"Putri..."

Suara berat itu kembali berucap, dengan nada yang begitu lembut dan membuat siapa saja terlena mendengarnya. Dan sekarang, tangan dari pemilik suara itu menggenggam tangan si putri berambut biru lembut dihadapannya. "Aku akan menjagamu dengan seluruh kekuatanku, aku pasti akan melindungimu dengan segenap jiwaku, karena itu... kumohon tetap bersamaku, Putri. Tetaplah disampingku, dampingi aku..."

Wajah Putri Agricia dibuat merah olehnya, hanya dengan serangkai kata yang diucap sang Pangeran dengan sungguh-sungguh. Genggaman tangan Pangeran pada Putri cantik itu semakin erat, bahkan tanpa sadar jari lentik si Putri membalas sentuhan tangan Pangeran.

"Wylace..." panggil si Putri, menatap pangeran tampan yang ada di hadapannya lekat-lekat. Dan langsung saja kedua iris mata mereka bertubrukan dalam pantulan sinar bulan sabit yang indah. Kini tangan pangeran mulai beralih menuju wajah sang Putri, sedikit menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu.

"Apa, Agricia?" si Pangeran bertanya, mengukir seulas senyum di wajah tampannya hanya untuk si Putri. Hanya untuk dia. Agricia seorang.

"Benarkah... benarkah ucapanmu itu? Kau tak akan meninggalkanku, 'kan? Kau akan... selalu bersamaku dan melindungiku, sekalipun aku ini putri yang dikutuk?" Agricia justru bertanya balik, dengan tatapan cemasnya. Ah, kini giliran Pangeran yang terlena dengan wajah itu. Sekalipun ia sedang khawatir, tapi kecantikan di wajahnya sama sekali tidak memudar bak lukisan legenda.

"Tentu saja, aku akan selalu bersamamu. Karena kau satu-satunya yang kucintai,"


.

.

Ketika Harus Memilih Diantara Dua Seme

.

Part 15

.

Made By © Hyucchi (IllushaCerbeast)

.

Disclaimer: We don't own Cardfight! Vanguard ever! Kalau CV milik kami, pasti cerita ini akan menjadi film bioskop, lol XDD

.

Rate: M (for safe)

.

Pairing(s): KaiAichi, RenAichi, KaiAichiRen, KamuiEmi, DaiLeon, ArLeon, DaiLeonAr.

.

WARNING(s): Lime, Yaoi, Shounen-Ai, Misstypo, OOC, Non-Canon, Setting AU, fail Romance, and all.

.

DON'T LIKE? JUST DON'T READ.

Enjoy~

.

.


"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

"Auch, demi bakmi tanpa kuah dan sayur, berisik sekali mereka!" maki Morikawa sembari menutup kedua telinganya erat-erat. Ia pandangi para penonton wanita dengan tatapan sebal. Hah, andai saja teman baiknya―alias Sendou Aichi―tidak bermain dalam drama―yang menurut Morikawa begitu mendramatis dan bertele-tele―ini, ia tidak akan mau rela-rela menonjok salah satu penonton demi mendapatkan kursi penonton.

"Kyaa! Kyaaa! Kau lihat tadi?! Kai dan Sendou mesra sekali, ya? Aku benar-benar merasakan perasaan mereka bersatu dalam adegan tadi! Ohh, indahnya, aku sudah tidak kuat..."

"Duh, Erika! Masa' baru begini saja sudah tidak tahan? Ini masih permulaan, lagipula aku lebih mendukung Eathele dengan Agricia!"

"Aku sudah tidak tahan menunggu adegan this-and-that-nya, kyaaaaa! A-Aku harus mengabadikannya! Aku harus berhasil mengvideokannya!"

"Grrr, awas saja kalau mereka berani merekam adegan mesum yang diciptakan si ketua klub drama yang dodol itu, lalu merusak nama baik Aichi di publik, aku akan meremas-remas mereka jadi terigu, lalu mengguling mereka sampai jadi bakmi! Lihat saja!" geram Morikawa sembari mengepalkan tangannya. Aura negatif terus keluar dari tubuhnya, yang sayangnya malah tertutup aura fujoshi yang datang menonton drama Between Prince and Vampire ini.

Izaki sweatdrop melihat Morikawa yang sepertinya sangat over-protective pada Aichi. "Su-Sudahlah, Morikawa. Kau sendiri sudah hampir merusak nama baik Aichi karena menonjok salah satu penonton demi mendapat kursinya dan menonton disini, 'kan? Lagipula kalau kau tidak suka drama, kenapa kau masih nekat menonton?" sahut Izaki lalu mengelus-ngelus pundak Morikawa, berusaha menenangkannya.

Walau sebetulnya dari tadi Izaki terkagum-kagum pada temannya yang tulalit dan lemot itu. Ia tidak menyangka kalau Aichi bisa berakting sebagus di panggung sekarang. Ya, disisi lain ia juga tidak mau Aichi memainkan adegan aneh-aneh buatan Rekka, sama seperti Morikawa yang tadi menonton seperti cacing habis disetrika, alias nggak bisa duduk manis dan diam menonton.

"Ceh, aku kesini bukan untuk menonton drama, tahu!? Aku ingin berjaga-jaga apakah ada siswa yang berani merekam adegan tidak-tidak Aichi di panggung nanti! Aku tidak akan segan-segan merubah kamera yang mereka gunakan untuk merekam menjadi bakwan sapi kalau mereka berani melakukannya!" sahut Morikawa ketus. Ia kembali melirik-lirik ke arah penonton lainnya yang berasal dari berbagai kalangan. Mau perempuan, mau laki-laki, sampai banci pun ikut menonton. Tapi Morikawa tidak peduli soal itu.

Izaki hanya sweatdrop dan menghela nafas. "Kau tidak pernah berubah, ya. Tapi aku benar-benar salut kalau kau betulan bisa membuat bakwan sapi dari kamera,"


...

Disisi lain, tepatnya bukan di dalam opera drama, tapi di out-door festival sekolah Kamonatsuki. Memang suasanya tidak semeriah yang tadi, karena beberapa pengunjung tersedot ke panggung drama, atau juga sedang beristirahat dan mencoba cafe tiruan yang dibuat oleh anak SMP sekolah tersebut.

"Nah, itu dia!" seru sesosok pemuda yang bisa dibilang asing dari sekolah itu. Tapi kehadirannya cukup mengundang perhatian beberapa pengunjung, maupun siswa sekolah itu. Ya, salahkan wajahnya yang terbilang tampan dan menarik perhatian. Tak peduli tatapan kagum dari orang di sekitarnya, si pemuda kini berjalan cepat menghampiri seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi taman yang berada di festival dan―

DHUAK.

―menjitak kepala orang itu dengan sekeras-kerasnya.

"Aaaaargh! It's hurt, Dammit! What are you doing, Idiot Bear!?" semprot Argos menatap nyalang ke arah orang yang menjitaknya tadi. Dijitak dengan teknik maut, sih, makanya sakitnya berasa sampai ke urat-urat. Sakit sekali rasanya, tentu saja.

"Apa yang kulakukan sekarang tidak sebanding apa yang tadi kau lakukan padaku, Ikan Kaleng! Beraninya kau menjebakku dengan ranjau, Dasar Licik! Kau berencana untuk pergi ke festival sekolah Leon dan bermesra-mesraan dengannya begitu!? It's so funny!" balas balik sosok tampan berambut kecoklatan tadi, menatap balik Argos dengan tatapan intimidasinya. Daigo kesal bukan main pada ikan di depannya ini, beraninya menjebaknya dengan cara yang tidak manusiawi. Dan asalkan kalian tahu, Daigo sampai meditasi ke gunung Fuji untuk menyembuhkan luka-luka bekas ranjau yang ada di tubuhnya.

"Ck, rasakan! Itu karena kau masih saja tidak menyerah merebut Leon-ku! Cepat kau kembali pulang ke Amerika, atau perlu kupanggil helikopterku untuk memulangkanmu segera ke kandang beruang di kebun binatang Amerika, hah!?" maki Argos balik lalu bangkit berdiri, sepertinya betul-betul akan memanggil helikopter untuk menggiling saingan cintanya itu segera.

"Hah, kau pikir cuma kau saja yang bisa memanggil helikopter? Aku juga bisa, bahkan seribu helikopter pun akan kupanggil, akan kuceburkan kau ke sungai nil dan hiduplah dengan tenang kau disana! Leon itu milikku, dia punyaku, bukan kau!" sergah balik Daigo sama sekali tidak mau mengalah. Tanpa sadar adu glare mereka justru menciptakan aura mematikan di sekitarnya, sampai-sampai orang sekitar mereka speechless di tempat.

"Sini kalau berani―"

"Wait, wait, wait... Where Leon-chan? Kenapa dia tidak bersamamu?" tanya Daigo kemudian, merasa ganjil. Seharusnya Argos bersama Leon―walau Daigo tidak mau melihatnya―sekarang, tapi kemana anak berambut pirang dan berperawakan manis itu? Pasti ada sesuatu, pikir si honey-brown.

Dan mengingat itu, Argos langsung memucat. Ia baru ingat beberapa jam yang lalu, ia baru saja dicampakan pujaan hatinya. "Mm... That's... hm―"

Drap. Drap. Drap.

"Hei, hei, sebentar lagi The Mask Thief akan tampil, lho! Aku sudah diberi pesan oleh Shizumi yang lagi menonton drama tadi, kyaaa!"

"Kalau nggak salah, The Mask Thief-nya diganti oleh murid baru yang shota itu, 'kan? Huwaaa, aku 'kan penggemarnya sejak dia datang ke sekolah ini!"

"Iya, si Souryuu Leon itu! Makanya ayo buruan, katanya Mirei sudah menyediakan tempat kita duduk nanti!"

Drap. Drap. Drap.

Tanpa sadar Daigo―juga Argos―malah menguping pembicaraan beberapa siswi sekolah yang berlari melewati mereka dengan buru-buru. Arah lari mereka menuju ke gedung sekolah. Daigo dan Argos bersamaan cengo mendengar nama pujaan hatinya disebut oleh siswi tadi.

"What the fucking fish!? Aku tak pernah tahu kalau Leon ikut bermain drama di festival sekolah, bukannya kemarin dia bilang tidak mau pergi kesini karena bosan!? Argos, tell me it's not true!" seru Daigo sedikit terkejut, juga dengan tatapan suka citanya. Ya, ia senang bukan main. Leon-nya akan tampil dalam drama? Wah, itu hal yang langka semasa bersekolah di Sadencil High School dulu!

"Yeah, it's true, Idiot Bear..." jawab Argos tampak lesuh dan penuh penyesalan. Daigo langsung meloncat-loncat kesenangan sampai pengunjung lainnya sweatdrop melihat kelakuannya. Buru-buru Daigo menelepon orang-orang pribadinya untuk membawa kamera, tidak sadar kalau pemuda berambut ikal tosca yang kembali duduk di kursi itu menampakan wajah menyesal.

"Okay, kalau begitu aku harus segera pergi ke gedung pertunjukan drama dan merekam aksi Leon-ku yang pasti imut itu! Bye, Ikan kaleng!" seru Daigo berjingkrat-jingkrat sambil menyanyikan lagu Teletubies saking senangnya. Tak hanya pengunjung, penjual-penjual di stand sana pun jawdrop melihat aksi Daigo.

"Kenapa orang itu? Padahal wajahnya ganteng, tapi dia sakit jiwa?"

"Padahal tadi aku sempat naksir dia karena keberadaannya itu keren habis. Eh, nggak tahunya kelainan..."

"Tadi kudengar dia berbicara dengan bahasa asing, apa mungkin di negaranya memang ada adat seperti itu?"

"Jangan-jangan dia alien lagi!? Hyiii, alian berwajah tampan, sungguh telenova yang mengerikaaan!"

"Cepat telepon rumah sakit jiwa secepatnya, bisa-bisa sekolah ini hancur karena ada dia lagi! Cepat, cepaaat!"

Argos pun hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala mendengar bisikan-bisikan orang sekitarnya mengenai saingan cintanya itu. "Mereka baru tahu, ya, kalau Whitney itu agak sinting?" pikirnya dalam hati.


...

Sesosok figur yang menggunakan topeng perak setengah wajah menodongkan pedang ke hadapan Wylace, membuat pemuda kelahiran negeri makmur itu terdiam.

"Siapa kau? Kenapa kau mengambil Agricia dariku?" tanya pangeran dengan nada setenang mungkin. Karena ia tidak boleh gegabah. Ya, sosok bertopeng itu baru saja menghancurkan kebahagiannya, merebut Agricia darinya dengan tiba-tiba. Dan yang Wylace tahu, sepertinya orang misterius dihadapannya ini bukan orang biasa. Dilihat dari senjatanya yang mampu mengeluarkan jaring lengket dari tangan kirinya―dan sekarang jaring itu membuat Agricia tak berdaya di belakang sosok itu―, juga pedang di tangan kanannya yang Wylace tahu adalah pedang legendaris.

"Aku The Mask Thief, pencuri yang melegenda di dunia," akhirnya sosok yang tadi hanya diam dan bertindak itu mulai bersuara. Seiring rambut pirangnya yang sedikit terhembus angin malam. Mendengar kata itu, Wylace sontak terkejut, begitu juga Agricia yang sekarang tak bisa bergerak di belakang The Mask Thief itu.

"Pe-Pencuri melegenda? Pencuri yang turun temurun mewariskan kemampuan untuk mencuri barang semewah dan selangka apapun?"

Mendengar itu, sosok misterius berambut pirang itu mengangguk tenang. Pedang kebanggaannya masih bertahan di posisi, dengan ujungnya yang mengancam Wylace untuk tidak bergerak. "Ya, dan aku The Mask Thief keturunan ke lima puluh enam, panggil saja aku Antares. Senang bertemu dengan anda, Pangeran Wylace,"

Wylace sedikit menggeram. Sopan sekali pencuri kelas atas ini memperkenalkan diri. Tapi sekarang sang pangeran beriris emerald ini tahu ia tidak boleh lengah. Sejak ia belajar ilmu kerajaan dari kecil, ia tahu persis kalau pencuri The Mask Thief tidak pernah gagal mencuri dalam sejarah keeksistensitas mereka dalam dunia. Lalu, ia tahu kalau Antares bukan nama aslinya, mungkin semacam nama samaran, dan nama itu sama persis dengan sebutan pedang legenda yang ada di genggamannya.

Antares.

Nama lain dari kalajengking. Itulah kekuatan melegenda dalam pedang yang ada di genggaman pencuri ke limah puluh enam The Mask Thief di hadapannya. Dikenal dengan kemampuannya untuk menyebarkan racun begitu pedang itu berhasil menghunus mangsanya. Racun yang sangat mematikan, dan sampai sekarang pun tidak ada obatnya.

"Apa yang kau inginkan dari Agricia? Apa kau sama seperti dengan berbagai kalangan yang percaya adanya kutukan dalam tubuh Agricia, lalu kau ingin membunuhnya?" tanya si pangeran, sekedar siasat memikirkan taktik bagaimana caranya ia bisa melepaskan si rambut biru yang masih tak berdaya dengan jaring-jaring lengket yang melumpuhkan kedua tangan dan kakinya.

"Tidak, aku tak peduli soal kutukan atau apapun pada putri ini, persetan dengan kutukan. Aku hanya mematuhi ucapan atasanku untuk menculiknya, lalu ia akan memberikanku dua ratus barang emas untuk bayarannya," jawab Antares dengan sedikit senyum. Wylace mendecih mendengarnya, sepertinya pencuri yang umurnya muda ini sangat menyukai harta.

"Bagaimana jika aku membayar dua kali lipatnya? Kau akan membebaskan Agricia?" tanya si Pangeran kemudian, memikirkan ini cara yang paling aman. Ia berpikir, dengan kekayaan keluarganya, tentu ia bisa membayar balik pencuri pirang ini.

"Hahahahahahaha!" Antares kemudian tertawa keras mendengar penawaran Wylace padanya. "Membayar dua kali lipat? Leluconmu lucu, Pangeran. Kurasa Raja Braince tak akan mengeluarkan uang sepeser pun untukmu yang sudah kabur membawa putri terkutuk. Jadi omong kosong, segera menyerah atau kubunuh kau sekarang," ancamnya kemudian mulai menciptakan langkah mendekati Wylace.

Agricia memasang wajah panik. Ia ingin bersuara, tapi mulutnya tertutup erat oleh jaring-jaring lengket. Suaranya teredam, ia tak bisa berteriak dan memohon orang yang ia cintai itu untuk menyerah saja. Ia tak mau Wylace terbunuh karenanya. Sudah cukup orang-orang yang ia sayangi hilang karena statusnya sebagai putri yang dikutuk. Ia tak mau lagi. Agricia tidak mau ada orang bersimbah darah karena dirinya.

Kini giliran Wylace yang mundur. Sial, pedang miliknya sudah hancur di tangan Eathele dimana pertama kali ia bertemu dengan vampire itu. Ia tak bersenjata sekarang. Melawan dengan fisik pun, percuma kalau tubuhnya sedikit saja tergores pedang beracun Antares. Nantinya ia akan teracuni dan kemudian mati. Tapi percuma kalau ia mati tapi Agricia tidak selamat, ya 'kan? 'Pikirkan sesuatu, Wylace, pikirkan suatu cara!' geram hati Pangeran.

Sampai langkah Antares dan Wylace cukup jauh dari tempat Agricia terikat, pencuri kelas atas itu tersenyum licik. "Hahaha, kau lemah, Pangeran. Bukannya kau ingin melindungi putri itu? Tapi apa nyatanya, kau hanya bisa mundur begitu musuhmu maju. Aku malas membunuh orang yang tidak memiliki kemampuan―"

Dan kemudian si pencuri melompat tinggi, Agricia dan Wylace terkejut melihatnya, mereka tidak tahu kalau pencuri berambut pirang itu ternyata memiliki kemampuan lain. Loncatan ke arah belakang itu sanggup membuat Antares kembali ke posisi semulanya, yaitu sekitar lima meter dari ia melangkah tadi.

Dengan cepat Antares langsung mengangkat tubuh Agricia ke punggungnya. Wylace syok, ternyata ini taktik pencuri itu, membuat jaraknya jauh dari Agricia lalu ia melompat mundur dan membuka peluang besar untuk membawa Agricia kabur. "Tunggu dulu!" seru Pangeran.

Antares menengok ke belakang sekilas. "Farewell~,"

SYAT.

Si pencuri kembali melompat tinggi, meninggalkan pangeran Wylace yang tak bisa lepas dari keterkejutannya di tempat. Pangeran langsung saja mengejarnya tanpa pikir panjang. Ia tak akan melepas Agricia begitu saja. Ia tidak akan menyerah.


...

"Oke, masuk adegan berikutnya! Suzugamori, Hiromi, dan Kourin bersiap!" seru Rekka memberi aba-aba begitu Aichi, Leon, juga Kai masuk kembali ke belakang panggung menyelesaikan adegan mereka.

"Ayo, Ren-kyun, Kourin-kyun, kalian jangan berluama-luama, nanti kita terluambuat uaktingnya, dehh!" seru Hiromi dengan gayanya yang agak kebanci-bancian membuat yang dipanggil hanya sweatdrop. Mereka bertiga mulai siap di posisi seiring Suiko di depan panggung kembali bercerita, juga para penata panggung mulai menggeser gambar lokasi.

"Hyuh, baiklah, berikutnya adegan ini!" seru Aichi sedikit bersemangat sambil membuka naskah dialognya, sekedar kembali membaca ulang agar tidak ada yang lupa. Disusul sepupunya yang memang pemain pengganti secara spontan, otomatis ia harus membaca ektra dibandingkan Aichi.

Rekka kemudian menghampiri Leon yang duduk di samping Aichi. "Bagus, Souryuu-kun! Aktingmu luar biasa! Dan bahkan kau lebih hebat daripada Bidou. Tapi, aku sempat kaget kalau kau ternyata kuat juga menggendong Aichi-kun, padahal tinggi kalian sama," komentar si ketua klub drama dengan tatapan heran.

Kamui yang kebetulan mendengar itu pun ikut menghampiri mereka. "Eh, aku juga punya pertanyaan yang sama, kenapa kau kuat sekali mengangkat Aichi!?" tanya Kamui dengan tatapan berharap. Ia sejujurnya ingin jadi sekuat itu, tentu saja.

"Ehm, angkat saja seperti biasa? Dia ringan, kok, seperti gula kapas," jawab Leon dengan muka datarnya, dan langsung dihadiahi Aichi dengan tonjokan keras di kepala pirangnya.

Pletak.

"Be-Beratku lebih berat darimu tiga kilo, kok! E-Enak saja seperti gula kapas," keluh Aichi cemberut, tidak mau dikatai ringan. Mengingatkannya pada masa lalu saja, karena dulu ia sering dikatai mirip mayat saking entengnya. Karena itu Aichi bertekat untuk menambah berat badannya, walau perlu usaha karena makannya itu tidak banyak.

"I'm sorry," ujar Leon akhirnya niat juga meminta maaf. Walau mukanya saja saja datarnya dengan muka Kai sekarang, yang sedang serius-seriusnya membaca dialog untuk adegan berikutnya.

"Kalau begitu, kapan-kapan aku mau coba mengangkat Aichi-kun, deh! Boleh, 'kan? Boleh, ya?" rengek Rekka memasang tatapan crocodile-eye pada Aichi, membuat si bluenette bergidik ngeri melihatnya. Dimana-mana orang memasang mata kitty-eye, eh ini crocodile eye. Otomatis Aichi mengangguk bukan karena tak tega, tapi ketakutan pada tatapan Rekka.

"B-Baiklah,"

"Horeee! Kau baik sekali, Aichi-kun! Nanti aku memberimu masakan terbaikku, deh!" seru Rekka memasang wajah senangnya. Leon hanya diam, sedangkan Kamui memucat mendengarnya. Melihat kakak kelasnya itu sudah menjauh, Kamui buru-buru membisik ke arah Aichi.

"Gawat, Aichi! Gawat! Kau harus segera memanggil pawang racun, pemasang antena parabola, pemancing kelas profesional, dan direktur perusahaan selesai drama nanti!" bisik Kamui dengan tatapan sangat panik. Si bluenette dan si blonde memiringkan kepalanya bersamaan. Kenapa Kamui jadi panik begitu?

"Memangnya ada apa, Kamui-kun?" tanya Aichi balik, tampak penasaran. Leon juga mengangguk, mengiyakan pertanyaan Aichi. Si biru-donker melirik sekilas ke arah lain, memastikan tidak ada yang mendengar terutama Rekka.

"Err, aku sering dengar gosip kalau masakan Rekka-senpai itu mematikan. Ya, mematikan. Saat ia memasak di SMP untuk cafe tiruan, ia membuat dua orang tewas dengan kaki berbusa dan sepuluh orang sakit kanker gunting. Lalu saat ia menjual makanannya ke kantin, ia membuat pemilik kantin tiba-tiba jadi poligami gara-gara masakannya. Kemudian, baru-baru ini ia ikut kontes Master Chef Jepang, lalu kalian tahu? Ia membuat juri yang sudah memakan makanan buatannya menjadi mangap-mangap seperti ikan koi selama sebulan!" jelas Kamui dengan tatapan horror. Mendengar itu, jangankan Aichi, Leon yang hobi bermuka stoic saja langsung memucat mendengarnya.

"That's so scary. Aichi, don't let she gave her food to you then," komentar Leon, lagi-lagi kelepasan memakai bahasa Inggris. Tapi entah karena kekuatan apa, Aichi malah jadi paham apa maksud Leon.

"D-Duh, bagaimana dong, Kamui-kun? Leon-kun? Apa aku pakai boneka yang mirip denganku saja untuk dia angkat? Atau aku ikuti saran Kamui-kun untuk memanggil pawang racun, pemasang antena parabola, pemancing kelas profesional, dan direktur perusahaan―eh, tu-tunggu, untuk apa memanggil direktur perusahaan? Ta-tapi sudahlah, yang penting aku tidak mau jadi mangap-mangap seperti ikan! Aku juga tidak mau terkena kanker gunting!" rengek Aichi dengan tatapan aduh-oh-sangat-uke. Untung Kamui itu straight dan Leon berjiwa uke, kalau tidak mungkin si bluenette sudah diterjang keduanya.

"Sebaiknya kau ikuti saranku saja, Aichi! Setelah kau memanggil mereka, kemudian kau minta mereka untuk membantumu memakan masakan Rekka, pasti sukses, deh!" seru Kamui mengacungkan jempol terbaiknya, meyakinkan Aichi kalau sarannya itu 100% manjur. Wajah si rambut biru memancarkan pencerahan.

"Be-Betulkah? K-Kalau aku panggil mereka, aku tidak akan terkena kanker gunting, 'kan? A-Aku tidak akan mati dengan kaki berbusa ataupun mangap-mangap, 'kan?" tanya Aichi dengan pandangan enuh harap. Sekali lagi, Kamui mengangguk.

"Syukurlah..."

"Kalau tidak keberatan, biar aku bantu mencarikan direktur perusahaan, pawang racun, pemancing kelas profesional, dan pemasang antena parabola," sahut Leon kemudian, lagi-lagi menawarkan bantuan yang mungkin sangat menolong Aichi.


...

"Hihihi, walau memakai topeng, tapi tetap saja Leon-chan manis sekali. Untung saja tadi aku banyak memotretnya untuk kenang-kenangan, kalau kutunjukan padanya, pasti dia bakalan ngambek, hahahaha," guman Daigo asyik memandangi foto-foto The Mask Thief hasil potretannya, yang tak lain adalah foto Souryuu Leon, si pemeran pengganti Bidou.

Berbeda dari dominan penonton drama yang mengincar foto Aichi, Kai, dan Ren, pemuda kelahiran Amerika ini justru lebih memilih untuk memotret sang pujaan hati, yang padahal mukanya sudah tertutup topeng classic setengah wajah. Tapi tampaknya Daigo tak peduli, malah sekarang ia saking bahagianya terus memandangi foto-foto hasil jepretannya dengan senyum lebar.

"Hei, bisakah kau ubah mukamu itu sekali saja? Ekspresi wajahmu membuatku ingin muntah," komentar Daigo pada rival cintanya, yang entah kenapa bisa malah duduk di sebelahnya. Padahal tadinya Daigo sudah melempar Argos ke tong sampah agar pemuda berambut ikal itu tidak mendapat kesempatan melihat Leon tampil.

Tapi nyatanya, Argos masih bisa bangkit dari tong sampah, mandi dengan kecepatan tinggi, lalu entah dengan kekuatan apa bisa mendapat kursi penonton―di samping Daigo pula―, terakhir memasang wajah mimisan karena melihat pujaan hatinya tampil di atas panggung.

Argos tampak tidak peduli dengan kritikan Daigo padanya. Ia pandangi langit panggung dengan tatapan berbunga-bunga. "Heeh, Leon-chan manis sekali... I'm really love him..." katanya dengan suara kecil, masih berkhayal pada pikirannya sendiri. Daigo mengkerutkan dahi mendengarnya.

"Ish, sekali lagi kau mengguman nama Leon-chan-ku, akan kupanggil bawahanku untuk mengusirmu dari sini dan kau tak akan bisa melihat Leon-chan beraksi di panggung!" ancam si honey-brown sepertinya tidak senang kalau pujaan hatinya dikhayal orang lain. Ya, tentu saja, bagaimana pun ia ingin memenangi persaingan cinta ini, apalagi lawannya hanya Argos.

"Fine, fine, I'm be quiet then. Can you stop look at my face? Biarkan aku membayangkan cintaku sesukaku, Beruang Jelek!" maki Argos balik sembari mengelap bekas darah yang keluar dari hidungnya. Daigo menghela nafas lega, akhirnya Argos sadar juga dari alam khayalannya.


...

Aichi tampak lega begitu menyelesaikan adegan yang kesekian kalinya di panggung. Tak terasa, sedikit lagi drama yang akan dia mainkan mulai mencapai klimaks. Dengan kata lain, usahanya selama berminggu-minggu kemarin akan selesai disini. Ia tidak perlu dipaksa bermain adegan aneh-aneh―yang baru saja ia selesaikan, dimana ia hampir disetubuhi Eathele (Ren), dan tentu saja adegan itu membuat para fujoshi langsung ricuh―.

Tapi, Aichi yang tengah berkonsentrasi dalam adegan di atas panggung tadi bisa mendengar suara jeritan kesakitan dari arah penonton. Ada apa, ya? Apa ada kursi penontonnya yang berduri? Atau ada preman kelas kakap yang datang lalu memukul mereka?

"Baiklah, tinggal empat adegan lagi! Tinggal empat adegan lagi! Semangat, Aichi! Setelah ini kau sudah bebas dari urusan drama!" seru Aichi penuh semangat, tanpa tahu kalau drama ini membawa perubahan yang cukup pesat baginya. Pertama, ia jadi punya banyak kenalan di sekolah―dominan anggota klub drama―. Kedua, ia jadi semangat dan pandai beraktifitas.

Padahal, dulu jangankan berakting dalam drama, disuruh belanja ke pusat pembelanjaan saja susahnya minta ampun. Aichi bahkan tidak bisa membedakan mana timun dan mana terong. Tapi sekarang, ia tampak bisa dihandalkan. Semuanya terasa sedikit berubah.

"Aichi, kenapa kau bengong?" suara itu menyadarkan Aichi dari lamunannya. Anak berambut biru itu sontak menoleh ke sumber suara dan mendapati Kamui sedang duduk di sampingnya entah sejak kapan. "Apa yang kau pikirkan? Apa kau ada kesulitan dalam dialognya?" lanjut Kamui sedikitnya khawatir. Habisnya Kamui juga sudah tahu kalau anak itu tulalitnya minta ampun.

Aichi mengada kedua tangannya cepat. "Ti-Tidak, kok. Tenang saja, aku sudah menghafalnya dengan baik. Ka-kalau tidak, latihanku kemarin sia-sia, dong..." jawabnya berusaha meyakinkan Kamui.

Si donker-biru mengangguk lega. "Baguslah, kau 'kan harus menyelesaikan empat adegan terakhir, sedangkan aku tersisa dua adegan. Berjuanglah!" seru Kamui sembari menepuk punggung Aichi, sekedar memberi semangat. Tapi tepukan itu terasa besar bagi pemuda bergaun biru ini. Sontak Aichi langsung jatuh slow motion dari tempatnya duduk.

Bruak.

Kamui langsung jawdrop melihat kelemahan anak itu. "H-Hei! Kau tidak apa-apa, Aichi!?" seru Kamui reflek membantu Aichi untuk berdiri. Si bluenette mengangguk lemah, karena tadi kepalanya terbentur lantai dengan indahnya.

"Kamui, apa yang kau lakukan padanya, hah!? Aku tahu kalau kau itu kelebihan tenaga, sampai-sampai kau selalu menepuk para binaragawan sampai otot mereka menciut! Aku tahu kau anak kecil dengan kekuatan sebesar singa gila! Tapi tolong jangan lukai Aichi, bagaimana kalau nanti Aichi menyusul Bidou ke rumah sakit sebelum menyelesaikan dramanya, hah!? Kau mau membuatku rugi!? Bagaimana kalau nanti kepala sekolah yang tua bangka itu meminta pertanggung jawaban dariku!?" maki Rekka panjang lebar sambil menjitak kepala Kamui.

Pletak.

"Auch, sakit, sekali, Brengsek!" omel Kamui balik tidak terima ia dikata-katai dengan tuduhan yang tidak benar, oleh kakak kelasnya sendiri pula. Andai saja tidak ada hukum di sekolah ini, mungkin Kamui sudah akan menjadikan kakak kelasnya satu ini pot bunga. "Aku hanya menepuk punggungnya supaya dia menjadi bersemangat! Supaya Aichi menjadi kelebihan tenaga sepertiku, tahu!? Terima kasih sudah menuduhku untuk menepuk para binaragawan yang bahkan aku tak pernah bertemu dengannya, Pot Bunga! Biar saja kau rugi, bangkrut sekalian! Kau dengar? Aku ingin kau bangkrut!"

"Apa!? Dasar adik kelas kurang ajar! Tidak tahu diuntung! Kalau saja aku tidak merekrutmu menjadi pemain drama terbagus, terindah, tercantik, termanis, terbasah, terbecek, tergoreng, dan semua ter-ter lainnya ini, kau juga tidak akan seterkenal sekarang di sekolah! Berterima kasihlah padaku yang anggun ini, Babi Guling!" semprot Rekka balik tidak mau kalah. Padahal dia kakak kelas, tapi tidak bisa memberi contoh baik kepada adik kelasnya―misalnya mengalah pada Kamui―. Para pemain drama lainnya hanya bisa sweatdrop melihat kedua insan hot-blodded itu bertarung.

"What the fucking of snow white!? Babi guling katamu!? Jangan mengada-ngada, ketua klub drama super mesum! Aku juga ogah masuk ke drama jelek dan tak bermoral seperti ini! Memangnya siapa yang waktu itu meng-terrorku dengan kemenyan dan sesajen untuk masuk ke dalam drama ini, Hah!? Siapa!? Itu kau, Kambing Gila!" hardik Kamui balik, juga tidak termotivasi untuk mengalah pada kakak kelas perempuannya itu. Sementara yang lainnya jawdrop melihat mereka bertarung―juga menunggu adegan di depan panggung selesai dan diganti adegan berikutnya―, Aichi membelalak matanya syok.

'A-Apa!? Kemenyan? Se-Sesajen? Y-Ya, ampun! Ternyata Rekka-senpai itu tidak normal! Hyii, apa dia blasteran dukun, ya? Me-mengerikan sekali, semoga saja aku tidak disantet olehnya, semoga aku tidak disantet Rekka-senpai!' jerit Aichi dalam hatinya berharap-harap.

Pluk.

"Hng?" Aichi yang tadi sibuk berdoa dalam hatinya terkejut begitu ada yang menepuk pundaknya lembut.

"Giliran kita sudah hampir mulai, lho, Aichi no ukee. Biarkan saja Suzumiya dan Katsuragi, lagipula giliran Katsuragi masuk ke panggung adalah dua adegan terakhir," ternyata orang itu Ren, salah satu senior yang populer di sekolah mereka dengan gelar Agresive Seme. Aichi tersenyum lembut ke arah Ren, yang membuat pemuda berpakaian jubah hitam itu sampai meneguk ludah.

"Benar juga, Ren-san. Ki-Kita sama-sama berjuang, ya," ujar Aichi dengan sedikit rona merah di pipinya, karena baru kali ini ia menyemangati seniornya yang begitu menggila-gilai cinta Aichi sejak pertama kali mereka berjumpa. Sedangkan Ren sendiri? Hatinya yang tadi sedikit khawatir langsung berbunga-bunga, bagaikan bunga kaktus yang mekar di Mesir.

"Ah, tentu saja, Aichi no ukee," lalu Ren mengelus lembut helaian rambut biru Aichi yang tertata rapi dengan hiasan bunga Krisan di sebelah kiri. Sungguh membuat Aichi terlihat bagaikan perempuan. Tapi senyuman pemuda berambut merah panjang itu tak berlangsung lama, karena ia merasakan tatapan tajam dari pemain Wylace dari jauh.

Ah, benar juga. Di adegan terakhir nanti, Ren sudah menantang Kai untuk bertarung di atas panggung. Bukan, bukan maksudnya mereka meloncat kesana-kesini dan saling melempar shuriken seperti ninja. Tapi, bertarung akan cinta. Panggung megah dan gemerlap dimana mereka akan tampil nanti akan menjadi tempat dimana mereka membuktikan satu sama lain, manakah yang lebih unggul untuk Aichi.

Itulah alasan mengapa sedari tadi ia menjauhkan dirinya dari Aichi, agar pemuda yang menjadi tambatan hatinya itu tidak tahu kalau mereka diam-diam bertanding nantinya. Pokonya, peran di adegan terakhir ini akan menjadi babak penentuan. Bahkan mereka sudah menyiapkan konsekuensi bagi yang kalah nantinya.

"Yuk, Aichi no ukee, giliran kita sebentar lagi..." ajak Ren sekenannya, ia tahu betul apa artinya tatapan sinis dari Kai yang sudah menunggu di dekat pintu menuju atas panggung. Sedangkan Aichi, yang sama sekali tidak tahu apa-apa, hanya mengiyakan saja.

Adakalanya dalam pertempuran cinta harus menjatuhkan satu sama lain...


...

Sementara drama sedang berlangsung semakin memuncat, justru ada juga orang yang ingin menghancurkan drama tersebut. Terlihat sekumpulan anak yang mengendap-ngendap menuju tengah acara, tanpa seorang pun yang curiga dengan gerak-gerik mereka.

"K-Kyou, kau yakin akan melakukan ini?" akhirnya salah satu dari mereka membuka pembicaraan. Raut wajahnya terlihat khawatir bagaikan keledai tujuh hari nggak mandi.

"Kalau aku tidak yakin, untuk apa aku mengajak kalian untuk melakukannya, Setan!? Sudah, diam saja dan ikuti instruksiku!" sahut orang yang tadi dipanggil Kyou dengan ketus. Ia yang berjalan di paling depan pun melirik-lirik ke arah sekitarnya, memastikan tidak ada yang melihat mereka.

"Ta-tapi, Kyou, kau tahu 'kan bagaimana kalau nanti kita ketahuan? Kau bisa saja dikeluarkan dari sekolah, lho," salah satu dari temannya yang lain pun memperingatkan. Ia sedikit ragu dengan keputusan ketuanya yang berambut seputih salju itu.

"Diam dan lakukan saja, Brengsek! Justru di kesempatan seperti ini, aku akan membalas Toshiki, juga teman-temannya yang waktu itu mengangguku, akan kuhancurkan drama mereka!" seru Kyou dengan seringai iblis yang tercetak jelas di wajahnya.

Diantara kedua seme, manakah yang akan Aichi pilih?


.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N: Halo, pembaca-pembaca tercinta! XDD *hagu-satu-satu* Ini dia fict pertama yang di-update sejak author berganti status dari hiatus ke active kembali. Kesibukan ulangan umum author kedua sudah selesai, sedangkan author pertama pun punya waktu senggang untuk membantu, jadi kami bisa kembali aktif dan meng-update fanfict-fanfict kami. Terima kasih bagi kalian yang sudah bersabar untuk menunggu, hehehe. Hayo, yang masih duduk di bangku sekolah, bagaimana ulangan umum-nya? :) Kalau ada pengalaman aneh(?) di hari ulangan umum-nya, cerita ke author, yuk! *siapa-juga-yang-mau*

Oh, iya, author sudah jarang nonton Vanguard, nih. Habisnya author merasa kurang tertarik dengan season 4-nya Vanguard, ceritanya monoton dan gampang ditebak, nggak sebagus season sebelumnya. Apa ada minna-san yang sependapat dengan kami? Jadi, kalau feel karakter kurang dapat, jangan bakar author dulu, oke? Paling author bakal re-watch Vanguard season 1-3 untuk memperdalam feel karakter. Terus, kalau humor-nya enggak lucu, gomenasai. Author sudah lama nggak menulis sejak hiatus, tapi pastinya author akan kembali memperdalam feel humor kami agar bisa dinikmati pembaca. Sekian perjumpaan kita, sayonara ke chapter berikutnya, ya! :D


Send Back Review From You:

From Mayuyu Watanabe: Selamat, anda reviewers pertama di chapter kemarin~! *goyang-gayung* Wahahaha, ternyata masih ada yang peduli sama Bidou, padahal author-nya sendiri bodo' amat mau tuh anak ketabrak kuda, ketabrak banteng juga nggak peduli. *langsung di-smackdown Bidou* Wahaha, tenang saja, Argos belum bunuh diri, kok, walau sudah Daigo lemparin ke tong sampah juga masih tahan XD *plak* Review again~~~

From Amaa: Thanks reviewnya, Amaa-chan! :DD Wehehe, Argosnya belum pulang, masih kuat(?) dengan keadaannya yang dicampakan Leon, fuahahaha *dibanting* Hint KomoiRekka-nya cuman sebentar, habisnya di anime-nya juga Komoi 'kan suka sama Rekka XDD Nick Daigo enggak ganti, yang penting ada beruang-nya(?). Review again~~~

From Aichi Marron ver: Makasih, ya, reviewnya! ;) Huahahaha, panggilan Daigo memang berubah, asalkan tetap ada kata 'beruang'nya(?) *Daigo: Emang gue beruang?* Iyo, Kai sama Ren mau tanding di panggung, tapi adegannya chapter depan *plak*. Soal Bidou kenapa bisa ketabrak kuda, dia habis ikut lomba berkuda, tapi malah ditabrak kuda, jadinya begitu, deh *kedip-kedip* (dipukul-Bidou) Review again~~~

From Kirito Zanmakusa: Thanks a lot for the review! :33 Hehehe, nasib Argos itu soalnya disini Leon itu uke yang high-class, makanya seme-nya mesti seme kayak raya dan serba bisa yang mesti nurut apapun kemauan Leon *plak*. Ini kelanjutannya, maaf ya menunggu lama *bows*. Review again~~~

From Wataru Quifo: Arigatou, Wataru-san! Hehehe, soal Bidou ya mau bagaimana lagi, habis ketua klub drama-nya begitu *nunjuk-Rekka*. Amin, deh, semoga Bidou cepet sembuh. Bidouuuu, ada yang berdoa untuk kesembuhanmu, tuhh! *Bidou: Eh!?* Review again~~~

From DemonicBloodyAngel: Gracias for the review~ =)) Wait the battle in the next chapter, ya, hehehehe. Review again~~~

From Yun Mei Ho: Arigatou Gozaimasu, review-nya! :DD Wkwkwk, soal nasib Argos, salah sendiri dia suka sama uke high-class kayak Leon, jadi banyak mau-nya, deh. XDD Wah, fans berat Daigo, nih? Tenang saja, Daigo sudah muncul kembali disini setelah meditasi ke gunung Fuji (Daigo: *sweatdrop*). Gaun yang dipakai Aichi? Enggak terlalu mencolok, kok. Gaunnya itu terusan sebatas betis, terus di bagian lehernya dihiasi metal-metal bewarna biru terang. Warna gaunnya putih dengan campuran gradiasi biru yang menyala-nyala. (Ngerti nggak? *plak*) Review again~~~

From Kiriyuu Natsume: Makasih banyak, reviewnya, Kiriyuu-san! Rekka sama Komoi? Ehehe, mereka saling membenci sepertinya, tapi kalau kau mau lihat romance mereka boleh saja, kok. *plak* Perang Kai dan Ren? Hmm, tenang saja, akan kami buat seheboh mungkin nanti *seringai licik*. Review again!

From Zee Raretsu: Tengkyu, reviewnya, Zee-san! :D Iya, Aichi dilemah, sedramatis judul fict ini, habisnya milih diantara dua seme, sih, hehehe. Review again~~~

From Soft Prince: Terima kasih untuk review-nya! :D Wah, kangen sama dua-loli menyeramkan itu? Tenang, nanti akan kumunculkan lagi, kok. Sayangnya Emi beda sekolah dengan Aichi, jadi mereka nggak datang ke festival sekolah disini, hehehe. Leon kuatir ke seme-nya? Wahahaha, boleh juga ide-nya, nanti coba author diskusikan, ya! :D Review again~~~

From Snowy Coyote: Sankyuu review-nya, Snowy-chan! :D Hehehe, kenapa Kai dan Ren bertarung bisa dilihat di chapter ini, kok. Huhuhu, setuju! Kami juga suka dengan Aichi cross-dressing~! Hahaha, boleh juga idenya soal Argos, nanti coba kami diskusikan, deh! :) Review again~~~

From Blue Wolf: Wah, banyak sekali reviewnya, terima kasih, ya, Blue-san! :) Ehh, makasih banget koreksi-koreksi untuk chapter kemarin, kalau nggak diingetin, author juga enggak sadar D: (Kai: Makanya teliti lagi, nenek. *dirajam author*). Kami akan berusaha lebih teliti untuk chapter berikutnya, mohon bimbingannya, ya! :D Review again~~~

From Shioriri: Wah, reviewers baru, nih, selamat datang di KHMD2S, ya~ X33 *haguu*. Dan terima kasih banyak atas review-nya. Eh, bearti sebelum baca fict bejat ini, Shioriri-san belum suka sama sho-ai dan yaoi? Waduh, kita berasa menjadi author bejat yang mencemari(?) pembacanya (ditabok Ren). Makasih sudah suka sama fict aneh satu ini. Sudah update, semoga kamu menikmati chapter ini. Lain kali reviewnya banyak bacotan, ya XD *dirajam singa Kyou*. Review again~~~