Diharapkan kepada pembaca, silahkan membaca ulang dari chapter 1. Penulisan sudah diperbaiki menjadi lebih rapi dan bagus. Terimakasih sebelumnya

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

CHAPTER 5

Gaara mulai menggesek-gesekkan batang kemaluannya pada vagina Naru. Naru meremas bantal yang ada di depannya saat batang penis Gaara mendorong liang vaginanya. Semakin lama bibir Naru semakin merekah terbuka, wajahnya mengernyit menahan desakan kuat yang amat menyakitkan. Kepala penis Gaara terus menggali dan menggali kedalaman otot vagina Naru. Gaara membasuh ujung penisnya dengan lelehan cairan vagina Naru kemudian kembali berusaha menusuk vagina Naru yang terasa sangat sempit.

"Shit… hhh "

Gaara mengerang menikmati tusukannya pada vagina gadis cantik yang kini menungging di depannya.

"AHHKKH….!"

Suara jeritan Naru melengking ketika ujung penis Gaara merobeki liang vaginanya yang kecil mungil.

Seiring dengan masuknya batang besar itu selangkangan Gaara semakin merapat hingga akhirnya selangkangannya mendesak pantat Naru yang empuk-lembut. Gaara menarik batang penisnya hingga sebatas leher penis saja yang tersangkut dijepit otot vagina Naru. Mata Naru membelalak ketika Gaara menjejalkan batang penisnya semakin dalam dan mulai bergerak maju mundur.

"Ahh Gaara….kumohon.. pelan-pelaaan….hh"

Gaara meremas pantat Naru dengan gemas, desahannya.. setiap kata yang keluar dari dalam bibir Naru membuat Gaara semakin gila dan tidak tahan.. Setelah puas meremas buah pantat gadis kesayangannya, kini Gaara kembali menusukkan batang penisnya yang besar pada liang vagina Naru yang mulai memar kemerahan akibat dihajar oleh kemaluan Gaara.

"Akhh. . Gaara.. kau.. kasarr sekali… mhhhh"

Naru mengeluh karena merasakan kesakitan pada vaginanya, Gaara tidak berhenti menusuki alat kelaminnya yang sempit. Keringat membasahi dada Gaara, setelah puas menyetubuhi Naru dari belakang kini Gaara membalikkan tubuh Naru sehingga terlentang di bawahnya

"Aku tidak bisa berlaku lembut selagi bercinta denganmu, kau membuatku sangat bergairah" seringai Gaara.

Telapak tangannya mengusap mengusap peluh dileher gadis cantik itu, jemari Gaara merayap perlahan kebawah meraba permukaan vagina gadis itu.

"Emmmh…. "

"Kau menyukainya cantik?"

" emmhhh ….."

Naru hanya bisa mendesah tertahan, Wajah Naru terangkat keatas, kedua matanya terpejam-pejam keenakan. Naru menundukkan wajahnya, ia meremas rambut merah Gaara. Mata Naru memperhatikan Gaara yang tengah asik menjilati belahan vaginanya sementara telapak tangan Gaara tidak pernah bosan untuk merayapi kemulusan paha Naru.

"Mau mencoba menjilat punyaku?" Gaara bertanya sambil membalas tatapan Naru.

Wajah Naru kembali memerah, seumur hidupnya dia belum pernah menjilat kemaluan laki-laki. Naru menggigit bibirnya dengan malu-malu. Naru ingin bilang tidak, tapi hari Naru penasaran ingin tahu bagaimana rasanya mengulum penis Gaara. Selama ini Naru hanya sering melihat adegan tersebut dalam film bokep.

Masa bodoh

Gaara betul-betul membuatnya kehilangan moral jika bersamanya. Naru berlutut dihadapan selangkangan Gaara, kini posisipun berganti, Gaara kini terlentang di ranjang, ia menyodorkan batang kemaluannya ke hadapan wajah Naru yang berlutut diselangkangannya, telapak tangan Naru mengelusi batang kemaluan Gaara, lidah Naru terjulur menjilati batang kemaluannya, mulai dari biji kemaluan, merambat naik keatas ke arah kepala penis.

"Ahh Naru…" Desah Gaara nikmat,tangannya mengelusi rambut pirang Naru.

"Emmh.. hhhh mm" Naru ikut mendesah

"Buka mulutmu cantik, isap dengan bibirmu." Gaara mencelupkan kepala kemaluannya kedalam rongga mulut Naru.

"hummmffhh"
Gaara mendesakkan batang kemaluannya secara bertahap. Centi demi centi, batang kemaluan Gaara semakin dalam tertancap kedalam kerongkongan Naru. Naru menggerakkan kepalanya maju mundur, Gaara membiarkannya bermain sepuas-puasnya, menjilat, mencumbu ,dan mengulum-ngulum kepala penisnya.

Tak lama kemudian Gaara kembali menindih tubuh Naru. Kaki Naru yang tertekuk mengangkang pasrah ketika disibakkan oleh Gaara, usapan dan kecupan lembut bibir semakin naik dan terus naik mulai dari betis, lutut kemudian merayapi paha bagian dalam. Sebuah suara desahan keras terdengar dari bibir Naru ketika mulut Gaara hinggap di bibir vaginanya dengan liar bibir Gaara menciumi belahan bibir vagina Naru.

"Naru… "

Berkali-kali Gaara menelan ludah, kedua mata Gaara terpejam menikmati saat ia menekankan batang penisnya menusuk masuk liang vagina Naru. Sementara kedua mata Naru membeliak saat benda besar itu terbenam semakin dalam pada rekahan liang vaginanya.

"Mmhhh…ahhhh pelan Gaara… Kumohon….."

Tubuh Naru menggeliat resah, tangannya mencengkram lengan Gaara. Gaara memajukan wajahnya ke arah Naru, diciumnya bibir merah Naru.

"Naru kau sudah pernah bercinta denganku…. Harusnya kau tahu bagaimana sifatku di tempat tidur."

Gaara kembali menyeringai tipis, kemudian menghentakkan batang besarnya berkali-kali dengan kasar dan liar.

"Arrgghhh..! Sa-sakit Gaara! Ahh… Gaara…..!"

Naru menjerit kesakitan saat penis besar milik Gaara tertancap di belahan vaginanya. Wajahnya mengernyit menahan rasa sakit dan pedih luar biasa yang mendera vaginanya, rasa sakit dan pedih semakin menggigit saat Gaara menggenjot-genjotkankan batang penisnya.

Gaara terus menusuk vagina Naru hingga batang penisnya mentok di dalam himpitan liang vagina peret itu. Gaara berkali-kali mendesak-desakkan selangkangannya pada selangkangan Naru, ia tidak mempedulikan Naru yang menggeliat kesakitan setengah mati.

"Ohhh, Gaara…. "

Tanpa sadar Naru mulai mendesah, menikmati gaya bercinta Gaara yang liar, desahannya berselingan dengan suara ringisan dan erangan keras saat penis besar itu mengaduk – ngaduk liang vaginanya.

"Aku tahu kau menikmatinya cantik..."

Naru mengernyit sambil merintih saat benda besar di selangkangan Gaara memompai belahan vaginanya dengan gerakan yang teratur.

"ohh, Gaara…ahhhh mmhhhh"

Naru semakin rajin mendesah saat rasa sakit yang mendera vaginanya mulai terkubur oleh rasa nikmat. Gairah Naru meledak dengan dahsyat, ia mengangkat - angkat vaginanya ke atas menyambut sodokan-sodokan batang penis Gaara, mulut Naru sampai tidak bisa tertutup karena terus mendesah saat batang penis Gaara menggenjot-genjot vaginanya.

Lelehan keringat yang membanjiri tubuh mereka berdua membuat persetubuhan dalam apartment Gaara semakin memanas, suara rintihan lirih disambung oleh suara rengekan-rengekan kecil Naru saat tubuhnya yang mulus terguncang hebat dihantam oleh batang penis Gaara.

"Akhhhhh…, Gaara Ja-jangan Berhentii ahh…",

Tubuh Naru bergetar-getar di bawah tindihan tubuh Gaara, telapak tangan Gaara membelai pipi gadis itu. Berkali-kali bibir Gaara mencium dan menghisap bibir mungil Naru yang merintih menahan denyut-denyut kenikmatan, nafas Naru terengah seperti orang yang habis berlari, denyutan kuat itu perlahan-lahan melemah meninggalkan jejak-jejak kenikmatan. Naru mendesis keras saat Gaara menarik penisnya hingga terlepas dari jepitan liang vaginanya. Tanpa membuang waktu Gaara membalikkan posisi tubuh Naru. Ia menarik pinggul Naru agar buah pantat gadis itu menungging.

"AArghh….!"
Kedua mata Naru membeliak, ia menjerit keras saat tubuhnya tersungkur kedepan, gadis cantik itu meringis saat merasakan sodokan-sodokan susulan dari kejantanan milik Gaara yang membuat tubuh Naru tersungkur ke depan. Batang penis Gaara merayap masuk ke dalam belahan vaginanya centi demi centi.
"Uhhh, unnhhhh…., Akhh akhhh ahhhhh"

Tubuh Naru terayun maju-mundur dengan kuat saat penis Gaara terus menumbuki vaginanya dari belakang. Gaara begitu bersemangat memacu batang penisnya , nafasnya memburu keras di sela suara pekikan-pekikan dan rengekan gadis cantik itu, belum begitu lama penis Gaara itu menggeseki belahan vagina Naru tubuh gadis itu sudah gemetar menahan sesuatu,

"Mhhh…..mhhh…"

Naru menggigit bibirnya dengan keras, berusaha menahan sesuatu yang datang dari dalam vaginanya.

Gaara tahu dengan pasti apa yang sedang dipertahankan oleh Naru, ia menghentak-hentakkan batang penisnya dengan lebih liar, dihentakkan dan disodokkannya dengan sekuat tenaga merojoki liang vagina Naru, wajahnya memerah, tubuh Naru semakin goyah dan rapuh saat rekahan vaginanya yang mungil ditumbuk berkali-kali oleh sebatang penis yang besar. Penis Gaara bergerak begitu kasar dan liar,maju-mundur menghentaki vaginanya .

"Nghhh…. Ga-Gaaraah….. ahhhh"

Naru mendesah, setengah menjerit ketika merasakan orgasme. Mulut Naru terbuka lebar ketika batang penis Gaara meluluh lantakkan benteng pertahanannya. Kejantanan Gaara menggarap vagina Naru hingga gadis itu mengalami beberapa kali kenikmatan orgasme. Telapak tangan Gaara mengusapi punggung Naru yang basah oleh butiran keringat.

"Nghh…. Gaara, aku le-lah sekali."

Naru berusaha membalikkan tubuhnya. Lututnya lemas sekali dan pandangannya mulai berkunang. Bercinta dengan Gaara membuat energinya terkuras.

"Belum Naru… aku masih belum puas."

Tangan Gaara mencengkram pinggul Naru kemudian menariknya ke arah batang penisnya yang masih mengacung keras.

"Mhh… Tolonglah Gaara, aku tidak sanggup lagi"

Naru merintih memohon kepada Gaara, tapi Gaara hanya memandanginya dengan tersenyum tipis. Naru berusaha menghindar dengan memundurkan pinggulnya ke belakang, tapi Gaara sudah terlanjur mencengkram erat pinggul Naru.

"Memohonlah sepuasmu Naru… Aku tidak akan pernah berhenti sebelum puas"

Naru menjerit saat kejantanan Gaara membelah belahan vaginanya, tanpa ampun Gaara mengamblaskan batang penisnya ke dalam belahan sempit di selangkangan Naru. Kedua tangan Gaara meremas pantat Naru, batang penisnya yang besar mengocok-ngocok belahan vagina Naru yang memar kemerahan akibat disodok – sodok dengan kasar oleh Gaara.

"Gaara… ahhh a-ampun Gaarahhh…"

Rintihan Naru membuat Gaara semakin liar mengayunkan batang penisnya. Naru hampir menangis karena kelelahan melayani nafsu Gaara dengan penis besarnya. Gaara bercinta dengannya seakan tidak pernah puas, dia terus mereguk kenikmatan dari tubuh Naru yang sudah kelelahan, Naru mendesah saat batang penis Gaara mengocoki pelan vaginanya dan kembali memekik-mekik keras saat batang penis Gaara menyentak dan menghentaki belahan vaginanya dengan brutal.

"Ngh….Naru kau sungguh menggairah-kan.."

Kedua tangan Gaara memeluk erat tubuh Naru seakan sedang berusaha meremas tubuh mulusnya,

"AkkHH..!"

Naru menjerit ketika merasakan cairah hangat menyemprot dalam vaginanyanya. Naru bisa merasakan sperma Gaara menyembur mengisi vaginanya .

Tubuh Naru lemas seketika saat Gaara melepaskan dekapannya, Naru mendesah lemah kemudian terkulai di ranjang. Gaara tersenyum ia merasa bangga berhasil meniduri Naru untuk kedua kalinya. Bahkan Sasuke bodoh itu pasti belum pernah merasakan tubuh kekasihnya sendiri.

.

.

Mmh…. Naru menggeliat kecil, sudah berapa lama dia tertidur? Naru mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sekumpulan fotonya di dinding kamar Gaara. Laki-laki itu betul-betul terobsesi padanya. Naru mengalihkan pandangannya, rasanya sangat risih melihat banyaknya foto dirinya yang tertempel di dinding kamar Gaara.

Ihhh…

Naru menggerutu pelan ketika selangkangannya terasa ngilu. Gaara memang liar di ranjang, Naru diam-diam harus mengakuinya. Naru sampai kehabisan nafas di buatnya, tapi entah kenapa rasanya nikmat sekali. Naru benci mengakuinya, tapi memang rasanya sangat nikmat. Naru belum pernah merasakan perasaan senikmat ini selain dengan Gaara.

Naru menarik selimut Gaara agar menutupi dadanya yang besar, dia sengaja memalingkan tubuhnya dari hadapan Gaara. Sebenarnya Naru malu… kemarin dia menolak Gaara mentah-mentah. Sekarang Naru malah bercinta dengannya, mengerang kenikmatan bersama Gaara.

Aah…. Aku ini munafik sekali. Naru mengutuki dirinya sendiri.

Snif..sniff… Hmm.. tercium bau kopi mengelilingi ruangan. Naru membalikkan dirinya perlahan, diliriknya Gaara yang kini berada di pantry, bau kopi itu berasal dari pantry. Naru kembali menghempaskan dirinya di tempat tidur,

Gadis kaya sepertiku harusnya tidak tidur di apartment kecil ini. Apartment ini bahkan hanya punya satu ruang, yaitu kamar mandi. Tempat tidur, pantry, ruang duduk merangkap ruang makan? Bah… hanya dipisahkan dengan kata teman-temanku kalau melihatku tidur di tempat seperti ini. Kenapa sih apartmentnya tidak sebesar punya sasuke?

Narumenggerutu dalam hati. Yah..setidaknya apartment ini lumayan rapi untuk pria yang tinggal di dalamnya. Wangi… apa karena pengaruh bunga dekat jendela ya?

Naru memandang anggrek hitam yang berada dekat jendela kamar Gaara.

"Kau sendiri yang menanam anggrek ini?" Tanya Naru.

"Ambil saja kalau kau suka, aku masih punya banyak." Gaara menjawab dari arah pantry.

"Dimana? Aku hanya melihat satu."

"Di atas." Tangan Gaara menunjuk ke atas langit-langit. " Ada rumah kaca di atap gedung ini. Aku menanam banyak anggrek hitam di sana."

Naru menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut dan melangkah mencium wangi anggrek hitam di jendela kamar Gaara.

Bunga ini cocok jika kutaruh di jendela kamarku juga. Wanginya harum sekali...

Naru segera berbalik melihat Gaara yang kini sedang menuang kopi ke dalam cangkir. Gaara belum sempat berpakaian, hanya memakai celana jeansnya. Naru memiringkan kepalanya, melihat lebih seksama rambut Gaara yang merah. Naru sering meremas rambutnya jika Gaara menghisap dadanya. Melihat mata Gaara yang hijau ketika Gaara menindih tubuhnya, merasakan sentuhan bibirnya… atau meremas lengan Gaara yang atletis ketika Gaara sedang bercinta dengannya.

Aahh..! Naru menggeleng keras-keras. Kenapa harus mengingat kejadian yang tadi sih. Naru berusaha menahan debaran dan rasa panas di wajahnya.

"Apa yang kaupikirkan?"

Pertanyaan Gaara menyadarkan lamunan Naru. Naru kembali menenggelamkan dirinya dalam selimut. Dilihatnya Gaara berjalan kembali ke atas tempat tidur. Tangannya memegang secangkir kopi yang masih mengepul asapnya dan mulai menyeruputnya.

Gaara hampir sama sekali tidak pernah berbicara di sekolah, di kelas dia pendiam. Aku yakin tidak ada yang ingin bicara dengannya, apalagi lingkaran hitam di sekitar matanya itu membuat dia terlihat agak menyeramkan.

"Apa yang kaupikirkan?" Kali ini Gaara sedikit mengeraskan suaranya.

"A… Tidak ada..."

"Kau memperhatikanku dari tadi." Kata Gaara pendek sambil melihat Naru yang mulai kikuk.

"Aku tidak memperhatikanmu." Balas Naru cepat.

Gaara mendengus geli, Naru tidak pandai berbohong. Wajahnya memerah jika dia mulai berbohong. Setidaknya kini Naru mulai melihatnya dengan serius. Gaara kini memberikan cangkir kopinya kepada Naru. Naru segera membuang mukanya,

"Kopi instan seperti itu tidak sesuai untuk lidahku." Kata Naru angkuh.

Gaara mengangkat bahu sambil kembali meminum kopinya sambil memperhatikan Naru yang kini ada di hadapannya.

"Lalu kopi apa yang sesuai untuk nona kaya sepertimu?" Tanya Gaara sambil meletakkan kopinya di atas meja samping tempat tidur.

"Yang jelas bukan kopi instan seperti yang kau minum. Klan Uzumaki tidak akan meminum minuman yang di jual murah di supermarket." Naru sengaja menjudeskan kata-katanya. Dia tidak ingin Gaara terlalu akrab dengannya. Tapi sekarang yang ada hanya Gaara, bukan Sasuke ataupun teman-temannya yang lain.

"Hmm….tapi klan Uzumaki yang satu ini mau tidur di apartment kecil di banding kamarnya yang luas." Kata Gaara setengah mengejek membuat wajah Naru merah menahan kesal.

"Bahkan pacarmu yang sempurna itu pun tidak tahu kalau kau sering tidur denganku, berka-li – ka-li." Bisik Gaara tepat di telinga Naru.

"Ahh! Kau…!" Teriak Naru marah.

Wajahnya mulai merah dan nafasnya naik turun, tidak terima dengan perkataan Gaara. Naru ingin memaki-maki Gaara tapi berusaha ditahannya, perkataan Gaara memang benar. Sasuke tidak tahu kalau dia tidur dengan Gaara.

"Kau tahu…. Pembicaraan kita selesai. Semakin lama denganmu membuatku semakin kesal."

"Kau mau kemana?" Tahan Gaara ketika melihat gadis kesayangannya sibuk memungut dress-nya di lantai. Dengan cepat Gaara mencegahnya dengan menarik kasar dress Naru dan kembali melemparkannya di lantai.

"Pulang! Kau benar, kamarku MEMANG jauh lebih nyaman!"

"Baiklah nona cantik, aku minta maaf. Puas? Aku hanya menggodamu. Tinggallah sebentar lagi, ini tengah malam. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." Kata Gaara, ditariknya tubuh Naru dan dipeluknya dari belakang.

"Pelayanku akan khawatir jika aku tidak pulang." Kilah Naru tambah judes, walaupun sebersit rasa berdebar di hatinya karena Gaara selalu menyebutnya cantik.

"Lagipula… Mungkin temanmu akan datang."

Naru berusaha menyusun kata-katanya serapi mungkin untuk menyamarkan hatinya yang berdebar-debar karena pelukan Gaara yang hangat.

Gaara kembali mendengus geli mendengar perkataan Naru

"Jangan bodoh Naru, kau sudah pernah tidur di tempatku. Apa kau pernah melihat ada yang datang?"

Naru mengutuki dirinya, Naru sudah tahu dari awal Gaara sama sekali tidak punya teman dekat. Hei, harusnya aku menanyakan asal usulnya. Apa dia sudah lama tinggal sendiri?

Naru langsung teringat pembicaraan Tenten dan Temari tentang Gaara. Naru jadi penasaran tentang keluarga Gaara. Gaara bukan penerima beasiswa, dia siswa pindahan. Siapa yang mengurus kepindahannya? Tidak mungkin dia mengurus sendiri kepindahannya ke Sekolah Konoha.

Lamunan Naruko terhenti ketika Gaara mengangkat pinggang Naru dan membawanya kembali ke tempat tidur.

"Bercinta sekali lagi denganku Naru, aku menikmati saat-saat bersamamu." Bisik Gaara ditelinga Naru, tangannya menyentuh pipi Naru. Membelainya lembut dan bibir Gaara mencium dalam-dalam bibir Naru. Naru merekahkan bibirnya, membiarkan lidah Gaara masuk menjilati lidahnya.

"Mhhhpp.."

Naru melenguh pelan ketika Gaara kembali menciumi bibirnya dengan bernafsu. Naru tahu Gaara akan kembali menidurinya, dan Naru tidak perduli jika Gaara kembali bercinta dengannya. Sentuhan Gaara, bisikannya, kata-katanya, setidaknya malam ini Naru tidak tidur sendirian.

.

.

Lab Biologi

Sasuke melihat frustasi kepada tanaman anggrek yang ada di depannya. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam tapi Sasuke masih berada di lab sekolah. Ingin rssanya membuang tanaman hasil percobannya itu keluar jendela Lab.

"Sial! Kenapa tanaman ini masih berwarna putih, harusnya tumbuh berwarna hitam. padahal aku sudak menyilangkannya tiga kali. Tidak mungkin perhitunganku salah." Sasuke bergumam sendiri.

"Kau masih belum pulang?"

Terdengar suara di belakang Sasuke, sasuke berbalik dan melihat kakaknya Itachi masuk ke dalam Lab.

"Aku datang menjemputmu karena Ini sudah tengah malam dan kau masih di sekolah? Apa kau sudah gila?"

"Aku tidak gila, aku hanya frustasi karena tidak bisa menyelesaikan percobaan ini. Padahal aku sudah menghitung persilangannya hingga tiga tahap. Tapi entah kenapa anggrek ini tumbuh menjadi warna putih." Sasuke duduk di kursinya sambil menelungkupkan kepalanya.

"Kakak… Uangku sudah habis untuk penelitian ini, bisakah kau meminjamkan aku uang?" Tanya Sasuke lagi dengan nada pelan.

"Sasuke, kau tahu kalau keluarga kita sedang dalam kesulitan keuangan. Dan kau tahu kalau aku harus membiayai kuliah S2 kedokteranku sendiri. Seharusnya kau tidak membuang waktu dengan meniru hasil penelitian temanmu." Tukas Sasuke sambil mendengus kesal.

"SStt… bisakah kau tidak bicara terlalu keras?! Lagipula jika aku berhasil, guru Orochimaru akan memasukkan aku dalam Seminar internasional. Semua orang akan menggunakan hasil penelitianku, uang kita akan banyak seperti dulu dan tidak akan ada yang tahu kalau keluarga kita sedang bangkrut."

"Maksudmu hasil penelitian temanmu heh?" Sindir Itachi.

"Terserah apa katamu. Tapi begitu aku berhasi, aku akan mematenkannya dan tanaman ini otomatis akan jadi hasil penelitianku."

"Well… kenapa kau tidak meminta bantuan dari tunanganmu yang kaya? Kau minta sebanyak apapun tidak akan masalah baginya. Lagipula, dia terlihat sangat memujamu."

"Jangan bawa-bawa dia, kau kira aku laki-laki seperti apa? Aku tidak mungkin meminta uang darinya." Potong Sasuke cepat.

"Hah! Jangan bercanda. Kau meniru hasil penelitian temanmu. Bukankah itu namanya licik? Lagipula apa salahnya kau meminta uang darinya, bilang saja kalau kau pinjam dan nanti akan kau kembalikan secepatnya. Aku berani bertaruh dia akan memberimu uang. Semua wanita akan luluh jika kau memasang tampang memelas."

"Kau—"

Sasuke tidak bisa berkata apa-apa lagi, di saat ini kata-kata Itachi memang tepat untuknya. Kalau di pikir memang ada benarnya, Naru kaya raya. Bahkan Sasuke mendengar jika Ayah Naru sekarang baru saja membeli sebuah pertambangan. Hanya meminjam beberapa juta tentu hal yang kecil bagi Naru. Toh Naru terlihat begitu menyukainya. Dia pasti akan mau. Setidaknya hanya ini satu-satunya cara untuk tetap melanjutkan penelitiannya.

"Kuharap kau sedang tidak bertengkar dengan pacarmu Sasuke. Lebih mudah meminjam uang jika suasana hatinya sedang baik."

"Well—sebenarnya sudah seminggu ini aku tidak bicara dengan Naru. Aku terlalu sibuk, dia sedikit marah minggu lalu. Tapi semua gampang di atur. Aku akan ke rumahnya besok."

"Jangan mengacau Sasuke, kau tahu sendiri ayahnya kaya raya. Jika aku jadi kau, aku akan lebih sering memperhatikannya."

"Ya ya aku tahu, aku akan datang kerumahnya. Minta maaf dan semua selesai." Jawab Sasuke kesal sambil merapikan barang-barangnya.

.

.

Naruko menyisir rambutnya yang masih basah, sesekali dia melihat jam di Hp-nya. Waktu menunjukkan jam 5 pagi. Naru memang harus buru-buru pulang. Ini hari minggu, Temari dan Tenten sering berkunjung ke rumahnya di hari tersebut. Jika mereka sampai tahu kalau dia tidak pulang ke rumah, bisa gawat.

Kali ini Naru tidak menyetir sendiri, badannya masih lemas karena bercinta habis-habisan dengan Gaara. Karena itu dibiarkannya Gaara yang menyetir mobilnya.

"Aku tidak tahu kau bisa menyetir? Apa kau pernah membawa mobil sebelumnya?" Tanya Naru sambil membuka kaca mobil sedikit. Membiarkan rambutnya kering tertiup angin.

"Ya, dulu." Jawab Gaara pendek.

Naru mengerutkan keningnya, bukan itu jawaban yang dia mau.

"Ceritakan tentang keluargamu, dimana ayah dan ibumu? Apa kau punya saudara?" Naru mencoba bertanya lebih dalam.

"Aku tidak ingin membahasnya." Gaara kembali memberikan jawaban yang pendek.

"Baiklah! Aku juga tidak tertarik mengetahui keluargamu!" Naru membalas ketus. Buat apa tahu tentang keluarganya, memangnya kau ini pacarnya.

Naru mengalihkan pandangannya keluar jendela dan mulai menyadari kalau Gaara tidak berjalan menuju rumahnya.

"Gaara, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju ke rumahku."

"Tentu ini bukan jalan kerumahmu, kita berhenti sebentar dulu di sini."

Gaara menghentikan mobilnya dan menutup jendela kaca. Naru mulai berpikir aneh-aneh. Apa Gaara mau mengajaknya bercinta di dalam mobil? Astaga... apa dia tidak capek? Tadi malam kan dia sudah bercinta habis-habisan.

Naru melirik Gaara yang masih menatap lurus ke jalanan yang sepi. Tidak ada tanda-tanda kalau dia mau bercinta dengannya. Naru memukul kepalanya sendiri karena terlalu berpikiran mesum.

Naru ikut melihat ke ujung jalan dan matanya menyipit ketika dilihatnya Sakura keluar dari salah satu lorong sempit, melewati mereka.

"Gadis gembel itu. Pagi ku bisa rusak kalau melihatnya. Kenapa kita tidak langsung pulang ke rumah saja sih?" Naru melengos kesal.

"Justru itu sayang, kenapa kita di sini." Gaara berkata enteng sambil menekan gas mobil.

"Maksudmu?"

Belum selesai Naru bertanya Gaara sudah menginjak pedal gas mobil. Mobil CRV putih itu langsung melaju kencang.

"Gaara kau bisa menabraknya!" Teriak Naru ketika mobil mereka kian mendekat ke arah Sakura yang sedang berjalan.

"Gaara!"

BRRAk! CCIIIT!

Naru bisa mendengar suara patahan. Naru langsung berbalik ke arah belakang. Dilihatnya Sakura sudah tertelungkup di jalan.

"Gaara! Kau gila? Apa dia mati? Kau menabraknya sampai mati?!" Naru mengguncang bahu Gaara dengan keras.

"Dia tidak akan mati. Aku hanya menyerempetnya. Kalau kau ingin dia mati pun aku bisa melakukannya."

Naru langsung memukul bahu Gaara dengan keras.

"Kau gila! Untuk apa aku menyuruhmu membunuhnya. Sekarang kita dalam masalah! Kau menabraknya pakai mobilku! Bagaimana kalau dia lapor polisi?!"

"Ini masih pagi, jalanan sepi. Siapa yang mau melihat? Lagipula kau sendiri yang bilang kalau kau tidak ingin gadis itu mengganggumu lagi. Ha ha... dia tidak akan bisa mengganggumu, tidak dengan kondisinya yang sekarang."

Bagaimana mungkin dia bisa tertawa dengan tenang setelah menabrak orang? Pemuda ini gila

"Kau... kau membuatku takut."

Gaara langsung menghentikan mobilnya mendadak.

"Aku membuatku takut? Benarkah? Bagaimana denganmu? Aku yakin dalam hati kecilmu kau senang aku menabrak Sakura. Iya kan? Kau senang dia menderita kan? Tanpa bicara pun aku bisa tahu isi hatimu."

Naru hanya diam menatap Gaara yang kini menatapnya dengan tajam. Bagaimana dia bisa tahu? Bukannya aku jahat tapi yah—gadis itu memang pantas mendapatkannya, setelah apa yang dilakukannya padaku.

Naru hanya mengangkat bahunya sedikit.

"Itu baru gadisku."

.

.

Naruko menyeruput minumannya di kantin dengan wajah khawatir. Bibir Naruko menggigit-gigit sedotan di minumannya. Alasannya karena seluruh murid mulai membicarakan hal yang sama, berita tentang Sakura yang terkena tabrak lari.

"Kejadiannya mengerikan ya, aku kasihan pada Sakura."

"Yang sengaja menabraknya betul-betul tidak punya hati."

"Astaga…. Seharusnya Sakura melapor pada polisi. Biar penabrak itu dipenjara"

Naru berusaha tidak mendengarkan percakapn murid-murid di sebelahnya, tapi mau kemanapun seisi sekolah memang membicarakan hal tersebut.

"Memangnya tidak ada bahan pembicaraan lain, sekarang seluruh sekolah membicarakan dirinya. Aku bosan mendengar nama sakura disebut terus." Ujar Naru ketika Tenten duduk di sampingnya.

"Jangan kejam begitu, aku dengar keadaan Sakura parah sehingga mereka langsung membawanya di UGD." Tambah Tenten sambil mengipas kecil badannya.

"Pasti dia hanya mencari sensasi, paling dia hanya terkilir terus pura-pura pingsan. Ahh… sudahlah, aku bosan membicarakan dirinya." Naru mulaii menghabiskan makanannya.

Sebegitu parahnya kah keadaannya. Gaara bilang dia hanya menyerempetnya. Okey... aku juga ada di samping Gaara tapi aku tidak begitu tahu pasti apakah Sakura betul-betul parah. Lagipula jalanan itu begitu sepi, masih pagi sekali. Pasti tidak ada yang melihat.

Naru kini tidak ingin lagi memakai mobil CRV putihnya ke sekolah. Digantinya mobilnya dengan Mercedes bens ayahnya.

"Bagaimana dengan Sasuke? Kau sudah tidak saling bicara dengannya seminggu ini," Tenten mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak tahu, biarkan saja dia."

"Apa kau tidak ingin tahu keadaan Sasuke? Semenjak bersama Guru Orochimaru Sasuke bahkan tidak pernah lagi mengurus kegiatan OSIS."

Naruko hanya diam, sama sekali tidak menanggapi. Di pikirannya sekarang mulai tumbuh nama Gaara. Naruko bahkan sempat melirik sedikit ke arah kelas 3 IPA-1 ketika dia melewatinya.

"Aku dengar dari Temari katanya Guru Orochimaru akan menggantikan posisi Gaara dalam kontes sains internasional nanti. Tapi jangan bilang-bilang ya. Ini Rahasia."

"Lalu? Apa peduliku? Dia mau menggantikan siapapun tetap tidak merubah keadaan. Dia tetap tidak perduli denganku. Apa yang aku lakukan di luar pun dia tidak tahu." Naruko menjawab dengan cuek

Siapa peduli dengan cowok ambisius sepertinya. Di pikirannya hanya ada belajar, prestasi, semua tentang dirinya. Apa jika dia tahu aku tidur dengan Gaara dia akan cemburu dan memutuskanku? Masih untung kalau dia cemburu. Belum lagi masalah tabrak lari itu. Kejadiannya seperti dilebih-lebihkan. Gaara bilang hanya menyerempetnya. Hanya menyerempetnya...

Naru mengulang kata-katanya dalam hati. Dia takut tapi berusaha tenang. Mungkin ada baiknya dia berbicara dengan Gaara sekarang. Naru memutuskan untuk menemui Gaara. Dia berjalan menuju lockernya dan mulai bercermin, memoleskan sedikit bedak dan lipgloss.

Kau kan hanya bertemu Gaara sebentar. Untuk apa dandan segala?

Naru memperingatkan dirinya sendiri. Tapi Gaara selalu memujinya cantik, entah kenapa Naru ingin selalu terlihat cantik depan Gaara. Dia sedikit merapikan rambutnya kemudian menutup pintu lockernya.

" Waa..!" Naruko menjerit kaget. "Sasuke?"

"Cepat ikut aku."

Sasuke menarik tangan naruko berjalan cepat menuruni tangga. Naru berbalik sekilas melihat ke dalam kelas Gaara. Tapi sejurus kemudian dia setengah berlari mengikuti Sasuke.

"Kita mau kemana?" Tanya naruko bingung ketika Sasuke membawanya ke tempat parkir.

"Masuklah dulu. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."

Naruko segera masuk ke dalam mobil diikuti Sasuke. Terus terang Naruko kaget ketika Sasuke mengajaknya bicara. Sudah seminggu ini dia tidak pernah berhubungan dengan Sasuke.

Pantas saja penggemar Sasuke berkurang, rambut Sasuke tidak lagi rapi seperti dulu, sangat berantakan. Kemejanya kusut seperti tidak penah disetrika. Kumis tipis mulai tumbuh di bawah hidung Sasuke. Oh my… Naruko menepuk jidatnya sendiri karena tidak percaya.

"Apa yang mau kau katakan?" Tanya Naruko lagi.

Sasuke hanya diam. Matanya menatap lurus ke arah dashboard mobil. Naruko menghela napas kesal. Sudah capek-capek jalan ke parikiran tapi sama sekali tidak mau berbicara.

Apa jangan-jangan Sasuke mengajakanya bicara karena dia tahu aku pernah tidur dengan Gaara. Haah… Pasti karena itu. Kalau Sasuke sudah tahu pasti orang tuaku juga lambat laun akan tahu. Atau mungkin dia tahu kalau aku dan Gaara yang menabrak Sakura? Aku bisa mati…!

"Sasuke, apa kau ingin membicarakan tentangku. Dengar, a-aku memang melakukan kesalahan, tapi i-itu bukan mauku."

"Oh, diamlah naru. Ini bukan tentangmu!" Potong Sasuke gusar. "kau sering sekali melakukan kesalahan. Tapi masalahku lebih penting sekarang."

"oke.. oke—apa masalahmu?" Tanya Naru sedikit lega,

Fiuhh setidaknya hubunganku dengan Gaara tidak ketahuan sama sekali.

"penelitianku tidak berjalan dengan baik. Aku sudah sampi pada tahap ketiga tapi hasilnyatidak seperti yang aku mau. Padahal tinggal sedikit lagi." Sasuke menundukkan kepalanya, tangannya mencengkram rambutnya sendiri.

"Ya ampun penelitian lagi? Kita sudah seminggu tidak saling bicara dan ketika bertemu kau hanya mengatakan penelitianku...penelitianku! Lihat dirimu! Kau berantakan!." Cecar Nar dengan emosi.

"Bunganya sama sekali tidak mau tumbuh, bunga itu tidak berkembang. Hanya kuncupnya saja yang tumbuh itupun berwarna putih. Harusnya bunga itu berwarna hitam." Sasuke terus berbicara sendiri tanpa menghiraukan perkataan Naru. Dia mengambil pot anggrek hitam dari belakang jok mobilnya.

"Astaga! Hanya karena bunga konyol ini?!" Naru mengambil bunga anggrek hitamdari tangan Sasuke dengan kasar.

"Bodoh! Jangan lasar begitu! Guru Orochimaru hanya memberiku satu!"

"Apanya sih yang bagus dari bunga ini? Aku juga punya satu di rumah!"

"Apa?"

"Hah? Apa?"

"Ulangi kata-katamu yang tadi? Kau bilang kau punya satu bunga seperti ini di rumahmu?"

"Err... ya kalau kau mau. Temannya Ayahku mengiriminya mm... dari Eropa. Ya.. dari Eropa." Naru mulai tidak enak ketika melihat pandangan Sasuke padanya. Mungkinkah ada yang salah.

Sementara itu Sasuke diam sejenak. Matanya melihat Naru dari atas ke bawah. Naru bahkan tidak tahu apa yang dipikirkan Sasuke.

"Sasuke kenapa diam? Sebenarnya tadi apa yang kau ingin bicarakan, mungkin ada yang bisa kubantu?" Naru mulai melunak, firasatnya tidak enak sekali.

"Tidak jadi Naru. Yah mungkin nanti lain kali saja kita bicara. Aku ingin bertemu seseorang dulu sekarang." Jawab Sasuke melangkah keluar dari mobil.

Bunga dari Eropa? Betul-betul gadis yang tidak pandai berbohong. Bunga itu ciptaan Gaara dan dia memberinya kepada Naru. Entah sejak kapan Naru ada hubungan dengan rambut merah itu. Sekarang aku tidak perlu meminjam uang dari Naru.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju kelasnya sendiri.

.

.

.

To Be Continue

Bagi yang ingin review jika punya akun diharap memasukkan nickname asli bukannya guest. Karena saya suka berbalas PM.