Catatan: biasanya memang jarang sekali update selang waktu sebentar tapi tak apalah, hehehe. Makasih banyak buat yang telah komentar, ya~! Kalau ada request, pertanyaan, dan apalah kalau bisa login biar dapat dibalas. Selamat membaca bagian dua, semoga terhibur~!

Disclaimer: Eiichiro Oda

.

.


Keegoisan Tuan Prince


Chapter 668

.

.

Hati

Ketika Trafalgar Law mengajukan usul untuk menjalin kerja sama dengan Kelompok Topi Jerami, Chopper dan Franky mendapatkan tubuh mereka kembali, sedangkan Nami terpaksa berpindah ke dalam tubuh Sanji. Law dengan angkuh menjelaskan bahwa ia hanya bisa mengembalikan tubuh Nami bila Sanji yang memiliki tubuhnya berada di sana.

"Menyebalkan, ke mana sih si bodoh itu sekarang? Aku sangat ingin kembali ke tubuh semula." Nami berseloroh dengan kesal sambil menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis nan macho.

"Paling tidak kau 'kan sekarang punya jenggot," sahut Usopp sambil terkikik pelan. Luffy yang berdiri di dekat Nami langsung berguling-guling di atas es sambil tertawa keras, Franky tertawa lebar sambil bergaya mesum tanpa celana, dan Chopper masih bisa terbahak-bahak dengan tubuh yang sulit digerakkan. Bahkan pun Robin ikut tertawa dengan anggun.

"Tertawa saja terus sampai puas!" Nami berteriak kesal. "Kalian memang tidak punya hati!"

Tidak jauh dari sana Smoker bersin berkali-kali, membuat semua bawahannya kaget. "Sepertinya ada yang sedang membicarakanku."

.

.

Ketika Menerima Panggilan Alam II

Nami menggigit bibirnya dengan sangat pilu, berpikir kenapa nasib tega mempermainkannya sedemikian rupa. Tapi sungguh, ia sudah tak tahan lagi. Ia benar-benar ingin sekali buang air kecil, tapi itu 'kan berarti ia harus membuka celana dan memegang… ughhhhh, ini benar-benar keterlaluan! Nami menggeleng dengan keras. Bisa tidak setelah membuka retsleting ia langsung tutup mata dan membiarkan semuanya mengalir?

"Mau pipis, ya?" Luffy mendadak muncul di sebelahnya dengan keceriaan seperti biasa.

"Apa sih maksudmu!" pekik Nami tegang dengan suara bariton Sanji, heran karena tumben sekali Luffy mampu menebak apa yang ia pikirkan. "Aku tidak… ahh ehh… bukan begitu…"

"Mau pipis ya pipis saja!" lanjut Luffy lagi sambil tertawa, membuat wajah Nami langsung memerah dengan dahsyat antara malu, marah, dan terhina sudah bercampur menjadi satu sehingga tidak jelas lagi apa yang ia sebenarnya ia rasakan.

Usopp yang tengah buang air kecil di balik batu langsung menyambung dengan omongan Luffy barusan, "Nami, kalau tidak dipegangi nanti bisa membasahi celana!"

"KALIAN SEMUA INI SUNGGUH KETERLALUAN!"

.

.

Ukuran Fantastis

"Kenapa denganmu?" Robin membangunkan Nami yang baru saja bangun dari pingsan. "Apa kau baik-baik saja?"

"Eh? Ada apa ini? A-aku baru saja bermimpi?" Nami berusaha bangkit, kepalanya terasa sakit sekali. Dirabanya keningnya pelan-pelan. Ada benjolan besar di sana. "A-apa yang baru saja terjadi?"

Robin tersenyum pelan agak misterius, "kau terpeleset dan terantuk batu besar di sana setelah buang air kecil. Kau baik-baik saja, bukan?"

Sial, ternyata itu semua hanya mimpi.

Pertukaran tubuh dengan Franky dan Sanji sepenuhnya hanyalah khayalannya semata. Dan ukuran Sanji yang baru saja terpaksa ia lihat barusan bukanlah kenyataan. Mana mungkin Sanji memiliki ukuran… sungguh mimpi yang sangat aneh. Lagipula, kenapa bisa-bisanya ia memimpikan ukuran Sanji, sih? Yang mesum hanya Franky dan Sanji. Ia hanyalah wanita muda cantik yang anggun dan realistis, sama sekali tidak ada kadar kemesuman dalam dirinya.

"Memang ada yang sangat mengejutkanmu, ya?" Robin tersenyum dengan penuh arti kepada Nami, lalu beranjak dengan santai dari sana. "Sepertinya bertukar tubuh memang benar-benar menyenangkan…"

"Uh, oh? Ja-jadi ini bukan mimpi?"

.

.

Impian Robin

"Kalau saja Sanji tahu kau yang berada di dalam tubuhnya, dia pasti akan sangat gembira." Robin berkata sambil tersenyum menggoda Nami yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. "Sepertinya salah satu impiannya telah menjadi kenyataan."

"Eeehhhhh?" Nami mengerutkan kening, berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan temannya itu. "Apa yang sedang…"

"Aku bisa membayangkan Sanji berputar-putar saking senangnya, lalu menangis terharu dengan mata berbentuk hati." lanjut Robin lagi. "Pasti sangat menyenangkan melihat reaksinya."

"Apa sih maksudmu, aku sama sekali…" wajah Nami mulai memanas. Padahal ia tahu betul apa yang dikatakan Robin. Apa Robin sedang menggodanya?

"Aku juga ingin sekali berpindah tubuh." Robin menghela napas dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca oleh siapapun. "Aku ingin sekali menggunakan nipple lights Franky, atau berjalan-jalan dengan tubuh imut Chopper, punya hidung sepanjang Usopp, atau memakai Gomu-gomu no Hana…"

Nami menjatuhkan dagunya ke atas tanah bersalju yang keras. "Gomu-gomu no Hana?"

"Dan aku juga mau tahu ukuran tuan samurai~"

"EEEEHHHHHHHHHHHHHHH?"

.

.

Liontin

Dengan kesal Nami menendang batuan es kecil di hadapannya, lalu dimasukkan kedua tangannya di kedua belah saku Sanji. Sudahlah, semua akan berakhir saat ia bertemu dengan Sanji nanti. Ia pasti akan mendapatkan tubuhnya kembali.

Ada sesuatu di dalam saku kemeja kanan yang agak menyembul keluar. Nami menjadi penasaran dan tanpa ragu dirabanya saku dalamnya, berharap bisa menemukan barang menarik yang mungkin saja laku dijual. Sanji pasti tidak akan keberatan, pikirnya santai, dia hanya tinggal tersenyum manis seperti biasanya saja.

SREEETT

Ternyata itu adalah sebuah liontin perak kecil yang sangat cantik. Nami langsung terpesona melihat benda itu, lalu perlahan membuka isinya. Tidak mudah rupanya membuka isi dalam liontin itu. Dibukanya liontin itu secara paksa, namun masih juga tidak bisa terbuka. Apa ada semacam kombinasi rahasia atau mantera di liontin ini? Kenapa sulit sekali dibuka, sih?

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Usopp penasaran sambil mendekati Nami yang sedang kerepotan. "Apa ada yang menarik? Apa yang berada di dalam tanganmu?"

"Ah, kebetulan!" Nami tersenyum senang. "Bisakah kau membuka liontin ini?"

"Berikan kepadaku." Usopp menerima liontin itu, lalu tanpa susah payah liontin itu terbuka dengan mudahnya. Soal reparasi, benda termutakhir ataupun penemuan paling inovatif, Usopp memang jagonya. "Ini, memang itu sebenarnya apa…"

"Terima kasih, Usopp!" Nami berkata lalu pergi begitu saja dengan membawa liontin yang sudah terbuka itu, membiarkan Usopp menatapnya sambil terheran-heran.

"Hei, aku juga mau lihat! Hei! Nami! Nami!"

.

.

Rahasia Sanji

Kedua mata Nami terbelalak saat melihat isi liontin yang semula berasal dari saku Sanji. Ada sebuah foto yang terpajang dengan cantik di sana, lengkap dengan puisi segala. Itu fotonya yang tersenyum, lengkap dengan bikini oranye kesukaannya. Apa-apaan sih Sanji, kenapa dia bisa-bisanya menaruh fotoku dan membuat puisi yang seperti ini…

Namamu selalu terukir di hatiku, mademoiselle yang kecantikannya dapat membuat langit runtuh dan matahari kehilangan sinarnya.

Aku ingin sekali membelai parasmu, mengecup pipimu yang merona karena malu, dan meraba tubuhmu habis-habisan.

Meskipun banyak sekali wanita lain yang kupikirkan dan terlintas dalam benakku, namun hanya kaulah satu-satunya yang selamanya tak pernah pudar dalam hatiku.

Ingin sekali kau mengerti perasaanku, cinta yang selalu membara dan membakar dadaku dan selalu membuatku sulit bernapas.

"Sanji-kun…" Nami dapat merasakan wajahnya yang berubah merah, merasa sangat tersanjung dengan puisi dan foto yang berada di dalam liontin Sanji. Mungkin saja ia harus memberi pria itu sedikit kesempatan agar Sanji dapat menunjukkan apa yang selama ini ia rasakan. Eh, sepertinya di saku celana masih ada…

"APA-APAAN INI? DASAR PRIA BAJINGAN!" Nami melempar banyak sekali liontin serupa yang mendadak ia temukan di saku celananya. Ia merasa nyaris saja telah memutuskan sesuatu yang mungkin saja dapat membuatnya sangat, sangat menyesal. "AWAS SAJA KAUUUU!"

.

.

Rahasia Sanji II

Usopp yang mengikuti Nami perlahan memungut leontin-leontin yang telah dihempaskan Nami dengan sangat kasar ke tengah tumpukan salju. Dengan ekspresi penasaran ia mulai membuka isi liontin-liontin itu satu persatu. Tak lama Usopp mendengus kecewa. "Apa sih, kupikir ini…"

"Ada apa?" Luffy berlari menghampiri Usopp. Kedua matanya langsung bersinar dahsyat ketika melihat foto-foto yang sangat menarik di sana. "WAAAHHHHHH! NIKMAT SEKALI!"

"Waduh, Luffy, masa kau mau menelan foto sih!"

Yang berada di dalam liontin-liontin itu tidak lain tidak bukan semua resep orisinal yang ditulis dan dikembangkan Sanji, lengkap dengan foto masakan jadi dan tanda tangan pria itu.

.

.


Terima kasih telah membaca kisah yang satu ini. Komentar/flame jika sempat ya~!