My Boyfriend is A Nine Tailed Fox

Based on Korean drama My Girlfriend is A Nine Tailed Fox

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Kiriko mahaera

Genre: Fantasy, Romance

Rate: T

Warning: AU, School life, OOC (selalu)typo (sulit dihindari) miss typo, dan masih banyak warning lainnya

Summary: Menyenangkan bukan, jika memiliki seorang kekasih yang.. Ugh tampan. Tapi apa jadinya jika kekasihmu itu adalah seekor rubah. Lebih tepatnya siluman rubah? Bagaimana, eh? Apa kau masih ingin jadi kekasihnya?

Critic, concrit, flame? Review, please..

Don't like? Don't read!

Read and Enjoy :D

Aloa! Saya kembali lagi. Kali ini dengan cerita multi chapter. Semoga saja ada yang suka. Amiiin

Harap maklumi jika ada kesamaan ide, atau kesamaan yang lainnya. Sungguh, ini hasil dari pemikiran keras saya. Tapi karena idenya pasaran sekali lagi harap maklum hehe..

Chapter 1

Suasana malam yang tenang, langit malam yang bertaburkan bintang. Suara jangkrik yang membahana, memecah kesunyian malam yang begitu sepi. Indah bukan? Siapa yang tidak menyukai suasana malam yang seperti ini?. Itulah sebabnya sekelompok remaja ini, tengah berkumpul mengelilingi sebuah api unggun yang berfungsi sebagai penerang di pertengahan kawasan perkemahan ini. Yah meskipun malam ini sang bulan bersinar terang, tapi itu saja tak cukup bukan.

Tak jauh dari sekelompok remaja yang tengah asyik berkumpul di dekat api unggun. Tampak 3 orang gadis asyik tengah berdiskusi. Tepatnya di depan sebuah tenda.

"Hinata, kurasa ini waktu yang tepat." gadis bercepol dua itu memulai. Matanya yang kecoklatan itu mengarah lurus pada manik lavender yang kini tengah ia tatap.

"Engh.." Sedangkan gadis beriris lavender yang bernama Hinata hanya menundukkan kepalanya, sambil memainkan kedua jari telunjuknya.

"Ten Ten benar Hinata, kau harus mengatakannya." Kali ini si pirang, gadis yang mirip boneka barbie itu ikut bersuara. Sesekali ia menyisiri poni pirangnya dengan jari - jari lentik miliknya.

"Ta-tapi Ino..." Gadis yang bernama Hinata tadi kembali bicara, namun ia menggantungkan kalimatnya, kemudian ia menatap kedua temannya itu secara bergantian.

"La-lagipula aku ini se-seorang gadis, ja-jadi tak mungkin.. Aku yang memulai," tutur Hinata yang mengutarakan apa yang sedari tadi dipikirkannya. Setelah berkata demikian ia pun kembali menunduk.

"Haaah~." Ten Ten. Gadis yang identik dengan warna coklat itu menghela nafas gusar. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Sepertinya memberitahu gadis Hyuuga itu memang sulit. Benar tidak? Eh.

"Ayolah.. Ini tak seburuk yang kau pikirkan." Gadis yang bernama Ten Ten tadi kembali membujuk Hinata. Ia berbicara lebih lembut pada gadis pemalu tersebut.

"Ta-tapi tetap saja," ujar Hinata yang tak mau mengalah. Kini, ia berani menatap langsung wajah kedua temannya.

Ino yang sedari tadi sibuk memperhatikan orang yang menjadi topik pembicaraan mereka pun, akhirnya kembali mengangkat suara. "Kita tak punya pilihan lain, Ten Ten. Sepertinya kita memang harus melakukannya." Ino mengulas senyum misterius pada kedua temannya, tetapi ada yang aneh. Senyumnya.. Ehmm, se-senyumnya ini malah terlihat seperti sebuah... Seringai.

Ten Ten yang mengerti dengan maksud Ino, langsung mengangguk faham. Sama seperti Ino, ia pun mengulas senyum, Ralat. Tapi seringainya pada Hinata.

Merasa ada yang tak beres. Hinata memberanikan dirinya untuk bertanya pada dua temannya. Dalam hati ia memiliki firasat buruk. "E-eeh, apa yang akan kalian lakukan?"

"Tenang saja kami hanya ingin membantumu," jawab Ten Ten, kali ini ia tersenyum lembut. Sedangkan Ino, ia hanya mengangguk setuju.

"Ka-kalian pasti bercanda." Hinata menatap tak percaya pada kedua temannya yang kini melangkah mendekatinya.

"Tentu saja, kami serius," jawab Ino yang terus mendekati Hinata.

GREEB

Kedua sisi Hinata kini sudah terkunci, Ino dan Ten Ten berdiri di sisi kiri, kanan Hinata dan merangkul bahu gadis berambut indigo tersebut.

"Tenang saja," ujar Ino yang mencoba menenangkan sahabatnya. "Semuanya akan baik - baik saja," lanjutnya kemudian.

"Kami mendukungmu Hinata." Ten Ten mengepalkan salah satu tangannya yang bebas dan tersenyum pada Hinata.

Hinata hanya bisa menghela nafas pelan. Kalau sudah seperti ini, ia takkan bisa berbuat apa-apa lagi. Dan dengan sangat terpaksa ia akan mematuhi apa yang akan diinstruksikan oleh kedua temannya ini. Seperti saat ini, ia hanya bisa pasrah saat Ino dan Ten Ten menyeretnya secara paksa.

.

.

.

.

Hinata menatap tak percaya pada dua temannya yang nekat membawanya ke perkemahan siswa laki-laki. Yah meskipun mereka melewati jalur ilegal atau bisa dibilang melalui jalan belakang.

Sebenarnya Hinata ingin sekali bertanya, tapi saat ia akan membuka mulutnya. Ino hanya mengedipkan sebelah matanya. Membuat suasana hati Hinata jadi makin tidak karuan.

Tiba - tiba Ten Ten menghentikan langkahnya dan melepaskan rangkulannya pada Hinata. Begitu juga Ino.

"Ingat Hinata! Yang harus kau lakukan hanya mendekatinya dan katakan aku menyukaimu. Kau mengerti!" Ten Ten memberikan instruksinya pada Hinata.

"Nah, sekarang cepat kau dekati dia!" seru Ino. Dia mengatakannya dengan setengah berbisik pada Hinata, tangannya menunjuk pada seorang pemuda yang tengah duduk di belakang sebuah tenda sambil memainkan sebuah gitar berwarna coklat.

Hinata memandang kedua temannya dengan tatapan memelas. Kedua pipinya merona saat ia memandang ke arah yang di tunjuk Ino tadi.

Ten Ten mengangkat dagunya. Memberi isyarat pada Ino. Yang diberi isyarat langsung mengangguk.

"Satuu." Ino mulai menghitung

"Dua," dan dilanjutkan okeh Ten ten

Ten Ten dan Ino saling memandang satu sama lain

"Tigaa..."

Dalam hitungan ketiga mereka langsung mendorong tubuh Hinata

"Berjuanglah!" seru mereka kemudian.

Setelah berkata demikian. Dua gadis tadi segera bersembunyi di balik pohon yang tak jauh dari mereka, dan tentunya jarak mereka tak jauh dari Hinata.

.

.

.

.

Hinata hampir saja terjatuh, jika ia tidak cepat menyeimbangkan tubuhnya. Ia membalikkan tubuhnya dan memandang dua temannya yang tengah bersembunyi di balik sebuah pohon. Sedangkan Ino dan Ten Ten hanya mengacungkan kedua jempol mereka.

Hinata menghela nafas dan kembali membalikkan badannya dan berjalan mendekati si pemuda. Baru saja ia akan membuka suara. Ternyata pemuda yang ada di depannya ini, menyapanya duluan. Entah sejak kapan ia menyadari keberadaan Hinata.

"Hei, sejak kapan kau ada di sini?" tanya si pemuda.

"Em.. Ba-baru saja," jawab Hinata dengan suara yang sedikit bergetar.

"Hei, santai saja. Aku takkan mengigitmu." Si pemuda terkekeh pelan. "Kemarilah," ujarnya sambil menepuk tempat yang ada di sampingnya.

Hinata hanya menangguk pelan dan segera duduk di samping si pemuda. Sesekali ia mencuri - curi pandang pada si pemuda yang ada di sampingnya. Sedangkan si pemuda asyik dengan gitar coklatnya.

.

.

.

.

Sementara itu. Dua gadis yang sedari tadi bersembunyi di belakang salah satu pohon yang tak jauh dari kedua remaja berbeda gender tadi, tampak serius memperhatikan mereka. Sesekali Ino terkikik pelan. Ia membayangkan, jika acara perjodohan ala InoTen ini berhasil, maka sebentar lagi mungkin mereka akan punya keponakan yang lucu - lucu.

Ah jadi tidak sabar.

BLETAK

"Jangan berpikiran yang macam - macam Ino, kita ini masih sekolah," kata Ten Ten yang seolah tahu apa yang sedang dipikirkan teman pirangnya ini.

Sedangkan Ino hanya bisa mendelik kesal sambil menggembungkan pipinyadan memegangi kepalanya yang tadi dijitak Ten Ten.

Siapa suruh berpikiran yang macam - macam.

Ino kembali mengalihkan pandangannya ke tempat Hinata berada. Merasa tak ada yang memulai, Ino hanya bisa mendengus sebal. "Kenapa dia lama sekali."

"Tenanglah Ino." Ten Ten mencoba menenangkan Ino yang terlihat mulai gelisah.

"Bagaimana aku bisa tenang Ten Ten, kalau mere-"

"Ssshh, lihat!" Ten Ten langsung memotong ucapan Ino, dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Hinata.

.

.

.

.

"Kau bisa main gitar?" tanya si pemuda, mencoba memecah keheningan yang melanda mereka sejak beberapa saat yang lalu. Lagipula ia tak menyukai keheningan.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya pelan, sebelum ia kembali menundukan wajahnya yang tengah merona. Rupanya ia belum berani untuk bertatap wajah secara langsung dengan si pemuda.

Bagaimana bisa menyatakan perasaan, jika menatap wajahnya saja sudah tak mampu.

"Tapi kalau menyanyi, tentu saja kau bisa. Benar tidak?" si pemuda kembali bertanya. Ia tersenyum lembut pada Hinata.

Deg..

Tanpa ia sadari, jantung Hinata makin bergejolak saat tahu pujaan hatinya ini tersenyum untuknya.

Ya Tuhaaan...

Hinata menjerit tertahan dalam hati. Jika saja ia tak segera menguasai dirinya, mungkin ia sudah jatuh pingsan sekarang.

"I-itu.." Hinata memainkan jari telunjuknya, ia kembali mendudukan wajahnya yang kini merona hebat. Untungnya, pencahayaan di tempat ini tak begitu terang. Jadi rona di pipinya bisa sedikit tersamarkan.

Tiba - Tiba

"KIBAA!"

Sebuah suara yang lumayan kencang itu berhasil mengacaukan kesan romantis yang sudah susah payah tercipta.

.

.

.

.

Ino dan Ten Ten menepuk dahi mereka secara bersamaan.

Dasar pengacaaaau!

Keduanya menjerit bersamaan dalam hati. Ino mengepalkan kedua tangannya dan meninju - ninju telapak kiri tangannya dengan telapak kanannya yang ia kepalkan. Sedangkan Ten Ten mengacak - acak rambutnya, sesekali ia meninju batang pohon yang ada di depannya. Untung saja Ten Ten tak melakukan headbang disana. Apa jadinya nasib pohon tersebut?.

Frustasi.

Itulah kata - kata yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana hati dua gadis ini.

"Anak itu, kenapa datang disaat seperti ini." Ino menggeram pelan dan sibuk mendumel pada dirinya sendiri.

Sama seperti Ino, Ten Ten juga sama kesalnya, dalam hati ia merutuki sang pengganggu yang berhasil mengacaukan rencana indahnya.

BODOH BODOH BODOOOH!

Sumpah serapah pun mengalir deras dalam hati dua gadis yang tengah frustasi.

.

.

.

.

Merasa namanya dipanggil, si pemuda ini segera memandang ke asal suara. Tak lama kemudian seorang pemuda berambut bob dan berpakaian ketat serba hijau itu berlari mendekat ke arah Hinata dan pemuda yang bernama Kiba tadi.

"Ada apa Lee?" tanya Kiba masih sambil memegang gitar coklatnya.

"Cepat, acara puncaknya segera dimulai. Sebaiknya Kau cepat bergabung dengan yang lain," jawab si pemuda yang bernama Lee tadi. Ia melirik Hinata yang tengah duduk sambil menunduk, rupanya ia baru sadar, ada orang lain selain dirinya dan Kiba di sini. "Sebaiknya kau juga ikut Hinata." ajak Lee pada Hinata, sedangkan yang diajak hanya menangguk.

"Kalau begitu kami duluan ya. Ayo Kiba!" Lee segera menarik tangan Kiba,memaksa Kiba berlari mengikutinya. Hinata hanya bisa terdiam memandang dua sosok yang telah menjauh darinya bersamadengan hembusan angin yang tiba - tiba datang menghampirinya.

.

.

.

"Piggy! Sedang apa kau disitu?" Seorang gadis berambut merah muda bertanya pada Ino, sambil berkacak pinggang. Dia bingung sedang apa teman masa kecilnya ini bersembunyi di balik pohon. Ia berdiri di belakang Ino dan Ten Ten.

Mendengar sapaan yang begitu familiar di telinganya. Ino lantas membalikan badannya. "Forehead. Sejak kapan kau ada disini?" bukannya menjawab, Ino malah balik bertanya pada gadis yang dipanggilnya Forehead tadi dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.

Gadis yang dipanggil Forehead itu memutar kedua bola matanya dan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Itu tidak penting. Ayo!" ajaknya kemudian.

Ino mengerutkan dahinya. "Eh, kemana?" tanya Ino heran.

"Tentu saja ke arena api unggun, acara puncak akan segera dimulai. Oh iya mana Hinata?" tanya si gadis merah muda. Sepertinya ia baru sadar kalau salah satu sahabatnya tak ada di situ.

"Dia disana." Ten Ten menunjuk tempat dimana Hinata berada.

"HINATAA!" panggil gadis merah muda tadi, ia meletakan kedua tangannya di samping mulut. Membuat corong dengan tangannya.

"Engh, Sakura." Hinata mendongak'kan kepalanya dan ia melihat teman merah mudanya sudah bergabung dengan Ino dan Ten Ten.

"Ayo cepat, sebentar lagi acara puncaknya akan dimulai." Sakura kembali berteriak pada Hinata yang masih terdiam disana.

Hinata segera berdiri dan menepuk - nepuk celananya, kemudian ia berlari menghampiri ketiga sahabatnya.

.

.

.

.

Acara puncak pada malam ini berjalan sangat lancar dan meriah. Semua siswa tampak menikmati hiburan yang ditampilkan termasuk empat gadis cantik ini. Hinata sedari tadi sibuk mencuri - curi pandang pada sosok berambut coklat yang duduk tak jauh darinya. Ten Ten yang menyadari hal tersebut langsung menyikut Ino. Begitu pula Ino, ia pun menyikut Sakura. Berbeda dengan dua temannya yang sedang terkikik, ia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya dan kembali menikmati alunan gitar yang tengah dimainkan sang pangeran sekolah. Uchiha Sasuke. Samar - samar, pipi putihnya pun menampakan rona merah tipis yang sama seperti Hinata.

Setelah puas bersenang - senang, acara malam ini pun di tutup dengan renungan malam. Sebenarnya lebih tepat jika disebut dini hari dibandingkan malam. Tak sedikit siswa ataupun siswi yang menangis, entah mereka menangis karena terlalu meresapi atau karena merasa bosan.

Sakura berkali - kali menutup mulutnya yang membuka saat ia menguap, sesekali ia membuka matanya dan melirik guru pembimbing mereka yang terus mengoceh. Ten Ten sibuk mengorek - ngorek tanah dengan sebatang kayu yang ia pegang, mengingat posisi mereka saat ini ialah duduk bersila di atas rumput dan ia akan berpura - pura memperhatikan jika ada pembimbing yang melirik ke arahnya. Jika dilihat sekilas Ino nampak serius sekali mendengarkan. Tapi siapa yang tahu, padahal ia sedang tertidur pulas disana. Tak jauh seperti Ino, Hinata pun tengah memejamkan matanya rapat - rapat, sesekali kepalanya terantuk dan terjaga dan beberapa saat kemudian ia kembali tertidur.

.

.

.

.

.

My Boyfriend is A Nine Tailed Fox.

Tes

Tes

Tes

Tetes demi tetes air terus saja berjatuhan di tempat yang gelap ini. Hampa. Pengap. Itulah kesan ruangan ini. Tak jauh dari ruangan ini, ada sebuah sangkar besar yang dimana tiap jerujinya terbuat dari emas. Di dalam sangkar tersebut. Seorang pemuda tengah terduduk di sana. Pemuda tersebut bertelinga seperti rubah dan memiliki ekor yang jika dihitung ada sembilan.

"796, 797, 798." Pemuda rubah tadi sibuk menghitung dengan kedua jarinya, sesekali ia akan menampakan pose berpikir jika ia lupa dengan hitungannya.

"999, 1000."

"APA! 1000! yeah... Hahaha, akhirnya!" si pemuda rubah berteriak kegirangan saat hitungannya berakhir di angka 1000.

"Itu artinya, aku telah terkurung selama 1000 tahun! Hahahaha" si pemuda rubah ini terus tertawa bahkan ia tertawa sampai terbahak - bahak.

Tapi sesaat kemudian ia menggeram dan mengaum. "Aku sudah bosan berada disini. Aku ingin KELUAAR!" Ia berteriak frustasi, kedua tangannya mengacak rambutnya yang berwarna kuning keemasan.

.

.

.

My Boyfriend is a nine tailed fox

.

.

.

Matahari kembali menampakan dirinya dan menyinari dunia dengan pancaran - pancaran sinarnya. Membangunkan seluruh makhluk yang ada di muka bumi dari mimpi panjangnya semalam.

Para kumpulan remaja ini, sedari malam tadi tak tidur selepas renungan malam. Kebanyakan dari mereka sibuk bercanda dan berbincang - bincang di dalam tenda. Termasuk empat gadis ini, seusai renungan malam. Kantuk yang mendera mereka langsung menguap begitu saja dan berganti menjadi wajah yang penuh semangat. Jadi wajar jika wajah - wajah mereka nampak kusut pagi ini, meskipun sudah melakukan ritual pagi.

"Kau sudah selesai ? Ayo sebaiknya kita segera masuk ke dalam bis." Ten Ten berbicara pada Hinata yang sedang menyimpulkan tali sepatunya. Menurut jadwal yang tertulis setelah sarapan mereka memang akan segera pulang.

"Kau duluan saja, aku ingin buang air kecil." Hinata menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari sepatu kets miliknya.

"Perlu ku temani?" tanya Ten Ten lagi.

"Tidak. Kau duluan saja," jawab Hinata yang sudah selesai dengan sepatunya. Ia pun segera berdiri.

"Baiklah, cepat yaa.."

"Umm."

Setelah berkata demikian Ten Ten langsung pergi dan berkumpul dangan teman - temannya yang lain.

Tak lama setelah Ten Ten pergi, Hinata langsung berlari ke tempat tujuannya. Sebenarnya ia tidak ingin buang air kecil. Tapi ia teringat akan bunga lavender yang ia lihat di tengah hutan kemarin.

Hinata berlari secepat yang ia bisa melewati beberapa semak belukar dan pepohonan yang tinggi. Benar saja, disana ada padang bunga lavender yang sangat indah, dikelilingi oleh pohon pinus yang menjulang tinggi.

"Indahnya." Hinata menggumam pada dirinya sendiri, kemudian ia langsung mendekati bunga bunga tersebut dan memetiknya. Ketika ia tengah asyik memetik bunga lavender kesukaannya. Tiba - tiba ia melihat bunga mawar berwarna ungu yang sangat indah, bunga tersebut berada di dekat semak - semak yang tak jauh darinya.

"Wow, kereeen," ucapnya saat melihat bunga tersebut. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke sana dan mendekati bunga mawar tadi. Tanpa berpikir panjang, Hinata langsung memetik bunga mawar tersebut, tapi entah kenapa si bunga mawar ini sulit sekali untuk dipetik.

JEDDEEERR

"KYAAAAA!" Hinata yang kaget mendengar suara petir tadi refleks melepaskan pegangannya pada tangkai mawar ungu tadi. Sambil menutup telinganya, ia berlari menembus semak - semak tadi. Tanpa sadar bahwa yang ada dibawah semak - semak ini adalah jurang menuju hutan terlarang.

"KYAAAAAA!" Hinata semakin berteriak ketakutan saat dirinya terguling - guling di tanah.

.

.

.

.

"Mana Hinata?" Ino bertanya pada Ten Ten yang baru saja datang menghampirinya.

"Oh, dia sedang buang air kecil." Ten Ten menjawab singkat dan berjalan melewati Ino yang berdiri di dekat pintu bus nomor 2.

Ino hanya ber"oh" ria dan menganggukan kepalanya.

"Piggy, cepat kemari!" Sakura berteriak dari salah satu jendela sambil menyembulkan kepala merah mudanya.

"Ck! Anak itu." Ino mendecak pelan, sebelum ia berjalan menuju bus tumpangannya.

Setelah sampai di dalam bis Ino langsung meletakkan barang - barangnya di rak yang ada di atas kursi penumpang, dan mengambil tempat di samping Sakura.

"Mau permen." Sakura menyodorkan sebungkus permen rasa mint pada Ino.

"Tidak, terima kasih. Aku ingin tidur saja." Ino menguap kecil dan langsung memejamkan kedua matanya setelah ia menutupi wajahnya dengan sebuah cardigan.

Melihat temannya yang sebentar lagi akan terlelap, Sakura kembali memasang earphone miliknya dan menaikan volume suara i-pod-nya. Kemudian ia segera menyambar komik favoritnya dan membaca komik tersebut.

.

.

.

.

Tak jauh berbeda dari Ino, setelah menghenyakkan diri di kursi penumpang. Ten Ten pun langsung memejamkan matanya. Sayangnya ia melupakan satu hal. Ia melupakan fakta bahwa Hinata masih di dalam area perkemahan tadi. Yang lebih fatal adalah, ia lupa memberitahu guru pembimbing mereka.

JEDDDEEERR

"Sepertinya akan ada badai. Sebaiknya kita segera pulang." Seorang pria yang memakai masker di wajahnya berbicara pada pria berjanggut yang ada di sampingnya.

"Yah, ku rasa kau ada benarnya Kakashi. Sepertinya para siswa sudah berkumpul di dalam," sahut pria yang ada di samping pria yang bernama Kakashi tadi.

Tak lama setelah itu bus - bus itu pun mulai melaju dan meninggalkan kawasan perkemahan tadi, meninggalkan Hinata yang masih disana.

.

.

.

.

"AAAAAAA!" seiring dengan suara teriakannya yang berhenti, tubuh Hinata pun juga berhenti berguling. Kini ia berada di sebuah hamparan rumput yang sangat luas, di sebelah padang rumput tersebut ada sebuah danau yang airnya sangat bening, lalu dibelakang danau tadi terhampar pegunungan yang menjulang tinggi.

Tes

Tes

Tes

"Ah hujan." Hinata sedikit berjengit ketika kepalanya dijatuhi bulir - bulir air dari langit. Di sebelah kiri dari tempatnya kini, ada sebuah gua, yang anehnya ada di tempat seperti ini. Gua tersebut diapit oleh pohon sakura di sisi kiri dan kanannya, kemudian dikelilingi oleh pohon bambu. Karena hujan semakin deras, Hinata memutuskan untuk berteduh di Gua tersebut. Larinya agak terseok, karena siku dan lututnya luka akibat ia terguling tadi.

Sesampainya di Gua tadi, Hinata langsung melepaskan tasnya dan bersandar di dinding Gua. Ia memperhatikan dengan seksama inchi tiap inchi Gua ini.

Keren

Ia terus memandangi stalaktif - stalaktif yang menjulang dari langit - langit Gua.

"Ugh.. Sakit.." Ia mengerang pelan saat merasakan kakinya sakit, mungkin kakinya terkilir.

Tak puas hanya dengan memandangnya saja. Hinata berjalan mendekati stalaktif - stalaktif tersebut. Ia memandang kagum pada barisan stalaktif yang tersusun rapi. Tanpa memperdulikan kakinya yang sakit.

Dengan penerangan yang seadanya Hinata terus berjalan memasuki Gua tersebut. Tanpa sadar ia telah berjalan sampai pada bagian terujung Gua.

"Eh apa itu?" matanya memandang lurus pada dinding Gua yang berisikan relief. Berbeda dengan dinding - dinding Gua yang sebelumya ia lewati tadi paling - paling hanya ditumbuhi lumut, bukannya relief seperti ini.

Penasaran, Hinata pun mendekati dinding Gua yang berukir tersebut.

Dinding Gua tersebut berukirkan gambar seekor rubah dengan ekor sembilan. Dahi Hinata sedikit mengerut, kemudian ia menggumam pelan "Yang benar saja. Mana ada rubah yang seperti ini."

Di samping ukiran rubah tadi pun terdapat ukiran lainnya yang tak dimengerti Hinata. Sampai pada akhirnya ia menemukan ukiran yang jika dilihat sekilas mirip rangkaian huruf . Benar saja ukiran - ukiran tadi memang rangkaian huruf yang tersusun menjadii rangkaian kata yang membentuk kalimat dengan beberapa gambar tangan yang membentuk segel di dekatnya.

Iseng, Hinata pun membaca rangkaian kalimat tadi dan menirukan gerakan tangan yang tergambar di dinding Gua tadi. Awalnya ia hanya membaca tanpa menirukan gambar segel tersebut, tapi setelah berulang - ulang membaca kalimat tadi. Hinata pun menirukan gerakan tangan yang tergambar di dinding Gua tadi. Hinata terus melakukannya sampai dia hafal semuanya.

Hinata menyenderkan tubuhnya saat ia selesai embaca kalimat tadi. "Lelahnya~." ia menyeka keringat yang turun dari pelipisnya.

BRUUK

Tiba - Tiba runagan di sekitarnya bergoyang dan menimbulkan sedikit reruntuhan.

hinata segera bankit dan melihat keadaan sekitarnya dengan pandangan bingung bercampur takut. "A-apa yang terjadi?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Semakin lama guncangannya semakin hebat, dan Hinata semakin ketakutan. keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Sungguh.. ia tak ingin hidupnya berakhir disini, akhirnya ia hnya bisa memejamkan matanya dan berharap akan ada yang menolongnya.

Sebuah cahaya putih tiba - tiba menyeruak masuk ke dalam ruangan. Hinata pun segera menyilangkan lengannya di depan wajahnya dan beberapa detik kemudian tubuh Hinata limbung dan ia pun kehilangan kesadarannya.

.

.

.

.

My Boyfriend Is A Nine Tailed Fox

Jauh di dalam sebuah tempat di sana. Seorang pemuda setengah rubah memandang jeruji sangkarnya dengan pandangan bosan, sesekali ia melirik langit - langit ruangan tempatnya berpijak. Ia menghela nafas gusar.

"Kapan aku akan keluar dari sini?" ia mengeluarkan pertanyaan retoris yang ia sendiri pun tak mampu menjawabnya.

Ia kembali menerawang dan menggumam pelan. "Jika dia seorang laki - laki aku akan menjadikannya saudaraku, dan jika dia perempuan aku akan menjadikannya sebagai kekasihku."

Bagaimana jika seekor binatang?

"Tentu saja, aku akan menjadikannya peliharaanku, mana mungkin aku menjadikannya..."

Bukankah kau juga sama seperti mereka?

"Enak saja, aku berbeda dari hewan - hewan bodoh itu. Aku ini Kyuubi! Siluman rubah ekor sembilan!"

Eh? Apa bedanya?

"Berhentilah bertanya inner sialan!"

Braaakk

"Eh.." Si pemuda rubah ini menoleh ke asal suara tapi ia tak menemukan siapa pun. Tentu saja ia tak kan menemukan orang lain selain dirinya sendiri.

Braaaakk

Suara tadi kembali terdengar. Si pemuda kembali menggerakan kepalanya, tapi... Lagi - lagi ia tak menemukan apapun, akhirnya ia pun mengabaikan suara - suara tadi.

Tiba - tiba ruangan di sekitarnya bergoyang. Lamat lamat ia bisa mendengar suara seorang gadis yang melatunkan kalimat mantra pelepas segelnya.

"Ah!" Pemuda ini tersenyum lebar. "Jangan - jangan.." ia tak melanjutkan kalimatnya ketika ruangan di sekitarnya mulai runtuh.

Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ada cahaya putih yang membelah langit - langit ruangan ini.

"Yeah! Haha." Si pemuda bersorak gembira, segelnya terlepas dan dengan ini pun ia terbebas dari segel terkutuk yang telah mengurungnya selama 1000 tahun.

Tak ingin membuang waktu. Si pemuda rubah ini segera melompat keluar dari tempat ini. Bersamaan dengan itu, ruangan suram ini pun lenyap.

.

.

.

.

Haap!

Asap putih menyelimuti gua yang berubah menjadi sebuah pendopo kecil, entah bagaimana caranya gua tadi berubah menjadi pendopo.

Sedikit demi sedikit asap tebal tadi mulai menipis dan menampakkan seorang pemuda yang sangat tampan dengan pakaian serba putihnya yang membuat ia terlihat seperti malaikat. Dengan rambut pirang jabrik dan kulit tannya yang eksotis, bola mata biru laut serta tiga goresan di pipinya menambah kesan mempesona pada si pemuda. Tahukah kalian jika pemuda tampan ini ialah jelmaan dari siluman rubah tadi. Entah, kemana perginya telinga rubah dan ekornya yang panjang.

Ia melihat ke sekelilingnya, kemudian ia bersorak sambil sesekali melompat. "Yeahh..! aku bebas hahaha". ia kembali memasang cengirannya. Tiba tiba ia melihat seorang gadis yang terkulai di bawah., ia pun mulai mendekati gadis tadi dan berjongkok di sampingnya. "Gadis yang manis," gumamnya pelan.

Tangannya yang berwarna kecoklatan terulur, dengan sangat perlahan ia membelai pipi gadis itu kemudian beralih pada helaian rambut indigonya. Ia tersenyum lembut pada gadis tersebut. "Terima kasih nona, aku berhutang banyak pada mu."

.

.

.

.

My Boyfriend Is A Nine Tailed Fox

Bus yang ditumpangi Ten Ten terus melaju. Tak terasa mereka sudah hampir sampai di sekolah.

Ten Ten sedikit menggeliat saat ia merasa terbangun, kemudian ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menguap kecil. Ia kembali menggeliat dan tanpa sengaja tangannya meraba kursi penumpang di sebelahnya.

Kosong.

Ten Ten segera bangkit dan kembali menatap kursi penumpang tersebut.

Benar-benar kosong.

Ia kembali menggosok-gosokan matanya, tapi tetap saja bangku itu kosong.

Jangan - jangan Hinata..

Jangan katakan kalau dia..

Panik. Itulah satu kata yang tergambar dalam benak Ten Ten, tak menyangka kalau secara tak ia sengaja telah meninggalkan Hinata disana sendirian.

Di tengah kawasan perkemahan yang dekat dengan hutan.

Apa yang harus ku lakukan?

Langsung saja ia mengangkat tangannya dan berdiri. "Pak Guru Hatake!" Teriaknya

Guru pembimbing mereka. Kakashi Hatake, bingung dengan tingkah muridnya yang tiba - tiba berteriak dan memanggil namanya.

"Ada apa nona Yan?" Kakashi bertanya pada muridnya yang bermarga Yan tersebut.

Bukan hanya guru mereka saja yang memandangnya heran, para murid yang lain pun sama herannya.

"Kita harus kembali ke perkemahan Pak Guru Hatake!" seru Ten Ten panik.

Guru yang bermarga Hatake ini, mengerutkan dahinya. "Kenapa?" tanyanya kemudian.

Ten Ten semakin terlihat gelisah. "Hinata... Di-dia.." ia mulai menggigit ujung jari kukunya.

"Ya? Ada apa dengan nona Hyuuga?" Kakashi bertanya dengan tenang. Berharap muridnya ini bisa menenangkan dirinya.

"Di-dia, masih disana. Dia tertinggal disana!" Ten Ten semakin tak karuan ia terus saja menggit ujung kukunya.

"APAAAA!" Para murid langsung menolehkan kepala mereka pada Ten Ten, dan berteriak secara dramatis.

TBC..

Bagaimana cukup menghiburkah?

Buat pemanasan saya bkin segini aja dulu, sekalian mau tau pendapat dari para pembaca sekalian. Sekalian numbuhin inspirasi dulu hehe... *tanemaaaan kaleee*

Padahal kemaren sempet kepikiran buat ngikutin versi aslinya jadi gini nih

Hinata = mi ho

Naruto = dae wong

Neji = dong jo

Sakura = hye in

Terus bla bla bla bla *ditampol* tapi gak jadi karna ribet hahaha..

Hehe sekian dari saya, silahkan tuangkan *emangnya aer* pendapat anda melalui review. . .

R

E

V

I

I

E

w

Pleasee...

Salam 5 jari :D