NEKO WORLD

Disclaimer:
Sampai dunia kiamat, Vocaloid itu bukan milik Suu! Karena kalau Vocaloid itu milik Suu, pasti semuanya sudah hancur! Suu cuma punya fic ini dan beberapa OC buatannya, seperti biasa.

Rating: T

Genre: Romance, Fantasy, Mystery, School Life

Warning: GAJE, ANEH, OOC, KATA-KATA TIDAK SESUAI EYD, TYPO BERTEBARAN, ADA OC BUATAN SUU, DAN LAIN-LAIN.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! SUU MENERIMA FLAME YANG WAJAR SAJA, YA. KALAU KRITIK DAN SARAN, SUU TERIMA DENGAN SENANG HATI :)

Summary:
"Kucing atau manusia, sama saja! Aku tetap suka padamu!"

Author: Halo. Saya update lagi.

Rin: Author lagi nggak galau, kan?

Author: Nggak tahu.

Len: (masih tsun tsun) Well... Mungkin bukan galau, tapi capek.

Rin: Iya. Abis graduation, kan? Lulus, nggak?

Author: Lu pikir gue nggak lulus? Gue ini apa kalo nggak lulus? =.=

Rin: *glek* Oke! Oke! Ayo kita mulai aja, ya!


Normal POV

Terdengar bunyi pintu rumah yang bergeser. Seorang pemuda berambut honey blonde dan mata biru azure yang bernama Len menengok ke arahnya. Ia mengetahui bahwa itu adalah teman barunya, Rin.

"Okairi. Gimana beli jeruknya?" sapanya.

"Beli jeruknya gimana? Beli, ya, tinggal beli," jawab Rin. Tapi senyuman tertampang di bibirnya. Len jadi heran melihatnya,

"Eh, gimana kamu bisa jadi kucing? Aku nggak tahu," tanya Rin pada Len. Ia duduk di samping temannya itu dan mengeluarkan sebuah jeruk yang tadi dibelinya. Len hanya menatapnya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke depan.

"Aku memang setengah kucing setengah manusia," jawab Len singkat. Rin menghentikan gerakannya untuk memasukkan sepotong jeruk ke mulutnya.

"Setengah kucing setengah manusia? Gimana caranya?" tanyanya heran.

Len menghela napas kecil.

"Aku memang begitu. Jauh dari dunia ini, ada dunia yang dinamakan Neko World. Kami ini sebenarnya manusia, tapi memiliki kekuatan untuk berubah menjadi kucing. Terkadang kami menggunakannya untuk menyelamatkan diri atau iseng saja. Yah... Namanya juga negeri kucing, kan? Di sana banyak sekali kucing. Mungkin bisa dibilang surga bagi kucing. Kucing yang terbuang atau terlantar dan akhirnya mati dapat pindah ke sana. Tapi suatu hari, seorang penyihir jahat menyerang dunia itu. Aku, sebagai pangeran dari kerajaan Neko World, melarikan diri bersama ayah dan ibuku. Sedikit sekali yang selamat. Sekarang Neko World dikuasai oleh penyihir itu." Len menarik napas dalam-dalam.

Rin memerhatikannya tanpa bicara. Apa? Len itu... pangeran dari kerajaan di Neko World?

"Oh? Siapa nama penyihir itu?" tanya Rin lagi.

"Um... Aku kurang tahu," jawab Len singkat. Kemudian ia berdiri. "Aku mau istirahat dulu."

Rin hanya mengangguk. Ia melanjutkan makan jeruknya.

Kemudian handphone-nya berbunyi.

"Halo?" ujarnya sambil tersenyum.

.

.

Lima menit kemudian ia menutup handphone-nya dengan senyum terukir jelas di wajahnya. Tepat pada saat itu, Len keluar dari kamarnya.

"Rin? Habis teleponan sama siapa?" tegurnya.

"Eh?" Rin memutar kepalanya. Kemudian ia melihat ke arah handphone-nya lagi dengan wajah bersemu merah dan tersenyum-senyum sendiri.

"Rin? Kok, malah senyum-senyum?" tanya Len heran. Ia menuju ke kulkas untuk mengambil sebuah pisang.

"Um... Nggak apa-apa," jawab Rin, masih dengan wajah bersemu merah. Len heran. Tapi ia tak mengalihkan pandangannya dari pisang yang diambilnya.

"Itu dia... tadi aku teleponan sama... cinta pertamaku," jawab Rin dengan semangat menggebu-gebu. Wajahnya semakin memerah.

"Eh?" tanya Len kaget. Ia kini mengalihkan pandangannya dari pisang ke arah Rin. Ia melihat wajah Rin yang sudah sangat merah.

"Yah, gitu, deh. Jadinya..." Rin malu-malu.


Flashback

BRUK!

"Itai!" seru Rin kaget. Jeruk-jeruknya berjatuhan di lantai.

"G-Gomenasai. Kamu tidak apa-apa?" ujar orang yang menabraknya sambil menyodorkan tangan ke arah Rin, untuk membantunya berdiri.

"H-Hai," jawab Rin pelan. Sebelum menyambut tangannya, ia melihat wajah orang itu.

D-Dia itu...

"Rin, ya?" balas orang itu. Kemudian tanpa basa-basi, ia membantu Rin untuk berdiri. Rin berdiri. Kini ia berhadap-hadapan dengan pemuda yang tingginya beberapa senti di atasnya itu. Wajahnya memerah.

"U-Um... Kurou-senpai?" balasnya pelan.

"Wah, ternyata memang benar Rin. Apa kabar, Rin?" ujar kakak kelas Rin yang bernama Kurou itu.

"Um... Aku baik-baik saja. Senpai?" balas Rin tergagap karena gugup.

"Aku juga baik-baik saja. Bagaimana sekolahmu?" tanyanya lagi.

"Baik-baik saja," jawabnya.

"Rin sudah banyak berubah, ya! Lebih dewasa!" seru Kurou sambil memasang sebuah senyum ramah. Rin yang memerhatikannya hanya diam. Tak terasa wajahnya merah merona.

End of flashback


"Begitu," ujar Rin, masih dengan wajah merah. Wajahnya kini bertambah merah ketika ia selesai bercerita tentang kejadian di supermarket tadi. Len memandangnya dengan tatapan tidak senang.

"Jadi orang yang namanya Kurou itu cinta pertamamu?" tanyanya lagi. Rin mengangguk kecil.

"Sampai sekarang masih suka?" tanya Len lagi.

"M-Mungkin?" balas Rin ragu.

"Ohh," jawab Len singkat. Lalu ia memasuki kamarnya. Sedangkan Rin menatap pintu kamarnya dengan wajah bingung.


Len's POV

Cinta pertama, ya... Cinta pertama memang sulit dilupakan. Aku tahu akan hal itu. Seperti halnya... cinta pertamaku pada seorang putri dari Kerjaan Salju, Ring Suzune.

Tapi aku sudah mulai melupakannya, walau terkadang aku masih ingat padanya. Tapi Rin punya cinta pertama? Siapa? Aku belum tahu siapa orang itu dan tidak pernah lihat. Kurou Masaru. Rasanya nama itu tidak asing bagiku.

Aku berbaring di ranjangku untuk menenangkan diri. Lalu menutup kedua mataku dengan tangan.

Apa aku suka dengan Rin? Nggak tahu. Kami baru bertemu dua hari yang lalu. Tapi entah kenapa aku merasa gadis ini sungguh misterius. Ia memiliki kesan tersendiri. Aku tidak tahu.

"Len," panggil Rin. Ia membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Aku kaget dan langsung memasang posisi duduk.

"Kenapa? Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu," ujarku masam.

"Um... Gomen. Di luar ada Gumi dan Gumiya-kun!" serunya dengan wajah berseri-seri.

Aku mengerutkan dahi. Ada Gumi dan Gumiya?

"Oh, ya sudah," jawabku lalu tiduran lagi di kasur.

"Kamu nggak mau..."

"Yo, Len!" seru seseorang memutuskan omongan Rin.

Aku terlonjak dan dapat melihat temanku itu berdiri di sebelah Rin. Di belakangnya ada pacarnya yang tampangnya hampir serupa dengannya.

"Gumiya! Ngagetin banget, sih," sungutku.

"Kita tinggal, ya?" ujar Gumi sambil menarik tangan Rin. Kemudian mereka berdua keluar dari kamarku.

"Hei, ngapain?" tanya Gumiya. Ia dengan seenaknya duduk di tepi ranjangku.

Aku mendengus. Kemudian aku sadar akan sesuatu.

"Lho? Kok, kamu tahu aku ada di sini?" seruku kaget.

"Kamu tinggal serumah sama Rin. Jangan-jangan..." Gumiya memamerkan senyuman liciknya.

Aku melempar sebuah bantal ke mukanya.

"Jangan mikir yang aneh-aneh!" seruku dengan wajah yang memerah.

"Oke oke," jawab Gumiya sambil mengambil bantal yang kulempar tadi. "Ceritakan, dong. Katanya kamu ini setengah kucing? Kamu nggak punya tempat tinggal," ujar Gumiya.

Rahasiaku sudah terbongkar? Dasar Rin.

.

.

"Begitu," jawabku dengan mengakhiri ceritaku.

Gumiya hanya mengangguk-angguk.

"Kamu masih suka dengan putri dari Kerajaan Salju itu?" tanya Gumiya.

Aku mengangguk lalu menggeleng.

"Aku sudah mulai melupakannya. Tapi masih mengingatnya kadang-kadang," jawabku singkat.

Gumiya mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan perasaanmu pada Rin?" tanyanya lagi.

"Eh?" Aku menatapnya kaget. Gumiya balas menatapku dengan tatapan mendelik.

"Kamu suka sama Rin, kan? Jujur saja, deh," ujarnya malas.

Aku menarik napas.

"Rin suka sama seseorang," jawabku jujur.

"Siapa?" tanya Gumiya.

"Kakak kelasnya. Itu cinta pertamanya," balasku lagi.

"Oh? Sampai sekarang?" tanya Gumiya seakan ia tak pernah kehabisan pertanyaan.

Aku mengangkat bahu.

"Lupakan. Itu bukan hal yang tidak begitu penting," jawabku sambil mengambil setumpuk kartu di mejaku. "Mau main?"


Rin's POV

"Rin, Len kok, tinggal serumah sama kamu?" tanya Gumi dengan polosnya. Aku yang sedang minum jus jeruk jadi tersedak.

"A-Apa?" tanyaku lagi.

"Kenapa Len tinggal serumah sama kamu?" Gumi mengulangi pertanyaannya lagi.

Aku menceritakannya dari awal sampai akhir. Gumi hanya mengangguk-angguk.

"Oh? Jadi kamu mengijinkan dia tinggal di rumahmu?" tanya Gumi.

"Terpaksa," jawabku jengkel.

"Gimana dengan Neru-senpai?" tanya Gumi lagi.

"Neru-nee? Dia mana peduli!" dengusku.

Aku mendengus sambil merapikan rokku. Gumi memandangku dengan tatapan heran.

"Jangan bocor," ujarku tanpa menengok padanya.

"Eh? Tentu saja tidak! Lagipula akan bahaya sekali jika orang-orang tahu akan hal ini. Aku juga sahabatmu!" seru Gumi tegas dengan berapi-api. Wajahnya agak cemberut.

Aku hanya tersenyum kecil padanya.

.

.

"Nah, kami pulang, ya..." Gumiya-kun melambaikan tangan.

"Eh, kalian rumahnya sendiri-sendiri, kan?" tanya Len dengan tersenyum iseng.

Wajah pasangan yang tampangnya hampir serupa itu memerah karena malu. Aku hanya berusaha untuk menyembunyikan senyumku.

"Y-Ya, tentu saja!" seru Gumiya-kun dengan wajah yang memerah.

"L-Len, jangan ngomong yang aneh-aneh, ah!" seru Gumi dengan wajah yang memerah pula.

"Ahaha. Ya sudah. Kalau mau pulang, sana pulang," ujarku dengan nada seperti mengusir.

"Kenapa? Kita ganggu, ya?" tanya Gumi. Aku memasang muka cemberut kemudian menendang pasangan bodoh itu keluar dari rumahku. Len hanya sweatdrop melihatnya.

"Nah, aku mau tidur. Terserah kamu mau tidur atau tidak. Nanti kalau Neru-nee pulang, bukain pintu, ya. Oyasumi!" seruku tanpa titik koma. Lalu tanpa menunggu jawaban Len, aku menutup pintu kamarku dan menguncinya.

.

.

Aku melepas empat jepit putih yang selalu kupakai dan menaruhnya di meja samping tempat tidurku ketika aku selesai berganti pakaian. Selanjutnya pita besar di kepalaku pun kulepas. Aku naik ke ranjang dan menarik selimut sampai ke dagu.

Aku merasakan handphone-ku bergetar.

"Halo?"

"Rin?"

"U-Um... Kurou-senpai?"

"Ya. Maaf meneleponmu malam-malam. Belum tidur?"

"Be-Belum. Senpai sendiri?"

"Belum. Aku menyiapkan untuk besok."

"Untuk besok?"

"Ya. Aku akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu."

"Hontou ni?"

"Yup. Eh, bateraiku sudah mau habis, nih. Oyasuminasai. Mata ashita."

"Oyasumi."

Aku mematikan handphone-ku dengan wajah yang memerah dan senyuman di bibirku. Semangatku bangkit. Apa? Kurou-senpai akan masuk satu sekolah denganku.

Kemudian aku mengecek handphone-ku lagi. Wah, banyak sekali panggilan yang tidak terjawab! Dan nomornya sama semua pula! Nomor siapa ini? Mungkin orang ini meneleponku ketika aku berbicara dengan Kurou-senpai. Tak lama kemudian hanphone-ku bergetar lagi. Di layar tertampang nomor yang sama.

"Ha-Halo?" Aku menjawab telepon itu dengan gugup.

"Yo, Rin!" Tunggu... Aku mengenal suara ini...

"Len?" ujarku bingung.

"Haha. Bagaimana kamu tahu?" ujar orang itu yang ternyata Len. Aku hanya tersenyum masam.

"Tentu aku tahu. Aku, kan, pernah bicara denganmu. Ngapain telepon? Sebelahan ini."

"Nggak ada connecting door, sih."

"Jangan mikir yang aneh-aneh!"

"Hahaha. Nggak, kok. Aku telepon kamu lebih dari lima kali tadi. Kok, nggak dijawab?"

"Kurang kerjaan! Aku sedang teleponan dengan seseorang."

"Hm? Siapa itu?"

"Ku-Kurou-senpai..."

"... Cinta pertamamu itu?"

"Ya!"

"Ohh... Eh, belum tidur?"

"Belum. Kamu sendiri?"

"Aku masih teleponan sama kamu! Jelas belum!"

"Oke oke. Besok saja lanjutinnya. Nanti pulsaku habis."

"Oyasuminasai."

Aku mematikan handphone-ku. Ada-ada saja. Padahal bersebrangan, tapi kenapa menelepon? Dasar Len.

Aku memeluk gulingku dan bersembunyi di balik selimut tebal berwarna kuning. Mengingat obrolanku dengan Kurou-senpai tadi membuat wajahku memerah. Tentunya jantungku berdegup cukup kencang ketika mendengar suaranya. Apalagi ketika ia menyapaku.

Tapi ketika aku berbicara dengan Len, itu beda lagi. Aku merasa nyaman dan hangat. Berbeda, bukan? Perasaan apa ini? Teman? Atau... lebih dari teman?

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Update! Gomen, agak lama!

Rin: Ide si author berhenti sebentar.

Len: Tapi akhirnya bisa update juga. XD

Author: Review, Minna? Supaya saya semangat *smile*

Rin: (sifatnya cepet berubah) Oke, review sebanyak-banyaknya, ya. Review ditunggu~