New Member Adventure

TVP: *pundung dipojokan*

Dain: author ngapain tuh?

Theo: ng? *ngeliat author* oh...gini, Flash disk yang dipakenya buat nyimpen data-data cerita NMA digerogoti Virus gara-gara nge-print diwarnet...begitu ceritanya...

Shera: pantas sejak kemarin murung aja kerjanya...

TVP: *jalan kayak Zombie* *SFX: haaaaaaah*

All: *Sweat Drop*

Nerin: udah deh, untungnya ni chapter bisa dibikin ulang, so...beri Review sebanyaknya untuk membuat Author kami semangat lagi, Readers dan Author~!

Theo: Aku yang Disclaimer. Grand Chase Belongs to KOG Studio and Megaxus, TVP just Owned this story...Now, The Feedback...

Balas Review Bareng NMA Crew!

.

.

.

Theo: baiklah, pertama, Chalice07: akan ku jelaskan...sebenarnya saya...uhum...agak...uhum...Blushing (Shera: EEH!? *Shock*), tapi karena dikasih liat foto itu waktu sedang minum jus, saking kagetnya saya tersedak. Um? Yuna dan Heart? yang mana ya? *ngebaca Fic TVP sebelumnya* oh yang ini...hm, sepertinya mereka memiliki skill yang unik, terutama Yuna. kalau ada kesempatan, saya mau PVP dengannya. Mohon maaf karena TVP memasukan mereka sebagai Chaser, soalnya Author saya mengidap Herocomplex (Author: Hey!)…baiklah, berikutnya tentang Cerberus. oh, ternyata ada yang menyukaimu Cerberus (Cerberus: woof!), haha...katanya dia senang ternyata meskipun tubuhnya jadi kecil, ada yang suka. um? oh iya, Cerberus, kalau Yuna sudah lihat kamu, cepet-cepet sembunyi, Ok? (Cerberus: woof?) soalnya dia suka hewan imut kayak kamu *evil grin* (Cerberus: *shiver*). kalau soal Cruz...yah, berhubung saya kurang tahu dan bukan Author saya yang buat, silahkan Chalice-san bertanya pada BlitzHunter. baiklah, sampai disini, Chalice-san...

.

.

.

Shera: uwah...ja – jadi, kemarin k – kamu Blushing? *Blushing* (*Theo Ikutan Blushing* *Shera Ngengingat Kejadian Yang Ada Di Foto Yang Dimaksud*) uh! fokus Shera! baiklah! berikutnya ada BlitzHunter: Yup! Selamat Ya, Blitz-san! TVP kemarin bilang gini nih: "woah...karakter yang jenius tapi kekanakan? wah, akhirnya ada karakter yang seperti ini!" trus langsung dimasukannya deh. Eh? terlalu serius ya? wah, akan saya sampaikan kepada TVP (Berhubungan Author Orangnya Serius, Jadi Kebawa Sampe Cerita…Apalagi Kalo Main Basket *Siapa Yang Nanya Pula?*…), terima kasih atas pemberitahuannya!

Shera&Theo: Dain! Next!

.

.

.

Dain: woookeh! Yang terakhir oleh DAIN ! woah, ada yang sama namanya kayak aku nih! Hm…Mungkin Masih Kerabatan ama saya! Er…hey author, mau jawab apa nih? Review-nya tidak berhubungan dengan cerita (Author: *pundung sampe gak dengar Dain*) hah…udah deh, yang penting trim's sudah meninggalkan Review…now, let's go to the story!

.

.

.

Note: Siapapun Yang Menemukan Typos dalam penulisan Skill para Chaser atau Typos yang lainnya, tolong beritahu saya ya! saya akan memperbaikinya As Soon As Possible

.

.

.

Previously On NMA: Seminggu Setelah Pencarian Theo, Sebuah Amplop Berisikan Tiket Premiere Sirkus Mendatangi Chaser/ "Oh!.Tiket Sirkus!"/ "memberikan Tiket Premiere Secara Cuma-Cuma? Wow…Siapapun Orang Yang Mengirim Ini Pasti Sangat Bodoh karena menyia-nyiakan tiket ini…"/

Dengan Maksud membuat Theo menjadi sehat, mereka semua pergi menonton sikus itu. Tanpa disangka, Adik Shera, 3 orang asing, dan Sirkus yang berbahaya telah mereka jumpai/ "hey, Pernahkah Terpikir Dibenak Kalian Kalau Kita Akan Mempunyai Hari-hari Yang Damai Tanpa Serangan Musuh?"/ "Tidak dalam kehidupan Ini, Ry…"/

-Chapter 19: New Allies, New Enemies-

"Game Over..." gumam Cruz saat Gaikoz dan Lich dipaksa masuk kedalam perangkap Yuna.

"Yeah! kita menang!" ujar Yuna dengan girang.

"tapi tetap saja...Action Fugure-kuuu~" ucap Cruz sambil pundung ditempatnya berdiri lengkap dengan Background gelap.

tak lama...DHUAR!

"apa itu!?" ujar Yuna terkejut mendengar suara ledakan dari sisi lain tenda.

"jangan-jangan...masih ada musuh yang tersisa?" akhirnya Heart angkat bicara.

"ayo kesana..." Yuna berlari kearah sumber bunyi, Meninggalkan Heart yang dengan susah payah menyeret Cruz yang masih merengek tentang Action Figure-nya.

Still Outside

The Other Side

Normal POV

"Burst Bullet!" terdengar suara tembakan yang diakhiri dengan ledakan dari sisi lain bagian luar tenda. beberapa Dungeon Boss dari dungeon-dungeon di Bermesiah ada disitu, sedang mengitari seorang gadis dari klan Drane.D.

"ternyata benar bukan hanya Gaikoz dan Lich yang ada disini. semua Boss Dungeon di Bermesiah semua berkumpul disini!" Yuna Berujar Karena Kaget Melihat Jumlah Dungeon Boss Yang Banyak Itu, Sampe Boss yang bentuknya kayak Pentagon (Baca: Paradom) ada disitu. Memang tidak semuanya, namun tetap saja terlihat sulit untuk dihadapi sendirian.

"cih...seandainya Death Scythe ku selalu kubawa..." sambung Yuna saat melihat Reina yang dikepung monster-monster sebanyak itu.

"Cruz! ayo kita pakai strategi kita tadi dan bantu gadis itu!" pinta (baca:perintah) Yuna pada Cruz.

yang diajak ngomong malah masih sibuk meratapi Action Figure-nya yang sudah hancur, sampe bikin makam kecil dengan nisan bertuliskan 'My Action Figure – Rest In Piece(?)'

Pause…

Reina: gak salah tuh? Yang benar Peace Bukan Piece!

Author: yah…action figure-nya Hancur Berkeping-Keping – in Pieces, kan? *Innocent Face*

Reina: *Sweatdrop* dasar Author hobi ngeles…

Loading…Start!

Yuna mulai naik darah dan memegang kerah baju Cruz.

"HOI! MAU SAMPAI KAPAN BEGINI TERUS! BENDA ITUKAN BISA DIBELI DIMANA SAJA!? YANG PENTING SEKARANG, KITA HARUS MENOLONG GADIS ITU!" Yuna mulai emosi dan berteriak kepada Cruz. Cruz hanya memalingkan wajahnya untuk melihat kearah Reina dan kemudian angkat bicara.

"umm...sepertinya...dia tidak membutuhkan bantuan sedikit pun..." ucap Cruz.

Yuna langsung memasang wajah bingung dan kemudian mengalihkan pandangannya kearah yang tadinya terdapat sepasukan Dungeon Boss sekarang hanya tersisa mayat-mayat mereka dengan Reina yang iris matanya berubah menjadi berwarna emas berdiri diantara mayat-mayat monster itu.

Reina mengalihkan pandangannya pada mereka bertiga kemudian menembakkan senjatanya kearah mereka.

"ah!" ujar mereka bertiga kaget. Namun ternyata yang diincar Reina bukan mereka, melainkan sosok dari seekor Troll yang tadi siap memukul mereka dengan paku yang dipegang Troll itu.

"kalian tidak apa-apa?" Reina bertanya sambil tersenyum pada mereka bertiga. Sedangkan yang ditanyai Reina, mereka semua saling berpelukan satu sama lain.

'gadis ini berbahaya!' pikir mereka bertiga serempak.

"oh, kalau aku jadi kalian, aku akan tetap berdiri dan bersiap pada tiap serangan yang akan datang…" Reina bergumam tenang. Tak lama, hampir tanpa mereka sadari, para Dungeon Boss, sisa dari Dungeon yang ada di Bermesiah sudah mengepung mereka.

"ini akan menjadi malam yang panjang…"

At The Same Time

Inside The Tent

Normal POV

"Haunting Shock!"

"Jeeves! Serang dia!"

"Break Through!"

"Deep Impact!"

Terdengar teriakan para chaser saat melancarkan skill mereka terhadap musuh. Meski musuh mereka kali ini hanyalah anggota sirkus, namun kemampuan mereka tak dapat dianggap remeh.

"sial! Juggler-Juggler ini mengganggu sekali! Mataku sakit melihat mereka!" ujar Sieghart emosi sendiri. Pasalnya tiap kali dia berhasil membunuh satu Juggler, pasti Juggler lain akan muncul dan menyerangnya.

Theo yang berniat membantu, mencoba mengeluarkan Blade-Gun nya. Namun saat ia melakukannya, jantungnya terasa sakit dan ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Theo!" Shera yang menyadari Theo yang tiba-tiba mengeluarkan batuk darah.

"sial! Akan kucoba sekali lagi!" Theo kembali berusaha memanggil Blade-Gunnya namun Darah yang Theo keluarkan makin banyak. Pandangan Theo mulai rabun dan Theo merasa tubuhnya menjadi berat.

"Ukh!" Theo memuntahkan darahnya dan berlutut dengan satu kaki sambil memegangi dada bagian kirinya. Karena pandangannya yang mulai kabur, Theo tidak menyadari sebuah bom berukuran kecil terlempar kearahnya, namun…

DHUAR!

Bom itu terbelah menjadi dua dan meledak sebelum mengenai Theo.

"kau baik-baik saja, Theo?" Theo mencoba memfokuskan pandangannya dan menyadari bahwa yang melindunginya adalah Dain.

"yeah…Thank's Dain" Theo berkata saat melihat Dain didepannya.

"Don't Mention It, My Friend…," respon Dain dengan seringai khas-nya "nih…" sambung Dain sambil melemparkan sesuatu kepada Theo.

Theo dapat menangkapnya dan mengenal benda yang dilempar Dain itu. Sebuah botol berisi Potion berwarna ungu…

"Reina menitipkan ini padaku…" ucap Dain dan kemudian melemparkan sebuah benda lagi pada Theo.

"…DS-Maverick…" Gumam Theo sambil menatap pistolnya yang terlihat baru, coraknya tidak lagi berwarna merah melainkan berwarna hijau gelap (Jadi Black Wendy DS-Maverick deh~) kemudian pandangannya berganti pada Dain.

"yah…sebelumnya, saat membawa ExeLyon ke nenek tua di Reinforcement itu, aku sekalian saja membawa serta senjatamu dan menjadikannya Black Wendy DS-Maverick ditempat lain…jadi, yah, yang seperti yang kau lihat…" Dain menjawab pandangan Theo dengan enteng.

"heh…kau mengambil senjataku tanpa izin, Dain? Sudah kuduga aku harus meminta Mari memasangkan perangkap anti-maling miliknya…" gumam Theo dengan nada bercanda.

"terserah deh, yang penting keinginanmu untuk ikut serta saat ini tercapai, bukan?" balas Dain yang sekali lagi menunjukkan Trademark-Grin miliknya kemudian menyerang beberapa Lioness yang mulai bermunculan.

"yeah…I Owe You One, Dain…" Theo berbisik sambil tersenyum penuh arti kemudian meneguk habis Potion yang diberikan padanya.

Outside The Tent

Normal POV

"Burst Bullet!"

"Head Hunt!"

"Uwah! Tidak Adakah Mayat atau Tulang disekitar Sini!?"

Diluar, terlihat Reina, Yuna, Heart, dan Cruz yang sedang berusaha mengalahkan Elizabeth, Harpy, Orc Lord, D2L (Dan Monster-Monster Lainnya). Sementara Cruz dan Reina bertrung, Heart yang sedang Mem-Support Mereka, Sang Kurogane malah berlari tak tentu arah karena dikejar Treant yang melemparinya dengan apel busuk.

"Hwaa~! Death Scythe-ku!" ujarnya sambil terus berlari. Yuna berlari tak tentu arah namun kemudian matanya menangkap sesuatu. Sifatnya Yang Memiliki Rasa Ingin Tahu Yang Besar dan Hobinya yang Suka Melakukan Percobaan Mulai mengerayangi pikiran Yuna.

'ah! Ada mayat! Hm…saatnya lakukan percobaan baru!' "Summon Zombie!" Reina men-cast Skill-nya dan memanggil Zombie, namun yang ia panggil bukan sembarang Zombie, melainkan para Zombie Dungeon Boss yang sudah mati karena dibunuh Reina sebelumnya. Dengan jumlah Boss yang ada dipihak Yuna, Treant-pun langsung kicep. Yuna menyeringai.

"Zombie ku! Bunuh Dia!" dan sang Treant-pun wafat dengan tidak tenang(?).

"haha! Percobaanku berhasil!"

"Hey! Hitam! Awas!"

Yuna bermaksud mengejek balik Cruz, nmun niatnya langsung diurungkannya saat melihat Harpy yang terlempar kearahnya. Tabrakan tak terhindar lagi, dan Yuna terlempar kearah tenda sirkus.

Meanwhile,

Inside The Tent

Normal POV

Hammerman sudah dijatuhkan, Oretina sang penjinak hewan buas juga sudah dilumpuhkan,. Tentu kini para penduduk Serdin sudah diungsikan karena Mari telah membuat sebuah Teleport Pad (kebetulan dia hanya membawa Mallet dan tidak membawa Soul Taker) yang langsung menuju kastil Serdin.

Para Chaser seharusnya sudah berhadapan dengan Zidler si Ringmaster, namun beberapa Lioness milik Oretina yang masih banyak tersisa dan juga cincin-cincin api yang ada disitu menjadi penghalang antara mereka dengan Zidler.

"Chaos Savior!"

BUK! Seekor Lioness terlempar kearah Sieghart.

"hati-hati, Red!" Sieghart berteriak kearah cucu Corettersayangcoret nya itu.

"Vengeful Spear!"

KRAK…BUM! Sebuah tiang dengan cincin api rubuh menimpa Sieghart yang malang.

"Ah! 2#$%!" Sieghart menyumpah serapah tak jelas dengan badan gosong karena api. Sementara orang yang di maki malah menyeringai dan mengejek: "makanya jangan disitu, orang tua bodoh…" (siapa ini? Hint: awalnya musuh Sieghart. mereka pernah bertarung saat Project JF dan menyebabkan Sieghart nyaris mati – atau dia yang menyebabkan Sieghart mati? Yang pasti, dia Demon)

"Tempest….."

BLEDAR! Sekarang sejumlah meteor berwarna biru (tanpa sengaja) jatuh kearah Sieghart. Namun kali ini Sieghart diem aja, soalnya yang nge-cast skill adalah Mari.

'perasaan gak enak nih…' pikir Sieghart yang tiba-tiba jiwa cenayangnya bangkit. Dan benar saja, Sieghart yang tengah berdiri dan tidak berdekatan dengan anggota Chaser mana-pun tahu-tahu terkena lemparan sesuatu – atau seseorang? Soalnya waktu Sieghart tertimpa, ia mendengar suara rintihan kesakitan.

"Ittai…sakit banget…"

"Yuna! Kamu gak apa-apa?"

"apanya yang gak apa-apa!? Wong sakit gini kok!"

Para Chaser melihat asal sumber bunyi (tanpa Memperdulikan Sieghart yang pingsan dengan tidak elit…) dan melihat beberapa orang yang ada disitu.

"Theo!" Reina langsung saja memanggil Theo.

Tampak Reina sedang merogoh tas kecil yang selalu ia bawa dan kemudian melemparkan sebotol Potion berwarna Merah Marun dan dengan sigap si Pyro-Gunner itu menangkapnya.

"gunakan itu untuk menggunakan api hitam mu dan memanggil Senjatamu! Ingat, Itu Hanya dapat bertahan 1 jam!"

Si pemilik nama menganggukkan kepalanya kemudian langsung menoleh dan menyadari bahwa Reina membawa Cerberus. Theo langsung bersiul untuk memanggilnya dan War-Wolf itu langsung berlari kearah Theo.

Dengan waktu yang sama, Theo meminum Potion tadi dan entah darimana, Kekuatan Theo seakan kembali. Saat War-Wolf itu melakukan kontak dengan Theo, tubuh Cerberus terselubungi api dan saat api itu menghilang, terlihat Cerberus yang mulai membesar dan kembali dalam bentuk normalnya. Bersamaan dengan itu, Mata Kanan Theo yang masih berada ditempatnya berubah menjadi berwarna emas.

"Dragon-Eyes? Huh…Kalau Tahu Seperti ini tak akan kuhabiskan GP-ku hanya untuk memperbaiki Senjata anak itu …" gumam Dain dengan menyeringai. Theo yang mendengarnya hanya balas menyeringai.

"Now, It's Show Time…" Theo memanggil Blade-Gun dan memerintahkan Cerberus untuk terbang. Keempat kaki mahluk itu terselimuti api dan detik berikutnya, Cerberus sudah melayang diudara dengan Theo diatasnya.

"Haha! That's It, Stranger, Now Let The Show Begin!" Zidler menyeringai dan tiba-tiba tubuh sang Ringmaster (khususnya bagian kepala) tertutupi api berwarna biru.

"Lass! Lihatlah aku! Aku telah kembali dari Underworld! Terima Kasih Atas bantuan Blue Flame milikmu! Sekarang…satu-satunya yang menahan ambisiku Itu adalah tubuhmu! Dan, tubuhmu itu akan menjadi milikku sehingga membuatku mendapatkan gelar sebagai Lord of the Afterlife!"

"UGHH!" bersama bangkitnya Deranged Ringmaster, Lass tiba-tiba berteriak kesakitan. Aura gelap menguar dari tubuhnya.

"Cih..." Dain berdecih kesal sambil menggenggam tangan kanannya, wajahnya pucat dan Dain mulai mengeluarkan keringat dingin.

"ada apa?" Nerin bertanya saat melihat Dain bersikap seperti itu.

"ExeLyon…ah, tidak…Dark Matter Exe Bereaksi dengan Blue Flame…" Nerin memperhatikan tangan kanan Dain dan mendapati Glove yang tadi Dain pakai perlahan-lahan sobek karena energy yang keluar dari Exe. Dain terlihat mati-matian menahan kekuatan itu.

"Lass!" Ryan yang sedang berdiri lebih dekat dari Lass mencoba menolongnya, namun Lass terlebih dahulu mencegahnya.

"jangan mendekat!" Lass terlihat menahan sakitnya. Arme bermaksud mendekati Lass, namun Elesis segera menahannya.

"kita jatuhkan badut itu sebelum menolongnya, ok?" Elesis memberi sinyal pada yang lain agar bersiap untuk menyerang.

"teman-teman! Ini!" Reina merogoh kembali tas kecilnya dan melemparkan beberapa Badge dengan batu berwarna merah seperti nyala api.

"cih…The Stone of Eternal Fire ya? Sudah kuduga, kalian berdua berasal dari klan Drane.D." Zidler menunjuk Theo dan Reina bergantian.

"The Stone of Eternal Fire?"

"itu adalah batu yang langka yang diketahui hanya dapat ditemukan di dekat Furnance of Hell, Tempat Klan Drane.D. Berasal. Batu ini memiliki kemampuan untuk memperkecil dampak dari energy api negative dan menambahkan power pada energy api positif sehingga Blue Flame milik Zidler tidak dapat memperngaruhi kita…" jelas sang Dewi Kounat sambil menyelidik batu itu didalam genggamannya.

"Tetap saja, aku yang akan memenangkan pertarungan ini! Hea!" Zidler mulai menyerang dengan senapan mesin yang ada di mulut tunggangannya itu yang terus saja melompat(kalau bisa disebut tunggangan sih…).

"Baiklah, dengan kemampuan bertarung kalian dan pengobatan Heart yang sangat baik…aku minta kalian juga membantu kami…" ucap Reina ketiga wajah-wajah yang baru kali ini Chaser temui.

"OK!" Ujar mereka Serempak.

Pertarungan para Chaser dan Zidler terlihat cukup seimbang, karena selain Chaser yang siap sedia menghajar Zidler dari bawah, Theo bersama Cerberus sudah Stand-By di udara untuk melakukan serangan.

"Up Root!" Cruz memanggil akar-akar tanamannya untuk kesekian kalinya untuk menangkap si Ring Master. Namun gerakan Ring Master terlalu cepat sehingga usaha Cruz sia-sia. Belum lagi, sang Ring Master menembak akar-akar tanaman itu hingga hancur dan terselubungi api.

Namun, serangan mereka tidak hanya sampai disitu.

"Spining Crane Kick!" Jin melakukan Air Kick terhadap Zidler, namun Zidler bias menghindarinya hanya dengan sedikit menghindar. Sebelum Jin kembali menyentuh tanah, Zidler sudah terlebih dahulu menangkap kaki Jin dan kemudian melempar Jin kembali ketanah dengan kasar.

"Jin!" Amy segera berlari kearah Jin. Dengan spontan, Heart juga mendekati Jin.

"Kh…Aku…Tidak Apa-Apa…" gumam Jin sembari berdiri kembali.

"Badut Yang Menyebalkan~!" Amy menggerutu sendiri namun masih tetap memeriksa keadaan tubuh Jin.

"Orchid!" Zero-pun memulai serangan awalnya. Namun, seperti sudah memprediksi hal ini, Zidler menggerakan tunggangannya ke samping sehingga terhindar dari skill Zero. Ternyata itu sebuah kesalahan Fatal karena disamping Zidler, telah menunggu sang Asura.

"Ini Akibatnya Telah Melemparku! Asura Strike!" Jin menggunakan Chammagon-nya miliknya dan memukul Zidler hingga terlempar keatas. tanpa menyia-nyiakan sedetik pun waktu, Theo, Dio, dan Dain langsung menyerang sang Ringmaster dengan Skill mereka di udara, menyebabkan Zidler terpental kebawah.

"Dragonic Attack!"

"Rake Hand!"

"Waterfall Technique!"

Saat itu, Zidler tidak bergerak, tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya.

"apa dia sudah mati?" Tanya Lire.

"hahaha! Hanya ini? Tidakkah kalian bisa lebih baik dari ini? Hah!?" Ujar Zidler tiba-tiba mmebuat Chaser lain terkejut. Ring Master itu bangkit berdiri dan menatap para chaser dengan tatapan bengis.

"Benar-benar manusia pengganggu…Akan Kugunakan Blue Flame-ku Untuk membunuh kalian sekarang!" Zidler Mengumpulkan kobaran api biru di dalam genggamannya. Ukuran api itu semakin lama semakin besar, menandakan seberapa besar kerusakan yang dapat diakibatkan api itu. tiba-tiba, Zidler terlihat meringis kesakitan dan memadamkan Blue Flame-nya manakala sebuah kunai menancap dipunggungnya.

"jangan…coba-coba…menyakiti…teman-temanku!" ujar Lass dengan terengah-engah.

"bah! Kau mau mengalahkanku tanpa menggunakan seluruh kekuatanmu!? Apakah ada seseorang yang ingin kau lindungi?"

DEG!

'Arme…' batin Lass.

"apakah kau takut memperlihatkan kekuatan gelapmu pada keluarga barumu!?"

DEG!

'teman-teman…'

"Baiklah Kalau Itu Maumu! Mimpi Burukmu Baru Saja Dimulai!" Zidler berteriak dan meningkatkan kekuatan Blue Flame-nya.

DEG!

"AAARGH!" Lass dan Dain tiba-tiba berteriak kesakitan.

"Dain!" Nerin dengan segera menaruh Mirror Dagger-nya dan berlari mendekati Dain yang terduduk karena Zidler yang tiba-tiba menaikkan kekuatannya. Terlihat Dain memegangi tangan kanannya.

Nerin menarik paksa Glove yang menutupi telapak tangan Dain dan menampakkan tangan Kanan Dain yang sudah berubah menjadi biru keunguan seperti milik Dio. Semuanya tampak terkejut (Minus…You Know Who…).

"hahaha! Sepertinya ada seseorang dengan kekuatan yang persis seperti Lass! Bagus Sekali!" ujar Zidler yang melihat Dain juga terpengaruh kekuatan Zidler. Arme mulai merasa jengah dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu.

"Aku Harus Menghentikan Ini!" ujar Arme tiba-tiba dan menciptakan sebuah Dinding Es yang memerangkap Ring Master.

"semuanya! Kita harus lari dari sini!" ujar Arme dan men-cast Teleport. Entah karena unsur kesengajaan atau karena Arme memang sudah mulai kehabisan energy, beberapa Chaser masih ada yang tertinggal karena tidak di-Teleport oleh Arme. Mereka adalah Theo, Shera, Reina, Nerin, Dain, Yuna, dan Cruz.

"Eh!? Katanya disuruh lari, tapi masa kita ditinggal?" ujar Cruz yang jiwa kekanakannya mulai bangkit lagi.

"Heh! Kau Pikir kau dapat menghentikan apiku dengan Es biasa? Jangan bercanda!" ujar Zidler yang sudah bersiap menghancurkan Dinding Es Arme. Tepat saat itu, 2 Demon muncul dihadapan mereka. Satunya Memakai Pakaian berwarna Merah Marun dan satunya Berpakaian layaknya Grim Reaper.

"Akhirnya Kau Melepaskan Topengmu, Zidler…" gumam seorang Demon yang menggenggam 2 Hand-Gun ditangannya.

"dan Dark Matter…Baru Sekarang Aku Merasakannya Dengan Jelas Seperti Ini…" ucap Demon yang satunya lagi dan mengarahkan Scythe-nya kearah Dain.

"Oh, Lihat Apa Yang Ada Disini? Bounty Hunter. Apa Kalian Datang kemari Untuk Melihat Acara Finalku?" Tanya Zidler dengan menyeringai.

"Yah…Sayangnya Aku Tidak Tertarik Menonton Acara Murahan Milikmu Ini. Aku Hanya Menginginkan Jiwamu Yang Penuh Dosa Itu…" Dan Kemudian Demon itu Menembakkan Pistolnya Kearah Zidler.

"Empower!"

"AARGH!" tanpa Perlawanan Sedikitpun, Serangan Demon – bernama Rufus itu membuat Zidler mati seketika.

"Aku akan Membawa Jiwanya Kembali ke Underworld…" Gumam Demon itu dan kemudian Sebuah Linggkaran Sihir Muncul dibawah kaki Demon Tadi dan dibawah mayat Zidler.

"Ok, Rufus…aku akan menyusulmu dan membawa mayat Pemuda Dark Matter ini ke Underworld!" Ujar Demon pemegang Scythe tadi saat Rufus – Kita Panggil saja begitu – Menghilang bersama mayat Zidler.

"Nah…Dark Matter…"

"Namaku Dain…"

"Baiklah Dain, Namaku Freddy dan aku Bertugas Mengumpulkan Jiwa-Jiwa Ternoda ke Underworld…Seperti Jiwa Milikmu itu…" Ucap Pemuda berpakaian Grim Reaper itu sambil menyeringai pada Dain.

"Tidak akan Kubiarkan Kau Membawanya…" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari langit-langit tenda sirkus itu. Disebuah tali yang bergelantungan, terlihat sosok anak kecil yang tadi ditabrak Amy, terlihat duduk dengan santai seakan tidak peduli bahwa tinggi tali itu menuju tanah lebih dari 15 meter.

Theo menatap anak itu tidak percaya.

'apa? Sejak kapan? Aku bahkan tidak mendengar pergerakannya!' batin Theo sambil menatap Shock anak itu.

Anak itu melompat turun dari tali tadi dan mendarat dengan selamat tepat diantara Dain dan Freddy.

"Peter?" Shera bergumam saat ia melihat sosok anak kecil didepannya.

"kau mengenalnya, Shera?" Reina bertanya dan dijawab dengan anggukan Shera.

"dia adikku…Peter Glaciem…" Gumam Shera.

"wah, ternyata kakak ku masih ingat ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kakak ikut denganku dengan nona Kaze'Aze…dia baik lho~" ucap Peter polos.

"a – apa maksudmu!?Apa kau tidak tahu bahwa Kaze'Aze sudah memerintahkanmu untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah!? Kau dimanfaatkan, Peter!" ujar Shera membalas perkataan Peter.

"jadi itu artinya kakak tidak mau bergabung? Ya sudah…kalau begitu aku masuk ke rencana B…membunuh siapapun yang ada disini!" Peter berteriak seraya membentangkan kedua lengannya.

Saat ia melakukan itu, Boneka yang sedari tadi digendongnya terlihat mulai bergerak. Terlihat jelas beberapa benang transparan berwarna Biru Laut keluar dari tiap jemari Peter dan terhubung pada Boneka yang ia gendong itu. Juga boneka itu menggenggam sebilah Katana yang sangat mirip dengan Katana Shera, Korinotsurugi.

"Aku Akan Membawa Dain Kepada Nona Kaze'Aze dan Memberikan Dark Matter Dain kepadanya tanpa Kecuali…Dan Aku akan Menciptakan Dunia Baru Bersama Nona Kaze'Aze!"

"Tidak Jika aku Yang Lebih dulu Membawanya Ke Underworld!"

"Bone Sanctum!" Freddy Menancapkan Ujung Scythe-nya ketanah dan beberapa tulang yang tajam mulai keluar dari tanah. Dain dengan sigap menghindari serangan Freddy. Beberapa kali tulang-tulang yang tajam itu hampir mengenainya namun bisa diatasi oleh Dain dengan kabur melewati lubang dimensi.

"Oi, Oi! Kalian Berdua Serius ya?" ujar Dain sambil terus menghindari serangan Freddy.

"Cih…Sekali lagi! Bone… - " Serangan Freddy terhenti saat sebuah serangan meluncur tepat kearahnya.

"Puppeter Art: Straight Slash!" Peter menggerakan jari-jarinya dan membuat boneka yang ia kendalikan itu menggerakan Pedangnya dengan arah serangan yang lurus.

"Cih…ternyata mereka serius memperebutkanku…" Dain berdecih agak kesal karena dia merasa seolah-olah dirinya hanyalah sebuah benda bagi mereka berdua untuk diperebutkan. Belum lagi rasa sakit yang menjalari tangan kanan Dain menambahkan rasa kesalnya.

"Tunggu Dain! Kami akan membantumu!" Ujar Nerin sambil berlari menuju Dain. Peter menyadari hal ini.

"Pengganggu Diam Saja…Puppeter Art: Earth Golem" ucap Peter dan menempelkan telapak tangannya ketanah. Saat itu juga, beberapa boneka yang terbuat dari batu muncul di tempat itu.

"Kurasa Itu Cukup Untuk Menahan Mereka…" ucap Peter dan memfokuskan kembali pandangnnya pada Dain.

Dalam sekejap, Terjadilah Sebuah Battle Royale Antara Bounty Hunter Underworld, Grand Chase Member, dan D5 Member. Tidak Hanya Itu, Para Chaser (+3 orang asing) lainnya tidak ada yang dapat membantu Dain karena mereka dihadang oleh sepasukan Golem.

"Head Hunt!" Cruz dengan cepat menembakkan anak panahnya tepat dikepala tiap Golem itu. Keakurasiannya dalam menembaknya itu makin meningkat saat ia memakai Nature Rage.

Tanpa Cruz sadari, salah satu Golem itu bersiap menyerang Cruz. Sayang sekali, Golem ini menyerang diwaktu yang tidak tepat, karena niatnya yang ingin menyerang Cruz telah diketahui Yuna yang tengah mengendalikan Paradom Versi Zombie-nya.

"Serang Mereka, Paradom!" dengan satu serangan seperti Eraser milik Mari, beberapa Golem disitu kembali menjadi serpihan-serpihan tanah yang kemudian musnah.

"Score!" Ujar Yuna dengan bangga dan mengepalkan tinjunya keudara.

"wew…hebat juga kau Hitam…" Cruz mulai meng-insult si Kurogane dan menyebabkan Shinigami itu mulai membalas perkataan Cruz.

TRING! CLANK! BRAK!

Dentingan Senjata yang saling beradu tidak kunjung berhenti di dalam pertarungan antara 3 orang itu. Mereka sangat gigih dalam pertarungan ini. Ini terlihat seperti permainan kucing-kucingan dimana kali ini 2 kucing tengah mengejar 1 tikus.

"Sudah Cukup! Critical Z!" Dain memulai menggunakan Skill-nya. Dan ternyata, keputusan Dain menggunakan Skill ini sangat tepat karena saat itu juga, arah serangan Dain langsung mengarah ke mereka berdua.

"Puppeter Art: Defensive Stance" Peter bergumam sembari menggerakan jemarinya, membuat tangan bonekanya mengarah kedepan. Saat Serangan Dain hampir mencapai dirinya, sebuah Perisai muncul dari tangan boneka yang dikendalikan Peter itu.

Tiba-tiba, terlihat sebuah cahaya melesat keudara. Peter yang melihatnya terlihat kecewa dan langsung menggendong kembali bonekanya.

"Well, Sepertinya Tugas Ku Disini Sudah Selesai. Sepertinya Nona kaze'aze tidak membutuhkanmu, jadi…semoga beruntung!" ujar Peter dengan nada riang yang kemudian berlari keluar. Theo dan yang lainnya berusaha menahannya namun Puppeter itu menghilang dengan sendirinya secara tiba-tiba.

'apa maksdunya?' batin Dain.

"Heh…Satu Pengganggu Sudah pergi dengan sendirinya, sekarang hanya kau dan aku, Dain…" ucap Freddy.

Pertarungan Dain dan Freddy berlanjut, Terlihat pertarungan mereka cukup seimbang. Dain sudah beberapa kali memiliki kesempatan untuk memanggal kepala Freddy dengan ExeLyon, namun Freddy selalu menemukan cara untuk meng-Counter serangan Dain. Begitu juga dengan Freddy, sudah beberapa kali Scythe-nya menyentuh tubuh Dain, namun si DK itu mengatasinya dengan lari memasuki lubang dimensi.

Theo yang lain tetap berusaha membantu; kalau saja Golem-Golem yang ditinggalkan Peter tidak sebanyak yang mereka kira. Lagi-lagi mereka harus berhadapan dengan Golem-Golem itu sebelum membantu Dain.

TRANG! Kedua senjata mereka saling bertautan, Dain dan Freddy bertukar pandang. Terlihat sekali tidak ada yang mau mengalah dalam pertarungan ini.

"Heh…Tidak Bisakah kau Menyerah dan Ikuti aku ke Underworld dengan tenang?" ucap Freddy sambil menekan Scythe-nya pada ExeLyon Dain dan membuat genggaman Dain terhadap ExeLyon terdorong.

"sayang Sekali, aku Tidak Memiliki Rencana ataupun Niat Untuk Pergi Ketempat Itu…" Ucap Dain Tenang sambil menyeringai dan mengibaskan ExeLyon, membuat Scythe Freddy terlempar.

"Block Star!" Dain melancarkan skill-nya, membuat Freddy terjebak di dalam sebuah segel berbentuk Bintang Milik Dain.

"Che…Kalau Cuma Segel, Aku Bisa Melepasnya Dengan Paksa!" ujar Freddy. Dain hanya menyeringai sambil mengayunkan jari telunjuknya di depan Wajah Freddy.

"Tsk Tsk…jangan meremehkan segel ini. Segel Block Star tidak hanya untuk menahan gerakan lawan, namun juga untuk menghancurkan lawan…kata kuncinya adalah…" Ucapan Dain menggantung.

"…Burst Up…" Segel Dain tiba-tiba bercahaya dan detik berikutnya, segel itu meledak denganFreddy yang masih tertahan didalamnya.

"AARGH!" Teriakan Freddy membuat seluruh pandangan menghujani tempat pertarungan Dain.

"Lihat? Aku Memang Tidak Memiliki Rencana Untuk Pergi Ke Underworld…" Gumam Dain. Dain membalikkan tubuhnya, membelakangi Freddy Yang Sudah terbakar barusan dan melambai kearah Nerin.

Nerin balas melambai sambil tersenyum namun matanya membesar dengan Horror saat ia melihat sebilah benda tajam berbentuk Tombak terlempar Mengarah kepada Dain. Tampaknya, Dain tidak menyadari serangan itu.

"Awas Dain!" Nerin berteriak. Namun, jarak antara Dain dan Tombak itu sudah sangat dekat, bahkan mustahil untuk dihindari. Tombak itu bergerak lurus menuju Dain dan…CRAAAS!

"Ugh…"

"Tidak….Nerin!"

DRAP! Dain berlari kearah Nerin yang bersimbah darah. Ia mengetahui bahwa itu disebabkan karena Tombak Freedy. Tapi, mengapa bisa mengenai Nerin yang jaraknya cukup jauh dari dirinya?

Dain berlutut disebelah Nerin dan mengangkat wajahnya. Dilihatnya sebuah Cermin yang cukup besar berdiri didekat Nerin. Dain mengalihkan pandangannya ke tempat ia berdiri semula dan mendapati sebuah cermin dengan ukuran yang sama berdiri disitu.

Dain menatap Nerin tidak percaya.

"Kau…mengalihkan Tombak Itu…Menggunakan Cerminmu?" Dain bertanya dengan suara bergetar.

Nerin hanya tersenyum sendu, tangan kanannya meraih tangan kanan Dain. Nerin menggenggamnya dengan lembut.

"Aku…Hanya Tidak Ingin Orang Yang Kukagumi…Bahkan Di Kehidupanku Yang Sebelumnya…Terluka…" ucap Nerin perlahan. Dain mengalihkan pandangannya kebagian tubuh Nerin yang terkena tombak milik Freddy barusan. Terlihat begitu banyak darah segar mengalir melalui luka di perut Nerin.

DEG! Dain merasakan Jantungnya berdetak dengan cepat.

"Che…tidak kena ya?kali ini akan kupastikan mengenaimu langsung, Dain!" Ujar Freddy saat melihat Dain tidak siaga.

"Dain…Aku…Ingin Mengatakan Sesuatu Padamu…" Nerin berusaha berbicara namun semakin ia bersikeras untuk berbicara, semakin banyak darah yang ia keluarkan.

"Akan Kubawa Kau Ke Underworld, Dain!" SHUT! Freddy melemparkan Scythe-nya kearah Dain.

DEG! Jantung Dain terasa memanas dan waktu disekitarnya seakan berhenti. Teriakan-teriakan teman-temannya tidak ada yang ia hiraukan.

"aku…Selalu Menyukai Dain..Dari Saat aku Masih Seseorang Bernama Aleria, Hingga Saat Ini…Aku Masih Menyukai Dain…" ucap Nerin sambil tersenyum. Bersamaan dengan itu napas kehidupan Nerin seakan terputus dari tubuhnya.

DEG! DEG! DEG!

Sementara Scythe Freddy masih terus meluncur kearahnya, Dain masih saja terduduk dengan Nerin di dalam Dekapannya seakan sang waktu benar-benar telah berhenti disekitarnya.

Dain teringat kembali saat-saat dimana Thanatos berniat mencuri Exe dan menyebabkan Aleria mati karena melindunginya. Kini, kejadian itu terulang kembali.

WRUUUR! Tiba-tiba, Atmosfir disekitar Dain terlihat berubah; terlihat sekali sejumlah energi menguar keluar dari tubuh Dain yang bahkan membuat Scythe yang dilempar Freddy tadi terpental kembali kepada pemiliknya.

"AAAARGH!" Dain berdiri sambil berteriak dengan lantang. Para Chaser yang terkejut hanya berdiam ditempat, mereka semua merasakan hawa yang mustahil untuk mereka lawan.

Dan Dain; pupil matanya berubah menjadi berwarna keemasan dan bagian putih matanya kini tergantikan dengan warna hitam pekat.

ExeLyon yang ada di dalam genggamannya tampak meleleh seperti Lilin yang mencair dan kemudian membentuk sebuah Scythe Hitam dengan sebuah jam pasir Kecil yang tergantung di bagian gagangnya. Satu hal yang pasti; ukurannya lebih besar dari milik Freddy. Freddy Nampak terkejut saat melihat Scythe yang digenggam Dain.

'itu…Soul Splitter!' batinnya.

Dain kemudian melepaskan energi yang ada disekitarnya dan menciptakan sebuah Shock Wave yang sangat besar sehingga membuat Chaser lain terpukul mundur. Tidak hanya itu, Golem-Golem yang ada disekitar mereka juga ikut musnah.

Kemudian, Dain mengalihkan wajahnya kearah Freddy. Freddy menyadari kalau wujud Dain sudah berubah; rambutnya yang tadinya hanya sedikit berwarna hitam kini sudah berwarna hitam seluruhnya, tangan kanannya kini benar-benar persis dengan Rake Hand Dio, dan matanya kini seluruhnya berwarna hitam.

Freddy yang benar-benar kaget akibat perubahan Drastis Dain, tidak menyadari bahwa Dain ternyata sudah berdiri dibelakangnya dan mengangkat Scythe-nya kemudian mengibaskan sekumpulan energi berwarna hitam kearah Freddy.

"UAGH!" Freddy terpental akibat serangan Dain barusan. Tidak hanya sampai distu; beberapa saat setelah menyerang Freddy, Dain mengangkat Scythe-nya – yang kita ketahui bernama Soul Splitter – dan sekali lagi mengibaskan sekumpulan energy serupa kearah Theo dan yang lainnya.

"Ayo lari!" ujar Theo sambil menarik lengan Shera sementara yang lain sudah berlari menghindari serangan Dain itu.

"Tapi, Tubuh Nerin…!" Shera masih berusaha menggapai tubuh Nerin namun semua sudah terlambat. Serangan yang Dain lancarkan barusan bergerak langsung menuju tubuh Nerin dan membuat tubuh Nerin lenyap tanpa bekas.

"HEAA!" Dain sekali lagi mengibaskan Scythe-nya. Berkali-kali hingga membuat mereka kewalahan. Namun, sebenarnya, Dain yang menyerang temannya tanpa kehendaknya terlihat meneteskan air mata sembari tetap mengibaskan Scythe-nya.

Dan satu kata meluncur keluar dari mulut Dain disaat ketidak-sadarannya itu: "Nerin…"

Meanwhile,

Somewhere

Normal POV

"Ung…"

"Nerin, bangun…"

Mendengar kata-kata itu, Nerin membuka matanya. Terlihat ia saat ini ada didalam sebuah ruangan yang sangat putih, setitik noda bahkan tidak ada. Nerin mengerjap-ngerjapkan matanya, dengan kikuk ia menggosok matanya seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dilihatnya bekas noda darah yang ada di bajunya.

'ini…apakah ini surga?' pikirnya.

Pandangannya menyapu tiap sudut ruang hingga mendapati sebuah sosok. Sosok itu memiliki Wajah yang nyaris sama dengan Nerin, memakai pakaian berwarna putih dan membawa sebuah Hand-Canon.

"HUAH! Aleria!" Nerin yang menyadari siapa yang sedang berdiri didepannya berteriak karena kaget. Aleria hanya menghela napas.

"Ampun deh…Kita inikan orang yang sama, namun wujud dan waktu dimana kita hidup yang beda, jadi seharusnya tidak perlu sekaget itu…" kata Aleria sambil menggelengkan kepalanya.

"A – ah…Sou ka…Maaf" ucap Nerin buru-buru membuat Aleria menghembuskan napasnya lagi.

"sudah, tidak perlu minta maaf. Rasanya aneh kalau aku mendapat permintaan maaf dari diriku sendiri, kau tahu?" balas Aleria.

"Yah…Yang penting, sekarang kita harus menghentikan Dain…" sambung Aleria kemudian membuat Nerin memasang ekspresi bingung.

"Menghentikan Dain? Memangnya apa yang terjadi pada Dain?" Tanya Nerin. Aleria menjentikkan jarinya dan kemudian sebuah layar muncul didepan Nerin. Layar itu memperlihatkan Dain yang tengah mengamuk dan menyerang teman-temannya.

"Dia Sangat Marah Ketika kau Mati Melindunginya…Untuk Kedua Kalinya Sehingga Membuat Kekuatan Gelap Exe Mulai Merembes Keluar dan Mengendalikan Dain…" jelas Aleria. Nerin terlihat shock, tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.

"Kita Harus Melakukan Sesuatu! Apakah Ada Sesuatu yang Harus Dihancurkan Untuk Menghentikannya? Misalnya, Senjata Dain itu?" Tanya Nerin tiba-tiba. Aleria menggelengkan kepalanya.

"Bukan senjata itu yang membuat Dark Matter mengendalikan Dain, namun perasaan Dain yang marah karena kehilanganmu yang membuatnya seperti itu…" jawab Aleria sambil menunjuk Dain. Nerin mengikuti arah pandangan Aleria dan mendapati Dain yang tengah menangis.

"Kalau Begitu, Apakah Ada cara Lain?" Tanya Nerin lagi.

"hanya Ada satu cara…kau harus kembali hidup dan mengatakan pada Dain bahwa kau baik-baik saja…dan seingatku ada sebuah teknik yang dapat dipakai seorang Mirror User untuk menghidupkan diri mereka saat mereka mati, apa aku benar?" Aleria balik bertanya.

"Ya, aku pernah baca sekali dan mengetahui bagaimana cara menggunakan Skill itu, tapi hanya seorang yang dapat menguasai teknik itu. Selain itu, untuk menggunakan teknik itu, aku harus memiliki Mirror Dust…" gumam Nerin dengan nada sedih.

"kalau begitu, saat ini kau beruntung. Karena…" Aleria merogoh kantung jubahnya dan mengeluarkan sebuah tas kecil seperti Chu-Chu Bag Amy, namun dengan ornament cermin dibagian luarnya. Nerin menatap Aleria tidak percaya.

"itu…Mirror Dust! Bagaimana kau…" Aleria memotong perkataan Nerin.

"sebelum aku mati, tentu saja aku sudah memiliki persiapan tersendiri, kau tahu?" Aleria menarik lengan Nerin dan memberikan tas tersebut pada Nerin.

"sekarang, tunjukkan pengetahuanmu tentang skill-mu itu" Ucap Aleria sambil sedikit melangkah mundur dari Nerin. Nerin mengangguk dan menggenggam tas kecil itu erat-erat. Saat tas itu mulai bercahaya, Nerin membuka matanya.

"aku baru ingat, teknik ini mengharuskan seseorang memanggilku dari sana sebanyak 3 kali…" ucap Nerin. Aleria sedikit terkekeh mendegar Nerin.

"bukankah sudah banyak suara yang memanggilmu? Lebih dari 3 kali malah. tuh, coba dengar…" ucap Aleria. Nerin mempertajam pendengarannya dan samar-samar ia mendengar sebuah suara yang membisikkan namanya.

Suara itu makin lama makin jelas dan Nerin mengenali suara siapa itu.

'Dain…' batinnya. Sekali lagi Nerin menutup matanya dan sekali lagi pula tas ditangannya bersinar. Kali ini, sebuah lingkaran sihir muncul dibawah pijakan Nerin. Nerin membuka matanya tidak percaya.

Aleria tersenyum pada Nerin sambil mengacungakn satu jempolnya.

"kerja bagus, Nerin"

"Terima Kasih, Aleria…" balas Nerin sambil tersenyum.

"hey, sebelum kau pergi, bolehkah aku yang memberikan nama Job terbarumu ini? Seingatku, teknik ini membuat seorang Mirror User naik Job ketingkat selanjutnya dan nama Job ini juga belum ditentukan…" ucap Aleria tiba-tiba. Nerin terlihat berpikir sebentar dan kemudian berkata,

"tentu, kenapa tidak?" jawab Nerin.

"Hm…karena bajumu yang masih penuh noda darah yang terlihat masih segar, kemampuanmu dalam menggunakan cermin, dan skill langka Mirror User yang mengharuskan seseorang dari luar memanggil nama Mirror User tersebut sebanyak 3 kali agar sang Mirror User bangkit kembali…Bagaimana kalau nama Job-mu, Bloddy-Mary?" ucap Aleria kemudian.

"Bloddy-Mary?" Nerin mengerutkan keningnya. Aleria menangguk sambil tersenyum.

"benar sekali! Seperti nama hantu pembunuh yang akan muncul jika kau menyebut namanya 3 kali di depan cermin" jelas Aleria.

"Terdengar mengerikan, tapi aku suka! Baiklah, aku, Nerin si Bloddy-Mary, akan kembali ketempat tman-temanku dan mengembalikan Dain seperti semula!" ujar Nerin bersemangat. Bersamaan dengan itu, beberapa pilar cermin muncul disekitar Nerin hingga menghalangi pandangan Aleria.

"Reborn!" setelah Nerin berterik seperti itu, pilar-pilar tadi terlihat berdetak dan kemudian seperti debu yang tertiup angin, pilar-pilar itu perlahan-lahan menghilang menjadi serpihan kecil, menghilang bersama sang Bloddy-Mary, Nerin.

Aleria tersenyum melihat ini.

"tugasku kali ini…selesai.." gumamnya. Tak lama tubuh Aleria mengeluarkan cahaya. Perlahan namun pasti, tubuh Aleria menghilang menjadi pertikel-partikel cahay yang menghilang di udara. Bersamaan dengan itu, ruangan itu menjadi gelap gulita tanpa ada sedikitpun cahaya.

Back to Reality

Normal POV

"Hosh..Hosh…" Theo mengatur napasnya karena setelah sekian lama berlari menghindari serangan Dain. Kali ini ia berhenti bergerak karena beberapa bagian tuubuhnya mulai cedera berat.

"cih…memang seharusnya aku tidak pergi ke sirkus ini…" Theo berdecih kesal sambil memegangi bahu kirinya yang memiliki luka sayatan yang cukup besar.

Theo mengalihkan pandangannya keseluruh tempat itu dan mendapati teman-temannya yang sudah kehilangan kesadaran mereka. Bahkan seseorang yang mengaku-ngaku seorang Bounty Hunter dari Underworld hanya bisa terduduk lemas dengan darah segar yang mengalir menuruni keningnya.

Kini hanya tersisa Theo dan Dain. Dengan wajah tanpa ekspresi, Dain mendekati Theo perlahan, Dain mengangkat tinggi-tinggi Scythe-nya sehingga membuat Theo tertutup bayang-bayang Scythe Dain yang besar itu, belum lagi Energi gelap yang sangat besar mulai menggerogoti bilah Scythe Dain. Theo menutup mata, bersiap menerima serangan Dain.

Dain mengayunkan Scythe-nya kearah Theo Dan…SYUT! BLAAAAR!

Sebuah ledakan terdengar dan asap putih mulai berterbangan. Dibalik asap itu, terlihat bayangan Dain dan Theo juga seorang gadis dengan sebuah cermin berukuran besar dan beberapa debu yang tampak berkilau melayang disekitarnya yang berdiri di depan Theo seolah melindunginya.

Mata Dain terlihat melebar dan perlahan berubah kembali menjadi warna normalnya. Kini, di depan mata Dain, berdiri seorang gadis pengguna Cermin yang sangat ia kenal dengan penampilan yang berubah.

Gadis ini mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan oleh Aleria dulu.

"Ne…rin?" ucap Dain saat melihat Nerin di depannya, masih bergerak dan masih bernapas. Tak lama, Dain mulai menitikkan air mata. Nerin dengan spontan langsung memeluk Dain, mengusap bagian kepala Dain seperti yang biasa dilakukan para ibu saat anaknya menangis.

"tenang saja Dain, aku baik-baik saja…tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Nerin menenangkan. Perlahan, wujud Dain yang nyaris mendekati Demon mulai kembali ke wujud asalnya. Tangan kanannya kembali melunak dan matanya kembali menjadi berwarna biru laut. Satu-satunya yang tidak berubah adalah rambutnya yang menjadi warna hitam.

Namun, seakan kebahagiaan yang mereka dapatkan itu hanya berumur pendek, tiba-tiba sebuah gerbang dengan relief berbentuk kepala anjing muncul di belakang Nerin. Gerbang itu terbuka dan sebuah tombak besi berukuran cukup besar yang terpatri pada sebuah rantai melesat menuju Dain. Dain yang menyadari ini dengan segera mendorong Nerin hingga menjauhi Dain.

Tentu Theo menyadari hal ini.

"Sial! Sekali Lagi, Dragon-Eyes - …UHG!" Theo yang berniat menahan tombak itu menggunakan api hitamnya, tiba-tiba saja terduduk dan mulai mengeluarkan batuk darah. Selain itu, Blade-Gun yang ia gunakan tadi retak begitu saja dan menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil.

Jarak antara Dain dan tombak itu sudah tidak dapat dihalangi lagi. Tak lama, Dain terlihat terpental dengan sebuah Tombak besar yang terhubung dengan seuntai rantai, yang menembus dari perutnya hingga ke punggungnya.

'Freddy Leonard…karena tugas mu yang tidak tuntas ini, maka Cross Light Dain akan kami ambil paksa dan akan dikurung di Underworld selamanya…' ujar sebuah suara tiba-tiba.

"Hey! Perjanjiannya Kalau Aku Sudah Mati Baru Kau Boleh Mengambilnya, Gardosen!" ujar Freddy dengan kesal. Tak lama, Freddy tampak menyadari sesuatu.

"Cih…sekarang, sudah berapa banyak Kaze'Aze menyuapmu?" Freddy mendecih kesal sambil berusaha berdiri kembali.

'hehehe…kali ini bukan uang. Uang hanya dapat membeli kedudukan, bukan kekuatan…nona Kaze'Aze telah memberikan hal itu kepadaku, hanya sebagai gantinya, Cross Light Dain akan ditarik menuju Hell Bridge dan ditahan disitu…' jawab suara Gardosen. Tak lama, tombak berantai tadi mulai menarik tubuh Dain.

"Pengkhianat! Lalu, bagaimana dengan perintahmu untuk menangkap dan melatih Dain untuk mengendalikan Dark Matter-nya di Underworld!?" ujar Freddy kesal. Suara misterius itu terkekeh.

'itu sudah tidak penting lagi selama aku memiliki kekuatan ini'

"Tidak Akan Kubiarkan! Keluar kau Gardosen! Aku Akan Tetap Membawa Dain ke Underworld dan melatihnya!" ujar Freddy yang saat ini tahu-tahu sudah berdiri didekat Dain. Freddy mengangkat Scythe-nya. Terlihat sekumpulan energy berwarna abu-abu berkumpul diujung Scythe Freddy.

"Underworld Gate!" ujar Freddy yang men-Summon sebuah gerbang berwarna merah. Saat Gerbang itu selesai dipanggil, Freddy langsung melakukan beberapa Hit pada gerbang itu dan menyebabkan gerbang itu hancur (Um..kalau Yang tidak tahu, ini adalah Boss Gate namun dalam versi Freddy. Kalau yang pernah main di mode Champion pasti akan menemukan gerbang ini). Saat gerbang itu hancur, muncullah sosok penjaga Hell Bridge, Gardosen.

Bukan hanya Gardosen, namun beberapa pasukan yang berasal dari Hell Bridge juga ada disana.

"Shit! Kita butuh bantuan! Reina, berikan aku Potion yang tadi!" ujar Theo. Reina mengangguk mengerti dan melemparkan sebotol Potion yang sama dengan yang diberikan Reina tadi.

"Mary Jane, Blue Fairy, aku minta supaya kalian kembali Ke Mansion dan minta tolong pada siapa saja untuk menambah kekuatan tempur kita…" ucap Shera pada pet miliknya dan milik Nerin. Kedua pet itu mengangguk kemudian berlari keluar kembali ke Mansion.

"Now…Shall We Start?"

-To Be Continued-

TVP: fyuh…selesai juga…susah juga nulis cerita kalau data-datanya menghilang…

Nerin: yang penting selesai…

Theo: tapi, ceritanya kok di potong lagi!?

TVP: Hii! Gomen! *sembah sujud* sebenarnya ini Cuma terdiri dari 2 bagian, tapi saya akhirnya memutuskan untuk di-Split lagi jadi 3 bagian…

Dain: begitu…bukan karena Writer Block kan? *menatap curiga*

TVP: *keringat dingan* b-bukan dong! Haha…ah! *ganti topic* btw, sebentar lagi petualangan Theo, Dain, Shera, dan Nerin akan segera berakhir…

Theo: *nyemburin the* apa!? Kenapa!?

TVP: itu karena…saya akan membuat Sequel-nya yang berjudul New Member Adventure Rising!

Dain: WTH! Bakal ada sequel-nya!?

TVP: tapi mungkin penampilanmu di chap 1-2 di situ bakal kurang deh, Dain…

Dain: kenapa?

TVP: ada deh…anyway, thank's for reading my story, now, if the story worth it, Review Please! Every Reviewers will get…some of my Christmas Cookies!