WALL-E & EVE equals US

===OO===

WALL-E & EVE equals US project

Story © Giselle Gionne

WALL-E © Disney PIXAR

Genre: Romance / Friendship

Rate: K+

===OO===


Berkarat. Berdebu. Keras. Dingin. Mungkin hanya sekelumit penjelasan mengenai WALL-E. Ia adalah sebuah mesin yang berguna untuk membersihkan sampah dunia. Setiap hari, tanpa mengeluh, ia mengumpulkan sampah-sampah yang tersebar di seluruh pelosok dan menyatukan mereka, kemudian menyusun mereka tinggi-tinggi menjadi sebuah gedung pencakar langit.

Namun, ia tak memiliki seorang teman.

Seekor kecoak kecil berwarna kecoklatan menjadi sahabatnya. Mahluk itu terkadang tercicit perlahan, dan menemani WALL-E melewati siang harinya dengan mengumpulkan sampah.

Ia tetap saja sendiri.

Ketika kembali ke rumahnya, ia segera memasang rekaman usang yang ia simpan, dan dengan seksama ikut berdendang perlahan mengikuti arus lagu.

Di bagian akhir rekaman tersebut, sepasang kekasih saling meraih tangan, dan menggenggamnya.

Lugu. Mungkin, itu sebuah deskripsi tambahan mengenai WALL-E. Ia mengingkan agar tangan besinya bisa terpaut dengan tangan seseorang, dan menerima kehangatan yang selama ini ia dambakan.

Menaruh doa kecilnya tersebut di dalam memori komputernya, sembari berharap suatu hari nanti akan terbalaskan.

.

.

.

EVE. Sebuah mesin putih layaknya telur tersebut mendarat di tanah bumi, dan membuat WALL-E terkesima sekaligus takjub.

Mungkin, inilah cinta pertama bagi WALL-E.

Kerap mengamati EVE dalam diam, WALL-E tetap setia menaruh pandangan kecil pada EVE. Meski sambutan tak ramah akan selalu melayang dari EVE dalam warna biru, namun WALL-E tak pernah menyerah.

Karena, ia percaya pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti ia bisa mengamati EVE dari dekat.

Mungkin, inilah arti cinta yang sesungguhnya bagi WALL-E.

Namun, ketika EVE telah menemukan apa yang ia butuhkan, mesin tersebut segera terjatuh ke dalam tidur panjangnya. Tidak tahu harus berbuat apa, WALL-E mencoba untuk membawa EVE ke atap, seperti ia terbiasa mengisi ulang baterainya dengan sinar mentari.

Hujan bukanlah sebuah masalah. Dengan sabar, WALL-E membuka sebuah payung yang ia temukan. Tersambar, dan payung itu hancur sudah. Ketika membuka payung kedua, payung tersebut kembali tersambar petir dan hancur kembali.

WALL-E tetap tak menyerah.

Ketika lembayung senja bersinar hangat di ufuk Barat, ia menemani EVE, sembari mengagumi cahaya matahari yang terbiaskan sangat indah dari hari-hari lainnya.

Mungkin, inilah cinta yang WALL-E inginkan.

.

.

.

Berbagai peluh dan masalah mereka lewati bersama, namun kalimat cinta tak kunjung terlontar dari bibir mereka.

Meski begitu, kau tetap yakin bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.

Mungkin, inilah cinta yang ingin WALL-E ajarkan kepada kita.

Sesuatu yang kita inginkan.