Disclaimer: SquareSoft or Square Enix (game ver.) and Shiro Amano (manga ver.)

Author: lucem ferre 123


.:A Little Trip We Called a Journey:.

Chapter 1: Two Small Monsters

(BGM: Legend of Mana - Domina)


Di timur langit Fa'Diel mulai tampak matahari menyebarkan warna oranyenya. Rerimbunan pohon di Jungle tidak dapat membendung lajunya cahaya yang menembus masuk. Namun, seorang gadis ras Jumi tidak terganggu akan hal itu, berbeda dengan pemuda lapis lazuli yang sedang bersandar di sebuah pohon besar.

Sepasang mata beriris biru lautnya mulai terlihat jelas. Pemilik nama Elazul itu mengedarkan pandangannya. Jika saja di dadanya tidak tersemat sebuah core dan tangan kanannya normal—tidak terbalut oleh bebatuan mineral—ia tidak akan berbeda dengan ras manusia.

Ia baru ingat semalam ia bertarung hebat melawan sekumpulan monster di Jungle. Hingga ia tidak kuat melanjutkan perjalanan, mereka bermalam di satu pohon besar yang sekiranya aman.

"Pearl..." panggilnya pada gadis pemilik core seputih mutiara yang tertanam di dadanya.

Tidak jauh darinya, Pearl masih tetap terlelap membelakanginya. Elazul heran kenapa Pearl seperti tidak pernah cukup untuk tidur, padahal ia selalu berlindung di belakang Elazul, tidak dapat melakukan apapun. Elazul menarik napasnya lebih dalam.

"Pearl."

Suara tegasnya cukup untuk membangunkan gadis berpakaian putih dengan hiasan warna merah pada ujung lengan dan dress-nya. Pearl bangkit terduduk sambil mengusap kedua matanya setelah menguap. Mutiara-mutiara kecil tampak mengelilingi bagian atas tubuhnya seakan mutiara-mutiara tersebut adalah pelindungnya selain Elazul.

"Ternyata sudah pagi." Korneanya menangkap sesosok yang ia kenal. "Selamat pagi, Elazul."

Elazul telah bangkit dari duduknya. Ia sedang menepuk-nepuk pakaian, menyingkirkan debu yang menempel dari semalam. Tangannya tidak lupa menyematkan pedang pada sabuknya. Pearl hanya memperhatikan gerak-gerik pemuda Jumi itu.

"Kita berangkat."

Elazul mulai melangkahkan kakinya tanpa mengetahui tanggapan Pearl. Ia memang selalu begitu, contoh seorang pemimpin yang otoriter. Sudah berpuluh-puluh langkah lebih ia berjalan, namun ia menemukan kejanggalan. Tidak ada langkah kaki yang biasa mengikutinya dari belakang. Seketika Elazul membalikkan tubuhnya, matanya yang tajam seolah akan menusuk siapa saja yang memandangnya.

"Pearl!"

Lantas Elazul berlari melintasi jejak yang ia lewati. Pikirannya penuh dengan segala hal negatif. Jangan-jangan Pearl tersesat lagi, dikepung segerombolan monster, atau mungkin diculik Jewel Hunter, Sandra. Ia menepis segala kemungkinan yang sempat terlintas.

Berkat kegesitannya, Elazul telah sampai di pohon besar dalam beberapa detik, namun gadis yang dicarinya telah menghilang. Ia melempar pandangan ke sekeliling sambil memanggil Pearl. Tapi tidak ada respon dari guardian-nya itu.

"Sial! Sudah kubilang jangan pergi tanpaku!"

Ia tidak berhenti menggerutu, seperti yang biasa dilakukannya jika kehilangan Pearl. Dari satu sudut, ia mendengar suara gesekan sesemakan. Dengan refleks, Elazul mengejar asal suara.

Pupil pemilik core lapis lazuli itu membesar. Ternyata benar perkiraannya. Dua monster mulai mendekati Pearl. Elazul lantas mengambil pedang berbentuk sabitnya lalu mengayunkannya ke salah satu monster. Pearl yang baru menyadari kehadiran Elazul itu langsung melindungi monster yang menjadi sasaran knight-nya. Gerakan Pearl yang tanpa diduga itu membuat Elazul mencoba menghentikan refleksnya, namun gagal. Ia hanya dapat mengurangi kekuatan ayunan pedangnya sehingga cairan merah merembes keluar dari bahu belakang Pearl.

"Pearl!" teriaknya atas kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Elazul melempar jauh pedangnya. Ia jatuh terduduk dengan Pearl di pelukannya.

"Jangan dibunuh, Elazul..."

Suara pemalu Pearl berubah menjadi lirih dan lemah. Pemuda lapis lazuli memandang pada dua monster yang berbeda jenis itu, Mushboom dan Shrieknip, yang mulai mendekati mereka.

"Menjauh kalian!" teriak Elazul memperingati. Jika tidak dilarang Pearl, ia pasti telah mencekik mati dua monster kecil itu.

Seakan mengerti atas perintahnya, kedua monster itu lari ke dalam hutan. Elazul memberikan pertolongan pertama yang ia tahu, mengikat bahu Pearl dengan kain yang telah ia robek dari pakaiannya. Pearl meringis pelan. Di saat begini, tentu saja air mata seorang guardian dibutuhkan untuk menyembuhkan luka. Namun Pearl tidak bisa menunaikan tugasnya sebagai guardian, begitu juga guardian lain.

Elazul menggendong Pearl yang lemah dengan hati-hati di punggung. Pearl menyandarkan kepalanya di bahu Elazul. Tidak tahu sudah berapa lama ia tidak melakukan ini. Pemuda lapis lazuli itu memungut pedang yang tadi sempat ia lempar. Walaupun pedang tersebut melukai Pearl, tidak lantas membuat Elazul melupakannya karena berkat pedang itulah mereka masih dapat bertahan sampai sekarang.

"Sudah sering kubilang jangan pergi sendirian. Kau seharusnya tahu itu, Pearl!"

Walaupun guardian-nya terluka, sikap arogan Elazul tidak bisa dihilangkan begitu saja. Alih-alih ingin mengucap maaf, ia malah memberi nasihat.

"Terlalu berbahaya bersama monster, apalagi dua," lanjutnya.

"Ta-tapi monster tadi berbeda. Mereka jinak..."

Suara yang mulai serak milik Pearl membuat Elazul tidak bisa menyelanya. Ia menghela napas panjang.

"Dari mana kau tahu, Pearl?"

"Mereka tidak menyerangku, sih..."

Hanya karena itu tidak membuat Elazul puas. Ada sedikit monster yang awalnya tidak menyerang—atau dalam hal ini waspada—tetapi ketika tahu lawannya lemah, mereka tidak segan-segan untuk menyerang. Barangkali dua monster tadi termasuk dalam hitungan.

Dalam hitungan beberapa menit, mereka telah sampai di pohon besar tempat mereka bermalam. Elazul membaringkan Pearl dalam posisi miring dengan lukanya yang berada di atas. Ia membuka simpul kain yang tadi sempat ia ikatkan pada bahu Pearl. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam walaupun agak memanjang.

"Tahan sakitnya sebentar saja."

Ia mengambil pedang dari sabuknya. Niatnya untuk merobek dress bagian lengan Pearl terhenti. Pearl hanya memiliki satu baju—begitu juga dengannya—dan tidak mungkin ia merobeknya. Pakaian Pearl sudah terlalu minim baginya. Lantas Elazul, dengan hati-hati, melepaskan lengan dress Pearl dari tangannya agar lukanya lebih mudah untuk diobati.

Masalah sebenarnya ada di sini. Persediaan obat-obatan mereka telah habis. Ia juga tidak tahu apapun tentang obat herbal. Untuk hal yang satu ini, Pearl yang ia andalkan karena ia sering mengobati luka Elazul dengan dedaunan. Tidak mungkin ia membawa Pearl ke Domina, memerlukan waktu berhari-hari untuk tiba di sana, begitu juga jika ingin ke kota terdekat.

"Pearl... aku tidak tahu apapun tentang obat. Apa yang harus kulakukan setelah ini?"

Yang ditanya tidak menjawab, ia tertidur dengan wajahnya yang seperti kekurangan darah. Elazul tidak tahu harus bernapas lega atau sebaliknya.

Di saat otaknya bekerja lebih keras demi mengingat bentuk dedaunan yang bisa dijadikan obat, di arah lain terdengar suara sesuatu akan mendekat. Elazul segera mengambil pedangnya, namun tubuhnya tetap tidak beranjak.

"Jangan sekarang...," ujarnya memohon.

Dari arah sesemakan, muncul dua monster; satu berbentuk strawberry merah dan satu lagi berbentuk jamur berwarna ungu, Shrieknip dan Mushboom. Dua monster tersebut membawa dedaunan. Jika saja Elazul tidak mengacungkan pedangnya pada dua monster itu, mereka tidak akan melangkah mendekat dengan hati-hati. Seakan Elazul mengerti tujuan mereka, ia lalu menurunkan pedangnya.

"Mau apa kalian?" tanyanya dingin.

Tentu saja tidak ada jawaban kecuali dedaunan yang telah di depan mata. Kedua monster tersebut mencoba berkomunikasi dengan Elazul, tapi sayangnya ia tidak mengerti bahasa mereka.

Elazul dapat berpikir dan bertindak dengan cepat. Meskipun tidak mengerti bahasa, ia dapat mengerti maksud mereka. Elazul langsung menyambar lalu mengunyah dedaunan di depannya. Setelah sekiranya halus, ia mulai memuntahkan kemudian mengoleskannya pada luka Pearl.

Pearl terbangun dari tidur singkatnya. Di hadapannya, ia menemukan Elazul sedang melakukan sesuatu pada lukanya.

"Perih..."

"Sudah bangun ya."

Elazul yang semula agak kasar mengoleskan bubur dedauan mulai melembutkan gerakannya.

"Tahan sakitnya. Ini juga demi kesembuhanmu."

Pearl mengikuti perintah Elazul. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluh. Obatnya hanya terasa perih di awal, setelahnya sensasi dingin menjalar di sekitar lukanya sehingga tidak terasa sakit lagi. Elazul dengan cekatan mengikat kembali luka Pearl dengan kain.

"Terimakasih, Elazul...," ujarnya sebelum ia kembali melanjutkan mimpi.

Pemuda bermata tajam itu menatap kedua monster dengan pandangan—seperti—tidak bersahabat. "Terimakasih."

Langit Fa'Diel membiru. Matahari bersinar terang. Semilir angin menyamarkan panasnya terik matahari. Walaupun mereka berlindung di bawah pohon rindang, tidak membantu Elazul untuk menghentikan laju keringatnya. Ia haus dan lapar. Sejak semalam belum makan apapun, begitu juga Pearl. Ia memandang Pearl dan kedua monster itu bergantian.

"Aku tidak yakin akan hal ini, tapi apa kalian bisa menjaga Pearl selama aku mencari makanan?" tanyanya yang lebih mirip memerintah sesuatu.

Kedua monster itu saling berpandangan lalu dengan serentak mendekati Pearl.

"Aku anggap itu sebagai persetujuan."

Elazul bangkit dari duduknya. Ia mulai mengumpulkan ranting pohong yang kuat dan agak panjang kemudian menancapkan ranting tersebut menyilang mengelilingi pohon besar.

"Aku yakin kalian tidak akan bisa meloncati ini. Awas saja kalau aku menemukan Pearl terluka lebih dari itu. Kalian berdua akan aku cincang dan dijadikan makan malam kami," ancamnya. Tidak lupa juga ia menodongkan pedangnya ke arah kedua monster itu. "Aku pastikan juga dunia ini bersih dari monster."

Pemuda keturunan ras Jumi itu pun melangkah pergi memasuki hutan lebih dalam. Kedua monster tadi saling memandang, tidak mengerti. Mushboom menyentuhkan tangannya ke arah Pearl, sedangkan Shrieknip menarik lengan dress Pearl dengan gigitannya. Setelah sekian lama berkutat pada hal yang sama tanpa adanya respon, mereka menyerah juga. Kedua monster itu memilih untuk tidur dengan tubuh Pearl sebagai pelindungnya.

Tsuzuku, To be Continued, Bersambung—

A/N: Akhirnya bisa nulis fict di fandom super sepi ini. Cerita diambil sebelum kisah Jumi Arc, sebelum mereka bertemu Toto (hero). Penggambaran Elazul di manga-nya, (menurut saya) dia itu overprotective terhadap Pearl dan Pearl agak pemalu. Semoga saja karakter mereka tidak terlalu OOC di fict ini.