Disclaimer : Yang Menciptakan Mereka.

Pairing : Jung Yunho dan Kim (Jung) Jaejoong (Kan Mereka Berjodoh)

Other cast : Shim (Kim) Changmin. Kim Junsu. Park Yoochun. And many other.

Rate : T

Genre : Romace, Family.

Warning : OOC, Typo(s), YAOI, M-Preg, bahasa tidak sesuai EYD, GaJe cerita maupun alurnya.

AND

DON'T LIKE? DON'T READ.(titik)

Happy Reading..^^

Jaejoong mengedarkan pandangannya kesekeliling halaman sekolah Taman Kanak-kanak Dong Bang. Mata hitam besarnya berusaha mendapatkan sesosok mungil berpipi tembam dengan tinggi lumayan diatas rata-rata anak seusianya, dan ketika bocah itu tersenyum akan nampak sangat polos seperti senyum seorang malaikat tapi disaat yang barsamaan juga terlihat seperti seringai setan. Jaejoong mengerucutkan bibirnya yang semerah cherry dan pipinya menggembung lucu, begitu imut dan menggemaskan. Tidak kalah dengan adiknya tentu saja. Mungkin sang adik begitu menggemaskan karena hyungnya juga seperti itu. Jaejoong menghembuskan napas lelah karena sudah tiga puluh menit keberadaannya ditempat itu namun tidak juga mendapati sosok yang meminta–memaksa–untuk dijemputnya ditempat itu.

"Kemana bocah evil, itu?" tanya Jaejoong entah pada siapa.

Gerutuan-gerutuan kecil meluncur dengan lancar dari bibir kissablenya mengingat hanya tinggal namja cantik berusia tujuh belas tahun itu saja yang masih berada disana. Padahal Kegiatan Belajar Mengajar di TK itu sudah berakhir dua puluh menit yang lalu. Semua siswa sudah keluar. Tinggal dewan pengajar saja yang memang biasanya memang pulang paling lebih lambat tiga puluh menit sejak berakhirnya KBM selesai. Mereka melakukan itu untuk memastikan seluruh siswanya sudah bersama dengan orang yang bertanggung jawab atas siswa. Pengasuh ataupun orang tua/wali murid.

Jaejoong merasa dirinya seperti orang hilang selama sepuluh menit terakhir ini. Ingatkan dirinya yang sudah tujuh belas tahun, tapi berkeliaran di TK. Demi kulitnya yang putih. Itu TK. Walaupun hanya sepuluh menit dirinya sendirian, tetap saja membuatnya sedikit kesal. Apalagi dengan keadaan sekolah yang mulai lengang dan sepi. Tidak lucukan kalau ternyata dia dijahili untuk yang kesekian kalinya oleh adiknya yang masih berusia lima tahun. Bahkan adiknya masih belum bisa melafalkan huruf 'R' dengan benar. Tapi paling tidak ia tetap harus berterima kasih kepada beberapa pengasuh dan orang tua murid yang lain, karena diantara mereka menemaninya hingga tidak merasakan benar-banar sendirian sebelum ini .

"Ha~h... Apa sebaiknya Joongie masuk kedalam saja?" Jaejoong menolehkan kepalanya kekanan kekiri, seolah-olah ia akan mendapat jawaban dari pergerakan yang dilakukannya itu.

"Baiklah, Kim Jaejoong. Sepertinya kau memang harus masuk kedalam." ucap Jaejoong pada dirinya sendiri. Bagaimanapun ia khawatir dan sangat menyayangi adik satu-satunya itu. Terlepas dari sang adik yang sering sekali menjahili (membully) dirinya yang bahkan dua belas tahun lebih tua dari sang adik.

Jaejoong melangkahkan kakinya menyusuri halaman sekolah yang lumayan luas. Ia mendapati beberapa jenis permainan anak yang biasa dipakai untuk arena bermain para siswa.

'Kemana para seonsaengnim?' tanya Jaejoong dalam hati. Merasa heran karena saat dirinya tidak bertemu dengan satu orangpun disepanjang perjalanannya dikoridor sekolah.

Bahkan saat dihalaman sekolah tadi, ia pun hanya bertemu dengan tiga seonsaengnim. Karena semua siswa yang menjadi tanggung jawab para seonsaengnim–sepuluh siswa setiap satu seonsaengnim–sudah bersama dengan orang yang dipercaya sebagai orang tua maupun pengasuhnya, merekapun–seonsaengnim–bergegas pulang.

Berkelana dengan berbagai macam pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan tidak adanya satu orangpun yang ditemui Jaejoong dalam perjalanannya, membuat Jaejoong bahkan tidak menyadari jika langkah yang dilaluinya telah melewati kelas Mawar. Kelas dimana biasanya Changmin–adiknya belajar. Begitu sadar, ia menghentikan langakahnya kemudian membalikkan arah perjalanannya menuju kelas Changmin.

Setelah memastikan dirinya tidak salah kelas, Jaejoong memegang knop pintu kemudian memutarnya.

'Cklek'

.

.

Sesosok namja tampan itu menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal–bingung. Ia sedang berkutat(?) untuk mencari cara untuk mengatasi sedikit 'masalah' yang kini menimpanya.

Ia menatap jam tangan warna coklat yang melingkar dipergelangan tangan kirinya yang indah. Waktu telah menunjukan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Sudah selama dua puluh menit dirinya masih tertahan diruang kelas itu. Padahal sekitar jam sebelas ia ada pekerjaan lain yang juga jadi tanggung jawabnya. Jarak tempuhnya dari sekolah selama tiga puluh menit. Dan ia juga belum mempersiapkan materi untuk pekerjaannya itu.

Matanya menatap lembut pada sosok mungil yang dengan tenangnya tertidur pulas semenjak tiga puluh menit sebelum pelajaran berakhir. Wajah sosok mungil itu benar-benar seperti malaikat. Polos, tenang dan nampak begitu mendamaikan(?). Benar-banar sangat berbeda ketika sosok mungil yang diketahuinya benama Kim Changmin itu dalam keadaan terjaga. Ingatkan padanya tentang keevilan bocah itu.

Sekian menit hanya memperhatikan Changmin, akhirnya namja itu mendekati Changmin yang tertidur dilantai yang beralas karpet bulu bergambar Detective Conan.

Ia duduk disamping Changmin dengan bertumpu pada kedua lututnya. Tangannya membelai kening Changmin, mencoba mengukur suhu tubuh bocah yang sempat naik itu.

"Syukurlah. Demamnya sudah turun..." Gumamnya pelan.

"Sepertinya efek kantuk pada obat masih cukup lama," Ia mentap Changmin dan jam bergantian. Sepertinya ia memang harus benar-benar menunda meetingnya. Tidak mungkin ia meninggalkan bocah berusia lima tahun sendirian disekolah. Ia memang tidak bisa pulang seperti seonsaengnim yang lainnya karena 'tugas tambahan' ini. Ia jadi bertanya-bertanya apa pihak sekolah benar-benar sudah menghubungi keluarga Changmin. Kenapa belum juga ada yang menjemputnya.

Menghela napas, namja tinggi itu bangkit berdiri.

"Ugh..." Ia sedikit menggeram saat keseimbangannya tidak bisa ia pertahankan saat kakinya tidak sengaja menginjak beberapa butir(?) kelereng ditempatnya berdiri.

Tubuhnya yang besar hampir menimpa Changmin sepenuhnya andai ia tidak mempunyai refleks yang cepat untuk segara menyangga bobot tubuh dengan kedua lengan kekarnya.

Ayolah, bocah lucu ini akan remuk jika benar-benar tertimpa olehnya yang tadi tertarik grafitasi.

Ia menghembuskan napas lega mengetahui ia dan bocah ini selamat dari 'bencana'. Kemudian saat ia hendak megangkat tubuhnya dari atas Changmin, ia menolehkan kepalanya dan melepaskan ciuman tak sengajanya dikening Changmin kearah pintu karena telinganya menangkap suara...

'Cklek'

.

.

'Cklek'

Mata besar itu membulat horror saat pintu telah terbuka. Karena saat ini dihadapannya–Kim Jaejoong–ada adiknya yang bernama Kim Changmin–bocah evil berusia lima tahun tengah ditindih oleh seorang namja–yang diakui Jaejoong memang tampan berkulit kecoklatan yang membuatnya terlihat eksotik. Mata musangnya terlihat tajam namun terselip kelembutan yang terpancar dari tatapannya.

Dan bibirnya yang berbentuk hati terlihat sangat sexy dalam innernya. Membuat dipikiran Jaejoong terlintas pertanyaan; bagaimana rasanya jika bibir itu mecium bibir merah cherry miliknya? Apakah sangat lembut? Apakah akan menyesatkannya dalam ciuman yang...

'Eh?' Jaejoong tersentak kaget dengan pemikiran nistanya sendiri. Kalau ia masih bisa membulatkan matanya lebih besar dari yang sekarang dilakukannya ini, mungkin sudah ia lakukan saking terkejutnya.

Mengtaur dirinya yang salah tingkah, Jaejoong mencoba mencari pelampiasan.

Dan...

"Ya! Apa yang kau lakukan pada adikku? Dasar pedofile!" bentak Jaejoong galak. Benar-benar kebetulan yang tepat sekarang untuk mengalihkan pikiran yang benar-benar diluar akal sehatnya itu. Ia mengambil Changmin yang berada dibawah namja tampan itu, dan kemudian memeluknya protektif.

"Mwo! P-pedofile! Siapa yang kau sebut pedofile, eoh?!" seru namja tampan itu tidak terima.

Yang benar saja. Bahkan selama dua puluh tiga tahun dalam hidupnya belum pernah ada yang menyebutnya sebagai seorang pedofile. Dan kini ada seorang yang bahkan terlalu cantik sabagai seorang namja dan lebih cantik dari seorang yeojya yang baru pertama kali ditemuinya memfitnah dirinya sebagai seorang pedofile. Apakah wajah manly dan tampannya terlihat seperti ahjusshi-ahjusshi pedofile?

Belum tahu saja kalau senyumnya begitu memikat beratus-ratus yeojya diluar sana. Tidak sedikit uke yang meminta dirinya untuk menjadi pasangan semenya. Tidakkah namja cantik ini melihat kharisma dan ketegasannya sebagai seorang namja yang gentle? Lagi pula bukan salahnya kalau dirinya yang begitu menyukai anak kecil itu memilih menjadi seorang guru TK sebagai kerja sambilannya, bukan? Itu pekerjaan yang halal, bukan? Iya kan? Bener kan? *iya appa, gak usah pake otot gitu deh #plak*

"Tentu saja, kau!" tunjuk Jaejoong tidak sopan pada namja yang diketahui bernama Jung Yunho itu.

"Jangan seenaknya memfitnah! Aku seorang seonsaengnim disini," tegas Yunho. Mata sipitnya menatap tajam pada Jaejoong yang dibalas pelototan mata besar Jaejoong yang sama sekali tidak terlihat menakutkan.

Herannya Changmin sama sekali tidak terganggu dengan teriakan yang saling bersahutan itu. Changmin justru mengeratkan pelukannya pada leher Jaejoong yang putih dan jenjang. Changmin juga membenamkan wajahnya dipertongan bahu dan leher Jaejoong, mencari posisi nyaman untuk tidur dan kemudian memasuki dunia mimpinya. Dan Oh, sepertinya bocah berusia lima tahun itu benar-banar terlalu menyelami dunia mimipi indahnya dengan berbagai jenis makanan terhidang dihadapannya. Dibawah alam sadarnya ia sedang menggigit sossis goreng yang masih hangat.

"Aww.." Jaejoong tiba-tiba menjerit ketika telinganya digigit oleh Changmin–dengan mata terpejam dalam keadaan tertidur dengan semangat sossisnya.

Ia mentap horror pada Changmin. Kemudian tatapannya berubah tajam saat menatap Yunho yang juga tengah menatap horror pada Changmin.

Hei, kenapa anak ingusan lima tahun itu yang menggigit telinga namja cantik yang belum diketahui namanya itu. Kan Yunho yang jauh lebih tua dari Changmin. Ia bahkan lebih tampan dari bocah yang sifat evilnya tidak tertolong itu. Seharusnya dia yang mendapat kesempatan itu.

'Eh? Lho?'

Kenapa juga Yunho jadi berpikiran waras seperti itu?

Jaejoong kembali merubah tatapannya menjadi lebih horror saat melihat senyum yang setahunya adalah sebuah senyum mesum tiba-tiba terukir begitu saja dari namja yang lebih tinggi darinya itu. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Jaejoong mengambil langkah mudur untuk memberi jarak dengan pedofil dihadapannya.

"Aww.." sekali lagi Jaejoong menjerit karena telinganya kembali digigit oleh Changmin.

"Ya! Kau lihat apa yang kau lakukan. Akibat ulahmu adikku jadi pervert seperti ini," seru Jaejoong. Ia menggigit bibir bawahnya karena cemas. Membut Yunho yang melihatnyapun tergerak juga ingin menggigitnya.

Tiba-tiba cairan bening perlahan meleleh bagitu saja dari mata besar Jaejoong. Oh my God sun.. Bagaimana kalau ummanya sampai tahu? Mengingat Kim Heechul memang salah satu umma yang luar biasa unik, bukan tidak mungkin ummanya mengadakan acara syukuran tujuh hari tujuh malam karena anaknya yang berusia lima tahun sudah ada gejala–yang diketahui dari ummanya itu adalah salah satu tanda kepervert-an.

'Hiks... Hiks... Eotteokhae?' tangis Jaejoong dalam hati. Batinya luar biasa resah dan bergejolak begitu hebat. Tangannya yang menyangga punggung Changmin, ia arahkan mendekati mulutnya kemudian ia gigit kecil ibu jarinya.

"Memangnya apa yang kulakukan?" Tanya Yunho yang kesal karena Jaejoong menatapnya bak pedofile sungguhan. Ia masih waras, kalaupun jadi pedofile ia tak mau memilih Changmin yang evil itu. Lebih baik ia pedofilin hyungnya saja yang tampak seperti malaikat tersesat dibumi yang penuh kenistaan ini.

Senyum–pervert–maut Yunho mengembang memikirkan itu. Membuat Jaejoong makin takut. Dan dengan segala kekalutannya, Jaejoong melangkah dengan cepat keluar meninggalkan kelas beserta Yunho yang tengah tersenyum-senyum bak orang bodoh karena fantasinya tentang Jaejoong.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah yang ditempuhnya selama lima belas menit, Jaejoong menggumamkan kata-kata tidak jelas. Dirinya benar-benar merasa tidak enak rasa dengan namja yang tadi ditemuinya dikelas Changmin. Ia menatap miris Changmin yang masih ada dipelukannya tertidur dengan pulas. Ia teringat akan kelakuan Changmin tadi saat menggigit telinganya yang sensitif dua kali. Apa dongsaengnya benar-benar sudah sepervert itu? Kalau itu benar-benar terjadi ia harus benar-benar menjauhkan Changmin dari pedofile itu. Tidak ingin dongsaeng polosnya jadi tercemar.

Mungkin ia bisa meminta ummanya untuk memindahkan sekolah Changmin.

Yeah, ide yang bagus Kim Jaejoong.

.

.

Jaejoong mengetuk pintu rumahnya dengan sedikit tidak sabar saat setibanya dirumah. Bagaimanapun ia merasa lelah karena berjalan dengan tidak santai dengan menggendong Changmin yang lumayan berat. Napasnya juga sudah sedikit terputus-putus.

"Kau tidak berniat menghancurkan pintu kan, chagi..?" ucap seorang namja cantik ketika membukakan pintu untuk Jaejoong. Namja cantik berusia tiga puluh lima tahun bernama Kim Heechul, istri dari Kim Hangeng. Namja yang dipercayai atau tidak memang berstatus sebagai ibu dari Jaejoong dan Changmin.

Jaejoong hanya mengerucutkan bibirnya. Kemudian dengan segera menyerahkan Changmin kepada sang umma. Melupakan kalau dirinya sebelum ini mempunyai rencana meminta kepada ummanya untuk memindahkan Changmin dari sekolahnya.

.

"Kenapa manyun begitu, hm?" tanya Heechul sesaat setelah memindahkan Changmin dalam kamarnya. Ia menghampiri Jaejoong yang tengah mengistirahatkan tubuhnya disofa berwarna putih diruang keluarga kemudian mencubit pipi Jaejoong yang menggembung.

"Joongie bosan, umma..." rengek Jaejoong pada Heechul yang tengah mengganti chanel ditelevisi.

"Umma..." panggil Jaejoong lagi karena belum mendapat respon dari namja yang biasa dipanggil Cinderella itu. Jaejoong sendiri tidak mau mengakuinya karena kadang ummanya bahkan lebih kejam dari ibu tiri.

"Arra... Kau sudah mengatakannya hampir seratus kali sejak tiga hari yang lalu," sahut Heechul cuek.

"Ish... Umma sudah tahu. Tapi, umma sama sekali tidak membantu." Keluh Jaejoong. Ia kembali mengerucutkan bibir kissablenya.

"Ingatkan pada umma siapa yang seharian menemanimu belanja sampai Mall hampir tutup." tanggap Heechul sarkastik.

"Bahkan belanjaan umma jauh lebih banyak. Siapa yang menemani siapa?" Heechul mengetuk(?) pelan kening Jaejoong yang berada dipangkuannya, membuat Jaejoong mengaduh pelan.

"Umma tidak masak?" tanya Jaejoong memecah keheningan yang sebelumnya tercipta antara 'ibu' dan anak itu.

"Aniya... Appa kalian mengajak kita makan siang diluar."

"Jeongmallyo? Tumben sekali... Appa kan pelit soal waktu makan siang bersama," Jaejoong mendengus jika mengingat hal itu. Mengingat jarak kantor ayahnya dengan rumah memang tidak dekat. Akan memakan banyak waktu jika appanya memaksa makan siang bersama yang memang sebenarnya susah karena jam aktifitas mereka. Tapi jika Jaejoong liburan seperti ini appanya tetap sulit untuk meluangkan waktu padahal Jaejoong ingin menghabiskan banyak waktu bersama. Apalagi setelah mendapat hasil ujiannya ia akan pindah ke Jepang untuk melanjutkan kuliah disana. Jaejoong tentu sangat mengerti akan tanggung jawab appanya. Meskipun ia yang menjadi pemilik perusahaan tapi bukan berarti appanya bisa bertindak sesuka hati. Appanya punya kewajiban untuk menjadi contoh yang baik bagi anak buahnya.

Mengetahui gelagat sang putra sulung yang sepertinya mulai jengkel, Heechul mengelus lembut rambut hitam Jaejoong, menyalurkan kasih sayangnya dan membesarkan hati putra tertuanya yang memang cendrung sensitif itu.

"Wae?" Heechul bertanya lembut.

Mendapatkan perhatian dari ummanya Jaejoong merasa lega. Paling tidak, Jaejoong memiliki umma yang selalu meluangkan waktunya untuknya dan Changmin. Jauh lebih beruntung jika mengingat tidak sedikit teman sekolahnya yang memiliki kedua orang tua yang sama-sama sibuk bahkan hingga tidak mempunyai waktu untuk keluarganya. Appanya juga tetap masih meluangkan waktu malamnya selalu dirumah. Jaejoong tersenyum lembut mensyukuri hal itu juga menyampaikan pada ummanya kalau perasaannya sudah lebih baik. "Pasti sebanarnya umma sedang malas memasak. Lalu merengek–mengancam–appa minta makan diluar. Banarkan? Soalnya untuk Joongie itu terdengar lebih masuk akal dan lebih cocok untuk umma." Ucap Jaejoong polos, dan..

'Bletak'

Dengan lumayan sadis Heechul menjitak kepala Jaejoong. "Akh... Appo, umma..." rengek Jaejoong. Ia meringis dan mengusap-usap kepalanya yang baru saja merasakan tanda 'kasih' dari ummanya itu.

"Umma tidak perduli,"Ucap Heechul cuek membuat Jaejoong terperangah. Sepertinya mode ibu tiri dalam jiwa sang umma kembali mendominasi.

"Ibu tiri," Gumam Jaejoong pelan. Sayangnya masih bisa didengar oleh Heechul yang memang duduk tepat disampingya. Jaejoong segera membekap mulutnya dengan kedua tangan dengan gerakan patah-patah ia menolehkan kepalanya pada sang umma yang tengah menguarkan aura hitam itu. Ia tersenyum kaku kemudian mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya isyarat berdamai. Tapi, wajah Jaejoong memucat seketika saat melihat Heechul tengah menyeringai setan yang dititipkannya(?) pada Changmin–anak bungsunya.

"Uwaa... Aniyo, umma. Joongie tidak mau." suara Jaejoong membahana dirumah besar itu. Menghindari kejaran sang umma.

"Kita sudah sepakat, chagiya..." Heechul berucap dengan nada lembut namun menyimpan seribu akal untuk memberikan hal yang 'indah' pada Jaejoong karena telah mengucapkan kata laknat kedua dikeluarga Kim setelah kata cantik yang menjadi kata pertamanya itu.

"Aaa... Shireo... Shireoo.. Appa, help me.!" Raung Jaejoong yang sudah tertangkap sang umma. Dia menangis dalam hati. Entah apa lagi yang akan diperbuat kepadanya..

"Mwehehehe.." Heechul tersenyum iblis.

.

.

"Lelah sekali... " keluh Yunho saat ia menundukan dirinya dikursi empuk kantornya. Ia memijit pelan bahunya yang terasa pegal.

"Carilah istri. Jadi akan ada yang memijitmu," celetuk seorang namja berdahi lumayan lebar jika tiak tertutupi oleh poninya itu.

"Memangnya menikah itu gampang," Sahut Yunho malas. Ia menerima berkas yang diberikan oleh Yoochun–nama namja itu kemudian memeriksanya. Melupakan rasa lelah yang dirasakannya.

"Tapi juga tidak sulit, kan?" Yunho diam tidak menaggapi ucapan dari wakil direktur juga sahabatnya itu. Jangan lupakan bahwa Yoochun juga merangkap menjadi calon adik iparnya karena dengan pesona yang memang dimiliki oleh pemuda bersuara husky itu, Yoochon telah bertunangan dengan adik sepupunya yang bernama Kim Junsu. *Wah.. Chunppa banyak amat jabatannya.. #ngangguk takjub

"Kau tampan, kaya juga mapan. Berdedikasi.. Kharismamu sebagai pemimpin juga tidak perlu diragukan. Melihat anak kecil, jiwamu sebagai seorang appa yang sangat mencintai anakmu akan keluar. Kurasa tidak sulit" Puji Yoochun–tanpa sadardan tanpa menatap Yunho. Karena tatapannya tengah teralih pada ponsel yang tengah dimainkannya. Sesekali Yoochun akan tersenyum bak orang bodoh.

"Hm... Aku memang seperti itu." Sahut Yunho narsis.

"Apa?" tanya Yoochun.

"Kau bilang aku tampan. Aku kaya dan ma-"

"Stop it... Anggap aku tidak pernah mengatakannya," ucap Yoochun memotong apapun yang akan dikeluarkan Yunho. Menyesal dirinya mengakui apa yang dikatakannya memang benar.

"Kurasa Ara bisa kau pilih," Yoochun berucap dengan nada mengejek.

"Lebih baik aku menikahi ibumu, Chun..." jawab Yunho. Menghadirkan tawa dari Yoochun. Yunho begidik ngeri jika ia harus bersam Go Ara. Wanita yang memang cantik, tapi sama sekali tidak menarik itu.

Yunho bangkit dari kursi kerjanya kemudian berpindah duduk disofa yang memang menjadi fasilitas diruangannya itu disusul Yoochun dibelakangnya.

"Santailah sedikit..." ucap Yoochun memberi semangat. umma

"Keadaan dirumah memburuk, Chun.." keluh Yunho. "Harabeoji... Makin tidak terkendali. Aku khawatir pada. Beliau sudah cukup tertekan belakangan ini." Yunho memijit pelipisnya yang terasa berdenyut tiap kali memikirkan keadaan keluarganya. Karena itulah sedikit menghindari apapun yang berkaitan dengan yang namanya rumah.

Ia juga sengaja menyibukan dirinya dengan pekerjaan kantor dan pekerjaan sampingannya sebagai seorang guru TK.

Bertemu dan berkomunikasi dengan anak kecil selalu membuat perasaannya sedikit lega.

Bukannya ia lari atau menghindar dari masalah. Ia sudah berusaha menyelesaikan masalah dikeluarganya. Tapi entah mengapa selalu berakhir mengecewakan.

"Menurutku cara satu-satunya memang hanya 'itu', Yun.." Yoochun menepuk pelan bahu Yunho memberi semangat tersirat.

"Mungkin, Kau benar... Chun." gumam Yunho pelan. Ia memjamkan matanya yang terasa berat. Sepertinya kantuk mendatanginya karena semalam ia mengerjakan sisa pekerjaan kantor hingga larut.

Tidak lama ia membiarkan dirinya terseret dalam dunia mimpi.

Yoochun yang melihat sahabatnya memang sangat kelelahan, membiarkan orang yang juga menjadi bosnya itu istirahat. Setidaknya masih ada satu jam lagi sebelum pertemuannya dengan Mr. Kim yang bersedia menunda meetingnya pada saat makan siang nanti.

TBC.

Saya gak mau banyak ngomonglah, yah... Maunya reader bagaimana. Cuma ini yang bisa saya tulis.

Mungkin ada yang berkenan mau mereview?

Kotak review salalu terbuka(?)..

Gamshahamnida.. ^^