Note: Kayaknya pertama baca Hai! Miiko waktu masih SMA kelas satu deh, waktu itu liat yang nomor 10 punya teman dengan muka memelas, ngarep dipinjemin. Paling suka sama gaya Tappei yang sombong padahal berhati lembut dan si Miiko yang polos sekaligus serampangan. Tapi yang paling disukai itu Yoshida. Reaksi dia lucu banget pas ada Miiko, hehehe. Niatnya sih bikin kumpulan cerita-cerita pendek yang didasari canon. Okelah, selamat membaca ya~!

Disclaimer: Eriko Ono


Miiko, Please be Mine Forever~!


.

.

.

Chapter 1 Mirip Ayah

.

.

Semua anak yang mendapat nilai merah di tes Matematika kemarin diharuskan menjalani ujian ulang dua hari lagi, termasuk Miiko. Salah sendiri, bukannya belajar malah membaca komik semalaman. Padahal Mamoru sudah berkali-kali memperingatkan kakaknya yang satu itu.

"Aku 'kan paling tidak mengerti perkalian pecahan," Miiko merengut sambil melihat nilainya yang gosong. Mama bisa marah kalau tahu, pikirnya pelan. Mendadak ia mendapat ide cemerlang.

.

.

"Baiklah, jangan lupa untuk mengerjakan latihan kanji, ya. Untuk para murid yang mengulang tes Matematika dua hari lagi, bapak harap kalian bisa mendapat nilai yang lebih baik." Pak Guru menutup pelajaran hari itu dengan pesannya yang lumayan memberati hati murid-murid. Yang namanya tugas dan suruhan untuk belajar memang tidak pernah enak, sih.

Miiko bergegas menghampiri Yuuko dan bertanya, "Yuuko, bisa tidak kau mengajariku matematika untuk tes nanti? Aku masih tidak mengerti perkalian pecahan, nih…"

"Eh?" Mari-chan menghentikan langkahnya sejenak. Ia sadar bahwa ia sama sekali tidak bisa dimintai tolong karena nilainya amat pas-pasan. Tidak sejelek Miiko, tapi ya tidak bisa dibilang bagus.

"Ehmm, bukannya aku tidak mau membantu, tapi aku harus pulang cepat ke rumah. Belakangan ini mamaku lembur terus sampai malam, jadi aku harus menjaga adik-adik." Yuuko menjelaskan sembari tersenyum lirih. Ia merasa tidak enak hati menolak permintaan Miiko sahabatnya. "Maaf ya, Miiko…"

"Oh, begitu…" Miiko agak kecewa mendengar jawaban Yuuko. Ia takut kalau meminta papa mengajarinya, soalnya nanti mama bisa mendapratnya gara-gara nilainya jelek. Apalagi kalau mama sampai tahu bahwa Mamoru sudah berkali-kali memberitahu dia, bisa makin dimarahi nantinya.

Yoshida yang secara kebetulan mendengar kesulitan Miiko langsung merasa bahwa inilah kesempatannya untuk menunjukkan perasaannya terhadap gadis mungil yang periang itu. Ya, tidak ada yang bisa menghentikannya dari menolong Miiko, cinta sejatinya. Betapa indahnya, setelah belajar bersama mereka bisa membicarakan hal lain. Mungkin saja Miiko akan menyadari bahwa ia selalu memperhatikan gadis kecil itu. Mungkin saja Miiko akan menerima cintanya yang suci dan tulus.

"Bagaimana dong, aku belajar sendiri saja, deh." Miiko berkata dengan lesu.

Yoshida semakin memantapkan hatinya untuk membantu Miiko. Mungkin saja Miiko nanti mau menerima lamarannya, pikir Yoshida kejauhan.

"Ya-yamada, bila kau butuh seseorang untuk mengajarimu, aku mau membantu." Yoshida berjalan mendekat sambil tersenyum manis. Wajahnya yang kalem nan tampan semakin terlihat memikat kalau ia tengah tersenyum begitu. Mari-chan dan Yuuko saling memandang dengan penuh pengertian, sementara Miiko tampak terkejut.

"Kita bisa mulai dari pulang sekolah, sekarang ini. Atau kalau kau mau, aku bisa mampir ke rumahmu dan kita bisa belajar bersama—"

"Bukannya kau sibuk dengan les pelajaran, Yoshida?" mendadak Tappei muncul di belakang Miiko dan Yuuko. Bocah berambut pirang jabrik itu menatap Yoshida dengan pandangan meremehkan khas dia. "Lagipula mana mungkin kau bisa mengajari Yamada, dia 'kan masuk kuping kiri keluar kuping kanan."

"Enak saja!" Miiko protes dituduh seperti itu. Wajahnya langsung memerah. "Aku selalu mendengarkan kata Pak Guru, kok! Walau lebih banyak tidak mengertinya, sih…"

GUBRAKKK

Ini maksudnya mau membela diri atau mendukung omongan Tappei sih? pikir semua anak-anak serempak.

"Aku tidak les setiap hari, tahu! Dan—dan Yamada lebih penting daripada sekedar les!" Yoshida membela diri dengan wajah merona merah. Dia menatap Miiko dengan serius. "Kau jauh lebih penting daripada les, Yamada!"

Serentak Mari-chan, Yuuko, Kenta dan anak-anak lain yang masih berada di kelas langsung terkaget-kaget.

Tappei yang paling merasa tidak nyaman. Mana dia yang membuat Yoshida berkata seperti itu, lagi. Apa Yoshida mau menyatakan perasaannya terhadap Miiko? Kalau benar…

"Waah, kalau Yoshida benar-benar ingin mengajariku, aku senang sekali." Miiko dengan wajah berbinar-binar, menatap Yoshida dengan bahagia. Yoshida serasa terbang ke langit ke tujuh ketika ditatap sedemikan rupa. Jantungnya berdebar-debar dengan kencang seakan mau copot. "Habis Yoshida pintar mengajari seperti ayahku, sih!"

JELEDARRRRRR

Hati Yoshida langsung berubah beku dan tersapu angin dingin. Mirip ayah, katanya…

Sementara yang bersangkutan tidak tahu apa-apa dan mulai membuka buku matematikanya dengan riang, Tappei bernapas dengan lega, bersyukur dengan kepolosan Miiko. Hati kecilnya berharap jika suatu saat ia yang menyatakan cintanya kepada Miiko, jawabannya tidak akan sekacau hari ini. Yah, ia hanya bisa berharap.

.

.

"Yamada, kau yang paling penting bagiku." Tappei setengah berbisik saat mengatakan perasaannya kepada Yamada Miiko, mantan teman sekelas yang paling disukainya sejak SD dulu. Rasanya rona merah telah merambat sampai ke telinga dan rambutnya. Hatinya berdetak tidak karuan, sekalipun kini ia bukanlah anak kecil lagi. Tapi cinta memang tidak pernah memandang umur, bukan?

"Hanya kau satu satunya."

Gadis bertubuh semampai itu tidak dapat mengatakan apa-apa saking terharunya, dan memeluk Tappei dengan erat. Itu pernyataan yang telah ditunggunya selama bertahun-tahun, sekaligus yang paling ia nantikan. Kau pun orang yang paling penting bagiku, Tappei.

Dengan senyum pelan Tappei perlahan-lahan melirik sakunya, berharap Yamada tercintanya mau mengiyakan lamarannya nanti, setelah makan malam mereka berakhir.

.

.

.


Terima kasih sudah membaca, ya. Niatnya sih setelah cerita masa SD, bakalan disisipi kisah saat mereka dewasa sebagai selingan, begitu. Tapi yah, masih rencana, hehehe. Kalau ada waktu silahkan komentar~!