Yessy : Saya balik kembali! Setelah melalui IGCSE dan UAS selama sebulan!

Miku : Kan masih ada paper 1 biology and chemistry -_-

Yessy : Lalalala... didn't hear you~

Rin : (Pake toa masjid) KAN MASIH ADA PAPER 1 BIOLOGY AND CHEMISTRY KATA MIKU-NEE!

Len : (Pake toa juga) BELUM LAGI GEO KAMU GIMANA?

Yessy : ... have I told you guys are really annoying when you mention my least favorite subject?

Kaito : No?

Yessy : Well, I just did. Anyway disini ada OCs aku. Untuk sementara mereka akan tampil di beberapa chapter. Tapi kalau readers tidak suka, entar aku tidak munculkan lagi... and finally : HAPPY READING!


My Feelings for You

By Sakura 'Yessy' Kudo

Discalaimer : Vocaloid belongs to its origanal owner, I don't own anything in here except my Ocs.

Warning : OOC, OCs contain, Alur terlalu cepat, full of drama, a little bit crossover with Detective Conan (which I don't own)

Chapter 1 – The Beginning

Seorang gadis kecil berambut pirang sedang menangis tersedu-sedu. Hari itu hampir semua orang di rumahnya sedang pergi dan sekarang hujan badai sedang meraung-raung luar sana. Gadis berumur 7 tahun ini sangat takut dengan yang namanya badai. Karena jika ada badai, pasti akan ada petir. Petir yang mengelagar membuat gadis kecil ini sangat ketakutan. "Rin?" panggil anak laki-laki yang sebaya dengan gadis kecil itu. "Kau kenapa?Kenapa menangis?"

JDDAAARRR!

Petir masih terus menyambar. Gadis kecil yang bernama Rin itu langsung kembali menangis meraung-raung. "Waaa! Len!" Rin memeluk anak laki-laki yang berada dihadapannya itu. "Petirnya banyak sekali. Aku takut Len.." bisik Rin masih sambil menangis.

Sepertinya Len tidak keberatan bajunya dibasahi oleh air mata Rin. Len melingkarkan lengannya di sekitar Rin. "Tenang saja Rin. Aku akan selalu disisi Rin," kata Len sambil mengelus lembut punggung Rin. "Kalau ada petir aku akan selalu memeluk Rin sehingga Rin tidak akan menangis lagi."

Rin mengangkat kepalanya. "Benarkah? Len janji akan selalu melindungi Rin kan?" Rin mengeluarkan jari kelinkingnya. Len mengaitkan jari kelinkingnya ke jari kelinking Rin, tanda mereka telah membuat janji.

"Janji."

~~OoOoOoO~~

Hari sudah pagi. Burung-burung sudah banyak yang berkicau. Sinar matahari mulai memasuki kamar gadis berambut pirang, membangunkannya dari mimpinya. Matanya yang berwarna biru azure perlahan terbuka. "Mimpi itu lagi.." gumamnya sambil bangkit dari tempat tidurnya. Gadis yang diketahui bernama Kagamine Rin ini segera bersiap untuk memulai harinya. Dia menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menggosok giginya yang berwarna putih.

Setelah itu, Rin mengganti piyamanya dengan seragam sailor tanpa lengan berwarna putih dengan pita kuning di dadanya dan celana pendek berwarna hitam. Tak lupa, dia menggunakan sebuah ikat pinggang berwarna kuning-hitam dan kaos kaki hitam sepanjang betisnya. Rin melihat dirinya sebentar di cermin sebelum menyisir rambutnya yang pendek sebahu. Menaruh 4 buah jepit di poninya dan sebuah pita besar yang terlihat seperti telinga kelinci, Rin pun telah siap.

Saat keluar dari kamar, Rin mendapati sosok yang menyerupai dirinya sedang melewatinya. "Ohayou Len," sapa Rin. Orang yang yang disapa Rin tidak berkata apa-apa. Len mengenakan seragan sailor yang mirio dengan Rin, hanya saja perbedaannya adalah baju Len berlengan pendek, celananya lebih panjang daripada Rin dan di dadanya terdapat sebuah dasi berwarna kuning. Dia hanya menatap Rin sebentar, lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Rin tertunduk melihat perlakuan Len padanya. "Masih sama ya..." pikirnya.

Tiba-tiba saja Rin mendapat sebuah pelukan maut dari belakang. "Ohayou Rin-chan!" seru Diva berambut teal yang memeluk Rin.

"Ohayou Miku-nee," balas Rin.

Hatsune Miku, Diva nomor 1 Vocaloid ini mengenakan baju Divanya yang berupa baju abu-abu tanpa lengan dengan dasi berwarna teal, rok mini dan kaos kaki hitam yang panjangnya mencapai pahanya. Miku memutar tubuh Rin sehingga mereka berhadapan. "Rin-chan kenapa? Pagi-pagi begini sudah lesu, ayo semangat!"

Rin tersenyum mendengar hiburan 'kakak'nya. "Terima kasih Miku-nee. Bukan apa-apa kok. Hanya saja Len..."

"Dia masih bersikap dingin ya?" tebak Miku. Rin mengangguk sedih. "Sudah, hiraukan saja dia! Sekarang fokuskan dirimu untuk konser malam ini, oke?" kata Miku sambil menepuk pundak Rin. Rin tersenyum. "Bagus! Ini Rin-chan yang aku kenal! Ayo, katanya sarapan hari ini ada waffle jeruknya." Mendengar kata jeruk, semangat Rin langsung kembali. Dia langsung menarik Miku untuk cepat-cepat sarapan.

"Ohayou!" seru Rin dan Miku ketika sampai di dapur. Disana terdapat wanita berambut pink muda yang panjangnya sepinggang yang sedang memasak sarapan. "Ohayou, Miku-chan, Rin-chan," balas wanita bernama Megurine Luka ini. "Bisa tolong bantu aku bawakan waffle-waffle yang sudah jadi ini ke meja makan?"

"Baiklah." Miku dan Rin membawakan waffle-waffle itu ke meja makan yang sudah terisi banyak orang. Ada pria berambut biru yang sedang sibuk makan es krim, wanita berambut cokelat yang sedang dalam masa hang-over setelah minum sake semalam suntuk, samurai ungu yang sedang mengagumi Luka dari kejauhan, dan tak lupa pemuda pirang yang tadi kita ketahui bernama Len yang sedang memakan pisang kesayangannya. "Ohayou minna! Wafflenya sudah jadi!" seru Miku saat memasuki ruang makan.

"Hore! Terima kasih Miku-chan!" kata Kaito, pria berambut biru setelah menerima waffle dari Miku. Di wajah Miku terdapat semburat merah saat Kaito mengucapkan terima kasih. "Sama-sama," balas Miku.

Tak lama kemudian, Luka telah kembali dari dapur tepat setelah Miku dan Rin membagikan semua wafflenya. "Luka-sama! Ohayou!" sapa samurai berambut ungu tadi.

"Ohayou Gaku- Tunggu! Kenapa ada Gakupo disini? Ini kan rumah Vocaloid Crypton!" serunya histeris sambil menunjuk samurai berambut ungu dihadapannya.

"Itu karena aku ingin mencicipi sarapan calon istriku~" kata Gakupo sambil berkedip ke arah Luka. Yang diberi kedipan hanya bisa merinding.

"Gombal.." komentar Meiko. Gakupo hanya menyeringai. Sayang senyum itu tak lama kemudia hilang karena Luka telah memukulnya dengan tuna.

"Sudah, sudah, ayo kita makan sarapan kita. Gakupo-san juga boleh ikut disini, kan sayang sudah repot-repot datang," kata Miku berusaha mengendalikan suasana.

"Ittadakimasu!" Sarapan pun dimulai diselingi dengan pembicaraan disana-sini. Salah satu topik yang dibicarakan adalah... "Hei, kalian tahu? Nanti sebelum konser kita akan diinterview loh!" kata Kaito. Jelas sekali topik ini menjadi menarik perhatian Vocaloid lain.

"Untuk apa?" tanya Miku sambil mengunyah negi kesayangannya.

"Entahlah, sepertinya hanya acara dari salah satu station TV yang ingin mengetahui bagaimana kita sebelum konser."

"Siapa yang akan menginterview kita?" tanya Len.

Kaito mengeluarkan sebuah kertas dari bajunya. "Menurut surat yang diberikan Master.. tidak dikatakan disini siapa yang akan menginterview, yang jelas mereka berdua seumuran dengan Rin dan Len."

"Mereka?" Len menaikan sebelah alisnya.

"Ya, yang perempuan akan menginterview Luka lalu Rin dan Len, sementara yang laki-laki akan menginterview aku dan Meiko, sebelum itu mereka menginterview Miku bersama-sama. Ya.. setidaknya itulah disebutkan dalam run-down acaranya," jelas Kaito panjang lebar.

"Wow, seumuran dengan kita? Mungkin kita bisa menjadi teman mereka, ya kan Len?" kata Rin gembira.

Len hanya mengangguk tidak semangat. "Gochisousama. Aku akan ke studio untuk latihan sebentar," katanya sebelum meninggalkan ruang makan. Yang lain tidak dapat berkata apa-apa. Mereka memang sudah biasa dengan sikap dingin Len. Hanya Rin saja yang masih belum terbiasa dengan sikapnya, padahal Len sudah seperti itu selama 4 tahun.

~~OoOoOoO~~

Rin's POV

Kenapa? Padahal sudah 4 tahun. Sudah selama itu Len bersikap dingin padaku.. pada semuanya sebetulnya. Tapi tetap saja, aku merasa hatiku sangat sakit setiap kali Len bersikap begitu padaku. Padahal kami kan kembar. Kenapa kamu tiba-tiba saja menjauhi kembaranmu Len? Bukankah kau berjanji untuk selalu melindungiku?

"-in. RIN-CHAN!"

Aku terbangun dari lamunanku. "Ada apa Miku-nee?" kataku berusaha terdengar ceria.

"Sudahlah Rin-chan, jangan pedulikan Len-kun! Biarkan saja dia sendiri. Orang seperti itu tidak pantas mendapat perhatin Rin-chan!"

Aku tersenyum mendengat penghiburan dari Miku-nee. "Terima kasih Miku-nee. Sekarang aku sudah lebih baik."

"Bagus!" kata Miku-nee puas, "Sekarang ayo kita latihan. Mungkin dengan begitu, pikiran Rin-chan tentang Len-kun dapat teralihkan." Miku-nee langsung mendorongku keluar ruang makan.

"Bukannya di studio sedang ada Len?" ujar Kaito-nii. Miku-nee langsung memberikan tatapan tajam padanya. "Tentu saja aku akan menggunakan studio yang tidak ada Len-kunnya! Bukankah masih ada banyak studio yang kosong?" Kaito-nii hanya ber'oh' ria.

~~OoOoOoO~~

Sakasama da yo RAINBOW

Kimi wo nosete mama

Wagamama da yo MELODY

Tanoshii

Kanashii

Ureshii

Koishii

Aku dan Miku-nee selesai menyanyikan lagu duet kami yang berjudul "Sakasama Rainbow". "Tadi itu bagus sekali!" kata Miku-nee. "Baru kali ini kita nyanyi lagu Sakasama Rainbow dengan harmonis ya?"

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Karena merasa haus, aku meminum jus jeruk yang aku bawa tadi. Tiba-tiba saja, ponsel Miku-nee berdering. "Kira-kira siapa ya? Padahal aku tidak suka kalau latihan ada yang menelpon," kata Miku-nee agak kesal. Aku mengintip dari bahu Miku-nee. Nomor tidak dikenal. Miku-nee mengerutkan keningnya. "Apakah aku harus mengangkat ini?" tanyanya.

"Coba saja angkat. Mungkin itu penting," balasku.

Miku-nee menghela napas. "Moshi-moshi, Miku desu."

"Konnichiwa. Eeto.. watashi wa Kudo Sakura desu. Ini benar kan Hatsune Miku?" Suara sang penelpon bisa terdengar olehku. Aku dan Miku-nee saling bertatapan. Tanpa suara, Miku-nee bertanya, "Kau kenal dia?" Aku menggeleng kepalaku.

"Eh... ya. Maaf, tapi ada perlu apa Kudo-san denganku?" jawab Miku-nee.

"Ah! Maaf saya lupa bilang ya? Sebetulnya saya yang akan menginterview Hatsune-san dan yang lainnya malam ini." Aku dan Miku-nee langsung ber'oh' ria. "Dakara, bolehkah saya bertemu dengan Hatsune-san sekarang? Saya ingin mengenal Hatsune-san supaya saya bisa gampang melakukan interview. Bagaimana?"

Miku-nee langsung terdengar ceria. "Tentu saja boleh! Dan tidak perlu formal-formal dalam berbicara sama aku. Panggil saja aku Miku!"

"Baik! Terima kasih Hatsu... Miku-san! Sekarang Miku-san ada dimana ya?"

"Aku sedang latihan bersama Rin di studio CV01. Dan tidak usah pakai embel-embel 'san' segala, panggil saja aku Miku-chan!"

"Baiklah. Sampai ketemu, Miku-chan! Jaa nee." Kudo-san memutuskan sambungan teleponnya. Miku-nee langsung menatapku dengan gembira. "Kau dengar semuanya kan tadi?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Tentu saja. Aku berharap kita bisa berteman baik dengannya," kataku tersenyum sambil memeluk bantal yang ada di sofa.

~~OoOoOoO~~

Len's POV

Nee boku no SPICE

Kimi dake ni ima ageru yo

Muchuu ni saseru boku no TASTE o

Karadajuu de kanjite

Aku melakukan sebuah gerakan terakhir laguku. Langsung saja aku disambut sebuah tepuk tangan dari seorang gadis berambut kuning yang sengaja aku undang kesini. "Tadi itu bagus sekali Len-kun!" puji Neru, gadis berkuncir ponytail samping ini. Kenapa aku mengundang Neru? Ada yang bisa nebak? Kalau jawaban kalian karena aku suka Neru berarti kalian salah. Lagipula character utama fanfic ini adalah aku dan Rin K. bukan aku dan Neru A. Jadi kenapa? Jawabannya gampang. Karena aku telah jatuh cinta dengan kakak kembarku, Kagamine Rin.

Baiklah, mari kita mulai ceritaku dari 4 tahun yang lalu. Saat itu aku baru menyadari bahwa aku selalu blush jika berdekatan dengan Rin. Jantungku mulai berdetak tidak karuan jika disentuh olehnya. Bahkan aku selalu memikirkannya setiap detik. Tapi, aku tahu kalau cinta antara saudara, bahkan saudara kembar itu adalah dosa. Karena itu, aku berusaha menggambil jarak dengan Rin. Aku meminta master untuk membuatkan kamar baru untukku. Rin sempat binggung kenapa tiba-tiba aku meminta pisah kamar. Saat itu aku membentaknya dengan berkata, "Bukan urusanmu!" Ya.. itu merupakan titik balik dimana aku mulai bersikap dingin kepada Rin dan yang lainnya.

Lalu, setelah 3 tahun berlalu aku masih belum bisa melupakan perasaanku kepada Rin. Bahkan perasaan ini malah semakin menjadi-jadi. Karena itu aku suka memanggil gadis-gadis lain untuk memuaskan hasratku. Tenang saja, aku belum melakukan sesuatu yang menjurus ke arah... yang biasa disebut "Lemon" dalam fanfiction, mengertikan maksudku? Aku hanya mengencani mereka dan hanya sebatas menciumi mereka. Oke.. kadang aku berkecumbu dengan mereka. Tapi hanya batas itu! Tetapi tetap saja, aku tetap memikirkan Rin saat aku bersama gadis-gadis itu.

Balik ke masa kini, Neru sekarang sudah bergelayut manja di lenganku. "Len-kun hebat ya, bisa membuat lirik lagu ini sendiri," katanya berusaha memujiku. Memang benar aku membuat lagu ini karena frustasi dengan perasaanku dengan Rin. Karena itu berusaha 'bermain' dengan gadis lain, seperti Neru ini. Tapi.. tak mungkin kan aku bilang begitu pada Neru?

"Tentu saja, aku membuat lagu ini karena aku sedang memikirkan kamu," godaku. Alhasil, muka Neru memerah sedikit. Itu merupakan sebuah clue untukku. Aku mulai menggigit lehernya. Neru mengeluarkan sebuah desahan kecil yang justru membuatku untuk mencium bibirnya. Aku menggigit bagian bawah bibirnya, memintanya memberikan akses. Neru membuka sedikit mulutnya, dengan mudah aku menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya. Aku menidurkan Neru ke meja sementara lidahku masih bermain dengan lidahnya.

Kreek.. tiba-tiba saja pintu studio terbuka. Butuh waktu beberapa detik sebelum aku dan Neru menghentikan aktivitas kami. Mataku terbelalak melihat seseorang yang ada di depan pintu.

To be continued


Yessy : Kenapa aku membuat Rin disini jadi kayak menderita gitu ya? Padahal aku lebih suka Rin yang tsundere...

Len : Siapa itu yang mengganggu aku dan Neru?

Yessy : Pengen tau banget? Kepo bangetz sie...

Len : Lo kenapa? Kena penyakit baru?

Yessy : Kayaknya aku uda kena penyakit alaynus deh... gara-gara baru pulang nonton bareng the alay gurlz... -_-

Rin : Karena lo memang alay...

Yessy : Anyway don't forget to review! RnR!

Last question : Ada yang bisa nebak siapa yang yang mengganggu Len dan Neru?