Selamat malam minna-san!

Saya author baru dan ini cerita pertama saya. Salam kenal!

.

.

PERJALANAN TUKANG BAKSO

Bleach punya Tite Kubo-sama

Saya cuma bikin fic nya.

.

.

"Teeeeeeet! Tooooot! Teeeeet! Tooooot!"

Suara kentut terompet mas-mas seksi berambut pirang berjenggot tipis penjual bakso bergema di salah satu gang kecil di Kota Karakura. Karena siang hari itu panas, gak ada yang mau beli baksonya Mas Kisuke. Kasihan nggak laku.

Di sebuah pos satpam kosong, Kisuke berhenti. Dia capek ngayuh sepeda ontel yang dulu dia ambil dari TPA. Bukan, bukan di Tempat Pembuangan Akhir, tapi di Tempat Pembelajaran Al Quran. Nyolong dia dari murid anaknya Pak Kurosaki. Di pos itu, Kisuke meratapi nasipnya.

"Kenapa nasipku begini, ya Tuhan..." Kisuke ngomong sendiri. "Apa salah mbahku sampai nasipku kayak gini?"

Sambil ngelap keringet pakai handuk yang udah seminggu dicuci dan terus dipakai tiada henti membangun negeri (?) Kisuke menatap langit. Lalu ia bernostalgia sejenak...

Beberapa hari sebelumnya, ada penagih utang dateng ke rumah sekaligus Toko Urahara. Kisuke sih nggak pernah ngutang. Anak-anak sama Pakde Tessai juga nggak punya utang. Mereka juga bayar pajak sesuai dengan yang ditagih. Ternyata si penagih utang nagih uang sewa rumahnya. Karena uangnya gak cukup kalau cuma jualan di Toko Urahara, terpaksa si tuan rumah jualan bakso keliling pakai sepeda demi membayar utang.

Kayaknya sih masa lalu kelam gitu nggak pantes disebut nostalgia.

Setelah lama istirahat, Kisuke kerja lagi. Sore ini lumayan mendung, jadi mungkin ada yang mau beli bakso.

Dan benar ternyata, beberapa menit ngayuh, ada anak kecil manggil Pak Kisuke.

"Pak, beli pak!"

Kisuke langsung nyengir. Asyik ada pelanggan! begitu pikirnya.

Kisuke berhenti di dekat dua anak cewek. Yang satunya rambutnya coklat pendek, yang satunya kelihatan tomboy. Udah jelas, mereka Yuzu sama Karin.

"Mau beli apa, non?" tanya Kisuke sambil benerin letak topi ijo-putih ijo-putih nya.

"Beli dua ribu, Pak! dicampur ya!" kata Yuzu dengan senyum mengembang. maniiis banget.

"Aku juga sama." kata Karin agak cuek.

"Oke... pedes nggak non?" tanya Kisuke sambil masuk-masukkin bakso ke plastik.

"Aku nggak, tapi Karin pedes." jawab Yuzu.

Setelah si kembar Yuzu-karin nerima baksonya, Yuzu ngambl uang dari kantong. sambil nyari uang, dia bilang,

"Kok sepedanya kayak punya kakak ya?"

"Glek!" Kisuke nelen ludah.

"Iya ya... di kota ini cuma kakak yang punya sepeda kayak gini!" Karin megang sepeda Kisuke.

Dengan panik sekaligus galau sekaligus gelisah sekaligus deg-degan, dengan cepat Kisuke naik sepeda, terus kabur entah ke mana, berdua dengan sepeda curiannya. Terpaksa dia kabur karena gak ada yang meridhoi mereka berdua. Kasihan.

Dan lebih kasihannya lagi, Kisuke lupa nagih bayaran sama duo kembar itu.

Empat ribu melayang.

Nyesek abis bagi Mas Kisuke.

Kisuke kemudian kembali berjualan dengan lesu tanpa semangat. Sambil ngeluarin suara kentut "Teeeeet toooot teeeeet toooot!" Urahara keliling Karakura. Beberapa saat kemudian dia dipanggil sama seseorang dari belakang.

"Maaaas! sini doooong!"

Pas Kisuke noleh, dia kaget ternyata yang manggil dia bencong yang biasa magang akhir minggu. Maunya sih kabur secepat dia kabur dari Yuzu-Karin tadi, tapi daripada pulang tanpa bawa uang sama sekali... akhirnya dengan gemetar dan takut-takut, Kisuke berjalan ke arah wanita setengah jantan itu.

"Ini berapa mas~?" suaranya melambai kayak keset welkom digesek sepatu bola.

"Ter.. terserah mbak, eh, mas, eh, mbak..." Kisuke galau mau manggil apa. "Dua ribu juga boleh... dua ribu lima ratus juga boleh. Kalau dua ribu lima ratus, dapat bonus satu bakso..."

"Aih, bukan baksonya, tau!" kata si bencong sambil colek-colek sang penjual bakso.

Kisuke punya pikiran negatif sama bencong itu. "Jangan-jangan yang dia mau beli itu penjualnya, bukan apa yang dijualnya? HARUS KABUR!" begitu pemikiran Kisuke. Dengan cepat Kisuke kabur menjauhi sang bencong...

"Hoooooi! mau ke mana!" Suara pria si bencong keluar. "Aku cuma mau beli gorengannya! Hooooi!"

Begitu tahu kalau si bencong cuma mau gorengannya, Kisuke balik lagi. Tapi pas balik si bencong udah nggak ada. Dia cari di sekitar situ juga udah gak ada. dia tanya ke orang-orang di situ pun nggak ada yang tau. Kisuke kehilangan jejaknya, walau terus mencari, hingga ajal menjumpa, Kisuke hanya bisa berharap bahwa bencong itu kembali padanya.

"Baru kali ini aku nguber-nguber bencong sampai segininya..." kata Kisuke, lalu kembali berjualan.

Agak lama kemudian datanglah dua cowok yang kayaknya barusan main bola. Mereka nyeker kayak ayam. Cowok yang tinggi bawa bola, yang pendek dan unyu jalan ngikutin dari belakang si tinggi. Tak lain mereka adalah Keigo dan Mizuiro.

"Mau bakso?" tawar Keigo.

"Boleh." si imut Mizuiro menjawab.

"Pak! Bakso!"

Kisuke menoleh lalu mendekat ke arah Keigo dan Mizuiro. "Mau beli berapa, dek?"

"Aku tiga ribu, campur, pedes." kata Keigo. "Kamu, Mizuiro?"

"Duaribu, campur, cuma pakai kecap,"

Kisuke pun melayani dan menyiapkan pesanan mereka dengan cepat namun hati-hati. Setelah menerima uang lima ribu dan memberikan pesanan yang dipesan pelanggan, Kisuke memasukkan uang lima ribuan dari Keigo dengan hati riang. Ini pertama kali Kisuke dapat uang dari pelanggan!

"Wah, enak!" kata Mizuiro. "Kapan-kapan beli lagi, yuk."

"Boleh. Tapi kamu yang bayarin ya!"

Kisuke agak terharu. Baru kali ini masakannya yang dia buat sendiri dan pertama kali dipuji. Karena sudah mulai malam, Kisuke pulang ke Toko Urahara, rumahnya.

Sampai di tujuan, ia disapa Tessai.

"Gimana, manajer? Terjual habis?" tanya Tessai sambil merapikan toko.

"Sisa banyak. Buat makan malam aja," kata Kisuke. "Seharian ini cuma dapat lima ribu. Nyesek, ya. Haha."

"Tapi..." Tessai berhenti ngerapiin, lalu menatap bosnya yang cengar-cengir sendiri. "Kenapa manajer senyam-senyum sendiri walau jualannya gak laku?"

Kisuke duduk bersila, merapikan topi, lalu menghembuskan napas sambil berkata, "Ini hari pertama aku jualan, hasilnya payah tapi pengalaman yang kudapat benar-benar asyik,"

Ketahuan nyolong sepeda, berurusan dengan banci akhir pekan, dapat pelanggan pertama yang memuji hasil jualan... Kisuke makin ngerti niat berjualan tukang bakso. Walau hari ini penghasilannya benar-benar kurang, tapi Kisuke yakin, hari esok lebih baik dari hari ini!

Kalau nggak gitu nggak bisa bayar utang nanti.

.

.

to be continued

.

.

Makasih udah mau baca.

Review?