Title :

Love Never Wrong

.

Author :

Meyla Rahma

.

Rated :

T to M

.

Pairing :

HaeHyuk Couple

.

Genre :

Romance and Hurt/Comfort

.

WARNING…!

YAOI / Boy Loves / Boy X Boy

Miss typo(s)

Mature Content

.

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKE

.

.

Happy Reading. . .

.

.

_ooOOooOOooOOoo_

.

.

Sepasang namja dengan setelan tuxedo elegan bermodel senada walau bewarna berbeda memasuki sebuah rumah mewah nan megah milik seorang pengusaha muda yang sukses – dengan langkah gontai karna lelah. Namun, wajah mereka tetap berbinar penuh kebahagian walau raga mereka sudah menjerit minta istirahat setelah melakukan pesta yang melelahkan. Pesta pernikahan mereka.

Sang namja tampan tampak melangkah dibelakang namja manis yang kini sudah menyandang status sebagai istrinya itu. Ia tersenyum lembut kala ia melihat istrinya itu menghentikan langkahnya dan berbalik memandangnya dengan tatapan ragu dan mungkin – malu.

"Um, hae. Bisakah beritahu dimana aku bisa ganti baju dan. . . istirahat." Tanya Hyukkie sedikit ragu dan gugup.

"Tentu saja disana, chagi." Ujar Donghae sambil menunjuk kearah sebuah pintu kamar. Kamar tidurnya.

"Em, bukankah itu kamarmu,-"

"Kamar kita," sela Donghae sambil memegang kedua bahu mungil sang istri dan menatap lurus onyx bening yang polo situ sebelum berujar kembali. "- mulai hari ini kamar itu menjadi kamarmu juga. Sekarang ayo kita masuk." Ajak Donghae.

Setelah mendapat anggukan dari wajah Hyukkie yang memerah, Donghae segera menggandeng tangan lembut istrinya itu dan berjalan menuju kamar mereka. Donghae membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya sambil menggenggam jemari halus milik namja yang sudah sah menjadi istrinya itu.

"Aku mandi dulu, ne? Kau bisa memilih baju di lemariku. Besok kita ke rumahmu, dan mengambil semua barang-barang mu, oke?" jelas Donghae sambil menatap lembut HyukkieNYA

Sedangkan Hyukkie yang diperlakukan lembut bak seorang putri itupun hanya bisa merona sambil mengganggukkan kepalanya saat menerima perlakuan lembut sang suami tersebut.

"Saranghe ~" ujar Donghae sambil mengecup lembut tangan Hyukkie kemudian melengkah masuk kedalam kamar mandi.

Hyukkie tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi begitu indah seperti sekarang. Rasanya baru kemarin ia menangis dalam kepediahan saat ia harus merelakan cintanya. Tapi, Tuhan memang adil. Ia selalu memberikan hikmah dibalik penderitaan setiap insan dimuka bumi ini. Termasuk untuk Hyukkie.

Dilangkahkan kakinya menuju sebuah meja nakas didekat ranjang berukuran King size dikamar itu. Wajah manisnya bersemu merah kala ia menyadari bahwa ranjang yang tengah ia duduki sekarang telah menjadi miliknya dan sang suami tentunya. Semuanya terasa begitu cepat untuk Hyukkie. Tapi, ia sangat bahagia karna mulai saat ini ia tak perlu lagi menyimpan rasa cintanya pada namja tampan bermata sendu yang selalu memandangnya lembut itu.

Merasa pengap dan panas mengingat tuxedo putih elegant masih membalut tubuh rampingnya. Iapun membuka jasnya, mengeluarkan dan melipat lengan kemejanya. Perlahan dipandanginya sebuah cincin yang kini telah tersemat indah di jari manisnya. Sebuah senyum lembut terlukis indah diwajah manisnya.

Sebuah cincin bewarna emas putih dengan ukiran yang bertuliskan namanya dan Donghae dalam bahasa latin, yang dilapisi berlian Blue Saphire dari Afrika Selatan. Ia bahkan tak menyangka jika Heechul – yang sekarang menjadi kakak iparnya – telah mempersiapkan cincin seindah itu untuk dirinya dan Donghae.

Hyukkie masih sibuk mengelus-elus cincin indah sambil tenggelam dalam pikirannya, hingga tak menyadari sang suami telah keluar dari kamar mandi dan tengah memandanginya sambil tersenyum lembut. Ia langkahkan kakinya mendekat kearah sang istri yang masih terdiam. Bahkan Hyukkie masih belum menyadari Donghae yang sudah duduk disampingnya.

Chup~

Hyukkie langsung tersadar dari lamunannya saat ia tahu Donghae telah duduk disampingnya dan baru saja mencium pipinya. Mencium pipinya? Pipi Hyukkie langsung merona merah saat menyadari perlakuan Donghae barusan.

"Yah, Hae. Kenapa kau mencium ku?" ujar Hyukkie sambil cemberut – kesal atau mungkin malu.

"Salah sendiri kau melamun. Aku panggil pun percuma. Jadi aku cium saja pipimu yang cubby ini," jawab Donghae santai sambil mengelus lembut pipi Hyukkie dengan ibu jarinya.

"Aish, Hae. Berhenti menggodaku," ujar Hyukkie sebal sambil memalingkan wajahnya kearah lain – berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti strawberry rebus(?).

Dengan lembut Donghae meraih dagu Hyukkie yang terhiasi Jewel lines yang tegas itu hingga onyx sekelam malam milik istrinya bertemu pandang dengan obsidian sendu miliknya. Hyukkie hanya bisa menatap Donghae dengan tatapan bingung yang polos.

"Hatiku terasa sangat damai dan tentram saat ini. Kau tahu kenapa, chagi?" Tanya Donghae lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari manik bening milik kekasih seumur hidupnya itu.

"Ani. Waeyo Hae?" balas Hyukkie bingung sembari menatap intens namun terkesan polos bagi siapapun yang melihatnya.

"Karna kau sekarang ada disini," ujar Donghae sambil memegang dadanya,

"-mungkin sekarang aku tak lagi membutuhkan jantung," membuat Hyukkie yang semula menunduk karna tersipu akan kata-kata Donghae, kembali memberanikan diri menatap iris sendu milik namja yang ia cintai itu – sekali lagi dengan tatapan bingung.

"Karna kau sudah menggantikan fungsi jantungku untuk berdetak. Bagiku kau adalah detak jantung dan nafas ku mulai saat ini, dan untuk semalanya," tungkas Donghae – seolah menjawab tatapan bingung dari sang istri.

Hyukkie merasakan wajahnya mulai memanas karna malu sekaligus terharu dengan tuturan kata Donghae yang tulus itu. Entahlah, Hyukkie awalnya berharap itu hanya gombalan biasa. Namun, ia sama sekali tak bisa menganggap untaian kata dari sang Suami sebagai angin lalu, kala ia melihat pancaran keseriusan yang berbinar jelas di kedua obsidian sendu milik Donghae.

Detik kemudian ia merasakan sebuah tangan kekar tengah menggenggam tangannya dengan lembut. Secara otomatis ia – memberanikan diri – menatap Donghae yang tengah memandangnya intens.

"Berjanjilah padaku, kau akan menghukumku atau bahkan meninggalkan ku jika aku membuatmu terluka dan menangis lagi," Donghae merasakan Hyukkie menggenggam tangannya kuat dengan mata yang mulai berkaca sambil menggelengkan kepalanya kuat – saat mendengar penuturannya barusan. Iapun meletakkan telunjuknya dengan lembut dibibir ranum milik Hyukkie, saat namja manis itu hendak memotong perkataannya yang belum rampung.

"-dan berjanjilah kau akan selalu berada disampingku dalam kebahagian maupun kepedihan mulai saat ini hingga selamanya," sambung Donghae.

GREPP~

Tanpa bisa ditahan Hyukkiepun menghambur memeluk sang suaminya tersebut. Kristal bening yang ia tahan semenjak tadi, akhirnya pecah hingga melelehkan sungai bening dikedua pipi tembemnya. Ia mulai terisak dipelukan sang suami. Bukan, ia bukan menangis karna sedih. Tapi ia menangis karna haru dan bahagia yang kini membuncah dihatinya.

"Pabbo Hae~ mana. . hiks. . mungkin aku akan meninggalkanmu lagi. Sudah cukup. . hiks. . aku menderita selama ini. . hiks. . karna terpisah olehmu," isak Hyukkie sambil memukul pelan dada bidang milik Donghae.

Sebuah senyum bahagia kini tertoreh manis diwajah tampan Donghae. Ia membelai lembut surai halus milik namja yang ia cintai itu. Dengan penuh kasih ia kecup puncak kepala sang istri yan teramat ia cintai itu.

"Ya, aku memang namja pabbo. Karna aku pernah menorehkan tangis dan luka pada malaikat manis nan baik hati seperti mu," balas Donghae sambil mengusap lembut punggung Hyukkie.

"Ish, berhentilah menggombaliku, Hae," ujar Hyukkie sambil melepaskan pelukannya dari sang suami dengan bibir yang mengerucut imut.

"Aku tak menggombal. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jeongmal~" ujar Donghae sambil menatap onyx bening yang tengah memandangnya kesal itu.

"Aish, dasar kau ini," sahut Hyukkie sebal sembari memutar bola matanya malas.

"Saranghe Lee Hyuk Jae~" ucap Donghae tulus – sembari membelai lembut sisi wajah Hyukkie.

"Na-nado Saranghe, Hae," balas Hyukkie lirih – setengah kaget karna perlakuan lembut (lagi) dari sang suami.

Perlahan namun pasti, Donghae menghapus jarak diantara mereka berdua. Entah refleks atau mengerti keinginan sang Suami, Hyukkie memejamkan kedua manik kelamnya kala wajah tampan milik namja yang ia cintai itu mendekat kearahnya. Detik kemudian ia merasakan sapuan lembut nan hangat dibibir cherry miliknya. Lembut dan penuh cinta.

Berawal dari sebuah sentuhan lembut dibibir mereka dengan deru nafas yang bertalu bergantian menerpa wajah mereka. Kecupan-kecupan lembut nan hangat itu perlahan berganti dengan lumatan halus dari bibir Donghae. Berusaha menuntut balasan akan ciumannya, Donghae terus melumat bibir bawah dan atas milik sang istri.

Sebuah senyum terlukis dibibir Donghae saat Hyukkie mulai membalas ciuman hangat darinya. Perlahan dijilatnya bibir atas dan bawah milik Hyukkie. Mengecap rasa manis yang memabukkan yang tersuguh untuknya sekaligus meminta ijin untuk masuk. Tanpa diminta dua kali, Hyukkie segera membuka kedua belah bibir cherrynya – memberi jalan lidah hangat sang suami mengunjungi gua hangat nan manis miliknya.

Suara kecipak bibir keduanya menjadi dominasi suara diruang kamar yang amat luas – untuk ukuran kamar tidur. Lidah Donghae masih terus menari-nari didalam mulut sang istri. Mengeksplor segala macam yang tersuguh disana. Rasa manis, deretan gigi yang rapi dan langit rongga mulut yang hangat. Semuanya ia eksplor hingga berhasil meloloskan erangan dari sang pujaan hati.

Entah mengapa, suara erangan dari Hyukkie seolah membuat tubuhnya panas. Seperti sesuatu dalam dirinya terpanggil untuk melakukan lebih dari ini. Toh mereka sudah terikat dalam ikatan sucikan? Itulah yang ia pikirkan. Perlahan karna kebutuhan udara, Hyukkie mulai menggeliat resah dan mendorong dada bidang sang suami agar pagutan mereka terlepas.

Nafas yang terengah, wajah yang memerah dan jangan lupakan bibir ranum merah yang mulai membengkak karna sesi ciuman tadi, seolah menjadi pemandangan paling indah bagi hidup seorang – Lee Donghae. Perlahan ia mendekat kearah sisi kanan wajah Hyukkie. Membisikkan satu kata sederhana yang begitu merdu dan manis ketika terdengar oleh telinga.

"Saranghe~"

Dikecupnya sisi wajah sang istri – yang telah memerah itu – lalu kembali memagut lembut bibir cherry yang rasanya tak akan pernah membuatnya bosan untuk mencicipinya. Perlakuan lembut dari sang Suami yang kini tegah memanjanya seolah membuat tubuh Hyukkie terbang keawan-awan kala sentuhan dan belaian lembut Donghae membuatnya menurut saat namja tampan itu mendorong lembut tubuhnya hingga membuatnya tergeletak diatas ranjang yang empuk.

Donghae yang berada diatasnya masih sibuk mengeksplor apa saja yang ada didalam mulutnya dengan satu tangan yang membelai lembut surai halus miliknya sedang tanganya yang lain namja itu gunakan untuk menahan berat tubuhnya agar tak menindih tubuh ramping nan indah milik istrinya itu.

"Eunggh~"

Satu erangan lolos dari bibir manis Hyukkie, kala Donghae mulai mengecupi lembut leher jenjangnya yang sedari tadi terekspose oleh mata sang suami. Kecupan-kecupan lembut ditebar oleh namja berambut brunette itu hingga membuat sang istri mengeliat tak nyaman. Kini kecupan lembut dari bibir tipis itu berganti menjadi jilatan yang tak kalah lembut hingga membuat Hyukkie mau-tak mau meremas helai sutra milik Donghae guna melampiaskan segala nikmat yang kini tengah melanda tubuhnya.

Entah sejak kapan tangan kiri Donghae yang sedari tadi membelai surai sang istri, kini berganti membelai tubuh bagian depan Hyukkie dengan lembut. Perlahan tangan nakalnya bergerak menuju ujung kemeja yang masih dikenakan oleh namja manis itu. Dengan lembut ia susupkan tangannya lalu membelai lembut kulit halus yang tersembunyi dibaliknya.

Sapuan tangan Donghae yang kesat dan sedikit berkesan kasar membuat tubuh ramping yang kini tengah dimanjakan namja tampan itu tersentak kaget. Sentuhan lembut tangan sang Suami membuat Hyukkie menegang namun juga menikmatinya disaat yang bersamaan. Seperti jutaan volt aliran listrik tengah mengaliri tiap mili darah yang tengah berdesir di tubuhnya, tubuhnya menegang menerima perlakuan lembut dari suaminya itu.

Belaian lembut Donghae pada kulit perut dan dadanya membuatnya hilang akal. Seakan tak ada lagi hal yang lebih indah nan nikmat dari pada sentuhan dan perlakuan lembut saat Donghae memanjanya. Tubuh kurusnya menegang saat Donghae terus membelai lembut kulitnya yang halus dibalik kemeja itu. Namun, sepertinya Donghae mengartikan 'lain' reaksi dari tubuh sang istrinya itu.

Dengan segera Donghae mengeluarkan tangannya dari balik kemeja putih yang dikenakan Hyukkie. Ia juga telah melepas pagutan mesranya dari bibir sang istri. Kontan saja hal itu membuat Hyukkie memandangnya bingung.

"Kau pasti lelah. Sekarang kau lebih baik mandi lalu istirahat. Aku tak ingin terjadi sesuatu terhadap mu, chagi," ujar Donghae lembut sambil membelai halus sisi wajah sang istri.

"Ta-tapi hae-"

"Tadi aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Sekarang mandilah lalu beristirahat. Oke?" potong Donghae cepat.

Hyukkie hanya bisa mengangguk lesu menanggapi perintah dari namja yang ia cintai itu. Dengan gontai ia langkahkan kaki jenjangnya memasuki kamar mandi lalu tersenyum lembut – dengan sedikit dipaksakan – pada Donghae sebelum ia menutup pintu kamar mandi itu.

Donghae hanya bisa menatap nanar pintu yang telah tertutup itu. Perlahan diraihnya jas tuxedo Hyukkie yang tergeletak disampingnya. Lalu dihirupnya lembut wangi khas sang istri yang menguar di jas yang tadi pagi menjadi pakaian pernikahan mereka itu.

"Aku hanya tak ingin melukaimu, chagi. Aku tak ingin melakukannya. . . lagi," bisik Donghae lirih.

'Biarkan waktu yang membuatmu siap. Tanpa harus aku yang memaksa.'

.

.

.

.

_oooOOOooo_

.

.

.

.

"WHAT..? Jadi kalian belum melakukan 'NYA'?"

"Aish, hyung. Tak usah teriak-teriak seperti itu. Kau benar-benar membuatku malu,"

Hyukkie tengah berada di kediaman keluarga Lee – keluarga Donghae. Saat ini ia tengah berada di pantry dapur bersama mertua dan kedua kakak iparnya – Heechul dan Wookie. Dan orang yang tadi memekik kencang itu tak lain yaitu Heechul. Ia begitu kaget dengan pernyataan adik ipar yang sudah ia anggap sebagai Dongsaengnya sendiri itu. Bagaimana tidak, baru saja Hyukkie mengatakan kalau ia masih belum melakukan 'itu' dengan Donghae.

Hell no, asal kalian tak amnesia saja. Hyukkie dan Donghae itu sudah resmi jadi pasangan. Dan belum melakukan 'this and that' sangat terdengar aneh bagi setiap orang yang sudah menikah. Apalagi, mereka sudah genap Satu Bulan membangun biduk rumah tangga. #plak

Ya, Hyukkie dan Donghae sudah genap Sebulan menikah. Diulangi SATU bulan. Namun, Donghae masih belum mau menyentuh Hyukkie lebih dari kecupan dan belaian lembut. Hyukkie bahkan sempat menangis dikamar mandi, karna ia berpikir Donghae sama tak tertarik dengan tubuhnya. Untung saja saat itu Donghae sedang berada di kantor. Jadi ia tak perlu kalang kabut karna khawatir saat melihat keadaan Hyukkie yang tengah menangis mengenaskan karna memikirkan hal apa yang membuatnya tak mau 'menyentuh' sang istri.

Hyukkie masih sibuk menerbangkan pikirannya hingga tak menyadari seseorang tengah duduk disebelahnya. Barulah saat pundak mungilnya direngkuh hangat oleh sosok itu, membuatnya kembali kealam sadarnya. Ia merasa nyaman dalam pelukan sosok tersebut. Sosok yang sudah ia anggap seperti ummanya – Leeteuk.

"Sudahlah, chagiya. Tak usah terlalu kau pikirkan hal itu. Mungkin saja Hae ingin mengambil moment yang pas saat kalian melakukannya. Bagaimanapun ini yang pertama bagi kalian berdua, kan?" Tanya Leeteuk lembut, dan hanya dibalas anggukan kecil yang berkesan malu-malu oleh Hyukkie.

"Tapi, umma. Bagaimanapun mereka kan sudah resmi menikah. Masa harus menunda-nunda hal semacam itu sih," celetuk Heechul tak terima.

"Yah, Chullie-ah. Mereka kan tak sama denganmu dan Hankyung yang tak perlu sungkan untuk memulainya," ujar Leeteuk dengan nada jail.

"Aish, umma bicara apa sih," timpal Heechul dengan wajah memerah karna tersekak oleh sidiran halus mertuanya yang cantik itu.

"Kau tak perlu memikirkannya, chagi. Hal semacam itu, biarlah terjadi secara naluri yang harfiah. Tak perlu kau sedih memikirkan, arra?" jelas namja cantik bersingle dimple itu.

"Arraseo, umma," jawab Hyukkie sambil tersenyum lembut. Leeteukpun membawa Hyukkie dalam pelukan hangat seorang ibu. Sambil mengelus lembut punggung namja yang telah resmi menjadi menantu barunya itu.

"Eh, iya. Bisa kau bantu umma, chagi?" Tanya Leeteuk seraya melepas pelukannya.

"Bantu apa, umma?" tanya Hyukkie balik.

"Umma mau masak sup kerang kijing kesukaan Donghae. Tapi, umma belum membeli kijingnya. Bisakah kau membelikannya di supermarket di dekat sini?"

"Kijing? Um, tentu saja umma. Biar Hyukkie yang belikan," ujar Hyukkie sambil berdiri dari kursinya.

"Biar kutemani, Hyukkie," timpal Wookie kemudian.

"Nde, gomawo hyung,"

"Kami pergi dulu ne, umma, Chullie hyung,' pamit Wookie dan Hyukkie bersamaan sambil tersenyum lembut.

"Ne, hati-hati di jalan," pesan Heechul penuh intrupsi.

Heechul langsung memandang sang mertua dengan tatapan yang menyelidik saat Hyukkie dan Wookie keluar dari dapur hingga menyisakan dirinya dan mertua kesayangan mereka itu.

"Kenapa kau menatap ku seperti itu, Chullie-ah?" tanya Leeteuk tanpa menghentikan tanganya yang masih mengirisi beberapa buah wortel dihadapannya.

"Aku tahu umma pasti hanya menyuruh Hyukkie ke supemarket sebagai kedok agar dia tak terus kepikiran kan, umma?" tanya Heechul penuh selidik.

"Kau memang menantuku yang pintar, Chullie-ah. Tak heran jika Hankyung tergila-gila karna mu," ujar Leeteuk sambil memandang Heechul sekilas dengan senyum jail diwajah cantiknya.

"Aish, berhenti menggoda ku umma," gerutu Heechul sambil mendudukan diri disebelah mertuanya "-lagi pula pendapatku benarkan umma. Mereka itu sudah menikah. Satu bulan lagi. Jadi wajar saja aku kaget saat mengetahui 'fakta' itu," jelas Heechul sambil mulai memotong sebuah paprika.

"Tapi kau tak bisa menyamakannya dengan kau dan Hankyung," Leeteuk memandang namja cantik disampingnya itu "-Donghae itu berbeda dengan suami mu, Chullie-ah," jelas Leeteuk pada menantunya – dan kembali menyelesaikan potongan wortelnya.

"Memang sih, umma. Aku juga tak bisa menyamakan mereka berdua begitu saja. Sudah terlihat jelas mereka itu tak sama. Meskipun mereka berdua kakak beradik," ujar Heechul lirih, "apa perlu aku menyuruh Hae belajar agresifitas diatas ranjang pada Hannie ya, umma?" tanya Heechul dengan santai nyaris tanpa dosa.

PUK~

"Kau ini baru berapa bulan sih tinggal dengan Yesung? Masa kau sudah ketularan pabbo'nya," gerutu Leeteuk sambil menepuk pelan kepala sang menantu tertuanya itu. Baru beberapa saat lalu ia memuji kepintarannya. Tapi sekarang malah kepintarannya itu seolah menguap karna perkataannya barusan.

"Aish, umma. Tapi saran ku benar kan? Mungkin memang pantas untuk dicoba," sambung Heechul penuh semangat. Sedangkan Leeteuk hanya bisa memutar bola matanya malas.

"Mungkin Hae ingin mengabadikannya di moment bulan madu mereka kelak, Chullie-ah," jawab Leeteuk asal – tanpa menyadari sebuah seringai evil terukir diwajah cantik sang menantu.

"Oh Yeah~"

"Yah, kenapa kau memasang wajah seperti itu, Chullie-ah?" Leeteuk bingung dengan mood sang menantu yang gampang berubah itu.

"Ah, bagaimana kalau kita buatkan rencana Honey Moon untuk mereka, umma? " tawar Heechul antusias.

"Rencana Honey Moon?" tanya Leeteuk – sedikit bingung.

"Nde, Umma. Kita siapkan segala sesuatunya untuk HoneyMoon mereka berdua. Bagaimana?" tawar Heechul.

"Boleh juga. Tapi bagaimana caranya?" ujar Leeteuk – sambil menghentikan acara memotongnya – memasang pose berpikir.

"Aish, ternyata benar kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pantas saja Yesung otaknya radak konslet," cibir Heechul sinis.

PLETAK~

"Yah, dasar menantu tak tahu sopan santun. Kau mau samakan aku dengan Yesung, eoh?" seru Leeteuk kesal.

"Ish, appo umma. Lagi pula kau kan ummanya Yesung, umma," seru Heechul membela diri.

"Aish, tapi kau tak perlu menyamakan aku dengan sifat antik anak itu," gerutu Leeteuk.

"Eh? Sudahlah, umma setujukan dengan rencanaku tadi?" timpal Heechul.

"Umma sih setuju-setuju saja. Lalu bagaimana kau akan merencanakan Honey Moon untuk mereka? Memang kau sudah menyiapkan tempatnya?" tanya Leeteuk sanksi.

"Untuk hal itu, umma serahkan saja pada menantumu yang berotak brilliant ini," sahut Heechul sambil memasang sebuah seringai yang sukses membuat bulu kudu sang mertua meremang.

'Biar aku saja yang urus rencana ini. Aku jamin pasti bakal sukses,'

.

.

.

.

_oooOOOooo_

.

.

.

.

"Kau sudah menunggu lama, Hae?"

"Ani. Baru 15 menit aku ada disini, siwon-ah,"

Saat ini Donghae tengah bertemu atau lebih tepatnya mengajak bertemu Siwon untuk membahas kontrak kerja mereka atau mungkin juga untuk membahas 'sesuatu' yang akhir-akhir ini tengah mengganjal hatinya.

"Kau mau pesan minum? Atau makan?" tanya Donghae.

"Cappucino saja," timpal Siwon.

Setelah sang waiters mencatat pesanan, kini tinggalah dua namja cool tersebut dalam suasana hening. Semenjak incident 'tukar mempelai' waktu itu, hubungan Siwon dan Donghae sudah tak sekaku dahulu. Apalagi mengingat sekarang Siwon tengah menjalin hubungan dengan sahabat karib sekaligus karyawan kepercayaannya – Kibum. Kalau reader's penasaran gimana ceritanya bang kuda bisa ma Snow white? Silahkan tunggu 'Slide SiBum' dari LNW. Tapi ndagh sekarang #plak

Okey kita kembali, Donghae kini terlihat tengah menatap segelas Coffe Latte dihadapannya – tanpa berniat untuk meminumnya. Terang saja hal itu membuat Siwon sadar, bahwa namja berambut brunette itu mengundangnya untuk bertemu bukan sekedar untuk membicarakan bisnis mereka.

"Aku yakin Coffe itu tak akan pernah berkurang isinya, walau kau pandangi seperti itu, Hae," canda Siwon.

"Hufft~ kau tahu Siwon-ah, ternyata menjalani sesuatu yang baru itu terkadang membutuhkan banyak hal yang perlu untuk dipahami sebelumnya. Dan aku sedang merasakannya sekarang," ujar Donghae – tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir kopinya.

"Eh? Kenapa kau bicara begitu? Atau jangan-jangan kau, , "

"Wae?" sela Donghae tak terima.

"Aish, lalu kenapa kau bicara begitu, Hae-ah? Apa kau menyesal telah menikah dengan Hyukkie?" ujar Siwon sedikit menyelidik.

"Yah, beraninya kau bilang seperti itu. Apa si Kibum itu sudah membekukan otakmu sampai kau tak bisa berpikir lebih jenius dari itu," seru Donghae sinis.

"Hey, kenapa kau bawa-bawa My Snow white dalam pembicaraan ini? Dia kan tak tahu apa-apa," gerutu Siwon tak terima.

"Apa katamu? My Snow White? Aish, julukan itu tak cocok untuk pangeran es seperti dia," cibir Donghae tak percaya.

"Itu julukannya dulu. Sekarang dia adalah My Snow White. Lagi pula dia sudah tak seperti dulu kok, -" ujar Siwon "-walau kadang masih saja cuek padaku," sambungnya lesu.

"Muahahahahaha~ Kau, hahaha, , sangat Lucu, hahaha, , Siwon-ah, hahaha," ujar Donghae diiringi gelak tawanya yang tak bisa terbendung.

Siwon yang melihat itu hanya bisa cengo. Bagaimana tidak, semenjak ia mengenal namja berlengan kekar yang sama sepertinya itu, tak sekalipun ia melihat namja itu tertawa terbahak-bahak seperti sekarang. Apalagi mengingat dulu dan mungkin sampai sekarang ia masih sering berbicara dengan nada datar dan dingin. Sungguh diluar dugaan.

"Kenapa kau menatapku begitu?" ujar Donghae sinis.

"Ish, Kau itu moody sekali ya? Seperti anak TK saja," balas Siwon dengan nada tak kalah sinis.

"Yah, berani sekali kau menyamakanku dengan anak TK, Choi Siwon?" seru Doghae tak terima.

"Aish, sudahlah. Aku hanya bercanda. Lagi pula kau mengundangku kemari pasti bukan untuk urusan bisnis kan?" tungkas Siwon to the point.

"Huuhh~ ku pikir kibum sudah berhasil menyabotase otak brilliant mu. Ternyata hahft~" ujar Donghae lesu.

"Okey yang pertama, terima kasih karna kau sudah memuji otak brilliant ku. Kedua, cepat katakan apa maksud perkataanmu diawal pembicaraan kita tadi," ujar Siwon penasaran.

"Apa kau pernah merasakan saat kita membangun sebuah hal yang baru itu kadang terasa amat sulit?" ujar Donghae sambil memutar-mutar cangkirnya.

"Eh?"

"Ya, saat kita ingin membangun sesuatu yang lebih serius dan dekat, tapi justru orang yang jadi patner hidup kita yang menolaknya,-" Donghae menengguk sedikit kopinya "-walau secara tidak langsung," sambungnya lirih.

"Tunggu dulu, aku tahu kemana arah pembicaraan mu ini. Jangan bilang kalau kau sedang ada masalah dengan Hyukkie?" sela Siwon dengan nada penasaran yang ketara.

"Hahhh~ mungkin bisa dibilang begitu. Tapi ini bukan masalah dalam arti yang sesungguhnya. Mungkin masalah ini tertuju bagi diriku saja," gumam Donghae lesu.

"Untukmu saja? Tidak dalam arti sesungguhnya? Yah, Lee Donghae. Jangan kau buat kepalaku semakin pening hanya karna perkataanmu yang bertele-tele. Gunakan prinsip bisnismu yang biasanya. To_The_Point," ujar Siwon frustasi.

"Apa salah jika aku ingin 'menyentuh' istriku sendiri?" gumam Donghae malas.

1 detik

3 detik

5 detik

"MWORAGO?"

Suara Siwon barusan berhasil dengan sukses membuat seorang Lee Donghae hampir terjatuh dengan tidak elitnya dan membuat sebagian pengunjung caffe menoleh kearah mereka berdua.

"Yah, kecilkan suaramu. Kau ingin membuat kita malu, eoh?" desis Donghae kesal.

"Aish, mianhe. Kau juga sih yang membuatku kaget dengan perkataanmu barusan. Eh, jangan bilang kalau kau,-"

"What?"

"-kau belum melakukan 'itu' dengan Hyukkie. Aku benar kan?" tanya Siwon menyelidik.

"Hahhft~ begitulah," jawab Donghae lesu.

"Muahahahhaha~ Seorang Lee Donghae, hahahha" Siwon terpingkal sambil terbahak mendengar penuturan Donghae.

Siwon masih saja tebahak, tanpa memperdulikan tatapan bingung pengunjung yang ada disana. Sedangkan Donghae sibuk memberikan kode bahwa-kami-tidak-apa-apa pada orang-orang tersebut – sambil mendeath glare Siwon yang tak kunjung menghentikan tawanya.

"Puas kau tertawakan aku?" desis Donghae geram.

"hahhaha, huhhhfft~ mianhe Hae. Aku, ehem,, hanya tak habis pikir. Orang sepertimu yang terkenal arogan dan tak ingin kalah, bisa-bisanya tidak melakukan 'hal' sepenting itu. Atau jangan bilang kau,-"

"What? Kau ingin mengataiku apa lagi, huh?" dengus Donghae kesal.

"Aish, just kidding Mr. Lee. Ayolah, katakan padaku. Apa kendalamu sehingga tak melakukan 'hal' sepenting itu pada istri barumu, huh?" ujar Siwon antusias.

"Sebenarnya kendalanya bukan padaku, Siwon-ah. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan sepenuhnya hal ini pada Hyukkie," ujar Donghae lesu – sambil menatap kosong cangkirnya.

"Yah, Hae. Kau tahu kan kalau Hyukkie itu orangnya pemalu. Sangat pemalu malahan. Mungkin saja ia tak bermaksud menolakmu. Karna alas an belum siap, mungkin? Ku harap kau mau mengerti hal itu," jelas Siwon bijak.

"Aku tahu itu, Siwon-ah. Tapi sampai kapan? Kami sudah hampir sebulan menikah. Tapi tak ada kemajuan pada kehidupan baru kami ini. Aku sih bisa-bisa saja memahami hal itu. Tapi sampai kapan?" ungkap Donghae lesu.

"Lalu kenapa kau tak mengatakannya secara baik-baik pada Hyukkie? Aku yakin ia pasti mau mengerti dan mungkin takkan menolakmu lagi," usul Siwon.

"Apa itu tak berkesan memaksa? Aku tak ingin memaksanya, jika ia memang belum siap untuk melakukannya, Siwon-ah. Kau tahu kan, aku sangat tak ingin melukai dirinya – untuk yang kedua kalinya," ujar Donghae lirih.

Kali ini Siwon tak lagi bisa membalas perkataan Donghae. Ia lebih memilih menatap iba kearah namja yang tengah memutar-mutar cangkir kopinya itu. Ia tahu betul alasan Donghae tak emngatakan keinginannya secara langsung ke Hyukkie. Karna tak ingin melukainya. Itu adalah alasan yang sangat di pahami Siwon dari namja bermata sendu itu.

Ia sangat mengerti jika Donghae sangat mencintai Hyukkie. Namun, bagaimanapunDonghae sudah menikah dengan Hyukkie. Dan melakukan hal semacam 'itu' bisa di kategorikan harus bahkan wajib dilakukan oleh pasangan suami istri umumnya.

"Bukankah kau mencintai hyukkie, Hae?" tanya Siwon tiba-tiba.

"Huh? Ku pikir hal itu tak perlu kau tanyakan lagi, Mr Choi," ujar Donghae dengan nada sinis. Sedangkan Siwon hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi Mood Donghae yang gampang berubah-ubah itu.

"Kalau kau mencintainya, harusnya kau juga berusaha meyakinkannya agar mau menyerahkan dirinya 'seutuhnya' padamu. Bukankah Hyukkie juga sangat mencintaimu?" jelas Siwon.

"Tapi Siwon-ah, aku tak ingin memaksanya. Sudah cukup selama ini dia,-"

"Yah Lee Donghae, sampai kapan ka uterus takut untuk memaksanya? Bukankah kalian sudah menikah? Lalu kenapa kau takut untuk meminta 'hakmu' padanya? Dan lagi, apa kau tak ingin memilikinya 'seutuhnya'? jelas Siwon penuh penekanan.

"Mungkin kau benar, Siwon-ah. Tapi, apa yang harus kulakukan?" tanya Donghae lirih.

"Honeymoon," seru Siwon antusias.

"Honeymoon?" ujar Donghae bingung.

"Ya, Haoneymoon. Kalian selama ini belum mengadakan bulan madu kan? Dan aku rasa itu ada moment yang tepat untukmu 'menagih' hal itu," ujar Siwon sambil menyeringai penuh arti.

'Honeymoon? Tapi apa bisa 'hal itu' terlaksana saat kami honeymoon?'

To Be Continued . . .

.

.

.

Okey, pertama saiia mau nta maap karna belum up-date NC for this FF sesuai janji saiia,

Tunggu, jangan marah, Bash ataupun ngerajam saiia,

Saiia punya alasannya.

Kmaren wktu saiia konsultasi ma salah seorang author professional yg uda HIATUS dri FFn, dia ngasi saran saiia ginnie,

'Klo bisa jngan publish NC di bulan rmadhan. Walau dipublish abis buka, tapi efek ttu NC bisa ke inget ampe wktu puasa besok.x'

Berhubung saiia sangat menghrgai kesucian bulan puasa, saiia ndagh mau nodai hal ittu dengan chapter FF saiia yg Full NC.

.

.

Awalnya saiia mau nekat Publish yg NC,

Tpie berhubung yg bca nie chapter bukan hnya satu Reader's, jdi saiia gga berani nanggung dosa krna membangkitkan Libido dari reader's yg bca chapter saiia.

Mohon untuk dimengerti keputusan saiia ini.

(^_^)

.

.

Salahan juga, klo masi nekat up-date tu NC, bkal pnjang bgt nie chapter, ampe 10.000 word mungkin.

Saiia jugha bakal buat SLIDE SiBum buat nie FF nantinya,

Jdie yg dri kmren2 nunggu kepastian SiBum Couple, bkal saiia ksi penuntasannya.

.

.

Jeongmal mianhe, krna saiia bru up-date sekarang,

Kemaren2 saiia msi bingung mau up-date NC wktu puasa pa gagh,

.

.

Untuk ketiga FF saiia yg laen,

Reader's tenang ajj, saat saiia da blik kerumah, psti FF saiia yg laen bkal saiia up-date sesegera mungkin.

For Last Word, Please understand my choice for this Chapter.

I just want to do best for my reader's in this FF.

Please forgive me if this chapter dispointed you. -_-

.

.

Seperti biasanya,

Review menentukan kelanjuttan FF yang anda baca

(-_-)