NEKO WORLD

Disclaimer:
Sampai dunia kiamat, Vocaloid itu bukan milik Suu! Karena kalau Vocaloid itu milik Suu, pasti semuanya sudah hancur! Suu cuma punya fic ini dan beberapa OC buatannya, seperti biasa.

Rating: T

Genre: Romance, Fantasy, Mystery, School Life

Warning: GAJE, ANEH, OOC, KATA-KATA TIDAK SESUAI EYD, TYPO BERTEBARAN, ADA OC BUATAN SUU, DAN LAIN-LAIN.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! SUU MENERIMA FLAME YANG WAJAR SAJA, YA. KALAU KRITIK DAN SARAN, SUU TERIMA DENGAN SENANG HATI :)

Summary:
"Kucing atau manusia, sama saja! Aku tetap suka padamu!"

Author: Halo, Minna. Suu tiba-tiba dapet ide untuk buat fic ini, dan jadilah fic ini~

Rin: Minna, maaf kalau si author baka lagi dingin. Dia begini karena galau nggak dapet review.

Len: Ya. Di fic-nya yang paling baru, Aishiteru! ._.

Rin: Si author emang suka sensitif. Jangan pedulikan dia.

Len: Setuju, Rin. #toss

Author: Woi! Lu pada mau ngehibur gue apa ngejek, sih?

Rin + Len: Eh? Sorry, author baka ._.

Author: Nah, seperti yang dikatakan si kembar ini. Saya emang lagi galau nggak dapet review di fic yang itu. Tapi kalau fic ini nggak dapet review juga, mungkin saya discontinued~ XD *evil smile*

Rin: Glek! Sejak kapan dia jadi Yandere? O_O

Len: Hah? Nggak tahu! Dia kan, aneh. Wajar aja menurutku.

Author: Happy reading, Minna~ *geret Rin sama Len*


Rin's POV

Aku menggeliat di ranjangku dengan malas. Matahari sudah menyinari kamarku sehingga aku silau melihatnya. Jam wekerku sudah berbunyi dari tadi. Aku mematikannya dengan cepat karena tidak tahan dengan bunyinya yang berisik itu.

Ohayou, Minna-san! Namaku Rin Kagamine. Aku hanyalah seorang gadis yang berumur 14 tahun dan bersekolah di Vocaloid Gakuen. Kuakui, sekolah itu adalah sekolah terbaik di dunia! (Author: Saya lebih suka sekolahku, tuh. Rin: Diem aja, deh.)

Mau tahu ciri-ciriku seperti apa? Rambutku sebahu berwarna honey blonde dan mataku berwarna biru azure. Kalian akan mudah mengenalku, karena aku selalu menggunakan empat buah jepit putih untuk menahan poni dan juga sebuah pita besar berwarna putih di kepalaku.

Aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah siap, aku menuruni tangga dan menghampiri kakakku, Neru Kagamine (Author: Suu tau ini nggak pantes banget, tapi apa boleh buat :3) yang sedang menyiapkan sarapan.

"Ohayou, Neru-nee," sapaku padanya. Neru-nee menengok padaku.

"Ohayou, Rin," balasnya pelan.

Setelah menghabiskan sarapan, aku mengenakan sepatuku dan menarik tasku. Kemudian aku berpamitan dengan Neru-nee.

"Rin!" panggil salah seorang temanku, Gumi.

"Eh? Ohayou, Gumi." Aku membalas sapaannya sambil tersenyum manis.

"Hari ini cerah, ya." Gumi menatap ke arah langit. Aku mengangguk sebagai balasan. Kemudian kami mengobrol di sepanjang perjalanan menuju ke sekolah.

.

.

"Rin, aku ke Gumiya dulu, ya," ujar Gumi sambil memasang puppy face padaku.

Aku menghela napas. Gumi memang memiliki pacar yang bernama Gumiya-kun. Gumi harus bisa membagi waktu untuk itu. Membagi waktu untuk bersamaku dan Gumiya-kun. Dan kadang-kadang aku merasa kehilangan saat Gumi pergi kepada Gumiya-kun. Aku tak punya teman dekat selain Gumi. Mungkin hanya Miku-senpai. Tapi Miku-senpai berada di kelas lain.

"Ya sudah," jawabku sambil memaksakan untuk tersenyum. Mata Gumi yang tajam dapat menangkap bahwa sahabatnya itu sedang sedih. Mataku yang berwarna azure tidak secemerlang seperti biasanya.

"Bener, nih?" tanya Gumi lagi, tak yakin dengan pendapatnya.

Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku berusaha untuk tulus memberi keputusannya itu.

"Ya sudah. Aku pergi dulu, ya. Pulang sekolah kita pulang bareng!" seru Gumi sambil melambaikan tangan. Setelah Gumi pergi, aku mendesah dan berkata pada diriku sendiri.

"Tak apa, Gumi. Kamu dengan Gumiya-kun saja. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Mungkin aku tak tahu apa rasanya memiliki pacar atau orang yang kita sayangi, tapi yang jelas aku tahu bahwa kamu selalu bahagia kalau bersama Gumiya-kun." Setelah itu aku melangkah pergi ke kelas karena waktu istirahat sudah selesai.

.

.

"Rin, mau pulang bareng?" tawar Gumi. Aku memberi senyum kecil pada Gumi. Aku melihat Gumiya-kun berada di sampingnya yang juga melempar senyum.

"Kalau mau pulang sama Gumi, aku pulang sendiri," ujar Gumiya-kun.

Aku terdiam. Tiga detik kemudian aku mengeluarkan suara.

"Tidak usah. Kamu pulang bareng Gumiya-kun saja. Aku ada perlu. Sampai jumpa besok!" seruku. Tanpa menunggu jawaban dari Gumi ataupun Gumiya-kun, aku segera berlari ke rumah.


Normal POV

"T-Tadaima..." Aku mengatur napasku yang tersegal-segal karena berlari. Kemudian aku melepas sepatu.

"Eh? Okairi," jawab Neru.

Rin mengerutkan kening. "Neru-nee nggak sekolah?" tanya Rin.

"Hah? Nggaklah. Tapi hari ini aku mau pergi. Makanya aku tunggu kamu pulang dulu. Aku ada kencan sama Nero-kun," jelas Neru.

Rin hanya mengangguk. Lagi-lagi ia tak merasakan apa senangnya mencintai dan dicintai. Neru, kakaknya memiliki pacar yang bernama Nero. Mereka sangat dekat. Terkadang mereka kencan atau Nero bermain ke rumah Neru.

"Aku pergi sekarang, ya." Neru bersiap-siap. Ia mengambil tasnya.

Rin menatapnya dengan lesu. "Sekarang?"

"Iya. Aku sudah siapkan makan siang. Makan, ya. Jangan lupa kunci pintu dan jangan bermain dengan api," nasihat Neru seperti menasihati seorang anak berumur lima tahun.

Rin cemberut. Ia merengut. Dia pikir aku ini anak kecil? pikirnya.

"Ya sudah. Aku pergi," pamit Neru. Rin hanya melambaikan tangan.

Setelah mengunci pintu, Rin melangkah ke ruang makan. Benar saja, ada beberapa piring yang ditutupi tudung saja. Rin melihat apa isinya. Nasi putih, sup miso, dan juga beberapa lauk, disertai minuman kesukaan Rin, jus jeruk.

Meskipun makanan yang disiapkan Neru merupakan makanan kesukaan Rin, entah kenapa Rin tidak ingin makan. Ia menutup tudung saji dan berjalan dengan pelan ke kamarnya. Setelah itu, tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, Rin menjatuhkan tubuh ke ranjangnya untuk beristirahat sejenak. Setelah itu ia mengucapkan kalimat ini di dalam hatinya. Kami-sama, buatlah aku agar mengerti apa senangnya dicintai dan mencintai.

Tanpa sadar ia tertidur.


Rin's POV

Ukh... Aku membuka kedua kelopak mataku perlahan. Apa aku... tertidur. Aku merasakan ada sesuatu di bagian perutku. Sesuatu yang agak berat namun halus dan lembut. Ketika aku benar-benar tersadar, aku melihat apa itu.

Matanya yang tajam berwarna biru azure. Bulu yang putih. Wajah yang terlihat menyenangkan. Tapi dia...

KUCING!

"Astaga!" Aku hampir saja melompat kalau tidak menyadari bahwa ada kucing berdiri di perutku.

Aku memindahkan kucing itu dengan pelan. Jujur, aku tidak begitu suka dengan kucing. Aku takut dicakar atau digigit. Tapi kucing ini terlihat ramah. Lupakan, ini bukan permasalahannya sekarang. Masalahnya adalah kenapa dia bisa berada di sini?

"Miaw..." Kucing itu mengeong pelan dengan lembut. Aku menatapnya dengan kening berkerut.

"Kamu kucing siapa?" tanyaku seperti orang bodoh. Toh, kucing tak dapat mengerti bahasa manusia.

Tapi kucing itu seakan mengerti. Ia menggeleng sambil mengeong pelan. Aku heran. Dia mengerti bahasaku?

"Jadi?" tanyaku lagi.

"Miaw..." Si kucing hanya menundukkan kepala sambil mengeong dengan sedih.

Aku berpikir. "Kamu mau tinggal di sini?" Aku mencoba untuk berpikir. Sesaat, mata kucing itu tampak bersinar. Ia mengeong dengan gembira.

Aku mendengus.

"Tunggu di sini!" seruku. Kemudian aku berjalan ke dapur untuk mengambil makanan.

"Miaw..." Kucing itu menggosokkan bulunya yang lembut ke kakiku. Aku hampir saja berteriak karena takut. Tapi akhirnya aku mengangkat kucing itu dan membawanya ke dapur.

"Ikan..." Aku mencari ikan di kulkas. Akhirnya aku menaruh ikan itu di bawah.

"Kenapa?" tanyaku ketika melihat kucing itu tak menyentuh ikan itu sama sekali. Kemudian aku tak menghiraukannya. Aku duduk di meja makan dan mulai makan makanan yang disiapkan Neru-nee tadi. Sesekali aku menatap ke kucing itu. Ia tak menyentuh ikan mentah itu sama sekali. Tapi kucing itu malah menatapku dengan wajah penuh harap.

"Kenapa? Nggak mau makan ikan? Mau makan sup miso?" Aku berbicara sendiri. Tak kusangka kucing itu mengeong dengan gembira. Astaga, apa ada kucing yang menolak ikan dan lebih memilih sup miso?

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku membawanya ke atas meja dan menaruh sedikit sup miso di mangkuk. Kucing itu mulai memakannya dengan pelan. Aku menatapnya dengan pandangan cuek. Tapi sebenarnya aku bingung.

Setelah makan, aku membawa kucing itu ke kamarku.

"Kamu tidur di sana," ujarku sambil menunjuk koran yang bertumpuk di lantai.

"Apa?" tanyaku dingin ketika melihat kucing itu menatapku dengan penuh harap.

Kucing itu memasang puppy eyes (Author: kucing bisa masang puppy eyes?) dan menunjuk ranjangku dengan tangan depannya. Bisa disimpulkan ia ingin tidur di sana.

Astaga! Kucing macam apa ini?

"Masa kamu mau tidur sama aku?" seruku kesal. Kucing itu mengangguk pelan. Aku mendengus kemudian mengangkatnya.

Kucing itu seakan ingin menghampiri wajahku.

"Apa? Jangan cakar a-"

Aku berhenti bicara ketika kucing itu menciumku. Astaga! Kenapa aku bisa berciuman dengan kucing? Aku hampir saja melepaskannya ketika tidak melihat cahaya terang di sekitar kucing itu.

BRUK!

"I-Itai..." Aku mengeluh. Kemudian aku merasakan sesuatu yang berat di atas tubuhku. Tampak seorang pemuda yang terlihat berwajah shota. Rambutnya honey blonde, seperti rambutku. Sedangkan matanya tertutup. Mataku membesar lalu aku berteriak.

"KYAA!"

.

.

Sepertinya pemuda itu menyadari kalau ia menimpaku. Kemudian ia cepat-cepat bangun. Aku dapat melihat matanya ketika ia membuka kedua kelopak matanya. Biru azure, seperti mataku. Heran. Kenapa aku sangat mirip dengannya?

"Ma-Maaf," ujarnya sambil meringis. Aku menatapnya sambil cemberut.

"Siapa kamu dan mana kucingku?" seruku padanya. Ia menatapku sambil tertawa. Aku heran. Apa sih, yang lucu?

"Apa yang lucu?" bentakku. Ia mencoba menghentikan tawanya. Kemudian ia bilang. "Aku kucingmu. Kenapa?" katanya sambil tersenyum.

Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Bohong! Ini bukan tanggal 1 April, tahu!" seruku dengan nada meremehkan.

Ia terkekeh pelan lalu berkata. "Aku memang kucingmu. Miaw~"

Aku menatapnya dengan pandangan aneh.

"Masa bodoh kucing itu mau pergi dan kamu siapa. Sekarang pergi saja dari sini. Aku tak punya urusan denganmu juga," kataku dingin. Ia menatapku dengan pandangan minta dikasihani.

"Nggak punya tempat tinggal," katanya alasan.

"Bohong," cetusku.

"Aku juga nggak mau pergi kalau aku punya tempat tinggal," ujarnya sambil nyengir iseng.

Wajahku memerah lalu berteriak.

"SETELAH NGAMBIL FIRST KISS-KU, KAMU MAU APA LAGI, HAH?" Aku berteriak sekuat tenaga.

Ia menutup telinganya lalu berkata. "First kiss-mu?"

"Ya! Masalah?" seruku.

"Nggak nyangka. Masa cewek semanis kamu belum pernah ciuman." Ia terkekeh.

Aku hanya mendengus.

"PERGI!"

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Gimana? Gimana?

Rin: Ngaco! Aneh banget!

Author: Ntar kamu juga ketagihan sama kucing itu.

Rin: Maksudnya apa?

Author: E-Eh... Maksudnya review! Ya, review! Review, ya, Minna~