Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Sci-fi, Romance

Pairing(s): NaruHina & SasuSaku

Pairing sewaktu-waktu dapat berubah sesuai keinginan author, hahaha *ketawa kejam*

Warning(s): AU, typo(s), Out of Character

Language: Bahasa Indonesia

SPECIAL FIC FOR aigiaNH4'S BIRTHDAY!

Hinata dikejar oleh empat pemuda dari dimensi waktu berbeda yang menginginkan dirinya dalam keadaan hidup atau mati! Naruto dari masa lalu. Sasuke dari masa depan. Gaara dan Neji dari masa kini. Jangan main-main dengan waktu! For aigianh4's birthday!

.

.

.

~THE PAST AND THE FUTURE~

NYC, 07:00 AM

Di sebuah gang kumuh di pinggiran kota New York, gang buntu kecil yang hanya diisi oleh keramaian para tikus got, gang buntu kecil lembab yang bahkan tak akan ditengok oleh manusia dua kali, gang kecil yang bahkan keberadaannya nyaris tidak diketahui serta tidak penting. Yah, setidaknya sampai hari ini.

DARR!

Jika pendengaran orang-orang yang berlalu lalang di muka gang itu jeli, mereka akan mendengar sebuah ledakan dari dalam gang itu. Sayangnya, mereka tidak mendengar suara ledakan sama sekali. Mereka terlalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berjalan cepat-cepat membawa tas jinjing, membawa seekor anjing, berlarian dengan sepatu roda, dan segala kegiatan tak penting lainnya yang biasa dikerjakan oleh manusia.

Seandainya mereka meluangkan waktu mereka hanya sepersekian detik untuk sekedar melirik gang buntu kecil itu. Yah, coba saja kau lirik kalau kau ingin tahu.

Kau akan melihat, seorang pemuda sedang duduk di lantai beton gang yang lembab, pemuda sekitar belasan tahun, berambut raven yang melawan gravitasi, berwajah tampan, dengan keadaan setengah telanjang. Setengah? Memangnya kau berharap lebih? Pemuda itu hanya mengenakan celana jeans dengan dada terbuka tanpa mengenakan pakaian.

Dia menyeringai memperlihatkan sederet giginya yang rapi tanpa cela.

"Well, tahun 2012 kusangka akan mendarat di tempat seperti ini," gumam pemuda itu.

Memangnya dia berharap apa? Mendarat di toilet wanita?

"Sekarang, di mana aku bisa menemukan gadis berambut indigo bernama Hyuuga Hinata?" tanyanya pada diri sendiri.

Kejadian setelah itu berlangsung cepat. Kau hanya akan merasa heran seperti yang orang-orang di muka gang rasakan saat melihat pemuda berambut raven itu berjalan keluar gang dengan santai sambil bertelanjang dada dan tanpa alas kaki. Dia orang yang aneh—

atau tepatnya nekat untuk mau bertelanjang dada di hari seperti ini di bulan November, yang suhunya saja kurang dari 15 derajat Celcius.

Beberapa blok dia berjalan, ada seorang polisi yang menghentikannya. Polisi yang cukup waras untuk menduga bahwa pemuda berambut raven itu tidak waras. Polisi itu menanyakan identitas pemuda tersebut. Dari sini, kita tahu, nama pemuda itu Uchiha Sasuke.

-mymysteriousfic-

.

.

.

Pagi itu Hyuuga Neji merasa bahagia. Bagaimana tidak? Sepupu yang ia sayangi tepat berusia 15 tahun hari ini. Sepupu yang telah dititipkan oleh almarhum pamannya—

Hyuuga Hiashi pada detik-detik terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir—

untuk Neji jaga.

Faktanya, Neji terlalu overprotektif dalam menjaga Hinata. Toh menurutnya, Hinata tidak merasa terganggu atas sikapnya yang membatasi pergaulan Hinata. Sikapnya, yang membuat Hinata kehilangan masa remajanya—

yah tidak sepenuhnya hilang sih, tapi mampu membuat kita—

yang melalui masa remaja normal dengan setidaknya lebih dari 5 orang teman, merasa risih. Hinata Hyuuga hingga saat ini, belum memiliki teman dekat, sahabat, oh bahkan pacar. Belum. Dan itu kemungkinan besar gara-gara Neji.

Neji selalu beranggapan bahwa hanya dirinyalah yang mampu membuat Hinata bahagia. Ya, hanya dirinya. Neji bahkan tahu semua hal tentang Hinata. Kecuali isi pikiran Hinata, tentunya.

Hinata Hyuuga sudah menjadi anak yatim piatu sejak usianya 6 tahun. Kedua orangtuanya tewas dalam musibah kebakaran yang juga menghanguskan rumah satu-satunya keluarga itu. Sejak saat itu, Hinata tinggal di rumah Neji, sepupu satu-satunya yang ia miliki.

"Hinata sudah bangun? Um, selamat ulang tahun." kata Neji pelan.

Hinata masuk ke dapur malas-malasan. Rambut panjangnya mencuat berantakan. Sebenarnya jika Hinata berambut afro seperti brokoli pun, dia tetap terlihat manis.

"Sarapan apa hari ini?" tanya Hinata sambil menguap.

Dia mengacuhkan ucapan selamat ulang tahun dari Neji. Buat apa? Toh, di umurnya yang ke-15 tahun, Hinata juga belum mengerti apa arti hidupnya saat ini. Tak ada yang istimewa hari ini. Bumi tetap berotasi 23 jam 56 menit 4 detik dan dia tak merasakan goncangan yang berarti.

"Apapun yang kau suka." balas Neji tersenyum.

Hinata melirik Neji sekilas. Benar-benar sekilas sampai-sampai Neji yang terus memandang wajahnya tidak sadar.

Sebenarnya, mau apa bocah ini? Belum cukupkah ia bermanis-manis di hadapanku setiap hari?—

pikir Hinata.

Ya. Hinata Hyuuga. Gadis 15 tahun yang merasa bosan akan perilaku sepupunya yang selalu menghantuinya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari dalam kurang lebih 9 tahun kehidupannya. Hinata sebenarnya tahu betul bahwa Neji mengidap penyakit kronis. Penyakit yang membuat Hinata secara langsung maupun tidak langsung membuatnya susah juga. Penyakit Neji ini, bernama sepupu-complex.

-mymysteriousfic-

.

.

.

Japan, 21:17 PM

Sakura Haruno tahu bahwa hari ini akan menjadi hari keberuntungannya. Hari di mana ia akan mendapatkan gaji pertamanya. Oh ayolah, umurnya baru menginjak 14 tahun dan dia sudah harus bekerja di warung ramen milik tetangganya setiap hari.

Sakura Haruno. Gadis yang memiliki rambut pink tidak lazim namun indah luar biasa—

kalau tak mau dibilang aneh ini, sangat miskin. Frasa sangat di sini benar-benar nyata.

Sudah 3 bulan dia bekerja di Ichiraku namun sang pemilik warung baru akan menggajinya hari ini. Dia bersenandung kecil. Tahu bahwa dirinya tidak akan kelaparan malam ini, membuatnya berpikir untuk mengakhiri hari ini dengan senyuman lebar.

Klining—

Saat membersihkan meja dari piring-piring kotor, satu pelanggan masuk ke dalam warung. Sakura mengernyit.

"Maaf, Tuan. Warung ramen kami sudah tutup. Mungkin bisa datang lagi besok?"

Orang itu memakai jaket bertudung serta memakai topi abu-abu. Wajahnya tak terlihat dibalik topinya. Kedua tangannya disembunyikan dibalik saku jaketnya.

Sakura walaupun miskin, tidak bodoh. Ia tahu orang ini memiliki gelagat mencurigakan seperti perampok. Dan setahu Sakura, korban yang paling banyak disakiti yaitu pelayan toko. Sakura was-was.

"Di mana dapur?" tanya laki-laki itu dengan suara baritone yang khas.

Well, dari sekian banyak ruangan—

maksudnya, di antara gudang, dapur, dan toilet, dia memilih dapur? Apa karena di dapur terdapat kulkas? Dan kulkas itu isinya buncis? Oke, cukup Sakura. Kau mengkhayal terlalu tinggi dan inilah saatnya kau kembali ke bumi.

Orang itu masih di sana. Menatap Sakura dengan pandangan apa-kau-tuli dengan tajam. Nafas orang itu agak tersengal, mungkin ia dikejar-kejar polisi? Atau anjing liar di sekitar stasiun?

"Err… bisa kubantu? Dapur? Ada apa dengan dapur?"

Sebenarnya apa yang ada di dalam otak Sakura sehingga dia bertanya ada apa dengan dapur. Oh ayolah, dapur baik-baik saja.

"Aku perlu lemari pendingin, Nona." jawab laki-laki itu kemudian. Dia rupanya tahu pula bahwa percuma saja berbicara panjang lebar dengan gadis berambut pink ini.

Lemari pendingin? Apa itu semacam kulkas? Kulkas yang berisi buncis? Dugaanku benar, orang ini aneh, pikir Sakura.

Sebenarnya isi otak siapa yang aneh?

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya. Pisau lipat yang terlihat mengkilat walaupun hanya ada sedikit cahaya lampu yang masih menyala di warung itu.

Sampai di sini, otak Sakura benar-benar telah kembali ke bumi. Ia tahu pisau lipat itu tajam. Kemungkinan, laki-laki di hadapannya ini masih memiliki hati nurani sehingga tidak akan menancapkan pisau lipatnya ke perut Sakura. Namun sepertinya kemungkinan itu kecil.

"Bekerjasamalah denganku, maka kau tak akan mati." kata laki-laki itu seraya membuka tudung jaketnya.

Ini ancaman atau perintah?

Sakura terpana sesaat. Ia melihat, seorang pemuda yang memiliki rambut semerah lycoris dengan tattoo bertuliskan "ai" di dahinya. Yang kita tahu pasti, orang jahat, aneh, atau apapun dia ini, pemuda ini sangat tampan.

-mymysteriousfic-

.

.

.

United States Army Research Laboratory, USA 02:00 PM

Ruangan laboratorium itu tampak dingin dan suram karena gelapnya ruangan ditambah dengan lantai betonnya yang tebal. Hanya terdengar tetesan air infus yang mengalirkan cairan berwarna biru ke lengan seorang pemuda berambut pirang yang terbaring di tengah ruangan.

Kedua tangan dan kaki pemuda itu diborgol ke pinggir ranjang, sehingga dia tampak seperti tahanan penjara yang menginap di rumah sakit. Namun, dilihat dari manapun, ruangan itu tidak tampak seperti salah satu kamar di rumah sakit.

Klik—

Lampu di laboratorium tiba-tiba dinyalakan oleh seorang wanita. Pemuda berambut pirang itu menyipitkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya.

"Naruto, kenakan pakaianmu dan minum pil ini," perintah wanita itu kepada pemuda yang tengah berbaring. Sesekali wanita itu menambahkan catatan kecil ke dalam buku tebal yang ia bawa.

Lelaki berambut pirang yang bernama Naruto itu pun mengangguk patuh. Senyum tipis muncul di bibir wanita itu. Ia segera menutup tirai dan bersiap mematikan lampu ruangan ketika Naruto memanggil namanya—

"Shizune, bisakah kau menyuntikkan aku hormon itu lagi? Aku butuh, kau tahu, ketenangan tanpa mimpi buruk."

"Baiklah. Tapi ini hanya akan menambah buruk kondisi tubuhmu… Dan, membuatmu makin jauh dari sifat aslimu." balas Shizune lambat-lambat. Ia mengambil jarum suntik steril dari dalam lemari kaca.

Naruto tertawa tiba-tiba. Tawanya menggema di ruang laboratorium yang sepi itu.

Tawa Naruto lebih terdengar seperti tawa seseorang yang depresi pengidap skizofrenia atau semacamnya. Tawa yang penuh dengan hawa membunuh. Shizune agak bergidik mendengar tawa Naruto.

"Hahaha… Lucu sekali kalian. Aku sendiri saja tidak ingat bagaimana sifatku yang dulu. Apakah dulunya aku adalah seorang biksu yang tinggal di gunung? Hahaha…!" seru Naruto lantang.

Shizune menyuntikkan jarum itu ke lengan kiri Naruto. Tangan Shizune agak gemetar saat memegang jarum suntik.

Naruto menatap tajam Shizune. Naruto tahu betul bahwa Shizune takut padanya. Takut Naruto akan melakukan hal-hal brutal di luar batas lagi seperti dulu.

"Buat apa kau takut padaku, Shizune? Kau tak lihat ya, tangan dan kakiku kan diborgol dengan besi ke ranjang ini. Dasar bodoh. Aku juga pastinya tidak akan memakanmu." gerutu Naruto. Ekspresi Naruto kini lebih ramah daripada yang tadi.

Shizune hanya diam dan cepat-cepat meninggalkan ruangan suram itu. Meninggalkan Naruto yang hanya menatapnya dengan pandangan bingung.

Naruto POV

Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberiku dua anugerah—

atau kutukan ini sehingga membuatku sulit untuk sekedar menikmati hidup. Entah, Tuhankah yang ingin menghukumku dengan menciptakanku ke dunia ini? Nyawa yang Tuhan berikan padaku membuatku bertanya-tanya untuk apa aku hidup?

Untuk Hyuuga Hinata-kah? Hanya untuk dia?

Masalah kembali datang saat aku bertanya-tanya lagi…

Siapakah Hyuuga Hinata? Apakah aku mengenalnya? Apa dia mengenalku?

Sial. Jadi manusia percobaan itu sial. Sial. Sial. Super sial.

Untungnya, sifat 'kemanusiaan'-ku muncul pada umurku yang ke-17 ini. Kalau tidak, mungkin aku hanya akan seperti tubuh berjalan tak mempunyai jiwa. Salah. Jiwaku tetap utuh, tetapi ingatanku menghilang.

Menjadi manusia percobaan itu memang sial.

End of Naruto POV

-mymysteriousfic-

.

.

.

"Jadi kau sedang mencari wanita? Siapa namanya? Hyuuga Hinata? Untuk apa?" Sakura menodong Gaara dengan berbagai pertanyaan.

Gaara mengacuhkan Sakura. Ia berjalan cepat-cepat namun perempuan berambut pink itu terus menyamai langkahnya.

"Hei tunggu aku! Setidaknya beri aku penjelasan mengapa kau masuk ke ruang pendingin daging yang ada di warung ramen!" teriak Sakura. Orang-orang yang ada di sekitar jalan itu langsung menoleh penuh rasa ingin tahu ke arah mereka berdua.

Gaara langsung menarik tangan Sakura dan membawanya ke tempat yang tidak terlalu terlihat orang lain di persimpangan sebuah toko roti.

"Hei, Nona. Ya, benar kau. Nona berambut pink aneh dengan jidat tanpa batas. Bisakah kau tutup mulutmu sebentar saja?" gertak Gaara kepada Sakura.

Gaara jarang sekali mengeluarkan kalimat yang panjang. Tetapi karena ia sedang dikejar waktu, emosinya memuncak dan sulit dikontrol sehingga mengeluarkan kalimat-kalimat panjang.

Sakura menepis tangannya dari cengkeraman Gaara. Wajah Sakura terlihat tersinggung. Tampaknya, Gaara pun tak ada niat untuk meminta maaf kepada Sakura.

"Huh, pergi sana. Dasar orang asing tak tahu diri. Apa menurutmu, rambut merahmu itu bagus? Di masa depan, rambut merah sepertimu itu akan ditertawakan tahu!" umpat Sakura.

Gaara menyeringai mendengar Sakura mengucapkan 'masa depan'.

"Tahu apa kau tentang masa depan? Mau ke sana? Kulihat, hidupmu tak berharga di sini." balas Gaara.

"Leluconmu tidak lucu sama sekali." kata Sakura datar.

Gaara mengeluarkan benda seperti arloji lama dari balik saku jaketnya. Ia memutar putaran menit yang ada pada jam itu.

Sakura benar-benar tak mengerti apa yang pemuda di hadapannya ini lakukan.

Sejam yang lalu pemuda ini menodongnya dengan pisau lipat untuk menunjukkan di mana letak kulkas. Setelah menemukan lemari pendingin daging, pemuda itu masuk ke dalam lemari itu untuk memeriksa sesuatu.

Kemudian keluar dari lemari pendingin dengan wajah yang suram dan mengatakan kalau di dalam lemari itu tidak ada wanita yang ia cari. Seorang wanita bernama Hyuuga Hinata.

"Kau akan kukirim ke tempat seseorang. Berdoalah ia bersikap ramah kepadamu. Selamat tinggal, Nona Jidat Tanpa Batas."

"Hah? Apa maksud—

"

BUZZHH!

Sinar berwarna hijau menyilaukan tiba-tiba muncul dari arloji tersebut. Dalam sepersekian detik, Sakura telah hilang dari pandangan Gaara.

"Sepanjang zaman, semua perempuan itu sama saja. Menyusahkan dan membingungkan." gumam Gaara yang kemudian menghilang di kegelapan malam.

-mymysteriousfic-

.

.

.

"Berapa peluang dua atau lebih kepala akan muncul berurutan setidaknya sekali dalam sepuluh kali undian?" dikte Sensei Kakashi dari depan kelas.

Hinata secara refleks tersenyum. Soal yang mudah sekali baginya. Ia dengan mantap menggoreskan penanya ke lembar jawaban ulangan. Dalam waktu kurang dari dua menit ia telah menyelesaikan soal yang diberikan Sensei Kakashi. Lengkap dengan cara penyelesaiannya.

Berbeda dengannya, semua teman-temannya di kelas—

ralat, 'calon' teman-temannya di kelas sepertinya menganggap soal yang diberikan Sensei Kakashi seperti pernyataan perang. Sulit sekali menentukan siapa yang menang dan kalah dalam sebuah peperangan. Seperti yang kita tahu, menang jadi abu dan kalah jadi arang. Kedua belah pihak sama-sama rugi. Intinya sih, soal yang diberikan Sensei Kakashi sangat sulit.

Beberapa siswa di kelas itu nampak berusaha mengutak-atik angka di buku tugasnya dengan wajah pasrah. Beberapa nampak seperti ingin bunuh diri dan sebagian lainnya nampak seperti nyawanya akan melayang.

Kakashi tersenyum senang dari balik maskernya. Ia merasa bangga membuat siswa-siswinya hampir mati—

ralat, berpikir keras.

"Waktu habis. Soal kelima!" seru Kakashi yang tak sekalipun memperdulikan wajah-wajah pias siswa-siswinya.

Tok. Tok. Tok.

Serentak, berpasang-pasang mata menoleh ke asal suara.

Mungkin memang sangat lazim jika ada yang mengetuk pintu kelas dari luar saat berlangsungnya ulangan.

Orang yang mengetuk tersebut, mengetuk jendela dari luar. Hei, ini lantai empat…

Apakah hal ini lazim?

"Kyaa—

!" teriak Ino.

Dia cukup pintar karena menyadari bahwa orang yang mengetuk jendela itu bahkan tidak memakai alas kaki, tali, pengaman atau apapun namanya itu. Orang itu melayang di udara. Melayang.

Tok. Tok. Tok!

Orang itu mengetuk lagi. Kali ini lebih keras. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu. Dengan menggerutu, ia mengeluarkan sebuah palu kecil dari dalam saku bajunya dan mulai memukulkan palu itu ke jendela kaca.

Semua siswa yang duduk di dekat jendela segera berlarian untuk menjauh.

Kakashi bahkan tak habis pikir. Siapa—

atau apa tepatnya yang dilakukan orang tersebut. Melayang? Yang benar saja, mana mungkin gaya gravitasi bumi tidak bekerja pada tubuh orang itu.

Kakashi segera keluar dari kelas dan menuju ruang guru untuk melaporkan kejadian aneh di kelasnya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri—

lagi-lagi tak memperdulikan wajah-wajah pias siswa-siswinya yang sebagian besar syok.

Hinata menahan napas. Jujur saja ia juga kaget dengan kejadian ini, tetapi ia cepat-cepat menguasai dirinya. Dari tempat duduknya, Hinata dapat melihat dengan jelas bahwa palu yang dibawa orang itu memiliki laser merah yang dapat menembus kaca.

Orang itu sangat cekatan membuat potongan lingkaran dari kaca. Lingkaran sempurna.

PRANGG!

Potongan lingkaran kaca itu jatuh dan pecah di dalam kelas. Orang itu lalu masuk ke dalam kelas dengan sigap.

Beberapa siswi berteriak-teriak nyaring memekakkan telinga.

"Hehehe, jadi kalian teman sekelas Hinata? Pernah lihat ini?" tanya Naruto tiba-tiba. Ia mengeluarkan benda seperti jam tangan digital aneh—

lagi-lagi dari saku bajunya. Ia mengangkat jam itu tinggi-tinggi supaya semua siswa di kelas itu dapat melihatnya dengan jelas.

Semua siswa tanpa terkecuali Hinata, menatap jam tangan digital itu dengan penasaran.

Saat orang itu menekan tombol hijau pada jam itu, satu-persatu siswa dan siswi di kelas itu pingsan. Berjatuhan dan saling menimpa satu sama lain.

Dalam waktu 10 detik, seluruh siswa-siswi di dalam kelas benar-benar telah pingsan.

Kecuali Hinata.

Suasana kelas menjadi hening…

"Hyuuga Hinata. Ayo ikut denganku ke masa lalu. Aku Uzumaki Naruto." kata orang itu memecahkan keheningan.

Hinata menatap orang itu dengan penuh tanda tanya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

-mymysteriousfic-

.

.

.

"UWAAA! S-siapa kau?" teriak Sasuke saat melihat seorang perempuan berambut pink tengah tertidur di sofa rumahnya.

Sasuke lelah karena melakukan perjalanan panjang hari ini. Ia ingin istirahat di sofa rumahnya yang nyaman ketika ia mendapati seorang gadis asing tengah tertidur pulas di atas sofa miliknya.

Sakura terjaga dari tidurnya. Ia mengerjapkan kedua matanya.

"KYAAAA!~~ Mesum! Dasar laki-laki mesum!" teriak Sakura tiba-tiba saat melihat bahwa Sasuke sedang bertelanjang dada tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana jeans.

Sasuke mengernyit. Apakah ini hanya perasaannya saja, atau memang hari ini semua orang mempermasalahkan gayanya berpakaian? Ah, lupakan saja.

"Kau siapa? Seenaknya masuk ke dalam rumah orang. Bagaimana bisa kau melewati alarm rumahku yang super ketat?" tanya Sasuke nyaris heran.

Ia memperhatikan pakaian yang dikenakan gadis dihadapannya. Pakaian model apa ini? Kuno sekali… Hei, tunggu. Jangan-jangan…

"Apa kau dari masa lalu?"

"Hah? Apa maksudmu? Aku bahkan tak tahu sedang ada di mana! Yang aku tahu hanya ada orang gila berambut merah yang membuatku pingsan! Setelah aku sadar, aku malah harus bertemu lelaki mesum sepertimu!"

Orang gila berambut merah? Tak salah lagi, itu pasti Gaara, pikir Sasuke.

Oke. Jadi apa maksud Gaara membawa seorang gadis cerewet ini ke tempatnya? Apa rumahku tampak seperti tempat penampungan orang hilang? Harus kuapakan gadis ini?

"Baiklah. Selamat datang di masa depan. Ini tahun 2036. Whoaa… Jangan kaget. Aku juga kaget melihatmu di rumahku, tahu," gerutu Sasuke.

Sakura membulatkan matanya tidak percaya. Omong kosong apa ini?

Sakura menatap seluruh benda di ruangan itu. Tak ada kata lain yang dapat mendeskripsikan bagaimana rumah ini selain kata WOW. Semua benda yang ada di ruangan itu tampak canggih dengan bahan metal. Hampir tidak ada tembok yang memisahkan ruangan. Hanya ada kaca-kaca transparan yang berfungsi memisahkan ruangan satu dengan lainnya.

"Pertama-tama, aku harus melakukan sesuatu dengan pakaianmu." kata Sasuke seraya mengeluarkan pisau lipat dari saku jeans-nya.

Sakura menahan napas. Apa orang ini akan membunuhnya?

Pisau lipat pemuda berambut raven dihadapannya ini mirip sekali dengan pisau lipat milik pemuda berambut merah yang semalam Sakura temui. Apakah kedua pemuda ini bersahabat?

"A-apa yang akan k-kau lakukan?" seru Sakura terbata.

Breett—

Terlambat. Baju Sakura sudah hampir robek setengahnya.

"KYAAA!~~ MESUUMM!"

-mymysteriousfic-

.

.

.

-to be continued-

A/N: Gimana? Ngerti kagak? Kalo gak ngerti berarti lo harus baca lagi dari awal. Mau review kagak? Gue berharap sih lo review dengan cara menekan tombol review yang warna biru di bawah. Entah itu kritik, saran, atau flame, gue bakal mengapresiasikannya. Thanks for reading my mysterious fic. Kenapa 'mysterious'? Jangan tanya KENAPA. Pasti jawabannya, KARENA gue juga gak tau KENAPA… KARENA… tuhkan gak jelas. Doain aje, gue update kilat! ;)