Tittle: Feel 'be Mine'

Chapter08

Author:: yongie13

Pair: YeWook

Desclaimer: SJ! They're MINE!

SM FAMILY! They're my family

And

This is fanfic, real have me!

Warning!: genderswitch, gaje, abal, miss typo(s), alur kek kereta listrik,

Don't Like Don't Read

And

Don't copy my fanfic please :DD

Star story!


Mata itu begitu sayu, di bawah langit yang sedikit meredup kau masih menyempatkan diri untuk tetap berusaha walau kau menyadari sesuatu, kau kelelahan. Yahhh kau lelah! Bahkan kau sungguh lelah untuk berfikir bagaimana semua ini terjadi? Kenapa cerita ini tidak sesuai dengan harapanmu? Dan kenapa semuanya makin menyulitkanmu?

Jawaban atas pertanyaanmu ada pada dirimu sendiri!


Sejak kecelekaan itu Yesung tidak melepaskan pengawasannya pada Yoona, walau bagaimanapun namja tampan itu masih bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Bagaiamana tidak, Yoona ditabrak karena kesalahannya meninggalkan yeojya cantik itu sendirian di trotoar jalan hanya untuk membeli boneka jerapah karena tiba-tiba mengingat Ryeowook.

Bahkan ketika bersama yeojya-mu kau masih mengingat 'milik'mu itu, walau bukti yang tidak terlalu istimewa tapi kau menyadari perasaanmu saat ini, kau terlihat kacau Yesung-ah.

Degh

Yesung membulatkan matanya memandang sosok malaikat yang kini masih di kelilingi dan di tempeli beberapa selang yang membantunya bertahan untuk tetap melihat dunia yang begitu indah ini. Mata obsidian-nya memandang lekat pada jari-jari mungil Yoona yang sedikit bergerak.

Teettttttttttttttt

Dengan gerakan cepat ia memencet tombol darurat yang tidak jauh dari sisinya berdiri.

"Uisanim! Cepatlah datang," mohonnya masih memfokuskan diri pada Yoona.

"Chagiya? Kau sadar? Aku disini, cepatlah buka matamu," bisik Yesung tepat di telinga kanan Yoona. Menimbulkan sedikit reaksi positive pada yeojya cantik itu.

.

Ý≠

.

Ryeowook pov

"Chagiya? Kau sadar? Aku disini, cepatlah buka matamu," walau sedikit berbisik aku masih bisa dengan jelas mendengarnya.

'oppa? Kau melupakan aku?'

Matahari kini semakin menampakkan dirinya, terlihat seorang uisanim dengan beberapa suster berjalan cepat kearahku yang kini berdiri tepat di depan pintu rawat inap milik Yoona. Mereka datang pasti karena Yesung-oppa yang memanggilnya, sangat terlihat khawatir ketika ia memencet tombol darurat itu dengan begitu kuat.

Kini kulangkahkan kakiku menuju tempat tunggu di depan kamar Yoona. Tempatku menunggu Yesung-oppa beberapa hari lalu. Ini sudah hari ke tiga Yoona belum juga sadarkan diri dan itu artinya ini sudah beberapa hari sejak Yesung-oppa melupakan aku.

Harusnya saat itu aku tidak mengatakan benci dan dengarkan penjelasannya, harusnya semua kejadian ini tidak seperti ini, harusnya aku masih bisa tertawa berdua dengannya.

Tertawa berdua? Yoona kecelakaan karena berpacaran dengan Yesung-oppa. Kalau aku yang berada di ruangan itu sekarang, apa oppa akan menghawatirkan aku seperti itu?

Kutundukkan kepala mungilku untuk mencoba mengerti maksud dari banyak pertanyaan yang mencoba melesak dalam otakku.

"Makanlah, kau meninggalkan rumah tanpa makan. Apa kau mau membuat appa menghawatirkan-mu?"

"'Gomawo appa," kuukir sebuah senyuman untuk namja tampan yang kini selalu bisa menahan dan memberikanku kebahagiaan lebih berasama umma.

"Bread boy?" tanyaku saat melihat appa kembali menyerahkan bread dengan rasa capoccino yang sangat kentara.

"Ne, hanya itu yang appa temukan di mobil saat menyusulmu tadi," ucap appa kemudian duduk di sebelahku masih mengelus pelan kepala mungilku.

"Kau tidak apa sendirian di sini? Apa kau memiliki masalah dengan Yesung-ie?" tanya appa padaku tiba-tiba.

"…" apa yang harus kujawab?

"Kalau kau ada masalah dengan Yesing-ie, cepat selesaikan ne? hmmm appa harus kembali ke kantor, kau jaga diri ne? jangan berlama-lama di rumah sakit. Kau bisa tertular sakit nantinya," pesan appa membuatku hanya menahan tawa. Sejak kembali appa menjadi sedikit cerewet. Pada dasarnya aku memang tidak mengetahui secerewet apa appa-ku ini dulu. Hanya saja umma selalu bilang appa itu namja yang baik dan selalu bisa menenangkan sekitarnya. Appa akan melakukan apa saja untuk melindungi orang disekitarnya.

"Jaga dirimu."

Chup

Appa mengecup sekilas keningku lalu benar-benar berjalan meninggalkan aku sendirian lagi di lorong rumah sakit. Tidak berapa kemudian dokter dan beberapa suster yang tadi memasuki ruang inap Yoona keluar.

"Gomawo uisanim," ucap Yesung oppa yang ikut keluar mengantarkan pegawai rumah sakit itu.

"Oppa?" panggilku pada sosok namja tampan yang kini berbalik menatapku. Menatapku dari bawah sampai atas.

Kenapa? Ada yang salah? Aku tidak melakukan apapun hari ini.

Aku hanya menggaruk kepala bagian kepalaku saat Yesung-oppa tidak berhenti mengamatiku, sejujurnya aku merasa sedikit risih.

"Apa lagi? Kau sudah harus sekolah," ucapnya sedikit ketus padaku. Membuatku mau tidak mau menundukkan kepala. Bahkan sampai saat ini aku masih merasa bersalah dan demi apapun itu, aku menyesal!

"Kembalilah kesekolah, kau juga masih harus membantu di white café," sekali lagi ia bicara lalu masuk dan menutup pintu. Meninggalkan aku sendirian 'lagi' di koridor rumah sakit.

BLAM

"Aku kesini membawakan Yoona-ssi bunga," ucapku yang tadi mendobrak pintu kamar inap Yoona. Membuat Yesung-oppa berbalik dan menatapku dengan tatapan dinginnya.

'Demi tuhan, dapat dari mana aku keberanian untuk mendobrak pintu ruangan ini,' batinku sedikit takut.

"Tidak perlu, Jung-ssi sudah menggantinya tadi. Cepatlah pergi sekolah," perintah Yesung-oppa padaku.

"Jung-ssi?"

"Saudara Yoona, ibu-nya juga sudah dihubungi. Kemungkinan dua hari lagi ibu-nya akan tiba di sini," jelas Yesung-oppa kemudian kembali berjalan dan duduk di sebelah tempat Yoona terbaring.

"Makanlah, oppa belum makan kan?" kali ini kusodorkan bread boy yang tadi diberikan appa untukku. Terlihat Yesung-oppa menatapnya sedikit bingung.

"Gomawo Wook-ie."

Demi apapun itu! Ini pertama kalinya Yesung-oppa tersenyum padaku setelah kejadian beberapa hari lalu.

"Yoona-ssi, akan kupastikan aku kembali dan mengunjungimu lagi, cepatlah buka matamu ne?" bisikku di telinga kanan Yoona kemudian berjalan keluar setelah berpamitan pada Yesung-oppa.

Ryeowook pov end


Masa lalu tidak bisa diulang, hanya bisa di kenang! Tapi kau bukan masa lalu, kau adalah masa kebahagiaan, akan selalu ada untuk sebuah kebahagiaan yang sempurna.

Berhentilah menangis karena rasa sedih, cukup kau menangis karena marah. Karena hidup ini untuk sebuah kebahagiaan.


Eunhyuk menatap sosok Donghae yang kini tersenyum lembut sembari memamerkan kunci mobilnya. Namja ikan itu terlihat sangat tampan dengan pakaian sedikit rapi dari biasanya, jazz biru tua yang biasanya tidak dipakainya kini di gunakan dengan sangat rapi. Menciptakan kesan bijaksana pada wajah childish-nya.

"Kenapa ada di sini? Bukankah kau harus ke café Hae-ah?" tanya Eunhyuk bingung karena Donghae berdiri di pintu ruang latihannya.

"Menjemputmu, tidakkah kau mau ke café? Kami membutuhkan pegawai tambahan Chagiya…" ucap Donghae yang kini berjalan mendekati Eunhyuk.

"Aku masih harus latihan Hae-ah, lusa aku sudah harus mengikuti lomba itu," jelas Eunhyuk sedikit merasa bersalah.

"Hng? Aku tidak peduli! Heii aku pinjam ketua kalian satu hari ne?" teriak Donghae pada beberapa anggota club dance.

"Gyaaaaa, yak! Apa yang kau lakukan Hae… turunkan aku, kau membuatku malu Hae-ah," teriak Eunhyuk sembari memukul-mukul punggung Donghae.

Bagaimana tidak memukul, yeojya cantik itu kini di gendong layaknya karung beras oleh Donghae, meninggalkan ruang club dance dengan wajah aneh milik anggota club tersebut.

"Yakkk tuhan, kau benar-benar membuatku malu saja," omel Eunhyuk pada Donghae yang kini masih memamerkan deretan gigi putihnya. Namja itu kini memasangkan selt belt milik Eunhyuk dan melajukan mobil hitamnya menuju white café.

"Eonnie tidak apa?" tanya Ryeowook yang sudah ada di bangku penumpang sejak tadi.

"Hng? Gwenchanayo Wook-ie, eonnie tidak apa, dan bagaimana hubunganmu dengan Yesung-oppa?" tanya Eunhyuk membuat Ryeowook hanya menahan senyum kecilnya.

"Aku pikir tidak ada hubungan apa-apa, dan aku tidak ingin merusak hubungan Yesung-oppa dengan yeojya sebaik Yoona," jelas Ryeowook masih mencoba tersenyum sebaik mungkin.

"Kau menggenal Yoona dengan sangat baik ne?" tanya Eunhyuk yang kini menghadap Ryeowook.

"Ne, saat upacara pertama, Yoona adalah yeojya pertama yang mengajakku bicara dan dia juga yang membantuku pada awal tahun ajaran sebelum aku berkenalan dengan Kibum," jelas Ryeowook yang mencoba mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

.

Ý≠

.


Aku mencintaimu bukan seperti aku mencintai hujan. Aku mencintaimu dengan semua kekagumanku dan aku tidak akan lari ketika kau menghampiriku. Katakan sekali lagi karena aku percaya kau mencintaiku, sama hal-nya aku sendiri.


"Eonnie? Kenapa melamun lagi?" tanya Luna yang kini kembali berkunjung ke white café dan duduk di sebelah Ryeowook.

"Anio, hanya di sini ada pegawai baru lagi ne?" tanya Ryeowook yang menunjukan jarinya pada beberapa orang yang kini sibuk melayani beberapa tamu.

"Eonnie tidak kenal? Bukankah mereka juga anggota club music yang err wajib bekerja parti time?" jelas Luna kemudian. Ryeowook hanya menggelengkan kepala mungilnya lalu menepuk pelan kepala Luna.

"Mau bernyanyi bersama eonnie?" tawar Ryeowook membuat Luna memasang senyum sempurnanya.

"Taeyeon-eonnie, kemarilah dan nyanyikan aku lagu Twinkle," perintah Luna melambaikan tangannya pada sosok yeojya cantik yang kini menautkan alisnya sedikit kesal karena aktivitasnya terganggu oleh bocah kecil itu.

"Pergilah dan turuti perintah tuan putri itu, noona kan sudah senior dan biarkan beberapa anggota baru melakukan pekerjaan noona," ucap Kyuhyun yang berdiri di meja kasir dan mendorong pelan tubuh mungil Taeyeon.

"Dasar iblis, dimana-mana mempunyai pemikiran yang sama," cibir Taeyeon hanya membuat Kyuhyun menahan tawanya dan memamerkan cengiran halusnya kearah Luna.

"Baiklah tuan putri, kau mau aku melantunkan lagu apa heoh?" ucap Taeyeon yang kini berdiri di sebelah grand piano Ryeowook.

"Twinkle," ucap Luna dengan begitu semangat "Oh ayolah eonnie, Henly-eonnie bisa memainkan alunan biolanya, dan Ryeowook-eonnie juga memintaku kan?" rayu Luna menarik kemeja yang digunakan Ryeowook membuat yeojya cantik itu hanya menggaruk kepala bagian belakangnya bingung.

"Aku tidak terlalu fasih karena itu lagu cukup baru," jujur Ryeowook.

"Aku bantu ne Wook-ie?" Taeyeon duduk di sebelah Ryeowook dan mengambil posisi memainkan grandpiano.

Aju orae jeon neoreul boatdeon

Geu neukkimeul gieokhe nan

Neoreul alatdeon nareul alatdeon

Geu shijeoli saenggakna

Neoreul dalgo shipdeon eouligo shipdeon

Ganjeolhaetdeon shiganeul

Nan dashi saenggakhae

Da jinagan hannat chueok bboningeol

And, Can you smile?

Niga weonhajana

Niga barajanha

Nae mam maneuroneun

Neol jabeul suga obtneungabwa

_can you smile -infinite

"Stop!" teriak Luna yang kemudian hanya mendapat cengiran kecil Taeyeon.

"Kenapa liriknya berubah?"

"Oh, sebenarnya eonnie juga tidak tahu musiknya, makanya eonnie mainkan saja lagu lain, hehehe," Luna hanya memasang tampang kesalnya karena tidak mendapatkan keinginannya.

"Sebaiknya kau diam dan jangan main perintah ne tuan putri kecil?" ucap Taeyeon yang kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Henry memberi perintah untuk melanjutkan pekerjaannya dengan Ryeowook. Melupakan gadis kecil yang kini masih mem-pout bibirnya kesal.

.

Ý≠

.

Percaya padaku? Kau sudah harus mengakhiri semuanya ini!

Ryeowook mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur, pikirannya masih sedikit keluar dari kamarnya. Yeojya cantik itu menatap meja belajarnya.

"Eonnie? Apa yang harus kulakukan? Kenapa dua hari ini eonnie tidak bisa dihubungi dan kenapa eonnie tidak datang ke café?" tanya Ryeowook pada figura photo Sungmin.

"Chagiya? Umma boleh masuk?"

"Ne umma," sahut Ryeowook yang kemudian membuat Leeteuk melangkahkan kaki mungilnya mendekati Ryeowook. Duduk dan sedikit mengelus pelan kepalanya.

"Kau ada masalah? Mau bercerita pada umma?"

Mungkin kali ini Ryeowook akan sedikit membongkar rahasianya pada sang umma, meminta bantuan atau sekedar pertolongan kecil tentang apa yang harus di lakukannya.

Ryeowook menganggukkan kepala mungilnya menandakan ia mengakaui dirinya memiliki masalah.

"Kalau Yesung-oppa memiliki yeojyachigu dan yeojya itu bukan aku, apa yang harus aku lakukan?"

"Mwo? Yesung-ie benar-benar memilki yeojyachigu?" tanya Leeteuk memastikan.

"Ne umma."

"Apa yang kau pikirkan tentang yeojya itu?"

"Cantik, baik dan sedikit kasihan karena appa-nya meninggal dan umma-nya bekerja di luar negeri. Di sini Yoona hanya tinggal bersama sepupunya saja," jelas Ryeowook menatap Leeteuk.

"Jadi namanya Yoona?" Ryeowook hanya menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Leeteuk.

"Apa dia juga mencintai Yesung-ie sepertimu?" tanya Leeteuk sedikit tersenyum pada Ryeowook.

"Mungkin umma, perasaan orang siapa yang tahu," ucap Ryeowook sedikit menaikkan alis dan bahunya.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau pastikan Yesung sendiri? Dalam sosok JongWoon, Yesung mengatakan mencintaimu seutuhnya. Umma mengerti alasannya Chagiya, Sungmin bercerita pada umma sebelum ia kembali ke asrama sekolahnya kemarin," jelas Leeteuk pada Ryeowook.

"Mwo? Jadi Min-ie eonnie kembali ke asrama?"

"Ne, Heechul-ahjumma yang memerintahkannya kembali ke asrama untuk menghindari tindakan aneh Sungmin," jelas Ryeowook kemudian.

'pantas dia menghilang,' batin Ryeowook mengerti.

"Hng… Wook-ie boleh tahu apa yang dikatakan Sungmin-eonnie pada umma?" tanya Ryeowook sedikit ragu.

Leeteuk hanya memamerkan senyumnya dan mengelus pelan rambut ikal Ryeowook. Memberikan sentuhan hangat seorang umma pada aegya-nya.

"Sungmin-ie bilang Yesung melakukan itu karena dia mencintaimu Chagiya, sejak dulu kau sendiri yang mengatakan kesal dengan Yesung karena sering di kerjainya, tapi nyatanya kau suka berada dekat dengannya. Apa yang akan kau lakukan ketika saat itu Yesung bilang yang sebenarnya dan tidak mengaku sebagai sosok JongWoon?" tanya Leeteuk membuat Ryeowook membulatkan matanya lucu karena tidak mengerti.

"Mungkin aku akan menjauhinya."

"Ne, itulah yang tidak di inginkan namja itu, karena terlalu mencintaimu dia tidak ingin hal itu terjadi. Bersama denganmu dengan cara apapun akan dilakukannya…"

"Jadi aku yang salah?" potong Ryeowook membuat Leeteuk mencoba menahan tawanya.

"Tentu tidak ada yang salah, hanya ada salah paham ne? sekarang kau tidur dan besok kau bisa menyelesaikan masalahmu, perbaiki hubunganmu karena umma tidak ingin aegya umma menjadi seperti mayat hidup saja."

.

Ý≠

.

Ryeowook berlari di koridor rumah sakit setelah mendapat izin kerja dari Zhoumi sore ini, sebuket bunga kodemori yang sengaja di petiknya di halaman kecil rumahnya tertata begitu rapi karena ia membuatnya dengan sepenuh hati.

"Annyeong," sapa Ryeowook pada sosok Yesung yang kini duduk di sebelah Yoona.

"Wook-ie? " tanya Yoona yang ternyata sudah sadar.

"Ne," sebuah senyum sempurna tertata begitu rapi di bibir milik Ryeowook. Meninggalkan kesan canggung yang kini dialaminya.

"Aku membawakanmu bunga sore ini," jelas Ryeowook setelah mendapat persetujuan Yesung untuk masuk.

Sedikit percakapan dilakukan Ryeowook dan Yoona tanpa melupakan Yesung. Ketiganya terlihat sedikit canggung saat bicara, masalah pribadi mungkin menjadi masalah utama di ruangan ini. Begitu juga beberapa hari setelah itu, dan Ryeowook belum juga menyelesaikan masalahnya dengan Yesung.

"Annyeong, mianhae tuan, noona. Tapi Yoona-ssi harus melakukan therapi sore ini," seorang suster masuk dan segera mendekati Yoona. Yesung menggeser tempat duduknya dan membiarkan Yeojya paruh baya itu memeriksa dan membantu Yoona untuk turun menuju kursi rodanya.

"Apa sore ini aku bisa membantu suster? Ini teraphi pertama Yoona," tanya Yesung pada suster tersebut.

"Anio oppa, kau temani Ryeowook ne?" pinta Yoona pada Yesung.

.

Ý≠

.

Ketika sore menjelang apa yang akan kau lakukan saat pikiranmu kembali pada rasa bersalah? Ucapan itu memang harus dijaga, jangan menebak kalau kau tidak bisa menerima hal negative.

Ryeowook melangkahkan kakinya untuk sejajar dengan langkah Yesung yang sedikit lebar. Hari ini sama seperti biasanya, sejak umma Yoona datang Yesung sering menemani Ryeowook hanya untuk berjalan di taman rumah sakit ketika Yoona menjalani teraphi-nya. Hanya saja tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya berjalan tanpa tujuan.

Dugh

"aw," Ryeowook sedikit meringis kecil ketika tidak sengaja kakinya tesandung dahan kayu.

'tidak menolongku?' batin Ryeowook menatap punggung Yesung yang masih berjalan lurus.

Bukh

Kali ini yeojya manis itu mendudukkan dirinya di bangku taman rumah sakit. Tidak jauh dari tempat Yoona manjalani teraphi-nya. Terlalu lelah dan terlalu kesal dengan sikap dingin Yesung belakangan ini membuat yeojya manis itu kini mem-pout bibirnya.

'sakit,' rintih Ryeowook mencoba membuang debu yang menempel di lutut kakinya.

Tapi hatinya jauh lebih sakit ketika Yesung sama sekali tidak berbalik dan menyadari dirinya.

"Oppa tidak menolongku heoh? Meninggalkan aku sendirian,,, umma… Wook-ie takut kalau seperti ini sampai selanjutnya," gumam Ryeowook kini menatap tanah yang sedikit basah dengan air matanya.

Sedikit lama Yesung melamunkan masalahnya dengan Ryeowook, namja itu ingin mencoba tapi tidak pernah bisa, sampai ia menyadari Ryeowook tidak lagi berjalan di sampingnya.

"Wook-ie?" kaget Yesung ketika berbalik dan tidak menemukan sosok Ryeowook di sebelahnya.

Yesung menautkan alisnya ketika melihat Ryeowook duduk dan menundukkan kepalanya menatap tanah.

Namja tampan itu kini berjalan mendekati Ryeowook dan betapa kagetnya ia ketika menyadari punggung Ryeowook yang sedikit bergetar dan ibu jari kanan Ryeowook yang mengelus kuku ibu jari kirinya. Posisi ketika Ryeowook sangat ketakutan, sejak kecil Yesung sangat hapal gerakan sederhana itu.

"hahhhhh," Yesung menghela nafasnya ketika menyadari lutut Ryeowook yang terluka.

Dengan segera namja tampan itu berjongkok sambil mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan luka Ryeowook.

"Awww," Ryeowook menggigit bibir bawahnya menahan sakit ketika sentuhan Yesung dirasa menyakitinya.

"Sakit? Oppa bawa kau masuk dan kita obati dengan suster ne?" satu kalimat pertama setelah beberapa hari ini. Membuat Ryeowook menatap Yesung tidak percaya, yeojya manis itu mendongakkan kepalanya menatap Yesung yang kini berdiri di hadapannya.

"Oppa masih marah padaku?" tanya Ryeowook dengan mata sayu-nya "Mianhae," sambung yeojya manis itu kemudian menundukkan kepalanya, mencoba untuk berdiri mensejajarkan posisinya dengan Yesung.

"Anio, oppa tidak marah hanya…"

"Membenciku?"

Degh

Yesung menghentikan kata-kata penolakan yang ingin keluar dari bibirnya ketika melihat Ryeowook memotong perkataannya dan air mata yang membasahi pipi tirusnya.

Baru kali ini namja tampan tu memperhatikan tubuh Ryeowook setelah beberapa hari sibuk mengurus Yoona. Sangat terlihat kurus dari biasanya, matanya yang indah kini terlihat sayu, kulit putihnya terlihat putih pucat, pipinya yang sedikit chubby terlihat begitu tirus.

"Wook-ie?" Yesung mengarahkan tangannya untuk menghapus air mata Ryeowook.

"Kalau aku yang ada di posisi Yoona, oppa menghawatirkan aku? apa oppa tetap membenciku?"

Degh

Gerakan yang tadi dibuat Yesung berhenti ketika yeojya manis itu dengan lancarnya menanyakan hal yang sudah pasti Yesung akan sangat menghawatirkannya. Karena bagi Yesung, Ryeowook adalah sebuah harta yang harus di jaga.

Chup

Ciuman itu berlangsung singkat, bukan Yesung yang memulai. Tapi salahkan namja tampan itu yang hanya diam memandang Ryeowook, membuat yeojya manis itu dengan sangat sengaja mencium bibir plum itu.

"Mianhae."

Yesung hanya mematung merasakan sentuhan hangat yang baru saja hilang dari dirinya, memandang tubuh mungil yang kini berlari meninggalkannya setelah apa yang dilakukannya.

'Wook-ie ppabo! Kau pasti akan di anggap aneh oleh Yesung-oppa!' gumam Ryeowook masih mencoba menjauhi rumah sakit.

'aku bersumpah tidak akan menemui Yesung-oppa lagi, aku terlalu takut untuk hal ini,' batinnya yang kini masih berlari menjauh.

.

Ý≠

.

Tanpa Yesung sadari tiga pasang mata kini memperhatikannya dari sudut yang berbeda. Dua pasang mata itu kini saling bertatapan, mencoba tersenyum sebisa mungkin. Sedangkan sepasang mata lainnya, mencibir apa yang dilakukan Ryeowook barusan, yeojya itu terlalu berani untuk melakukan apapun.

'Kim Ryeowook, kau itu belum merasakan sakit yang sesungguhnya,' gumam yeojya cantik yang kini berdiri di koridor rumah sakit memperhatikan apa yang dilakukan Yesung dan Ryeowook tanpa mendegar apa yang mereka katakan.

.

Ý≠

.

"Yun? Tidak masalah kau melakukan ini tanpa sepengetahuan Yesung?" tanya Jaejoong memastikan tingkah Yunho yang kini tersenyum evil pada sebuah surat yang baru saja di tanda tanganinya.

"Ayolah Boo, ini hanya sebuah perjanjian lamaku dengan Kangin saja. tidak salahkan kalau kami mengikat perjanjian kami?" Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah chuin-nya itu.

"Kalau Yesung tidak terima bagaimana? Sekarang dia memiliki yeojyachigu Yun," jelas Jaejoong memilih duduk di sebelah Yunho. Namja bermata musang itu kini sedikit menggeser posisi duduknya.

"Kau yakin dia bisa melakukannya Jae? Kau tidak pernah ingat kegagalan aegya-mu sendiri?" Yunho mengangkat alisnya diikuti dengan sebuah seringai kecil di bibirnya.

"Ckckckck pokoknya aku tidak ikutan Yun."

"Tapi kau senang kan?" goda Yunho pada Jaejoong.

"'Yahhh amat senang tapi bagaimanapun tidak seperti ini juga kan?"

"Tapi bukankah Yesung-ie sendiri mengetahui perjanjian lama ini Boo?"

Jaejoong hanya menatap Yunho tidak percaya, bagaimana tidak! Ternyata Yunho sudah memberitahu Yesung jauh hari tentang perjanjiannya dengan Kangin dahulu.

"Kau? Memberitahunya? Sejak kapan?"

"Sejak ia kelas tiga SD," Yunho hanya memamerkan deretan gigi putihnya pada Jaejoong yang menatapnya semakin tidak percaya.

"Pantas saja dia selalu gagal," cibir Jaejoong pada Yunho.

.

Ý≠

.

Yesung yang di tinggal Ryeowook hanya bisa berjalan sedikit gontai karena masih sedikit shock dengan apa yang baru saja di lakukan Ryeowook. Dalam hati namja itu sangat senang, tapi sedikit penyesalan.

Penyesalan?

Yesung merasa menyesal sekarang heoh? Menyesal akan menyakiti dua yeojya yang tidak bersalah?

Tapi penyesalan itu selalu datang terlambat, tidak ada penyesalan sebelum melakukan sesuatu.

"Oppa? Wae oppa?" tanya Yoona yang kini melihat Yesung memasuki ruang inapnya.

Yesung hanya menarik tempat duduk di sebelah tempat tidur Yoona dan mendudukkan dirinya, berusaha sedikit tersenyum pada yeojya cantik di hadapannya ini.

"Oppa sakit? Hnggg Ryeowook-ie dimana oppa?" tanya Yoona sedikit mencari sosok Ryeowook.

"Pulang duluan, hmm kau sudah makan? Bagaimana keadaanmu?" tanya Yesung berusaha bersikap biasa saja.

"Aku tidak apa oppa, hngg umma tidak bisa berlama-lama di Seoul karena harus kembali bekerja. Jadi aku harus semangat dan cepat sehat oppa," jelas Yoona dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Oppa? Apa oppa menghawatirkan aku?" tanya Yoona saat melihat Yesung kembali melamun.

'oppa menghawatirkan aku?'

DEGH

Yesung mendongak menatap Yoona, pandangannya tertuju keluar jendela ruang inap Yoona. Suara barusan yang didengarnya seperti suara Ryeowook. Hatinya begitu cemas sampai jantungnya kini berdetak tak seirama. Tiba-tiba Yesung menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan semua pikiran-pikiran anehnya.

"Wae oppa?" panik Yoona ketika melihat keadaan Yesung.

"Oppa mencintai Wook-ie?"

"Mwo?" sedetik kemudian Yesung menatap Yoona tidak percaya, bagaimana yeojya manis itu bisa bertanya seperti itu.

"Chagiya? Ada yang ingin umma katakan padamu mengenai pengobatanmu. Hmm Yesung-ie, apa ahjumma bisa bicara dengan Yoona berdua saja?" tanya Umma Yoona pada Yesung.

Berterima kasihlah Yesung karena yeojya paruh baya itu menyelamatkannya kali ini. Tanpa perintah dua kali ia meninggalkan ruangan berbau khas obat tersebut namun hatinya masih sedikit aneh karena tiba-tiba suara Ryeowook melintas dipikirannya.

.

Ý≠

.

"Eonnie melakukannya lagi? EONNIE! KAU! AISHHHH! Aku kecewa padamu!" teriak kristal pada Jessica ketika yeojya cantik itu memasuki kamarnya sembari membanting pintu dan mengatakan apa yang baru saja di lakukannya dengan wajah tidak bersalahnya.

"Oh ayolah,,, aku melakukannya tidak sengaja karena dia berlari tidak melihat jalan," tegas Jessica pada Kristal. Yeojya yang lebih muda dari Jessica itu hanya bisa menghela nafas beratnya.

"Bersihkan diri eonnie dan mobil eonnie, jangan sampai mereka mengenalinya," ucap Kristal yang sebenarnya sangat menyayangi kakaknya itu.

.

Ý≠

.

Kangin hanya menatap sebuah kotak yang akan di berikannya pada Ryeowook. Kotak berisi sebuah dress simple yang sangat cantik, tapi hanya pandangan kosong tanpa ia ketahui penyebabnya.

SHINee's back, SHINee's back

SHINee's back back back back back

"Yeobseyo?" sapa kangin ketika ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.

"Ne Kim Ryeowook memang putri saya," jawabnya masih sedikit tenang.

"Mwo? Dimana? Ne aku akan segera kesana," setelah memutuskan panggilan tersebut, dengan segera kangin menghubungi Leeteuk hanya untuk memberitahunya.

.

Ý≠

.


Cintamu seperti rasa cake, sangat beragam. Tapi kini kau seperti merasakan cake yang sedikit gosong karena kau melamunkannya. Kau tahu bagaiamana cara mengatasi rasa pahit itu? Kau pasti mengetahuinya, sejak kecil kau hidup bersama cake. Jangan katakan kau melupakan cream lembut yang senantiasa hadir di setiap cake-mu. Bukankah seburuk apapun rupa cake-mu akan terlihat indah ketika kau melumurinya dengan cream manis dan rasa pahit itu seakan memudar begitu saja.

Manis? Kau tahu madu itu sangat manis? Kau cukup lumuri cake gosong itu dengan madu maka kau akan merasakan nikmatnya cake buatanmu lagi.

Madu?

Bagiku Ryeowook adalah madu untuk Yesung. Dengan berada didekatnya, namja tampan itu merasakan kebahagiaan sendiri. Masa kebahagiaan itu akan segera datang. Tapi kalian harus melewati beberapa cobaan dalam sebuah proses.


TBC


mohon maaf untuk perbuatan tidak bertanggung jawab yang telah di lakukan sebuah pihak terhadap penghapusan beberapa ff saya tanpa adanya pemberitahuan terdahulu kepada saya pribadi.

saya tidak akan me re-publish chapter-chapter sebelumnya. karena telah di publish ulang sampai chapter04 di blog pribadi saya. info lebih lanjut bisa PM atau mention (tidak memaksa untuk mem-follow) twitter saya ( anitaMT0201).

chapter09 akan kembali saya KETIK ketika saya menyelesaikan urusan pindah kost dan UAS dalam minggu ayng akan datang. setelah itu saya akan kembali SEDIKIT aktive mengetik ff.

mohon dukungannya :)

For Next chapter. Review ne?