The GazettE fanfic

Author: Shiro_Rukichii

Pairing: RukixOC

Disclaimer: fic gaje nan hawhaw ini punya saya, Gazet bukan punya saya, tapi punya diri mereka sendiri. Begitu pula Twitter punya yang buat.

Genre: Romance, Friendship,Family

Warn: the gaje-est of the gaje story had ever exist, don't like please read, paling muntaber siap baca ini *killed*

00:00 a.m, tengah malam gini terdapat seorang anak manusia yang masih bangun dan asyik bersenandung kecil di kamarnya sambil mengetikkan tuts tuts keyboard nya. Namanya adalah Shirei, 16 tahum, SMA kelas 1 , bersekolah di SMA swasta yang ada di dekat rumahnya, periang sekali, membawa senyum hangatnya kemana-mana. Sopan dan imut, banyak yang mengatakan kalau dia tidak pernah marah, sekalipun kau telah melakukan hal keji padanya seperti menindasnya, dia tidak pernah marah pada orang itu, walaupun kadang mau sedikit emosi, tapi hanya sebentar saja, setelah itu ia akan memaafkan mu begitu saja, orang-orang terurtama cewek sangat suka berdekatan dengannya, ia mempunyai hobi menyanyi dan itu adalah mimpi tersebesarnya sebelum menjadi pegawai kantor yang sukses dan membahagiakan orang tuanya.

"ahii….. bagian ini gimana sih?" omel Shirei yang sama sekali gak bisa nye-cream, jadi ia hanya menyanyikannya secara biasa saja.

"Tanya ke teman-teman kagak ada yang jelas, apa Tanya langsung ke ahlinya aja ya?" gumam Shirei yang melihat-lihat halaman rumah twitternya, pandangannya tertuju pada Ruki The GazettE yang baru nge-up date, ia berpikir untuk menanyakan hal ini pada idola nya itu.

'gak bakal di jawab deh,… mending belajar sendiri ah~' pikir si Shirei pesimis. Tapi bagaimana pun juga dia orang nya sangat gelisah sebelum melakukan apa yang di inginkannya, jadi walaupun dia pesimis tapi tetap aja ingin melakukan itu.

"bodo ah… sekalian aja ganggu nih orang" kata Shirei dan akhirnya ia me-mention Ruki seenak jidat. Lalu ia log out twitter dan pergi tidur.

-Ruki saat itu-

Tengah malam suntuk,capek karena kerjaan banyak banget tadi, ngantuk tapi gak bisa tidur, akhirnya surfing di dunia maya deh. Saat Ruki membuka twitter, ia melihat salah satu mention dari fan yang baru kali ini di lihatnya. 'Shirei_05' itu ID nya, ia menanyakan bagaimana cara nge scream dan growl yang baik dan benar, entah kenapa Ruki terkekeh melihatnya, 'tinggal teriak-teriak aja kok susah sih' pikirnya. lalu ia tertuju pada pp nya, cara ia berfoto tidak jauh dari nya, sangat suka main mata, rambutnya hitam kelam dengan model gaje bin ajaib yang cocok sekali dengannya. Mukanya chubby dan bulat, dengan mata coklat tua yang bulat. Bibir kecil seperti warna peach sangat menggoda. Entah kenapa dan bagaimana Ruki sudah mengirim kan mention nya.

"eh? Apa nih?" kata Ruki yang kaget melihat jawaban milik dia sendiri 'let's hear your voice first' itu yang di katakannya, lalu saat ia ingin menghapus tweet itu tiba-tiba lampu padam yang menyebabkan PC yang di pakai Ruki mati juga.

"kusssooooo!" umpatnya sambil menghentak-hentakkan tangannya ke meja komputer, karena kesal akhrinya ia pergi tidur juga deh. Nggak kepikiran buat ngapus tuh tweet lewat hape atau laptop. Bloon juga si Chibi kita ini. *di gampar*

Esok nya, seperti biasa si Shirei bangun telat, tapi masih aja santai. Mandi,beberes,susun buku,makan lalu melenggang keluar seenak udel, tanpa rasa sedikit pun takut terlambat, bagaimana bisa? Soalnya sama aja bakalan di hukum kalo dia cepat-cepat dari rumah, karena emang dari sono nya dia sudah terlambat. Dan itu sudah ritual paginya.

"Vision no fuhai…. Here is a hell on earth…. I felt a chill… The disappointment that increases… tick tack tack tack tack tack… Nobody can rewind time~ Don't look away… Suicide circus" masih pagi si Shirei asik nyanyi Suicide Circus dari The GazettE, bukannya malah lari sono sini karena jam pertama udah mulai malah asyik jalan sambil nyanyi. Begitu sampe gerbang ia lompat gitu aja, gak peduli celananya keliatan, soalnya dia udah pake hot pants. Satpam juga udah tau siapa yang lompat, jadi dibiarin aja, begitu guru pengawas keliatan baru lah ia pura-pura merasa bersalah dengan pasang tampang buru-buru plus takut, dan berlari melewati pengawas yang ngelototin dia, mau nangkep juga percuma, namanya udah tertera di buku kasus sebelum dia nyampe sekolah, di tambah lagi hukuman gak ada yang bikin dia jera. Untung sensei belum masuk jadi si Shirei main nyelonong aja dengan senyum puas udah lolos dari mara bahaya di depan gerbang.

"ohayou Shirei!" sapa Kumiko teman sebangku Shirei

"yooooo" sapa Shirei lagi, ia duduk di bangkunya sambil meletakkan tas nya dan mengeluarkan hape nya. Ia langsung membuka twitter dan melihat mention yang masuk semalam, alangkah kagetnya dia bagai baru di sambar petir ia melihat Ruki menjawab pertanyaan nya.

"THE HELL! Serius neh!" teriak Shirei tiba-tiba yang membuat seluruh isi kelas melihatnya.

"e-eh? Go-gomen… gak usah peduliin…" kata Shirei sambil membungkuk sedikit dan semuanya kembali ke aktivitas masing-masing da muka Shirei pucat.

"kenapa?" Tanya Kumiko penasaran.

"a-ano… tidak ada, aku Cuma kaget aja tadi…" jawab Shirei yang langsung menutup handphone nya

"kaget kenapa?" Tanya kumiko lagi

"eto…. A-ah… aku di suruh belanja tadi tiba-tiba… padahal pulang nanti aku ada rencana" kata Shirei sambil tertawa garing , dan Kumiko hanya meng oh saja. Selama pelajaran Shirei sama sekali tidak konsentrasi, ia terus memikirkan tentang jawaban Ruki itu, ia ingin sekali bertemu dengan idolanya langsung apa lagi kalau dia yang minta, tapi entah kenapa kali ini Shirei merasa takut, sangat tidak enak, seperti ada bencana yang akan datang jika ia mengiya kan hal itu. Hingga pulang sekolah ia masih memikirkan itu, walaupun sifatnya ke depan teman-temannya seperti tidak memikirkan sesuatu dan tidak ada yang menyadari kegalauan yang ada di hatinya itu. Ia berjalan menyusuri jalan kota dengan lambat dan santai, sambil melihat langit ia memasukkan tangannya di kantung jaket nya, dan mulai bersenandung.

-Ruki's Prov-

Aku sedang berjalan menuju rumah, baru saja ke mini market untuk membeli minuman dan cemilan, sekarang kami sedang istirahat latihan, langit sore berwarna jingga sangat indah aku lihat dari jalan kota yang padat ini, orang-orang pada berlalu lalang, dan sibuk dengan pikiran masing-masing, seperti aku juga, sibuk memikirkan apa yang akan di katakan oleh gadis itu nanti, sampai sekarang tweet ku sama sekali belum di balas, aku memutuskan untuk tidak menghapusnya karena aku merasa akan lebih baik kalau begitu. Aku menunduk sambil berjalan seraya memasukkan kedua tangan ku ke kantung jaket ku, lalu saat aku melamun aku mendengar suara yang sangat cantik dari belakang ku.

"so simple and innocent… so simple innocent.. oh… chemistry like apple and cinnamon… like apple and cinnamon" terdengar suara itu menyanyikan lagu yang indah di telinga ku, suaranya jernih dan lembut, bagaikan suara malaikat. Karena penasaran akhirnya aku melihat ke belakang dan betapa terkejut dan senangnya aku begitu melihat muka yang selalu ingin kulihat secara langsung, muka bulat dengan pipi yang tembem dan imut, bibir kecil warna peach yang menggoda, mata bulat besar berwarna coklat tua, rambut hitam kelam yang lurus dan indah. Shirei. Ya, itu Shirei. Gadis yang menanyakan bagaimana cara scream dan growl semalam. Tidak salah lagi. Ia mengadah ke arah langit saat bernyanyi, sosoknya yang kecil mungil sangat lucu, bagai anak kecil yang sedang berfantasi. Sangkingkan seru sendiri dengan dunia masing-masing, aku bengong, Shirei autis, jadi nya dia menabrak ku tanpa aku sempat menghindar.

-bruk!- tubuh mungilnya menabrak tubuh ku dengan pelan, menyadarkan kami berdua ke dunia nyata.

"Ah! Maaf! Aku bengong!" seru nya setelah menubrukku pelan , untung nggak jatuh. Aku hanya tersenyum saja.

"tidak apa-apa, aku juga bengong tadi" kata ku, begitu mendengar suara ku Shirei langsung berhenti bergerak, uh-oh. Kayaknya nih bocah tahu siapa aku, gawat juga nih.

"maaf…" kata nya dengan muka takut dan pucat serta tegang, yang membuat aku ikut merasa tegang juga.

"ka-kau… Ru-Ruki?" Tanya nya , dan jreeng! Ternyata tebakan ku benar! Padahal udah nyamar bagus-bagus malah ketahuan kalau aku adalah Ruki vokalis The GazettE hanya dengan mendengar suara ku saja, aku rasa dia sudah hapal mati bagaimana suaraku. Tersandung, eh.. salah.. tersanjung deh.. dan aku hanya mengangguk saja.

"kau… orang yang bertanya padaku semalam kan?" Tanya ku pada dia, dan mukanya makin pucat, loh? Emang salah kalau aku ingat? Apa jangan-jangan dia shock? Aku melambaikan tangan ku ke depan mukanya, tidak ada reaksi

"oi.." panggil ku mencoba untuk menariknya ke dunia nyata, tidak ada jawaban lagi.

"Shirei? Ooiii… masih hidup?" Tanya ku lagi sambil mengguncang-guncan tubuhnya, akhirnya ia sadar. Thank God udah ngebalikin dia. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan mencubit pipinya, pft.. lucu… pikir ku saat melihat ekspresi nya, sakingkan lucunya aku tidak bisa menahan senyumku.

"kenapa?" Tanya ku pada dia lagi mencoba untuk tidak tertawa lepas, takut sakit hati.

"a-aku tidak percaya ada Ruki di depan ku.. kalau ini mimpi ini pasti mimpi paling aneh dan indah…." Katanya lalu tanpa aba-aba dia mencubit lengan ku, sakiittt!

"ittai! Apaan sih! Ini bukan mimpi tau!" seru ku sambil mengusap-usap bagian yang ia cubit tadi

"Ah! Gomen! Ha-habisnya…" mukanya langsung memerah dan melihat ke arah lain, anak ini imut sekali. Dan entah kenapa ada ide yang terlintas di kepalaku.. aku rasa ini ide bagus

"aku akan mengajarimu bagaimana caranya" kataku dan tiba-tiba mata nya terbelalak, kaget nih bocah. Lucu deh.

"ho-hontou?" Tanya nya dengan muka yang masih terkejut.

"yap" jawabku mantap. Dan mukanya langsung merah padam

"se-semalam a-aku Cuma becanda aja! Ja-jangan di anggap serius!" katanya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan dadanya, aku tersenyum kecil. Mana mungkin dia kulepas gitu aja, mau kabur dari ku rupanya.

"aku sudah memutuskan, tidak bisa di ganggu gugat. Ayo!" kataku sambil menarik tangannya dan Shirei tidak bisa ngomong apa-apa sepertinya.

Ruki's Prov-End

Normal prov

Shirei yang pasrah plus shock sakingkan kagetnya dengan keputusan manusia di depannya itu Cuma ngikuti aja dari belakang, pergelangan tangannya di genggam dengan erat oleh Ruki, orang yang sangat ia kagumi ini. Rasanya bagaikan mimpi saja, tentu aja, seorang Ruki lagi narik tangannya sekarang! Ya ampun! Gak mungkin banget kan! Dan karena itu cepat-cepat Shirei menarik tangannya dengan paksa. Lalu berhenti, dan otomatis yang menarik tangan dia sekarang juga berhenti.

"kenapa?" Tanya Ruki padanya.

"gomen. Kayak nya gak bisa deh" kata Shirei sambil garuk-garuk kepala

"nanti aku belajar sendiri aja. Jaa ne! makasih sudah niat mau ngajari aku!" katanya dan berbalik ke arah jalan dia sebelumnya, tapi apa di kata.. saat dia balik Ruki menarik pinggangnya dari belakang dan mengangkatnya kayak karung beras.

"what! Hei! Lepasin!" ronta Shirei.

"sudah ku bilang, keputusan ku tak bisa di ganggu gugat… ngikut aja deh" kata Ruki sambil menunjukkan seringai iblisnya.

"iya! Iya! Aku ikut! Tapi turunin!" seru Shirei dan akhirnya Ruki menurunkannya.

"lama gak?" Tanya Shirei jutek, kayaknya mulai marah nih cewek

"gak… gak lama… paling ampe malam nanti" katanya dengan senyum sinis nya, yang membuat Shirei hampir kleper, tapi di tahannya, masih pasang muka jutek nih ceritanya. Tapi si Ruki masih aja senyum senyum gaje, senang karena udah bikin si Shirei gini, dan mereka berjalan bersama hingga sampai ke rumah tingkat dua yang lumayan besar.

"rumah mu?" Tanya Shirei penasaran

"rumah kami" jawab Ruki dan masuk ke dalam rumah itu di ikuti dengan Shirei yang masih penasaran dengan jawaban Ruki tadi.

"aku pula~ng" kata Ruki sambil masuk ke dalam rumah dan melepas sepatunya.

"kampret lu! Lama amat beli makanan gitu aja!" seru seorang lelaki berambut pink ber piercing di bibir, memakai kaus hitam dan celana panjang.

"sorry, tadi ngobrol bentar ama teman" kata Ruki yang memberikan sebuah minuman kaleng dari kantung plastic yang di tenteng nya dari tadi kepada lelaki itu.

"are? Siapa tuh?" Tanya lelaki itu saat melihat Shirei yang berdiri sambil celingak-celinguk melihat sekeliling rumah

"ada yang mau aku rekomendasikan tentang proyek 'Hime' itu, ayo kumpul" kata Ruki pada lelaki itu dan Shirei yang tidak mengerti tentang apapun yang di katakana mereka Cuma bisa bengong di belakang, sedangkan si lelaki pink yang mulutnya manyun itu Cuma bisa menatap Ruki heran.

"sudah lah.. ngapai di sini berdiri kayak orang bodoh. Ayo masuk" lata Ruki menarik tangan Shirei masuk ke dalam rumahnya dan melewati lelaki pink itu.

"jangan-jangan…" kata lelaki itu dan ia terdiam sebentar memikirkan yang di katakana Ruki tadi, setelah agak lama baru lah ia sadar.

"TAKA! JANGAN BILANG KALO DIA ITU YANG BAKALAN JADI HIME!" teriak lelaki itu sambil berlari ke arah yang sama dengan Ruki tadi.

"anu… sebenarnya ada apa sih?" Tanya Shirei bingung, bukannya si Ruki bilang mau ngajari dia vocal? Kok malah gini?

"nanti aku jelaskan, ayo duduk dulu.. maaf berantakan ya… maklum yang tinggal cowok semua. Oi! Kai! Semua ! ayo sini!" teriak Ruki dengan lantang yang menyebabkan 3 orang makhluk menyilaukan turun dari lantai atas, satu cowok cantik berambut honey blonde, satu lagi berambut pirang memakai masker, dan satu lagi cowol rambut coklat panjang bermuka imut. Mereka adalah Uruha,Reita dan Kai, dari band yang di kagumi Shirei, The GazettE. Cewek itu langsung melotot begitu melihat mereka semua.

"woi! Ruk! Jangan becanda lu!" seru si Pink yang baru masuk lagi, ia adalah Aoi si gitaris.

"duduk dulu duduk dulu… mari mari.. kita bicarakan dulu ini, gak bakal nyesel deh" kata Ruki kayak penjual ikan di pasar dengan tampang innocent nya. Para member Gazet pada liat liatan satu sama lain, dan dengan eye contact mereka semua duduk di sofa ruang tamu di ikuti Ruki.

"jadi, ada apa?" Tanya Kai membuka percakapan, lalu senyum Ruki melebar. Mukanya kayak om om yang ngeliati cewek bohai

"gini.. aku ada calon buat proyek kita nih…" kata Ruki dan semua nya langsun jaw drop. Dan langsung melirik ke arah si Shirei yang bingung aja.

"anu.." sebelum Shirei ngomong si Reita main nunjuk aja.

"diem dulu!" seru Reita yang membuat Shirei mingkem dan duduk manis lagi.

"serius lu? Emank nih bocah lu pungut di mana?" Tanya Uru tanpa ampun

'gue bukan anak kucing' pikir Shirei

"pungut di jalan. Tadi baru aja di pungut" jawab Ruki cengengesan lagi

"emang dia bisa apa aja?" Tanya Kai serius

'napas om' jawab Shirei dalam hati

"nahh.. itu dia… mau di tes" jawab Ruki lalu melihat ke arah Shirei yang mukanya udah mesem

"aku bisa napas, begerak, hidup layaknya manusia normal" jawab Shirei dan semuanya langsung cengo begitu mendengar perkataannya. Lalu tak berapa lama, semua member gazet ketawa terbahak-bahak, hingga ada yang guling-guling.

"terus, keahlian mu apa?" Tanya si Aoi yang mulai tertaril

"tidur? Kalo lu? Ngapai? Ngomong ama Gurame?" Tanya Shirei yang berhasil membuat Aoi mingkem dan yang lain pada makin ketawa hingga keluar air matanya.

"sebetulnya ada apa sih ? projek hime itu apa?" Tanya Shirei yang mulai penasaran.

"gini… kita mau bikin pv baru, terus ngerekrut personil baru, cewek.. sebagai model sekaligus vokalis satu lagi" jelas Kai yang udah mulai tenang, sisanya masih ada yang misuh-misuh, ngakak, sampe sembah sujud.

"jadi? Gak ngadai audisi? Terus apa hubungan nya sama aku?" Tanya Shirei bertubi-tubi

"nah… itu dia… kata si Ruki gak usah, katanya make lu aja" jawab Kai seadanya, dan Shirei langsung ngeliat si Ruki yang senyum najong di sebelahnya

"eh, pendek…. Lu bisa nyanyi gak?" Tanya Uruha

"bisa! Dia bisa banget!" seru Ruki tiba-tiba dan Shirei langsung ngelempar bantal kecil yang ada di dekatnya kea rah Ruki

"gak! Aku gak bisa nyanyi! Suara cempreng gini!" seru Shirei yang langsung nolak mentah-mentah.

"bohong! Tadi aku dengar kau nyanyi ya! Ampe bengong gitu!" seru Ruki dan Shirei langsung speechless mendengar itu.

"sa-salah orang!" seru Shirei dengan panic

"nggak.. gue nggak salah orang" kata Ruki santai. Lalu Shirei terdiam sebentar

"maaf… aku sangat senang dengan tawaran kalian, bahkan memang impian ku adalah menjadi penyanyi hebat seperti Ruki, tapi… sepertinya itu Cuma sebatas mimpi dan aku sudah menyerah soal itu… jadi aku harus menolak ini" jelas Shirei yang membuat Ruki tercengang

"jadi buat apa kau lahir? Kenapa kau menanyakan bagaimana cara scream dan growl? Kenapa kau sangat senang bernyanyi? Memang ada alasan apa kau menghentikan mimpimu! Kau menyerah begitu saja sebelum kau melakukan apapun!" Tanya Ruki beruntun yang membuat Shirei diam. Ia ingin sekali marah, tetapi entah kenapa emosi nya tertahan inilah yang selalu menghalau nya untuk meluapkan semua emosinya, ia merasa bersyukur dan sengasara dengan hal ini, di satu sisi tidak ada orang di sakitinya, di sisi lain ia merasa sangat sesak karena tidak bisa meengatakan isi hatinya. Shirei menghela nafas panjang dan tersenyum hangat pada Ruki

"mungkin kau akan mengatakan aku adalah orang terbodoh di dunia, dan orang paling pengecut di dunia yang tidak melakukan apapun untuk menggapai mimpinya…" ia terdiam sebentar dan menggenggam kedua tangan Ruki dengan lembut, membuat Ruki senang, sekaligus kalut. Akankah ini akan menjadi sentuhan terakhir dari orang yang telah menarik perhatiannya hanya dalam waktu kurang dari 1 menit? Atau malah sebaliknya?

"tapi hidup ini sangat keras, kau sendiri juga pernah merasakannya, kau hidup lebih awal dari ku dan pasti kau tahu rasanya bagaimana. Jadi aku mohon maaf kepada mu dan semua yang ada di sini… aku tidak bisa menerimanya" sambung Shirei yang membuat muka Ruki terlihat sangat kecewa.

"setidaknya berikan aku alasan kenapa kau tidak bisa melakukannya" kata Ruki yang menatap Shirei lurus tanpa berkedip

"aku bagaikan seorang robot, hidupku sudah di atur oleh orang tua ku, setelah lulus aku harus ke universitas amerika untuk melanjutkan kuliah ku. Dan orang tua ku sudah memutuskan hal itu, aku ingin menolak, tapi aku tidak bisa, saat melihat wajah mereka berdua saat membayangkan aku pulang ke pelukan mereka dengan segenggam prestasi kecil. Melihat mereka tersenyum seperti itu, juga merupakan impianku juga, meski aku harus kehilangan mimpi lain ku yang sebatas mimpi saja" jelas Shirei dan tanpa di sadari air mata menetes dari matanya. Tidak biasanya ia sampai menangis seperti ini, saat menceritakan nya pada teman akrabnya pun ia hanya menganggap itu sudah takdir di tentukan oleh sang pencipta, ya… itu sudah takdir, dan selama ini dia menganggap nya begitu. Tapi, saat di sekitar orang-orang ini, idola-idolanya yang selalu di lihatnya dari layar kaca, terutama orang yang menatapnya dengan tatapan perih di depannya ini, ia merasa bisa menumpahkan semua apa yang ingin di katakannya, keluh kesah,amarah,senang,sedih,kecewa. Ia merasa ia bisa mengatakannya pada mereka semua.

"apakah keluarga mu sangat penting?" Tanya Ruki pada nya, kali ini sepertinya ia juga ingin menangis. Kai dan yang lain di dekat mereka hanya bisa diam saja. Tidak tahu apa yang harus di katakan. Shirei mengangguk pelan, terdengar isakan pelan dari nya.

"mereka yang merawat ku! Mereka yang memungutku dari jalanan sepi dan dingin! Mereka yang membesarkan ku! Memberiku kasih sayang! Mereka yang mengajarkan ku apa itu keluarga! Pengorbanan mereka sudah sangat banyak untuk ku! Setidaknya aku harus membalasnya dengan secuil jerih payah ku yang tidak seberapa! Membuat mereka tersenyum puas dan bangga saat melihat anak yang terlantar 12 tahun lalu di pinggir jalan sepi dan gelap yang mereka besarkan bersama nanti!" seru Shirei yang tangisannya semakin menjadi-jadi. Ruki yang tidak tahan melihat gadis yang sangat ia sayangi sejak pertama bertemu itu pun memeluknya pelan, membiarkan Shirei menangis di bahunya, tubuhnya bergetar menahan tangisannya.

"menangislah… kau tidak bersalah untuk menangis, kau tidak bersalah untuk membuat orang tua mu bahagia,tapi ingat satu hal…" kata Ruki sambil mengelus kepala Shirei dengan pelan dan lembut, membuat gadis itu merasa nyaman dan tenang.

"jangan lupakan mimpimu, jika mereka menyayangi mu setulus hati mereka pasti akan mendukung mu" kata Ruki, dan Shirei terdiam sebentar, tangis isak nya sudah berhenti di gantikan kekehan mengerikan. "percuma, mereka tidak akan membiarkan ku menggapai mimpiku, sedikit merasakan pun tidak akan pernah.. heh sungguh membahagiakan dan ironis" kata Shirei, dan Ruki terdiam sejenak. Ia merasa bersalah telah mengingatkan Shirei pada mimpinya yang seharusnya ia anggap sebagai bunga tidur yang tidak berarti apa-apa. Ia menghela nafas panjang. Lalu melepaskan pelukannya dan menatap Shirei lekat-lekat. Air mata masih mengalir dari matanya, ia menghapus air mata itu dengan kedua tangannya dan tersenyum hangat pada Shirei.

"maaf kan aku" kata Ruki yang membuat Shirei sangat kaget.

"a-a-aku yang harus minta maaf! Maaf sudah merepotkan kalian! Sebaiknya aku pulang saja! Permisi!" seru Shirei dan ia langsung mengambil tas nya dan melesat keluar sebelum yang lain dapat memberi respon. Ruki yang Cuma bisa melihatnya pergi terdiam dan menunduk ke bawah saja. Ia merasa sangat bersalah. Sungguh, tidak pernah ia melihat anak seperti Shirei, tulus, sopan,jujur dan kesabarannya itu. Sangat menyentuh Ruki.

"bukan salah mu" kata Reita menepuk bahu Ruki, ia sangat tahu perasaan Ruki sekarang. Hanya melihat wajahnya saja semua sudah tahu.

"mungkin lain waktu" kata Kai yang ke belakang sebentar untuk mengambilkan teh buat Ruki, untuk menenangkannya.

"aku mau keluar sebentar" kata Uruha tiba-tiba

"eh? Kemana? Ikut!" seru Aoi yang ngekor Uruha keluar rumah jalan kaki, saat mereka keluar, keadaan sudah gelap, matahari tak memancarkan sinarnya lagi, menandakan kalau hari sudah berganti malam.

"kasihan anak itu, kehilangan mimpi hanya untuk balas budi" kata Aoi di tengah jalan dan Uruha hanya diam saja dan mengangguk sedikit.

"lebih baik begitu dari pada ia membuat dosa" kata Uruha, mendengar itu Aoi terdiam dan menatap langit, hari sedikit dingin, memang sudah mau masuk musim dingin sekarang.

"there's a song that inside on my soul…" terdengar suara perempuan yang sangat indah dan menenangkan jiwa bernyanyi di dekat mereka.

"kau dengar itu?" Tanya Aoi pada Uruha, dan ia hanya mengangguk saja. "indah sekali" kata Uruha memuji suara itu.

"liat yuk!" ajak Aoi yang menarik Uruha ke dalam taman, tempat asal suara itu.

"it's the one that I've tried to write over and over again" sambung nyanyian itu, saat Uru dan Aoi masuk ke dalam taman mereka berdua melihat sosok mungil yang memakai seragam sekolah, kulit putih yang bersinar di tengah kegelapan taman, tubuh ramping yang berdiri tegak dan anggun di depan air mancur yang airnya memancarkan cahaya bulan dan bintang yang menghiasi langit malam, Shirei, gadis yang baru saja menangis di depan mereka tadi sekarang bernyanyi dengan anggunnya di tengah kegelapan ini. Ia bagaikan seoran peri yang menari dengan cahaya kecil nya di tengah kegelapan hutan yang seram.

"I'm awake in the infinite cold… but you sing to me over and over and over again…" sambung nya lagi dan kali ini ia mengangkat tangannya sedikit ke atas lalu tersenyum hangat, senyum yang dapat membuat orang sedang marah menjadi tenang dan damai, orang yang sedang sedih menjadi senang, senyum itu seperti senyum malaikat, seperti seorang ratu yang berdiri di depan rakyat nya dengan anggun dan cantik.

"so I lay my head back down, and I lift my hands and pray… to be only yours, I pray, to be only yours… I know now… you're my only hope.." dan nyanyian itu berakhir dengan indah, di sambut tepuk tangan dari kedua pemuda tampan itu. Yang membuat Shirei terkejut.

"A-aoi san? Uruha san? Se-sedang apa?" Tanya Shirei agak kalut dengan kehadiran mereka berdua yang baru saja ia sadari.

"tenanglah… mari ngobrol dulu" dan mengajaknya duduk di ayunan dekat sana. Terdapat 2 ayunan, satu untuk Shirei, dan satu lagi untuk Uruha, Aoi berdiri menyandar di tiang ayunan dengan santai

"suaramu bagus sekali" puji Uruha dan semburat merah muncul di kedua pipi tembem Shirei

"te-terima kasih" katanya agak gugup

"sayang sekali kalau kau tidak menyalurkan bakat mu… tapi apa boleh di kata…" kata Aoi, lalu mereka terdiam sebentar, hening yang nyaman tercipta di antara mereka bertiga. Tidak ada yang mau berbicara, hingga akhrinya Uruha berdiri.

"gapailah mimpi mu, hingga tidak ada yang bisa mengontrol dirimu untuk menggapainya …" katanya dan berjalan dengan santai menuju keluar taman, Shirei menatap punggung yang menjauh itu dengan tatapan bertanya, 'kenapa? Apa maksudnya?' Tanya Shirei dalam hati, lalu ia melihat Aoi yang menepuk kepalanya pelan dan tersenyum ramah

"jaa ne.. kapan-kapan kita ketemu lagi ya" kata Aoi dan pergi menjauh dari Shirei.

Malamnya , Shirei terus memikirkan apa yang di katakannya tadi , itu seperti penunjang semangat buat dia untuk terus menggapai mimpinya.

"jangan lupakan mimpimu, jika mereka menyayangi mu setulus hati mereka pasti akan mendukung mu"

"gapailah mimpimu, hingga tidak ada yang bisa mengontrol dirimu untuk menggapainya"

Kata-kata yang di katakana Ruki dan Uruha tadi masih terngiang di telinga Shirei. Ia terus memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan, ia takut, bingung, ingin sekali ia mengejar mimpinya, tapi bagai mana dengan orang tua nya? Orang tua angkatnya? Ya… orang tua angkat… pasangan yang tinggal bersamanya sekarang adalah orang tua angkatnya, mereka memungut Shirei di tengah malam, di tepi jalan yang gelap dan dingin, saat itu Shirei sebatang kara, tidak tahu siapa orang tuanya, ia di asuh di tempat anak jalanan yang terlantar, di suruh mengemis dan mencuri untuk menghidupi diri sendiri, orang yang lebih tua dari nya sering menggunakan dirinya yang waktu itu masih sangat kecil untuk menarik simpatik orang dan mendapat uang yang lebih. Saat ia berumur empat tahun , orang tua angkatnya yang sekarang memungutnya dan menganggap nya sebagai anak kandung mereka, mereka memungut Shirei karena mereka tidak bisa mempunyai keturunan, melihat Shirei yang ketakutan dan kedinginan di pinggir jalan membuat mereka iba dan mengambil Shirei dari sana, ia di sekolahkan,di beri kasih sayang, di didik,di manja, dan ia sangat mensyukuri hal itu. Tapi orang tua nya yang sekarang tidak mengizinkan nya untuk menjadi seorang penyanyi dengan alasan tidak bagus, karena menurut mereka dunia artis itu dunia gelap yang penuh dengan kecurangan dan kegelapan malam. Memang itu benar, tetapi tidak semua. Lama ia terduduk di depan jendela merenungi apa yang harus ia lakukan, dan akhirnya ia memutuskannya.

-TBC-

nyaa! ceritanya ngaur.. tapi hopeyou like it! XD