Catatan: fic terjemahan yang sepenuhnya terinspirasi oleh Kisah Punk Hazard tentang pertukaran tubuh Sanji, Nami, dan lainnya, sekaligus dijadikan hadiah buat Eleamaya dan yang nulis karena kita berdua sebentar lagi mau ulang tahun, hahaha. Okelah, selamat membaca, ya!

Disclaimer: Eiichiro Oda

.

.


Keegoisan Tuan Prince


Chapter 663-664

.

.

Mandi

"Aku agak berkeringat, nih." Sanji tersenyum nakal sembari membuka jubah hitam hangat yang menutupi tubuh barunya yang seksi. "Boleh tidak kalau aku mandi~?"

"Ajak kita bareng-bareng, dong!" Usopp dan Brook langsung menanggapi omongan Sanji. Mata mereka semua berubah menjadi bentuk hati dalam beberapa detik. "Dengan senang hati kami akan membantu membasuh punggungmu yang sek—"

BUAKKKK! PLAKKK! BUAGHHH!

"Kita semua hampir mati beku di sini! Beraninya kau memikirkan ide sinting seperti itu?" Nami berteriak keras, meneriaki tubuh-tubuh sekarat yang terkapar di atas bebatuan es. Tentu saja, mereka semua masih berada di sisi pulau beku dengan suhu luar biasa dingin.

"Shishishi…" Luffy tidak bisa berhenti tertawa. Zoro dan Robin saling memandang tanpa berkata apa-apa, seolah saling mengerti satu sama lainnya. Yang paling sibuk pastilah Chopper, ia tak punya pilihan selain menolong orang-orang berpikiran mesum tersebut.

"Anak-anak, dengar baik-baik!" Franky menasihati para anak-anak berukuran raksasa di sekeliling mereka semua. "Cepat tumbuh dewasa dan jadilah ORANG MESUM!"

.

.

Ketika Menerima Panggilan Alam

Sanji menarik napas dalam-dalam, melirik ke arah Nami tercinta, yang kini sama sekali tidak terlihat imut-imut dalam tubuh besi Franky. Bagaimanapun, cintanya tidak mungkin berkurang hanya karena hal itu. "Aku sangat ingin buang air kecil, tapi aku tahu aku pasti akan sekalian mengintip organ tubuh lainnya yang sepertinya amat sangat menggairahka—"

"Hentikan!" Nami memicingkan kedua matanya, lalu menggertakkan giginya dengan sangat kesal. Dari semua orang di sini, kenapa harus Sanji yang mendapatkan tubuhnya? "Baiklah! Biar aku yang mengurusmu!"

"Maksudnya…" Sanji tidak menyelesaikan kalimatnya. Nami akan membantunya buang air kecil, begitukah? Nami akan menyentuhnya di daerah itu, bukan?

"Berhenti mimisan sewaktu kau berada di dalam tubuhku!" Nami berteriak dengan sangat marah. "Kau ini sangat menjengkelkan!"

"Ara…" Robin dengan cepat menutupi wajahnya yang bersemu merah di buku sambil terus mengamati keduanya yang berjalan sangat cepat ke arah gua tak berpenghuni di dekat sana. Ia dapat mendengar dengan jelas desahan Sanji dengan suara Nami yang sangat menggoda, diikuti oleh teriakan penuh amarah Franky.

"Hentikan ekspresi menjijikkan itu, Sanji-kun!"

.

.

Harapan Nami

"Luffy, kau pernah bilang kau akan menjagaku selamanya." Nami berkata dengan nada yang lembut kepada kaptennya. Rupanya dia sudah sangat putus asa dan tidak dapat berpikir apa-apa lagi selain Sanji yang akan terus menggunakan tubuhnya demi kepentingannya sendiri.

"Hah? Masak sih?" Luffy terus saja mengorek hidungnya. "Kalau kau bilang begitu…"

"Bantu kembalikan tubuhku, ya? Minta Trafalgar Law agar aku bisa kembali ke tubuhku yang seksi dan sangat menarik seperti dulu, ya?" Nami terus saja meminta Luffy, berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Hmm…"

"Meminta Luffy dengan tingkah genit dan mata berbinar-binar dalam tubuh Franky itu sangat menjijikkan, Nami." Usopp langsung protes tidak setuju. "Lebih baik aku mati daripada melihatmu—"

Usopp tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Nami telah mengirimnya dalam tidur panjang tanpa akhir.

.

.

Harapan Sanji

"Aku akan meminta Law agar dia mengembalikan kalian semua ke tubuh masing-masing!" cetus Luffy dengan keras lalu hendak berlari ke arah depan saat Sanji dengan sangat mendadak menahan lengannya. "Hah?"

"Tunggu sebentar!" suara Sanji terdengar sangat gemetar dan pelan seperti nyaris menangis. "Aku sama sekali belum menikmati tubuh ini!"

"Tapi, Nami menyuruhku… menikmati apa?"

"Aku akan memasak apapun untukmu!" Sanji meminta—setengah memohon kepada Luffy. "Tunggu sampai aku memuaskan diriku dulu!"

"Apa itu maksudnya?" Nami berteriak dari kejauhan. Dengan kecepatan luar biasa dia mendatangi kapten dan koki gila yang sedang berdiskusi hal yang tidak wajar mengenai tubuhnya. "Apa yang kau rencanakan dengan tubuhku, katakan!"

"Nafsu sudah mengambil alih isi otaknya." Zoro berkomentar dengan nada datar. "Dia benar-benar tidak bisa berpikir lagi."

Usopp mengangguk di sebelah si ahli pedang. "Yah, dia bajingan yang beruntung."

.

.

Kecemburuan sang Rival

"Bisa tidak kau hentikan ulahmu yang menjijikkan itu?" Zoro berkata sembari mengibaskan salah satu pedangnya ke udara. Udara yang dingin dan basah seperti ini bisa merusak benda kesayangannya, pikirnya getir. Dan tentu saja, melihat Sanji yang sepertinya sangat menikmati pertukaran tubuh dengan Nami membuatnya muak.

"Kenapa? Kau berharap tubuhmu juga ikut tertukar, begitu?" tanya Sanji dengan nada menyebalkan. "Kepala Lumut, kau ini memang orang yang munafik."

"HEI, A-APA MAKSUDMU BICARA BEGITU?" Zoro langsung naik darah begitu Sanji membalas kata-katanya. Rasanya tak sudi disebut munafik oleh orang mesum dan menjijikkan semacam itu. Lagipula apa dasarnya sehingga ia dapat dikatakan munafik?

"Diam-diam kau berharap tubuhmu ditukar dengan Robin bukan?"

"Jangan berkata sembarangan, alis keriting! Memangnya siapa yang ingin tubuhnya ditukar dengan—"

"Sepertinya asyik juga…" mendadak Robin sudah berada di belakang kedua pria itu, lalu mengerling ke arah Zoro yang wajahnya semerah kepiting rebus. "Sesekali aku juga ingin bertelanjang dada seperti dirimu."

.

.

Ketika Hatinya Berhenti Berdetak

Sanji tahu bahwa hatinya telah menjadi milik Nami saat pertama kali ia menatap gadis berambut oranye itu di Restoran Baratie, namun ia sama sekali tidak tahu apakah Nami juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Sejauh ini ia telah berulang kali menyelamatkan Nami, memanjakannya seperti layaknya seorang putri, dan melakukan berbagai hal demi Nami tercinta. Tetap saja, Nami sama sekali tidak pernah menyatakan apa-apa mengenai hubungan mereka. Tunggu, memangnya mereka pernah punya hubungan?

Bagaimanapun juga, saat terperangkap dalam tubuh Nami, Sanji dapat merasakan beberapa reaksi spontan dari tubuh gadis itu. Detak jantung Nami selalu bergerak lebih cepat saat dirinya—atau Nami—berada di dekat Luffy. Sanji menggigit rokoknya dengan rasa frustrasi yang membuncah di dadanya, kemudian menghela napas. Oh, harusnya aku sudah bisa memperkirakan hal ini… betapa bodohnya aku…

"Sanji, apa kau sakit?" suara yang sopan dan halus menegurnya dari belakang. Chopper sedang menatapnya dengan penuh perhatian dalam tubuh aslinya. Sanji tidak pernah menyangka bahwa rambut pirangnya ternyata sekemilau itu, dan suaranya yang cukup berat dapat sebegitu memengaruhinya. Namun, yang sedang terjadi terhadap dirinya memang tak pernah ia sangka sebelumnya. "Kau terlihat pucat."

DEG! DEG! DEG!

Jantungnya berdetak sangat cepat dalam dadanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

DEG! DEG! DEG!

"Biar kuperiksa suhu tubuhmu, mungkin saja kau terkena flu…" ketika Chopper yang tengah berada dalam tubuh Sanji menyentuh keningnya, Sanji tidak dapat menyembunyikan rona pink yang mendadak muncul di wajah cantik Nami. Ketegangan dan denyut jantung yang menggila di dalam dadanya terlalu bermasalah. Apakah itu reaksi Nami bila berada di dekatnya?

Sanji tersenyum bahagia. Yah, tentu saja dia merasa senang. Tapi, ada satu hal yang harus ia pastikan sendiri. Ya, hanya satu hal kecil yang tidak berarti.

"Aku paham Sanji, sepertinya kau agak…"

"Boleh tidak kita main dokter-dokteran di gua sebelah sana~?"

.

.


Terima kasih telah membaca kisah yang satu ini. Silahkan menanti chapter selanjutnya, oke?

Komentar/flame kalau sempat, ya~!