Chapter kedua. selamat membaca! :)

.

.

.

Derita Tukang Bakso II

.

.

"Kisuke-san,"

Kisuke menoleh sambil megangin topinya. "Ada apa, Ururu?"

"Anu... kalau bisa... Baksonya terjual habis, ya. Semalam aku nggak bisa tidur..."

Kisuke menghela napas sambil tersenyum. "Kamu kepikiran utangku ya? Sudah, santai saja. Aku pasti bisa bayar sepenuhnya, kok." Ia menepuk lalu mengelus-elus kepala Ururu. "Jadi, jangan khawatir soal utang, ya?"

"Bu.. Bukan masalah utangnya," kata Ururu. "Aku dan Jinta mules makan bakso sisa kemarin, sampai nggak bisa tidur..."

Imej sok-sok bisa diandalkan Kisuke pun runtuh.

000

"Teeeet! Toooot! Teeeeet! Tooot!"

Ini hari kedua Kisuke jualan bakso. Dengan niat nggak mau bikin anak-anaknya mules, ia mengayuh sepedanya dengan semangat menggebu. Hari ini mendung, lebih mendung daripada sore kemarin, jadi Kisuke berpikir pasti ada yang mau beli bakso.

Di tengah jalan, ada tiga anak cewek cantik-cantik jalan bareng beberapa meter di depan Kisuke. Yang paling bohay berrambut coklat terang dan pakai jepit bunga di sisi kiri-kanan rambutnya. Yang satunya lagi rambutnya pendek, badannya rata, kelihatan kayak cowok dan tomboy. Yang satu lagi rambutnya pendek, senyumnya manis, pakai baju terusan dan kelihatan paling 'imut' di antara mereka bertiga. Sebetulnya sih pengen bilang yang paling pendek di antara mereka tapi nggak tega. Mereka adalah Orihime, Tatsuki dan Rukia.

"Tatsuki-chan, Kuchiki-san, kalian mau bakso?" tawar Orihime.

"Ah, mau! tapi..." Rukia merogoh sakunya. "Aku nggak punya uang..."

"Kutraktir deh! Hari ini dompetku lagi tebel!" kata Tatsuki sambil mengeluarkan dompetnya. emang tebel sih, tapi uangnya seribuan semua.

"Pak, beli pak!" Orihime melambai ke arah Kisuke.

"Oh, iya non!"

Kisuke menuju ke arah tiga gadis tadi lalu turun dari sepedanya. "Beli apa aja, non?"

"Tiga, tiga ribuan, campur semua, tapi yang satu nggak pakai siomay, ya." Kata Tatsuki. Tatsuki nggak begitu doyan siomay, penyebabnya tidak diketahui.

"Oke," Kisuke menyiapkan bakso sesuai dengan pesanan. Sambil masuk-masukkin bakso ke plastik, Kisuke dengerin Orihime, Tatsuki dan Rukia ngobrol.

"Kata Asano, bakso ini enak lho," kata Orihime. Kisuke jadi senyam-senyum sendiri.

"Kok kamu yakin kalau ini bakso yang Keigo bilang?" kata Tatsuki sambil nyiapin uang sepuluh ribuan.

"Soalnya, kata Asano, yang jual itu pakai sepeda butut.."

Sadis.

"...Suara terompetnya sumbang banget..."

Sadis.

"..dan... yang jual kayak nggak pernah mandi setahun!"

Ini sih kelewat sadis, kalau mau dibuat filem gak bakal lulus sensor. (?)

Kisuke menerima uang dan memberikan jualannya dengan senyuman, tapi hatinya ngilu. Dengan perasaan senang karena dapat sembilan ribu dari pelanggan tapi diejek-ejek segitu sadisnya, Kisuke kembali berjualan...

Gara-gara kepikiran kata-katanya Orihime tadi, Kisuke nggak liat-liat jalan dan... dia nabrak orang! Orang itu berbadan tinggi-besar kurang-lebih sebesar Tessai, makannya dia nggak jatuh walau ditabrak. Orang itu menoleh ke arah Kisuke yang panik takut dimarahin.

"Wuaaaah! Bisa mati kalau kena pukul gorila gede gitu! Kenapa sih berita TV nggak ngasih tau ada gorilla lepas?" begitu batin Kisuke sambil bersiap-siap kabur. Tapi sebelum kabur, dibalik orang tinggi-besar itu ada seseorang muncul sambil memanggil Kisuke.

"Ah! Penjual bakso kemarin!"

Kisuke menoleh dan ia melihat Mizuiro.

"Siang, Pak! Aku mau beli lagi!" kata Mizuiro sambil mendekat ke arah Kisuke. Mau nggak mau Kisuke nggak jadi kabur, harus melayani Mizuiro. Setelah memesan bakso, Mizuiro menoleh ke arah korban tabrakan tadi.

"Ini enak lho, Chad! mau?" tanya Mizuiro.

"Hmm? boleh," Ternyata orang itu Chad yang lagi jalan-jalan sama Mizuiro. Kenapa mereka jalan-jalan berdua nih? Perlu dicurigai.

Sebetulnya Kisuke mau minta maaf ke Chad karena udah nabrak, tapi Kisuke malah kelupaan begitu dikasih uang delapan ribu sama mereka berdua. Begitu ada uang, dunia dilupain. Dasar mata duitan.

Kisuke kerja lagi keliling Karakura. Sampai di SMA Karakura, ada murid sekolah sana yang manggil Kisuke dari belakang.

"Pak! Pak! Woi! Yang pakai sepedanya Kurosaki!"

"Deg!" Kisuke takut dia dicurigai maling lagi kayak kemarin. Padahal emang bener maling. Kisuke berhenti mengayuh, tapi bingung mau mendekati dan melayani pelanggan yang tadi manggil-manggil atau nggak.

Akhirnya si pelangganlah yang mendekati Kisuke.

"Pak, aku mau beli," kata orang itu. Tangan kanannya betulin kacamata, sementara tangan kirinya bawa kresek berisi alat jahit. Jelas, itu Uryuu Ishida anak direktur rumah sakit. Dia beli bakso dua ribuan, nggak pedes dan gak pakai gorengan karena lagi batuk. GWS ya.

Waktu Uryuu nerima bakso dan ngasih uang dua ribu, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.

"Uryuuuuuu!"

Uryuu kaget waktu menoleh ke arah orang yang tadi manggil. "Gwaa! Ryuuken!"

"Paling nggak panggil Papi, kek!" Sang Papa Ryuuken Ishida mendekat. Mukanya persis sama anaknya yang lagi beli bakso. Yang beda cuma rambutnya aja, Uryuu masih item kebiru-biruan tapi bapaknya udah 100% ubanan.

"Kamu beli makan di luar sekolah lagi? Kan sudah Papi bilang kamu harus bawa bekal atau makan di kantin! Awas kamu!"

"Maaf!" Uryuu buru-buru kabur sebelum sempat nerima pesanan baksonya.

"Dasar, anak ini selalu melanggar." kata Ryuuken yang kini ada di dekat Kisuke. Kisuke bengong, nggak tahu harus apa. Terus, gimana dengan bakso pesanan Uryuu? Dia sudah bayar tapi nggak ngambil apa yang dibayarnya.

Tiba-tiba Ryuuken sang direktur rumah sakit, a.k.a orang kaya, menoleh ke arah Kisuke.

"Itu sudah dibayar sama anak tadi?" tanyanya.

Kisuke mengangguk.

"Buatku saja." kata Ryuuken sambil menengadahkan tangannya. Kisuke yang gak tahu harus apa ngasih bakso jualannya ke Ryuuken. Setelah itu Kisuke kembali mengayuh sepedanya, berjualan lagi.

Ryuuken ini aneh ya. Ngelarang anaknya makan bakso tapi dia sendiri yang makan. Ini salah satu contoh papi a.k.a ayahanda yang nggak baik.

Karena hari sudah sore, Kisuke balik ke rumah. Kisuke nggak sabar mau ngasih tahu kalau bakso yang dia jual habis pada Tessai, Ururu dan Jinta. Nggak lupa si Yoruichi, kucing item abis kecebur got yang sekarang rawat inap di RS hewan karena kemarin kebanyakan makan bakso.

"Selamat datang," Lagi-lagi Tessai yang menyapa Kisuke duluan. "Gimana? habis semua?"

Kisuke cuma nyengir sambil ngibas-ngibasin uang seribuan sampai sepuluh ribuan, sok-sok orang kaya padahal punya utang. "Laris manis! Nggak kusangka bisa habis semua!"

"Syukurlah," kata Ururu yang mendadak nongol, join bareng.

"Aku udah mual sama bakso!" Kata Jinta, ikut join bareng.

Kisuke nyengir. "Suatu saat kalian akan merindukan bakso buatanku."

Dengan suara sopan dan pelan Ururu serta suara kasar dan keras Jinta, mereka serentak "Gak bakal!" Lalu mereka semua tertawa bareng.

Unyu ya, walaupun kelilit utang, masih bisa tertawa bareng keluarga.

Kisuke menutup tokonya karena hari mulai malam. Hasil dari Toko Urahara juga lumayan. Kisuke jadi makin semangat jadi tukang bakso, dan ia berharap hari esok datang secepatnya.

.

.

to be continued

.

makasih udah mau baca~

review? barang kali bisa bikin saya tambah baik lagi, amin :)