Balasen Review :

Kyoura Kagamine : ... are you reading my mind? Kenapa kamu selalu bisa menebak apa yang akan terjadi? Dan tebakan itu selalu benar! (Len : benerkan! Aku dan Rin memang harus sudah jadian!) Len, Shut up! Oke sudah aku update ^^

Rika-chan Kagamine : Ini sudah di update!^^

Chisami Fuka : Len memang ke rumah Sakura untuk membuat Rin cemburu... gak deh bercanda, Rin tidak tahu Len ke rumah Sakura kok... Ini sudah update ^^

Kyon Kuroblack : Iya ya. Kalo ama Meiko pasti tambah berantakan *digetok Meiko pake sake* Len ngapain ya ke rumah Sakura~ silakan baca chapter ini! Ini sudah saya lanjutkan! #SBYStyle

Yessy : Hai minna! Aku kembali!

Len : Mana pisang Hongkong ku?

Yessy : Memangnya ada disana? -_-

Rin : Okaerinasai Yessy.. ^^

Yessy : Aww arigatou Rin! Tuh Len cobalah contoh Rin!

Len : -3-

Yessy : Terima kasih untuk yang ngereview... oleh2nya silakan beli sendiri di toko terdekat ya~ ;p saa hajimemashou!


My Feelings for You

By Sakura 'Yessy' Kudo

Discalaimer : Vocaloid belongs to its original owner, I don't own anything in here except my Ocs.

Warning : OOC, OCs contain, Alur terlalu cepat, full of drama, a little bit crossover with Detective Conan (which I also don't own)

Chapter 5- Watashi no hontou no kimochi

Third person POV

Hiroki sedang berjalan ke rumah Sakura. Apartemen Hiroki memang tidak jauh dari rumah Sakura. Taman tempatnya dan Sakura akan melakukan pemotretan nanti pun searah dengan rumah Sakura. Sekalian saja menjemput sahabat sejak kecilnya yang menyebalkan itu kan? Hiroki melirik ke arah jam tangannya. Waktu masih menunjukan pukul 09.30. Masih ada banyak waktu sebelum pemotretan dimulai. Hiroki ingin singgah sebentar di rumah Sakura. Biasanya kakak ipar Sakura, Ran suka membuat kue dan cemilan lainnya. Siapa tahu dia bisa memakan beberapa. Hiroki menekan bel rumah Sakura.

Ting Tong

Tak lama kemudian terdengar jawaban sang pemilik rumah. "Hai, dare desuka?"

"Ini aku," jawab Hiroki. Sakura pasti sudah sangat dekat dengan Hiroki karena dia langsung menyuruh Hiroki masuk.

"Hiroki-kun? Masuk saja, pintunya tidak dikunci kok!" Hiroki langsung saja memasuki rumah Sakura. Dia sudah merasa rumah Sakura seperti rumah sendiri. Waktu kecil, dia sering menginap di rumah itu kalau ibunya sedang keluar kota. Tentu saja dia tidak menginap sendiri, Shounen Tanteidan pasti juga ikut menginap. Hiroki terkejut melihat sepasang sepatu yang tidak ia kenal di dekat pintu depan. Dia tahu itu bukan sepatu Shinichi atau pun Ran. Sakura juga tidak punya sepatu seperti itu. Conan? Mustahil, sepatu itu kebesaran untuk keponakan Sakura yang masih berumur 5 tahun. Berarti Sakura sekarang sedang kedatangan tamu dan Hiroki pasti mengenal tamu itu, karena Sakura langsung mengizinkannya masuk walaupun dia sedang ada tamu.

Hiroki pun melepas sepatunya dan berjalan memasuki rumah. "Sakura? Kamu dimana?"

"Disini!" jawab Sakura dari ruang makan. Hiroki berjalan menuju ruang makan. Sakura sedang duduk di kursi bar dan dihadapannya terdapat pemuda berambut blonde berponytail yang sedang sibuk menghabiskan jus pisangnya. "Ara, Hiroki-kun cepat sekali datangnya. Padahal pemotretannya jam 10 kan?" Komentar Sakura.

"Apa aku mengganggu?" tanya Hiroki.

Len menggeleng kepalanya. "Tidak. Aku sudah mau pulang. Terima kasih atas cake dan jus ya Sakura." Len turun dari kursinya. "Kau tidak usah mengantar. Aku bisa sendiri," tambah Len ketika melihat Sakura yang juga turun dari kursinya.

"Eh? Baiklah. Kalau ada masalah lagi hubungi saja aku ya," kata Sakura sambil tersenyum. Len menggangguk. Sakura melambai kepada Len sampai dia hilang dari pandangan. Setelah Len tidak ada, Sakura menghela napas. "Huf.. Tak disangka masalah akan serumit ini."

"Memangnya kenapa Kagamine ada disini?" Tanya Hiroki seraya duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Len.

Sakura meletak telunjuknya di depan mulutnya sambil berkedip jahil. "Itu rahasia antara aku dan Len. Ngomong-ngomong Hiroki mau strawberry shortcake? Tadi pagi Ran-neechan membuatkan loh!"

"Boleh." Sakura turun dari kursinya. Dia mengambil cake yang ada di kulkas. Setelah memotong dan meletakkannya di atas piring, Sakura memberikannya ke Hiroki. "Minumnya mana?" Tanya Hiroki sambil memakan cakenya.

"Ambil saja sendiri, memangnya aku pembantumu." Jawab Sakura ketus. Dia memakan cake bagiannya sambil memikirkan kembali pertemuannya dengan Len.

~flashback~

Sakura's PoV

Aku mengedipkan mataku. Sekali. Dua kali. Tapi pemuda di depan pagarku tidak juga menghilang. Jadi ini bukan mimpi? Kagamine Len, orang yang paling menyebalkan ada di depan pagarku? Apa dunia sudah hampir kiamat? (Lebay ah Sakura.. -_-) "Len-kun... Doushite?" Hanya itu saja yang bisa aku katakan saking terkejutnya.

"Aku boleh masuk tidak?" tanya Len-kun ragu-ragu. Aku baru sadar kalau dia belum aku persilakan masuk. Tuan rumah macam apa aku ini. "Si-silakan saja.." Kataku sambil membuka gerbang.

Len-kun mengikutiku masuk ke dalam rumah. Dia melepas sepatunya dan mengenakan sliper untuk tamu. "Len-kun mau minum sesuatu?" Tanyaku sambil berjalan ke arah dapur.

"Apa saja boleh." Apa saja? Coba kita lihat apa yang ada di kulkas. Lucky! Ada jus pisang punya Conan. Kemarin saat berbelanja, dia salah mengira jus pisang dengan jus lemon karena sama-sama berwarna kuning. Pastinya dia tidak keberatan kalau Len menghabiskannya. Lalu ada strawberry shortcake buatan Ran-neechan tadi pagi. "Len-kun, kamu mau strawberry shortcake tidak?"

"Bolehlah." Aku pun mengeluarkan cake dan jus itu dari kulkas. Setelah menuang jus di gelas dan memotong kue yang kemudian meletakannaya di piring kecil, aku pun memberikan mereka ke Len, yang duduk di kursi bar. Tak lupa aku pun juga memotong kue bagianku. Selama beberapa saat Len tidak menyentuh apa pun yang aku suguhkan. Suasana kami sangat awkward banget. "Jadi... Kenapa Len-kun mau menemuiku? Lalu darimana kamu tahu alamat rumahku? Apa ada kasus?" tanyaku penuh harap. Hei! Akhir-akhir ini aku jarang menemui kasus. Kebanyakan kasus onii-chan yang menangani. Makanya aku berharap dia membawa kasus untukku.

"Aku tahu rumahmu dari kartu nama yang kamu berikan ke Miku-nee. Lalu untuk pertanyaan sebelumnya... ini soal Rin," kata Len-kun pada akhirnya. "Aku.. Aku merasa kamu dan aku memiliki persamaan setelah mendengar pengakuanmu saat truth or dare."

Aku mengangkat sebelah alisku. Truth or dare? Kalau tidak salah saat itu aku mengaku aku dulu suka oniichan. Berarti... "Len-kun kamu suka dengan Rin-chan ya?" Wajah Len-kun langsung memerah. Dia mengangguk perlahan. "Sudah kuduga." Aku sudah bisa melihat rambu-rambu yang Len-kun berikan kepada Rin-chan. Aku mulai memotong cakeku. Tapi sebelum sempat aku makan ada sekelebat pikiran yang melesat dibenakku. "Tunggu dulu, kalau kamu suka Rin-chan, kenapa waktu itu aku melihatmu berciuman dengan Neru?"

Ekpresi muka Len-kun langsung berubah. Seolah matahari telah tertutup awan mendung. "Itu dia masalahnya. Aku... Selama setahun ini terus 'bermain' bersama gadis-gadis seperti Neru, untuk melupakan perasaanku kepada Rin. Tapi bukannya melupakan malah perasaan ini sudah menjadi-jadi. Aku tidak bisa memberitahukan masalah ini ke yang lainnya, mereka pasti tidak mengerti. Karena itu cuma kamu aja yang bisa membantuku." Len tertunduk. Dia sudah terlihat sangat putus asa.

"Karena itu kamu menulis lagu 'Spice'. Kamu berusaha menulis keadaanmu saat ini lewat lagu itu?" kataku sambil menjentikan jariku. Len-kun mengangguk. "Bagaimana kalau kau ceritakan dari awal? Aku masih ada banyak waktu sebelum pemotretan." Akhirnya Len-kun menceritakan semua bebannya selama ini. Bagaimana dia meminta pisah kamar setelah tahu dia menyukai Rin. Semua perasaanya pada Rin dia tumpahkan padaku. Aku bisa merasakan penderitaan Len selama ini. Dia sangat menyesal telah bersikap seperti itu selama ini. Akhirnya dia meminum habis jus pisangnya setelah bercerita panjang lebar.

Setelah selesai bercerita, aku langsung memeluknya. "Kamu pasti sangat menderitakan selama ini. Aku bisa mengerti perasaanmu. Tapi.." Aku melepas pelukanku dan menatapnya tajam, "apa yang kamu lakukan itu salah. Kalau kau bermain dengan gadis lain, kamu bukan hanya melukai dirimu sendiri tapi kamu juga melukai Rin-chan. Cobalah menjadi dirimu sendiri. Aku yakin Rin-chan lebih menyukai dirimu yang terbuka daripada dingin."

"Kau yakin?"

Aku mengangguk. "Sangat yakin" karena Rin-chan sendiri yang bilang padaku tambahku dalam hati. "Karena itu mulai sekarang kamu tidak boleh 'bermain' dengan gadis lain, oke?" Aku kembali ke tempat dudukku dan kembali memakan cakeku. "Tapi.. aku sedikit iri pada Len-kun."

Len-kun menaikan alisnya. "Iri? Kenapa?"

"Soalnya Rin-chan masih available. Sedangkan aku... oniichan sudah menyukai Ran-neechan sejak lama. Karena itu aku tidak bisa menyatakan perasaanku. Aku hanya bisa berharap oniichan dan Ran-neechan bahagia. Ya... walaupun ini cerita lama, karena sekarang aku sudah suka sama orang lain."

Tiba-tiba saja Len-kun tersenyum jahil. "Oh ya, kau juga bilang begitu waktu truth or dare kan? Jadi.. siapakah cowok ini? Jangan bilang kalau itu Hiroki..."

Wajahku langsung memerah. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Ngomong-ngomong, aku dengar dari Rin-chan, kalian pernah kecelakaan ya?"

Len terlihat terkejut ketika aku bertanya itu. "Eh? Ya.. Waktu umur kami 5 tahun, kami kecelakaan saat sedang di kereta. Karena setelah itu kami mengalami amnesia sehingga tidak ingat keluarga kami, Master akhirnya mengadopsi kami dan menjadikan kami Vocaloid. Satu-satunya peninggalan yang kami punya dari keluarga kami adalah kalung. Rin punya kalung treble clef sementara aku bass clef yang masing-masing terdapat tulisan namaku dan Rin," jelas Len-kun panjang lebar.

"Kalian amnesia?" kataku terkejut. Len mengangguk. Tapi sebelum dia dapat berkata apa-apa terdengar bunyi bel.

Ting Tong

Aku pun berjalan ke arah intercom. "Hai, dare desuka?"

"Ini aku." Siapa lagi kalau bukan sahabat kecilku yang paling keren. Itu sakartisme bukan pujian. "Hiroki-kun? Masuk saja pintunya tidak dikunci kok!"

~end flashback~

End Sakura's POV

"-kura. Sakura!" Panggil Hiroki, berusaha mengembalikan Sakura dari alam pikirannya. "Kenapa kamu? Kok bengong?"

"Sekarang jam berapa?" tanya Sakura tidak jelas. Hiroki menaikan sebelah alisnya sebelum melihat jam tangannya. "09.40. Ada apa?"

"Berarti kita masih ada waktu buat ke rumah Agaka-hakase," kata Sakura sambil mengambil tas kecil yang entah kapan sudah siap dia bawa.

"Memangnya kenapa? Hakase menciptakan sesuatu yang baru?"

"Bukan aku ingin bertemu Ai-chan."

"Haibara? Kenapa?"

"Aku mau meminta sedikit bantuan dia. Menurut Hiroki-kun apa dia bisa melakukan test DNA?"

Hiroki tampak terkejut. "Test DNA? Kenapa? Aku rasa dia bisa. Walaupun aku tidak begitu mengerti, tapi bukannya kamu butuh sample dari kedua orang yang mau dicocokan DNAnya? Dan siapa yang mau kau test?"

"Rin-chan dan Len-kun. Tenang saja, aku sudah mendapatkan rambut mereka."

Hiroki menaikan alisnya. "Dari mana kamu dapat itu?"

"Hm? Kalau Rin-chan, saat aku mendandaninya kemarin. Kalau Len-kun aku ambil saat memeluk dia. Sekarang ayo kita ketemu Ai-chan!" Sakura menyeret Hiroki untuk menemui sahabat perempuannya yang tinggal tepat disebelah rumah Sakura.

~~OoOoOoO~~

~2 minggu kemudian~

Rin's POV

Bosan~ itulah yang aku rasakan saat ini. Sekarang aku sedang tidur telentang di atas tempat tidurku. Hari ini aku sudah selesai rekaman. Karena tidak ada kerjaan lagi, Master memperbolehkan aku untuk pulang. Dan disini lah aku sekarang, sedang tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku melihat ada email masuk.

From : Sakura_Tantei-chan

Rin-chan! Akhirnya aku menemukan kasus! Aku sedang ke bank ketika tiba-tiba terjadi perampokan. Untung saja aku kesana bersama Hiroki-kun dan Ran-neechan. Kami langsung memberantas perampok itu XD. Syukurlah Conan-kun tidak ikut kali ini. Setelah ini aku harus ke lokasi syuting. Karena aku kenal baik dengan polisi, jadi aku bisa memberi kesaksianku sehabis syuting. Gimana rekaman Rin-chan tadi?

Aku tersenyum setelah mendapat email Sakura. Kami telah berteman baik selama minggu ini. Kadang kala aku curhat tentang masalahku dengan Len. Seminggu yang lalu pun aku dan Miku-nee bermain ke rumah Sakura. Kami bertemu dengan kakak ipar dan keponakan Sakura, Ran dan Conan. Sayangnya kakak Sakura sedang menangani suatu kasus sehingga dia tidak ada di rumah. Padahal aku ingin sekali melihat cinta pertama Sakura. Ran sangat baik pada kami, sampai-sampai dia juga mengajari kami cara membuat kue.

From : xxRinOrangePrincessxx

Wow! Syukurlah. Tapi Sakura tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan? Aku khawatir.. :( Rekamanku berjalan dengan lancar. Untunglah. Sayangnya sekarang aku bosan karena tidak ada pekerjaan di rumah.. -,-

From : Sakura_Tantei-chan

Hahaha.. enaknya, aku masih ada banyak PR dan sekarang aku sedang dalam perjalanan syuting drama sama Hiroki-kun. Sudah ya, Rin-chan. Kami sudah sampai di lokasi syuting. Hiroki-kun bisa marah kalau aku tidak fokus dalam pekerjaanku. Sepertinya dia cocok jadi managerku... =_="

Aku tertawa melihat email Sakura. Setelah 2 minggu bersama Sakura, aku memperhatikan Hiroki itu sangat protektif dengan Sakura. Dia bisa seperti sahabat, kakak dan pacar (yang sekali lagi dibantah oleh mereka) untuk Sakur. Aku merasa Sakura menganggap Hiroki lebih dari sahabat dan keluarga. Dan Hiroki selalu menjaga Sakura supaya dia tetap baik-baik saja. Mereka berdua sungguh cocok bersama.

Sayangnya, aku merasa cemburu dengan Sakura dalam hal ini. Sakura memiliki Hiroki, sedangkan aku... Len masih jauh dariku. Tapi akhir-akhir ini dia sudah lebih baik. Paling tidak dia sudah tidak bersikap dingin lagi. Aku merasa lama-lama dia sudah semakin terbuka dengan semuanya. Yang berarti itu bagus.

Kruyuuuk

Uh, aku baru ingat aku belum makan apa-apa sore ini. Dimana jeruk kesayanganku? Aku beranjak turun ke arah daput untuk mencari buah yang paling enak di seluruh dunia. Aku membuka lemari makanan dan menemukan... TIDAK ADA JERUKK! TIDAAK! Sekarang sedang tidak ada orang di rumah. Kaito-nii dan Meiko-nee sedang melakukan syuting PV terbaru mereka, Miku-nee masih ada rekaman, Luka-nee sedang kencan dengan Gakupo (Kaget kan? Setelah truth or dare Gakupo menembak Luka-nee lagi dan secara ajaib Luka-nee menerima), lalu Len... dia sedang ada urusan diluar dan tidak kembali setelah sore. Mau apa ya dia? Mungkin sedang berkencan dengan gadis lain seperti Neru. Barang kebutuhan lain juga sedang tipis. Mungkin aku harus berbelanja.

Aku pun mengambil jaketku dan menguncir rambutku menjadi ponytail. Lalu aku memakai kacamata. Aku tidak mau diserbu oleh fansku saat aku sedang berbelanja. Sebelum aku pergi, aku menulis memo di kulkas yang bertuliskan aku sedang pergi berbelanja. Dan aku pun segera melesat ke supermarket terdekat. Disana terdapat great sale untuk jeruk dan pisang. Lucky! Aku bisa membeli pisang untuk Len dengan harga yang murah. Walaupun dia bersikap dingin padaku bukan berarti aku juga bersikap dingin padanya kan? Aku juga membeli negi untuk Miku-nee, Tuna untuk Luka-nee, dan es krim untuk Kaito-nii. Sayangnya aku tidak bisa membeli saku untuk Meiko-nee karena aku masih di bawah umur.

Setelah selesai membayar, aku pun segera keluar dari supermarket. Tidak sabar rasanya bersantai di rumah sambil memakan jeruk kesukaanku. Saat aku sedang berjalan, aku merasa aku sedang diikuti oleh seseorang. Aku menoleh kebelakang, aku melihat 2 cowok yang tadi ada di supermarket juga. Apa mereka mengikutiku? Aku mencoba mempercepat langkahku. Sayangnya mereka juga menambah kecepatan. Tak lama salah satu dari mereka mencegatku dan menyentuh pundakku. "Hei cantik, kamu sendirian?"

Aku berusaha mengertak, tapi temannya telah menutupi jalanku. Oh, saat seperti ini aku berharap bisa karate seperti Sakura. "Lepaskan aku." ujarku dingin.

Temannya bersiul, "Sepertinya dia sendiri. Berarti kita bisa bermain dengannya." Tiba-tiba saja mereka berdua menarikku ke dalam sebuah gang kosong. Salah satu dari mereka menahan tanganku sementara yang lain menutup mulutku dengan tangannya dan mencoba membuka bajuku. Aku ketakutan. Aku pun mengigit tangan yang menutup mulutku dan berteriak. "LEN!"

Temannya langsung memukul kepalaku sehingga aku pun terjatuh ke tanah. "Dasar cewek!" katanya sambil menyentakan jaketku sehingga jaketku terlepas. Aku sangat ketakutan. Tanpa sadar air mataku pun keluar. Len, kumohon tolong aku!

End Rin's POV

~~OoOoOoO~~

~Few Minutes earlier~

Len's POV

Aku berjalan keluar dari studio Utauloid. Aku baru saja memutuskan hubunganku dengan Neru sesuai saran Sakura. Memang agak menyusahkan mendatangi satu-satu gadis yang aku kencani untuk putus. Tapi aku masih punya hati. Memang aku bisa saja menelpon atau mengirim email mereka, tapi Sakura telah memaksaku untuk mendatangi mereka satu persatu supaya lebih gentleman. Kabar baiknya, sekarang aku dan Sakura juga Hiroki telah berteman baik. Aku sering datang ke rumah Sakura atau apartemen Hiroki untuk curhat. Kenapa apartemen Hiroki? Ternyata Sakura sering menginap disitu karena kadang Sakura terlalu lelah untuk pulang ke rumahnya dan memutuskan untuk menginap karena sekolah mereka lebih dekat dengan apartemen Hiroki daripada rumah Sakura. Seriously, mereka berdua harusnya sudah jadian dari kapan tahu. Kenapa sih mereka tidak melihat kesempatan mereka? Aku disini sedang susah-susah bagaimana caranya aku bisa menyatakan perasaanku pada kakak kembarku padahal mereka sangat dekat satu sama lain.

Sekarang aku sudah sampai di depan supermarket dekat rumah. Hmm.. sedang ada great sale untuk jeruk dan pisang. Kalau saja aku membawa dompetku mungkin aku bisa membelinya. Kenapa sih aku bisa lupa untuk membawa dompet? Aku menghela napas.

Kruyuuk

Bagus. Sekarang aku kelaparan. Apa ada makanan ya di rumah? Aku jadi ingat Sakura yang selalu memasak untuk Hiroki di apartemennya sehingga setiap kali aku berkunjung stok makanan selalu ada. Sakura juga membantu Hiroki untuk keperluan sehari-harinya seperti memasak dan membersihkan. Walaupun Hiroki itu bisa memasak (karena dia sudah tinggal sendiri sejak lama) tetapi Sakura tetap yang memasak untuknya. Dia bilang masakan Sakura itu lebih enak daripada masakannya. Lucky bastard, kalau saja Rin mau memasak untukku...

"LEN!"

Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriak perempuan. Tunggu, suara itu... RIN! Aku langsung melihat sekelilingku. Apa yang Rin lakukan di dekat sini? Bukannya dia ada di rumah? Pandanganku terhenti ketika aku melihat ke sebuah gang. Walaupun penerangannya agak gelap, tapi aku bisa menebak apa yang ada disana. Disana ada seorang gadis berambut blonde dengan ponytail dan di depannya terdapat dua pemuda yang sepertinya sedang mau melakukan sesuatu butuk. Tunggu, gadis berambut blonde? Itu kan... RIN! Apa yang dilakukan pemuda-pemuda brengsek itu pada Rin? Dengan cepat aku langsung menuju ke arah mereka. "Rin!"

Rin menatapku dengan pandangan terkejut, tidak percaya, dan... lega? "L-Len?" suaranya bergetar. Dia sangat ketakutan.

"Lepaskan dia!" seruku pada pemuda-pemuda itu. Mereka hanya tertawa kecil. Apa mereka tidak menyadari nada suaraku yang sudah sangat marah ini? Salah seorang dari mereka sedang menahan Rin, sementara yang satu sekarang sedang menuju ke arahku. "Kau tahu bocah?" Dia tiba-tiba menonjok wajahku. "Kau bukan tandinganku."

Aku mengerang kesakitan sambil memegang pipiku yang memerah. "Len!" seru Rin khawatir. Aku langsung membalas pukulannya. Dengan gerakan cepat, aku memukul perutnya. Aku mengeluarkan jurus-jurus karate yang aku ketahui. Untuk pukulan terakhir, aku menendang kepalanya dengan kakiku sehingga dia tidak sadarkan diri. Kagetkan aku bisa karate? Hiroki dan Sakura yang mengajariku. Walaupun baru sebentar tapi aku sudah cukup bisa mengusainya. Sekarang, giliran orang yang menahan Rin, dia mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya. "Kau tidak akan bisa menghindari ini!" Dia langsung menerjang ke arahku. Aku mencoba mengingat cara menghindar orang seperti ini seperti yang pernah diajarkan oleh Hiroki. "Pertama, buat supaya dia tidak bersenjata lagi lalu baru lumpuhkan dia". Aku menendang pisaunya sehingga pisau itu terjatuh. Kemudian aku melakukan one arm shoulder throw sehingga dia tidak bisa bangun lagi.

"Ada lagi yang mau bertarung denganku?" Aku tersenyum mengerikan sambil menyilangkan kedua lenganku didepan dada. Sepertinya teknik-teknik yang diajarkan oleh Hiroki dan Sakura sangat efektif. Mereka berdua langsung meninggalkan aku dan Rin dengan terburu-buru.

Aku pun menghampiri Rin. Wajahnya sudah sangat berantakan. Aku berjongkok di hadapannya dan memakaikan kembali jaketnya. Tubunya masih bergetar karena ketakutan. "Rin, kau tidak apa-apa kan?" Rin mengangguk perlahan.

Rin menyentuh pipiku yang terkena pukulan tadi dengan perlahan. "Len sendiri tidak apa-apa kan?"

"Ini sih tidak ada apa-apanya dibanding saat aku melihat apa yang mereka berbuat pada kamu. Tunggu! Kepalamu berdarah!" ujarku ketika melihat darah yang mengalir dari dahi Rin. Sepertinya Rin tidak menyadarinya. "Kau harus segara diobati!" tanpa aba-aba aku langsung menyelipkan tanganku dikaki Rin dan punggungnya. Aku menggendong Rin dan berlari ke rumah. Rin mengalungkan lengannya di leherku supaya tidak terjatuh saat aku berlari. Kalau saja Rin sedang tidak terluka, mungkin mukaku sudah sangat merah.

Aku lansung membuka pintu rumah dengan kasar sampai-sampai mengagetkan Miku-nee yang baru saja pulang. "Astaga Len! Kamu tidak perlu membanting pintu kalau mau masuk rumah!" gerutunya. Aku tidak menggubrisnya. Aku langsung menuju ke kamar Rin, tidak memperdulikan tatapan binggung Miku-nee tentang keadaan Rin.

Aku meletakan Rin di atas tempat tidurnya. Untung saja Master menyiap peralatan P3K disetiap kamar Vocaloid. Aku mencoba mengobati luka-luka Rin sebisaku. Rin mengerang sedikit ketika aku memberikan alcohol untuk membersihkan luka di dahinya. "Tahan sebentar. Ini akan sedikit sakit," kataku dengan lembut.

Kami tidak bicara apa-apa selama aku mengobati Rin, sampai Rin yang memecahkan keheningan. "Kenapa?"

Aku telah selesai menempelkan kain kasa diatas luka Rin. "Kenapa apa?" tanyaku balik sambil membereskan peralatan P3K.

"Kenapa kau menolongku Len? Padahal selama ini kamu bersikap dingin dan menjauhiku."

Aku menaruh kembali kotak P3K ke tempatnya semula sebelum menjawab pertanyaan Rin. "Aku sudah berjanji kan akan melindungimu. Lagipula mana mungkin aku meninggalkanmu kalau aku melihatmu hampir diperkosa kan?"

"Dan sejak kapan kamu bisa beladiri? Terakhir aku tahu kamu tidak bisa apa-apa kalau Kaito-nee menjahilimu."

"Oh itu... Sakura dan Hiroki yang mengajariku."

Rin menaikan salah satu alisnya, "Kamu juga berteman dengan baik dengan mereka?"

"Kamu juga?" sekarang giliran aku yang menaikan alisku.

"Ya begitulah.. Sakura membantuku menyelasaikan masalahku dengan seseorang."

Aku mengambil kursi dan duduk dihadapan Rin. Aku jadi teringat dulu Rin suka curhat padaku. "Kamu punya masalah dengan seseorang? Kenapa tidak cerita saja ke aku? Aku kan kembaranmu."

Tiba-tiba saja muka Rin memerah. "Mana mungkin aku bisa? Kamu jelas-jelas telah menjauhiku! Padahal aku tidak melakukan apa-apa padamu tapi tiba-tiba saja kamu mulai bersikap dingin padaku dan berkencan dengan gadis-gadis lain!" seru Rin menumpahkan semua amarahnya padaku. Air mata mulai mengalir dari pipi Rin. Ternyata Sakura benar, tindakanku selama ini bukan saja merugikanku tapi juga telah membuat Rin menderita.

Rin mencoba mengahapus air matanya. Aku berusaha menyentuh Rin tapi dia menghindariku. Dari matanya aku bisa melihat dia sangat marah padaku. Well, dia memang pantas marah padaku karena selama ini aku bersikap like a jerk. "Rin." Aku memeluknya. Rin berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Tapi aku tidak akan membiarkan Rin kabur. Tidak sekarang.

"Kalau saja kau tahu Rin, hidupku selama 4 tahun ini sangat menyebalkan. Aku tahu aku bersikap sangat menyebal selama 4 tahun ini. Tapi aku aku terpaksa melakukan hal itu karena aku ini orang bodoh yang tidak mau jujur terhadap perasaanku sendiri." Aku melepaskan pelukanku dan menatap Rin dengan tatapan sangat serius. Well, here it goes.

"Rin. Aku menyukaimu, bukan sebagai saudara tapi sebagai laki-laki yang menyukai perempuan."

To be Continued


Miku : Mana Yessy?

Sakura : Packing

Len : Bukannya dia baru saja selese unpacking?

Rin : Dia mau pergi kemana lagi?

Hiroki : katanya sie... Summer Camp di Jepang..

.

.

.

.

.

Vocaloid : APPPAAAA?

Hiroki : Berisik woy!

Len : Dia mau pergi lagi? Padahal aku sudah mulai menyukainya karena aku sudah confess perasaanku ke Rin...

Sakura : Akhirnya Len tidak membenci Yessy! Ini keajaiban namanya...

Rin : Anyway jangan lupa di RnR ya! See you~

Last Question : Menurut kalian, Len itu cool gak bisa karate?