BLUE DAFFODIL

Han Rae

THIRD Fanfic in this Fandom

Mianhae... lagi, lagi dan lagi saya membawa fic tentang keresahan saya... jeongmal mianhae... kini saya membawa fic panjang yang awalnya terbentuk karena kemarahan kedua orang tua saya karena saya terlalu menyukai Super Junior...

Mianhae... jeongmal mianhae...

Warning :: Mistake(s) in Korean Language, Typo(s), Main Character is Two E.L.F, Three different Side(mian, if it make difficulties for you), long fic (Mian if you fell boring, but please read it till end story)

Chapter :: One of two

E.L.F milik Super Junior.

Super Junior milik God, His parents, ELF, World, and everyone.

All Source which make this Fic better :: Google, Wordpress, Blog, etc.

Dont Like Dont Read

Please press back button.

Flame allowed* but with solution too

Jika kalian merasa fic ini adalah JUNK fic / tidak pantas ada dalam sub Screanplays, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now playing;

잠들고싶어(In My Dream) – Super Junior

사랑이이렇게 (My All Is In You) – Super Junior

Our Love – Super Junior


.

::My Confession::

:Chapter 1:

.


Langit terlihat muram hari ini. Kuas maha kuasa melukis dengan terlalu banyak menggunakan warna kelam untuk langitnya, menimbulkan perasaan murung kepada hari yang seharusnya cerah itu.

Dua yeoja terlihat berdiam diri dibawah halte, mereka memilih diam menatap puluhan—bahkan ratusan, manusia yang berjalan cepat untuk menghindari kesedihan si tuan awan yang siap menangis. Dua yeoja itu tak saling mengenal, barangkan mengenal, melihat satu-sama lain saja mereka belum pernah. Tapi entah karena apa mereka mempunyai perasaan sama. Sama-sama memilih diam dibawah halte menunggu hujan turun daripada berlari secepat mungkin ke tempat tujuan.

Ditengah asiknya menatap puluhan orang berlalu lalang, sepasang mata mereka terkunci pada satu objek. Anak kecil yang kini tengah bersusah payah menyamakan langkahnya dengan ibunya yang berjalan terburu-buru dengan menggenggam tangan anak kecil itu. Ah, bukan... bukan anak-ibu itu yang mengunci pandangan mereka, tapi benda yang tengah dipegang kuat oleh anak itu. Benda bulat yang berisi gas dengan tali penghubung untuk menahannya agar tidak terbang—Ya, balon. Sebuah balon yang menarik perhatian mereka, ani... mereka tidak terkesima dengan balon itu, tapi mereka terkesima pada warna balon itu. Shappire blue.

Balon itu berwarna Shappire Blue. Biru kelam yang mencolok dari warna sepia membosankan dari orang-orang yang berlalu lalang. "Shappire blue." Bisik dua yeoja itu bersamaan. Mereka tersentak lalu saling menatap satu sama lain. Waktu seolah berhenti untuk beberapa saat ketika mereka bertatapan, mereka merasa aneh akan tatapan itu, sebuah tatapan yang terasa saling mengikat satu sama lain tanpa sadar mereka tertawa.

"Kau suka balon itu?" tanya yeoja satu kepada yeoja disampingnya membuka pembicaraan. Yeoja disampingnya mengangguk pelan. "Nde, saya suka. Itu mengingatkan saya pada mereka."

Yeoja yang menanyakan itu tersentak lalu menatap cepat yeoja disampingnya. "Apa kau ELF?" tanyanya semangat, yeoja disampingnya ikut tersentak. "K-kau juga ELF?" tanya yeoja itu tak percaya.

Yeoja satu lagi tersenyum lebar. Lalu dengan riangnya mengajak teman barunya itu bicara panjang lebar. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata mengamati mereka dari jauh. Beberapa pasang mata itu saling menatap satu sama lain, lalu salah satu pemilik dari beberapa pasang itu berjalan cepat ke arah dua yeoja itu.

"Sillyehamnida. Annyeong." sapa namja pemilik sepasang mata itu pelan ke dua yeoja dihadapannya. Dua yeoja itu berhenti bicara lalu menatap namja itu. "Annyeong, ada apa?" tanya mereka bingung. Namja dihadapannya tersenyum kecil.

"Ah. Mian mengganggu, saya Han. Saya salah satu pemimpin dari salah satu acara yang segera tampil di layar kaca. Kami sedang mencari actor yang bersedia untuk kami wawancarai. Ah, boleh saya bertanya, apa anda berdua adalah Fans Super Junior?" kedua yeoja itu menatap satu sama lain ragu.

"Ah. Nde. Wae Han-sshi?" tanya mereka ragu, namja dihadapannya mengangguk lalu tersenyum lembut. "Syukurlah. Ah, kalian berdua jangan takut. Saya bukan orang jahat. Apa kalian bersedia untuk di wawancarai?" dua yeoja itu terdiam sejenak lalu mengangguk, Han menghela nafas lega, "Ah, mian," namja itu berbalik lalu melambaikan tangannya kearah pemilik pasang mata lain yang menatapnya.

"Kita sudah dapat orangnya! Sekarang bagaimana?" teriaknya, salah satu namja pemilik sepasang mata lain yang menatap mereka memberikan tanda agar mereka cepat masuk kedalam gedung. "Ah. Sepertinya wawancara harus dilakukan didalam gedung. Apa kalian bersedia?" tanyanya.

Kedua yeoja itu mengangguk pelan lalu mulai mengikuti namja yang kini berjalan pelan dihadapan mereka.

.

.

"Silahkan duduk. Sebentar lagi orang yang akan mewawancarai kalian akan datang." Ucap Han sembari mempersilahkan kedua yeoja tadi untuk duduk. Kedua yeoja itu mengangguk ragu lalu mendudukan tubuhnya ke kursi itu. Setelah kedua yeoja itu duduk, namja itu pun pergi dari ruangan itu.

.

.

"Ah! Akhirnya kalian datang!" Han berdiri dari duduknya, ia tersenyum kearah 13 namja yang bergerombol masuk kedalam ruangannya. Dengan sopan Han mempersilahkan para tamunya duduk.

"Annyeong, Han-sshi." Ujar mereka bersamaan, kegembiraan terpancar jelas diwajah mereka. "Ah. Han-sshi, kami ingin mengucapkan terima kasih sebelumnya karna telah mempertemukan ke-13 member kembali." Ujar Park Jung Soo sembari membungkukkan tubuhnya, Han tertawa kecil.

"Membawa Hankyung, membebaskan Kibum, dan membebas tugaskan Kang-in dan Heechul itu hal mudah untuk saya, Leeteuk-sshi." Ujar Han pelan, member lain hanya bisa tersenyum lalu mengangguk pelan.

"Kalian tentu tahu apa tujuan saya memanggil kaliankan?" tanyanya Han to the point.

"Ne. Anda meminta kami melihat wawancara E.L.F 'kan?" tanya salah satu namja yang dibawa Han dari Cina—Hangeng memastikan, Han mengangguk lalu tersenyum kecil.

"Saya harap kalian tahan emosi dan tenang saat menontonnya." Ujar Han mengingatkan ke-13 namja dihadapannya. 13 namja yang merupakan member dari boyband Super Junior itu sontak menyerit heran. Apa maksud dari ucapannya? Pikir mereka bingung.

Han menyalakan layar dihadapannya yang langsung membuat para member memusatkan perhatian ke arah layar. Terlihat dua yeoja sedang asik berbicara di layar itu. Han tersenyum kearah para member. Senyum kecil penuh rahasia.

"Sekali lagi saya ingatkan. Mohon tenang dan tahan emosi kalian. Ah, tapi kalau kalian ingin menangis itu boleh." Han berjalan kearah pintu masuk lalu menguncinya.

"Han-sshi, untuk apa kau mengunci pintu itu?" tanya salah satu member yang paling tinggi—Choi Siwon penasaran, Han kembali tersenyum. "Hanya untuk jaga-jaga," ucapnya tenang sembari meraih Handphonenya yang ada diatas meja.

"Yeoboseyo... Nde, mereka sudah ada disini, disana sudah siap?... Arasso... Hum, bagus. Kalau begitu, mulailah sekarang," ucapnya tenang kepada seseorang disebrang telepon. Ia kembali menatap ke-13 namja itu lalu tersenyum.

"Wawancaranya akan segera dimulai. Saya harap anda semua memperhatikan ini dengan baik."

.

.

.

[Side ELF]

Ckrek...

Suara pintu terbuka membuat kedua yeoja yang tadi asik berbicara menutup mulutnya rapat. Mata mereka sontak menatap kearah pintu masuk. Terlihat seorang yeoja cantik dengan baju rapih berjalan santai kearah mereka.

"Annyeong haseyo." Sapanya ramah yang langsung dibalas senyuman dari kedua yeoja dihadapannya. Yeoja itu duduk di sofa yang ada dihadapan kedua yeoja tadi.

"Saya Yongri. Saya yang akan mewaeancarai kalian. Saya akan segera memulai sesi wawancaranya. Kalian siap?" tanya yeoja itu tenang, kedua yeoja dihadapannya mengangguk meng-iyakan.

"Nde. Baiklah. Kita mulai dulu dari sesi pengenalan. Nama kalian?"

"Ah. Panggil saja aku Rae." Ujar Yeoja yang berkuncir satu pelan. "Kalau saya... panggil saja saya Jije." Ujar yeoja yang satu lagi tenang. Rie mengangguk tanda mengerti lalu mulai menulis sesuatu di dalam notes yang ia bawa.

"Baiklah. Kita mulai masuk ke sesi wawancara. Saya mulai dengan pertanyaan dasar. Sejak kapan kalian menjadi ELF?"

"Aku... hum... sejak 5 tahun yang lalu, mungkin?" ujar Rie sembari mengetuk dahinya pelan. "Kalau saya sejak pertama kali Super Junior debut," jawab Jije tenang.

"Kenapa kalian suka dengan Super Junior?"

Hening. Mereka berdua terdiam menatap yeoja dihadapannya bingung.

"Ng... memangnya kalau mau suka sama seseorang harus punya alasan ya?" tanya Rae bingung, Jije mengangguk mensetujui perkataan Rae, "Saya suka Super Junior karna mereka itu Super Junior." Jije menambahkan.

"Jadi, kalian tidak mempunyai kesukaan yang lebih menjurus?"

"Nde. Kami suka semua hal yang ada pada Super Junior," jawab Rae sembari tersenyum kecil.

"Hum. Baiklah lanjut kepertanyaan selanjutnya. Siapa bias kalian di Super Junior?"

Mereka kembali terdiam, Rie terlihat menggaruk belakang kepalanya bingung, sementara Jije terlihat menunduk sembari memainkan jari tangannya.

"Aku suka semua dari mereka. Jadi ya... biasku mereka semua," ujar Rae ragu. "Saya juga sama. Saya suka mereka semua," ujar Jije pelan.

"Kenapa bisa seperti itu?"

"Ng... Mereka mempunyai kelebihan masing-masing 'kan?" jawab Rae sedikit bingung, Jije disampingnya kembali mengangguk. "Nde. Mereka mempunyai kelebihan masing-masing dan kekurangan masing-masing. Jadi mereka sama rata dihati saya," jawab Jije sedikit ragu.

"Arraseo. Apa pendapat kalian tentang umur para personil Super Junior yang tidak muda lagi?"

"Ah. Pertanyaan itu lagi...," Gumam Rae pelan, ia menatap bosan kearah Yongri.

"Kami tidak mempermasalahkan itu, Yongri-ya. Soal umur siapapun tidak mungkin bisa mengelak 'kan? Lagipula kami mencintai mereka bukan karna mereka masih muda atau tua. Kami mencintai mereka karna mereka ya, mereka," jelas Jije sembari tersenyum kecil.

"Jawaban yang bagus. Pertanyaan selanjutnya. Apa pendapat kalian tentang Fan-Service antara para member yang sering mereka lakukan?"

Rae terkikik pelan. "Assa! Itu menarik kan? Mereka memperlihatkan sisi keakraban antara para member." Jije mengangguk sembari menahan tawa.

"Lalu apa kalian senang jika mereka dekat dengan seorang Yeoja?"

"Tidak." Jawab Rae cepat, Jije terkikik mendengar jawaban Rae.

"Jujur saja, saya juga tidak suka melihat mereka dekat dengan yeoja lain, rasanya ingin sekali mereka hanya dekat dengan saya. Setiap penggemar pasti memiliki perasaan itu. Jadi wajar saja jika banyak ELF yang mengamuk ataupun menangis ketika melihat bias mereka dekat dengan yeoja lain," jawab Jije sembari mengusap punggung Rae yang sedari tadu bergumam kesal.

"Lalu apakah kalian akan marah jika ada seseorang yang mengejek member Super Junior sebagai gay karna keakraban mereka?"

"Tentu saja! Kami akan marah. Siapapun tidak boleh mengejek mereka tanpa bukti yang kuat!" jawab Rae kesal.

"Nde. Jika mereka mengejek bias kami sebagai gay hanya karna keakraban mereka, kami pasti marah. Menurut saya wajar saja jika mereka saling berpelukan atau berciuman dengan sesama member, karna mereka sudah menganggap member lain itu sebagai keluarga mereka. Lagipula namja di luar sana juga sering melakukan tindakkan seperti itu, sebagai contoh ambil saja pemain sepak bola. Mereka pasti akan saling memeluk dan mencium jika salah satu dari mereka berhasil mencetak angka 'kan?" terang Jije.

Yongri mengangguk mengerti. "Lalu apa pendapat kalian jika member Super Junior itu memang benar-benar gay?"

"Tidak masalah..." Jije menatap Rae penasaran, Rae mengangguk sekali. "... Walaupun kami sedikit sedih karna mereka tidak menyukai yeoja seperti kami. Kami tidak akan mempermasalahkan hal itu." Rae tersenyum kecil membayangkan jika couple ter-favoritnya benar-benar akan menikah.

"Kami tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena itu adalah kehidupan pribadi para member dan yang terpenting bagi kami jika mereka mencintai pasangan mereka setulus hati kami tidak bisa berbuat apapun selain mendukung mereka." Tambah Jije.

"Hum, lalu... apa pendapat kalian tentang jumlah member Super Junior yang semakin berkurang?"

"Ah... itu... Jije kau saja yang menjawabnya aku tak kuat menjawab pertanyaan ini." Jije mengangguk mengiyakan. "Bagi kami itu adalah mimpi buruk. Mimpi yang benar-benar buruk. 13 mutiara kami menghilang satu per satu, entah karna wamil, Kesibukan ataupun memang... uh, saya benci mengatakan ini... keluar. Sesuai peraturan negara para namja memang diharuskan mengikuti Wajib Militer dan peraturan itu juga berlaku kepada setiap member Super Junior—ah, kecuali Kyuhyun oppa yang memiliki penyakit berat. Kami sudah berfikir bahwa ada saatnya satu persatu anggota akan mengikuti wamil, tapi yah... ternyata bukan hanya wamil, ada anggota juga yang harus absen karena sibuk dan keluar. Kibum oppa, yang sibuk dengan kegiatannya memang membuat kami sedih, tapi kami tetap mendukungnya. Dan... Hangkyung oppa yang keluar itu... jujur saja saat membaca artikel tentang itu saya menangis. Tidak cukupkah kami kehilangan sosok Kim Ki Bum? Sekarang Hangkyung oppa juga keluar, ditambah lagi para member yang akan sibuk dengan kegiatan wajib militernya. Saya akui hal ini benar-benar suatu kesedihan mendalam bagi kami dan member Super Junior sendiri. Tapi kami ingin oppadeul tetap percaya kepada kami. Kami akan terus mendukung kalian sampai kalian benar-benar lenyap dari dunia hiburan. Ah, kami juga pasti akan setia menunggu Kibum dan Hangkyung oppa kembali! Itulah janji kami sebagai E.L.F." Jije menepuk pundak Rae yang kini menahan tangisnya.

[Side Member]

Suasana diruangan itu menjadi muram, ke-13 namja yang ada di dalam ruangan itu terlihat mengalihkan pandangannya dari layar. Suara dari speaker yang ada disana bergemang mengisi ruangan dan lagu believe yang sayup-sayup terdengar memenuhi ruangan membuat suasana ruangan itu semakin sesak—sesak akan keharuan. Raut menyesal terlihat jelas diwajah empat namja yang sengaja 'diculik' dari tempat seharusnya ia berada.

"Mian... Mianhae..." bisik sang leader pelan, air matanya mengalir pelan dari mata indahnya. Mendengar bisikan sang leader dua namja yang namanya disangkut pautkan semakin menunduk dalam keheningan.

Isak tangis terdengar diantara kesunyian itu. Membuat suasana ruangan yang tadi ceria menjadi kelam seketika.

[Side ELF]

"Angh... Mian. Silahkan lanjutkan Yongri-ya," ujar Rae sembari menarik nafas dalam. Yongri mengangguk pelan lalu membalik notesnya.

"Pertanyaan selanjutnya. Kalian tentu tau tentang dua member sub-Super Junior yang bernama Henry dan Zhoumi. Apa pendapat kalian tentang mereka berdua?"

Jije dan Rae saling berpandangan. "Soal Mochi sama Panda?" Jije menyikut pelan tangan Rae. "Henry sama Zhoumi, Rae!" ingat Jije, Rae terkikik pelan.

"Arra. Tentang Henry sama Zhoumi 'kan? Menurutku mereka itu member yang baik, baik dari skill maupun penampilan. Mereka berduapun cukup mengambil andil di Sub-Super Junior-M. Jadi kenapa?" Jije menghela nafas pasrah mendengar jawaban Rae yang terdengar asal itu.

"Hum, lalu apa kalian setuju kalau ada yang bilang kalau Hangkyung-sshi keluar karna adanya dua member itu?"

Rae membuka mulutnya namun Jije menyubit lengannya pelan. "Biar saya yang menjawabnya," bisiknya pelan, Rae mengangguk mengerti.

"Jujur, awalnya saya juga meng-judge Henry dan Zhoumi adalah penyebab Hangkyung oppa keluar dari Super Junior. Berita yang sepemikiran dengan saya 'pun banyak tersebar di internet dan memunculkan kebencian tanpa sebab dihati E.L.F. Bahkan saya pernah mendengar saat Sub itu manggung E.L.F berteriak 'KEMBALIKAN HANGKYUNG OPPA!' dan 'ZHOUMI, HENRY KALIAN MENGGANGGU! TURUN DARI PANGGUNG DAN KEMBALIKAN GEGE KAMI!'. Tapi semakin lama atau mungkin karna menginggat saat aksi 'ONLY13', 'The Defence of 13' dan perkataan Leeteuk oppa pada 2JIB, lama kelamaan E.L.F mulai menerima kehadiran Henry dan Zhoumi. Saya sendiri berfikir, Hankyung oppa pasti punya alasan kuat kenapa ia memisahkan diri dengan keluarganya, dan sebagai E.L.F yang baik saya harus menerima keputusannya walau itu sangat menyakitkan." Jije mengakhiri jawabannya dengan senyuman kecil.

"Bisa tolong anda jelaskan, apa yang diucapkan oleh Leeteuk-sshi pada 2JIB dan apa itu 'ONLY13' dan 'The Defence of 13'?"

"Ne, Jije, aku yang jelaskan ya?" Jije mengangguk pelan. "Leeteuk oppa bilang kepada kami kalau 'E.L.F punya hati yang besar, cukup besar untuk menampung semua 13 member, tapi hati E.L.F juga kecil pada saat yang sama, sangat kecil hingga kami hanya bisa menerima 13 member saja!' saat 2JIB. Sedangkan ONLY13 sendiri sama seperti The Defence of 13kedua aksi itu adalah aksi E.L.F yang takut akan kehadiran Henry. Ah, bukan takut sebenarnya... kami khawathir, ya, khawatir. Aku ingat pasti perasaanku yang mungkin tidak jauh beda dengan E.L.F lainnya saat itu. Saat itu sebenarnya kami takut—amat sangat takut dan hampir pingsan saat 2JIB. Kenapa? Yongri-ya pernah melihat MV Super Junior yang Don't don? Disana terlihat jelas sosok Henry yang bermain solo cukup lama 'kan?" Jije dan Yongri mengangguk pelan.

"Itu adalah sumber kekhawatiran kami, bagi kami itu benar-benar mimpi buruk. Aku ingat, saat itu aku berulang kali menangis karena aku benar-benar khawatir akan kedatangan Henry. Perlu diketahui saat itu Super Junior belum dikukuhkan oleh SM sebagai grup resmi. Maka karena itu kami khawatir jika nantinya salah satu bias kami pergi dan datang penggantinya dan hanya menyisakan kenangan untuk kami, andwae! Kami tidak mau itu terjadi! Maka dari itu di adakanlah aksi 'ONLY13' yang bertujuan untuk melindungi ke-13 member yang kami cintai itu. Lebih dari 1000 E.L.F muncul di depan gedung SM pada aksi unjuk rasa mereka pada 3 November 2007. Mereka tidak melakukan aksi diam tapi menyanyikan lagu-lagu Super Junior dan meneriakkan '13!'. Meskipun SM telah mengumumkan bahwa member baru tidak akan dimasukkan ke dalam grup inti Super Junior dan tidak akan mempengaruhi karir Super Junior, para E.L.F percaya bahwa hal yang sama akan terjadi, akan ada member-member baru lagi yang muncul nantinya dan yang lama akan pergi. Kepergian itu yang ditakutkan E.L.F." Rae tersenyum puas ketika selesai menjelaskan aksi favoritnya itu.

Yongri mengangguk. "Lalu apa hasil dari gerakan 'ONLY13'?"

"E.L.F tidak pernah bermain-main. Kami mencintai mereka, maka karna itu kami melindungi mereka. Dengan sungguh-sungguh kami mengumpulkan dana, sampai akhirnya kami bisa membeli 0,3 % saham SM untuk melindungi 13 anggota Super Junior. Mungkin karna pihak SM takut, mereka menyuruh Leeteuk oppa untuk turun dan menenangkan kami. Oppa bilang kepada kami 'Mulai sekarang, tak perduli 10 atau 20 tahun, Super Junior adalah 13 orang selamanya!', Heechul oppa pun pernah berkata 'Super Junior adalah Super Junior, tidak ada yang bisa menggantinya dengan nama sendiri-sendiri, Super Junior juga tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. Kami adalah susunan yang tetap dalam Super Junior. Karena member Super Junior itu banyak, semua orang melihat saat kami bermain satu sama lain, bertengkar satu sama lain, menangis satu sama lain, menanggung kesusahan satu sama lain, tapi juga menghargai satu sama lain. Oleh karena itu Super Junior bisa bertahan, itu karena kami adalah member Super Junior, kami semua bersama sebagai SATU!' itu semakin meyakinkan kami bahwa Super Junior tetap 13 member untuk selamanya!" ujar Rae semangat.

[Side Member]

Hangeng terduduk lemas di sofa itu, ia memeras kedua tangannya kuat. Ia tak menyangka—sama sekali tak menyangka kalau hal itu akan kembali di bahas. Hangeng menarik nafas dalam lalu menatap semua namja dihadapannya yang menatapnya khawatir.

"Aku baik-baik saja..." bisiknya pelan mencoba untuk menenangkan mereka. Ia mencoba menipu mereka dengan tersenyum kecil. Tapi, sesuai dugaannya, ia sama sekali tak bisa membohongi keluarga kecilnya itu.

"Kau tidak bisa membohongi kami, hyung," Ujar Kim Jong Woon atau lebih akrab dipanggil Yesung itu dingin. Hangeng mendongkak menatapnya lalu tersenyum miris.

"Mianhae..." bisiknya parau sembari menunduk. "Mian... aku telah merepotkan kalian. Mianhae." kini air mata sukses membasahi wajahnya. "Mianhae... aku... aku merepotkan kalian dengan keputusan yang kuambil... jeongmal mianhae." Setelah itu sang leader langsung memeluk Hangeng penuh perasaan.

"Kamu sama sekali tak membuat kami kerepotan, Hangkyungie. Itu sudah tugas kami untuk melindungi keluarga kami kan?" bisik Leeteuk pelan, Hangeng hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan tangis sembari berucap pelan "Mianhae." berulang kali.

[Side ELF]

"Sungguh jawaban yang sangat menyentuh. Saya ingin bertannya lagi, apa pendapat kalian tentang kematian ayahanda Donghae-sshi, kecelakaan yang menimpa Heechul-sshi, dan juga kecelakaan yang menimpa Leeteuk-sshi, Eunhyuk-sshi, Shindong-sshi, dan Kyuhyun-sshi?"

DEG!

Mendadak suasana diruangan itu terasa mencekam, kedua yeoja yang seharusnya menjawab kini benar-benar menunduk dalam. Jije terlihat memeras tangannya sedangkan Rae menutup wajahnya. Yongri menatap dua yeoja dihadapannya sembari tersenyum kecil.

"Jije-ya? Rae-ya? Mian, apa pertanyaan ini sangat berat untuk dijawab?" tanyanya sembari mengubah raut wajahnya. Kedua yeoja itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Yongri.

"Aniyo... Mian, Yongri-ya. Sa-saya bisa menjawabnya," jawab Jije sembari mengambil selembar tisu dari dalam tas yang dibawanya.

"Saya mulai dulu dari kematian ayahanda Donghae oppa." Jije menarik nafas panjang. "Kejadian itu benar-benar sebuah awal luka kami dari kecelakaan berturut-turut yang menimpa mereka. Kami tahu dengan baik kalau Donghae oppa sangat amat menyayangi ayahandanya. Aku ingat jelas ketika Donghae oppa ke tempat peristirahatan terakhir ayahandanya. Aku sangat ingat, saat ia diwawancarai oleh media ia menampilkan wajah 'pabbo' dihadapan kamera. Tapi kami tidak buta, kami mengerti, kami sadar, kami tahu semuanya! Mungkin oppa bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan kami. Kami dapat melihat jelas semua kesedihan oppa dari mata oppa! Mata oppa benar-benar memperlihatkan kesedihan mendalam. Kami tahu saat itu... saat itu oppa benar-benar hancur. Hancur dalam kesedihan." Jije menutup matanya sejenak.

"Pasti... saat itu pasti bukan hanya saya yang merasakan hal itu, semua E.L.F 'pun pasti merasakannya. Saat itu saya benar-benar takut. Saya takut Donghae oppa tidak bisa kembali lagi, saya takut jika ia terpuruk dalam kesedihan. Saya nyaris setiap minggu mengirimkan surat atau apapun kepadanya dengan pesan 'Jangan terpuruk dalam kesedihan oppa. Kami ada disini bersamamu. E.L.F dan teman-temanmu ada disisimu selamanya.' yang selalu saya lampirkan di dalam hadiah itu. Hanya dengan itu saya bisa menahan rasa sesak didada saya, pastinya E.L.F yang lain pun berfikiran sama seperti saya." Jije menatap langit-langit ruangan sembari menarik nafas dalam.

[Side Member]

Donghae kini hanya bisa terdiam sembari berusaha sekuat mungkin untuk meminimalisir perasaan sedih dihatinya. Air mata mengalir deras tak tertahankan. Bayang-bayang masa lalu dimana ia benar-benar mati dalam ketepurukan kembali ter-replay dalam pikirannya. Leeteuk dan Eunhyuk berusaha untuk menenangkan Donghae meskipun mereka juga menangis.

"Appa..." bisik Donghae pelan diantara isak tangisnya. Eunhyuk semakin mengeratkan pelukannya ketubuh Donghae agar berharap agar Donghae berhenti menangis, sedangkan Leeteuk tak bisa lagi menenangkan Donghae karena ia juga jatuh kedalam memori itu.

[Side ELF]

"Lalu kecelakaan Heechul oppa..." Jije kembali menatap Yongri yang sedang menuliskan sesuatu ke dalam notesnya, Yongri menatap Jije lalu mengangguk pelan. "Sesuai yang kita ketahui, Heechul oppa terkena kecelakaan tak lama setelah pemakaman ayah Donghae oppa. Kecelakaan itu membuat kaki Heechul oppa cidera dan tidak mampu untuk menari. Saya tak bisa membayangkan betapa sedih dan sakit yang Heechul oppa rasakan. Lucunya..." Jije terlihat menarik sudut bibirnya sehingga menampilkan senyuman dengki yang sangat terasa. "...ada orang yang mengatakan 'Mengapa Kim Heechul dari group yg tidak berkonsep seperti Super Junior itu tidak dipaksa saja untuk menari? Kenapa dia masih bisa selamat dari kecelakaan itu? Kenapa tidak mati saja?'." senyuman itu hilang dari wajahnya tergantikan dengan raut wajah marah. "...Saya rasa seseorang yang mengatakan itu pantas mati. Dia dengan entengnya bilang seperti itu padahal dia sama sekali tidak tau apa yang dirasakan oleh oppa! How dare you can say like that! Ck!" Jije menarik nafas sekali lagi. "...Huf. Mian, saya lepas kendali." Yongri mengangguk mengerti. "Saya lanjutkan. Karna cidera yang dialami oleh Heechul oppa, Heechul oppa memutuskan untuk memakai penopang besi pada kakinya agar bisa kembali pada Super Junior. Dengan merasakan sakit yang teramat sangat Heechul oppa berhasil melakukan comeback stage bersama Sub Super Junior-T, tapi dikarenakan penopang besi itu Heechul oppa tidak bisa tampil dengan sempurna, dan karna itu komentar pedas kembali terlempar kearahnya. Komentar yang mengatakan 'Is it the elementary dance? I can go on stage with this level.'. tapi... Heechul oppa kami kuat! Walaupun ia diberi komentar pedas seperti itu ia tetap tersenyum. Dan kamipun tetap mendukungnya walaupun tariannya tak sesempurna dulu."

[Side Member]

Heechul mengerang pelan ketika mendengar hal itu. Rasa sakit tiba-tiba terasa pada kakinya, ia menutup mata sembari menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan erangan yang memaksa keluar.

Rasa sakit yang kini terasa membuatnya kembali teringat pada masa itu. Dimasa ia sempat putus asa karena kakinya, karena komentar pedas kepadanya. Matanya terasa panas, ia ingin menangis tapi sesuai yang dibilang E.L.F itu, ia kuat, ia tak ingin menangis.

Puk...

Tepukan pelan terasa di pundaknya membuatnya menoleh menatap kearah seorang namja yang sejak tadi menangis disampingnya.

"Hannie?" bisiknya pelan, namja itu hanya bisa tersenyum miris lalu menggeleng. "Aku tau kau kuat. Aku tau kau tidak mau membuat E.L.F kecewa padamu, Chullie. Tapi... aku tau... mereka akan sangat sedih jika biasnya menahan air mata demi mereka. Chullie... kau juga perlu menangis ketika kau merasakan sedih. Menangislah... demi dirimu dan E.L.F diluar sana," ujar namja bernama korea Hankyung itu pelan yang mampu membuat namja tegar dihadapannya meneteskan air matanya. "Menangislah, Kim Heechul." Bisik Hangeng pelan sembari merengkuh tubuh Heechul.

[Side ELF]

Jije kembali menatap Yongri yang diam menatapnya, Jije menggigit bibir bawahnya pelan, matanya memerah menahan tangis. "L-lalu soal ke-kecelakaann yang menimpa oppade—ukh..." suara Jije bergetar, tangannya menutup mulutnya untuk menahan isakan, namun akhirnya Jije sampai dibatasnya, air mata yang ia tahan sedari tadi mengalir pelan dari sudut matanya, isakan kecil mengalun pelan. Rae disampingnya merangkul tubuh Jije untuk menenangkan. Jije dengan tangan gemetar berusaha untuk menutupi mulutnya dengan tisu yang ia genggam sedari tadi untuk meminimalisir intensitas isakannya. Rae menatap iba Jije, ia tahu Jije sedari awal menceritakan tentang kesedihan yang dialami oppadeul tercinta mereka itu, sudah menahan air matanya. Namun dengan egoisnya ia hanya memikirkan dirinya dan memerintah Jije untuk menjelaskan kepada yeoja dihadapannya.

"Aku yang menjawabnya ya, Jije?" tanya Rae pelan, Jije hanya bisa mengangguk pelan. Rae menatap Yongri sedangkan Yongri hanya mengangguk mengerti arti tatapan Rae. Rae menarik nafas dalam.

"19 April. 19 April adalah mimpi terburuk bagi kami. 19 April adalah tanggal yang benar-benar kami harap lenyap dari dunia. 19 April adalah tanggal dimana kami menangis dalam diam. 19 april adalah tanggal dimana kecelakaan menimpa 4 member Super Junior. Leeteuk oppa, Eunhyuk oppa, Shindong oppa dan Kyuhyun oppa. Mo-mobil yang ditumpangi mereka menabrak pembatas jalan dan terguling, membuat oppadeul yang ada di dalamnya harus segera dilarikan ke Rumah Sakit. Belum cukup membuat kami menangis, ternyata Kyuhyun oppa harus memasukki masa kritisnya. Ia... ia merupakan seseorang yang mengalami luka paling parah pada kecelakaan itu. Selama beberapa bulan ia tertidur panjang dalam lindungan alat-alat yang memasuki tubuhnya. Kami sadar selama 3 bulan itu E.L.F benar-benar mati—khususnya Sparkyu, air mata kami terus mengalir tiap harinya. Kami yang tidak diperbolehkan masuk kedalam Rumah Sakit yang merawat Kyuhyun oppa hanya bisa menangis dan berdoa. Kami semua berdoa 'Tuhan, tolong biarkan mereka untuk berdiri lagi, biarkan mereka untuk bernyanyi lagi, tolonglah.. tolonglah... bukalah mata Kyuhyun oppa yang kami cintai... buatlah ia kembali sehat seperti sedia kala... kumohon... kembalikanlah senyuman ke wajah oppadeul kami... Tuhan... tolonglah kami... kami mohon kepadamu' . Kami tak mengenal kata berhenti dan lelah untuk doa itu, kami terus berdoa tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik... berdoa untuk keselamatan Kyuhyun oppa. Sampai akhirnya kami menghela nafas lega, tuhan mengabulkan doa kami. Setelah sekian lama ia tertidur akhirnya ia bangun membuka mata dan kembali menatap dunia yang kejam ini. Kami kembali menangis, menangis haru, ucapan syukur terucap syahdu dari mulut kami. Senyuman kembali menghiasi wajah oppadeul tercinta kami. Kami tak bisa berkata lain selain mengucapkan..." Rae menarik nafas lalu tersenyum pilu air matanya tak berhenti mengalir, "...'Terima kasih Tuhan... Terima kasih kau telah mengabulkan doa kami... Terima kasih.'." ia menyudahi ucapannya dengan mata yang tertutup menahan air mata dan bibir yang bergetar. Jije yang masih menangis memeluk Rae lembut.

[Side Member]

19 April.

Semua orang di dalam ruangan itu terdiam, membisu dalam keheningan ruangan, suara isak tangis dua yeoja di sebrang terdengar jelas dari speaker di dekat mereka. Penuturan lembut tanpa kebohongan setitik pun sukses membuat ke 13 namja di tempat itu mengulang kenangan pahit dalam perjalannannya.

Cho Kyuhyun menutup matanya, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa haru sekaligus sedih dan ketakutan dalam hatinya. Ia ingat bagaimana takutnya ia ketika kecelakaan itu. Ia ingat bagaimana semua hyung dan keluarganya menyambutnya dengan isak tangis bahagia ketika ia sadar dari tidur panjangnya. Ia ingat bagaimana semua E.L.F menangis ketika ia kembali muncul di hadapan mereka.

Rasa sakit menyerang tubuhnya, ia merasakan sesak luar biasa di hatinya. Rasa sesak yang ditimbulkan dari rasa cinta mereka kepadanya, ini bukan pertama kalinya ia mendengar cerita yang menceritakan seperti apa E.L.F panik ketika ia tertidur, ia hanya mengangguk lalu tersenyum dan menahan air matanya ketika pertama kali mendengarnya, tapi kini ia tak sanggup tersenyum, ia tak sanggup menahan air matanya. Air mata itu kini mengalir pelan dari matanya, membasahi pipinya.

Lee Sungmin disampingnya langsung memeluk dongsaeng-nya itu penuh sayang ketika isakan pelan terdengar dari Kyuhyun pelan.

"Ssst... Uljima, Kyunie... Sudah berakhir, Kyu... itu sudah terlewatkan... Kamu sudah sehat sesuai doa mereka... Kau sudah sembuh Kyu," bisik Sungmin pelan, sekuat mungkin namja itu menahan tangisnya agar tidak merepotkan semua hyung dan dongsaengnya. Sungmin mengeratkan pelukannya ketubuh Kyuhyun ketika merasakan tubuh Kyu bergetar dan isakan tangis semakin menjadi diruangan itu. Member yang lain menatap mereka haru, mereka tak jauh berbeda dari Kyuhyun. Mereka juga kembali teringat kenangan itu, kenangan dimana mereka sama sekali tak bisa berhenti memikirkan nasip magnae kesanyangan mereka.

"Terima kasih Tuhan... terima kasih karna kau telah mengembalikan Kyuhyun ke sisi kami sehingga kami bisa kembali tersenyum... Terima kasih," bisik Siwon sembari menunduk dalam.

[Side ELF]

"Oke. Apa kalian sudah siap?" tanya Yongri pelan, kedua yeoja dihadapannya mengangguk sembari menghapus jejak air matanya dengan tisu.

"Mungkin ini terdengar buruk, tapi apa kalian tidak bosan menjadi penggemar mereka? Menjadi seorang E.L.F? Menjadi seorang E.L.F yang mungkin tidak diketahui oleh member super junior keberadaannya?"

Kedua yeoja yang mulai menormalkan nafasnya menatap Yongri kaget.

"Ha?" ucap mereka bersamaan tak percaya akan pertanyaan yang dilontarkan Yongri.

[Side Member]

Mereka tersentak, menatap satu sama lain lalu kembali menatap layar dihadapannya. Otak mereka entah kenapa bekerja lambat saat itu. Mereka masih terdiam memproses pertanyaan yang dilemparkan oleh Yongri tadi.

"M-mwo! Apa yang dia bilang tadi!" pekik Kim Heechul tidak terima ketika ia sadar akan pertanyaan itu, ia bangkit dari duduknya, namun belum sempat namja itu berlari kearah pintu, tangannya di cengkram kuat oleh namja disamping kirinya—Choi Siwon.

"Hyung, diamlah. Dengar dulu apa pendapat mereka!" perintah Siwon pelan, Heechul menggerakkan tangannya gusar. "Lepaskan aku Siwon! Aku harus bertanya tentang per—," ucapan Heechul terpotong ketika Siwon berbisik pelan, "Kalau soal pertanyaan itu...," Siwon melepaskan genggamannya dari tangan Heechul, ia menelan salvianya susah payah. "...soal pertanyaan itu... kita sama sekali tidak bisa mengelak. Karna kita... memang seperti yang ia ucapkan, kita memang tidak tau siapa mereka 'kan?" terang Siwon sembari menunduk dalam, Heechul menatap Siwon tak percaya, ingin rasanya ia menentang ucapan Siwon tapi ia tidak bisa. Ucapan Siwon itu benar adanya. Awalnya—kalau tidak diberitahu oleh Han, mereka memang sama sekali tidak tahu kalau dua yeoja di layar dihadapannya adalah seorang E.L.F. Mereka sama sekali tidak tahu.

Ia kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa itu frustasi lalu kembali menatap ke layar dihadapannya. Menunggu jawaban apa yang kiranya akan keluar dari hati kedua E.L.F mereka itu.

[Side ELF]

Yongri tersenyum kecil menatap ekspresi wajah kedua yeoja dihadapannya yang benar-benar kaget akan pertanyaan.

"B-bisakah anda ulangi pertanyaannya, Yongri-ya?" tanya Jije sedikit takut, ia bukan takut bertanya tapi ia takut mendengar pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang mampu membuat keyakinannya goyah. Pertanyaan yang selalu membuatnya termenung di pojok kamar untuk kembali meyakinkan hatinya.

"Saya bertanya, apa kalian tidak bosan menjadi penggemar mereka? Menjadi seorang E.L.F? Menjadi seorang E.L.F yang mungkin tidak diketahui oleh member super junior keberadaannya?" ulang Yongri.

Jantung Jije sontak berdetak cepat, wajahnya seketika pucat pasi. Ia menunduk dalam, Rae menatap Jije khawatir.

"Jije-ya? Waeyo, Jije?" tanya Rae bingung, ia terlihat panik ketika melihat tubuh Jije bergetar pelan. "Jije?" tanyanya sekali lagi.

Tidak ada balasan dari Jije selain gelengan kepala pelan darinya. "Tidak... saya tidak baik-baik saja. Saya percaya mereka. Saya percaya," bisik Jije pelan, Rae semakin panik mendengar ucapan Jije yang penuh keputus asaan.

"Saya percaya pada mereka. Saya percaya mereka tahu keberadaan saya ditengah-tengah fans mereka. Saya percaya mereka tau saya adalah E.L.F. Saya percaya kepada mereka. Saya percaya," bisiknya lagi dengan suara parau, Rae disampingnya hanya bisa terdiam tak percaya menatap Jije yang benar-benar terlihat lemah saat itu.

"Jije... berhentilah berbohong. Berhentilah membohongi perasaanmu," bisik Rae lemah sembari menatap Jije kasihan. Jije mendongkak lalu menatap Rae tak percaya.

"Apa maksudmu Rae-ya? Apa kau berfikir mereka tidak tahu kita? Apa menurutmu mereka tidak tidak melihat mereka? Apa maksudmu, Rae-ya! Apa kau tidak percaya pada mereka?" tanya Jije dengan suara yang naik satu oktaf, Rae sedikit tersentak ketika mendengar ucapan Jije.

"A-ani! Aku percaya kepada mereka!"

"Lalu? Lalu apa! Kenapa kau bicara seperti itu? Kenapa kau men-judge mereka seperti itu?" suara Jije berubah parau, sekuat tenaga yeoja itu menahan air matanya.

"Aku... ak—," ucapan Rae terputus ketika Jije menatapnya dingin. "Sudah. Tidak usah kau jelaskan, Rae-ya. Saya mengerti. Saya mengerti kalau saya memang bodoh mempercayai mereka kan?" Jije tersenyum miris, air matanya kembali mengalir pelan.

"ANI! Apa maksudmu berbicara seperti itu, Jije! Kau... apa kau mau berhenti mempercayai mereka, hah?" Rae berteriak tak percaya, ia menatap Jije sedih. Ia tak mau jika Jije berhenti menjadi E.L.F, ia tak mau kalau seseorang yang ia kenal tidak mempercayai Super Junior. Ia tidak mau.

"Saya... saya mempercayai mereka, Rae-ya. Tapi...," Jije menggantung ucapannya, ia menunduk dalam sembari meremas tisu yang dipegangnya.

"ARGH! Sudahlah!" Rae mengerang frustasi sembari menatap Jije kecewa. Jije menatap Rae takut. "Aku kecewa padamu. Sungguh."

"R-Rae-ya, s-saya..."

"Sudah. Berhenti membela dirimu. Aku... aku tak habis pikir, kau ini kenapa, Jije? Aku tak menyangka kalau kau akan berkata seperti itu. Asih... aku heran padamu, kau sudah menyukai mereka sejak awal, kau lebih mengenal mereka padaku... tapi kenapa. Kenapa kau sampai bilang seperti itu? Apa kau hanya ikut-ikutan mencintai mereka? Apa kau berbohong selama ini? Ap—," ucapan Rae terpotong ketika Jije berteriak kencang.

"BERHENTI!" teriak Jije sembari menutup telinganya, air mata tidak mengalir dari matanya namun aura kesedihan tetap terasa disekitarnya. Jije menatap Rae marah.

"SAYA MEMPERCAYAI MEREKA SEPERTI SAYA MEMPERCAYAI KEDUA ORANG TUA SAYA! SAYA MENCINTAI MEREKA LEBIH DARI YANG KAMU BAYANGKAN! SAYA MENCINTAI MEREKA DENGAN TULUS SEMENJAK AWAL! SAYA SAMA SEKALI TIDAK BERBOHONG, SAYA MENCINTAI MEREKA!" teriaknya frustasi, ia meremas rambutnya.

"Ji-Jije?" Rae mencicit tak percaya mendengar teriakkan Jije, ia tak menyangka kalau yeoja yang ia anggap dewasa dan pendiam ini bisa lose control seperti ini.

"Saya terus mempercayai mereka! Saya tak perduli jika saya harus membohongi diri saya sendiri! Saya mempercayai mereka lebih dari saya mempercayai saya sendiri! Tapi... tapi saya takut... saya takut mendengar pertanyaan itu lagi. Rae-ya, kau tau... Saya mengerti kalau hal itu nyata, saya hanyalah seorang E.L.F dari jutaan E.L.F diluar sana, saya juga tak pernah menemui mereka secara langsung, karena itu... sebenarnya saya juga merasakan hal itu. Mereka tak mungkin mengenal saya. Rae-ya... kamu tau... itu sakit, sakit sekali... Rae-ya. Saya... Saya hanya mencoba mempertahankan perasaan saya kepada mereka. Saya membohongi diri saya untuk mereka... apa itu salah? Apakah sebuah kesalahan jika saya mempercayai mereka?" tanyanya parau, ia menunduk dalam. Rae tersenyum kecil lalu memeluk yeoja itu. "Mianhae... aku tak bermaksud membuatmu menangis, Jije. Aku hanya ingin membuatmu jujur saja." bisik Rae pelan, Jije hanya mengangguk pelan mengerti.

[Side Member]

Mereka kembali tercengang. Leeteuk tak kuasa menahan air matanya. Ia menutup mulutnya tak percaya. Reaksinya nyaris sama dengan member Super Junior yang lain. Mereka sama-sama tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar tadi.

Kedua yeoja itu rela berdebat hanya untuk kekurangan mereka. Demi tuhan, rasa haru benar-benar merasuk kedalam relung hati tiap member, bahkan Hangeng yang notabene-nya kini bukan lagi member Super Junior juga merasakan haru.

Kedua yeoja itu hanyalah bagian amat sangat kecil dari fans mereka mampu membuat mereka merasa berharga, mampu membuat mereka merasa haru. Mereka tak bisa membayangkan jika semua E.L.F merasakan seperti mereka berdua, mereka rela mati saat itu juga. Mati dalam rasa haru teramat sangat.

[Side ELF]

Kedua yeoja itu masih saling berpelukkan dan membuat Yongri merasa inilah waktunya. Perlahan ia memasukkan tangannya kedalam saku jasnya dan menekan sebuah alat didalamnya.

Ia tersenyum lalu menatap kedua yeoja itu. "Uljima. Kalian ingin menangis sampai kapan?" tanya Yongri sembari tersenyum kecil, kedua yeoja itu menatap Yongri malu lalu dengan cepat menghapus air mata mereka. "Mianhae, Yongri-ya." Bisik mereka berdua sembari menatap Yongri malu.

"Arraseo. Kita lanjutkan sesi tanya-jawabnya ya?" kedua yeoja dihadapannya mengangguk pelan.

"Jadi se—,"

BRAK!

Ketiga yeoja di dalam ruangan itu terlonjak kaget dan sontak menatap kearah pintu yang dibuka dengan kasar itu penasaran.

"Kalian semua, berhenti! Berhenti mengucapkan omong kosong tidak berguna seperti ini!"

.

To Be Continue—or...

.


Again, the main character is ELF. Mian, mian... if this Fic is too bad for you.

Ah, mian... Fic ini harus saya bagi menjadi 2 chapter karna... well, sepertinya bagian selanjutnya lebih menarik kalau di pisahkan.

Ah. Saya mengucapkan terima kasih atas respon baik pada Fic pertama dan kedua saya di Fandom ini—'For me you are Imposible', 'I just Wanna Say'.

::Gamsahamnida:: MingminnieMing0114, AriesGirl, risa-sparkyu, Reinatta Amelia, evilminkey, Alin, Saranghae328,ELF, tanmayleen1008, umi elf teukie, RyeoRim, trueetr, blackwinter, aiibii chan, KyuminMin, Arit291, KyuELF15, maerin, ZueTeuk, MonicRunningMan

Kelanjutan Fic ini bergantung pada Review...

Review Please (Jika kalian merasa ini hanyalah sebuah JUNK fic, tolong katakan sejujurnya lewat Review. Tapi dengan teramat sangat memohon, tolong jangan gunakan kata kasar. Gomawo)