My Boyfriend is a Nine Tailed Fox

Previous in My Boyfriend is a Nine Tailed Fox

"Kau harus ingat statusmu saat ini. Kau itu kekasihku, jadi... kau tak boleh terikat pada pemuda, selain aku."

"T-tapi, itu hanya pengakuan sepihak!" Hinata tak mau kalah, bahkan ia tanpa ragu menunjuk wajah Naruto.

"Awalnya memang iya, tapi lihat saja. Kau pasti akan mengakuinya juga."

Hinata tak lagi menggubris perkataan Naruto. Lebih tepat jika dikatakan, ia mengabaikan pemuda itu.

"Suatu saat nanti. Aku pasti bisa membuatmu menyukaiku!"

"Lihat saja."

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Author : kiriko mahaera

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance.

Warning : AU (scholl-life), OOC, Typo, Misstypo, etc.

Don't like? Don't read!

Based on Korean Drama My Girlfriend is A Nine Tailed Fox.

Summary: Ini bukan akhir, justru ini awal dari sebuah cerita. Bagaimana apakah kalian siap? Naruto, Hinata.?


Tap

Tap

Tap...

Gesekan-gesekan yang tercipta antara alas sepatu dan aspal jalanan terdengar jelas. Merasuk sempurna ke dalam setiap inchi maupun organ pendengaran si pemilik langkah. Dengan wajah gelisah ia semakin menapakkan kakinya cepat, cepat dan semakin cepat.

Dalam hati, ia terus merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa, ia melupakan dompetnya tertinggal begitu saja di rumah sahabatnya. Ia baru menyadarinya saat akan memasukan uang koin ke dalam kotak bis.

Haaah... memalukan! Ia sempat dimarahi sang kondektur karena tak kunjung mengeluarkan koinnya. Terpaksa, ia pun turun dengan wajah memerah karena malu. Belum lagi tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padanya.

Bodooohh!

Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba untuk tak mengingat hal yang sangat memalukan baginya. Tapi, seberapa banyak frekuensi gelengan kepalanya. Bayangan itu akan muncul dan terus muncul menggelayuti benaknya. Tentu saja, kejadian itu baru terjadi beberapa menit yang lalu.

Kesialannya tidak hanya berujung di sana. Saat ia akan menelpon orang rumah, baterai ponselnya justru habis.

Oh sial! Kembali ke rumah Ino? Itu sama saja membuang waktu. Dengan berat hati, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki. Coba saja, jika ia mengiyakan ajakan Sakura untuk pulang bersama. Tapi sudahlah, untuk apa menyesali yang sudah terjadi. Lebih baik ia segera sampai di rumah sebelum malam. Untunglah ia tahu jalan pintas menuju rumahnya.

Karena alasan itulah Hinata berada di jalanan sepi ini. Jingga senja yang menyala terang kini mulai meredup bersama kelam biru, membiaskan ungu dan merah muda yang terbentuk karenanya. Hinata mengerling gelisah pada jam tangan biru yang membalut pergelangan tangan miliknya.

"Aku harus cepat!" gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri yang kini setengah ketakutan.

Hinata semakin mempercepat laju langkahnya, tak hanya melangkah ia pun mulai berlari - lari kecil.

Bruuuk!

"Aauw! S-sakit!" rintihan kesakitan keluar begitu kakinya secara tak sengaja menubruk sesuatu yang menghalangi jalannya.

Dengan posisi dagu yang menyentuh tanah, ia terus merintih. Perih yang terasa pada lututnya, membuat Hinata sulit bergerak.

Kali ini, ia mencoba meredam kesakitannya dengan menggigit bibir bawahnya. Susah payah ia mencoba bangkit dari posisinya, alhasil ia hanya mampu terduduk di sana.

Mata keperakan gadis itu menatap nanar pada lututnya yang kini mengeluarkan merah pekat. Butiran-butiran pasir nampak berserakan di sekitar luka memarnya, menimbulkan rasa sakit dan perih di saat yang bersamaan.

Hinata menghela nafasnya, mencoba berfikir jernih. Setidaknya ia tak boleh menangis. Terus ia ucapkan kata-kata penyemangat di dalam hati dan bergumam kalau ia baik-baik saja.

Apanya yang baik kalau sudah seperti ini. Lihatlah gadis itu, betapa menyedihkannya ia dengan kesialannya.

Isakan lirih pun terlantunkan begitu saja dari bibir merahnya yang bergetar hebat diiringi bulir-bulir bening yang meluncur bebas di pipi porselennya. Sejujurnya ia takut, bahkan sangat takut. Hari sudah semakin menggelap, dan ia masih berada di tempat ini. Di sebuah jalanan sepi nan gelap dan lagi, ia terluka. Bagaimana jika ada orang jahat? Tentunya ia takkan bisa berbuat apa-apa.

Sekarang lihat! Bagaimana ia bisa pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini. Seandainya saja ponselnya tidak kehabisan baterai, seandainya ia tak terjatuh, seandainya ia memenuhi ajakan Sakura, seandainya dompetnya tak tertinggal di rumah Ino. Seandainya, seandainya, seandainya. Seandainya ada Bigbang di sini. Baiklah yang ini tidak konstan.

Kenapa disaat seperti ini hanya kata seandainya yang terlintas, kenapa bukan kata seharusnya? Hei! Itu sama saja.

"Siapa di sana?" Sebuah suara khas anak laki - laki berhasil membuat Hinata menghentikan tangisnya, tenggorokannya tercekat. Mungkinkah itu Malaikat penolong yang dikirimkan untuknya atau... justru sebaliknya.

Derap langkah kaki kian terdengar semakin jelas di telinga Hinata. Samar - samar ia bisa melihat sesosok siluet pemuda tinggi mendekatinya. Sosok itu semakin dekat, sekarang Hinata tahu siapa sosok tadi.

"Hinata! Kenapa kau ada di sini? Astaga! Kau terluka!" Pemuda berambut coklat itu memekik histeris saat tahu siapa yang ada di hadapannya sekarang. Segera pemuda itu berjongkok di depan Hinata.

"Engh... Ki-kiba," lirihnya tak percaya saat mengetahui sosok siluet tadi. Kiba, salah satu temannya di sekolah.

"Kau bisa berdiri?" tanya Kiba lembut pada Hinata.

Tak ingin terlihat menyedihkan, Hinata pun mengangkat paksa tubuhnya. "A-aku... aaw!" Otak boleh memerintah tapi tetap tubuh menentukan.

Melihat Hinata limbung seperti itu. Kekhawatiran Kiba pun semakin menjadi. "Kau baik-baik saja?" Pertanyaan retoris seperti ini mana butuh jawaban. Dia tahu, gadis ini pasti tak baik.

"A-aku tak apa Kiba... aaw!" Kembali Hinata merintih saat ia lagi-lagi memaksakan tubuhnya berdiri.

"Seperti ini kau bilang baik, lalu yang tak baik seperti apa?" Kiba sudah benar - benar gemas. Cepat - cepat ia menyelipkan salah satu tangannya di lipatan kaki milik Hinata, sedangkan sebelahnya lagi merengkuh pundak Hinata. Dalam satu hentakan ia membawa tubuh mungil Hinata dalam gendongannya. Bukannya tak sopan, hanya saja ini akan mamakan waktu lama jika ia tak mangambil tindakan seperti ini.

"Ki-kiba apa yang k-kau lakukan? Tu-turunkan a-aku!" Hinata memekik terbata dalam rengkuhan pemuda bersurai coklat yang kini tengah membawa tubuhnya, aroma maskulin khas anak lelaki langsung menyeruak dalam indera penciumnya. Dalam hati ia gugup sekali, belum lagi jarak wajahnya yang errr... sangat dekat. Selama ini Hinata tak pernah terlalu dekat dengan makhluk yang dinamakan lelaki terkecuali Neji. Ini pertama kali baginya, dan lagi dalam posisi seperti ini, wajar jika pipinya mengeluarkan semburat - semburat merah. Tak hanya itu jantungnya pun berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebut saja itu istilah lain dari kata gugup.

"Lukamu harus diobati, jika kau tak mau infeksi. Kebetulan rumahku tak jauh dari sini."

Merasa perkataan Kiba ada benarnya. Hinata hanya bisa menurut saja dan membiarkan tubuhnya di bawa pemuda itu. Sesaimpanya di rumah Kiba, Hinata langsung diobati oleh Hana. Kakak perempuan Kiba yang berprofesi sebagai dokter Hewan. Selain bertemu Hana, Hinata juga bertemu dengan Nyonya besar Inuzuka yang menurutnya sangat ramah.

Kebaikan Kiba tak berakhir sampai di situ saja. Bahkan pemuda bermarga Inuzuka ini rela mengantarkannya ke rumah dengan sepeda, padahal jarak rumahnya lumayan jauh. Tapi tak apalah, sesekali olahraga malam. Sejak saat itulah kedekatan antara Hinata dan Kiba terjalin. Esoknya Hinata membuatkan bekal untuk Kiba, anggap saja itu sebagai ucapan "Terima kasih". Sesekali ia mendatangi pemuda itu di klub basketnya untuk memberikan minuman. Kiba pun sama, semenjak kejadian itu ia sering mengajak Hinata naik ke sepedanya untuk pulang bersama dan sejak saat itulah benih-benih cinta mulai bersemi di hati Hinata.

.

.

.

"Ta."

"Nata."

"HINATA!"

"Eh?" Hinata mengerjakan matanya beberapa kali sambil memutar pandangan. Hal yang pertama ia lihat ialah setumpuk buku yang tersusun rapi di sudut meja belajarnya.

Bukankah tadi ia sedang mengerjakan pekerjaan rumah? Tapi, kenapa malah melamunkan hal tadi. Sebenarnya bukan melamun, hanya memutar sedikit memorinya.

Haaah...

Demi mencari suara tadi, Hinata pun segera memutar tubuhnya dan ia mendapati Naruto yang tengah duduk di tepi ranjangnya.

"Kau mendengarkanku tidak?" Naruto sedikit menggerutu ketika ia menanyakan hal itu.

Dengan wajah polos Hinata menjawab pertanyaan Naruto sembari meletakan jari telunjuknya di bawah dagu. "Memangnya apa yang kau bicarakan?" Bagus! Bukannya menjawab, gadis itu justru balik bertanya.

Muncul tiga perempatan di kening Naruto. Kalau sudah seperti ini...

"Kau pasti sedang memikirkan pemuda itu kan?"

Selalu pertanyaan itu yang terlontar.

"T-tidak." Cepat-cepat Hinata menggelengkan kepalanya.

"Jangan bohong!" tuding Naruto, ia tahu gadis itu pasti sedang membohonginya. Lihat saja pipinya yang merah itu.

Kesal karena tak mampu menutupinya. Hinata pun kembali membalikkan tubuhnya. "A-aku tidak berbohong!" kilahnya sekali lagi.

Hening. Hinata kembali sibuk bepikir mengerjakan soal - soal yang ada di buku tugasnya dan mengabaikan Naruto begitu saja.

"Kau sedang apa?" Naruto kembali bertanya setelah sekian lama keheningan terjalin, sebenarnya itu tak lama hanya beberapa menit. Tapi hal itu cukup membuat sosok berisik macam Naruto tak nyaman, karena pada dasarnya Ia memang tidak suka suasana hening seperti tadi.

"Mengerjakan tugas," Hinata menjawab singkat tanpa mengalihkan perhatiannya pada tumpukan soal tugasnya.

"Tugas?"

"Iya, tugas sekolah."

"Sekolah itu... apa?"

Pena yang sedari tadi berada di genggaman Hinata terjatuh begitu saja tatkala telinganya mendengar pertanyaan yang berhasil membuatnya mengernyit heran. Kembali Hinata memutar tubuhnya menghadap Naruto. "K-kau tidak tau apa itu Sekolah?"

"Tidak."

Jawaban singkat dari Naruto membuat Hinata sedikit memiringkan kepalanya. "Sekolah itu... umm Ibuku dulu sering mengatakan sekolah itu tempat mencari ilmu," katanya kemudian menjelaskan.

"Ilmu? Apa yang kau maksud seperti ini." Jari telunjuk Naruto refleks bergerak pada setumpuk buku yang tersusun di meja belakang Hinata. Cahaya biru yang terpancar dari sana berhasil membuat buku-buku itu berserakan di mana-mana. Tak hanya itu, bahkan ia menarik sebuah buku dengan kontrol sihirnya dan membuat si buku melayang-layang di udara.

Sebulir peluh nampak menggantung di pelipis Hinata, ia menatap heran pada apa yang dilakukan Naruto. "Bu-bukan ilmu yang seperti itu."

Bruuk!

Buku yang sedari tadi melayang di udara tiba-tiba terjatuh begitu saja seiring dengan munculnya keheranan di wajah Naruto. "Lalu, ilmu seperti apa? Setahuku ilmu itu bisa di dapat setelah berlatih dan bertapa di gunung mboyokuzan."

Bukan hanya keringat yang menggantung di kepala Hinata, garis–garis hitam turut menyemarakannya. "I-itu namanya ilmu hitam."

"Ini bukan ilmu Hitam Hinata, lihatlah ini berwarna biru!" Naruto begitu antusias menunjukan kumpulan cakra biru yang ada di tangannya, saking bersemangatnya ia tak menyadari kumpulan cakranya semakin besar, besar, besar dan membesar

Wuush...

"Na-naruto apa yang kau lakukan!" Hinata berusaha meneriaki Naruto yang terus-terusan mengeluarkan cakranya yang menjelma sebuah pusaran angin. Kedua tangan Hinata berusaha mati-matian menahan rambutnya agar tak terbang kesana kemari. Beruntung ia tak mengenakan rok, bisa-bisa akan ada pertunjukan menarik untuk Naruto. Terima kasih celana panjang.

Lama-kelamaan pusaran angin yang dibuat Naruto berhasil menerbangkan benda-benda yang ada di sekililingnya bahkan tirai jendela ikut menari-nari karenanya.

Jauh di luar sana seorang pelayan nampak memperhatikan itu semua dengan sebuah tanda tanya besar di kepalanya.

"Apa yang terjadi? Apa Nona teringat akan kebiasaan lamanya. Memainkan tirai sebelum tidur?"

Benda-benda yang ada di sekitar kamar Hinata terus bergerak mengikuti arah pusaran angin yang terus berputar-putar. Lensa lavender itu terpejam erat menahan gerakan angin yang menderanya. Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Hinata, Naruto terlihat begitu menikmatinya.

"Hentikan Naruto!"

Ajaib. Seperti apa yang diperintahkan Hinata, Naruto langsung menghentikan segala kegiatan mengacaunya dan itu berhasil membuat beberapa benda jatuh serta menimbulkan suara berdebum, beruntung ia menyisipkan sihir agar kamar Hinata kedap suara. Jadi tak perlu khawatir dengan apa yang akan dilakukannya.

Tarik kembali kalimat terakhir tadi, untuk saat ini kekhawatirannya berada dalam tingkat teratas. Naruto tersenyum canggung saat sudut matanya menemukan aura yang bisa membunuhnya kapan saja. Meskipun yakin Hinata tak memiliki kekuatan untuk membunuhnya tapi, aura gelap gadis itu lebih menakutkan daripada apapun.

"Err... aku, bisa menyelesaikan kekacauan ini." Tangan tannya menyusup di helai-helai rambut pirang miliknya, menyalurkan kegugupan atau lebih tepat jika dikatakan ketakutannya.

Glek

Salivanya tertelan begitu saja terlebih saat iris birunya menangkap wajah kacau plus kesal milik Hinata Hyuuga. Siapa yang tidak takut jika ditatap seorang gadis berpenampilan err... menyeramkan. Rambut acak - acakan, sorot mata tajam dan lagi auranya kelam.

Buru-buru Naruto memainkan sihirnya. Gotcha dalam hitungan detik, benda-benda yang ada di sana kembali melayang-layang. Bergerak sendiri menuju tempat asalnya masing-masing. Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk menyelesaikannya, tinggal memainkan sedikit sihirnya saja. Semuanya pasti selesai.

"Aku hebat kan!" Naruto berseru penuh percaya diri, seusai membereskan kekacauan tadi. Matanya sedikit menyipit dikarenakan cengirannya tak lupa ia mengacungkan ibu jarinya.

"Kembali ke tempatmu!"

Jleb!

Hancur sudah kepercayaan diri yang sudah susah payah dibangun, meninggalkan serpihan ketakutan yang berserakan di mana-mana. Tak perlu menunggu lama, Naruto kembali memainkan kebolehannya sebelum ia benar-benar menghilang. Raut wajahnya sangat konyol, ck.

"Haaah." Hinata memegangi kepalanya yang terasa pening, jemarinya bergerak lembut membuat gerakan yang sekiranya mampu menghilangkan rasa pening tadi. Sebenarnya ia tak bermaksud mengusir Naruto, hanya saja ia ingin mengerjakan tugasnya dengan tenang. Bicara tentang pengusiran, memangnya ada tempat bagi Naruto selain tempat ehem kekasihnya berada. Bukankah ini Dunia baru bagi Naruto, lalu di mana ia tinggal selama ini. Mungkinkah kamar Hinata? Ayolah bukankah itu terlalu errr... ekstrim, mengingat dua orang berbeda jenis kelamin tinggal bersama di dalam suatu ruangan. Untunglah kediaman milik orang tua Hinata ini cukup luas dan memiliki banyak tempat serta ruangan, salah satunya gudang tua yang kini disulap menjadi sebuah ruangan yang nyaman. Tak perlu khawatir takut ketahuan karena ruangan ini terletak di sudut area, dan tentunya lumayan jauh dari bangunan utama. Tak hanya itu tempat inipun sudah lama tak terpakai.

.

.

.

"Ya! Hajar! Kiri, kanan! Wow tembak!" Beberapa siswa menolehkan kepalanya pada sosok gadis mandarin yang kelihatannya tengah sibuk dengan sebuah benda persegi panjang, jemari lentiknya menari-nari lincah di atas tombol yang mengapit layar besar di tengahnya. Di sebelahnya terdapat dua gadis yang memiliki perbedaan yang sangat kontras, nampak sibuk dengan kegiatan diskusinya.

"Setelah itu angka ini harus dibagi dengan yang ini, maka kita akan mendapatkan persamaannya."

"Oh."

"Pagi semua!" Satu lagi, seorang gadis yang terlihat bagaikan replika boneka barbie datang menyapa dengan binar di wajahnya, rambut pirangnya sedikit terayun ketika tangannya menapak permukaan meja yang ada di depannya.

"Pagi, ino." Hinata membalas lembut dengan rona manis di wajahnya.

"Pagi, pig." Kali ini Sakura membalas sapaan gadis barbie itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku tugas miliknya.

"Sial! Aku kalah...menyebalkan!" Berbeda dengan dua sahabatnya Tenten justru mengeluh sebal, dan itu berhasil membuat Ino mengernyit heran.

"Hei, kau belum menjawab sapaanku."

"He apa! Ah ya, selamat pagi." Karena masih kesal akan permainannya yang kalah gadis mandarin inipun menjawab agak malas-malasan.

"Apa yang sedang kalian kerjakan?" Ino kembali mengalihkan perhatiannya pada Sakura dan Hinata yang sibuk berdiskusi.

"Hanya tugas dari Pak guru Hatake."

Mandengar jawaban dari Sakura, lantas Ino pun mengannguk pelan sambil menggumamkan kata "Oh."

"Tugas?" Tenten yang sedari tadi terlihat tak ikut berdiskusi tiba-tiba saja ikut bersuara.

" Tugas, tugas, tugas... dari Pak guru Hatake?" Bibirnya terus merapal, seperti sedang menghapal mantra sembari otaknya menggali sebuah memori dalam benaknya. Sakura, Ino dan Hinata saling melempar pandangan bertanya yang dibalas endikkan bahu masing-masing.

Mata hazel khas gadis mandarin ini segera membulat ketika alarm peringatannya memberi sebuah sinyal. "Apa! Tugas? Aku belum mengerjakannya!"

.

.

.

"Kau lihat, kakak yang itu?"

"Gyaaa! Tampan"

"Mana? Mana?"

"Dia memang tampan."

Kumpulan gadis-gadis remaja berseragam SMP ini sibuk berbisik-bisik sambil menjerit histeris ketika sesosok pemuda berambut pirang melintas di hadapan mereka dengan pakaian serba putih yang membuatnya terlihat seperti malaikat. Padahal ini masih jam sekolah, tapi entah bagaimana bisa para gadis ini berada di depan sebuah etalase toko busana.

"Apa dia benar-benar manusia?" Salah satu diantara mereka kembali bersuara sembari meletakan jari telunjuknya di dagu.

"Dia pasti malaikat." Si rambut coklat panjang menyeletuk begitu saja, tatapan matanya tetap terarah pada sosok si pemuda.

"Bagaimana kalau ternyata dia seorang penyihir?" Dan pertanyaan ini sukses membuat dua gadis lain yang tadinya sibuk memperhatikan sosok tampan di sana menolehkan kepalanya secara bersamaan gadis yang bersuara tadi.

"Mana mungkin ada penyihir setampan itu?"

"Harry potter?"

"itu hanya fiksi, bodoh!"

"Hei hei lihat! Dia berjalan kemari!"

Ketiganya refleks membetulkan penampilannya secara otomatis, jemari mereka bergerak menyisiri helai halus rambut masing-masing, tak lupa mereka pun membetulkan seragam SMP yang membalut tubuh masing-masing. Dasar remaja!

"Hai!" Sosok pemuda tadi atau sebut saja Naruto datang menghampiri dan langsung menyapa ketiganya dengan senyum lebar yang secara tidak langsung membuat ketiga gadis tadi menjerit dalam hati.

GYAAAAAA!

Senyumannya aaa manisnyaa!

"Engh, ha-hai…" Entah disengaja atau tidak, secara tidak langsung mereka menunjukan gesture tubuh yang dibilang hampir sama saat membalas sapaan tadi. Yah mungkin sindrom gugup tengah melanda tiga gadis remaja ini. Lihat saja pipi yang merona merah, tatapan mata yang begitu sayu serta keringat dingin yang mengalir dari pelipis masing-masing dan lagi…

"Kau baik-baik saja?" Melihat seorang gadis kecil yang hampir saja kehilangan keseimbangannya, buru-buru Naruto menengadahkan tanganya untuk menggapai tubuh gadis tadi. Tapi, belum sempat tubuh gadis berambut hitam sebahu itu masuk ke dalam rengkuhan Naruto, kedunya langsung menahan tubuh si gadis. Sepertinya mereka tak rela jika temannya disentuh oleh pemuda tampan. Tak rela bukan berarti mereka friend complex, hanya saja akan sangat sayang sekali jika seorang pemuda tampan merengkuh tubuh temannya yang satu itu.

Lebih baik, aku saja yang terjatuh ke dalam pelukan kakak itu.

Jika aku tak bisa menyentuh kakak tampan ini, maka tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya.

Tanpa sepengetahuan Naruto gadis berambut hitam ini mengerucutkan bibirnya pertanda ia tak suka bahkan sempat-sempatnya ia memberikan tatapan membunuh pada kedua temannya yang dibalas siulan kecil, selang beberapa detik kemudian ia kembali memasang pose seorang gadis manis. "A-aku tak apa," jawabnya dengan disertai senyum kecil miliknya.

Mendapat respon demikian, Naruto pun kembali tersenyum lebar pada ketiganya. "Oya apa kalian tahu sesuatu tentang…" Ingat akan tujuan awalnya, Naruto pun memutuskan untuk bertanya pada tiga gadis ini. Siapa tahu mereka bisa memberikan informasi yang dibutuhkannya. Sebenarnya bukan sesuatu yang begitu penting, ia hanya ingin mengetahui dimana tempat yang sering Hinata katakan sebagai sekolahnya itu. Kalau saja kapasitas otak Naruto mampu menampung memori lebih banyak lagi, mungkin ia tak perlu manjelaskan secara detail tentang baju seragam Hinata atau mungkin mengenai logo sekolahnya atau bahkan ia tak perlu bertanya pada tiga gadis tadi.

Setelah mendapatkan penjelasan yang cukup, Naruto pun kembali melanjutkan pancariannya. Tapi belum ada beberapa langkah ia meninggalkan tiga remaja tadi, ketiganya serempak memanggil Naruto.

"Kakak!"

"Ya?"

"Ehm i-itu, sebenarnya untuk apa kakak menanyakan hal tadi? Apa kakak akan bersekolah disana?"

Naruto memainkan sudut bibirnya sebelum ia menjawab pertanyaan tadi dengan sebuah gelengan pelan.

"Lalu, apa kakak akan bekerja sebagai staff guru?"

Lagi-lagi Naruto menggeleng sembari tersenyum lebar.

Bingung, ketiganya pun saling berpandangan dalam hati mereka terus bertanya-tanya.

"Aku ingin menemui kekasihku."

APAAAH!

Tanpa memperdulikan raut keterkejutan tiga gadis remaja tadi, Naruto segera berlalu dengan senyum lebar yang masih setia bertengger di wajahnya.

"Ternyata dia sudah memiliki kekasih. Coret dari daftar!"

"Huum"

.

.

.

Sesosok wanita dengan balutan gaun hitam yang membalut tubuh indahnya berjalan anggun menuju sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor tempatnya kini. Kaki-kaki jenjangnya terus membawa tubuhnya hingga akhirnya ia sampai di sebuah pintu.

Krieeet

Jemari lentiknya menyentuh lembut ganggang pintu yang memiliki bentuk silinder, perlahan ia mulai memasuki ruangan tadi.

Kesan pertama yang akan terlintas di dalam benak siapapun yang melihat tempat ini ialah suram. Sebenarnya tempat ini tak begitu menyeramkan hanya saja mugkin terlalu gelap ralat tapi redup. Lihatlah betapa rapinya tempat ini dan lagi tak ada sarang laba-laba ataupun benda yang berserakan, semuanya tertata. Meskipun begitu wanita ini tak begitu menggubris keadaan di sekitarnya, mata sewarna madu miliknya hanya menatap sekilas pada tirai besar yang melindungi satu-satunya jendela yang ada di ruangan ini.

Masih dalam posisi wajah datarnya, wanita yang memiliki mata sewarna madu ini terus menatap pada sosok yang kini duduk membelakanginya.

"Ya, dia kembali."

Sebuah seringai terukir begitu saja di raut wajah si pria yang kini masih duduk membelakangi wanita yang berdiri di belakang meja kerjanya.

"Ini berita bagus. Aku yakin dia pasti akan sangat senang jika mengetahui hal ini."

To Be Continue

Akhirnya selesai juga chap limanya dan maaf ga bisa ngasih yang lebih panjang dan maaf lagi buat update yang ngareeeeet banget gomenasai minna-san #nunduk dalem-dalem

A-abisnya belakangan ini udah mulai sibuk lagi trus kemaren sempet keranjingan ama sesuatu (?) #dilempar ke jurang

Mungkin chap NH-nya kurang abisss ide mentok un T.T jadi jangan hukum saya (?)
yang nunggu scene-scene NH kayanya musti sabar deh so-soalnya aaaa ga bisa jelasin T.T maaf kalo mengecewakan dan buat next chap ga tau bakal update kapan yang jelas fict ini gabakal discontinue jadi sabar aja ^^ #ditimpuk rame-rame

oke ini balesan buat yang ga login

Arakida Amane

ini udah update, maaf lama ^^ mau RnR lagi? hehe buat romancenya sabar ya hehe

Hyuna toki

Sudah update, maaf lama ^^ mau RnR lagi?

Hina chan

Kita liat aja apakah Hinata-chan bakal suka sama Naruto-kun (?) #kan lo authornya baka! hehe makasih dan RnR mau RnR lagi, udah update maaf lama ^^

Kalo bulan bisa ngomong

Benarkah? maksih^^ ahh sepertinya di chap ini NH-nya juga kurang :( sudah update un RnR lagi?

si chan

Sama, saya juga pengen cepet-cepet tamat #plaaak! hoho saya juga pengen liat un #doubleplak!

NHL-polepel aptel

Eeeeh? ini udah update un maaf lama #ojigi hehe ketagihan? semoga ini bisa jadi obatnya ya^^ mau RnR lagi?

Hime

Yang pasti naru bakal masuk ke kamar Hinata (?) hehe buat yang itu panteng terus chap depan yaaa RnR lagi?

Guest

Haha kalo bisa sehari sekali updatenya (?) tapi apa daya otak tak sampai un, makasih dah baca mau RnR lagi?

ramdhan-kun

ini udah update maaf lama ^^

Yosh segitu dulu apa ada yang belum kebales?

makasih banyak buat yang udah baca dan review fict ini, yang fave dan alert juga (?) #kaya ada aja! huaaa makasih semua i-ini bikin saya terharu #mewek

Special thanks for

rama the darkness, Hina chan, NHL-polepel aptel, Uchiha Hime is Putri Celemoet, Si-chan, Delfiana Dei, ristia15, Kanozo Egao, Gyurin kim, Kalo bulan bisa ngomong, Natsu Hiru Chan, namikaze nakato, Baek Dong Syu, Hyuna Toki, Arakida amane, Syeren, Kajuji ito, Hyoka Hinaru, Hime, Sitinazuratul1 dan buat kamu yang lagi mantengin layar gadget-nya (?)

Yosh sampai ketemu di chap selanjutnya salam 5 jari :D