Hanya sekedar informasi supaya reader tidak bingung.

1. Para player di fict ini, jika ingin melihat menu toko atau item, mereka hanya cukup mengucapkan option yang ingin mereka lihat.

(Ex : Ingin melihat menu toko, mereka cukup mengatakan 'Toko/Shop' maka menu toko akan muncul dalam bentuk layar monitor di depan player tersebut).

2. Setiap player yang baru naik level, akan mendapat skill baru. Jadi, yang baru pertama kali bermain hanya mendapat skill rendah yang disebut 'attack' dan 'dash' saja.

3. Developer K disini sebagai sasaran 'korban' dalam latihan atau training. Seperti game aslinya. Tapi, di fict ini dia hanya hologram yang saat kita serang, kita akan merasa seperti menghajar orang sungguhan.


-.-.-.-.-.-.-.-.-

Disclaimer : KREON

Fict by : KuroMaki RoXora

Warning :
AU, OC, abal, genre kecampur-campur(?) dll

Don't like, don't read!
I already warn you. Flamer will be gone. Clear enough? Good.

Enjoy~

Chapter 1 : The Boyish Girl


Seorang anak laki-laki berlari di sebuah gang kecil di samping sebuah gedung sekolah. Wajahnya pucat pasi, keringat membasahi wajahnya. Wajahnya menunjukkan kalau dia gelisah dan takut. Sepertinya dia sedang dikejar-kejar seseorang.

Lalu, seorang pemuda mencengkeram bahunya dengan keras. Anak laki-laki itu gemetar ketakutan saat dia terkepung beberapa anak cowok.

"Osamu, mau lari kemana kau? Cepet serahkan uangmu sama game yang baru kau beli kemarin" tanya salah satu dari mereka. Bocah itu takut-takut menyerahkan uang dan sebuah game ke cowok-cowok itu.

Lalu seorang dari mereka ditarik kerah kemejanya oleh seseorang dari belakang.

"Ngapain kalian?" tanya orang itu dingin. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup topi cap.

"Siapa kau? Jangan ikut campur!" Seorang pemuda berambut ungu langsung menepis tangan orang itu dari kerah baju temannya.

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Cepat pergi dari sini"

Dari kumpulan cowok-cowok itu, seorang berambut raven yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu langsung berdiri menghadap orang misterius itu. Mata onyx-nya menatap pemuda bertopi cap itu.

"You want to take a fight or what?" tanya si raven dengan nada dingin dan tajam.

"Nothin'. I just want you guys not to bully him."

"It's our business not your business, bastard"

"Oh, well.. He's my friend, then it's my business too. So get off, jerk"

Si raven hanya mendecih lalu membalikkan tubuhnya ke arah lain lalu ber kata, "Ayo."

Yang lain hanya mengikutinya sambil menatap tak suka pada pemuda bertopi cap itu. Osamu yang tadi ketakutan menghela napas lega saat orang-orang itu pergi.

"Ng.. Terima kasih.." Katanya pada orang bertopi cap itu.

"Hn. Cepat ke sekolahmu, sudah hampir pukul tujuh" Osamu tersentak.

"A-ah. Iya. Tapi kau gimana? Kau juga bakal telat kan?"

Pemuda itu mengacungkan jempolnya ke samping tembok gang tersebut, "Sekolahku di sini. Jadi kau nggak perlu khawatir"

Osamu hanya mengangguk-angguk. Lalu ia berlari keluar dari gang kecil itu. Pemuda itu juga berjalan keluar lalu memasuki gerbang sekolah di sebelah gang itu.


-.-.-.-.-.-.-

Pemuda bertopi cap itu memasuki kelas yang bertuliskan kelas '2-B'. Ketika ia menggeser pintu kelas…

"KYAA~! Ouji-sama(*)! Ohayou Gozaimasu~! (*)" Seketika telinganya berdengung saat mendengar suara feminine yang cempreng dari para siswi di kelasnya.

"..Ohayou." sapanya singkat lalu duduk di kursi paling kiri di barisan pertama.

'Cih, kenapa gadis-gadis itu tetap memanggilku Ouji-sama? Aku orang biasa dan aku ini perempuan!'

Yeah, pemuda bertopi cap ini adalah seorang gadis. Garis bawahi kata gadis. Hey, aku bilang garis bawahi, bukan ditebalkan! *sigh* Abaikan, mari kita lanjutkan.

Pemuda bertopi cap itu bernama Akatsuki Ryou dan dia seorang perempuan. Gadis tomboy yang 100% mirip cowok ini, sering di beri peran sebagai tokoh utama cowok jika ada pertunjukan theater. Ada pun teman sekelasnya bernama Chika menembaknya! Tapi, saat Ryou mengatakan kalau dia perempuan, Chika dan dia hanya berteman baik.

"Hey, Ryou."

"Hn?" Ryou menoleh. Di samping kanannya, telah berdiri seorang pemuda berambut black-spike sedang tmenatapnya. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya.

"Lusa ada test matematika kan? Belajar bareng di rumahmu, mau nggak?"

"Hn. Siapa aja yang ikut?"

"Cuma aku sih. Tadinya Daichi mau ikut, tapi dia ada janji war di Lost Saga. Dasar anak itu, lebih mementingkan main daripada nilai" Ryou hanya tertawa kecil.

Beberapa saat kemudian , bel sekolah berbunyi.


-Lunch Time-

Ryou menghampiri kantin sekolah dan membeli sandwhich serta jus jeruk. Setelah itu, ia menuju meja yang terdiri dari dua kursi. Ryou memang pendiam dan penyendiri. Dia lebih suka sendirian di tempat tenang ketimbang tempat yang ramai. Meja yang ia tempati sekrang pun berada di pojok ruangan. Tapi walau begitu, ia bukan anti-sosial.

"Aneki(*)!" Seorang bocah berumur 11 tahun berlari menghampirinya dan duduk di kursi tepat di depannya.

"Aku gabung ya!" seru bocah itu.

Ryou menghela napas, "Kai, bisa tidak kau berbicara tanpa berteriak?" gerutu Ryou. Dia agak sebal dengan kelakuan adik semata wayangnya. Adiknya memang selalu berbicara dengan suara keras, dan Ryou benci hal itu. Ingat Ryou menyukai ketenangan?

"Maaf~ Habis, aku jarang bisa makan dengan Aneki" kata Kai sambil nyengir.

"Cepat habiskan makananmu, waktu istirahat tidak banyak" Kai menngangguk lalu memakan hamburger di tempat bekalnya. Sementara Ryou memakan sandwhich-nya dengan tenang tanpa bersuara. Orang-orang heran, Kai bisa tahan akan kakaknya yang seperti itu? Yah, walau sifatnya begitu dingin dan pendiam, Ryou jarang marah.

"Sudah habis. Aneki, aku kembali ke kelas ya"

"Hn." Kai berlari menuju ke kelasnya, meninggalkan Ryou yang masih duduk di tempatnya walau makanannya sudah habis. Lalu ia berdiri dan mengambil jus jeruk itu dan meminumnya. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan di kantin menghampirinya dan mengambil gelas serta piring milik Ryou.


-After School-

"Tadaima(*)" kata Ryou saat memasuki rumahnya.

"Permisi" kata Ren mengikuti Ryou memasuki rumahnya.

"Okaeri(*). Ah, ada Ren. Silahkan masuk" Seorang wanita paruh baya yang berstatus sebagai istri dari Akatsuki Ise adalah ibu dari Ryou.

"Ma, aku mau belajar matematika di kamar bareng Ren. Kalau misalnya Kai mau masuk, tolong ingatkan dia supaya nggak berisik"

"Baiklah. Selamat belajar" Ryou dan Ren menaiki tangga yang satu-satunya ada di rumah itu. Ryou menuju sebuah pintu berwarna coklat dan membukanya. Setelah mereka berdua masuk, ia menutup pintunya.

"Kau ingat tidak materi testnya dari mana?" tanya Ren sambil duduk di sofa kuning yang khusus diduduki dua orang. Ryou duduk di sampingnya dan meletakkan beberapa buku berwarna biru di meja yang berada di depan mereka.

"Tentang prisma dan limas. Memangnya, kau tidak catat?"

"Aku lupa. Pas mau catat, sudah di hapus sama Anton-sensei(*).." kata Ren sambil nyengir.

"Ya sudah. Dia antara dua materi mat, mana yang belum kau mengerti?"

"Prisma aku sudah bisa. Limas belum terlalu ngerti. Apalagi yang cara cari luas permukaan di soal yang latihan ini"

"Kebalikannya denganku. Kalau limas kau sudah bisa, ajari aku yang prisma" Ren mengangguk.

"Jadi rumus luas permukaan limas itu… LP = Luas alas + 4 dikali Luas ABCD limas"

"Luas alas dapat hasilnya gimana?"

"Kali saja semua alasnya. Terus bla… bla… bla…" Oke, author malas meneruskan.


-Skip Time, Evening-

Ryou mengambil handuk hijau di lemarinya dan memasuki kamar mandinya. Ren sudah pulang, Ryou rasa dia sudah cukup menguasai materi. Sama seperti dirinya, mungkin mereka bisa mendapat nilai sempurna.

Setelah Ryou mandi, ia segera memakai T-shirt putihnya dan celana boxer berwarna biru. Ia menuruni tangga dan menuju meja makan. Di sana, ibu, ayah dan adiknya sudah menunggu.

Ryou duduk di samping Kai dan memulai doa makan. Selesai berdoa ia memakan nasi kare yang sudah ibunya siapkan.

"Ryou" panggil ayahnya. Ryou memalingkan wajahnya dari makanan ke ayahnya.

"Papa rasa, kalian cocok" Ryou mengernyit heran. Ia menaikkan sebelah alisnya.

"Excuse me, dad?"

"Kau dan Ren. Sepertinya cocok" Ibunya tertawa, sementara ayahnya hanya tersenyum jahil.

Ryou mendengus, "Kami hanya teman. Lagipula, aku ini tomboy jadi nggak keliatan cocok dengannya"

"Bewarthi.. Anechi… Sebenawnya mawu kewiatan cokok danyan wenni dyong?" kata Kai dengan mulut yang masih epnuh dengan makanan.

(Translate : Berarti Aneki sebenarnya mau keliatan cocok dengan Ren-nii(*) dong?)

"Pelan-pelan makannya, Kai" tegur ibunya.

"Aku nggak menyukainya, aku hanya senang berteman dengannya. Itu saja" Ryou mengambil piringnya yang sudah bersih (cepat amat habisnya…) dan mencucinya di wastafel. Lalu dia memasuki kamarnya dan membuka laptop abu-abu miliknya.

Dia meng-klik shortcut icon Lost Saga dan memasukkan username serta password miliknya.


-Lost Saga-

Begitu jiwa Ryou memasuki dunia Lost Saga, ia langsung berada di lobby. Dirinya yang tadi memakai T-shirt putih, sekarang berganti menjadi pemuda berambut orange panjang yang di kepang satu dengan ikat kepala hitam. Ia mengenakan kaus putih yang ditimpa kemeja merah dengan motif pakaian china.

Ya, itulah penampilannya sebagai Kung Fu Master. Dia sengaja memakai Hero yang bergender Male, entah apa alasannya. Di Lobby itu cukup banyak player yang sepertinya sedang mencari room untuk battle sesuai dengan mode battle yang mereka inginkan.

"Boss Raid Battle" kata Ryou. Lalu ia memilih sebuah room, dan masuk ke dalamnya. Disana ia masuk ke tim merah. Lalu, battle pun di mulai.


-Morning, School-

Ryou menenggelamkan kepalanya di atas meja. Rambutnya berantakan, kantung mata berwarna hitam menghiasi wajahnya.

BLETAK

Ryou langsung terlonjak kaget sambil memegangi kepalanya yang di lempar penghapus papan tulis oleh guru killer di kelasnya.

"Akatsuki, apa kau mendengar penjelasanku? Oh, buat apa aku bertanya? Kau sudah pasti tidak mendengar karena menikmati mimpi indahmu yang konyol itu" kata guru itu sambil menatap tajam Ryou. Ryou mengabaikanya dan bersiap untuk kembali tidur.


(A/N : Anak baik maupun anak nakal, harap jangan menirunya ya)


Twitch. Urat kemarahan sudah muncul di kepala guru itu.

"Sudah merasa pintar rupanya. Kalau begitu, tanggal berapa kota Hiroshima dijatuhi bom?"

Ryou menghela napas, "6 Agustus 1945"

Mata guru itu terbelalak. Bagaimana mungkin dia tahu jawabannya, padahal ia tidak mendengarkan penjelasan guru itu sama sekali? Bahkan dia tidak membuka bukunya!

"Kalau sensei kaget mengapa aku bisa menjawabnya, aku sudah pernah baca materi ini" kata Ryou.

"O-oke, mari kita lanjutkan materi ini.." kata guru itu. Sepertinya ia merasa sudah kalah dengan Ryou.

Kalian tanya mengapa Ryou bisa tidur lelap di kelas? Dia kemarin bermain Lost Saga sampai oukul setengah 4 pagi. Hell, kenapa harus sampai sepagi itu?

Sepertinya author lupa memberitahu. Kemarin Lost Saga mengadakan event, player akan mendapat rare items apabila sudah mencapai level 20 atau lebih. Dia baru saja level 19, dan mau menaikkan levelnya lagi sampai rela tidak tidur cukup hanya untuk rare item itu.

Ya, dia memang anak aneh. Tapi jika tidak aneh, bukan Ryou namanya.

To Be Continued


Catatan :

- Ouji-sama : Pangeran
- Ohayou Gozaimasu / Ohayou : Selamat pagi / pagi
- Aneki : Kakak perempuan
- Tadaima : Aku pulang
- Okaeri : Selamat datang kembali
- Sensei : guru
- Nii / Onii-chan / Nii-chan : suffix atau embel-embel untuk kakak laki-laki


Selesai! XD

Aneh ya? Saya juga merasa begitu. Kalau Ryou begadang buat main Lost Saga, saya begadang untuk membuat chapter pertama fict ini. Belum lagi Boys Revolution =_=

Oh, dan untuk review…

Kishi : Hey, Ototou. Kau baca juga? Ini sudah lanjut, review lagi! =)

Ideee : Terima kasih udah review ^^. Ini sudah Update XD

FanFiK3Rs : Makasih sudah review, silahkan mampir lagi jika mau =D

I'm Your Math Exam : Thank you very much. The chapter one is up ^^

By the way, Mind to review? =)