Note: makasih banyak untuk kalian yang menyempatkan diri untuk membaca kisah ini, apalagi sampai meninggalkan komentar segala, pokoknya terharu banget deh, hehe. Kalau bisa mari kita sama-sama penuhin archieve yang kering kerontang ini, okeh! *mendadak merasa garing* Udahlah, selamat menikmati~!

Disclaimer: Eriko Ono


Miiko, Please be Mine Forever~!


.

.

.

Chapter 2 Syal Merah

.

.

Yamada Miiko baru saja pulang dari sekolah saat ia melihat syal merah cantik yang tergeletak di atas tempat tidur Mamoru. Seketika kedua mata Miiko bersinar cerah, mengagumi indahnya syal merah marun rajutan yang dihiasi oleh kilauan warna kuning cerah di kedua tepinya, dan terbesit juga sedikit niat untuk mencoba syal tersebut. Saat sebelah tangannya hendak menggapai syal, mendadak Miiko menggeleng keras. Tidak, ah! Ini 'kan punya Mamoru! Aku 'kan anak baik, tidak mungkin aku mau meminjam tanpa izin!

Entah kenapa, syal merah tersebut terlihat begitu mengagumkan, menarik-narik hati Miiko untuk mencobanya. Miiko sudah mencoba untuk mengendalikan diri dan mengambil komik kesukaannya, namun tetap saja perhatiannya tertumpah kepada syal itu lagi. Miiko berusaha memfokuskan kedua matanya kepada komik lucu tadi, akan tetapi tidak sanggup juga dia. Sudah, deh, coba sebentar apa salahnya? Mamoru 'kan sedang bermain baseball. Toh, syalnya tidak akan rusak!

Dengan penuh senyum, Miiko berkaca sambil mengenakan syal di lehernya. Rasanya sangat hangat dan menyenangkan. Betapa beruntungnya Mamoru, bisa-bisanya dia mendapatkan syal secantik dan seindah itu, pikir Miiko pelan. Gadis kecil itu kembali berputar di depan kaca kamar sekali lagi ketika…

BRETTTTTT

Dagu Miiko langsung copot seketika saat syal merah yang cantik itu tersangkut dan robek parah mulai dari bagian tengah hingga pinggirnya. Tenang, tenang, Miiko… Miiko mencoba meyakinkan dirinya sendiri, padahal sih, hatinya rasanya hilang seketika melihat syal itu robek.

"Iya, katanya kalau syal robek, biar benangnya tidak copot lebih baik dibakar." Miiko berpikir keras. Entah dari mana ia mendapatkan ide seperti itu. "Atau syalnya harus langsung dicuci?"

Wajah Miiko menjadi pucat. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dipegangnya syal merah itu, lalu diamati dengan hati-hati. Mungkin tidak terlalu lebar robekannya, lihat, kalau ditarik ke arah ini…

SREEEEEEEEEEEEEEEETTTTT

"Hah?" Miiko nyaris hilang menjadi debu saat menyadari tarikan barusan malah membuat syalnya semakin rusak, dan robekan di syal itu malah melebar. "Kok bisa begini!"

TING TONG TING TONG TING TONG

Wajah Miiko semakin pucat pasi saat mendengar bel di pintu depan yang kian berbunyi nyaring. Dengan cepat ia memasukkan syal tersebut ke dalam kaus yang sedang dikenakannya, lalu bergegas membuka pintu.

.

.

Wajah Miiko seketika berubah lega ketika melihat Mari-chan yang muncul di hadapannya. Miiko langsung menarik lengan Mari-chan dengan wajah yang masih sedikit menyisakan kepanikan. "Mari-chan, cepat sini tolong aku!"

"Ehhh?" Mari-chan jadi bingung ketika mendadak ditodong begitu. Niat dia datang ke rumah Miiko tentu saja untuk mencari inspirasi untuk pembuatan komiknya di majalah Ocha bulan depan. "Sebenarnya ada apa sih, Miiko?"

"A-aku… Mari-chan, a-aku… aku merusak syal Mamoru, hueeeee~!"

Mari-chan mendesah pelan, melirik ujung syal yang menyembul dari balik kaus yang tengah dikenakan oleh Miiko. "Maksudmu, syal merah itu?" Melihat Miiko mengangguk tanpa banyak berkata dan menangis heboh, Mari-chan melanjutkan. "Baiklah, cepat ambil peralatan jahitmu, kita perbaiki bagian yang robek."

"Hah? Oh, iya, ya, 'kan bisa dijahit!"

DUAAAGGGGHHH

Kepala Mari-chan langsung membentur dinding kamar Miiko dan Mamoru saking kagetnya. Memang sih, orang yang sedang heboh biasanya otaknya agak kurang jalan, tapi ini sih keterlaluan namanya.

"Aku mengambil peralatan menjahit punya mama dulu, ya!"

Kedua sahabat itu pun mulai bekerja, meneliti bagian syal yang mana yang bisa diperbaiki, dan dijahit. Mari-chan agak melongo ketika melihat kerusakan yang telah ditimbulkan oleh Miiko, habis memang kondisi syalnya benar-benar parah.

"Benar-benar deh, kok, syalnya bisa sampai parah begini, sih?" Mari-chan protes, "habis kamu apain sih, Miiko?"

Miiko yang sibuk memasukkan benang ke dalam jarum jahit seketika terkejut, darah menetes dari jemarinya. Ia menjadi heboh kembali. "Wah, aku jadi berdarah!"

Mari-chan kaget melihat Miiko jadi celaka gara-gara pertanyaannya. Wajahnya sangat khawatir. "Kau tidak apa-apa, Miiko?"

"Tidak apa kok…" Miiko meringis, memasukkan jarinya ke dalam mulut. Mungkin luka begini dijilat bisa sembuh. Ia melirik ke arah jarum jam. "Kita tidak punya banyak waktu, nanti Mamoru keburu pulang, Mari-chan."

"Dasar, kau ini memang merepotkan. Ambil sekalian kotak p3k ke sini saja, Miiko." Mari-chan memerintah tanpa basa-basi. Memang sih, selain peralatan menjahit, kotak p3k termasuk barang penting. Apalagi dengan sifat Miiko yang ceroboh. Rasanya suram sekali membayangkan hasil jahitan mereka nanti. Mari-chan dalam hati berharap Mamoru takkan pernah tahu.

.

.

Teriakan Mamoru nyaris membelah seluruh apartemen saat ia pulang dan menyadari bahwa syal merahnya telah berubah wujud. Tentu saja perubahannya tidak menjadi lebih baik, tapi… oh, bahkan Mamoru saja tidak dapat menggambarkan perasaannya yang campur aduk antara gusar, marah, frustasi, dan bahkan depresi.

"#&*$#T#! KAU APAKAN SYALKU?" Mamoru memegangi kepalanya yang rasanya mau pecah sebentar lagi. Kenapa dewa memberikan kakak semacam itu kepadanya? Kenapa sih dia tidak punya kakak perempuan yang normal dan manis? "Itu 'kan akan kuhadiahkan untuk Yuka-chan!"

"Maaf, aku tidak sengaja, Mamoru…" Miiko berkata lamat-lamat, takut membuat Mamoru semakin marah. "Bagaimana kalau kuganti?"

"Kau saja baru saja membobok celenganku!" Mamoru masih ingat betul ketika Miiko membobol celengannya tanpa lapor terlebih dahulu pada Hari Valentine beberapa waktu lalu. Lantas mana mungkin Miiko punya uang, sih?

"Kau ini memang… ughhh!"

"EHHHH? MAMORUU!"

Mamoru langsung berlari ke luar apartemen saking kesalnya. Ia tak tahu harus menuju ke mana, dan apa yang harus ia hadiahkan untuk Yuka-chan nanti. Ia pun sudah tidak memiliki uang sepeser pun, lantas bagaimana?

"Mamoru? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tappei yang tengah memegang banyak bungkusan menghampiri Mamoru. Ia baru saja mengantarkan pesanan dan mengambil beberapa barang untuk toko ibunya, Lazy Moon. Ia heran dengan keberadaan Mamoru di tengah taman sore itu. "Kau ini sama cerobohnya seperti Yamada, ya? Masa di tengah cuaca dingin begini kau keluar hanya dengan kaus tipis dan sandal?"

"Kak Tappei…" Mamoru agak berkaca-kaca juga saat bertemu Tappei, padahal biasanya ia jarang sekali tampil seperti itu. "Kak Tappei—"

.

.

Perlahan Mamoru menjelaskan persoalannya sambil meminum teh hangat di rumah Tappei. Ibu Tappei yang sedari tadi ikut mendengarkan hanya tersenyum pelan. Kasihan juga sih Mamoru, tapi masalahnya memang lucu, pikir Ibu Tappei.

"Begitulah kak," tutup Mamoru dengan sedih, bingung harus berkata apa lagi. Tappei menengok ke arah ibunya, seolah meminta persetujuan. Ibu Tappei yang tahu maksud anaknya pun mengangguk.

"Begini, kalau kau mau, aku dapat memberimu syal merah—mungkin berbeda dengan syal yang kau punya sekarang—tapi tidak bisa gratis. 2-3 hari ini kami sangat sibuk dan butuh bantuan."

Kedua mata Mamoru seketika menyala dengan sangat terang, seperti menemukan jalan keluar dalam kegelapan. Seandainya saja kakaknya bukan Miiko, tapi Tappei. Pasti masalahnya tidak akan sebanyak ini. "Tentu saja aku mau, Kak Tappei! Kapan aku bisa membantu kakak?"

"Tunggu dulu," Ibu Tappei menyela pembicaraan mereka. "Karena yang membuat masalah Miiko-chan, lebih baik kau menjelaskan hal ini kepada Miiko-chan saja, biar Miiko-chan yang memutuskan mau membantu toko kami atau tidak."

"Maksud bibi, bibi mau Miiko yang membantu di toko?" Mamoru terkejut mendengarnya. Kalau Miiko malah membuat kekacauan bagaimana, bisa melayang syal dia nanti!

"Tentu saja harus Miiko-chan. Dengan begini, kau tidak perlu marah-marah lagi kepada Miiko-chan, bukan?"

"Tapi, bi…" Mamoru agak terbata-bata. "Aku…"

"Lebih baik Mamoru cepat pulang, nanti Miiko-chan khawatir loh." Ibu Tappei tersenyum semakin lebar. Wajah Tappei langsung memerah. "Bibi tunggu kabar baiknya, ya."

Setelah Mamoru pulang, Ibu Tappei langsung melonjak dengan senang, "ah, senang sekali nanti Miiko-chan akan datang dan membantu kita di sini~!"

"Apa maksud mama?"

"Ah, kau juga senang 'kan?" Ibu Tappei tersenyum menggoda. "Setidaknya kau akan lebih lama membantu mama di toko kalau ada Miiko-chan."

.

.

Miiko tengah menggendong Momo saat Mamoru pulang ke apartemen mereka. Gadis berambut pendek itu langsung berteriak, "ah! Mamoru sudah pulang, Momo!"

"Ma!" Momo berteriak senang melihat Mamoru. "Ma! Mi!"

"Hn…" Mamoru menghempaskan dirinya ke kursi, lalu menatap Miiko. Sudahlah, apa boleh buat, sepertinya ucapan bibi benar juga. Ia pasti lega kalau membiarkan Miiko yang bertanggung jawab. "Apa kau mau mengganti syalku?"

"Ehh?" Miiko membalas tatapan Mamoru dengan yakin. "Tentu saja! Hmm, tapi aku tidak punya uang sih, mungkin aku akan meminta uang jajanku beberapa minggu di muka jika mama pulang nanti, tapi yah, aku 'kan butuh uang juga untuk membeli peralatan tulis lucu bersama Mari-chan besok…"

Ini Miiko sebenarnya mau mengganti atau tidak sih, Mamoru rasanya malah jadi kesal.

"Tidak deh! Uang jajanku untukmu saja! Itu juga kalau dikasih mama…"

Mamoru kembali menghela napas dalam-dalam. "Tadi aku baru saja bertemu dengan Kak Tappei dan ibunya. Kata bibi kalau kau bekerja di sana, mereka akan memberikan syal baru sebagai balasan—"

"AASYIIIIKKKK!" Miiko berseru, lalu melonjak-lonjak bersama Momo. Untung saja adik kecilnya itu senang dibawa lompat-lompat. Malah sepertinya Momo girang sekali. "TENTU SAJA AKU MAU!"

.

.

Tappei keluar dari mobilnya, lalu berjalan dengan langkah agak ragu ke arah apartemen Miiko. Dua hari lalu Miiko telah menyetujui lamarannya, maka kini ia harus meyakinkan kedua orang tua Miiko, dan juga Mamoru. Ah, iya, ia sempat melupakan Momo. Jam segini mereka pasti tengah berada di rumah, Miiko bilang begitu di telepon.

"Ah, Kak Tappei!" Mamoru yang membuka pintu. Dengan iseng disenggolnya Tappei, lalu berkata, "aku sudah dengar loh, semoga kakak berhasil, ya!"

"Apa maksudmu, sih?" wajah Tappei merona merah dibilang seperti itu. Rasanya berbagai godaan tidak baik untuk jantungnya. "Apa ayah dan ibumu—"

"Mereka memang sudah menunggu Kak Tappei. Kemarin Miiko telah mengatakan semuanya. Aku turut senang, kak! Sudah lama aku ingin Kak Tappei menjadi kakakku." Mamoru menjelaskan sambil mengantar Tappei masuk. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Aku benar-benar sudah lama menunggu, Kak Tappei.

.

.

.


Sekali lagi, terima kasih sudah membaca bagian kedua ini, jangan khawatir, bagian ketiga akan segera menyusul, kok! Bicara soal kisah sisipan, kisah ini akan terus maju sampai Miiko dan Tappei punya anak loh *rencananya sih*

Kalau sempat silahkan tinggalkan komentar, ya~!