas untuk meninjau ulang Sejarah Mafia untukmu sore ini. Selamat."

Pria dengan surai cokelat kastanye itu nyaris berteriak kegirangan seperti anak kecil. Nyaris, karena sebelum ia sempat menyerukan kelegaannya, Reborn menghancurkan harapannya untuk mendapatkan kesempatan untuk bersantai hari ini dengan berkata,

"Verde bilang dia akan mengunjungimu."

"Verde?" Tsuna menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa?"

"Katanya ia selesai menguji coba sebuah penemuan baru dan merasa bahwa kau akan tertarik untuk membeli dan menjualnya. Ia tidak memberi penjelasan lebih lanjut." Pemilik pacifier berwarna kuning itu mendengus pelan. "Meskipun dia mengatakan bahwa ini akan jadi pertemuan bisnis biasa, jangan lengah. Jenius gila itu tidak bisa dipercaya."

Tsuna tersenyum tipis. "Berhentilah bersikap paranoid, Reborn. Uni percaya padanya, jadi kenapa kita tidak mencoba mempercayainya juga?"

Reborn tidak memberi komentar apa-apa. Ia kembali menenggak minumannya dan Tsuna beranjak dari kursinya, hendak melongok keluar jendela untuk melihat pemandangan di luar sana. Keduanya sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan beberapa kejutan, selain kejutan dari Verde.

Kejutan pertama tiba diiringi dengan ketukan pelan pada pintu ruang kerja Tsuna tersebut.

"Masuk saja," sahut sang capofamiglia.

Pintu berayun membuka. Tsuna mengira ia akan melihat Gokudera masuk ke dalam ruangan untuk mengambil dokumen-dokumen yang telah ia selesaikan. Tapi nyatanya yang ia lihat adalah kakak seperguruannya yang sudah lama tidak ia temui karena kesibukan masing-masing.

"Dino-san!"

"Yo, Tsuna! Maaf, aku berkunjung tanpa memberitahumu terlebih dahulu," bos ke-sepuluh dari klan Cavallone itu menunjukkan cengiran khasnya, melambaikan tangan seraya bergerak mendekati Tsuna.

"Tidak masalah," Tsuna tersenyum lebar, senang karena Dino terlihat baik-baik saja. "Bagaimana bulan madunya? Hawaii pasti menyenangkan."

Dino tertawa pelan. "Tidak terlalu buruk. Aku berhasil membuatnya tetap terhibur, jadi dia tidak membuat kerusakan. Tenang saja."

Sebulan telah berlalu semenjak pernikahan Dino dan Kyouya dilangsungkan. Acaranya tidak terlalu megah—hanya anggota famiglia Cavallone dan anggota inti famiglia Vongola yang diundang. Selain karena masih banyak orang yang tidak menyukai gay marriage di kalangan mafia, sang pengantin juga tidak ingin terlalu banyak orang yang melihat sosoknya dalam busana pengantin. Imejnya sebagai lelaki terkuat dari Vongola bisa hancur.

(Untuk alasan itu, segala macam teknologi yang memungkinkan siapapun untuk mengabadikan momen bahagia itu dilarang untuk di bawa. Chrome Dokuro nyaris menangis karena kehilangan kesempatan untuk mendapatkan foto yang bisa digunakan untuk memeras sang Awan Vongola.)

Dan kini pasangan suami istri itu sudah kembali dari bulan madu mereka. Tsuna bisa menduga bahwa sebentar lagi Kyouya akan mendatangi ruang kerjanya untuk melihat apakah ada misi di mana ia bisa membantai beberapa orang. Ia paham bahwa Guardian paling beringas di keluarganya itu akan merasa gatal-gatal jika tidak bermandikan darah musuh-musuhnya sebulan sekali.

"Kebetulan sekali kau datang," Reborn menyela obrolan dua capofamiglia itu. "Verde akan datang sebentar lagi untuk menjual sesuatu pada Tsuna. Mungkin kau juga akan tertarik untuk membelinya, Dino."

"Tidak, terima kasih. Saat ini aku tidak dalam mood untuk melakukan bisnis apapun." Dino mengangkat bahu.

"Masih ada waktu sebelum Verde datang. Bagaimana kalau kita—"

Pintu ruangan menjeblak terbuka secara tiba-tiba. Dino dan Tsuna mengerjap kaget. Mereka melihat sesuatu melesat masuk kemudian menghilang. Gerakan sesuatu itu begitu cepat sampai-sampai tidak tertangkap jelas oleh mereka berdua.

"Kenapa kau bersembunyi di sini, Fon?"

Pertanyaan dari Reborn itu membuat kedua bos menoleh ke arahnya dan akhirnya menyadari siapa yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Di balik sofa yang tengah diduduki hitman dengan cambang menawan itu adalah Fon. Sang ahli bela diri tampak waspada. Matanya tertuju ke arah pintu yang masih terbuka lebar.

"Aku tidak tahu kau ada di sini juga, Fon," Dino menyapa paman iparnya.

Tapi bukannya membalas sapaan lelaki dengan surai keemasan itu dengan senyuman hangatnya yang biasa, Fon malah mendelik tajam ke arah Dino dan memberi isyarat agar pria yang lebih muda darinya itu untuk memelankan suaranya.

"Sebaiknya kau bersembunyi juga, Don Cavallone," ucapnya, sedikit gusar.

"Kenapa harus sembu—"

Bunyi sesuatu meledak dan dinding roboh mengagetkan keempat pria tersebut. Dengan jelas mereka bisa mendengar suara langkah kaki mendekat, dan dalam hitungan detik, Hibari Kyouya sudah muncul di ambang pintu ruangan itu. Kemarahannya terpancar jelas dari wajah dan gerak-geriknya. Ia bahkan mengeluarkan Roll dari box-nya.

"Hi-Hibari-san?"

"K-Kyouya, kenapa kau marah-marah...?"

Suara Dino membuat Kyouya langsung terfokus padanya. Perlahan ia mendekati bos dari Cavallone famiglia itu. Tanpa berbasa-basi ia langsung meraih kerah kemeja suaminya itu dan menghantam telak bagian perut dengan ujung tonfanya. Alhasil, begitu pria berambut hitam itu melepaskan genggamannya, Dino langsung jatuh tersungkur, memegangi perutnya yang menerima serangan mendadak.

"Ini gara-gara kau," sang Awan menggeram.

Masih berusaha menghalau rasa sakit, Dino mendongak dan menatap istrinya. "A-apa salahku?"

"Oh, ternyata ada di sini."

Kembali perhatian mereka yang ada di ruangan tertuju ke arah seseorang yang muncul di ambang pintu. Verde. Ilmuwan jenius namun sinting itu tersenyum puas melihat apa yang terjadi di sana. Dan Reborn tidak menyukai senyum pertanda kepuasan itu.

"Kebetulan sekali. Kalian tidak perlu repot-repot mencari telepon untuk menyampaikan kabar gembira ini, ya." Pria dengan rambut hijau nyentrik itu menaikkan

kacamatanya yang melorot. "Apa kau senang, Don Cavallone?"

"Bagaimana mungkin aku merasa senang kalau disakiti seperti ini?" Dino menggerutu, masih memegangi perutnya.

"Hm? Kau belum dengar dari Fon ataupun istrimu itu?"

"Tentang apa?"

"Sebenarnya..." Fon berdeham, masih bersembunyi di belakang sofa. "Kyou hamil."

...

Jika ini adalah sinetron, maka akan muncul musik latar dan sound effect yang menandakan situasi tegang kala berita yang mengejutkan disampaikan kepada pemain utamanya. Dan jika ini adalah sinetron, maka wajah Dino dan Tsuna akan di-zoom in untuk lebih menjelaskan perasaan kaget mereka.

"APA!"

"T-tunggu sebentar! Bukankah Hibari-san seorang laki-laki?" Tsuna menatap Dino penuh tanya. Kakak seperguruannya itu pasti bisa memastikan apakah Cloud Guardian-nya itu benar-benar laki-laki atau... yah.

"Kyouya memang laki-laki!" Pemilik tato kuda itu mengangkat tangannya dan, tanpa merasa malu sedikitpun, meraba bagian yang dapat membuat seseorang teridentifikasi berjenis kelamin jantan atau betina. "Tuh, dia masih punya—"

Kalimat Dino tidak selesai karena, dengan beberapa gerakan saja, Kyouya membuat kepalanya terbenam di lantai.

"Kalau begitu, kenapa kau bisa hamil?" Reborn mengernyit, tak mengerti.

"Berkat obat buatanku, tentu saja." Seringai sinis di wajah Verde semakin lebar. "Jika meminum obat buatanku itu, maka struktur tubuhmu akan sedikit berubah; beberapa organ akan bertambah. Organ yang bertambah itu tergantung pada jenis kelamin si peminum obat, namun intinya sama: mereka akan mendapatkan organ-organ yang dibutuhkan dalam reproduksi, yang biasanya hanya terdapat pada lawan jenis mereka."

"Jadi kau mencoba mengatakan kalau Hibari meminum obatmu itu dan karena melakukan hubungan seksual dengan Dino ia kini mengandung anaknya?"

"Tepat."

"Ta-tapi... efek obat ini akan hilang, 'kan?" Tsuna sedikit takut saat melemparkan pertanyaan itu. Takut karena kalau efek obat itu permanen, maka ia harus menangani Hibari Kyouya yang sedang PMS. Dan hal itu akan sangat mengerikan.

Verde mengangguk. "Pada pria, efeknya akan hilang jika dalam dua bulan tidak terjadi fertilisasi di dalam tubuhnya. Pada wanita, efeknya akan hilang jika mereka tidak menggunakan pe—"

"Aku tidak butuh mendengar bagian itu!"

"Berarti tidak ada jalan lain bagi Hibari selain menunggu hingga anak di dalam kandunganmu itu lahir," Reborn diam sejenak, lalu menambahkan sambil menyeringai sadis, "atau menggugurkannya."

"TIDAK!"

Dino langsung bangkit dan memeluk istrinya secara protektif, menuai gerutuan protes dari Kyouya yang tidak suka disentuh di depan khalayak umum. "Tidak, tidak, tidak! Jangan kau habisi nyawa anak kita, Kyouya!"

"Berhenti bersikap berlebihan, bodoh!" Diktator asal Namimori tersebut berusaha menjauhkan si rambut pirang darinya. "Siapa juga yang ingin menggugurkan janin ini..."

"E-eh? Tapi tadi kau marah-marah..."

"Karena kau membuatku seperti ini tanpa meminta izin dariku."

"Tapi bukan aku yang membuatmu meminum obat itu!"

"Hm."

Kyouya menolehkan kepalanya ke arah Fon, yang langsung berjengit karena merasakan aura membunuh yang dipancarkan oleh si keponakan. "Dia mengaku bahwa dia yang memasukkan obat itu ke dalam makanan yang kukonsumsi sebelum kita pergi ke Hawaii. Kalau kau memang tidak berkomplot dengannya, lepaskan aku supaya aku bisa menghajarnya."

Tapi pelukan Dino semakin kencang. "Kyouya! Dia pamanmu! Berkomplot atau tidak, aku tidak bisa membiarkanmu memukul anggota keluargamu sendiri!"

"Benar, Hibari. Lagipula, dengan kemampuanmu yang sekarang, kau tidak bisa menyentuh Fon. Dia terlalu cepat untuk kau tangkap," Reborn mengangkat cangkir kopinya dan meminum tegukan terakhir. "Tapi kalau kau mau, aku punya cara agar ia bisa menderita."

Fon membelalakan matanya. Ia mulai bergerak menjauhi sofa di mana Arcobaleno Sun itu tengah duduk dengan santainya. "K-kau bercanda, 'kan, Reborn?"

Casanova berbahaya itu hanya tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Verde. "Verde, obat itu yang mau kau jual pada Tsuna?"

Verde tidak bersuara. Hanya mengangguk sekali, namun, dilihat dari caranya tersenyum sepertinya ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Dan, seperti membuktikan dugaannya, Reborn berkata,

"Karena Tsuna sepertinya tidak tertarik membelinya, biar aku kubeli satu butir. Fon pasti akan senang mengandung anakku."

Spontan saja pemilik pacifier merah itu bergidik. Bulu romanya berdiri, merinding membayangkan apa yang akan dilakukan koleganya itu kepadanya. Ia ingin mendengar bahwa Reborn hanya bercanda atau mengancamnya, tapi raut wajah penyuka espresso itu tidak menyiratkan tanda-tanda kebohongan sedikitpun.

Ia serius.

"Sa... Sawada-san!" Fon menoleh ke arah Tsuna, yang semenjak beberapa saat yang lalu memutuskan untuk tetap diam karena tidak ingin ikut terseret ke permasalahan yang runyam ini. "Tolong beli obat itu! Tolong hentikan Reborn sebelum ia melakukan hal-hal aneh pada saya!"

Sang Vongola Decimo hendak mengatakan sesuatu, namun menemukan dirinya tidak bisa bersuara karena tatapan tajam dari Reborn membuatnya merasa benar-benar ketakutan. Ia mengerti maksud tatapan itu; kalau ia mengganggu kesenangan sang tutor, maka ia akan mengalami sesuatu yang sangat menakutkan. Maka dengan terpaksa Tsuna menyilangkan tangan di depan dada, mengisyaratkan pada Fon bahwa ia tidak bisa membantu pria asal Hong Kong itu untuk keluar dari situasi tersebut.

"Kau serius ingin menanganinya jika ia benar-benar hamil?" Verde berjalan mendekati Reborn sembari merogoh sakunya. Ia lalu mengeluarkan sebuah pil—obat yang ia kembangkan.

"Kenapa tidak? Ia tidak boleh banyak bergerak kalau ia hamil. Kau juga tidak akan terlalu sering mendengar khotbah darinya kalau gerakannya dibatasi," Reborn mengeluarkan buku cek—yang entah untuk alasan apa ia bawa hari itu—dan mulai menuliskan sesuatu di atasnya. "Segini saja cukup?"

"Lebih dari cukup."

Pembayaran dan barang telah diterima. Dan kini tinggal melaksanakan rencana balas dendam untuk Kyouya.

"Nah." Reborn beranjak dari sofanya dan menoleh ke arah Fon. Wajahnya seduktif, tapi di mata Fon saat itu lebih terlihat seperti iblis. "Ayo kita bersenang-senang, cara mia."

Fon, yang jelas merasa terancam, memutuskan untuk segera melesat pergi meninggalkan ruangan. Reborn tidak tinggal diam dan bergegas mengikuti sang Angin. Verde tertawa ala pemeran antagonis di drama-drama fantasi sebelum pamit kepada Tsuna. Kini yang tetap tinggal di ruangan itu hanyalah Dino, Kyouya, dan Tsuna. Mereka bertiga tetap diam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.

"... Bukankah kita berdua tokoh utama cerita ini, Bucking Bronco?"

"Aku juga tidak mengerti, Kyouya."

Tsuna menghela napas dan menghempaskan bokongnya, menduduki kursinya lagi. "Daripada terus-terusan berada di sini, bagaimana kalau kalian mulai berbelanja keperluan untuk anak kalian nanti?"

"Ah, ide bagus, Tsuna!" Dino tersenyum cerah. Ia menggandeng istrinya itu lalu berjalan menuju pintu. "Maaf sudah membuatmu repot, Tsuna! Aku akan mengirimkan uang untuk membayar perabotan dan area yang dirusakan oleh Kyouya tadi."

Pria dengan surai kecokelatan itu hendak mengatakan "tidak usah", tapi sang Cavallone Decimo sudah keburu pergi bersama Awannya. Lagi, Tsuna menghela napas, kali ini sambil memijat pelipisnya. Menangani kerusakan yang ditimbulkan oleh anggota famiglia-nya sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi ia tidak terlalu mengambil pusing.

Yang ia khawatirkan hanyalah, akankah anak Dino dan Kyouya sama, atau bahkan lebih, destruktif dari ibu si anak?

Semoga saja tidak, Tsuna berdoa.

.

.

.

Tamat

.

.

.

Glosarium:

Cara mia: sayangku. Bahasa Italia, male usage.

.

.

.

Cieeee akhirnya tamat! Meskipun saya yakin banyak typo di sana-sini dalam 8 chapter ini. Mohon maaf kalau beberapa kali kesulitan membaca atau apa. Mohon maaf juga kalau makin ke sini jadi semakin absurd. Sungguh, entah kenapa muncul kelinci lompat-lompat sambil membawa papan bertuliskan 'RF, RF' begitu di kepala saya...

Terima kasih atas review penyemangatnya, primoism, acelesta, Sakura no hana, Kirikaze Dokuro, Kencana, Su PangkalHemat, ByuuBee, cocoamilo, Ms. Imperfect, Sad ending lover, NumpangLewat, Demon D. Dino.

Terima kasih juga yang baru membaca dari awal setelah fanfiksi ini selesai.

Sampai ketemu di fanfiksi saya yang lain! *bows*