Balesan review :

Chairin 610 Yukari :

Waii Arigatou ^o^ Aku memang mau membuat mereka couple tapi itu masih agak lama... Aku mau ngelanjutin tp kyknya aku stuck di chapter 7 T^T

Len : Iya aku tau aku itu keren! ;* Terima kasih sudah review!"

.

Kyoura Kagamine :

Len : Ha! Ada lagi yang bilang aku keren... thank you ;*

Yessy : Iya deh terserah lo Len... -_-

Len : Hei! Itu kenyataannya. Aku itu keren!

Yessy : Whatever.. ah? Fansnya... iya ya ._. anggap aja lagi gak ada fans di deket mereka dan penjahat2 itu gak tau kalo mereka itu Kagamines... wkwkwk #ngeles... wkwkwk tunggu saja... beberapa chapter kedepan tp mungkin agak (baca : sangat) lama sebelum penjelasan itu... terima kasih sudah review!

.

Harada Ayumi-chan :

Len : Ha! Ada-

Yessy : Iya.. aku tau ada yang bilang lo keren... tapi siapa dulu dong yang nulis bwahahaha... salam cinta balik ;) terima kasih sudah review!

.

Miu :

Maaaf~ aku stuck di chapter 7 biasanya aku uda buat 1 chapter kedepan sebelum publish chapter baru... makanya T^T... terima kasih sudah review!

.

.

Yessy : Halo semua! Maaaaaffff aku gak update2 orz... Aku stuck di chapter 7, trs blm lg sekolah kayaknya makin padet aja... aku jg ada les dibeberapa tempat jadi gak ada waktu bwt nulis...

Len : Siapa yang peduli ama alesanmu :p

Rin : Yessy tapi gak papa kan? Gak sakit ato apa?

Yessy : T^T.. arigatou Rin! *peluk* Len kenapa kamu gak bisa contoh Rin sie?

Len : Biarin! :P

Yessy : Oh ya, sebelum mulai aku mau bilang sesuatu walaupun telat...

HAPPY BIRTHDAY KAGAMINE RIN AND LEN! ^0^ ditunggu traktirannya #loh?


My Feelings for You

By Sakura 'Yessy' Kudo

Discalaimer : Vocaloid belongs to its original owner, I don't own anything in here except my Ocs.

Warning : OOC, OCs contain, Alur terlalu cepat, full of drama, a little bit crossover with Detective Conan (which I also don't own) and... disini Len agak seperti Spice!Len jadi... harap reader tidak ada yang kaget dengan adegan... semi-lime?

Chapter 6- Confession

Len's POV

Tik tok tik tok

Hanya bunyi jam saja yang memenuhi kamar ini. Baik aku dan Rin tidak berbicara. Okay.. aku akui tadi aku bicara terlalu to the point. Tapi lihat sisi baiknya, aku berhasil menyatakan perasaanku pada Rin. Sisi buruknya, mungkin sekarang dia jadi menganggap aku aneh karena menyukai saudara sendiri. Skenario terburuk yang mungkin terjadi Rin memutuskan hubungan kami dan aku diusir dari rumah Vocaloid ini. Aku berusaha mencari jawaban dari raut muka Rin. Tapi sayangnya aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya. "Eh.. lupakan saja ucapanku tadi. Kalau Rin tidak punya perasaan apa-apa padaku, ya tidak apa-apa." Aku pun beranjak dari kamar Rin.

Tiba-tiba saja aku merasa ada yang menarik lengan bajuku. Aku membalikan badanku. Rin menggenggam lengan bajuku dengan erat. Rambutnya menutupi wajahnya sehingga aku tidak tahu ekspresinya. "Apa itu benar Len?" Rin mengangkat wajahnya. "Apa benar kamu menyukaiku?"

Aku kembali duduk di sebelah Rin. "Tentu saja. Semua yang aku katakan tadi itu adalah perasaanku yang sebenarnya."

"Benarkah?"

Aku jadi tidak sabaran, "Kalau kau perlu bukti akan aku tunjukan." Aku memegang kedua pipi Rin, kemudian aku menciumnya. Bibir Rin terasa seperti jeruk. Wajar saja soalnya dia sangat menyukai jeruk. Waktu terasa terhenti saat aku menciumnya. Entah berapa lama kami berciuman. Aku mengingatkan diri sendiri kalau Rin membutuhkan udara untuk bernapas, jadi menghentikan ciuman kami. Baik wajahku dan wajah Rin sudah sangat merah. Mungkin sudah hampir menyamai baju Meiko-nee.

"Len, apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?" kata Rin setelah diam beberapa saat. "Kamu baru saja merebut first kiss-ku dan menyatakan perasaanmu pada kakak perempuanmu!" Air mata sudah mulai terlihat dari sudut matanya. "Seharusnya perasaan ini tidak boleh tapi..." Sekarang air matanya sudah mengalir. "Tapi kenapa aku sangat bahagia saat kau bilang begitu? Kau harus tahu betapa aku sangat ingin mendengar kata-kata itu darimu.."

Aku mencoba mengahapus air mata Rin dengan jariku. "Rin... Jadi kau juga..?"

Rin mengangguk. "Aku juga menyukaimu Len."

Aku tersenyum. Aku pun mengecup dahinya. "Arigatou. Dengan begini bolehkah aku menjadi kekasihmu?"

"Tentu saja aku terima dengan senang hati." Rin juga ikut tersenyum. Dia pun berhenti menangis.

"Oh, aku harus koreksi ucapanmu barusan. Itu bukan first kissmu." Rin mengangkat sebelah alisnya. "Aku.. pernah menciummu pas kamu lagi tidur saat umur 10 tahun," kataku sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.

"Kamu mencuri first kissku saat kita berumur 10 tahun?! Dan aku kira saat itu aku sedang bermimpi! Jahat!" Rin langsung memukuliku sehingga aku terjatuh di tempat tidurnya. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Sudah berapa lama kami tidak seperti ini ya? Rin berhenti memukuliku. Dia ikut berbaring di sebelahku. "Tapi, aku masih kesal sama Len. Kenapa kamu berkencan dengan gadis lain seperti Neru padahal kamu sudah menyukaiku selama 4 tahun ini?"

"Supaya melupakanmu. Aku pikir kalau aku jalan dengan gadis lain mungkin aku bisa melupakan perasaanku padaku. Tapi sayangnya itu tidak berhasil." Aku menempelkan dahiku ke dahi Rin. "Karena ternyata aku malah makin menyukaimu."

Rin langsung cemberut. "Seharusnya kamu tidak boleh melakukan itu. Karena itu akan..."

"Melukai kamu dan diriku sendiri, ya aku tahu. Sakura yang memberitahuku," tambahku ketika Rin menatapku dengan curiga. "Tenang, aku sudah memutuskan semua hubunganku dengan gadis-gadis itu. Tadi aku baru saja dari tempat Neru sebelum aku menemukanmu."

"Sungguh? Len tidak akan meninggalkan aku lagi kan?" tanya Rin penuh harap.

"Kamu perlu bukti lagi?" kataku dengan jahil. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Rin. Sepertinya dia tahu apa yang akan aku lakukan, Rin menutup matanya. Wajah kami sudah sangat dekat ketika tiba-tiba...

"MAKAN MALAM SUDAH SIAP!"

Baik aku dan Rin langsung terbangun dan menjauhkan diri dari satu sama lain ketika Miku-nee tiba-tiba saja memasuki kamar Rin. Kami berdua menjadi salah tingkah, seperti saat ketahuan mencuri sesuatu dari Miku-nee. Miku-nee tidak berkata apa-apa. Dia memandang kami berdua sebelum berkata, "Apa aku mengganggu?"

"Tidak kok!" jawab aku dan Rin serempak.

Sayangnya muka kami tidak menyakinkan Miku-nee. Dia memasuki kamar dan menutup pintu dibelakangnya. "Len-kun... Rin-chan..." aku sudah menyiapkan hati untuk hal terburuk yang akan Miku-nee lakukan. Tiba-tiba saja dia memeluk kami berdua. "Selamat yaa! Jangan lupa PJnya!"

"Kenapa Miku-nee bisa tahu?" tanya Rin binggung.

Miku-nee melepaskan pelukannya. "Dari wajah kalian sudah terbaca jelas. Jangan lupa turun untuk makan malam ya!" Miku-nee langsung membuka pintu dan menuju ke bawah. Baik aku dan Rin saling memerhatikan wajah masing-masing. Aku memang sedikit melihat perubahan dari Rin. Matanya sekarang berkilau penuh bahagia. Mata yang dulu dia berikan sebelum aku menjadi dingin. Sepertinya aku juga seperti itu. Kami berdua tersenyum. Aku mengulurkan tanganku ke Rin. "Well, Shall we?"

Rin menerimanya dengan senang hati. "We shall."

End Len's POV

~~OoOoOoO~~

Third person's POV

Makan malam hari itu berjalan lebih heboh daripada sebelumnya. Setelah turun dari kamar Rin, Miku langsung mengumumkan ke semuanya bahwa Rin dan Len sudah baikan. Mereka bahkan sudah jadian. Kaito, Meiko, Luka, dan Gakupo (yang kebetulan ada disana karena sedang mengunjungi Luka) langsung heboh. Mereka berencana membuat pesta kecil-kecilan untuk duo Kagamine. Mereka tidak keberatan tentang hubungan Rin dan Len. Toh mereka berdua memang cocok menurut Meiko dan Luka. Rin dan Len menjadi lega karena hal itu. Tapi mereka menyesal Miku telah memberitahu ke yang lain. Karena setelah itu Rin dan Len langsung ditarik oleh kakak mereka untuk di interogasi. Rin dengan Meiko, Luka dan Miku sedangkan Len dengan Kaito dan Gakupo. Mereka berdua diceramahi macam-macam dari tentang sejak kapan mereka saling suka sampai tentang Sexual Education.

Akhirnya, setelah selesai interogasinya pestanya pun dimulai. Walaupun hanya kecil-kecilan dan tidak seheboh saat ulang tahun Miku, tapi Rin dan Len sangat bersyukur bahwa "kakak-kakak" mereka mau menerima hubungan mereka. Pesta berakhir setelah Kaito dan Meiko telah tidak sadarkan diri setelah lomba siapa yang paling banyak minum sake. Semuanya pun kembali ke kamar masing-masing (Gakupo pulang ke rumahnya) kecuali Miku yang masih membereskan sisa-sisa pesta. Sebetulnya Luka, Rin dan Len sudah menawarkan bantuan, tapi Miku menolak. "Biar aku saja, Luka-nee dan Rin-chan tolong bawa Meiko-nee ke kamarnya. Len-kun, tolong bawa Kaito-nii."

Miku selesai membersihkan semuanya dalam waktu 5 menit. Dia menyeka keringat yang ada di dahinya dengan puas. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Miku tidak melihat ke caller IDnya. "Moshi-moshi, Miku-desu."

"Konbawa Miku-chan."

"Sakura-chan?! Ada apa?"

"Aku hanya mau ngecek keadaan dan bertanya satu hal. Bagaimana Rin-chan dan Len-kun? Apa mereka sudah baikan?"

"Mereka berdua sudah baikan. Sudah jadian malah! Terima kasih ya Sakura-chan sudah membantu mereka menyadari perasaan mereka masing-masing."

"Douitashimate. Aku juga tidak mau melihat mereka berpisah seperti itu. Lagipula Miku-chan tidak terlalu percaya diri untuk membantu mereka."

Miku mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf ya aku harus merepotkan Sakura-chan. Soalnya aku takut mereka tidak mau jujur padaku karena aku sudah mengenal mereka berdua sejak kecil dan mereka tahu sifatku yang agak kurang bisa menjaga rahasia. Oh ya, apa ada yang bisa aku lakukan untuk membalas Sakura-chan?"

"Sebetulnya... ada sesuatu yang aku butuhkan dari Miku-chan..."

~~OoOoOoO~~

Len berbaring lelah dikamarnya. Membawa seorang Kaito yang mabuk memang menyusahkan. Dia menangis meraung-raung meminta Len memberikannya es krim kalau tidak Kaito tidak akan melepaskan Len. Akhirnya Rin harus mengambil es krim dari kulkas barulah Kaito melepas Len dan tertidur di kamarnya. Kadang-kadang Len binggung kenapa Kaito bisa jadi "kakak"nya.

Len baru saja mau menutup matanya ketika dia mendengar suara petir yang ikuti dengan bunyi rintikan hujan. Len melihat ke jendelanya. Ternyata ada hujan petir. Langsung saja dia teringat Rin yang pada dasarnya takut petir. Len langsung melompat turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar Rin. Tanpa mengetuk pintu, Len langsung memasuki kamar Rin. "RIN!"

Len menemukan Rin sedang melingkar di dalam selimutnya. Walaupun tertutup selimut, tubuh Rin masih terlihat gemetaran. "L-len?"

JDDAAARRR!

Rin langsung meraih Len dan memeluknya erat-erat. Matanya sudah berair. Dia terus mengucapkan nama Len, seolah jika dia memanggilnya dia bisa melupakan rasa takutnya pada petir. Len mengelus punggung Rin dengan lembut. "Shh.. ini hanya petir. Tidak apa-apa. Aku sudah ada disini. Aku telah berjanji kan kalau ada petir aku akan memeluk Rin sehingga kamu tidak menangis?"

Rin tersenyum. "Ternyata kamu masih ingat dengan janji kita saat masih kecil."

Len juga ikut tersenyum. Dia menempelkan dahinya ke dahi Rin. "Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan janji kita." Petir masih meraung-raung diluar sana. Tapi Rin sudah tidak peduli lagi. Dia tidak ketakutan lagi setelah Len sudah berada di sisinya. Napas hangat Len yang mengelitik mukanya serasa seperti obat penenang bagi Rin.

Wajah Len semakin lama semakin mendekat. Rin tahu apa yang akan Len lakukan, dia pun menutup matanya. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibir Len. Ciuman kali ini lebih dalam daripada yang tadi. Tanpa Rin sadari, dia mendesah. Telinga Len yang sangat tajam mendengar itu. Dia menjilati mulut Rin, memintanya untuk memberikan akses. Rin membuka mulutnya sedikit sehingga memberikan Len akses yang ia minta. Lidah Len bertaut dengan lidah Rin. Len menghentikan ciumannya untuk membiarkan Rin menghirup oksigen.

Muka Rin sudah merah sekali setelah ciuman tadi. Muka seperti ini sangat menggoda bagi Len untuk menciumi Rin lagi. Kali ini Len mendominasi mulut Rin. Dia mengabsen semua gigi Rin. Len mendorong Rin ke tempat tidurnya sambil terus menciuminya. Tangan kirinya menahan tangan Rin, sementara tangan kanan menyentuh paha Rin. Tangan kanan Len merayap menuju atas. Dari pinggul, pinggang, lalu menuju ke dada Rin. Rin menghentikan tangan Len sebelum dia sempat menyentuh dadanya. Len menatap Rin dengan alis terangkat. Rin hanya menggeleng sambil cemberut. Wajah cemberut Rin sangat imut sehingga Len kembali menyerang Rin. Tangan kanannya kembali menyentuh tubuh Rin. Sekarang tangan Len telah menyelinap ke balik baju yang Rin dan menyentuh perutnya. Tubuh Rin sempat mengejang saat Len menyentuhnya. Tapi kemudian Rin kembali rileks setelah terbiasa. Len meninggalkan bibir Rin dan mulai menelusuri rahang Rin lalu menuju ke leher Rin. Dia menciumi dan menjilati leher Rin yang berasa sangat manis itu.

"L-len.. aah~" desah Rin. Dia merasa geli saat Len menyentuh lehernya. Len mengigit leher Rin sehingga bekasnya tampak jelas dileher Rin. Bibir Len terus menelusuri ke bawah. Ke tulang belikat lalu ke.. "LEN!" Rin harus mendorong Len supaya dia tidak berbuat lebih jauh lagi. Len menyadari ada yang baru saja ia lakukan. Dia langsung melepas Rin dan menjauhi Rin. Len duduk tertunduk di tepi tempat tidur Rin.

"Maafkan aku Rin," kata Len dengan nada sedih. Len tak habis pikir bagaimana bisa dia melakukan itu pada kembarannya. Memang mereka sudah jadian hari ini. Tapi semua ini berjalan sangat cepat. Len sangat menyesali perbuatannya tadi.

Rin mendekati Len dan memeluknya dari belakang. "Tidak apa. Aku juga menikmatinya kok. Tapi ini semua terlalu cepat untuk kita. Karena itu aku harus menghentikanmu." Rin mengecup pipi Len. "Tapi terima kasih sudah berusaha mengalihkan perhatianku dari petir."

Len harus menahan nafsunya untuk kembali menciumi Rin. Dia memeluk Rin sebelum menariknya menuju bantal. Len menyelimuti Rin. Kemudian dia mengecup kening Rin. "Oyasuminasai ohime-sama." Len mau beranjak keluar ketika Rin menariknya.

Dengan muka sangat memelas, Rin berkata, "Malam ini tidurlah denganku ya? Aku takut nanti masih ada petir lagi." Len menyerah. Dia masuk ke dalam selimut Rin. Rin melingkarkan lengannya di tubuh Len. Len juga berbalas memeluk Rin. "Oyasuminasai Len."

"Sweet dreams Rin," balasnya. Len mencium Rin sekali lagi sebelum Rin tertidur di dadanya. Len meletakan kepalanya di atas rambut Rin. Wangi shampoo jeruk tercium. Len pun juga tertidur.

~~OoOoOoO~~

Len's POV

Sinar matahari mulai memasuki kamar. Aku mengerjabkan mataku mencoba memerhatikan sekelilingku. Aku masih berada di kamar Rin. Di pelukanku, Rin masih tertidur dengan imutnya. Wajahnya terlihat sangat tenang seperti seorang bidadari. Memang rambutnya masih berantakan karena perlakuanku semalam tapi selebihnya dia terlihat sangat cantik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kalau kalian berpikiran pervert, jawabannya adalah TIDAK. Kami tidak melakukan "itu". Aku hanya kembali menciuminya saja kok. Rin memang mengakui dia mau melakukan "itu" tapi nanti kalau kita sudah lebih dewasa dan sudah menikah. Kalau dipikir-pikir ini seperti lamaran tidak langsung ya?

Aku terus mengagumi wajahnya sampai Rin mulai mengeliat. Dengan perlahan, dia membuka matanya yang berwarna biru seperti langit. "Ohayou Rin," sapaku.

Rin mengedip-kedipkan matanya. Kemudian dia tersenyum setelah melihatku. "Ohayou Len." Dia menciumiku sebelum bangkit dari tempat tidur. Aku pun kembali ke kamarku untuk berganti baju. Setelah itu aku kembali ke kamar Rin. Aku melihat dia sudah siap juga. Aku ngajaknya turun ke bawah untuk sarapan. Rin setuju. Dia langsung menggandeng tanganku dan mengikutiku turun ke bawah. "Aneh sekali ya, biasanya Miku-nee atau gak Luka-nee membangunkan kita kan?" komentar Rin.

"Setelah kamu bilang begitu, benar juga ya. Aku baru menyadarinya."

Kami memasuki ruang makan. Disana terdapat Kaito-nii dan Meiko-nee yang masih hangover akibat kebanyakan minum sake dan Miku-nee yang sedang membaca koran sambil meminum kopinya sementara Luka-nee sedang memasak sarapan seperti biasa. "Ohayou minna!" sapa kami berdua pada "kakak-kakak" kami.

"Ohayou futari tomo," jawab Miku-nee tanpa melepas matanya dari koran. Aku dan Rin pun duduk di kursi kami masing-masing. Kami berdua meminum jus buah kami yang sudah disiapkan Luka-nee. Miku-nee mengesap kopinya kemudian berkata, "Oh ya, kalian berdua tidur nyenyak semalam di kamar Rin?"

Baik aku dan Rin saling menyemprotkan minuman kami masing-masing. "APA?! KAMI TIDAK BERBUAT MACAM-MACAM!"

"Aku kan cuman bilang apa kalian tidur nyenyak tadi malam," ulang Miku-nee agak kesal sambil melipat korannya. "Aku tidak menuduh kalian berbuat macam-macam kok. Lagipula kalian terlihat imut saat aku mau membangunkan kalian." Miku-nee menunjukan foto yang ada di ponselnya. Itu foto aku dan Rin saat sedang tertidur tadi sambil berpelukan. Seketika wajahku dan wajah Rin langsung memerah. Untungnya kami diselamatkan oleh Luka-nee yang membawakan sarapan untuk kami.

~skip time~

Selesai sarapan, Miku-nee harus segera pergi karena ada syuting PV terbarunya, Meiko-nee dan Kaito-nii memutuskan untuk istirahat di kamar mereka masing-masing sedangkan Luka-nee ada sesi rekaman. Aku dan Rin masih punya banyak waktu sebelum ke tempat latihan untuk latihan lagu duet kami yang baru, jadi kami hanya menonton TV di ruang keluarga. Belum sempat aku menonton TV, ponselku berbunyi. Caller IDnya menunjukan bahwa telepon itu dari Sakura. Tumben sekali Sakura menelpon pagi-pagi begini, bukannya dia ada sekolah? "Moshi-moshi, Sakura?"

"LEEEEENNNN-KUUUN! APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN PADA RIN-CHAN?!" Suara Sakura sangat keras sekali sampai-sampai aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku sebelum telingaku jadi tuli.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," kataku berusaha terdengar tidak bersalah karena memang pada dasarnya aku tidak bersalah.

"Miku-chan mengirimkan foto kalian padaku. Pokoknya kalau KAU berani melakukan apa-apa terhadap RIN, aku bersumpah aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu seolah-olah kamu bunuh diri! Ya, aku bisa seperti itu karena aku sering menemui kasus-kasus yang serupa, jangan remehkan aku!" Aku langsung sweatdrop begitu mendengar Sakura bisa membunuh. Baik, ada satu sifat Sakura yang baru aku ketahui, dia bisa menjadi yandere kalau perlu.

Rin merebut ponselku dan berkata pada Sakura. "Sakura tenanglah, aku dan Len tidak berbuat yang macam-macam kok. Lagipula kami punya kabar baik untukmu."

"Apa itu?" tanya Sakura dengan ketus.

"Aku dan Len sudah jadian!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"APPAAA? KENAPA KALIAN TIDAK BILANG DARITADI?! SELAMAT UNTUK KALIAN BERDUA! Ya.. walaupun aku sudah tahu dari Miku-chan, tapi seharusnya kalian memberitahu lebih dulu!"

"Terima kasih," ujarku. "Tapi aku lebih berterima kasih kalau kamu tidak berteriak terus. Bisa-bisa speaker ponselku rusak gara-gara kamu."

Sepertinya Sakura tidak mendengarkan aku karena dia langsung berkata, "Ah, maaf ya aku harus bertemu seseorang. Pokoknya kalau kita bertemu lagi kalian berdua harus menceritakan semuanya dari awal. Jaa nee."

Aku dan Rin saling bertatapan sambil sweatdrop. Sungguh aneh memang menerima telepon pagi-pagi sekali dari Sakura yang terus berteriak-teriak. Kami pun duduk di sofa dan mulai membicarakan Sakura. "Kira-kira siapa ya yang mau Sakura temui? Kenapa dia harus pergi pagi-pagi sekali?" kata Rin.

Aku hanya mengangkat bahu. "Paling bertemu dengan Hiroki, atau dia mempunyai janji dengan seseorang yang penting. Tapi aku tidak begitu peduli."

"Kenapa? Biasanya kamu yang paling kepo disini."

Aku beranjak mengecup pipi Rin. "Karena aku sudah punya Rin disini. Aku tidak peduli yang lain." Seketika muka Rin memerah. Tapi sejujurnya aku juga penasaran pada Sakura, kenapa dia menelpon kami padahal dia sedang ada janji dengan seseorang?

End Len's POV

~~OoOoOoO~~

Sakura's POV

Aku menutup kembali ponselku dan memasukinya kembali ke dalam tas. Seorang wanita, yang aku yakin adalah seorang sekretaris, menuntunku memasuki sebuah ruangan. Kemudian dia meninggalkan aku sendirian di ruangan ini dengan seorang pria paruh baya. Bajunya yang sangat berkelas menunjukan bahwa dia adalah pimpinan perusahaan ini. "Aku yakin anda adalah Kudo Sakura yang menelponku semalam. Maafkan saya yang hanya bisa membuat janji di pagi hari sebelum anda berangkat sekolah. Silakan duduk," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.

Aku menjabat tangannya. "Justru aku yang harus meminta maaf harus membuat janji yang mendadak begini. Aku bahkan tersanjung dapat bertemu dengan Master yang sering dibicarakan oleh Miku-chan," kataku seraya duduk di kursi hadapannya.

"Baiklah, ada hal penting apa sehingga kamu repot-repot menanyakan Miku nomor saya dan ingin bertemu dengan saya?" tanya Master tersenyum seraya membuka percakapan.

"Sebetulnya, saya ingin menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan Rin-chan dan Len-kun." Master mendengarkan perkataanku dengan serius. "Aku sudah mendengar dari mereka kalau Master menemukan mereka saat mereka kecelakaan di sebuah kereta. Dan.. aku melakukan sedikit penelitian bahwa DNA Rin-chan dan Len-kun tidak cocok."

Master meletakan jari-jarinya di depan mulutnya seolah sedang berpikir. "Jadi maksud kamu mereka itu bukan kembar seperti yang semua orang pikirkan?"

Aku mengangguk. "Karena itu aku mohon pada anda dengan menggunakan hakku sebagai seorang detektif," aku menunjukan wajah sangat seriusku. "Aku mohon ceritakan padaku semua fakta yang anda ketahui tentang mereka."

Master terlihat tertarik dengan permintaanku. "Lalu kenapa aku harus memberitahumu? Walaupun kamu menggunakan hakmu, apa esensinya bagiku?"

Aku terdiam beberapa saat. "Mungkin dengan begini, Rin-chan dan Len-kun tidak merasa bersalah memiliki hubungan melebihi hubungan sesama saudara. Aku hanya ingin meringankan beban meraka. Lalu mungkin dengan begini saya dapat meringankan rasa bersalah anda terhadap kedua anak anda yang meninggal akibat kecelakaan yang sama."

"Darimana kau tahu soal keluargaku?"

"Aku melakukan sedikit research tentang kecelakaan itu. Anda mengadopsi Rin dan Len untuk menggantikan anak-anak anda yang telah tiada bukan?"

Master meletak tangannya di dagunya seolah sedang berpikir, "Kau menarik perhatianku. Belum pernah ada yang seberani menemuiku untuk mengurus urusan Vocaloid. Baiklah akan aku kabulkan permintaan kamu..."

To be continued


Yessy : Aku masih gak ngerti cara bedaan Lemon ama Lime di fancfiction...

Miku : You don't want to know... maksudku you shouldn't have to know

Yessy : Kenapa sie pada gitu?! Di sekolah temen aku juga bilang gitu =3= I'm 16 years old! I'm old enough to know!

Luka : Masalahnya adalah... Yessy kamu terlalu innocent..

Len : Really? Menurutku Yessy gak begitu innocent bisa nulis kyk gini...

Meiko : Ya.. tapi tetep aja dia adalah yang ter innocent disini... paling gak dikelasnya dia iya...

Rin : Tapi menurutku Sakura juga sama innocent

Hiroki : Agree

Yessy : =3=

Sakura : Sudah sudah ayo kita sudahi chapter kali ini... Kritik dan saran silakan ketik di kotak review~!

Last Question : Tempat ngedate (untuk Rin n Len di fic english) yang enak dimana? A. Aquarium B. Amusement Park C. Planetarium D. Movie Theater