Seorang pemuda berparas manis menghela nafas panjang, dengan langkah gontai ia pun berjalan keluar dari lingkungan sekolahnya. Bel pulang sekolah sudah terdengar beberapa menit yang lalu, biasanya murid sekolahan senang kalau mengetahui jam pelajaran sekolah sudah usai. Tapi berbeda dengan pemuda satu ini, ia terlihat suram.

"Haah..." pemuda berambut biru itu menghela nafas sekali lagi, kelihatannya lelah tanpa sebab. Bahkan sapaan dari teman satu kelasnya, Morikawa, tidak digubrisnya. Yang terpikirkannya hanyalah dua orang pria yang mampu mengisi hatinya sampai seluk beluk terdalam.


.

.

.

Ketika Harus Memilih Diantara 2 Seme

.

Made By © IllushaCerbeast

.

Disclaimer: Kalau VG punya kami, fiksi ini sudah kami jadikan film bioskop dan dipertontonkan di seluruh bioskop Indonesia. So, you know what, right?

.

Rate: T – M (maybe)

.

Pairing: KaiAichi versus RenAichi

.

WARNING(s): Drama gagal, Romance hancur, Lime (nggak janji, juga nggak diminta), Yaoi/Shounen-Ai, Misstypo, OOC sangat, NON-CANON!

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.


Pemuda berambut biru tadi, sebut saja Sendou Aichi. Tadinya ia hanya pemuda biasa yang sama sekali tidak punya daya tarik di sekolahnya, Kamonatsuki High School. Tapi siapa sangka, gegara insiden tabrakan segitiga bermuda yang terjadi sekitar sebulan yang lalu, kini dirinya tidak bisa lagi memegang gelar 'anak biasa' di sekolahnya. Lho? Tabrakan segitiga bermuda? Bahkan cukup lama terjadinya –sebulan yang lalu. Kalian pasti punya banyak pertanyaan mengenai pemuda bertampang manis satu ini, kalau begitu, cek saja bagaimana latar belakangnya.

Sendou Aichi, kelas 1 SMU di Kamonatsuki High School, di kelas 1-5 –kelas paling bawah dari angkatan 1 SMU di sekolahnya. Dia bukan tipe cowok yang menarik perhatian, aktif dalam kegiatan sekolah, ataupun selalu bersaing rengking di kelasnya. Melainkan ia sangat pemalu, paling takut kalau tiba-tiba dipanggil gurunya untuk menjawab pertanyaan dalam hal pelajaran, tidak pernah namanya tercantum dalam urutan rengking 10 besar, ataupun latihan sepulang sekolah untuk memperkuat tim futsal dan basket sekolah mereka. Yap, hanya anak biasa, bahkan lebih biasa daripada yang biasa.

Teman satu-satunya di kelas adalah Katsumi Morikawa dan Izaki Yuuta. Morikawa, paling berandal di kelas dan terkenal sebagai preman yang ditakuti satu kampung –eh, maksudnya satu sekolahan. Sedangkan Izaki Yuuta entah kenapa akrab dengan Morikawa dan Aichi juga. Mereka lebih sering mengobrol bertiga, walaupun Morikawa dan Izaki jauh lebih terbuka kepada teman-temannya yang lain, dibandingkan Aichi yang lebih memilih diam ketika Morikawa dan Izaki berbincang dengan teman lainnya.

Haah, malang sekali kau Aichi. Sama sekali tidak ada daya tariknya. Hemm, tapi omong kosong. Semuanya, dari murid-murid, guru-guru, bahkan pepohonan dan semut lewat di sekolah melupakan satu daya tariknya. Daya tarik yang paling menarik daripada foto Betty Lavea ataupun aksesoris Angry Bird. Mau tahu itu apa?

"Hei, uke-sama!" seru seorang pemuda berambut pirang tiba-tiba saja mendorong punggung Aichi dari belakang. Aichi yang terkejut langsung saja ...

"Hu –huwaaaa!" BRUKK!

"Apa-apaan kau, Miwa! Kau mau mencelakai anak ini, hah?" bentak Morikawa dengan aura premannya yang bangkit kembali. Yang tadi mendorong Aichi notabene tidak bermaksud jahat, yaitu Miwa, langsung mengada kedua tangannya ketakutan.

"H-Hei, santai dulu, aku 'kan tidak sengaja! Aku tidak bermaksud membuat Aichi terjatuh, kok!" bantah Miwa berusaha meyakinkan, tentunya dengan senyum terpaksa handalannya. Aichi langsung bangkit berdiri dan menepuk pundak Morikawa agar temannya itu tenang.

"Sudahlah, Morikawa. Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut, hehe..." ujar Aichi tersenyum kecil. Morikawa sedikit sweatdrop mendengar jawaban anak itu yang kelihatannya terlalu polos untuk diucapkan.

"Hanya sedikit terkejut katamu? Kau selalu saja jatuh terjungkal seperti sapi dicekik tiap kali anak bakmie ini mengejutkanmu tahu!" seru Morikawa sembari menunjuk anak bakmie –Eh, maksudnya Miwa yang cengo dengan penyangkalan Morikawa.

"Apa? Anak bakmie? Mentang-mentang namaku MIwa dan orang tuaku itu penjual bakmie, nggak harus mengejek juga kali! Lose-umi jelek!" ledek Miwa menjulurkan lidahnya tidak mau kalah. Kesal, akhirnya pertengkaran mulut keduanya berakhir dengan bermain kejar-kejaran tanpa peduli murid lainnya yang jawdrop melihat mereka.

"Sudah, sudah... Morikawa, Miwa-san," celah Aichi dengan suara kecil –memang suara anak ini selalu kecil, berusaha untuk menghentikan keduanya. Tapi sia-sia saja. Merasa janggal dengan kehadiran Miwa, akhirnya Aichi pun, "...A-anoo, ngomong-ngomong kenapa Miwa-san disini?"

"Eh?" Miwa dengan tarian balet handalannya pun berhasil menghindar tangkapan Morikawa yang kini mukanya berduet dengan aspal pinggir jalan, "Oh, iya! Hampir saja lupa! Uke-sama, aku punya kabar gembira untukmu, lhoo," ujar Miwa terdengar sengaja menggoda Aichi.

"Ja –jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, Miwa-san. Aku Aichi, bukan uke-sama." Kata Aichi sedikit cemberut. Miwa nyengir-nyengir sendiri begitu ia dengan sukses berhasil menggoda anak itu.

"Heeh, itu 'kan pantas untukmu. Hei, besok libur, 'kan? Kai ingin datang ke rumahmu untuk bermain, lho!" seru Miwa berbisik pada Aichi, spontan wajah anak berambut biru itu menjadi merah dan panas.

"A –aah.." belum sempat Aichi menjawab, langsung saja Morikawa bangkit berdiri dan...

"What? Anak blasteran beruang kutub itu mau bermain ke rumah Aichi? Aku juga ikut! Aku yakin dia pasti merencanakan sesuatu, aku tidak akan membiarkan Aichi dilukai oleh beruang kutub itu!" seru Morikawa tepat di depan muka Miwa yang kini mau nggak mau harus...

"Ngomong nggak perlu pakai KUAH BAKMI! Muncrat kesana-kesini!" omel Miwa sembari mengelap wajahnya dengan dasi seragam. Memang Morikawa yang salah, tapi tidak ada dalam kamus sejarah kalau dia akan mengalah...

"MASIH MENDING AKU KUAH BAKMI DARIPADA KAU BAKMINYA, BRENGSEK!" omel Morikawa yang urat nadinya bahkan sampai berbekas di wajah. Sepertinya dia marah sekali. Yap, benar, akhirnya Miwa dikejar-kejar lagi oleh Morikawa, tapi sebelum menjauh, Miwa memalingkan mukanya pada Aichi.

"Ingaaat, uke-sama! Besok, ya!" seru Miwa dengan senyumnya yang begitu berkilauan, sampai murid-murid lainnya yang kebetulan lewat spontan mengambil kacamata hitam untuk melindungi matanya. Dan bagi yang miskin dan tidak punya kacamata hitam, terpaksa merelakan matanya harus katarak dadakan hanya karena senyuman seorang Miwa Taishi.

"A–" Aichi kehilangan kata-kata. Kemudian pemuda itu kembali menghela nafas, setelah ia mendapat masalah, eh sekarang masalah baru datang lagi. Hei, sebutan Miwa pada Aichi bukan bohongan, anak berparas manis ini betul-betul seorang uke sejati. Bahkan persentasinya menjadi seorang uke bukan 100% lagi, bahkan 1 juta % juga sampai, kok.

Sekolah Aichi, dikenal sebagai sekolah yang penuh dengan gay. You know what mean of GAY, right? Gay = Homoseksual = Percintaan sesama laki-laki. Euuh, mungkin beberapa orang bertanggapan jijik tentang itu, tapi lain mengenai kota tempat tinggal Aichi yang meng-sahkan saja apa itu gay. Termasuk sekolah Kamonatsuki yang cowoknya rata-rata gay semua. Bahkan murid wanita disana rata-rata fujoshi sangat mendukung dan selalu fangirlan setiap hari melihat pemandangan bagaikan surga itu.

Di sekolah itu bahkan selalu ada julukan-julukan tersendiri, misalkan saja julukan sebagai pasangan yaoi terhot, pasangan yaoi terfantastik, pasangan yaoi terimut, dan masih banyak lagi, bahkan ribuan. Nah, kalau julukan untuk pasangan ada, bearti julukan untuk 'seme' dan 'uke' pasti ada. Dan Aichi Sendou, mau tidak mau kehilangan gelarnya sebagai 'murid biasa' karena gelar tersebut digantikan seluruh sekolah menjadi 'Uke-sama'. Nah, lho, kenapa bisa?

Tepatnya sebulan yang lalu, kalian masih ingat tentang 'tabrakan Segitiga Bermuda' yang tadi disebut, 'kan? Nah itu dia masalahnya, tabrakan yang membuat takdir hidup Aichi berubah 180 derajat.

Saat itu, dimana dia masih berstatus sebagai murid biasa, ia disuruh teman-temannya untuk mengembalikan beberapa gulungan tissue toilet ke gudang sekolah. Niat menolak diurungkannya, karena ia takut ditindas kalau nantinya ia membantah. Padahal Aichi sudah punya Morikawa, preman nomor satu di sekolah, tapi tetap saja begitu.

Mengembalikannya, sih, oke saja, Tapi saat itu, mungkin tinggal 5 menit lagi, bel tanda waktu istirahat selesai akan bunyi, belum lagi jumlah gulungannya cukup banyak, sekitar 10 gulung tisu toilet. Mana bisa ia bawa semua itu sendirian dengan tangan kosong dalam waktu singkat pula. Namun, meskipun begitu, Aichi tidak menyerah. Berhubung Morikawa dan Izaki sedang tidak ada di kelas, jadi Aichi dengan berlari, pergi sendirian menuju gudang sekolah yang jaraknya sangat jauh dari kelasnya itu.

"Gawat! Keburu, tidak, ya? Sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi, aku bisa dimarahi Asaka-sensei kalau tidak cepat kembali!" seru Aichi dalam hatinya setengah panik. Setelah berlari-lari di koridor sekolah lantai 2, diperhatian seluruh murid karena penampilannya yang sedang membawa gulungan tisu itu aneh, sekarang ia harus turun sampai lantai dasar lalu berlari menuju gudang sekolah yang jaraknya masih panjang. Dengan terburu-buru ia mulai mengecilkan jumlah anak tangga yang harus dilewatinya untuk sampai ke gudang sekolah.

"Wakh? A-apa-apaan ini?" serunya begitu tangga dari lantai satu menuju lantai dasar ditutup, padahal itu tangga utama, dan saat tadi pagi ke kelasnya juga tangga itu tidak apa-apa. Mungkin saja bagian itu mau dibersihkan, habisnya banyak sekali lumpur yang berceceran di sekitar tangga itu. Menghela nafas, mau tak mau ia kembali naik ke lantai satu dan menggunakan tangga samping yang lebih jauh.

DING DONG DING DONG

"Aah! Ba –bagaimana ini? Bel sudah berbunyi, a –aku harus cepat, cepat, cepat!" serunya semakin panik, nafasnya yang tidak beraturan tidak dipedulikannya. Ia terus berlari sampai tiba di tangga samping yang letaknya diujung, untungnya tangga ini lebih dekat dengan gudang sekolah yang terletak di samping lapangan basket sekolah itu. Dengan cepat ia menuruni tangga kecil yang berdebu itu, debaran jantungnya tetap saja tidak dapat berhenti. Membayangkan wajah Asaka-sensei yang mengamuk sangat menakutkan baginya.

"Yup, sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi, se–" belum sempat hatinya meloncat-loncat bagaikan cheerleader, lagi-lagi Aichi ceroboh, menjatuhkan beberapa gulung tisu dari genggaman tangannya. Dan tentu saja tisu yang tidak disegel plastik itu langsung berguling-guling berantakan dan berlomba menuruni tangga.

"Huwaaa! Tisunya berceceran, aku harus segera menangkap–" Ah, berbeda dari bahasa setelah jatuh tertimpa tangga pula, kalau yang ini, sudah jatuh satu dua, tambah tiga empat. Karena terlalu panik, refleks anak itu yang salah membuat semuanya jatuh dan berceceran menuruni tangga. Panik, anak itu segera menyusul perlombaan tisu jatuh ini.

"Huwaaa! Tunggu! Jangan jatuh dulu!" serunya lalu mencoba mengambil gulungan-gulungan tisu yang masih meloncat turun tangga itu. Disisi lain...

"Bagus, Kai! Kau sudah menjadi seme idaman, sekarang menjadi pemain basket terkuat!" puji Miwa yang merupakan teman baik dari seseorang yang selalu saja diperbincangkan satu sekolah. Sosok itu memiliki rambut kecoklatan juga iris mata emerald tajam yang membuat uke mana saja pingsan ke rumah sakit jiwa. Toshiki Kai, kelas 2 SMU sama seperti Miwa Taishi yang merupakan sahabat baiknya. Sifatnya begitu dingin dan tegar, selalu aktif di ekskull olahraga manapun, dan yang menjadi kesukaannya adalah basket. Seperti yang Miwa tadi katakan, ia lagi-lagi menang dalam pertandingan basket melawan SMU kacangan yang berseberangan dengan sekolahnya.

"Diam kau, bakmie." Lirih Kai dengan berat seperti biasanya. Astaga, demi banci sumur, bahkan orang cool seperti Kai pun menjuluki Miwa itu bakmie. Anak berambut kuning bagaikan bakmie itu hanya sweatdrop sesaat. Lainnya pun hanya tertawa kecil mendengar candaan –mungkin– dari ketua mereka itu.

Satu lagi, Kai juga termasuk gay di sekolah ini. Ya, walaupun secara langsung ia tidak mengakuinya, tapi begitulah kenyataannya. Ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada wanita, bahkan ogah untuk bergaul dengan kaum hawa. Sampai sekarang, ia menjadi salah satu seme idaman di sekolahnya. Yup, julukannya adalah 'Cruel Seme' karena begitu-begitu, ia adalah orang yang tidak berperasaan sama sekali. Tapi jujur saja, Kai belum pernah menemukan cowok yang membuatnya jatuh cinta, bahkan Miwa hanya sekedar teman baik baginya.

And then...

"Haah, yang seperti itu, sih, membosankan, apa tidak ada uke yang jauh lebih menarik?" seorang pria yang notabene salah satu murid di sekolah itu berguman sendiri. Figur berambut panjang merah sepunggung itu berguman sambil berjalan di lorong belakang sekolah, tepatnya lorong menuju tangga samping sekolah ataupun lapangan basket.

Perkenalkan, pemuda satu itu, Suzugamori Ren. Heran, padahal bel sekolah sudah berbunyi cukup lama, harusnya ia sudah berada di kelas dan mengikuti pelajaran, tapi anak satu ini bisa dibilang berandal yang sering membolos pelajaran. Padahal seharusnya di angkatan 2 SMU ini dia sudah harus serius menekuni pelajarannya. Jangan sangkah, Ren tidak bodoh, bahkan sangat pintar dalam pelajaran. Kalau saja kejelekannya satu ini –hobi membolos– tidak ada, ia pasti mendapat rengking satu nilai tugas dan ulangan selalu disusulnya lain waktu, tentu saja selalu mendapat nilai cermelang.

Satu hal yang menjadi kelebihan Ren berikutnya, yaitu seme idaman kedua yang menjadi favorit satu sekolahnya. Bisa dibilang saingan Toshiki tadi. Berbeda dengan Kai yang cerewet dalam urusan selerah, Ren lebih tidak mau ambil pusing. Jadi cukup banyak uke yang punya peluang untuk menjadi kekasih Ren. Sayangnya, Ren sama seperti Kai, tidak punya perasaan. Memang diluar, tampang Ren begitu lugu dan ceria, tapi di dalam hatinya ia sama sekali tidak punya hati. Bayangkan saja, kalau seandainya ia tidak menyukai uke itu, ia pasti akan memutuskannya tak lebih dari 1 jam mereka berpacaran. Kejam, 'kan? Bahkan tadi ia baru saja memutuskan pacar barunya yang baru jadian sekitar 5 menit. Julukan untuk seme satu ini adalah, 'Aggressive Seme'.

Aichi yang sedang menuruni tangga samping dengan gulungan-gulungan tisu berceceran, Kai yang ingin kembali ke kelasnya lewat tangga samping, Ren yang ingin berkeliaran di lorong belakang sekolah menuju perbatasan antara tangga samping dan lapangan basket. Tanpa sadar ketiganya bertemu dengan takdir baru hidup mereka.

"Aku ke kelas duluan," ucap Kai sembari melambai singkat pada Miwa dan teman-teman satu kelompok basket lainnya yang ingin segera berganti baju ke toilet. Sedangkan Kai memutuskan untuk naik ke kelasnya terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.

"Lho? Kai baru selesai main basket, ya?" sapa Ren yang kebetulan berpas-pasan dengan Kai yang ingin menaiki tangga samping. Dingin, itulah Kai, ia hanya mengangguk kecil. Walaupun keduanya sama-sama seme idaman, tapi kelihatannya tidak begitu akrab seperti sekarang, dan keduanya berubah menjadi musuh sungguhan begitu...

"Hu –huwaaaa! Minggir, minggir! Awas!" seru Aichi dari arah tangga samping terlihat berantakan. Sekujur tubuhnya dililit-lilit tisu toilet yang tadi dipunggutnya, tapi dengan itu membuatnya tidak bisa berhenti melangkah turun tangga, langkahnya semakin dekat dengan Kai dan Ren yang terkejut dan tidak sempat menghindar.

"Apa yang–" BRUKKKK!

Anak tangga terakhir kelihatannya iseng, membuat Aichi tergelincir dan terjatuh menimpa Kai yang tidak sempat menghindar dan juga Ren yang refleks ingin menangkap Aichi, tapi sayangnya malah ikut terjatuh. Beserta tisu-tisu toilet yang menyakut pada Aichi kini juga melilit tubuh Kai dan Ren bersamaan.

Ini dia yang dimaksud 'tabrakan Segitiga Bermuda' tadi.

"Aduh, sakit..." ringis Aichi berusaha bangkit berdiri. Tapi sakitnya hanya sebentar, Aichi menjadi bingung. Begitu kesadarannya kembali pulih, ia baru sadar kalau menabrak dua orang sekaligus, bahkan menghiasi keduanya dengan tisu toilet pula.

"Huwaaaa! Maaf! Maafkan aku!" seru Aichi panik, ia betul-betul mengenal dua orang yang selalu menjadi bahan perbincangan satu sekolahan itu. Dan rasa takut begitu mengubun-ubuninya saat ia tidak sengaja membuat keduanya menjadi seperti itu.

"Kau tidak apa-apa? Dan kenapa banyak sekali tisu toilet?" tanya Ren kelihatannya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia segera melepaskan lilitan tisu pada tubuhnya. Sedangkan Kai masih diam saja mengamati Aichi.

"A-aku disuruh temanku untuk mengembalikan tisu ini ke gudang sekolah," jawab Aichi dengan wajah panas, tentu saja malu. Karena penampilannya itu pasti akan membuat orang sekitar menganggapnya mumi sekolah.

"Hooh, begitu, ya. Aku sedang tidak ada kerjaan, jadi biar kubantu, deh!" seru Ren tersenyum kecil, entah kenapa ia merasa perasaan baru begitu melihat wajah merah anak berambut biru itu. Terkesan berbeda dari cowok sok manis yang banyak ditemuinya, kali ini berbeda.

"Ti-tidak perlu, ini tugasku! Ren-san dan Kai-san silahkan kembali melanjutkan aktifitas kalian, ma –maaf menganggu!" seru Aichi dengan bahasa yang begitu formal, kelihatannya menghormati keduanya dengan sangat. Kai tanpa ekspresi lalu melakukan kegiatan yang sama seperti Ren, melepas lilitan itu. Tapi kali ini tanpa disuruh, ia merapikan gulungan-gulungan tisu itu.

"Ka –Kai-san, tidak perlu, biar aku sa–" Aichi mengulurkan tangannya untuk menghentikan aktifitas Kai yang dirasanya tidak perlu. Tapi dengan cepat, tangan Kai menangkap pergelangan tangan Aichi dan menghentikannya.

"A–" wajah Aichi panas seketika begitu tangannya digenggam tangan dingin Kai yang jauh lebih besar. Belum lagi, dengan enaknya Kai menatap Aichi tanpa ekspresi. Aichi tidak tahu kalau Kai sedang mengetes dirinya, dan dari hasil tes menurut Kai, sepertinya anak dihadapannya ini... sangat manis.

"Bantu gulung semua ini kalau ingin cepat selesai," ujar Kai terdengar memerintah. Dengan ragu-ragu Aichi mengangguk, menggerakan pergelangan tangannya yang masih digenggam Kai.

"Sepertinya kau itu ceroboh, ya, sampai terlilit ke leher segala," komentar Ren dengan nada santai kemudian melanjutkan gulungan tisunya yang menyangkut pada leher Aichi.

"Eh, eh, maaf..." selah Aichi salah tingkah, dengan perlahan Ren melanjutkan gulungannya, mengambil sampai beberapa helai tisu yang menyangkut di leher anak berparas manis itu, namun memanfaatkan kesempatan, Ren sedikit menyentuh leher itu dengan sengaja membuat Aichi tidak nyaman.

"A-anoo, biar aku saja..." ujar Aichi tidak ingin merepotkan Ren, yang juga salah satu senpainya di sekolah. Dengan senyum licik, tangan putih Ren semakin menggelitik leher anak itu.

"Hei, aku belum tahu siapa namamu, padahal kau sudah tahu namaku dan juga dia," bisik Ren senang dengan reaksi anak itu yang menggeliat tak nyaman karena lehernya yang pertama kali dijajah.

"Ehm, itu wajar saja karena Ren-san dan Kai-san 'kan senpai terkenal di sekolah ini..." jawab Aichi –lagi-lagi dengan suara kecil, "...Ren-san, leherku," mohon Aichi yang wajahnya semakin panas. Padahal tidak ada tisu lagi yang bersarang disana, yang ada hanya tangan lembut Ren yang bermain-main pada lehernya.

"Kalau kau beritahukan namamu, akan aku lepaskan, kok, bagaimana?" tawar Ren dengan nada seduktif. Huh, siapa uke yang tidak kelepek-kelepek dengan seme sepertinya. Aichi bergetar kecil karena kontak fisik tiba-tiba ini, tapi kemudian...

"Se –Sendou Aichi dari kelas 1-5." Jawab Aichi polos, berharap kalau Ren mau membebaskan salah satu bagian tubuhnya yang sensitif itu. Sedikit kasihan, akhirnya Ren menarik tangannya dengan berat hati. Entah kenapa ia... begitu tertarik dengan anak itu. Padahal biasanya uke-uke yang selalu tertarik padanya bagaikan sapu lidi yang on sale. Tapi kali ini...

"Engh, Kai-san..." kata Aichi tidak nyaman karena tangannya masih digenggam Kai –entah mengapa. Tangan Kai satunya lagi dengan cekatan menyelesaikan semua gulungan itu dengan rapi. 10 gulungan tisu itu pun seakan-akan baru lagi, dengan dingin Kai kembali menatap Aichi.

"Maaf, tidak sengaja." Jawab Kai kelihatannya berbohong, kemudian terpaksa melepaskan pergelangan tangan mungil itu. Padahal dalam hatinya, masih ingin menggenggam pergelangan tangan dari anak manis itu lebih lama. Aichi kemudian bangkit berdiri dan menunduk.

"A-arigatou sudah mau membantuku, Kai-san, Ren-san! Aku permisi dulu," dengan itu, Aichi kembali membawa kesepuluh gulungan tisu itu ke gudang. Ren 'kan bolos, jadi bisa saja dia pergi membantu Aichi ke gudang sana, entah kenapa ia tertarik sekali pada pemuda berambut biru langit itu, tapi...

"Suzugamori! Sudah kuperingatkan berapa kali untuk tidak membolos, hah?" seru seorang guru yang kelihatannya sengaja mencari anak berambut merah panjang ini. Ren memalingkan wajahnya dengan santai kemudian...

"Ups, aku bosan ikut pelajaran." Dengan itu Ren langsung berlari –bahkan sengaja dibuat berjingkrat-jingkrat untuk memancing emosi guru yang bersangkutan.

"HEI! TUNGGU KAU!" bodohnya guru itu malah mengejarnya, entah ia tahu atau tidak kalau Ren itu bintang klub atletik. Kini tersisa Kai seorang diri. Ia bangkit berdiri bermaksud untuk melanjutkan niatnya menaiki tangga samping. Namun, entah kenapa kembali ditatapnya tangan yang tadi sempat membungkus pergelangan tangan anak tadi. Tanpa sadar, wajah Kai sedikit merona merah.

"Lho? Kai? Demi dewi sumur, kenapa kau masih disini? Bukannya kau ingin naik ke kelas?" tanya Miwa yang sudah berganti pakaian. Kai terperanjat dari lamunannya kemudian menoleh ke arah sahabatnya itu.

"Ehm..." jawab Kai tertahan, ia bingung bagaimana menjelaskannya. Dimana ia bertemu dengan pemuda yang kelihatannya sangat ceroboh dan tidak pandai itu, tapi Kai merasa ada yang berbeda begitu menatap wajah merahnya, tingkahnya yang rendah hati, membuatnya berubah pikiran untuk tetap berstatus single di sekolah ini.

"Ada apa, kawan? Apa benar ada dewi sumur disini lalu kau takut naik tangga?" tanya Miwa khawatir, tapi kemudian ia langsung dijitak Kai keras-keras. Tidak peduli ringisan pemuda berambut pirang itu, Kai kelihatannya ingin curhat bahwa...

"Bukan, bakmie. Sepertinya aku... jatuh cinta."

"Sepertinya aku jatuh cinta." Tanpa disadari Kai, diseberang sana, tepatnya dimana Ren sudah lolos dari kejaran guru tua bangka yang memang mustahil bisa menyamai kemampuan lari remaja tadi. Ya, Ren dan Kai mengalami perasaan yang sama, jatuh cinta. Bukan cinta main-main, juga bukan dicoba-coba. Kini cinta yang mereka rasakan serasa nyata...

"Sendou Aichi dari 1-5, ya? Baiklah, lihat saja besok," guman Ren dengan riang gembira lalu kembali melanjutkan aktifitas bolosnya menuju ruang praktek biologi yang tidak terpakai.


.

.

.

TO BE CONTINUED


IllushaCerbeast: Hallo minna-san XDD Bagaimana karya kedua kami di fandom mungil ini? XD /digaplok. Ehm, jujur, ini fic pertama kami yang judulnya Indonesia banget! Mana kesannya dramatis gitu pula /digebuk satu kampung/ Buatnya fic ini diawali dari keisengan kami mengedit cover song 'Believe With My Existence'-nya JAM Project menjadi film bioskop (bohongan) 'Ketika harus Memilih Diantara Dua Seme' XDDD lalu kami post di grup fb kami. Tapi 'kan posenya memang cocok! XD /Aichi: dasar author kurang kerjaan, author gembel/ Karena kami tidak bisa mewujudkan keinginan member grup disana untuk membuat film bioskopnya (?) akhirnya kami buat fanficnya, hahaha XD hancur banget, ya.

Padahal niat tobat dari dunia lemon/lime fanfiksi, tapi gegara ngebayangin wajah uke Aichi, ahhhhh! Jadi kelepek-kelepek, mana semenya juga sanggar begitu /lirik Kai dan Ren/ Tadinya juga niat bikin oneshoot, tapi begitu sadar, fic ini saja sudah 3000 words lebih, padahal hanya awal cerita dan flashback. Memang kita berdua author gembel yang gila deskripsi, hehehe. Btw kalau ada misstypo, gomen, yak. Habisnya kami malu banget baca fic romance (hancur) buatan sendiri. Yosh, review please! Semakin banyak review semakin semangat kami untuk melanjutkan cerita ini, hehehe.