Jang Wooyoung adalah member terakhir yang bergabung dalam grup boyband 2PM. Sekaligus member yang paling imut dengan pipi tembennya yang membuat para member lain gemas untuk tidak bisa tahan mencubit pipi chubby-nya. Bahkan, seluruh member pernah mengira Wooyoung adalah seorang yeoja yang menyamar seperti di drama-drama biasanya. Itu karena selain wajah manis yang ia miliki, tubuh yang paling kecil di antara member lain dan juga kulit putihnya yang seperti susu, membuat ia tampak cantik. Terlebih jika Wooyoung diberi tambahan sedikit polesan make up yeoja dan juga menggenakan drees indah, ia benar-benar terlihat seperti yeoja cantik di antara namja-namja tampan dalam boyband 2pm.

Karena sebuah kesalah pahaman yang tidak disengaja. Ketika para member lain mengintip Wooyoung yang sedang membuka perban putih yang mengelilingi sebagian dadanya, dan juga karena kepabbo-an Taecyeon yang mempengaruhi member lain dan berkata "Ommo! Wooyoung ternyata yeoja! Seperti dalam drama-drama itu!" membuat sebuah masalah baru diantara member 2pm.

Sejak saat itu, mereka semua mengira bahwa Wooyoung benar-benar yeoja, kecuali Chansung yang mengetahui fakta bahwa Wooyoung adalah namja. Tapi karena sebuah insiden tak terduga, Chansung terpaksa harus menunda untuk meberitahukan member lain bahwa Wooyoung adalah yeoja.

Di hari berikutnya, Nichkhun, Taecyeon, Junsu, dan Junho seolah berlomba untuk menarik perhatian Wooyoung, namja manis yang mereka ketahui sebagai yeoja. Dan di hari pernyataan cinta itu pun tiba, entah karena mereka sadar atau tidak, dengan kompaknya mereka menembak Wooyoung di hari yang sama, dengan menggunakan jas yang nyaris sama, dan juga membawa rangkaian bunga yang sama, kecuali dengan waktu yang sedikit berbeda tipis.

Tapi sayangnya, hari yang mereka prediksikan sebagai hari bersejarah dalam kehidupan cinta mereka, hancur total. Begitu mengetahui bahwa Wooyoung adalah seorang namja tulen, dari pengakuan Wooyoung dan juga dari fakta bahwa dada Wooyoung benar-benar datar.

Taecyeon dan Junsu kompak saling berpelukan sambil meringis kecewa dengan kebodohan mereka, sementara Nichkhun meringkuk takut dengan pukulan Wooyoung yang menggunakan rangkaian bunga tersebut.

"Kk-kau yeoja..." gumam Nichkhun antara ragu dengan tidak, juga dengan sebuah harapan bahwa Wooyoung adalah yeoja, karena Nichkhun sendiri sudah terlanjur jatuh cinta pada namja manis tersebut.

"Aku namja! Namja!" gertak Wooyoung kesal sambil memukuli Nickhun dengan rangkaian bunga. Ia sungguh marah karena selama ini ternyata hyung-nya itu mengira dia adalah yeoja. Karena itukah selama ini Nichkhun perhatian padanya dan memperlakukannya begitu manis? Dalam lubuk hati Wooyoung, dia merasa sangat kecewa.

Belum sempat Wooyoung meredakan kekesalannya dan ingin mencari udara segar di luar sana. Dia kembali dikagetkan dengan kemunculan Junho di depan gerbang villa mereka, menghadang Wooyoung dengan sebuah rangkaian bunga yang juga sama.

Dan dengan memasang wajah serius, Junho dengan bodohnya malah berkata lantang. "Tak peduli kau namja atau pun alien dari luar angkasa. Aku menyukaimu!"

'JDEER!'

Wooyoung tak bisa kesal lagi lebih dari ini. Aissh! Jinjja! Tak bisakah ia hidup tenang dengan dikelilingi namja-namja yang normal? Ringisnya dalam hati.

Tapi, apakah benar semua akan berjalan normal seperti sebelumnya setelah kesalah pahaman ini diperbaiki? Akankah perasaan jatuh cinta dengan sosok Wooyoung bisa hilang begitu saja hanya karena mengetahui kenyataan kalau Wooyoung adalah namja?

Siapa bilang pesona Jang Wooyoung bisa diabaikan begitu saja?

This story love of 'My Namja is Beautiful' the begin


My Namja is Beautiful

By Jang Aya

Romance/Drama/Humor

Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!

Inspirasi: 2pm Drama mini Parody He Is Beautiful!

Main Pairing: Khunwoo / Khunyoung, ChanHo / ChanNuneo, TaecSu / OkKim.

Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Miss Typos bertebaran di mana-mana. =.='

Don't like? So i hope you dont read this. Oke?


.

~2pm~

.


Hari ini keluarga kecil 2pm –kalau tidak mau dibilang keluarga besar karena tidak mencangkup seluruh jajaran JYPEntertaiment– akan pindah asrama. Dulu asrama 2pm yang berada di villa tenang di pinggir kota Seoul, kini berpindah ke sebuah apartement di tengah kota Seoul, dengan tempat yang begitu strategis dan juga begitu rahasia dari para penggemar 2pm yang semakin membludak jumlahnya.

Selain memiliki keuntungan, yaitu jarak antara apartement dengan gedung JYPEntertaiment yang semakin dekat, memudahkan mereka melancarkan segala aktifitas mereka. Apartement yang tidak sebesar villa yang dulu itu, juga memiliki sedikit kerugian. Salah satunya mereka yang dulunya masing-masing memiliki kamar, harus rela berbagi kamar karena dalam apartement itu hanya menyediakan tiga kamar tidur yang cukup besar. Itu artinya, mereka harus menentukan roommate mereka untuk berbagi kamar tidur.

Semenjak insiden tempo hari lalu, di mana para hyung-nya itu secara terang-terangan menembak Wooyoung, membuat namja chabby itu sedikit jaga jarak dari mereka. Meski semua kesalah pahaman itu sudah terselesaikan, tapi tetap saja Wooyoung merasa sedikit risih jika mengingat kembali kejadian memalukan itu.

Satu-satunya member yang membuat Wooyoung merasa nyaman saat ini hanyalah Chansung, maknae besar mereka. Meski kadang terlihat sedikit idiot jika berhadapan dengan namanya makanan, namun namja tinggi itu sebenarnya sangat asik untuk diajak bercanda dan bermain. Lagipula, satu-satunya member yang tidak mengatakan cinta pada Wooyoung tempo hari lalu itu, hanyalah Chansung, karena sejak awal dia memang sudah tahu kalau Wooyoung benar-benar namja.

Saat pembagian kamar di apartement baru mereka. Wooyoung benar-benar berharap dia akan kebagian kamar bersama Chansung. Coret jauh-jauh nama ketiga hyungnya itu, Junsu, Taecyeon dan Nichkhun. Apalagi yang namanya Junho. Namja sipit yang tingginya sama dengan Wooyoung itu bahkan terlihat lebih aneh dari ketiga hyungnya tersebut (menurut Wooyoung). Bayangkan saja, betapa nekat dan tanpa adanya keraguan Junho tetap menyatakan cinta pada Wooyoung meski ia sudah tahu kalau Wooyoung adalah namja. Oh, yang benar saja!

"Supaya adil, bagaimana kalau kita menentukan roommate masing-masing dan juga kamar dengan cara kai-bai-po (batu-gunting-kertas)?" saran Taecyeon. "Call?"

Tanpa pikir panjang, semuanya pun mengangguk mengiyakan. Tak ada salahnya dicoba, "Call!" balas mereka beruntun dan nyaris secara bersamaan.

.

.

.

Wooyoung mendengus. Menyadari cara kai-bai-po dalam pemilihan roommate kali ini sama sekali tidak menguntungkan baginya, bahkan bisa dibilang sangat merugikan. Lihat saja hasil pembagian roommate itu sekarang.

Pertama, Taecyeon dengan Junsu. Mereka memang sudah akrab sejak awal training, sehingga reaksi keduanya terlihat begitu senang; menyambut roommate mereka dengan saling berpelukan sambil tersenyum.

Roommate kedua, Nichkhun dengan Chansung, reaksi keduanya tidak beda jauh dengan Taecsu, mereka saling memandang dan Nichkhun merangkul pundak Chansung sambil saling melempar senyuman.

Dan sisanya, sudah pasti roommate terakhir Wooyoung bersama Junho, yang malah mendapatkan reaksi changgung di antara keduanya. Terlebih Wooyoung. Padahal nama Lee Junho sudah menjadi daftar nomor satu yang ingin ia jauhi di antara para member 2pm lainnya. Tapi kenapa? Namja sipit itu malah menjadi roommate Wooyoung kali ini? Untuk kesekian kalinya, Wooyoung mendengus kecewa, tanpa sadar dengan adanya sepasang mata yang terus mencuri pandang ke arahnya.


.

~2pm~

.


"Apa yang kau lakukan?" Junho menyerngit heran melihat tingkah aneh Wooyoung.

Namja yang lahir dalam naungan rasi bintang taurus itu sedang merunduk ke lantai sambil menempelkan lakban merah di sepanjang lantai keramik putih di tengah-tengah ruangan tersebut dan berjalan mundur, membuat sebuah garis merah dilantai yang mebagi dua ruangan tersebut. "Aku sedang membuat pembatas," jawab Wooyoung sambil berdiri dan melihat 'hasil karya'nya.

"Pembatas?" ulang Junho tak mengerti.

"Mulai sekarang, garis merah di lantai ini akan menjadi pembatas dalam kamar kita." Wooyoung berkacak pinggang, berdiri di samping ranjangnya. "Bagianmu sebelah sana," ia menunjuk Junho yang juga berdiri di sisi ranjang yang satunya lagi. "Dan bagianku yang sebelah sini. Tidak ada yang boleh melewati garis pembatasa ini, itu peraturannya," klaim Wooyoung seenaknya sambil mengacungkan jari telunjuknya.

Juho sempat cengo dibuatnya. "Yach! Kau pikir aku ini siapa?" sungutnya tak terima.

"Kau Lee Junho 'kan?" jawab Wooyoung enteng sambil memiringkan kepalanya dan tanpa sadar menunjukkan raut aegyo-nya, membuat niat Junho untuk menjitaknya karena kesal, urung seketika.

"Aissh!" Junho mendengus kesal. "Berhenti bertingkah seperti itu di hadapanku."

"Apa?" tanya Wooyoung ta mengerti.

"Tingkahmu itu benar-benar terlihat seperti yeoja yang khawatir dengan roommate-namjanya. Kau pikir aku akan menyerangmu tiba-tiba jika kau terlelap nanti malam, hah? Jangan becanda. Aku tidak mungkin bertindak senekat itu, meski aku memang tertarik denganmu."

Kalimat terakhir yang dilontarkan Junho membuat wajah Wooyoung kembali mengeras. "Yach! Lee Junho! Beberapa kali aku harus mengatakannya padamu. Aku namja tulen!" dekalarasinya dengan lantang sambil menepuk dadanya yang sengaja ia busungkan ke depan.

"Lalu memangnya kenapa? Menurutku tidak ada yang salah dengan itu," sebuah smirk tampil dari belahan bibir sexy Junho. Ia mengambil satu langkah mendekati garis merah di lantai, bermaksud mendekati Wooyoung.

"Bb-berhenti di situ!" cegat Wooyoung panik sambil mengacungkan kedua tangannya ke depan. "Kau tidak boleh melewati garis pembatas yang sudah kubuat." tunjuknya pada garis lakban merah yang tertempel di lantai. "Atau aku akan–"

"Akan apa?" tantang Junho, kembali mengambil langkah mendekat. "Memangnya kau berani apa denganku? Saat aku dan Chansung memutuskan untuk tidak memanggilmu hyung saja kau tak pernah marah dengan kami. Jadi untuk apa aku takut denganmu?" Rasanya begitu menyenangkan bagi Junho untuk menggoda hyung-nya satu ini yang tampak lebih muda darinya itu. Dia mati-matian berusaha menahan tawanya saat melihat wajah panik Wooyoung yang tampak begitu lucu, menggelitik perutnya.

"Bb-beraninya kau–" Wooyoung sendiri bingung ingin mengatakan apa. Ia segera mengambil tindakan, meraih bantal di ranjangnya dan melemparkannya keras pada Junho. "Kau benar-benar menyebalkan!" desisnya kesal, lalu segera pergi meninggalkan kamar mereka, tak lupa ia membanting pintu kamar itu dengan keras menyalurkan kekesalannya.

Junho terkekeh melihat kepergian Wooyoung. Ia lalu memeluk bantal guling yang tadi dilemparkan Wooyoung ke arahnya. "Dia benar-benar manis seperti yeoja," gumamnya sambil tersenyum sendiri.


.

~2pm~

.


Taecyeon dan Junsu sama-sama terkejut mendengar bunyi bantingan pintu yang begitu keras berasal dari salah satu kamar dalam apartement mereka. Keduanya lalu mengalihkan perhatian dari tv di hadapan mereka pada Wooyoung yang melangkah keluar dari kamarnya.

Raut wajah Wooyoug terlihat begitu kesal. Ia berjalan menuju pintu depan apartement sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sempat berpapasan dengan Chansung yang baru datang dari supermarket.

"Mau kemana Wooyoung-ah?" tanya Chansung.

Wooyoung membuka pintu. "Mencari udara segar!" ketusnya lalu kembali membanting pintu apartement mereka, membuat Chansung tersentak kaget dan hampir menjatuhkan kantung belanjaan yang berada dalam pelukannya.

Junsu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Wooyoung. "Ck ck ck, jika dia benar-benar yeoja, dia terlihat seperti dalam masa menstuarasi. Tak pernah kulihat ia semarah itu."

Taecyeon mengangguk mengiyakan. "Ah, tapi hyung. Mungkin Wooyoung benar-benar yeoja, dia hanya melakukan operasi untuk menghilang lemak di dadanya." Dan sebuah jitakan 'indah' mendarat di kepalanya. "Auhh, appo hyung." protesnya.

"Berhenti membuat spekualasi aneh. Sudah cukup kau buat kita heboh dengan insiden 'pernyataan cinta' bulan lalu itu," cibir Junsu. "Yach! Kenapa kau menggantikan channel tv-ku. Aku belum selesai nonton kungfu panda, Taecyeon-ah."

"Masih iklan hyung, masih iklan. Kita nonton Tom and Jerry aja dulu."

"Kau pikir aku bodoh. Mana ada iklan kalau aku sedang memutar dvd. Dasar pabboya!" sungut Junsu, merebut remote tv dari tangan Taecyeon.

"Ah hyung! Mengalah sedikit dengan dongsaengmu ini."

"Donsaeng apanya, kau bahkan lebih terlihat seperti kakekku daripada dongsaengku. Lihatlah, panda gemul itu terlihat lebih lucu dari kucing nakal yang sering kau bangga-banggakan itu. Benarnya–Gyaaaa! Yach! Aa-apa yang kau lakukan? Ah! Hahahhaaha... henti...kan...hahahaha..." Junsu tergelak sambil menggeliat di atas sofa panjang dengan Taecyeon yang terus mengerjainya, menggelitik kedua sisi tubuh Junsu sambil nyengir lebar.

"ah-hahhaha... a-aku akan... membunuh-hahah-mu setelah ini hahaha..." ancamnya di sela gelak tawa yang begitu menggelikan.


.

~2pm~

.


Taman kecil yang memang disediakan di halaman belakang gedung apartement tersebut, menjadi tempat tujuan Jang Wooyoung untuk mencari udara segar. Bulan mei di musim semi ini sungguh bersahabat, membuat Wooyoung tak perlu repot kembali mengambil jaket tebal (jika musim dingin) ataupun tak memberanikan keluar ruangan jika musim panas. Hanya dengan kaos berwarna biru bergaris horizontal putih dan lengan panjangnya ia naikkan sebatas bawah sikunya, sedangkan bawahannya menggunakan celana panjang poy putih juga sandal santai biasa. Tanpa tambahan apa-apa, toh, dia hanya ke taman terdekat bukan.

Siang ini taman kecil itu terlihat lenggang. Wooyoung berjalan santai sambil sesekali menghirup udara sejuk dari beberapa pohon dan tumbuhan yang ia lewati. Dan akhirnya memutuskan untuk bersantai di salah satu bangku di sudut taman tersebut. Menghempaskan pantatnya di sisi bangku kayu itu tanpa menghiraukan namja yang sudah terlebih dahulu duduk di sampingnya. Tak sadar, kalau namja yang duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada itu adalah namja yang ia kenal. Wajar saja, namja itu nyaris menutupi seluruh wajahnya dengan topi merah, kacamata hitam, dan juga syal hijau tua yang mlilit di lehernya sekaligus mulut dan hidungnya.

"Kau itu bodoh atau memang benar-benar lupa?" sindir namja itu, menyadarkan Wooyoung.

"Apa?" Wooyoung menoleh sambil menyerngit heran.

Namja itu menghela nafas, lalu menarik turun syal-nya sampai bawah dagu. "Ini aku."

"Khun-hyung?"

"Ndeh. Mana penyamaranmu?"

"Untuk apa? Ini kan dekat dengan apartement."

"Justru itu. Apa kau mau jika salah satu hottes tak sengaja lewat di sini dan melihatmu berpakaian santai begini, mereka akan segara tahu di mana apartement baru kita."

"Ah," Wooyoung mengangguk kikuk sambil menggaruk pipinya menyadari kecerobohannya. "Mianhe hyung. Aku hampir lupa kalau kita sudah berada di tengah kota, jadi tidak bisa sembarangan yah?"

Nichkhun mendengus. Ia lalu menarik lepas syalnya, "Kau gunakan saja punyaku." dan ia menyodorkannya pada Wooyoung.

"Tt-tunggu dulu. Bagaimana denganmu?"

"Kau tidak lihat aku masih punya topi dan kacamata. Setidaknya kau juga tutupi sebagian wajahmu." Nichkhun pun mengalungkan syalnya itu sendiri pada leher Wooyoung.

Wooyoung memegang syal yang mengelilingi lehernya itu. Aroma lotus khas namja thailand tersebut seketika menyeruak masuk dalam penciumannya. Membuat Wooyoung tanpa sadar tersenyum lembut menikmati aroma khas tersebut. "Gomapta..." ucapnya seraya menatap Nichkhun tanpa menghilangkan senyumannya.

"Kau..." Nichkhun memandang Wooyoung dengan tatapan tak percaya. "...jeongmal kyopta (sangat manis)," gumam Nichkhun tanpa sadar, disusul dengan telinganya yang terasa memanas akan ucapannya sendiri.

Tiga detik waktu yang dibutuhkan Wooyoung untuk mencerna ucapan pelan hyungnya, membuat seluruh aliran darahnya berdesir naik dan memanasi wajahnya. Wooyoung ikut merona mendengar pujian sekaligus melihat telinga merah Nichkhun, pertanda kalau namja itu sedang grogi.

Malu. Wooyoung memilih untuk cepat menolehkan pandangannya ke arah lain dan juga menaikkan syal yang melilit lehernya untuk menutupi sebagian wajahnya. "Aa-aku kembali ke apartement duluan." ia segera berdiri.

Tetapi lengannya sempat diraih dan ditahan oleh Nichkhun sebelum Wooyoung sempat melangkahkan kakinya. Sebuah perasaan gugup tiba-tiba melanda Wooyoung kala itu juga. Dengan enggan ia menoleh ke belakang. "W-waeyo hyung?"

Pandangan Nichkhun menjalar dari bawah kaki Wooyoung menuju atas kepalanya, seolah meneliti begitu dalam penampilan namja chabby itu. "Kau..." sedikit ragu Nichkhun mengutarakan pertanyaan yang selalu menghantuinya. "...benar-benar namja? Bukan yeoja?" sampai sekarang Nichkhun masih belum bisa percaya dengan kenyataan tersebut. Dia sudah terlanjur jatuh begitu dalam dengan pesona Wooyoung yang dulu ia anggap sebagai yeoja.

Perempatan segitiga siku-siku muncul di sudut pelipis Wooyoung kala itu juga. Raut wajahnya kembali berubah mengeras penuh kekesalah. "Yach hyung! Aku namja tulen!" tegasnya sambil menghempaskan genggaman Nichkhun pada lengannya. Dan namja chubby itu kembali menghentakkan langkah kakinya dengan begitu kesal menjauhi Nichkhun. Moodnya benar-benar berubah drastis setelah itu. Jang Wooyoung menjadi lebih sensitif jika gendernya kembali dipertanyakan.

'Aissh, Jijja! Memang dari sebelah mananya aku terlihat seperti yeoja?' batin Wooyoung kesal.


.

~2pm~

.


"Channie," suara Junho memanggil bersamaan dengan langkah kakinya yang memasuki dapur, mengalihkan perhatian Chansung dari kantung belanjaannya di atas meja makan.

Maknae besar itu menoleh dan menatap Junho dengan senyuman lebarnya. "Junho-yah, mau makan juga?"

"Ani," Junho menggeleng sambil tersenyum geli. "Aku hanya mau nanya, kau lihat Wooyoung?"

Chansung mengerjap. "Woooyoung?" tanyanya ulang sekaligus meyakinkan pendengarannya.

Junho mengangguk.

"Dia keluar apartement, katanya mau nyari udara segar."

"Oh..."

"Waeyo?"

"Hah?" Junho melongo, tak mengerti pertanyaan Chansung.

Chansung sedikit mendengus pelan, lalu kembali menyibukkan diri dengan memindahkan isi kantung belanjaannya di atas meja, sambil berkata, "Kalau aku tidak salah menyimpulkan, kau terlihat seperti masih menyukainya. Benar kan?" Sedikit ragu Chansung kembali melirik Junho. "Kenapa? Padahal kau sudah tahu kalau dia namja tulen."

"Kenapa?" Junho mengulang pertanyaan Chansung, lebih tertuju pada dirinya sendiri. Ia lalu menengadah ke langit-langit, dan sepintas bayangan wajah Wooyoung muncul dalam penglihatannya. Membuat Junho tersenyum lebar dengan sekelabat rona merah di pipinya. "Karena dia manis... " gumamnya pelan.

Chansung yang melihat wajah cerah Junho, ikut tersenyum. "Junho-yah~"

"Hm," jawab Junho sekenanya, tanpa melihat ke arah Chansung dan malah sibuk dengan bayangan Wooyoung.

"Cobalah mengaca saat kau tersenyum seperti itu. Kau pasti akan tahu siapa yang lebih manis."

"Eh?" Junho langsung menoleh, tapi pandangannya malah bertumpu pada punggung Chansung yang sedang membelakanginya, memasukkan bungkusan daging ayam ke dalam kulkas. "Kau bilang apa tadi Channie?"

Tak ada jawaban langsung dari Chansung. Lima detik setelah itu, Chansung menutup pintu kulkas dan menoleh ke arah Junho. "Mau kubuatkan Omurice untuk makan siang?" tawarnya sambil tersenyum tipis.

Junho mengerjap. "Ah, boleh."


.

~2pm~

.


Kim Junsu berkacak pingang sambil terus merutuki kebodohan roommate-nya dalam hati. Ia menatap kesal pada setumpuk buku compusernya yang Taecyeon letakkan di atas lemari. Oke, bukan sepenuhnya kesalahan Taecyeon jika buku kesayangan Junsu itu berada di tempat tinggi yang tak bisa Junsu jangkau sendiri. Junsu juga salah dalam hal memanfaatkan kebaikan hati (baca:memperalat) Taecyeon tadi pagi. Di hari pertama mereka menempati kamar ini, Junsu meminta tolong Taecyeon untuk merapikan barangnya dengan alasan bahwa barang Junsu lebih banyak dari barang Taecyeon. Jadi, alangkah baiknya jika Taecyeon juga membantu membereskan barang Junsu agar kamar mereka lebih cepat rapinya.

Dan lihat akibatnya sekarang. Junsu harus berusaha menjijitkan kakinya di depan lemari besar untuk menggapai bukunya, sementara Taecyeon keluar apartement sejak sore tadi, entah kemana, ia tak bilang pada siapapun dan juga tidak ada yang tahu kapan si bodoh itu pulang. "Taecyeon pabbo!" Lagi-lagi Junsu mengutuk roommatenya.

"Apa yang kau lakukan?" suara berat Taecyeon terdengar bersamaan dengan langkah kakinya yang memasuki kamar mereka.

Junsu tersentak. Entah karena memang dia terlampau kaget, atau karena takut Taecyeon mendengar rutukannya. Junsu malah kehilangan keseimbangannya, dan tahu-tahu jari-jari kakinya yang menjinjit tiba-tiba lemas dan malah membuat badannya limbung ke belakang. "Aa-aah!"

Greeb!

Untungnya Taecyeon cepet tanggap melangkah lebih dekat dan dengan gerakan cepat meraih pinggang Junsu dari belakang sekaligus menahan agar Junsu tidak terjatuh.

"Ah, fuh!" Junsu menghela nafas lega. "Thanks." dan ia langsung berdiri sambil mendekap buku kesayangannya yang sempat ia tarik tadi dari atas lemari.

Sementara Taecyeon, berdiri terpaku di tempatnya sambil melihat kedua tangannya yang sempat memegang erat pinggang Junsu tadi. 'Kenapa pinggang Junsu terasa lebih kecil dan... ramping?' pikir Taecyeon heran. 'Apa mungkin... Junsu itu adalah yeoja?' dan pemikiran bodoh itu mendadak muncul dalam benak Taecyeon.

"Tidak mungkin," gumamnya sambil menggeleng kepala cepat.

"Waeyo Taecyeon-ah?" tanya Junsu heran melihat tingkah aneh roommate-nya.

"A-ah, aku mau ke toilet dulu," pamit Taecyeon sedikit gugup dan bergegas pergi meninggalkan kamar mereka.

Junsu menyerngit heran. "Sejak kapan dia harus pamit padaku kalau mau ke kamar mandi?" tanyanya bingung.


.

~2pm~

.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebagian member 2pm sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, entah sudah tidur atau belum. Kecuali Wooyoung yang masih betah di depan televisi. Ia berbaring menyamping di atas sofa menghadap tv, dengan remote di tangannya yang terus menerus mengganti channel tv yang makin larut makin membosankan programnya. Kelopak matanya mulai terasa berat, ia menguap lebar, sebutir air muncul di ujung matanya karena rasa ngantuk mulai menghantuinya. Meski begitu, Wooyoung masih enggan untuk berpindah ke dalam kamarnya, di mana mungkin saja Junho menantinya di dalam, yang lagi-lagi membuat Wooyoung selalu merinding jika membayangkan kelaukan namja aneh (menurutnya) bernama Lee Junho,

Suara bantingan kasur di hadapannya membuat mata Wooyoung kembali terbuka lebar. Ia melihat Chansung sedang membenarkan letak bantal di atas kasur yang direbahkan di lantai di hadapannya, ia lalu menghempaskan tubuhnya dan meringkuk memeluk gulingnya.

"Mwo?" sebelah alis Wooyoung terangkat heran. "Kau tidur di sini, Chansung-ah?"

"Ndeh. Dari dulu kan aku memang selalu tidur di luar kamar." Chansung merentangkan tangan panjangnya. "Soalnya kalau tidur di lantai terasa lebih luas tanpa pembatas. Aku jadi tidak perlu khawatir untuk jatuh dari atas ranjang. Kau tahu sendiri kebiasaan burukku kalau sedang tidur, kan?"

Wooyoung mengerjap. "Jadi... kau memilih tidur di luar dan meninggalkan Nichkhun-hyung yang tidur sendiri di dalam kamar?"

"Ndeh."

Dan sebuah senyuman bahagia mengembang di wajah Wooyoung. Kenapa dia tidak kepikiran sama sekali. Kalau Chansung saja bisa, kenapa Wooyoung tidak?

"Yach. Chansung-ah. Kalau aku juga ikut tidur di sini tidak apa-apa kan?" tanya Wooyoung. Ini satu-satunya cara agar ia bisa tidur nyenyak malam ini, sekaligus menghindar dari Junho, tentunya.

Chansung bangkit dari tidurnya, menatap Wooyoung tak percaya. "Kau... juga mau tidur di sini? Menemaniku? Jeongmal?"

"Yah... itu kalau kau tidak keberatan."

"AKU MAU!" Chansung tersenyum lebar dengan wajah berbinar.


.

~2pm~

.


Nichkhun terbangun di tengah malam. Panggilan alam ke kamar mandi membuat ia terpaksa pergi dari alam mimpinya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, bayangan seseorang yang berdiri –di depan kamarnya– membelakanginya dalam remang kegelapan apartement mereka, nyaris membuat Nichkhun jantungan. Tapi begitu tahu sosok namja itu adalah Lee Junho, terlihat dari boneka beruang besar yang ia pegang, dan sudah bisa dipastikan tidak ada member 2pm lainnya yang memiliki boneka beruang sebesar anak smp selain Junho.

Tepukan pelan Nichkhun di pundak Junho, malah membawa efek kejut bagi Junho. Ia tersentak kaget dan dengan gerakan cepat menoleh, di susul dengan tatapan horrornya. "H-hyung?" ia tampak grogi seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu.

Nichkhun menyerngit. "Apa yang kau lakukan di sini?" pandangan Nichkhun lalu beralih ke arah pandang Junho tadi.

Ruang santai (tv) apartement mereka yang memang berada tepat di depan kamar Nichkhun. Meski sedikit gelap karena seluruh lampu utama dalam apartement dimatikan, namun pencahayaan dari lampu tidur (kuning) yang terletak di atas rak samping tv, cukup membuat kita tahu ada seonggokan dua namja yang terlelep di atas lantai beralaskan kasur tersebut. Nichkhun terpaksa menajamkan pandangannya untuk mengetahui namja lain yang tertidur di samping Chansung. Setahunya, hanya Chansung yang biasa tidur di depan tv. "Itu–" Nichkhun menunjuk namja yang tampak lebih kecil dari Chansung. "–siapa?"

"Itu Wooyoung," nada bicara Junho terdengar kesal. "Sial. Dia bahkan meninggalkanku tidur sendirian di kamar kami," gerutu Junho dengan wajah mengeras sambil menatap tajam pada dua namja tak sadarkan diri tersebut.

Nichkhun kembali menyerngit melihat Junho. Dia saja tidak semarah itu saat Chansung meninggalkannya tidur sendirian. Lagi pula ini bukan pertama kalinya mereka tidur sendirian dalam kamar, malahan dulu mereka punya kamar masing-masing, jadi kenapa harus semarah itu jika ditinggal tidur dengan roommate mereka di hari pertama menginap dalam apartement ini?

Junho lalu berbalik ke kiri, berjalan dengan malas seraya menyeret boneka beruang besarnya itu menuju kamarnya di sebelah kamar Nichkhun. Meninggalkan Nichkhun tanpa sebuah sapaan pamit, malah dengan sebuah wajah merengut kesal. Belum lagi dengan sebuah bantingan pintu yang terdengar sangat keras ketika ia menutupnya. Membuat Nichkhun kembali tersentak, dan dengan gerakan takut menoleh pada dua dongsaengnya yang mungkin saja akan langsung terbangun gara-gara suara keras tadi.

Chansung langsung bangkit dari tidurnya. Maknae besar itu terduduk, tapi matanya masih tertutup rapat, kecuali mulutnya yang terbuka lebar seperti orang bodoh. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tapi masih dengan mata tertutup, seperti orang yang mengingau dalam tdurnya. Mulutnya bergerak seperti mengunyah sesuatu. Dan di detik berikutnya, Chansung terhempas, berbaring menyamping dengan tangan panjangnya yang manarik selimut Wooyoung di sampingnya, lalu menyelimuti tubuhnya sampai sebatas pundak.

Tubuh Wooyoung yang kehilangan selimut, bergerak gelisah. Posisi tidurnya yang terlentang, kini berbalik membelakangi Chansung dan meringkuk. Raut tenangnya berubah merengut dengan bibir yang mengerucut, beserta bunyi gesekan tumpuan gigi Wooyoung yang terdengar nyaring.

Nichkhun menghela nafas melihat beberapa tingkah dan kebiasaan aneh para dongsaengnya itu ketika tidur. Terpaksa, Nichkhun berbalik kembali ke kamar untuk mengambil selimut yang ia punya lebih dalam lemarinya. Nichkhun tak mau ambil resiko untuk menarik kembali selimut Wooyoung dari tubuh Chansung, maknae besar mereka itu sepertinya memang membutuhkan dua selimut.

Setelah kembali ke ruang santai mereka, dengan gerakan pelan, tak ingin menganggu tidur Wooyoung maupun Chansung, Nichkhun merunduk ke bawah, menutupi tubuh Wooyoung dengan selimut yang ia bawa sampai atas bahu namja chabby itu.

Dalam tidurnya, penciuman Wooyoung masih bisa merasakan aroma lotus menenangkan dari selimut Nichkhun. Namja itu tersenyum dalam mimpinya. Badannya lalu kembali bergerak berbaring terlentang, tanpa tahu kalau ia sedang berhadapan dengan wajah Nichkhun yang merunduk di atasnya.

Mata Nichkhun berkedip, tercengang, bahkan ketika berada dalam pecahayaan yang tidak begitu jelas, wajah manis Wooyoung saat terenyum dalam tidur damainya, tidak bisa luput dari pandangan Nichkhun. Bahkan bisa membawa efek mematikan pada jantung Nichkhun yang mendadak berdetak kencang. Aliran darahnya berdesir ke seluruh kepalanya, dan bertumpu di telinganya. Nichkhun yakin, kedua telinganya kembali memanas saat ini.

Entah sengaja atu tidak, pandangan Nichkhun jatuh pada bibir pink Wooyoung, yang tampak begitu tipis tapi mengembang merekah segar berwana merah muda alami. Seolah terlihat begitu yummy jika bibir itu di 'makan'. Nichkhun menelan ludah, ini sudah kedua kalinya ia dihadapkan dengan cobaan seperti ini. Masih jelas teringat ketika mereka dulu tinggal di villa lama, saat Wooyoung tanpa sengaja tertidur di dalam kamarnya, saat itu Nichkhun juga tergoda dengan bibir pink Wooyoung yang tidur di sampingnya. Tapi itu saat Nichkhun masih mengira kalau Wooyoung adalah yeoja, jadi karena itu ia tergoda... benar begitu bukan?

Tetapi, kenapa godaan yang sekarang terasa lebih berat dari yang dulu? Apa mungkin karena yang dulu, jarak mereka tidak sedekat ini? Tapi tetap saja. Nichkhun yang sekarang sudah tahu kenyataan itu sepenuhnya, bahwa, sosok manis yang ia tindihi saat ini adalah namja tulen. Tetapi, kenapa jantungnya masih tetap berdetak kencang?

Pikiran Nichkhun terasa kacau. Pandangan yang tak lepas dari bibir Wooyoung, membuat ia mengenyahkan segala kata 'tetapi' dalam pikirannya. Nafasnya mendadak memburu, bahkan sarafnya seolah bergerak sendiri memimpin tubuhnya untuk lebih dekat. Membidik bibir pink itu dengan bibirnya sendiri yang nyaris menjatuhkan setetes air liur yang menggebu. Lagi-lagi, Nichkhun menelan ludahnya. Hidung mereka bersentuhan, Nichkhun sedikit memiringkan kepalanya, sedikit lagi, matanya nyaris terpejam.

Tapi mendadak cahaya terang muncul. Seseorang menyalakan saklar lampu utama. Menerangi ruang santai tersebut. Dan sebuah suara yang terdengar mematikan menyadarkan Nichkhun dari hasratnya untuk mencuri ciuman Wooyoung dalam tidurnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" seru Junho keras dengan mata menyalang marah.

Oh. Shit. Sepertinya pangeran Nichkhun harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan ciuman Jang Wooyoung.

.

.

.

.

_To_Be_Continued_


I'm comeback guys~ *melambai semangat bareng JB n JR*

Merindukanku? *mengedip ala Nichkhun#dilempar kaos kaki

Oke, sebelumnya, ada berita buruk (bagiku dan sebangsanya*?*). Ehm, dengan ini, aku ingin menyatakan fic translate 'Skandal Junsu' terpaksa dihiatuskan. Bagi yang gak terima dan mau penasaran dengan ceritanya, langsung ke situs blog author aslinya yah, tapi ya pastinya fic itu dalam bahasa inggris. Mianhe, lain kali aja deh aku lanjutkan translate-nya ya, *memelas dengan tampang aegyo#reader muntah*

Untuk Apartement baru 2pm di sini, setting-nya kayak yang di Haha Mama Show itu yah.

Dan, oh ya, aku tidak janji kali ini bisa update cepat kayak Ultra Lover sebelumnya. *siul2 gaje*

Mohon tuangkan segala pemikiran anda setelah membaca fic ini melalui Review. *merunduk sedalamnya*. Baik itu pertanyaan atau pun pernyataan akan author terima sebaik mungkin, asal bukan celaan dengan kata-kata pedas yang menyakiti aya. Gini-gini, biar berwajah malaikat aya tetap manusia biasa, *jiah, wajah malaikat dari mana? Dilihat dari atas Tokyo Tower*

Twitter: (at)aya0430yes

~AyA~