Note: maaf banget nih butuh banyak waktu menunggu fic ini kelar, maklum yang nulis sibuk. Untunglah, bulan ini sangat lowong makanya bisa nulis, Okelah, selamat membaca, semoga terhibur~!

Disclaimer: Eriko Ono

Miiko, Please be Mine Forever~!


.

.

.

Chapter 3 Komik Terbaru Mari-chan

.

.

.

Mari-chan melihat sekeliling kamarnya dengan hati yang gundah, lalu mendesah sangat keras, sampai menerbangkan selembar kertas sketsa di hadapannya. Sudah beberapa kali komik karangannya diterbitkan di Ocha Manga School, namun baru sekali yang masuk kelas B, sisanya selalu C dan C, sampai bosan rasanya. Mendadak Mari seperti tersadar saat melihat komentar yang diberikan Ocha. Tidak sampai beberapa lama, kakak dan Ibu Mari kaget saat mendengar bunyi benda tumpul yang terjatuh dengan keras di atas lantai—sepertinya dari kamar Mari-chan.

"Mari-chan, apa kau baik-baik saja?" Ibu Mari bertanya dengan sangat khawatir melihat sang anak yang jatuh dengan posisi yang cukup berbahaya. "Kepalamu tidak—?"

"Aku baik-baik saja, hanya terjatuh sedikit." Mari-chan menjawab sambil mengelus kepalanya yang benjol. "Agak sedikit sakit, Ma, tapi tidak apa." Dalam kepalanya, sebuah ide yang cemerlang muncul dengan sangat mendadak, dan sepertinya itu bisa menaikkan kelasnya di Ocha. Ia membutuhkan bantuan Yoshida—dan Miiko.

.

.


Karakter yang kamu gunakan tidak mirip dengan karakter sepasang kekasih. Carilah pasangan kekasih yang akrab di sekitarmu, maka karakter komikmu akan membaik dan hubungan mereka akan terlihat alami.


.

.

Pagi itu Yamada Miiko sampai di sekolah lebih awal. Kedua tangannya menjadi sangat dingin karena ia tidak ingat di mana ia menaruh sarung tangan kemarin. Mustahil meminjam punya Mamoru, karena Mamoru pasti marah karena sarung tangan yang hendak ia pakai adalah pemberian Yuka-chan. Miiko mengeluh perlahan, cuacanya dingin sekali. Tidak, aku 'kan kuat, kalau segini saja sih…

"Tumben sekali kau datang lebih awal, mau mencari contekan pr matematika, ya?" Tappei muncul dari belakang. Padahal musim dingin, tapi ia tetap rajin latihan baseball dan datang lebih awal seperti Miiko. "Fuh, cuacanya dingin sekali…"

"Iya, coba rasakan ini, tanganku dingin~!"

SETTTTT

Miiko tanpa pikir panjang menempelkan kedua tangannya yang dingin ke pipi Tappei. Kontan saja wajah Tappei merona dengan cepat, lalu dengan panik ia melepaskan genggaman itu.

"A-apa sih!" Tappei gelagapan, lalu melengos salah tingkah. "Ka-kalau tanganmu sedingin itu pakai sesuatu yang hangat, se-seperti sarung tangan!"

"Aku bukannya mau main dingin-dinginan…" Miiko menunduk sedih, lalu menatap Tappei seakan minta dikasihani. "Aku lupa di mana aku taruh sarung tanganku kemarin. Tadinya mau minjam punya Mamoru, tapi nanti dia ngamuk lagi. Aku juga takut hilang sih, tahun kemarin aku menghilangkan sarung tangan Mamoru, soalnya…"

"Jangan seenaknya, dong." Tappei geleng-geleng dengan kesembronoan sekaligus kelucuan Miiko. Memang temannya yang satu ini kadang kelewatan juga. Bocah berambut jigrak itu mengambil sepasang sarung tangan dari sakunya. "Ini dipakai saja kalau mau."

"Ta-tappei…" Miiko merasa Tappei sangat baik dan perhatian sekali. Sarung tangan lucu berwarna oranye yang agak kasar namun hangat, mencerminkan kepribadian Tappei yang memang cuek sekaligus sangat perhatian terhadap Miiko.

"Wuah, pagi-pagi sudah mesra~!" Kenta yang muncul belakangan langsung menggoda Tappei dan Miiko, membuat wajah sahabat baiknya itu langsung merona kembali. "Mesra sekali, nih yee~! Salju saja mencair saking panasnya~!"

"Apaan sih, aku hanya memberikan sarung tangan yang sudah buluk kepada Si Pendek ini, kok!" Tappei menjawab dengan ketus, lantas buru-buru kabur ke kelas lebih dulu. "Kalau kau tidak suka, buang saja!"

Kenta memandang kepergian Tappei itu dengan senyum penuh arti. "Yah, kalau nanti butuh pakai saja, Yamada. Ayo, kita juga masuk kelas saja."

.

.

Kelas 5-3 SD Suginoki mengadakan olahraga sekaligus kerajinan tangan dengan membuat boneka salju tiap regu pada jam terakhir. Pak Guru merasa bahwa kreativitas sekaligus olahraga sangat penting untuk meningkatkan kesehatan murid, apalagi dengan kabar bahwa beberapa kelas 4 dan kelas 3 terpuruk karena demam. Kebetulan sekali, Miiko, Mari-chan, dan Yoshida mendapat grup yang sama. Mari-chan yang kemarin mendapatkan ide untuk membuat komik mengenai Yoshida dan Miiko berencana mendekatkan mereka berdua. Semua atas nama komik, pikir Mari-chan seenaknya.

"Miiko, buat wajah boneka berdua dengan Yoshida, ya. Yoshida, apa aku boleh mengambil gambarmu bersama dengan Miiko?" Mari-chan berusaha bicara semanis mungkin sambil mulai menggambar di atas buku sketsa miliknya. Ah, komik kali pasti bisa memperoleh penghargaan debut atau karya besar!

"Mari-chan, kamu kok begitu sih, ini kan tugas bersama. Menggambar begitu, apa nanti tidak dimarahi oleh Pak Guru?" Miiko sebenarnya tidak begitu khawatir dengan Mari yang ketahuan guru, tapi kalau berdua saja membuat boneka salju bersama Yoshida, perasaannya tidak enak. Habis, Yoshida terlalu perhatian kepadanya sih.

"Yamada, lebih baik gunakan sarung tangan, nanti kedua tanganmu membeku." Yoshida tersenyum, lalu menunduk dan membentuk bulatan salju yang sempurna dengan sekopnya. Ia senang sekali bisa berpasangan dengan Yamada, apalagi Mari-chan seakan memberinya angin agar bisa menikmati saat-saat romantis berdua Miiko. Digambar pula, apa ini berarti ia dan Yamada cocok di atas kertas? Apa ini pertanda ia akan berjodoh dengan Yamada nantinya?

"Aku tidak pernah melihat sarung tanganmu yang itu." Mari-chan mengomentari sarung tangan oranye yang dipakai oleh Miiko. Sepertinya sarung tangan untuk laki-laki, apalagi coraknya yang sangat berani. Biasanya sarung tangan anak perempuan lebih lembut dan feminin.

"Tadi pagi Tappei memberikannya kepadaku, aku lupa sih." Miiko mengangguk-angguk, lalu ia seperti tersadar. "Oh, iya, aku belum mengucapkan terima kasih sama Tappei. TAPPEI, TERIMA KASIH SARUNG TANGANNYA, YA!"

SUIT SUIT SUIT!

"Cie, Tappei~!"

"A-apa sih kalian, memangnya kalian mau melihat patung pendek beku, hah!" Yang bersangkutan langsung menyangkal, merasa sangat malu sampai-sampai telinganya juga berubah warna.

Teman-teman yang lain langsung bersorak-sorai semakin kencang. Sementara Yoshida tidak terima. Memangnya apa yang Tappei bisa tapi dia tidak bisa, lagipula hanya sekedar sarung tangan bukan? "Ya-yamada, kalau mau, kau bisa memakai sarung tanganku, punyaku lebih tebal dan—"

"Aku pakai punya Tappei saja, lagipula nanti tanganmu kedinginan." Miiko menyanggah sambil tersenyum riang. "Ayo kita teruskan~! Mari-chan sini! Jangan menggambar melulu, dong~!"

Yoshida langsung lemas mendengar jawaban Miiko. Di sisi lain, diam-diam Tappei meniup kedua tangannya yang telanjang tanpa sarung tangan. Payah, bukan lelaki namanya yang tidak bisa berkorban demi gadis mungil yang ia sayangi.

Ah, cuaca hari ini memang sangat dingin.

.

.

Mari-chan tersenyum dengan senang saat ia diundang ke pernikahan Miiko dan Tappei. Sahabatnya itu memang memiliki hubungan yang alami, manis, sekaligus saling mengisi sejak SD. Mengapa dulu ia selalu mendukung Yoshida, padahal ia tahu Miiko dan Tappei saling menyukai.

"Miiko, semoga berbahagia dengan Tappei. Awas kalau kau membuat sahabatku menangis!" Mari memperingatkan Tappei, lalu memberikan karyanya sewaktu di SD dulu. Karya roman percintaan antara Miiko, Tappei, dan Yoshida.

"Wah, ini sudah lama sekali!" Miiko terkejut melihat gambar itu, apalagi kisah komik Mari mengisahkan Tappei yang rela memberikan sarung tangannya padahal ia sendiri kedinginan, dan boneka salju buatan Tappei itu mirip dengan Miiko. "Ini 'kan karya pertamamu yang dimuat khusus sekaligus masuk kelas B lagi! Barang berharga seperti ini kau berikan kepadaku?"

"Barang berharga ini cocok dengan hari ini, Miiko, semoga berbahagia, buat banyak anak lucu, tapi jangan ceroboh seperti kamu, ya!"

.

.


Sekali lagi, terima kasih sudah membaca bagian ke tiga ya, jangan kapok mengikuti dan terima kasih atas semua sambutan kalian. Sekali lagi, terima kasih atas dukungannya.

Kalau sempat silahkan tinggalkan komentar, ya~!