Disclaimer: this is a non-commercial use work. All casts taken from Dream High 2 by JYPNation or something like that (I don't know either who owned that Dream High hehe ). I own nothing but the stupidness in my head.

Mood booster song: Clazziquai Project titled Romeo N Juliet (sang by Alex ft. Shin Ae).

Unleash your imagination.


Grey
kangyeongsuk © 2012

"I wonder if your whole entire day … is still beautiful even without me"

Yoojin/Rian


someone else' story

"Seonmul ..." ujarmu sambil mengulurkan salah satu tangamu dari saku ke hadapanmu. Gadis brunette di depanmu terkekeh, sambil terus melanjutkan langkahnya ke arahmu. Ia berjalan dengan anggun dengan kedua lengannya terlipat di dada yang memberikan kesan angkuh.

"Kau berjalan-jalan ke luar negeri dan kau tidak membawakan oleh-oleh? Yaaah, you really is something, Rian-ah," katamu. Kau memasang postur kecewa dengan menyenderkan punggungmu pada bar kantin di belakangmu. Mencoba terlihat cool meskipun kau harus mengerahkan seluruh kekuatanmu untuk tidak tertawa karena melakukan sesuatu yang 'bukan kau'.

Gadis itu telah sampai di hadapanmu. Ia menarik sedikit ujung bibirnya, memperlihatkan sedikit barisan giginya yang rapi dari celah yang terbentuk di bibirnya. Perlahan, tarikan kecil itu melebar, berubah menjadi cengiran lebar yang telah absen dari pengelihatanmu selama delapan bulan terakhir. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, memamerkan cengirannya di depan wajahmu untuk menarik perhatianmu.

"Mana?" tagihmu, mengulurkan tangamu lagi keluar dari sakumu yang hangat.

Gadis itu menepuk tangamu pelan. Sembari tersenyum, ia beranjak dari hadapanmu perlahan, mengambil posisi tepat di sebelahmu.

"Yah, kau bukannya menanyakan kabarku, malah menanyakan oleh-oleh. Sialan," katanya, seraya menonjok lenganmu pelan. Ia kemudian bersandar di bar tempat kau juga bersandar. Tangannya kembali terlipat di dada. Kalian terdiam.

Kau menatap gadis disampingmu. Kau memang tak menanyakan pertanyaan itu—pertanyaan yang tidak pernah absen dari setiap e-mailmu selama delapan bulan itu. Dengan melihatnya di depanmu, ia yang nyata berada di hadapanmu, kau tahu ia baik-baik saja.

Kau tersenyum kecil, kembali mengembalikan pandanganmu lurus ke depan. Menikmati kesunyian yang kalian ciptakan. Menikmati setiap oksigen yang kalian hirup bersama. Kau tak perlu kata-kata untuk menggambarkan perasaanmu—kau tak pernah memerlukan kata-kata itu. Meski tak terucapkan, kau tahu kau memiliki perasaan itu untuknya. Perasaan yang membuatmu merindukannya. Perasaan yang membuatmu terus membalas setiap e-mailnya. Perasaan yang membuatmu ingin melindunginya. Perasaan yang membuatmu ingin terus berada di sampingnya.

Kau mencintainya.

-o0o-

Ia berubah.

JB bilang, ia belum pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Setidaknya, ia tidak pernah seperti ini dalam jangka waktu yang panjang. Menurut JB, ia dulu memang sosok yang manis, tentu saja itu sebelum kau mengenalnya. Tapi, seorang Rian tidak pernah benar-benar bersikap semanis ini, sebagai fan-service pun tidak.

Ya, ia memang menjadi sosok yang hampir sempurna. Dengan wajah yang cantik, suara yang merdu, kemampuan akting diatas rata-rata, penghasilan yang sangat besar dan kepribadian yang entah bagaimana bisa menjadi sangat manis. Seakan Mary Sue dalam fiksi-fiksi kacangan adalah alter ego-nya. Ia tidak lagi berlaku bak putri yang harus dimanja. Ia berubah menjadi teman yang sangat sempurna bagi siapapun.

Kecuali kau.

Entah mengapa, kau merasa ada yang hilang darinya. Kau tak lagi menemukannya melompat-lompat di sampingmu dan mengganggumu dengan rengekan-rengekan tidak masuk akal yang diucapkannya dengan tidak jelas karena ia berbicara sambil mengunyah permen karet. Sekarang, hanya ada ia yang berjalan di sampingmu dengan tenang, diam mendengarkan ceritamu selama ia pergi dan tertawa sesekali. Kau tidak lagi menemukan mata kucingnya menatapmu dengan pandangan menyelidik penuh rasa ingin tahu, yang ada hanyalah ia yang duduk di depanmu, yang menghindari matanya bertemu pandang dengan matamu. Ia tidak lagi menggunakan eye-liner tebal di sekeliling matanya, ia tidak lagi seenaknya menerobos masuk ke kamarmu dan ia tidak lagi kau temukan tengah berlatih keras di ruang latihan.

Orang-orang di sekelilingmu pun berubah, entah kau yang mengalami kemunduran atau apa, yang jelas kau merasa atmosfer di sekitarmu berubah. Hae Sung mulai sering memberimu buah apel yang dikirimkan ayahnya untuknya. Ui Bong juga jadi sering tiba-tiba muncul di hadapanmu dan tanpa alasan menepuk pundakmu keras. Yang lebih aneh adalah saat ada siswa Kirin yang melihatmu tengah mengobrol dengan Rian, mereka pasti melemparkan pandangan sedih ke arahmu. Seperti kasihan, atau lebih tepat disebut prihatin. Dan kau akan berakhir dengan bertanya pada Rian mengenai apa yang tengah terjadi yang selalu hanya dijawab dengan tonjokan pelan dilenganmu lengkap dengan ledekkan kecil tentang dirimu yang sangat ingin tahu mengenai segalanya.

"Kau kenapa?" tanyamu sekali waktu. Kalian tengah menikmati masing-masing secangkir kopi di kedai yang sangat sepi. Ia kini juga lebih menyukai tempat-tempat sepi dibanding keramaian, yang jelas bukan dirinya. Ia memang terus berkilah dengan mengatakan dirinya sekarang lebih terkenal, dan berada di keramaian sama saja dengan bunuh diri terencana. Tetapi kedai yang kalian pilih kali ini benar-benar tipikal kedai yang tak pernah kau bayangkan akan dipilihnya. Memang manis, tapi kedai ini terlalu terpencil, terlalu sepi, dan terlalu gelap untuk menjadi pilihan seorang Rian.

"Aku memang kenapa?" tanyanya yang ia pilih untuk menjadi jawaban atas pertanyaanmu. Pandangannya terfokus pada krim berbentuk semanggi yang mengambang di atas permukaan kopinya. Ditiupnya pelan-pelan krim kopinya, lalu tertawa kecil puas saat tiupannya itu tidak berarti banyak pada perubahan bentuk semanggi diatas cangkirnya.

Kau tidak menjawab, hanya diam menatapnya, menunggu jawaban yang jujur terlontar dari mulutnya. Bukannya kau menuduhnya berbohong, tetapi instingmu mengatakan ia menyembunyikan sesuatu darimu. Ia melirik diam-diam ke arahmu, tetapi dengan cepat mengembalikan tatapannya pada krimnya saat ia menyadari kau tengah mengamatinya.

"Kau kenapa sih?" tanyanya pada akhirnya. Ia tidak berani menatapmu, suara yang ia keluarkan pun lebih terdengar seperti bisikan yang ia tujukan pada angin.

"Kau yang kenapa. Aku hanya minta kau berkata jujur," tukasmu segera. Ia terlonjak, kaget dengan adanya amarah dalam suaramu. Ia segera menarik jarinya dari pegangan cangkir kopi miliknya, kemudian mulai memainkan kuku jarinya yang menandakan bahwa dirinya sedang gusar. Pandangan matamu berpindah dari jemarinya ke matanya yang kini tengah menatapmu. Mata yang baru kau sadari telah berubah layu dan kehilangan cahaya itu.

-o0o-

his story

Apa katanya?

Mataku terkunci pada sepasang mata kucing yang tengah menatapku lekat. Meskipun lega karena akhirnya aku mengetahui kenyataan yang berusaha ia tutupi, sesuatu mengusikku untuk terus berharap bola matanya tiba-tiba melebar dan ia akan berteriak 'Kau tertipu, aku hanya bercanda~,' dengan nada khas-nya yang menyebalkan lalu kami akan tertawa bersama. Tapi, selama apapun aku menunggu, bola mata itu tak kunjung membesar. Masih tetap sayu. Mata itu tetap dengan gamblangnya memasang ekspresi penyesalan dan rasa bersalah.

"Rian-ah, ini tidak lucu, kau tahu," kataku.

"Aku juga tidak sedang bercanda, ini bukan bahan candaan, aku tahu. Tapi aku.." ia menghentikan perkataannya, menggantinya dengan helaan nafas panjang yang terdengar lelah. "Ah, sudahlah," lanjutnya, tidak melanjutkan perkataannya yang terlalu menggantung. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, menahan rahangku yang sudah berkedut marah.

"Kapan kau berangkat? Besok? Dan kau baru mengatakan hal ini padaku sekarang? Selain aku, siapa yang belum tahu hal ini, hm?"

Ia terdiam, tidak menjawab pertanyaanku. Hanya tatapan matanya yang meminta maaf yang berani berhadapan denganku. Perlahan, ia menggelengkan kepalanya sekali. Hanya satu kali. Aku mendengus tidak percaya. Jadi hanya aku?

"Kau anggap aku ini apa? Bagaimana bisa aku baru mengetahui hal ini tepat sehari sebelum kau berangkat?" tanyaku. Rasanya aku akan meledak saat ini juga.

"Yoojin-ah, bisakah kau pulang ke asrama sendiri hari ini? Aku...harus melakukan sesuatu sebelum berangkat besok," gumamnya pelan, tanpa menatapku.

"Yah, Lee Ji Kyung, jawab pertanyaanku dulu!"

"Bisakah?" potongnya, kali ini dengan lelah terkandung dalam suaranya. Ia menatapku, melemparkan pandangan memohon yang memaksa. "Kumohon, bisakah?"

Aku bangkit dari dudukku dengan kasar, menyambar jaket kulitku dan berjalan menjauh darinya. Gila, ini benar-benar gila! Ia bahkan masih bisa tetap mempertahankan sikap angkuhnya itu! Apakah ia benar-benar telah mati rasa? Tidakkah ia tahu aku marah?

Yaaah, Jin Yoojin, kau pasti dikutuk. Pertama Hae Sung, sekarang Rian. Kau sepertinya tidak ditakdirkan untuk mencintai seseorang.

Apa katanya? Pindah ke luar negeri? Kenapa aku baru tahu sekarang? Ooh, tentu saja karena aku terlalu naif! Semua orang sudah tahu bahwa ia akan berangkat besok. Dan kenapa ia memilih untuk memberitahuku di saat-saat terakhir? Ooh, sudah pasti karena kami hanya berteman.

Hanya sebatas teman, tidak lebih.

Langkahku terhenti.

Sebatas teman?

Jadi selama ini, ia hanya menganggapku teman biasa? Jadi penantianku selama ini hanyalah sia-sia belaka? Oke, aku memang tidak menuntutnya untuk membalas perasaanku, tapi tidakkah ia terlalu curang? Kedekatan kami selama ini, hanya dihargainya sebagai pertemanan biasa? Sahabatpun tidak?

Aku menggeleng. Tidak, tidak. Ia tidak mungkin sedingin itu. Meskipun tak acuh, aku tahu ia sebenarnya peduli pada lingkungan sekitarnya. Ia peduli pada orang lain. Tidakkah ia seharusnya juga peduli padaku?

Lantas, kenapa ia tidak memberitahuku sebelumnya?

-o0o-

someone else' story

Bahumu merosot. Ekspresi keras kepala yang sedari tadi berdiam di wajahmu luntur seiring dengan sosoknya yang berlalu pergi. Tergantikan dengan isak tangis yang entah sejak kapan telah menunggu di pelupuk matamu. Dari balik selubung cairan bening yang memenuhi rongga matamu, kau menatap tempat duduk di hadapanmu pilu.

Ia marah.

Tentu saja, apa yang kau harapkan, Lee Ji Kyung? Tidakkah kau terlalu egois jika kau menginginkan ia tetap tersenyum padamu, mengatakan padamu bahwa semuanya baik-baik saja? Setelah kau mengulur waktu. Setelah kau menghancurkan perasaannya. Setelah kau mengatakan kebohongan padanya?

Kau menyeka air matamu dengan ujung cardigan yang kau gunakan. Meskipun ini yang kau inginkan, kau tak menyangka rasanya akan sesakit ini. Tatapan kecewa yang baru dilemparkannya padamu terus membayangimu. Kau menekan dadamu keras-keras, memaksakan dirimu sendiri bahwa kau harus kuat. Inilah yang kau inginkan, semuanya berjalan sempurna, sesuai dengan rencanamu. Ia harus berakhir membencimu, mengenyahkanmu dari bagian kehidupannya. Lalu, ia akan dengan mudah melupakanmu, menemukan orang lain yang jauh lebih baik darimu untuk menggantikan posisimu.

Kau menarik cangkir kopi miliknya yang isinya sudah hampir dingin. Perlahan, kau menyeruput isinya, cappucino pekat dengan sedikit gula. Kau mengernyit sedikit, menyesuaikan lidahmu yang penyuka hidangan manis dengan seleranya yang membenci rasa manis. Tanpa kau sadari, air matamu kembali meluncur turun membasahi pipimu yang hampir kering. Kau seka air mata itu sebelum sampai ke dagumu, tapi luncuran air mata itu ternyata masih berlanjut. Kau akhirnya membiarkannya, dan melanjutkan aktivitasmu meminum kopi miliknya. Mengingat rasa kesukaanya. Menyimpannya baik-baik dalam memori otakmu.

Mengingat rasa favorit orang yang kau sukai.

Kau mencintainya.

.will be continued


a short mesaage from this stupid author

haloo! hahaha setelah mendek beberapa saat, akhirnya saya bikin juga ini fic ^▿^ haha ngomong-ngomong, dream high 2 tuh gaada fandomnya ya?saya masukin screenplay gaapa kali ya?haha ngga atuh, becanda. sebenernya inti dari short message ini hanya ingin menyapa, dan mengumumkan bahwa saya sangat suka pairing di fic ini. mesti banget? haha saya juga tau ini gapenting maksimal, tapi saya hanya ingin menarik lebih banyak orang yang jatuh cinta sama yoojin/rian couple. sungguhlah, dari awal saya nonton dh2 inginnya mereka jadian, tapi malah ga jadian hiks :( feel free to give me any review, critics and else. love you all, readers.

xoxo

k.