Akhirnya.

Chapter 3.

Hohoho.

Keputusan

Chapter 3

Conan tidak hanya membeli komik itu, ia membeli komik lain. Komik tentang detektif. Ai tahu ia tidak menyukai komik kekanakan juga, tetapi setidaknya ada hal yang masih disukai Conan yang dapat dibelinya. Sedangkan Ai, ia sama sekali tidak menyukai komik. Baginya bacaan tersebut sangat kekanakan dan tidak realistis.

Sepulang membeli komik, Conan memutuskan tidak langsung menuju kediaman Detektif Mouri, ia mengunjungi Profesor Agasa terlebih dahulu. Ai sangat tidak menyukai hal itu, berjalan berdua dengan seseorang yang harus dibunuhnya.

Ia menyukai kesendirian. Hanya ketika sendiri lah ia merasa damai. Ia akan menyelami pikirannya sampai jauh, menyusun berbagai rencana, membayangkan hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi dalam sisa hidupnya. Ia tidak menyukai siapa pun yang mengusik pikirannya. Ia suka berpikir, seolah seluruh rencana tidak pernah akan usai.

Akhir-akhir ini hanya ada satu hal yang mendominasi pikirannya: cara membunuh Shinichi Kudo. Ia telah menyusun berbagai rencana. Semua rencana itu sepertinya sudah sangat sempurna. Selama ini, analisisnya untuk suatu rencana nyaris tidak pernah meleset. Hanya satu perkiraannya yang meleset: APTX 4869.

Ia tahu rencananya sudah sempurna. Ia tidak memerlukan pisau, pistol, atau senjata mengerikan lainnya. Bukan tipenya bermain kasar semacam itu.

"Bukankah kau diajak professor menghadiri pameran ilmu pengetahuan itu?" Conan memecah keheningan.

Ai menoleh. Ia mengangguk tidak peduli.

"Kenapa kau tidak ikut?"

"Aku tidak tertarik."

Bohong. Ia tertarik pada sains. Ia sudah bersama sains selama separuh hidupnya. Namun ia tidak dapat menghadiri acara itu. Rencananya bertemu Gin bertepatan dengan pameran tersebut. Di samping, ia sebenarnya tidak suka berkumpul selama dua hari dengan ilmuwan-ilmuwan membosankan di pameran semacam itu.

Ai memutar kunci pintu rumah Profesor. Ia mendahului Conan masuk ke dalam rumah itu. Sepasang sepatu diletakkan dengan rapinya di beranda. Professor sudah pulang.

Ah, tentu saja. Untuk apa Conan pulang bersamanya jika bukan untuk bertemu Professor. Tentu saja Professor sudah mengabarkan kepulangannya kepada Conan.

Conan menaruh komik-komiknya di atas meja dan pergi ke kamar mandi. Ai langsung pergi ke kamarnya. Ia menaruh komik yang dibelinya dan takkan pernah dibacanya asal saja.

Entah mengapa, gadis itu menginginkan secangkir teh. Mungkin akibat tekanan yang resmi diberikan organisasi itu kepadanya. Secangkir teh mungkin dapat membuatnya lebih baik.

Tanpa suara, ia meninggalkan kamar. Setiap langkahnya menuju dapur sama sekali tak bersuara, seolah takut membangunkan penjaga yang siap menyergapnya.

Saat melewati ruang kerja Professor, Professor tampak memperlihatkan salah satu penemuan terbarunya pada bocah detektif itu. Gadis berambut cokelat itu melewatinya tanpa peduli.

Satu lagi penemuan yang tidak akan berguna bagi hidupku, batinnya.

Dengan rasa takut membangunkan penjaga yang tidak ada, Ai membuat teh dengan suara sepelan mungkin. Ia tidak ingin kedua orang di ruang kerja itu mengetahui kehadirannya dan mengajaknya bergabung melihat penemuan tidak berguna. Ia lebih suka sendiri.

Bahkan, berinteraksi dengan orang-orang itu tidak ada gunanya. Untuk apa menjalin hubungan baik dengan seseorang yang akan kau bunuh? Hal semacam itu hanya memperlambat geraknya, membuatnya semakin tertekan.

Yang ia perlukan hanya kepercayaan bahwa dirinya bukan lagi anggota organisasi tersebut. Sejauh ini, kedua orang itu memercayainya begitu saja. Tidak mempertanyakan apa pun. Kepercayaan itu membuat jalannya menjadi lebih mudah. Ia tidak perlu bersembunyi di suatu tempat yang tidak terlihat dan mengawasi Shinichi Kudo dari kejauhan. Nilai tambahan, ia memiliki akses mengorek informasi mengenai bocah detektif itu dan mengawasi penemuan-penemuan Professor yang mungkin dapat diubahnya menjadi berguna bagi dirinya.

Ia salah.

"Apakah kita harus memercayainya?" suara Conan terdengar sampai ke koridor walaupun sudah dipelankan.

"Sejauh ini, hanya itu yang dapat kita lakukan. Setidaknya kita dapat mengorek informasi organisasi itu darinya dan mungkin dia dapat menemuka penawar obat itu."

"Ya, tetapi kita tidak boleh lengah. Kita baru mengenalnya dan dia sangat tertutup. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu."

"Mungkin itu tentang kakaknya. Dia masih belum dapat melepas kakaknya."

"Mungkin. Tetap saja dia harus berada di bawah pengawasan. Mungkin dia diutus organisasi untuk memburuku."

Tepat. Kecurigaan bocah detektif itu tepat. Ia telah meremehkan kemampuan Kudo. Ia harus lebih berhati-hati.

Ia kembali ke kamarnya setelah beberapa saat mematung di depan ruang kerja Professor, mendengarkan percakapan itu.

Ritme otaknya tidak menentu. Ia sudah terdesak. Perkiraannya salah. Kedua orang itu mencurigainya, terutama sang target utama. Ia harus lebih berhati-hati. Berhati-hati dan bergerak cepat. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum tujuannya diketahui.

Kita baru mengenalnya dan dia sangat tertutup.

Ah, ya. Selama ini ia menghindari interkasi. Ia mengira dengan begitu akan sulit mengorek informasi darinya. Sikap itu ia lakukan dengan tujuan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menyudutkannya. Ia tidak menyepelekan kemampuan analisis Kudo yang tersembunyi dalam pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukannya jika saja ia membuka diri. Selama ini ia selalu menghindar.

Mungkin ia harus menunjukkan bahwa tidak ada hal apa pun yang ditutupinya, tidak ada yang disembunyikannya. Mungkin ia harus mengubah persepsi itu.

Ia memutuskan bergabung dengan kedua orang itu di ruang kerja. Ia akan membuatkan teh untuk berbasa-basi masuk ke dalam pembicaraan mereka.

Sebelum rencana itu sempat terlaksana, ia melihat komik-komik yang dibeli Conan masih tergeletak di atas meja. Conan belum menyentuh kembali komik-komik itu. Tanpa perintah, ia mendekati komik-komik itu. Tangannya terjulur meraih komik detektif. Ia pun membaca synopsis di bagian belakang komik yang masih tersegel itu.

Ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Synopsis itu singkat, seperti synopsis-sinopsis lainnya. Namun synopsis itu sangat mengambarkan isi cerita dan karakter dalam komik. Ada sesuatu dalam jalan ceritanya yang membuatnya tertarik. Sesuatu yang mungkin dekat dengannya.

"Kau mau membaca itu, Ai?"

Ai tersentak. Conan sudah berjalan ke arahnya.

"Kalau kau mau, kau bisa membacanya duluan."

Ai menatap Conan sesaat. "Sungguh?"

"Tentu."

"Baiklah. Terima kasih."

Conan membawa komik lainnya pulang – komik yang Ai yakin tidak akan pernah dibacanya.

Maka, sore itu mengahabiskan satu jam membaca komik. Sesuatu yang sangat di luar kebiasaannya. Sesuatu yang dilakukannya tanpa tujuan.

Ia tersenyum ketika akhirnya menutup komik itu, selesai membacanya. Ada kilatan aneh di matanya.

Ia menemukannya. Ia menemukan cara membunuh detektif seperti yang digambarkan komik itu.

-bersambung. . .-


sebetulnya ga mau bersambung dulu, tapi pegel ngetiknya. hehehe