Special Thanks To:

suki chan 1; Nasumichan Uharu; Runriran; Guest; Xhre; Senju Koori; Louisia vi Duivel; Lee Jeong Sin; Lee Jung Sin: missyuuhi;
(maaf jika ada kesalahan nama)


"Kau juga, jangan dekat-dekat dengan pria lain. Ini perintah!"

"Aku mengerti.." Naru spontan tersenyum mendengarnya, Ia sangat senang kalau Sai ternyata juga mengkhawatirkannya.

"Baiklah. Aku pergi..."

"Selamat jalan."

Sai mengecup bibir Naru cukup lama, kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Sedangkan Naru terus menatap punggung Sai hingga sosok itu telah menghilang dari pandangannya.

Mulai sekarang kehidupan cinta kalian barulah dimulai.

Hanazono Suzumiya

present

MY LITTLE DEVIL
Chapter 5
'Pulang'

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Rated: M (warning inside: Lemon)

Warning: AU, OOC, Typo(s), ide pasaran, tidak sesuai EYD, Genderbender, Lime, Lemon

Pairing: SaiXFemNaruto

HAPPY READING

.

.

.

Kata selamat datang selalu terucap tiap beberapa menit sekali setelah pintu masuk bertuliskan tanda buka didorong oleh tamu yang berberondong masuk. Dua orang gadis sebagai penerima tamu mengenakan pakaian ala cina sesuai tema hari ini. Setelah memberi hormat kepada tamu, salah satu dari mereka akan mengantarkannya pada meja yang masih kosong atau yang telah dipesan sebelumnya. Setelahnya, akan datang maid yang lain yang bertugas mencatat pesanan pelanggan tersebut. Sedangkan gadis pengantar akan kembali ke tempatnya dan begitu seterusnya.

Mereka terlihat sangat sibuk karena sekarang adalah waktunya jam makan siang, tidak heran kalau meja yang masih kosong tinggal satu dua lagi.
Kemudian meja terakhir diisi oleh seorang lelaki misterius yang memakai kacamata hitam, topi, dan mantel berkerah tinggi. Namun itu tidak tampak aneh untuknya, malah sebaliknya. Dari siluet tubuhnya Ia sangat keren.

Seorang maid memakai terusan warna merah dengan corak pakaian cina berwarna emas serta belahan bawah samping sampai atas pahanya membuat sebelah kakinya yang jenjang dan mulus memanjakan mata setiap yang melihatnya. Ia menguncir rambut pirangnya kiri dan kanan, dan akan bergoyang-goyang ringan ketika Ia berjalan. Ia menatap heran sosok pria misterius yang menempati meja 12. Pria itu tetap menggunakan mantelnya didalam ruangan sambil mengangkat korannya tinggi sampai menutupi seluruh wajahnya.
Tapi tujuannya saat ini bukan meja itu, melainkan meja yang ada tepat di depannya -meja 13. Ia agak jengkel pada tamu yang menempati meja ini. Kenapa pada saat jam ramai, tamu ini malah tidak mau ditangani oleh maid yang lain dan hanya mau dilayani olehnya.

"Selamat siang Tuan... Apa Anda sudah siap memesan sekarang?" Senyum manis dan lembut terpasang diwajahnya yang ceria. Maklum profesi ini sama seperti seorang aktris. Disaat kesalpun kita harus selalu tersenyum kepada pelanggan.

Bukannya menjawab, orang itu malah bengong dan menatap lekat-lekat wajah manis maid itu tanpa berkedip.

"Tuan?" Apa Anda ingin memesan sekarang?" Tidak menghilangkan senyum, maid bermata langit cerah itu agaknya masih bisa bersabar. Meski sebenarnya yang dirasakan maid itu berkebalikan dari nampak luarnya. Terlihat bahwa Ia menghentak-hentakkan kaki kirinya ke lantai dengan pelan.

"Ah.. I-iya.."
Agak terkejut, dan sambil cengar cengir tidak jelas lelaki itu diam-diam merayapkan satu tangannya ke balik tubuh maid berambut pirang itu dan berhenti di pantat bulat yang tercetak seksi dalam balutan terusan merah itu.

Si maid sendiri tersentak merasa ada sentuhan di tubuhnya. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut melainkan menahan amarah dalam diri yang meledak-ledak. Muncul empat siku di dahinya dan sebelah alisnya bergerak-gerak ke atas. Ia sadar posisinya sebagai pelayan tidak boleh membentak atau memperlakukan pelanggan dengan kasar.

Dibalik itu sang lelaki misterius di meja nomer 12 diam-diam mengamati semua yang ada didepannya dibalik celah korannya. Dan tanpa sadar Ia sudah meremas pinggiran koran yang dicengkramnya.

Dengan senyum yang dibuat-dibuat dan malah terkesan menyeramkan Maid itu mendekat ke arah si pria kurang ajar itu dengan sangat pelan. Ia menunduk dan mendekatkan bibirnya disebelah telinga pria itu. Ia mencengkram sekaligus menghentikan pergerakan tangan nakal itu. Namun dari orang-orang yang melihatnya, sang maid terlihat seperti sedang mencium dan merangkul pria itu, karena posisi tangan si pria berada dibalik tubuh si maid.

Lamat-lamat maid itu membisikkan kata-kata mematikan dan menekan tangan itu semakin kuat. Sampai-sampai ada bunyi retak yang samar terdengar.

Kemudian dengan santai sang maid memundurkan tubuhnya dan tersenyum manis. "Anda mengerti kan Tuan?"
Si pria sudah pucat pasi dan hanya mengangguk-angguk lemah menatap takut maid yang tengah menyeringai sadis.

"Baiklah... jadi... Anda ingin pesan apa Tuan?" Seperti tidak ada apapun yang terjadi, maid itu mengulang semuanya dari awal.

"Se-sepertinya saya tidak jadi memesan.." Dengan langkah cepat si pria itu menuju pintu keluar kafe dengan wajah ketakutan menatap sang pelayan yang masih tersenyum manis namun misterius. "Datang lagi ya Tuan?!"

Sang maid pun mendapat tepukan dan suitan meriah dari tamu-tamu yang datang. Sang maid pun membalas dengan menunduk hormat ke arah tamu dan melangkah anggun ke arah dapur. Diam-diam Ia mengedipkan sebelah matanya ke teman-teman maid yang lain.

.

.

.

.

"Apa kau memberi 'pelayanan khusus' pada tamu lagi, Naru-chan?" Tanya seorang maid berambut pirang berkuncir empat dengan nada datar.

"Tenang saja Temari nee-chan, aku melakukannya dengan sangat baik." Sadar akan nada yang dikeluarkan oleh kepala maid di cafe itu, Naru juga bersikap serius.

"Baiklah.. kau harus lebih berhati-hati lagi. Kerja bagus." Kata Temari sambil menyerahkan minuman dingin dan mengelus lembut puncak kepala Naru.

"Siap Nee-chan." Ucapnya ceria dan meneguk minuman dingin yang baru saja Ia terima.

Baru saja Ia beristirahat, Ia sudah dipanggil lagi oleh salah satu maid senior di kafe ini.

"Iya, Hana nee-chan.." Naru segera menghampiri seniornya itu dan wajahnya lumayan kesal.
"Tamu di meja nomer dua belas itu juga hanya mau dilayani olehmu. Cepat layani dia. Heran! Kenapa di saat ramai begini masih ada tamu yang rewel. Huh.."

Tidak tahan mendengar celotehan berkepanjangan, Naru segera melesat menuju meja yang dimaksud. Dia ingat. Yang menempati meja itu adalah pria aneh bermantel dan membaca koran. Melihat sekilas apa yang baru saja dialaminya (tamu kurang ajar tadi), kemungkinan besar tamu ini juga akan bersikap sama. 'Huh.. Awas saja. Kalau Dia berani 'macam-macam' aku juga tidak akan setengah-setengah 'meladeninya'.

Melangkah anggun, Naru mendekati tamu meja nomer 12 itu. "Saya adalah maid Naru. Apakah Tuan sudah siap memesan?"
Tapi setelah satu menit menunggu, Naru tidak mendengar jawaban dari mulut pria itu.

Masih mengangkat korannya yang menutupi wajahnya, lelaki itu berkata pelan "Bisakah kau maju lebih dekat? Aku sedang membaca berita penting."

Mau tidak mau dan dengan setengah hati Naru memenuhi permintaan pria itu. Ia ingin segera beristirahat.

Siang ini benar-benar melelahkan. Huuf..
Tapi- sepertinya aku kenal dengan suara ini. Tapi... ah- mana mungkin. Dia kan tidak sedang di Jepang.

Naru mendekatkan wajahnya di balik koran yang terbuka lebar itu, sehingga apa yang akan mereka lakukan tidak ada siapapun yang tau –kecuali Kami-sama.
"Anda pesa-" Belum selesai Naru bicara, Ia sudah mendapat ciuman basah yang tidak terduga.

Naru sempat ingin melayangkan tamparan dengan kekuatan penuh jika pria itu tidak menurunkan kacamatanya. "Apa aku tidak boleh mencium kekasihku sendiri sekarang?"

Naru yang tersentak kaget langsung menarik tangan pria itu dan membawanya ke belakang kafe.

.

.

.

.

Mereka terdiam cukup lama namun genggaman tangan Naru belum juga terlepas. Naru terus menunduk sehingga poninya sukses menutupi wajah cantiknya.

"Apa dibawah ada uang jatuh?" Kata si lelaki menarik perhatian Naru.

"Bukannya masih ada 6 bulan lagi? Lalu- kenapa bisa tau, kalau aku kerja disini?" Ucap Naru masih tetap melihat ke bawah.

Tanpa perlu menjawab Sai segera merangkum wajah Naru dan membawanya ke wajahnya. Terlihat dua tetes bening meluncur dari sudut mata Naru.
Sai mengecup lembut bibir Naru kemudian mencium kedua mata Naru, dahi kemudian turun ke kedua pipi yang mulus, rahang atas dan bawah lalu berakhir di bibir Naru lagi yang terasa selalu manis baginya. Sai memagut bibir atas dan bawah Naru bergantian.
Ciuman itu mengandung keposesifan, beda dengan ciuman Sai yang dulu. Sementara lidahnya menjulur masuk dan menarik-narik lidah Naru, tangan Sai ikut meremas-remas dada Naru gemas.

"Ennngghhhh... emmmhh..." Naru meremas rambut Sai, menahan gelora nafsu yang memuncak karena tertahan lama.

"Naru-chaaaaaan?! Daijoubu?"

Mendengar suara dari luar memanggilnya Naru segera menghentikan ciumannya menyisakan benang saliva diantara bibirnya dengan bibir Sai. Tangan Naru menahan dada Sai agar tidak ada ciuman tambahan.

"Aku harus kerja lagi. Aku sangat sibuk hari ini. Pulanglah." Naru menatap Sai dengan pandangan tidak enak.

"Aku akan menunggu sampai kau selesai." Sai mendahului masuk ke dalam dan menuju kursinya yang sebelumnya Ia tempati. Meski tidak melepas mantel dan kacamatanya tapi koran yang tadinya terbentang lebar itu sudah tidak ada lagi.

Kemudian Naru masuk setelah beberapa saat dan segera diberondong berbagai pertanyaan oleh teman sesama maid dan para tamu yang memujanya.
Meski dengan kalimat berbeda tapi tujuan pertanyaan itu hanya satu, "Apa orang itu kekasihmu?".

Naru faham akan peraturan di kafe ini. Karena ini adalah maid kafe, para maid harus berstatus single di tempat ini. Karena hal itu sangat mempengaruhi jumlah pelanggan yang datang. Apalagi Naru adalah salah satu maid terfavorit dikafe ini.

"Bukan.. Dia adikku yang baru datang dari luar negeri." Naru memberikan senyum manis dan jawabannya melegakan tamu-tamu yang datang yang mayoritasnya adalah laki-laki.

Sai yang mendengar kata itu langsung dari mulut Naru bagai ada petir diatas kepalanya. Ia tersentak di balik kacamata hitamnya. Tanpa ada yang tau sebenarnya mereka saling manatap dan bicara dari hati ke hati.
#ciaaaaah Author lebay

Terbaca kata-kata 'maafkan aku, akan kujelaskan ini nanti' di raut wajah Naru. Kemudian Naru segera menghampiri tamu yang baru datang meninggalkan Sai yang kelihatan masih tidak terima dengan semua itu.

.

.

HS My Little Devil

.

.

9 pm

"Terima kasih untuk hari ini, semuanya..." Naru mengucapkan salam untuk semua maid yang ada sebelum beranjak pergi untuk pulang. Ia menjajari Sai yang sudah lebih dulu berjalan. Berbeda dengan dulu Sai sudah jauh lebih tinggi dari Naru.

"Bisa kau jelaskan sekarang?!" Kata Sai menuntut meski arah pandangnya tetap ke depan.

Tidak langsung menjawab, Naru terdiam cukup lama.
"Setelah kau pergi aku merasa sangat kesepian. Kemudian aku kerja paruh waktu di kafe itu atas rekomendasi teman dekatku. Aku sangat menikmati pekerjaan ini Sai. Mereka seperti keluarga, dan kafe itu menjadi rumah kedua bagiku."

"Tidak jadi yang kedua setelah kau mendengar ini. Aku membeli rumah persis disebelah rumahmu." Kata Sai menengok sekilas ke arah Naru. Sedangkan Naru balas menatap Sai tersentak kaget mendengarnya.
"Tapi- aku masih tidak terima kau mengatakan kalau aku adikmu. Apa sampai sekarang kau masih menganggapku anak kecil?" Kata Sai dengan raut muka agak mengeras.

"Salahmu sendiri, tidak bilang kalau kau pulang ke Jepang dan langsung menyusulku ke tempat kerja paruh waktuku." Tanpa rasa bersalah Naru melontarkan kalimat balasannya dengan lancar juga memandang lurus ke depan.

"Jadi kau menyesal aku melakukannya? Padahal aku sudah sangat ingin melihatmu. Bukannya memberi kejutan- malah aku yang dikejutkan... Aktingmu benar-benar sempurna Nona." Sai tambah kesal kemudian menambah laju jalannya meninggalkan Naru dibelakang.

"Bukannya aku tidak senang... Mana mungkin aku tidak terkejut kan.?! Hanya saja... aku masih mau kerja di kafe itu..." Nada bicara Naru mulai memelan di kata-kata terakhir.

Sai berhenti seketika dan bicara persis di depan wajah Naru. "Tentu... Kau bisa mesra-mesraan dengan pria lain kan. Bahkan kau juga mau disentuh oleh mereka."
Ternyata selama Sai menunggu, Ia terus memperhatikan pelanggan kafe yang ternyata kebanyakan adalah fans Naru. Dan mereka semua sangat genit. Sehingga Sai merasa waktu tunggunya menjadi sangat panjang dan menyebalkan.

"Apaaa?! Kau juga- kemana dirimu setelah dua bulan pertama?! Nihil! Kau tidak mengirimi kabar, barang semenitpun buatku." Naru berteriak marah dan gantian meninggalkan Sai jauh dibelakang.

"Itu karena aku harus cari uang tambahan hidup, dan tugasku sangat banyak. Tapi.. setidaknya aku tidak selingkuh-!"

Wajah Naru memerah karena marah. "Terserah kau sajalah!" Teriak Naru lagi sebelum meraih pintu rumahnya.

"Baaik- terseraah!" Teriak Sai tak kalah keras sebelum masuk ke rumahnya.

Keduanya sama-sama membanting keras pintu kamar masing-masing!

"Sai bodoh! Bodoh bodoh bodoh!" Teriak Naru di dalam bantal kodoknya.

"Menyebalkaaaaan" Teriak Sai sambil bersandar di pintu kamarnya.

.

.

HS My Little Devil

.

.

Naru bergerak-gerak gelisah di atas kasurnya yang empuk. Ia berguling dari sisi kanan ke sisi kiri dan sebaliknya. Menata berulang-ulang posisi bantal dan gulingnya dan mati-matian menutup mata. Tapi sama sekali tidak berhasil membawanya untuk cepat tidur. Percuma. Padahal hari ini hari tercapek selama Ia bekerja di kafe itu. Tapi gara-gara pertengkarannya dengan Sai, Ia malah tidak merasakan ngantuk sama sekali.

"Mungkin aku juga yang salah. Tidak bilang kalau aku kerja di kafe. Tapi- tidak tidak tidak! Dia yang petama berhenti diam dan tidak memberi kabar sama sekali. Tapi..." Sepertinya malam ini begitu banyak tapi untuk Naru.

"Aaaaaaah!" Naru menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi kemudian membekap wajahnya dengan bantal –seakan tidak peduli lagi- lalu jatuh ke alam mimpi.

xxx

Sudah dua hari semenjak pertemuan kembalinya Sai ke Jepang. Dan semenjak itu pula mereka berdua melakukan perang dingin dan membutakan mata -fokus pada urusan masing-masing.

Merasakan penat, karena pertengkarannya dengan Sai membuat Naru sering uring-uringan di rumah. Akhirnya pagi ini _meski tidak bisa lagi dibilang pagi_ Ia memutuskan untuk jalan-jalan menyegarkan pikirannya. Ia memakai celana jeans warna gelap dengan atasan tanktop putih dibalut jaket warna hijau lumut dan tas selempang kecil warna hitam di pundaknya. Sedangkan rambutnya Ia ikat ekor kuda tinggi-tinggi. Meski tampil sederhana tapi sudah bisa menonjolkan kecantikan dan keseksian alami yang terpancar dari diri Naru.

Naru hampir membuka pintu gerbang rumahnya jika saja Ia tidak mendengar dan melihat sesuatu di depan sebelah rumahnya. Masih memegang pagar, Naru berdiri kaku melihat aksi yang tidak pernah Ia duga sampai saat ini.

Ia melihat seorang gadis bermabut merah panjang berkacamata merangkul tubuh Sai. Tidak cukup dengan itu, gadis itu lalu mencium pipi kiri dan kanan Sai dengan mesra. Kemudian seperti dunia hanya milik mereka, gadis itu menggamit lengan Sai membawanya ke tempat duduk sebelah pengemudi. Kemudian meluncur dengan mobil gadis itu dengan canda tawa –mengindahkan keberadaan Naru yang dari tadi berada di sekitar mereka. Naru mencengkram erat-arat besi pagar rumahnya hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak seperti yang Ia duga rencananya pagi menjelang siang ini akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Naru segera menghambur keluar rumah kemudian mencegat taksi yang lewat didepannya.

"Paman, tolong ikuti mobil warna hitam didepan. "

.

.

.

.

Naru sempat cengo melihat keadaan didepan matanya. Setelah benar-benar memastikan bahwa mereka masuk ke tempat ini Naru meminta Paman supir taksi berhenti dan membayar ongkos taksi yang terpampang pada mesin. Bukan karena gedung mewah pencakar langit berlantai banyak _meski itu juga salah satunya_ tapi yang paling membuat Naru kaget adalah gedung apakah ini.

Gedung itu adalah hotel. Dua orang lawan jenis masuk ke dalam hotel yang sama. Naru mendengus kesal menahan marah. Meski kesal, Naru tetap menghentakkan kakinya mengikuti pasangan itu, tidak peduli dengan wajah masam yang mengherankan orang-orang yang melihatnya.
Kemudian tanpa Naru sadari sang objek pria –Sai, tengah menyeringai dan membalas genggaman gadis berambut merah disampingnya.

xxx

Merasa seperti penguntit profesional Naru melanjutkan aksinya mengendap-endap seperti kucing. Tidak sadarkah Ia- kalau orang-orang yang melihatnya malah menatapnya dengan pandangan aneh. Masa bodoh. Naru terus mengikuti mereka yang sepertinya akan berbelok menuju restaurant. Naru menghela nafas lega. Mungkin saja gadis itu hanyalah teman Sai dan ingin makan siang di hotel ini. Semoga saja tebakannya benar.

Mereka memesan meja dua orang dan duduk berhadapan. Tidak lama kemudian sederet makanan pembuka sampai pencuci mulut sudah tersedia di atas meja. Tidak mau kehilangan apapun, Naru memilih tempat duduk single jauh di sisi kanan mereka. Dari jauh mereka terlihat sangat akrab, malah seperti ada hubungan spesial diantara keduanya. Naru yang tidak tahan melihat keserasian mereka melampiaskan kekesalannya dengan mengigiti sedotan minumannya yang tinggal sedikit.

"Nona, apa Anda mau tambah?" tanya seorang pelayan wanita datang menghampiri Naru.

"Tidak! Terima kasih." Tanpa mempedulikan si pelayan, Naru terus menatap Sai dan gadis itu. Tidak lama kemudian keduanya beranjak pergi setelah meninggalkan beberapa lembar uang dengan nominal terbesar di atas meja. Tidak perlu membuang waktu Naru meniru cara mereka dan segera melesat mengikuti kemana mereka akan pergi setelah ini.

Sesaat kemudian Naru tersentak, mematung tak bergerak seincipun. Seperti tidak ada kekuatan Ia merasa lemas.

Penyebabnya adalah Sai terus berjalan dengan gadis itu dan melangkah masuk kedalam lift yang ada di ujung. Naru mengamati lantai manakah yang akan mereka ingini. Kemudian matanya membulat melihat angka 16 berwarna merah di atas pintu lift itu. Sesuai keterangan, lantai 14 sampai 20 adalah ruang kamar. Tidak menahan diri lebih lama lagi, Naru memutar badan dan segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa dan terluka. Air matanya terus mengalir, sepanjang perjalanan pulangnya yang terasa sangat panjang.

.

.

HS My Little Devil

.

.

Sorotan lampu mobil memberi sedikit penerangan tambahan pada jalan yang agak gelap karena malam. Meski belum jam delapan malam tapi karena berada di kawasan perumahan elit membuat suasana seperti lebih dari jam sepuluh malam. Seorang pemuda turun dari mobil sesaat setelah deru mesin mobil berhenti. Kemudian sang pemuda berambut hitam itu melambaikan tangan selamat jalan. Setelahnya mereka saling melempar senyum dan mobil itupun meluncur meninggalkan pemuda itu didepan rumah bernomor lima belas.

Si pemuda yang diketahui bernama Sai akan meneruskan langkah jika Ia tidak melihat sesosok bayangan didepan pintu rumahnya yang gelap. Samar-samar Ia bisa menangkap siluet itu duduk memeluk lutut di depan pintu rumahnya. Meski awalnya agak kaget, Sai melangkah pasti setelah Ia melihat warna rambut orang itu berwarna pirang.

Sai berhenti tepat di depan sosok itu, ketika dirinya mendengar suara isakan pelan.

"Naru..." Sai hampir menyentuh pundaknya ketika Naru tiba-tiba saja berdiri. Masih dengan wajah menunduk, Naru mengusap bekas air matanya cepat. "Aku mau... kita putus."

Sai tersentak mendengar kata putus dari bibir wanitanya. Kemudian dengan wajah yang tidak bisa diartikan Sai menarik tangan kanan Naru sangat erat. Mata Sai sempat membulat karena merasakan dinginnya kulit Naru. Ia yakin Naru sudah menunggu lama didepan rumahnya. "Kita makan dulu."

Mendengar kalimat santai dari mulut Sai, akhirnya Naru mengadahkan wajahnya menatap kecewa pada pria itu. "Aku tidak lapar. Aku mau pulang."

Naru berusaha melepas genggaman tangan Sai, yang berakhir sia-sia. Bukannya terlepas malah semakin bertambah erat. Naru yang bertambah kesal karena Sai tidak membiarkannya pergi semakin berusaha melepaskannya dengan segala cara.

Melihat kekeraskepalaan Naru, Sai menyentak tubuh Naru ke dalam dekapannya. Wajah Naru membentur dada bidang Sai yang kini telah menjelma menjadi seorang pria. Tangisan Naru pecah seketika. Ia meremas-remas baju bagian depan Sai, menyalurkan betapa sakitnya yang Ia rasakan. Sai mengeratkan pelukannya serta mengecupi helaian pirang Naru dan mengelus lembut punggung Naru yang berguncang.

xxx

Tidak melepaskan dekapannya Sai membimbing Naru masuk ke rumahnya dan mendudukkan Naru ke sofa setelah sempat mengunci pintu dan menghidupkan penghangat ruangan.

Mendengar tangisan Naru benar-benar sudah berhenti Sai melepas dekapannya. Mengecup lembut dahi Naru yang tertutup poni sebelum beranjak ke arah dapur.

Naru sudah bersandar pada sofa dengan mata sembap ketika Sai kembali membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk dan segelas susu hangat. Sai duduk disebelah Naru dan mulai menyendokkan nasi.

"Aku tidak lapar." Naru menahan laju sendok berisi nasi yang ada di depan mulutnya. Menulikan telinganya Sai terus memaksa Naru agar membuka mulutnya. Sampai Naru menyentak tangan Sai membuat nasi disendok itu tercecer di lantai.

Sai mendengus kesal kemudian dengan tidak sabar mengambil sendokan kedua dan memasukkan ke mulutnya. Dengan cepat Ia membingkai wajah Naru dan menempelkan bibirnya dengan bibir Naru. Naru terbelalak kaget tanpa sadar membuka mulutnya. Membuat celah untuk Sai mentransfer nasi yang ada di mulutnya. Merasakan desakan di mulutnya, akhirnya Naru menelan semua makanan yang diberikan oleh Sai.
Bibir dan lidah Sai terus menginvasi mulut Naru meski nasi yang ada di mulutnya sudah habis. Sai memberikan ciuman memabukkan dan lumatan bertubi-tubi pada bibir Naru. Sedangkan Naru hanya mengerang merasakan ciuman yang memang Ia nantikan.

Namun tiba-tiba memori tadi siang berputar ulang mengingatkan Naru sederetan pikiran negatif akan Sai sekaligus menyadarkan tujuannya datang kemari.

"Cukup! Cukup Sai!" Aliran kristal bening meluncur deras membuat pipi Naru kembali basah.

Sai diam saja melihat Naru terengah-engah. Entah karena perasaan marah yang membuncah ataukah sensasi sehabis ciuman hebat. Sai memperhatikan Naru dengan diam mempersilahkan Naru untuk bicara.

"Seharian ini aku mengikutimu." Ucap Naru jujur setelah senggukan keduanya.

"Iya. Aku tau." Jawab Sai menatap lurus biru saffir Naru.

Naru tersentak mendengar penuturan Sai. Betapa kecewanya Ia, kekasihnya membiarkan dirinya tau Ia sedang berselingkuh dengan wanita lain.

Tak lama kemudian Naru mulai angkat bicara lagi.

"Kau pergi dengan seorang gadis- hiks... dan kalian masuk ke dalam hotel." Suara Naru agak tercekat di akhir kalimat. Jujur, saat mengatakannya Ia bagai menelan duri dan merasakan perih dihatinya.

Naru makin bertambah marah dan sakit ketika Sai hanya diam. Tidak membantah bahkan sekedar untuk membela dirinya sedikitpun.

"A-aku tau...! kau marah padaku karena kejadian kemarin. Aku minta ma-aaf..." Naru menghapus air matanya yang kini mulai membasahi rahang atasnya. Bahkan kini Ia dapat mengecap rasa asin dimulutnya.

"T-tapi.. aku tidak mau kau pergi dengan gadis lain-. Hiks... hiks..." Naru berhenti sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.

"Kau bisa menyentuh wanita lain dengan mudah.. Tapi aku tidak bisa-! Aku hanya mau de-"

Sai tidak bisa menahan diri lagi mendengar teriakan pilu dan tangis Naru lebih lama. Ia merengkuh Naru dan membawanya pada ciuman yang dalam. Ia mengulum bibir atas dan bawah Naru bergantian. Naru yang terhanyut dalam ciuman itu, tidak sadar kalau Ia sudah ada dalam gendongan Sai.

Sai menghempaskan tubuh Naru di atas ranjang miliknya dengan hati-hati. Tanpa menghentikan aksi lidahnya didalam mulut Naru, Sai menindih tubuh Naru yang kini tepat dibawahnya.

Cup'aaakh

"Haaah.. Haaah.." Naru mengambil nafas pendek setelah ciuman panjang yang memabukkan.

Naru yang seakan baru tersadar kalau dirinya sudah ditindih oleh Sai mulai memberontak marah. Begitupun Naru, Sai juga tidak tinggal diam. Ia mengambil slayer yang ada didekatnya. Kemudian Ia membungkam mulut Naru dan mengikat tangan Naru jadi satu.

"Emmm... mmmh..." Hanya erangan sia-sia yang bisa keluar dari bibir Naru.
Sai menciumi seluruh permukaan wajah Naru dengan usapan yang lembut. Tak urung Ia juga menjulurkan lidahnya menjelajahi kulit wajah Naru yang mulus. Hingga tiba saatnya Sai mulai menjelajahi batang leher Naru. Pertama Ia mengecupi kulit leher Naru lalu Ia menggigitnya hingga menjadi ruam merah terang kemudian Ia akan menjilat bekas gigitan itu sebagai penawar rasa sakit oleh gigitan giginya. Berulang-ulang Ia lakukan hingga tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk membuat tanda itu lebih banyak lagi. Sedangkan Naru yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menutup mata dan membukanya lagi. Mengeluarkan desahan yang tertahan dan hanya mampu menerima tanpa bisa melawan sedikitpun. Meski Ia masih merasa marah, tapi sebenarnya jauh didasar lubuk hatinya Ia sangat menikmati dan menantikan semua perlakuan dari Sai ini.

"Eeengggh.. Enggghh..." Naru mulai menggeliat liar ketika Sai meremas dan memainkan payudaranya dari atas bajunya. Tidak hanya itu, Sai mulai menurunkan celana jeans yang sebelumnya masih terpasang dengan benar dan menyisakan celana dalam berwarna putih.

"Emmh.."
Sai menyeringai ketika Ia merasakan celana dalam Naru sudah benar-benar basah. Naru mengerang semakin keras ketika jari-jari Sai menyentuh liar kewanitaannya dari luar celana dalamnya. Tidak lupa remasan kuat tangannya di payudara Naru yang juga makin menguat.

"Eeeenggghh...!"
Naru telah mengalami orgasmenya yang pertama. Sai membelai dan menyisir rambut pirang Naru yang mulai lembab oleh keringat.
Peluh akibat orgasme membuat wajah Naru bersinar dan rona merah diwajahnya membuat birahi Sai menggelak juga.

Akhirnya Sai membuka ikatan dimulut dan tangan Naru. Karena Ia tau kalau Naru tidak akan sanggup untuk memberontak lagi. Dari kepasrahan yang terpancar dari sinar mata biru saphire yang meredup saat ini Ia yakin kalau Naru sangat menantikan kelanjutan darinya.

xxx

Sai ingin pengalaman Naru yang pertama kali, Naru tidak mengalami rasa sakit yang amat sangat. Seperti yang Ia dengar dari teman wanitanya di luar negeri yang kebanyakan melakukan sex bebas. Meski banyak ajakan dari temanya disana, Ia tetap kukuh dan menolaknya dengan tegas.

Ketika Naru merasa lemas pasca orgasme, Sai mengambil botol kaca bening berukuran kecil yang berisi cairan. Sai merengkuh tubuh Naru di bawahnya setelah meminum cairan tersebut dan membuang botolnya sembarang ke bawah. Sai segera membawa mulutnya pada bibir Naru yang setengah terbuka.

Naru yang merasakan ciuman tiba-tiba dari Sai meneguk cairan dari mulut Sai yang sebagian besar sudah masuk kedalam kerongkongannya dan sisanya sudah ditelan oleh Sai sendiri. Ketika dirasanya cairan itu sudah tak bersisa, Sai menghentikan ciumannya dan agak menjauhkan tubuhnya dari tubuh Naru. Sebenarnya Sai sedang menunggu efek yang akan ditunjukkan oleh tubuh Naru sebentar lagi.

Tak lama kemudian tubuh Naru tersentak kuat. Ia merasakan guncangan hebat dari dalam dirinya. Seperti ada api yang berkobardalam tubuhnya dan memanggangnya dari dalam. Ia merasa sangat bergairah dan gerah yang tidak tertahankan. Ia tidak bisa menjabarkan perasaan apa itu, tapi Ia merasa tubuhnya merasa aneh ketika kulitnya dengan Sai bergesekan. Tubuhnya serasa melayang dan merespon segala sentuhan dari Sai. Mengakibatkan kedutan di bagian selangkangannya semakin cepat dan membuat celana dalamnya yang basah semakin basah.

Merahnya wajah Naru dan tatapannya yang sayu membuat efek lebih pada diri Sai. Naru mengulurkan tangannya meraih bibir Sai ke dalam ciumannya. Mereka saling mengecup, memagut, saling menarik lidah dan menyalurkan saliva masing-masing menjadi satu dan mengakhirinya dengan melumat bibir satu sama lain. Sai mendekap kepala Naru untuk membuat ciuman mereka semakin dalam.

Seakan tidak mampu berpikir apapun dan hasrat yang kian meningkat, tangan Naru berusaha menarik baju Sai ke atas tanpa mengurangi dalamnya ciuman mereka yang direspon baik oleh Sai. Sai merelakan pakaian atasnya terlempar ke bawah dan menunjukkan dadanya yang bidang untuk tatapan Naru yang liar.

"Haaahh... Haaaah.." Naru mengakhiri ciuman mereka dan menyisakan benang saliva tipis ketika bibir mereka berpisah. Ia tidak mau pingsan duluan hanya karena berciuman. Ia menahan dada Sai dengan kedua tangannya sambil terengah-engah mengambil nafas panjang.

Tidak butuh waktu yang lama untuk kedua bibir itu bertaut kembali. Tapi Sai mengerti saat Naru benar-benar sudah kehabisan nafas, Ia segera melempar wajahnya pada batang leher Naru yang berpeluh dan terasa hangat. Sai menghisap setiap jengkal kulit leher itu membuat Naru mengeluarkan desahannya.

Naru merasakan tubuhnya lebih panas dari sebelumnya. Ia membimbing tangan Sai untuk segera melepas jaket dan tanktop yang Ia pakai hingga celana dalam saja yang masih tersisa.

Sai melebarkan seringainya ketika melihat keadaan Naru sekarang. Tubuh dengan kulit tan eksotis yang berkeringat dan meliuk-liuk dibawah tindihannya. Nafas Naru yang naik turun membuat payudara Naru yang bulat ikut bergerak seirama dengan nafasnya.

"Dadamu tambah besar.." Kata Sai terang-terangan langsung menatap mata Naru. Naru tersipu malu kemudian menarik tengkuk Sai kedadanya. Sai tersenyum geli melihat Naru yang malu gara-gara komentar jujurnya itu. Tanpa diperintah dua kali, Sai menjilat kulit diantara payudara Naru dan membuat kissmark disekitar area itu. Tangan Sai tidak tinggal diam. Ia menggenggam kedua payudara Naru dan memutarnya penuh perasaan.

Tangan Sai tidak cukup besar untuk meraup seluruh payudara Naru, menandakan betapa besarnya payudara itu. Manambah lebar seringai mesum Sai bahwa Naru juga jauh berkembang tidak hanya dirinya. Ia membayangkan kalau payudara Naru sudah senikmat ini- bagaimana dengan yang dibawah. Ia sudah bener-benar tidak tahan. Ia menekan dan memutar payudara lebih kencang dan penuh tekanan. Naru hanya bisa mendesah-desah diselingi ringisan antara rasa sakit dan nikmat.

"A-aaaah... Sa-Sai aah.." Naru semakin kencang meremas rambut raven Sai ketika Sai menyentuhkan ujung lidahnya di putingnya. Tapi rangsangan Sai berjalan lancar, menyebabkan puting Naru mengeras.

Sai terus menggoda kedua puting itu selama beberapa saat kemudian melahap puting Naru dan menyentilnya dari dalam mulut. Desahan Naru makin keras sambil menengadah berkali-kali.

"Saaaaaaai- aaaaaaaahk.." Cairan mengalir deras dari selangkangan Naru, tapi Sai terus memainkan puting Naru dan meremas payudaranya. Ia mengecup, menggigitnya dengan gemas, dan menarik-narik puting Naru dengan apitan kedua jarinya. Semua itu membuat Naru semakin tidak tahan. Terkadang Ia mendorong pelan kepala Sai dari dadanya, tapi setelah itu Ia akan mendekapnya erat menahan perlakuan Sai pada payudaranya.

Sai mengambil jeda sebentar untuk melepas celananya sehingga menampakkan batang miliknya yang sudah mengeras dari tadi. Ia kembali menindih Naru dan melepas celana dalam satu-satunya pakaian yang masih menutup bagian tubuh Naru. Sai mengulang semua rangsangan dari awal. Mencium dan menjilat wajah Naru, leher, payudara kemudian memutarkan lidahnya di pusar Naru.

Sai menatap biru saphire Naru yang membuka dan menutup karena semua rangsangan yang Ia berikan. Sai tersenyum karena Naru begitu menikmati ini. Sai menekuk lutut Naru dan menjilat kedua paha mulus Naru.

Kemudian Ia membuka paha itu selebar mungkin. Ia menyeringai dan mendecak kagum melihat organ intim Naru. Lubang yang berkedut-kedut dan mengalir cairan dari dalam.

Sai memasukkan satu jari kedalam kewanitaan Naru. Ia mengeluarkan dan memasukkannya lagi dengan cepat kemudian dengan gerakan menggali lubang itu semakin dalam. Ia merasa lubang itu sangat sempit dan meremas jarinya dari dalam. Dua jari, tiga jari Sai melakukannya dengan sangat cepat. Membuat kewanitaan Naru memerah dan menimbulkan bunyi decapan semakin nyaring dan desahan erotis dari Naru.

Sai mengeluarkan jari-jarinya yang telah basah oleh cairan milik Naru dan menjilatnya. "Hm.. Manis." Sai membawa wajahnya tepat didepan vagina Naru yang berlendir. Ia membuka bibir vagina itu dengan jarinya kemudian menjilatnya dengan sangat pelan. "Akh!" Naru yang keenakan semakin menekan kepala Sai untuk masuk lebih dalam.

Sai menemukan klitoris milik Naru dan melahapnya. Ia mengigit kecil klitoris itu dan menyentilnya dengan lidah. Puas memainkan klitoris, Sai menjulurkan lidahnya dan memasukkan lidahnya kedalam lubang kewanitaan Naru. Ia memasukkan dan mengeluarkan lidahnya, tak lupa Ia memutarkan lidahnya disana beberapa kali. Membuat Naru mengeluh dan mendesah hebat. Tangan Sai terus meremasi payudara Naru. Sesekali Ia memelintir puting Naru dan menarik-nariknya gemas. Membuat kewanitaan Naru mengeluarkan cairan semakin banyak. Sai menghisap dan menelan semua cairan yang terus mengalir tanpa henti.

"Aaaah... Aaah.. Aaahk..."

"Hebat! Makin banjir..." Sai terus menghisap kewanitaan Naru yang berkedut semakin cepat. Naru bergerak liar menerima rangsangan didadanya maupun di organ intimnya. Sai yang kerepotan menaruh satu tangannya untuk menahan pinggul Naru yang terus bergerak liar.

Sai mengeluarkan lidahnya ketika lubang Naru mengapitnya makin kencang. Naru mendesah tertahan karena Sai menghentikan orgasmenya yang akan keluar sebentar lagi.

"Sai... aaahhgk.."

Sai segera memposisikan batang miliknya didepan kewanitaan Naru dan mengesekkannya naik turun pelan membuat Naru mendesah-desah tidak sabar. Sai menautkan tangannya pada tangan Naru dan mencium dahinya lembut, seolah meyakinkan Naru untuk percaya kepadanya.

Kemudian tanpa memberikan tanda Sai memasukkan kejantanannya dalam satu hentakan. "Aaaaaakh...!" Naru berteriak kencang ketika keperawanannya telah direnggut oleh Sai. Sai menenangkan Naru dengan usapan-usapan lembut didahinya. Menyeka setitik air mata yang menetes dari mata biru laut Naru.

Setelah merasa Naru sudah siap menerima dirinya, Sai mulai menggerakkan kejantanannya pelan. Ia merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika miliknya dijepit kuat oleh kewanitaan Naru dan tidak membiarkannya bergerak dengan mudah. Kemudian Sai mempercepat tusukannya lebih dalam dan bertenaga. Batang milik Sai menyesaki lubang kewanitaan Naru yang sempit dan memijatnya semakin kencang. Seolah tidak merelakan batang milik Sai untuk berhenti bergerak.

"Ah! Ah! Ah! Sa- Saaai-Aakh..."

"Emmh... lubangmu benar-benar aaah.." Sai memajukan pinggulnya lebih keras dan dalam membuat pantat Naru menghentak-hentak keras. Naru menggeleng liar dan mengeratkan tautan tangannya pada tangan Sai.

"Saah.. Ah! Ahh.. Aaaaaaaaakhhh..." Tubuh Naru menjadi kaku beberapa detik dan kejantanan Sai terapit dengan kuat. Cairan putih mengalir dengan deras melumuri batang milik Sai hingga menetes keatas seprai. Peluh menyelimuti seluruh tubuh Naru yang terasa panas.

Naru terlihat sangat lelah setelah orgasme hebat yang baru saja dialaminya. Tidak sadar kalau Sai sudah melepas kejantanannya, dan menurunkan wajahnya didepan vagina Naru yang memerah dan masih berkedut-kedut itu. Sai menghisap seluruh cairan Naru dan menggigit gemas klitorisnya membuat Naru mendesah lemah, namun tidak untuk lubangnya yang menjepit lidah Sai dengan kedutan yang semakin kuat.

Dengan cepat Sai memindahkan mulutnya untuk mencium bibir Naru yang terbuka lebar. Saliva Naru sudah merembes dari sudut bibirnya ketika Sai memindahkan cairan miliknya sendiri. Sambil menciumi dan melumat bibir Naru dengan rakus Sai membalik posisi mereka. Sai membuat tubuh Naru menungging diatasnya dengan posisi pantat Naru lebih tinggi dari kepalanya. Kepala Naru langsung menabrak leher Sai, begitupun dengan payudaranya yang langsung menempel dengan dada kokoh milk Sai.

"Aaahk.. S-sudaah Sai.." Naru terus mendesah-desah lemah ketika jari-jari Naru bermain di lubang kewanitaan Naru yang sepertinya sudah basah lagi.

"Terima saja, sayang.. Aku tau kau sangat menikmati ini-"

"Kyaaaa-aah" Sai menambah jarinya sampai empat jari keluar masuk dengan cepat. Tidak ketinggalan Sai juga menambahkan jari-jarinya menyesaki lubang dubur Naru. Jari-jari itu berlomba-lomba untuk memasuki kedua lubang Naru itu semakin cepat dan semakin dalam.

Naru merasa gairahnya sudah bangkit lagi dan sangat menikmati semua perlakuan Sai yang menakjubkan baginya. "Aah! Ah! A-aah Sai..." Cairan Naru merembes semakin banyak hingga akhirnya Naru berteriak keras menandakan kalau Ia sudah orgasme lagi.

Sai sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia segera memajukan pinggul Naru dan memasukkan kejantanannya sangat dalam dalam satu hentakan. Ia terus mendorong dan menarik pinggul Naru dari ujung miliknya sampai batas miliknya. Tubuh Naru bergoyang liar dan kepalanya menandak keras menghantam leher Sai.

"Emmh.. Aaah! Ah.. Pel-lan... pelaaan Aah-" Sai tidak menggubris kata-kata Naru. Ia mendorong pinggul Naru sangat cepat membuat sodokannya sangat dalam. Naru mengerang tertahan ketika titik puncaknya terhantam sedemikian kali dengan sangat keras.
Hingga Sai merasa Ia sudah berada di puncaknya kemudian mengeluarkan semua cairan spermanya kedalam kewanitaan Naru. Membuat kedua cairan yang bercampur itu membasahi kedua paha Naru dan menetes ke bawah.

"Aaaaaaaaaaahhgkk..."

"Eeeeeeeeeengggghh..."

Kemudian tanpa mengeluarkan batang miliknya dari lubang Naru yang masih berkedut dan meremasinya dengan kuat, Sai menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang bersatu. Sai mengecup puncak kepala Naru lembut dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih." Tanpa menunggu balasan Sai memejamkan matanya mengikuti Naru yang sudah pingsan dan masuk ke alam mimpi.

xxx

Di waktu yang sama, seorang pria yang sudah berumur berpakaian khas Jepang dengan sebelah mata tertutup tengah membersihkan pedang samurai panjang yang mengkilat dikedua sisinya.

"Tuan, kami sudah menemukan Tuan Muda. Saat ini Ia berada di Jepang, Tuan." Kata seorang pria dengan setelan jas duduk bersimpuh tepat didepan pria itu.

"Kau urus saja semuanya." Pria itu berkata pelan tapi penuh penekanan didalamnya. Ia menatap tajam pria dengan setelan jas didepannya itu sambil mengayunkan ringan pedang yang dibawanya.

"Baik Tuan." Pria itu membungkuk hormat dan beranjak pergi dari ruangan berkesan gelap, meninggalkan majikannya seorang diri yang tengah menyeringai misterius.

TBC

Balasan Review:

suki-chan: maaf kalau saya tidak bisa apdet kilat. Terima kasih atas review-nya. Review lagi? ^_^

Nasumichan Uharu: Terima kasih sudah mau menunggu fic ini dan- semua review Nasu-chan yang selalu menyemangati saya buat apdet.. Review lagi? ^_^

Runriran: Tenaaang.. masih lama kok tamatnya. Hehe Penasaran kan? Jangan lupa buat selalu review yaa... ^_^

Guest: Terima kasih sudah bilang fic ini keren.. Maaf kalau apdetnya lama.. hehe
Terima kasih atas review-nya. Review lagi? ^_^

Xhre: Tugas magang dari sekolah. Terima kasih atas pengertiannya.. Review lagi? ^_^

Senju Koori: Saya bakal usahain apdetnya gag bakal nyampe berbulan-bulan... Hehe
Makanya terus beri review biar saya semangat apdetnya.. XD Review lagi? ^_^

Louisia vi Duivel: alasan saya baru buat lemonnya sekarang karena saya mau timing yang pas buat mereka..
maaf Louisia-san.. sasuke bakal tetep ada, tapi gag bakal ganggu banget kok buat percintaan'nya NaruSai.. Oke? Maaf kalau saya apdetnya gag bisa kilat.. Terima kasih atas review-nya. Review lagi? ^_^

Lee Jeong Sin: Waduuuuh.. Saya dibilang cantik? #Merona Hehe.. Terima kasih
Maaf atas keterlambatan apdetnya.. Review lagi? ^_^

Lee Jung Sin: Iyaa.. ini sudah lanjut kok.. Review lagi? ^_^

missyuuhi: Maaf ya yuu-chan kalau baru sekarang dilanjut.. Terima kasih atas review-nya. Review lagi? ^_^

Saya tidak mau komentar buat adegan lemonnya..#sampe nguras keringat_ Tapi saya akan tunggu semua komentar kalian dalam review..
I'm very glad if you leave your appreciate in review box..

Terima kasih sudah mau membaca...