Disclaimer: this is a non-commercial use work. All copyright belongs to whoever owns drama Dream High 2 and whoever owns Boyfriend's song titled One Day. I own nothing but the stupidness in my head.

Mood booster song: BoyfriendOne Day (taken from Love Style mini album).

Unleash your imagination.


Grey
kangyeongsuk © 2012

third chapter

"Will I able to turn back the time, no, will I able to see you again?"

Yoojin/Rian


author's story

"Jika di antara kalian ada yang berminat untuk bergabung dengan band saya, kalian bisa menghubungi saya untuk mengikuti audisi. Ok? Kalau begitu, kelas saya akhiri di sini. Terimakasih."

Murid-murid yang berseragam coklat tua itu segera menghambur keluar kelas begitu mendengar kelas telah dibubarkan. Meninggalkan lelaki muda itu sendirian dengan senyumnya yang perlahan memudar. Kelas telah kosong sepenuhnya kini, lelaki itu pun berjalan pelan menuju mejanya dan mengemasi buku-buku mengajarnya dari meja. Tanpa sengaja, selembar potret meluncur keluar dari sebuah buku yang sudah terlihat tua. Lelaki itu segera memungutnya, terpaku diam ketika menyadari potret apa itu sebenarnya.

"Jin Yoojin!"

Panggilan itu membangunkannya itu dari lamunan panjangnya. Pria itu mendongakkan kepalanya, mendapati seorang pria paruh baya tengah memandanginya dari bibir pintu kelasnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Perlahan, pria paruh baya itu berjalan mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari kedua manik mata milik sang pria muda.

"Yaaah, mau sampai kapan kau membuat masalah, hah? Bagaimana bisa kita melibatkan siswa dalam band kita, Yoojin-ah? Tsk..tsk.. Kau ini benar-benar aneh yah," kata pria paruh baya itu. Yang dipanggil Yoojin menarik otot ujung bibirnya hingga membentuk senyuman yang menenggelamkan nyaris seluruh mata pemuda itu.

"Saem, itu namanya strategi. Kita kan tidak tahu, mungkin saja diantara mereka ternyata ada siswa cerdas sepertiku...AW!" Pemuda itu mengernyitkan hidungnya sembari mengelus-elus tulang keringnya yang baru mendapat serangan dari ujung sepatu pria di depannya.

"Aaah, Saem! Waeyooo?"

"Yaah, jongshimcharyeo! Kau ini overnarcissistic, kau tahu? Tsk..tsk..tsk.. Anak muda jaman sekarang.."

Pria muda itu terkekeh pelan. Ia melanjutkan aktivitasnya membereskan buku-bukunya yang masih berserakan di atas meja selagi mendengarkan cerita pria paruh baya itu. Sesekali ia menyahut perkataan gurunya yang sudah mulai menua itu.

"Jin Yoojin!"

Kali ini, seorang laki-laki muda kurus yang mencarinya. Jin Yoojin menoleh, tersenyum lebar saat dilihatnya pemilik suara itu.

"Ui Bong-a! Wae?"

Ui Bong tidak menjawab, ia masih berusaha mengatur nafasnya karena baru saja berlari-lari. Yoojin mengangkat sebelah alisnya, menebak-nebak dalam pikirannya apa sebenarnya yang ingin disampaikan sahabatnya itu sehingga ia harus berlari-lari mencarinya. Ketika Ui Bong akhirnya bisa mengatur kembali nafasnya, ia menatap Yoojin dengan pandangan lain. Tatapan yang belum pernah Yoojin terima. Setidaknya, tidak dalam lima tahun terakhir.

Perlahan, senyuman polos itu menghilang. Tanpa mengatakan apapun, Ui Bong tahu, sahabatnya itu sudah tahu alasan dirinya mencarinya ke sana. Ui Bong hanya berdiri di sana, mengamati perubahan air muka Yoojin yang perlahan kehilangan sinarnya. Wajah yang sesaat yang lalu tersenyum itu kini menghilang, tergantikan dengan tatapan kosong yang mengingatkan semua orang pada masa lalu. Ekspresi yang sama yang dimiliki seorang Jin Yoojin di hari kelulusan mereka.

"She's back."

Ya, lima tahun yang lalu.

-o0o-

someone else' story

Kau menyodorkan sekaleng kopi hangat padanya tanpa mengatakan apapun. Ia meraih kaleng itu dari tanganmu, mengangguk pelan, lalu menggenggam kaleng itu erat dengan kedua tangannya. Kau melangkah ke sampingnya, bersandar tepat disampingnya. Untuk waktu yang cukup lama, kalian berdua hanya terdiam. Tak ada lengkung senyum yang tercetak, tak ada kata yang terucap, tak ada derai tawa yang terdengar dari mulut kalian.

Ia masih menggengam erat kopi kalengan yang kau berikan padanya saat kau akhirnya berhasil mengumpulkan keberanianmu untuk memandangnya, meskipun hanya tolehan kecil dari sendi lehermu yang membeku. Ia masih terlihat seperti dulu. Mata kucingnya yang tajam masih berada di sana. Punggungnya yang tegak masih memberikan kesan angkuh. Ia masih merawat kukunya secara berlebihan. Tanpa sadar, ujung bibirmu tertarik, membentuk lengkungan senyum kecil yang tulus.

Ia masih persis seperti lima tahun yang lalu. Tak ada yang berubah darinya, sebuah kerutan pun tidak. Ia masih Rian yang tidak akan memulai pembicaraan duluan. Ia masih Rian yang angkuh. Ia masih Rian yang lima tahun lalu kau kenal. Tanpa kau tahu mengapa, mengetahui hal itu memberikan kelegaan tersendiri untukmu.

"Kenapa tertawa?"

Tersadar dari lamunanmu, kau disambut dengan tatapan penuh tanda tanya dari wanita yang terus tertidur dalam pikiranmu selama lima tahun itu. Segera kau menarik pergi senyuman kecil yang telah berubah menjadi cengiran lebar itu dari wajahmu.

"A..Anni.." ujarmu gugup. Kau memutar lehermu ke arah lain, mengalihkan pandanganmu dari tatapan tajam miliknya.

Ia masih seperti dulu. Begitu pula dengan dirimu. Kau sadari, tiba-tiba dirimu yang dulu menyeruak keluar, menendang hampir seluruh perasaan baru yang telah kau tata rapi dan kembali menjadi alter-egomu. Kau kembali menjadi Jin Yoojin yang berasal dari lima tahun yang lalu. Yang hanya bisa mengalihkan pandangannya ketika seorang Rian tengah menatapnya. Yang puas hanya dengan melihat gadis yang disukainya tertawa, tanpa berani mengatakan perasaannya yang sebenarnya, tanpa keberanian untuk membuat gadis itu menjadi miliknya. Kau, masih Jin Yoojin yang dulu, yang penakut dan naif.

Kau masih Jin Yoojin yang menyukai seorang wanita bernama Rian.

"Yoojin-ah."

Kau menoleh, mendapatinya memanggil namamu tanpa menatapmu. Pandangannya lurus ke depan, menerawang. Sementara kedua tangannya masih terus menggenggam erat kopi kalengan yang kau berikan, ia membuka mulutnya.

"Kau ingat, dulu setiap pagi kita datang lebih awal dan berdiri di sini, mengamati kebiasaan murid yang baru datang di pagi hari?"

Ia membalikkan badannya, menggunakan lengannya untuk bersandar pada palang yang sedari tadi berada di balik punggung kalian, menghadap gerbang Kirin yang beberapa sisinya tertutup dedaunan kering. Kau tersenyum, kemudian ikut berbalik dan meniru posisinya.

"Mm. Dan Hae Sung selalu punya ekspresi paling aneh setiap hari. Hehe."

Kau terkekeh, begitu pula dengan dirinya. Kalian berdua tertawa mengingat masa lalu, seolah masa lalu yang kalian ingat begitu menyenangkan untuk dikenang.

"Yap, dan setelah itu kita akan mengganggu Ahn-saem lalu dimarahi dan disuruh memakai ember bergambar selama kelas berlangsung. Haha." Kembali, kalian berdua tertawa. Kau menoleh padanya, merekam kembali tawanya yang sudah lama tak kau dengar. Kau ingatkan dirimu untuk menyimpan tawa itu baik-baik dalam memorimu, kau tak ingin kehilangannya lagi—setidaknya kau tak ingin kehilangan tawa lepasnya yang seperti anak kecil itu lagi.

"Hmm, saat itu kelakuan kita memang masih kekanak-kanakan.."

Diam kembali menyerang suasana yang telah susah payah kalian cairkan. Akhirnya kalian mengingatnya, bagaiman masa lalu telah menorehkan luka yang dalam pada diri kalian masing-masing. Ia menunduk, memandangi kopi kalengannya tanpa sekalipun mencoba membuka penutupnya. Ikut terdiam, kau mengalihkan tatapanmu yang sedari tadi terkunci padanya pergi, menerawang jauh ke antara awan putih lembut yang mengambang di langit biru yang cerah. Semilir angin semi menerpa kalian, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tergerai bebas ke arahmu.

"Mian."

Kau tersenyum kecut. Kau memang sudah mengiranya, ia pasti akan mengatakan hal itu, hal terakhir yang ingin kau dengar darinya. Kau tidak ingin mendengar ini darinya, sehingga kau punya alasan untuk membencinya. Supaya kau bisa menata kembali kehidupanmu tanpanya.

"Aku yang sekarang...sudah merupakan istri seseorang."

Napasmu tertahan. Istri seseorang? Kau tahu ia memang tinggal di sana karena tak mungkin meninggalkan orang yang telah menyelamatkan hidupnya, tapi sebagai istri? Seorang Rian yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kepedulian terhadap orang lain tinggal di luar negeri sebagai istri seseorang?

"Mian, untuk tak memberitahumu tentang ini lebih cepat. Usia pernikahanku sudah lima tahun sekarang..."

Kakimu melemas, pandanganmu mengabur. Rasanya, sesak yang tadinya telah pergi itu kembali menyerangmu. Tidak, tidak, ini bahkan lebih buruk dari mendengarnya meminta maaf padamu. Rian bukan hanya meninggalkan fisikmu lima tahun yang lalu, tapi ia juga meninggalkan hatimu lima tahun yang lalu. Ia benar-benar meninggalkan semuanya yang berkaitan denganmu untuk orang lain.

"Yoojin-ah," panggilnya. Kau menoleh, menatapnya nanar. Kau mencari sesuatu dalam matanya, entah kebohongan, atau apapun, yang penting hal itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tapi tak ada apapun dalam mata kucing itu. Hanya ada kepolosan, kejujuran, dan tatapan menderita.

Tunggu. Menderita? Tunggu, tunggu. Ia adalah superstar Rian, kan? Ia adalah seorang wanita bernama Lee Ji-Kyung, kan? Bukankah selama ini ia adalah wanita yang paling pandai berpura-pura? Ia selalu bisa menyembunyikan perasaannya, dalam keadaan apapun. Bahkan, kau tak pernah bisa mengatakannya ketika ia berbohong, karena matanya selalu tampak seperti bersungguh-sungguh.

Lantas, bagaimana bisa ada penderitaan dalam sepasang mata bening itu? Apakah ini juga adalah kepura-puraan?

"Ia suami yang baik. Terlalu baik."

Penderitaan itu kini mendominasi perasaan di matanya. Kau dapat dengan jelas melihat sesal dalam binar mata itu. Ia terlihat begitu ... sedih. Apakah pernikahannya tak menyenangkan untuknya? Apakah ia menyesali pernikahannya? Berbagai macam dugaan memenuhi kepalamu. Kau ingin merengkuhnya, mengatakan padanya bahwa apapun yang membuatnya sedih akan segera berlalu. Tapi, lagi-lagi kau tidak mempunyai keberanian itu. Kau masih Jin Yoojin yang dulu. Yang penakut dan naif.

"Tapi, aku bukan istri yang baik..."

Ada kesedihan dalam suara itu, kau tahu. Ia tak lagi menatapmu, matanya kembali terkonsentrasi pada kopi kalengan yang kau berikan padanya. Nafasnya tertahan, bahunya sedikit menegang. Kau tahu, ia sedang menahan tangis. Pertanyaannya, mengapa ia harus menahan tangis? Apa yang harus ia tangisi? Pernikahannya tak mungkin sesuatu yang buruk karena suaminya adalah orang baik, bukan? Terlalu banyak hal yang tak kau tahu tentangnya, terlalu banyak hal yang kau lewatkan selama lima tahun itu darinya.

Kau marah pada dirimu sendiri, kecewa pada dirimu sendiri karena kau tak lagi memahaminya. Kau bukan lagi dirimu yang lima tahun lalu begitu memahaminya. Saat ini, kau hanyalah teman lama yang secara tidak sengaja bertemu kembali dengannya tanpa mengetahui apapun tentang dirinya. Tapi kau masih tak punya keberanian itu, untuk merengkuhnya dan mengatakan bahwa apapun yang membuatnya sedih akan segera berlalu.

"Hh, ia memang terlalu baik. Ia bahkan mati hanya karena seorang bodoh sepertiku."

Ia menangis. Untuk pertama kalinya sejak kau mengenalnya, kau melihatnya menangis. Seorang Lee Ji-Kyung menangis didepanmu. Terperangah, kau tak melakukan apapun. Kau hanya diam, memandanginya. Terkejut dengan fakta bahwa gadis dingin yang kau kenal begitu tegar itu kini berada di hadapanmu dan sedang menangis tanpa mencoba menghapus jejak air matanya.

"Bodoh ... Dia benar-benar bodoh! Seharusnya ia tak berikan ginjalnya padaku. Untuk orang sepertiku, kenapa dia ... ?"

Dan untuk pertama kalinya, keberanian itu datang padamu. Setelah kau akhirnya mengerti mengapa kesedihan itu tak bisa ia tutupi, kau akhirnya punya keberanian itu. Kau merengkuhnya, berulang kali mengatakan padanya bahwa itu semua bukan salahnya. Kau terus berusaha menenangkannya, sementara ia terus menangis di pelukanmu.

-o0o-

author's story

"Saat itu, aku begitu mencintaimu."

Tak ada keterkejutan tergambar di wajah wanita itu. Ia hanya terdiam, menerawang jauh seakan dirinya tak sedang berada di sana. Pria di sebelahnya pun ikut terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri yang nampaknya juga sedang tidak bersama dengan tubuhnya saat itu. Keduanya tenggelam dalam memori masing-masing. Dua pikiran yang berbeda tapi adalah sama.

-o0o-

"Yah, kau bukannya menanyakan kabarku, malah menanyakan oleh-oleh. Sialan."

Mereka terdiam, menciptakan kesunyian yang sepi, tapi hangat. Tak pernah ada kata terucap di antara mereka, mereka tak perlu mengucapkan sepatah kata pun untuk mengetahui perasaan mereka masing-masing. Yang penting, sang pria tahu bahwa ia mencintai gadis itu. Dan gadis itu tahu, ia mencintai pria itu. Mengetahuinya pun sudah cukup untuk mereka.

"Rian-ah."

"Hm?"

"Let's take a photo, together."

Sang gadis tersenyum mengiyakan, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan jemarinya yang lentik itu. Kemudian, ia memosisikan ponselnya yang berfitur kamera itu hingga bisa memuat wajah mereka berdua di layar ponselnya. Setelah mengabadikan beberapa pose berdua, ujung bibirnya tertarik membentuk lengkung senyuman. Cengiran lebar pun tercetak di bibirnya ketika memamerkan hasil kerjanya yang disambut dengan tepukan ringan di puncak kepala dari sang pria.

"Rian-ah."

Sang gadis mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terfokus pada layar ponselnya ke wajah pria di sampingnya. Ia melemparkan pandangan tanya yang segera dijawab dengan senyuman kecil dari sang pria.

"We...until when will we be able to be like this?"

Semburat merah perlahan merayap di pipi keduanya. Sang gadis tersenyum kecil, merasa malu dengan perasaannya sendiri. Sang pria juga menundukkan kepalanya dalam-dalam, malu dengan perkataannya sendiri. Tapi keduanya sama, mereka bahagia.

"Yeongwonhi."

-o0o-

"Ya...saat itu, aku terlalu mencintaimu."

Wanita itu tetap tertunduk. Tapi kali ini ia tersenyum, semburat merah jambu mulai merayapi pipinya. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, nyatanya sisa perasaan itu masih tetap ada.

"Keundae...saat itu...mengapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?"

-o0o-

"Mwo? Cangkok ginjal? Kenapa kau tak pernah memberitahuku sebelumnya, Rian-ah?"

"Keugoneun...Mianhae...I'm sorry, for not telling you before. Keundae, Hae Sung-ah, hanbonman, na pputakhae.. Oh?"

"But he need to know. He's someone you treasure a lot, isn't he?"

"That's it! Because he's the one I treasure a lot, he musn't know!"

"Keundae, wae? Apakah kau tidak berpikir ia akan merasa terlupakan nanti? Tidakkah kau takut ia akan membencimu?"

Gadis bermata kucing itu terdiam, ia menggigit bibirnya, seperti memikirkan sesuatu. Ia lalu menghela nafas panjang, lelah dengan pertimbangannya sendiri.

"Kau tahu itu kan? Jika kau tidak memberitahunya lebih cepat, ia akan membencimu. Sangat membencimu."

"Itu...mungkin akan lebih baik untuknya. Lebih baik ia membenciku, daripada ia harus terluka lebih lama. Membenciku...terdengar lebih baik..." gumamnya. Meskipun ia berkata seperti itu, ada kesedihan dalam kata-katanya. Siapapun yang mendengarnya dapat dengan jelas mengetahui ia tak menginginkannya sama sekali.

"Rian-ah, kenapa kau begitu menjaganya seperti itu? Kenapa kau rela mengorbankan perasaanmu sendiri untuknya?"

Yang ditanya tidak segera menjawab. Matanya menerawang jauh, seolah sedang mencari jawaban atas pertanyaan itu dalam dirinya. Tak lama, ia menutup matanya sejenak, menyiapkan dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Bagi Hae Sung, dan bagi dirinya sendiri.

"Keu sarami...nan saranghanikka."

-o0o-

"Neol saranghanikka."

Meskipun ia sudah mengetahuinya, mendengarnya langsung dari orang yang bersangkutan tetap memberikan efek yang mengejutkan baginya. Pipinya terasa panas, semua yang sudah berusaha ia tata ulang dengan baik segera porak poranda begitu ia mendengarnya sendiri dari bibir wanita itu. Dirinya yang lima tahun lalu telah dengan susah payah ia kubur itu segera menyeruak keluar dan mendominasi segalanya.

"Saat itu, aku terlalu naif. Berpikir kau akan mengetahui segalanya tanpa aku mengatakan apapun. I didn't know what love was back then but I just liked you, though I didn't know why I do."

Wanita itu mengubah posisinya, mengganti kaki yang menjadi tumpuan tubuhnya. Kedua tangannya masih tak lepas dari kopi kalengan yang kini sudah dingin itu.

"Tapi waktu terus berjalan. Meskipun aku berharap aku berharap bisa memutar balik waktu, kita tidak akan pernah bisa kembali ke saat itu. Kau telah berubah, begitu pula denganku—kita berdua telah berubah."

Hening. Pria muda itu tak merespon. Jangankan menjawab, pikirannya berada di tempat itupun nampaknya tidak. Ia sepertinya telah terlarut dalam pikirannya sendiri, mengabaikan lawan bicaranya yang mulai kehabisan kata-kata.

Merasa tak direspon, wanita itu tahu pembicaraan mereka telah berakhir. Ia menegakkan tubuhnya, bersiap meninggalkan tempat itu. Meskipun hatinya masih meminta untuk berada di sana, otaknya memaksanya untuk segera meninggalkan tempat itu, sebelum tembok pertahanannya hancur tak bersisa.

"Keurom, tto bwoja..."

Langkah wanita itu terhenti. Sebuah lengan kokoh menahannya untuk meninggalkan tempat itu. Ia mengangkat kepalanya, yang segera bertemu dengan sepasang mata tajam milik pria itu yang tak pernah ia sadari sebelumnya.

"No matter how long it has been , how can I haven't changed like this?"

Wanita itu mengerjap, mencoba untuk mengerti maksud dari pria itu ditengah keterkejutannya. Ia mengerutkan keningnya, berusaha sekeras yang ia bisa untuk memahami arti dari kata-kata pria itu sesungguhnya.

"Tapi aku masih mencintaimu. Sangat."

Sebuah senyuman terukir di sana, perlahan, tapi jelas. Sebuah senyuman lain pun ikut terbentuk di sisi lainnya. Kali ini, mereka sadari, mereka memerlukan kata-kata untuk membuat semuanya jelas. Mereka akhirnya memerlukan kata-kata untuk menyelesaikan semua yang belum terselesaikan. Mereka memerlukan kata-kata untuk menyatukan semuanya.

Ya, lima tahun yang lalu.

-o0o-

"If on another morning we were together again

I would've given everyone

that kind of happiness as a gift"

—Romeo and Juliet (Clazziquai Project)


(again)another unnecessary note from this reallyuselessauthor

fluff!finally FLUFF!huahahaha /ketawasatriabajahitam. Akhirnya saya berhasil juga bikin cerita (slightly)happy ending yeay~! Saya tahu, ini ending emang udah ketebak, tapi ... saya bener-bener ingin menjadikan couple ini nyata huahaha. Any reviews, comments and critics are welcomed!

xoxo,

k.