A/N : Ini fic keduaku setelah fic pertamaku "I Love You" yang gaje itu. Semoga untuk fic yang ini nggak segaje fic pertama ku. Maaf kalau ternyata masih nggak jelas juga. So, enjoy reading!

Warning : Cacat, gaje, OOC, typo, dan semua itu udah dalam kadar yang bisa dibilang parah.

xoxoxoxoxo

6 bulan yang lalu...

Aku berada di sebuah taman hiburan bersama kekasihku, Willy. Aku sangat bahagia saat berada di sampingnya. Aku merasa beruntung mempunyai kekasih seperti Willy. Dia baik dan juga sangat perhatian padaku. Namun, aku tidak tau mengapa saat ini ada perasaan tidak enak yang sudah ada sebelum kami ke taman hiburan.

"Honey, maafkan aku," akhirnya kau membuka pembicaraan.

"Untuk apa?" awalnya aku tak mengerti apa yang ingin kau katakan.

"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita," ucapmu tanpa rasa bersalah. Air mataku tiba-tiba mengalir dari pipiku.

"Tapi, kenapa?" tanyaku sambil sesenggukkan.

"Karena aku menyukai gadis lain,"

Aku tertegun mendengar jawabanmu. Rasanya seperti ada pisau yang menusukku. Sakit sekali rasanya. Aku tidak menyangka kau akan mengatakan hal seperti itu. Aku menyesal telah mengatakanmu baik. Sangat menyesal. Dan kesalahan terbesar dalam hidupku adalah saat aku jatuh cinta padamu.

Saat ini...

Aku duduk di pinggir jendela kamarku,menikmati angin yang berhembus. Tak terasa, air mataku menetes. Memori itu terbuka . Ya, sakit. Hanya itu yang kurasakan saat ini. Aku masih ingat kata-katamu saat kau memutuskan hubungan kita. Aku teringat kembali masa-masa bersamamu. Terlebih saat hari valentine. Manis sekali untuk diingat. Aku ingat bagaimana kau mencium lembut bibirku di lift pada hari valentine. Aku sama sekali tidak bisa dan tidak akan pernah menghapus kenangan itu dari otakku.

Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat saat kau memutuskan hubungan denganku. Aku lemah tanpamu. Kini tak ada lagi orang yang dapat kujadikan sandaran ketika aku sedang bersedih. Tak ada pula orang yang mau meminjamkan bahunya sejenak saja ketika aku menangis. Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungimu lagi. Setiap kali bertemu denganmu, aku merasa seperti orang bodoh . Terlebih saat aku melihatmu berjalan dengan gadis lain. Harus kuakui, gadis itu lebih cantik dariku. Tapi, apa boleh buat? Aku tahu aku masih menyayangimu. Sangat menyayangimu. Aku tidak bisa marah karena itu sudah pilihanmu sendiri.

Kini kau sudah menjadi bagian hidup wanita lain. Betapa bahagianya wanita yang bisa selalu berada di sampingmu. Andai saja aku masih tetap bisa berada di sampingku, aku pasti tidak akan seperti ini, duduk di pinggir jendela kamarku dengan raut wajah yang tak karuan. Willy, aku masih sangat menyayangimu. Sangat menyayangimu.

Xoxoxoxoxo

A/N : Gimana? Udah lebih baik dari fic pertamaku belum? Atau malah tambah gaje? Kependekan juga ya? Butuh REVIEW.