DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: And at last, it reach the end! \(^o^)/

Yah, setelah sebelumnya saya merampungkan 'Hurt?', kali ini giliran fic ini yang akhirnya mencapai chapter terakhir! If you read the previous fic from my 'Ojamajo's Life Series', you'll find out what I would write in this chapter, so… let's check it out!


Hazuki's Life

.

Chapter 10 – My Nice Future


"Mama, apa kau sudah merasa baikan?"

"Kelihatannya begitu, Hazuki-chan," seorang wanita yang sudah mulai menua menjawab, "Maafkan mama ya, gara-gara mama sakit, kau jadi tidak bisa menemani Masaru ke Korea Selatan."

"Daijoubu yo, mama. Masaru-kun juga mengerti kok, kalau sekarang mama membutuhkanku berada di samping mama."

"Syukurlah kalau dia mengerti. Mama benar-benar merasa bersalah telah membuatmu tidak bisa ikut kesana dengannya."

"Mama tidak perlu merasa bersalah. Kami tidak apa-apa kok." Hazuki tersenyum, "Ini memang tugasku sebagai anak mama untuk menemani mama saat mama sedang sakit."

Hazuki sedang bersama sang mama di sebuah kamar di rumahnya. Mama Hazuki sedang sakit, jadi Hazuki tidak bisa menemani Yada Masaru, tunangannya yang akan tampil di festival musik jazz dunia yang akan berlangsung di Korea Selatan.

Setelah beberapa lama mereka berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara bel pintu depan berbunyi.

'Siapa ya?' pikir Hazuki yang kemudian berkata kepada mamanya sebelum ia keluar dari kamar itu untuk menyambut sang tamu, "Mama, biar kulihat dulu siapa yang datang."

Hazuki lalu bergegas menuju pintu depan. Ternyata Doremi yang datang.

"Ah, Doremi-chan? Kenapa kau datang kemari? Bukannya pertandingan sepak bola akan mulai beberapa menit lagi? Kenapa kau tidak cepat-cepat ke stadion?"

"Justru itu, Hazuki-chan. Aku lupa menyampaikan sesuatu untukmu, makanya aku sempatkan untuk datang kesini dulu sebelum ke stadion," jawab Doremi, "Kemarin, Ai-chan berkata padaku bahwa ia akan datang ke rumahmu sore ini."

"Eh? Benarkah?"

"Iya. Rencananya sih, dia ingin mengadakan pesta takoyaki di rumahmu, tapi kelihatannya, rencana itu tidak akan jadi dilakukan."

"Kenapa?"

"Apa masuk akal kalau pesta takoyaki hanya dihadiri oleh dua orang?"

"Ya… memang tidak sih."

"Ah, sudah dulu ya, Hazuki-chan. Aku harus ke stadion sekarang. Sampaikan saja salamku untuk mamamu. Katakan padanya 'semoga cepat sembuh'."

"Akan kusampaikan," ujar Hazuki, "Aku juga titip salam untuk Kotake-kun ya? Katakan padanya 'jangan main curang'."

"Oke!" Doremi mengedipkan matanya, "Bye bye, Hazuki-chan!"

"Bye bye!"

.

Aiko pun datang tak lama setelah Doremi meninggalkan rumah Hazuki.

"Ah, Ai-chan, selamat datang!" sambut Hazuki, "Aku senang, kau menyempatkan diri untuk datang ke Misora lagi."

"Yah, tadinya aku ingin mengadakan pesta takoyaki di rumahmu. Kupikir, Doremi-chan bisa datang kemari juga hari ini, tapi ternyata, dia harus memberikan dukungan kepada Kotake."

"Memangnya kenapa, Ai-chan? Kita kan bisa mengadakan pesta itu berdua."

"Iya, tapi akan jadi aneh rasanya. Tidak akan seru kalau hanya berdua," jawab Aiko.

"Benar juga ya?" sahut Hazuki, "Oh iya, Ai-chan, aku ingin menanyakan satu hal padamu."

"Apa itu, Hazuki-chan?"

"Dulu kaubilang, kau hanya ingin membuka kedai takoyaki saja, tapi sekarang, kenapa kau malah jadi atlet juga?"

"Memangnya kenapa? Kejuaraan atletik juga terdengar mengasyikkan buatku, jadi pada akhirnya, aku juga ingin menjadi atlet, dan keinginanku tercapai. Tidak ada yang salah kan?"

"Yah, kupikir kau benar."

"Sekarang, apa boleh aku menanyakan satu hal padamu, Hazuki-chan?"

"Tentu saja boleh, Ai-chan. Ada apa?"

"Kemarin, aku berbincang-bincang sedikit dengan Doremi-chan lewat telepon, dan dia bilang padaku kalau kau tertarik untuk menjadi composer juga. Apa itu benar?"

"Hng… bagaimana menjelaskannya, ya? Yang pasti, aku mulai memikirkan hal itu saat aku teringat akan lagu yang waktu itu kubuat untuk kita semua mainkan di klub musik di kelas enam dulu."

"Maksudmu… 'Friends'?" tanya Aiko, "Menurutku, itu lagu yang sangat bermakna. Lagu itu mencerminkan persahabatan kita semua: kau, aku, Doremi-chan, Onpu-chan dan Momo-chan."

"Jangan lupakan Hana-chan, Ai-chan," sahut Hazuki, "Dia juga ikut ambil bagian di lagu itu, meskipun dia tidak memainkan instrumen musik apa-apa dalam lagu tersebut."

"Baiklah, yang penting maksudnya persahabatan kita semua." Aiko menghela napas, "Kalau aku mengingat lagu itu, aku pasti langsung teringat dengan kalian semua."

"Aku juga begitu." Hazuki tersenyum, "Selain itu, saat aku memikirkan lagu itu, aku menyadari bahwa… kelihatannya, aku juga berbakat menjadi composer."

"Begitu ya?"

Hazuki mengangguk, "Karena itulah, sekarang aku sedang berusaha keras untuk mewujudkannya. Doakan aku ya, Ai-chan."

"Kau tidak perlu memintanya, Hazuki-chan. Aku pasti akan mendoakanmu, karena kau adalah salah satu dari sahabat terbaikku."

"Arigatou, Ai-chan."

"Bicara tentang persahabatan kita semua, aku jadi teringat sesuatu. Apa kau tetap bisa berkomunikasi dengan yang lainnya? Kau kan sibuk sekali sebagai seorang violinist profesional."

"Entahlah. Tidak semuanya bisa benar-benar aku hubungi," jawab Hazuki, "Doremi-chan dan aku sama-sama bekerja di bidang musik, dan terkadang, kami ikut terlibat dalam sebuah pertunjukan bersama, sedangkan… aku tidak punya waktu sama sekali untuk menghubungi Momo-chan."

"Memangnya, kau tidak menerima surat darinya?"

"Aku menerima surat itu, dan aku juga membalasnya, Ai-chan. Yang kumaksud adalah hubungan komunikasi selain lewat surat itu dan balasannya yang telah kukirimkan."

"Kupikir kau tidak sempat membalasnya…"

"Aku sempat membalasnya, walau agak terlambat."

"Bagaimana dengan Onpu-chan?" tanya Aiko lagi, "Kudengar, akhirnya dia bisa memulai debutnya di Hollywood."

"Entahlah. Aku hanya bisa mengetahui hal itu dari berita di koran dan televisi." Hazuki menggeleng.

Mereka terus berbincang-bincang sampai kemudian bel pintu berbunyi lagi.

Selama beberapa menit, percakapan itu terhenti, sampai akhirnya Hazuki kembali dengan memegang sebuah amplop.

"Ternyata hanya kiriman surat?" ujar Aiko, "Apa Momo-chan membalas balik surat balasanmu?"

"Tidak, Ai-chan. Ini bukan dari Momo-chan," sahut Hazuki, "Ini dari Onpu-chan. Dia memang sedang berada di Hollywood."

"Dia panjang umur. Baru saja kita membicarakan tentangnya…"

"Aku penasaran tentang apa yang dikirimkannya. Kelihatannya, ini bukan surat biasa." Hazuki kemudian merobek salah satu sisi amplop yang dibawanya lalu mengeluarkan isi amplop itu…


Catatan Author: Dan, inilah ending yang berbeda dari biasanya! (biasanya kan nggak menggantung banget kayak gini…)

Buat yang mau tahu apa isi amplop itu, mungkin harus sabar menunggu sampai nanti saya mulai menulis 'Onpu's Life'. Di chapter terakhirnya, saya akan menguak isi dari amplop yang didapat Hazuki tadi. Pokoknya pantengin terus ya?

Selanjutnya, saya akan mulai mempublish 'Onpu's Life', yang juga akan menjadi fic terakhir di 'Ojamajo's Life Series'. Ditunggu aja ya?