.

Pair : Sesshomaru x Tenten

Genre : Adventure—maybe end with Romance…

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto, Inuyasha by Rumiko Takahashi, but this fic by Izumi Nairi :)

Rating : K+

.


.

Yūyami 夕闇

.

"Selamat pagi, Tenten-chan!"

Gadis bercepol dua itu berbalik, lalu mengernyitkan keningnya sejenak. Sesosok bayangan kehijauan tampak berlari ke arahnya. Terlihat kepulan keabu-abuan di sepanjang jalan yang dilewati sang bayangan hijau. Setelah sadar, gadis itu menghela napas panjang.

'Lee…'

"Tenten?"

Tenten yang masih melihat Lee yang berlari dengan semangat masa mudanya itu menoleh. "Neji?"

"Tsunade-sama memanggil ki" Badan lelaki bermata pucat itu tertabrak sesuatu. Ketika dia menengok, jarak antara wajahnya dengan wajah sang penabrak tak sampai lima senti. Dia langsung menjauh sambil berteriak, "LEE!"

"Maaf, Neji-kun. Aku tadi sebenarnya ingin—"

"Baiklah," sela Neji cepat. Dia kembali menatap Tenten. "Ehm, seperti yang akan kukatakan tadi, Tsunade-sama memanggil kita bertiga. Dia bilang akan ada misi baru untuk kita."

"Misi?" Tenten mengernyitkan kening. "Bukankah Gai-sensei sedang menjalani misi saat ini? Lagipula, aku baru pulang dari misi beberapa hari yang lalu…"

"Jangan begitu, Tenten-chan," tegur Lee. "Sebagai remaja yang penuh dengan semangat masa muda, kita harusnya senang, bangga, dan bersemangat saat mendapatkan misi dari Hokage. Aku begitu bersemangat saat mendengar perkataan Neji-kun, sangat ingin mendengar seperti apa—eh? Tunggu!"

Di pagi yang cerah ini, burung-burung yang berkicau riang di dahan pepohonan di sepanjang jalan menuju gedung Hokage harus menghirup kepulan asap untuk kedua kalinya karena Lee yang berlari kencang dengan penuh semangat masa mudanya sebari berteriak, "Tenten-chan, Neji-kun, tunggu aku!"

"Jangan panggil aku 'Neji-kun' lagi!" balas Neji. Pipinya memerah saat mendengar bisik-bisik dari orang-orang yang dilewatinya.

—"—

Mata kecoklatan itu menatap langit sejenak. Awan seputih kapas yang menghiasi langit biru itu bergerak perlahan, tertiup angin pagi yang berhembus lirih. Mata itu kemudian melihat ke bawah langit. Di sanalah patung wajahnya dibuat, bersanding dengan para Hokage sebelumnya. Bangga, senyumnya terkembang tipis. Tapi dia ingat pesan yang disampaikan Shizune padanya sebelumnya. Dia memutar kursinya perlahan, lalu menatap ketiga remaja yang berdiri di depan mejanya.

"Aku mendapatkan pesan pagi-pagi sekali hari ini," ujarnya memulai pembicaraan. "Dan aku teramat sangat terkejut dengan isi pesannya."

Hening sejenak. Ketiga shinobi itu menatap Hokage mereka lekat-lekat, begitu juga dengan Shizune yang sedari tadi hanya menggendong Tonton di dekat meja Hokage.

"Kepala Desa Murodo mengirimkan pesan pada kita, bahwa desanya diserang," lanjutnya. "Tapi yang aku heran adalah, penyerangannya bukan seperti sebuah desa yang menyerang desa lainnya dengan membawa sepasukan ninja yang kuat. Warga desa itu seperti diteror, karena mereka—si penyerang—hanya mengambil gadis yang masih remaja dan anak-anak kecil."

Kening Lee dan Tenten berkerut, sementara Neji masih menatap Tsunade datar.

"'Mengambil'? Apa kau baru saja mengatakan mereka 'diambil'?" tanya Neji. Meski wajahnya sama datarnya dengan saat dia masuk ke ruangan ini, tak ayal ada rasa bingung sekaligus was-was di nada bicaranya kali ini.

Tsunade mengangguk. "Ini yang membuatku bingung. Sang musuh sama sekali tidak melakukan penyerangan secara terang-terangan, melainkan diam-diam mengambil warga desa untuk dijadikan sandera—mungkin. Hal ini tentu membuat warga lainnya menjadi panik dan khawatir."

"Kepala desa sudah melakukan penjagaan sebelumnya. Dia menyuruh pada pemuda dan bapak-bapak di desa itu untuk berjaga pada malam hari. Di pinggiran desa, terdapat beberapa pos-pos penjagaan yang anggotanya bergilir setiap malamnya." Shizune ikut menambahkan. "Tapi tetap saja, masih ada orang yang menghilang."

"Tsunade-sama, mungkin saja ini cara musuh agar bisa menyerang desa itu dengan mudah. Pertama-tama, mereka membuat warganya takut, kemudian menyerang tiba-tiba," ujar Tenten memberi opini. "Atau mungkin sebagai pengalihan bagi desa yang lebih besar."

Tsunade mengernyit. "Maksudnya?"

"Musuh mungkin sudah mengira kalau desa yang kecil seperti itu akan mengirimkan pesan berisi permintaan bantuan kepada desa yang lebih besar, seperti Konoha. Karena mereka melakukan hal yang tidak terduga—seperti yang dikatakan Tenten tadi, yaitu melakukan penyerangan—perhatian Konoha akan teralih karena dikhawatirkan akan membuat masalah semakin rumit, atau bahkan menyebabkan peperangan besar." Neji menghela napas, kemudian melanjutkan, "Dan di saat-saat seperti itu, mereka akan langsung menyerang desa Konoha."

"Mungkin saja kau be—" Ucapan Tsunade terhenti begitu saja saat merasakan aura membara dari lelaki berpakaian serba hijau yang kali ini menatap Neji dengan berapi-api.

"Neji-kun memang jenius," puji Lee. "Tapi aku tidak akan kalah, aku akan memberikan pendapatku!"

Semua yang berada di ruangan itu hanya menatap Lee bosan.

Shizune, dengan senyum yang dipaksakan selembut mungkin, berkata, "Kau tida—"

"Begini, mungkin saja musuh itu hanyalah orang dalam yang ingin melakukan kudeta, kan? Dengan kepanikan warga, dia akan menjatuhkan kepala desa dan berpura-pura menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri. Dan dia akan mendapat perhatian warga sebagai calon kepala desa yang bertanggung jawab," ujar Lee bangga. Tangannya terkepal di dada, kemudian dia berteriak lantang, "Lihatlah aku Gai-sensei! Muridmu yang penuh dengan masa—"

"Hentikan, Lee!" seru Tenten sambil menyumpal mulut Lee dengan kertas gulungan di kantong ninjanya. Dia kembali menatap Tsunade serius, lalu melanjutkan, "Jadi, kapan kami bisa memulai misi ini, Tsunade-sama?"

Neji menoleh ke arah Tenten, kemudian menatap Hokagenya. "Kau tidak akan menyuruh Tenten ikut serta dalam misi ini, bukan?"

"Memangnya kenapa?" tanya mereka semua bersamaan. Tonton hanya menatap Neji ingin tahu.

"Karena Tenten perempuan," jawab Neji, nadanya seolah-olah mengatakan bahwa itu hal yang tidak perlu ditanyakan. "Musuh mengincar—'mengambil'—perempuan dan anak-anak. Dan Tenten pasti akan jadi salah satunya kalau anda menyuruhnya ke desa itu. Itu hanya menambah jumlah korban yang tidak perlu, Tsunade-sama."

"Di desa itu, tak ada satupun shinobi, maka dari itu mereka dengan mudah mengambil perempuan dan anak-anak," jelas Hokage berambut pirang itu. Matanya beralih menatap Tenten penuh makna. "Dan karena Tenten-chan adalah kunoichi yang kuat, maka musuh tak akan semudah itu 'mengambil'-nya. Benar, kan?"

Tenten mengangguk. Dia menepuk pundak Neji, lalu berkata, "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagipula, ada kau dan Lee."

"Benar itu, Neji-kun. Tenten-chan pasti akan aku lindungi dengan penuh semangat yang membara ini," kata Lee percaya diri. "Karena Gai-sensei mengajariku untuk melindungi anggota tim dengan penuh semangat dan tanggung jawab yang tinggi."

Neji hanya diam, lalu sesaat kemudian berkata dingin, "Jangan panggil aku 'Neji-kun' lagi."

Gadis berambut coklat itu hanya tertawa. Dia bertanya pada Tsunade, "Kapan kami bisa memulai misinya?"

"Hari ini. Karena aku khawatir kalau terlalu lama, bisa-bisa semakin banyak gadis dan anak-anak yang disanderanya," kata Tsunade serius. "Hyuuga Neji akan menjadi taichou dari tim ini."

Lelaki berambut panjang itu mengangguk.

"Baiklah. Hyuuga Neji, Rock Lee, Tenten, kalian kutugaskan untuk menghentikan teror—kalau bisa kubilang begitu—yang ada di Desa Murodo."

"Baik!" seru mereka bertiga bersamaan.

—"—

"Lihatlah langit itu, Jaken-sama," tunjuk perempuan kecil berambut kecoklatan kepada makhluk yang berjalan di sampingnya. "Bukankah itu mirip dengan bentuk beruang?"

Makhluk yang dipanggil gadis itu mendongak. "Sama sekali tak mirip."

Gadis itu mengamati awan yang ditunjuknya sekali lagi. "Mirip sekali, Jaken-sama."

Seorang pemuda yang berjalan paling depan sendiri hanya terdiam. Tak memedulikan perdebatan kusir antara Rin dan Jaken yang hampir setiap hari dia dengar. Telinganya yang panjang sudah biasa mendengarkan kebisingan yang dibuat mereka. Malahan, kadang-kadang dia tidak bisa menyembunyikan senyum yang teramat sangat tipis kala melihat Jaken yang frustasi dengan keceriaan Rin. Siluman pendek itu memang tidak terlalu suka kalau Rin selalu bersemangat.

"Kita akan ke mana, Sesshomaru-sama?" tanya Rin sambil menarik-narik lengan bajunya.

"Jangan menanyakan hal seperti itu, Rin!" tegur Jaken sembari memukul kepala Rin dengan tongkatnya. Matanya beralih menatap tuannya. "Sesshomaru-sama, maafkan Rin yang bawel dan cerewet ini."

"S-sakit, Jaken-sama," keluh gadis kecil itu sambil mengelus kepalanya.

Sesshomaru tak menggubris mereka berdua. Dia masih terus berjalan, menikmati hembusan angin pagi yang menyegarkan dan nyaman. Meskipun tidak terlihat benar-benar seperti orang yang sangat menikmati hidup dengan angin yang menyenangkan ini, namun Jaken dan Rin yakin kalau mata tuannya yang jernih mampu menggambarkan kalau hari ini dia sedang dalam suasana hati yang baik.

Tiba-tiba, di depan belokan yang akan dilewati mereka bertiga, muncul dua orang gadis. Keduanya memiliki rambut hitam yang indah, tergerai panjang sampai menutupi punggung mereka. Salah satu gadis itu memakai kimono berwarna ungu, sementara yang lainnya mengenakan kimono berwarna merah muda. Salah satu di antara mereka memiliki mata berwarna biru yang teramat sangat terang.

"Lihat, Zu-chan, kupu-kupunya indah sekali!" puji perempuan dengan kimono warna merah muda itu. Matanya yang berwarna hitam menatap sepasang kupu-kupu berwarna kuning yang seolah menari di atas bunga merah di dekat mereka.

"Benar!" seru perempuan yang satunya lagi dengan ceria. Tangannya memetik bunga yang berada di dekat kupu-kupu itu, kemudian menyelipkannya di telinga kanannya. "Lihat, apa aku terlihat cantik dengan bunga ini, Kiku-chan?"

Kiku mengangguk. "Tapi kurasa tidak cocok dengan bajumu." Matanya kembali menatap ke depan, kemudian terbelalak.

"Ada apa?" Temannya melepaskan bunga dari rambutnya, lalu ikut memandang ke depannya. Langkahnya ikut terhenti. "Eh?"

Sesshomaru balik menatap kedua gadis itu, namun langkahnya tidak berhenti seperti remaja di hadapannya. Dia terus berjalan, diikuti oleh Jaken dan Rin, sampai akhirnya dia melewati kedua gadis itu.

"Tampan," bisik gadis berkimono merah muda itu lirih, sementara temannya hanya mengangguk beberapa kali.

Waktu seolah berhenti. Sesshomaru merasakan hal yang ganjil saat dia berada di samping kedua gadis itu. Matanya melirik ke arah mereka sedetik, lalu melanjutkan langkahnya. Dia tak berusaha membiarkan perasaan itu menghilang, tapi juga tidak terlalu memikirkannya. Namun, kali ini, dia menyuruh Rin dan Jaken untuk berjalan di depannya.

"T-tapi…" Rin sebenarnya ingin menolak, karena merasa tidak enak berjalan mendahului tuannya. Namun akhirnya dia menurut setelah ditatap tajam oleh Sesshomaru.

"Sesshomaru-sama," panggil Jaken. Tongkat yang dipegangnya sedikit bergetar.

Lelaki dengan bulan sabit di keningnya itu mengangguk sekali.

.

To be continue…

.


.

Author's note: Moshi-moshi… ini fic pertamaku yang crossover, sekaligus fic yang ada tokoh dari Inuyasha. Entah kenapa pingin buat yang ada Sesshomaru-nya, tapi sudah terlanjur kepikiran… Makanya dibuat sekalian (^,^)

Oh, ya, mohon maaf kalau ada kesalahan, baik penulisan maupun isiagak gugup waktu mau publish-nyakalau ada, segera beritahu, ya… (^^)

Kriitik, saran, dan komentar diterima dengan senang hati… (^_^)

Arigato gozaimashu…

.