SHIKIGAMI TWINS

Disclaimer:
Vocaloid bukan punya saya, tapi fanfiction ini milik saya!

Rating: T

Genre: Romance, Supernatural, Tragedy, Friendship

Warning: GAJE, ALAY, OOC, ANEH, TYPO, DLL.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! Tidak menerima flame yang hanya bermaksud untuk menjatuhkan.

Summary:
"Kertas-kertas itu sangatlah berarti bagiku. Tapi ada yang jauh lebih berarti daripada kertas-kertas itu. Apakah itu?"

Author: Saya buat fanfic baru :D

Rin: Ya ampun. Kok, fanfic yang Kagamine 4 diterlantarin (?) sih?

Len: Tau nih, author. Gonta-ganti mulu. Mestinya satu selesai, semua selesai =.=

Author: Kalian nggak usah kejam, deh. Oh iya, saya berterima kasih sama salah satu author dari fanfiction, IchigoMei-Chan desu. Dengan melihat nama "Shinigami" saya jadi ingat sama "Shikigami". Dan terbitlah fic ini :D

Rin: Kau itu mau bikin fic Vocaloid apa fic Nurarihyon no Mago, sih?

Author: Apa hubungannya sama Nura? owo

Len: Tenang aja. Ceritanya pasti beda lah.

Author: Bener. Bener. Mulai aja, deh :3


Rin's POV

Konnichiwa! Watashi wa Kagamine Rin. Kalian bisa lihat penampilanku? Rambutku berwarna honey blonde dan selalu berhiaskan pita putih besar dan mataku berwarna biru azure. Jika kalian menganggap aku ini manusia biasa, itu salah. Aku adalah seorang onmyouji yang mengandalkan shikigami. Kalian tahu apa shikigami itu? Shikigami adalah makhluk-makhluk yang berasal dari kertas. Mereka akan mematuhi perintah pesuruh mereka.

Aku sebagai onmyouji, pengandal shikigami menjalankan hidup sebagai manusia biasa. Tak salah, kan? Hidup harus dinikmati. Hehehehe.

Kami mengerti perasaan manusia. Senang, sedih, bahagia, ataupun terharu... Semacam itulah. Jadi kalian jangan kaget kalau melihatku menangis atau tertawa, aku ini bukan tsundere! #slap

Tapi ada satu perasaan yang tak kumengerti. Mereka tak merasakan dan tak mengerti. Apa itu? Um... Rasa suka? Rasa cinta? Ehh... Tidak tahu, deh. Pokoknya yang "cenat-cenut" gitu, lho...

Sudah, sudah. Jangan bicara tentang perasaan lagi. Akan kujelaskan apa tugasku sebagai seorang onmyouji.

Kami ditugaskan untuk menjaga keseimbangan dunia. Kami juga harus melindungi orang-orang yang berada di sekitar kami dari yokai-yokai jahat yang ada di dunia ini. Yokai itu ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Jangan salah paham, ya...

Mau tahu apa kesukaanku? Aku suka menyanyi. Apa? Kami nggak boleh nyanyi? Enak saja! Kan, aku sudah bilang, aku menjalani hidup ini layaknya manusia biasa. Menyanyi itu menyenangkan, tahu? Segala hal yang memusingkanku dapat kulepaskan begitu saja dengan mengeluarkan semuanya dari mulutku.

Apalagi yang kusuka? JERUK!

Siapa yang tidak tahan dengan benda-benda kecil berwarna oranye itu? Mungkin kalian tidak seuka dengan jeruk, tapi aku suka sekali! Rasanya manis dan juga asam. Bentuknya saja lucu.

Ahh... Kok, jadi ngomongin jeruk? Mau kuterangkan lagi apa itu shikigami?

Aku memiliki banyak shikigami. Shikigami yang bermacam-macam. Kalau aku dapat menggunakan banyak shikigami sekaligus, itu artinya kemampuanku sudah cukup tinggi. Aku mau dong, jadi onmyouji berkemampuan tinggi! Hehehe.

Namaku Rin, sekali lagi. Aku bersekolah di Vocaloid Gakuen, sekolah yang sangat menyenangkan! Disana kami banyak belajar tentang menyanyi. Kalau pelajarannya matematika, fisika, biologi, dan semacamnya, aku tak mau sekolah kali!

Aku memiliki seorang sahabat karib, ia bernama Hatsune Miku. Rambutnya berwarna hijau tosca dan selalu diikat dua. Hm... Dia ini tergila-gila sama negi alias bawang. Aku sih, tidak suka, tuh. Kalian suka sama negi tidak?

Kurasa untuk introduce-nya sudah dulu, ya? Kita mulai saja ceritaku, yuk?


Pagi ini aku menyantap jeruk sebagai sarapan. Sehabis sarapan, aku segera keluar rumah untuk bersekolah.

Cuaca hari ini baik. Membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah. Aku dapat melihat seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat dua. Segera saja aku meneriaki namanya.

"Miku!" teriakku padanya.

Gadis yang tidak lain dari Miku itu menengok ke arahku dan tersenyum.

"Rin! Ohayou!" katanya sambil melambaikan tangan.

Aku berlari ke arah Miku untuk pergi ke sekolah bersama-sama. Bersama-sama ke sekolah tentu lebih menyenankan, bukan? Kita bisa berbagi cerita.

"Kelas nanti diacak lagi," kata Miku tiba-tiba.

"Oh, ya?" tanyaku. Untuk jawabannya Miku hanya mengangguk.

Di sekolah kami, kelas diacak setiap setahun sekali. Disini kami tidak memakai kelas berdasarkan umur, tapi berdasarkan kemampuan. Kalau sudah cukup baik, dapat naik ke tingkat selanjutnya. Jadi kalau tidak naik kelas setahun sekali, itu tidak masalah. Hanya saja kelas akan diacak, supaya kita tidak bosan dengan teman-teman lama.

"Akhirnya kita bisa ganti kelas lagi!" seru Miku sambil meloncat-loncat senang. Aku hanya tertawa kecil melihatnya seperti anak-anak. Semoga aku bisa sekelas dengan Miku lagi!

"Ohayou!" seru Miku begitu sampai di kelas.

Serentak semua anak yang berada di kelas itu membalas salam Miku. Siapa sih, yang tidak kenal dengan Miku? Dia kan salah satu diva di sekolah ini. Tidak heran, menurutku.

"Rin! Kita ke aula, yuk!" seru Miku. Ia menarik tanganku tanpa menunggu respon anak-anak yang lain.

"Eh... Tunggu, Miku!" seruku. Mau tidak mau aku terseret juga oleh Miku.

.

.

"Kecepatan, seperti biasanya. Di sini belum ada orang!" seruku pada Miku.

Miku tertawa iseng. "Lebih baik kecepatan daripada terlambat, kan?" ujar Miku padaku.

Aku mengangguk-angguk, mau tidak mau.

"Rin! Kita duduk di kursi depan, yuk!" seru Miku. Ia mundur sambil melompat-lompat.

"Miku! A-"

BRUK!

Belum sempat aku memperingati Miku, ia sudah menabrak seseorang karena melompat-lompat dari belakang. Duh... Belum juga kuperingati sudah nabrak. Stubborn, sih!

"I-Itai..." Miku bergumam kecil. Ia terduduk di lantai.

"Miku? Dai-"

"G-Gomenasai!" Belum sempat aku menyelesaikan omonganku, tiba-tiba saja orang yang menabrak Miku itu meminta maaf.

Aku segera menolong Miku untuk bangun. Dan kita berhadapan dengan orang itu.

Sugoi... Aku tidak tahu di sekolah ada orang seperti dia. Dia itu laki-laki. Rambutnya berwarna honey blonde dan diikat sedikit ke belakang. Matanya juga biru azure, seperti mataku.

"Ti-Tidak apa-apa, kok," jawab Miku sambil mengelus kakinya yang sakit.

Aku menatap orang itu sejenak. Tak lama kemudian dia mengalihkan pandang padaku dan tersenyum. Aku sangat kaget dan melihat ke arah lain.

"Siapa nama kalian?" tanyanya.

Aku diam saja, tidak tahu kalau Miku akan menjawabnya dengan cepat.

"Aku Hatsune Miku, dia sahabatku, Kagamine Rin," jawab Miku dengan senyum andalannya.

"Miku!" seruku kaget. Aku tak sangka dia akan memberi tahu namaku pada orang yang baru saja kenal.

Dia tampak kaget sejenak. "Kagamine... Rin?" katanya tiba-tiba.

"Eh? Iya?" balasku agak bingung.

"Namamu siapa?" tanya Miku tiba-tiba.

"Ng... Len. Kagamine Len," jawabnya dengan nada bingung.

Eh? Bagaimana mungkin? Dia memiliki marga yang sama dengan margaku? Tapi... siapa peduli? Aku ini kan, bukan manusia biasa. Tidak perlu khawatir tentang apa-apa. Mungkin hanya kebetulan.

"S-Sou..." Hanya itulah kata yang keluar dari mulutku.

"Semoga kita bisa sekelas ya, Rin-chan," katanya sambil tersenyum sekilas padaku. Setelah itu, ia pergi.

Aku terdiam sejenak. Rin-chan?

"Eaa..." Miku tiba-tiba berbisik di telingaku. Aku melompat saking kagetnya.

"Kau itu buat aku kaget saja!" seruku sambil memukul Miku pelan.

Miku tergelak sejenak.

"Kau enak, ya. Kok, bisa sih, dia tertarik denganmu?" ujar Miku tiba-tiba.

"A-Apaan, sih! Baru kenal juga!" seruku. Pasti wajahku saat ini sangat merah?

Miku tergelak lagi. "Yuk, kita duduk."

.

.

"Miku! Kita nggak sekelas!" seruku begitu selesai upacara semester baru.

"Eh? Sayang banget, ya," kata Miku mencoba untuk tersenyum.

"Yah... Nanti aku main-main ke kelasmu, deh, kadang-kadang," balasku untuk menghiburnya.

"Beneran? Kalau gitu, aku juga bakal main ke kelasmu kadang-kadang!" seru Miku sambil tersenyum.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

"Sore ja, Rin! Aku mau ke kelasku dulu, ya," kata Miku. Ia melambaikan tangan lalu lari meninggalkanku.

Aku hanya mengangguk sebagai balasan. Oh, iya. Aku juga harus ke kelas!

Aku berjalan menuju kelasku. Ketika mau memasuki kelas, tiba-tiba ada murid yang mau memasuki kelas.

"Tu-Tu-!"

BRUK!

Itai... Aduh, sakit...

"Maaf! Kau tidak apa-apa?" seru seseorang.

Ehh! Tunggu dulu. Aku kenal suara ini. Aku menengok untuk melihat siapa itu.

"Kagamine Len?" gumamku pelan.

Sepertinya dia mendengar gumamanku. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

"Rin-chan? Maaf. Kau juga di kelas ini, ya?" katanya.

Aku berdiri dan mengangguk.

"Kau-" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba aku mendengar suara jeritan anak-anak perempuan.

"Rin-chan! Duduk denganku, ya!" serunya padaku.

Eh? Duduk bareng, gitu?

"Emang kenapa, Kagamine-kun?" balasku dengan wajah penuh tanda tanya.

"Panggil Len saja. Please... Mohon banget, deh!" serunya sambil memohon-mohon.

"Memang kenapa?" tanyaku, masih bingung.

BRUK! BRUK! BRUK!

"Eh?" Aku kaget karena begitu banyak anak perempuan mengerubungi kami. Aku sampai hampir jatuh dibuatnya.

"Rin-chan!" seru Len. Ia menarikku. Dan tidak sengaja... Ia memelukku!

PLASH!

Wajahku merah? Tidak peduli, ah.

"Len! Kenapa kau dengan Rin?"

"Masa iya, Rin itu pacarmu, sih?"

"Rin, menjauhlah dari Len-sama!"

Komentar-komentar menyebalkan! Aku baru saja akan melepaskan pelukan Len dan berteriak kepada mereka. Tapi...

"Kalian jangan bicara yang macam-macam!" seru Len tiba-tiba. Wajahnya memerah.

Kemudian aku diajaknya masuk ke kelas.

"Kau itu jangan macam-macam! Nanti yang lain salah sangka, tahu!" seruku setengah berbisik dengan wajah yang merah karena... um... marah dan malu?

"Gomenasai. Tapi duduk denganku hari ini saja, ya?" Len masih meminta hal yang sama.

Aku berpikir sejenak. Toh, tak ada Miku. Aku sendirian. Tidak salah, kan?

Aku hanya mengangguk sebagai balasan.

"Arigatou! Kita duduk di sana saja," kata Len. Ia menarik tanganku.

Untung-untung aku masih cukup sabar! Kalau tidak, mungkin bisa kupakai shikigami-ku di sini!


"Domo arigatou, Rin-chan," kata Len waktu pulang sekolah.

"Tak apa," jawabku datar.

Sepanjang pelajaran teman-teman melihatku terus, tahu! Mending dengan tatapan yang baik-baik, ini dengan death glare. Mau tahu kenapa? Karena aku duduk dengan Len! Cowok yang populer itu! Astaga.

"Eh iya, Rin-chan, rumahmu di mana? Mau aku antar pulang, nggak? Sebagai ucapan terima kasih. Kalau nggak duduk sama kau, mungkin aku sudah habis kali sama mereka," kata Len sambil menggaruk kepalanya.

Nggak duduk sama mereka? Aku juga cewek, sama dong, kayak mereka?

"Aku juga cewek. Kok, kau mau aja duduk sama aku?" balasku tiba-tiba.

"Ehh... Karena... Lupain, deh. Rumahmu di mana?" balas Len yang tak bisa menjawab.

Glek! Dia mau antarin aku sampai rumah? Rumahku penuh kertasa-kertas shikigami! Jangan sampai dia lihat!

"Ng-Nggak usah. Rumahku jauh, kok. Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri," kataku mencari alasan yang lain.

"Nah, justru jauh itulah, kau perlu diantar," jawab Len sambil tersenyum.

Cari alasan lain... Cari alasan lain... Kalau nggak, mau nggak mau, dia akan datang ke rumahku! Miku saja belum pernah kuijinin masuk ke rumah, apalagi dia?

"Itu..."

"Rin-chan! Awas!" serunya. Kemudian ia memelukku dan meloncat ke arah lain. Satu detik kemudian sebuah axe besar jatuh ke tempat kami tadi berdiri.

Aku kaget. Bagaimana Len bisa tahu kalau bahaya akan datang? Aku saja belum tahu, meskipun aku ini onmyouji.

"Yo, Kagamine!" seru seseorang. Ia mendarat dari atas, entah darimana dengan mulus di tanah. Aku kaget sekali ketika melihatnya.

"Kau...!" seruku.

"Ya, aku kembali lagi. Siapkan shikigami-mu," katanya dengan senyuman sinis.

Oh, tidak. Kenapa dia harus muncul sekarang? Saat ini sedang ada Len. Semua akan terbongkar! Dasar yokai bodoh!

"Rin-chan? Kau... mengandalkan shikigami?" tanya Len dengan tidak yakin padaku.

Terbongkar, deh! Eh! Tunggu dulu. Yokai baka alias Rinto tadi memang bilang shikigami, tapi kan, nggak bilang yang lain? Gimana Len bisa tahu?

"Hahaha. Len, kau juga di sini?" seru Rinto kembali tertawa.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang Len?" seruku tajam.

"Seharusnya aku yang tanya begitu, Rin. Darimana kau tahu dia?" balas Rinto.

"Rin, dia itu yokai yang selama ini bertarung denganku. Nggak ada habisnya. Tapi kau... mengandalkan shikigami?" kata Len.

Aku mengangguk kecil.

"Rin, kau sudah punya idola, toh? Padahal aku sudah berpikir untuk menjadikanmu milikku," balas Rinto masam.

"Eh? Urusai, baka!" seruku marah.


Flashback

"Rin, kau mau... um... aku suka... padamu," kata Rinto.

"Apa? Aku nggak suka padamu. Kau itu yokai BODOH," jawabku tegas.

Muka Rinto memerah seketika, karena malu dan marah. Ia terbang menjauhiku.

"Lihat saja!" katanya. "Suatu saat nanti, kau tak akan bisa melawanku! Kau akan menjadi milikku! Lihat saja, Rin-chan!" serunya yang kemudian terbang menghilang.

End of flashback


"Rin? Apa maksudnya?" tanya Len.

Tadi Rin-chan, sekarang Rin! Sudah, tak usah mikir itu dulu, deh!

"Urusai, baka Rinto!" teriakku. Aku melempar selembar kertas kecil yang tak lain dari shikigami. Langsung saja seekor harimau muncul dari shikigami itu.

"Wah, shikigami," kata Rinto sambil tersenyum sinis.

Aku menatap tajam pada Len. "Kau mundur sana! Bahaya!"

Tapi Len malah maju ke hadapanku dan berhadapan dengan Rinto.

"Jangan bilang begitu," katanya. "Aku juga... seorang onmyouji."

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Nah, segini dulu ._.

Rin: Gimana?

Len: Minta RnR, ya :)

Author: Nggak banyak review, saya mau hapus saja =.= #dor