.:A Little Trip We Called a Journey:.

Chapter 2: Six Pieces

(BGM: Legend of Mana - Domina)

Sore mulai menjejak. Udara mulai terasa lebih sejuk. Pearl telah terbangun dari tadi bersama kedua monster itu. Perutnya keroncongan. Matanya tidak henti memandang sekeliling.

"Kalian tahu di mana, Elazul?" tanyanya. Bibir Pearl mulai mengering. "Aku haus..."

Kedua monster itu menjawab dengan bahasa mereka. Pearl menggeleng tidak mengerti. Mushboom mencoba menjelaskan dengan gerakan. Ia bergerak ke arah pagar, ingin memberi tahu bahwa Elazul-nya sedang pergi sebentar.

"Apa Elazul yang membuat itu?" Pertanyaan kali ini lebih ditunjukkan untuk dirinya. "Hm... kau ingin mencarinya ya?" Ia salah mengartikan maksud Mushboom sebenarnya.

Pearl melangkah mendekati pagar kemudian memberi celah agar kedua monster itu bisa melewatinya.

"Terimakasih," ucapnya.

Ia mengelus satu per satu monster itu. Kedua monster itu saling bertatapan heran—seperti sedang berkomunikasi—kemudian melangkah keluar pagar.

"Hati-hati yaaa. Semoga kalian menemukan Elazul," ujarnya sambil melambaikan tangan yang tidak terluka.

Selang beberapa menit, sebuah core memantulkan sinarnya dari kejauhan. Pearl kenal core itu, Elazul. Wajahnya berseri senang mengalahkan kilauan mutiara di dadanya.

Setelah sampai di pohon besar, Elazul memandang sekeliling, heran.

"Apa kau melihat ada dua monster mirip strawberry dan jamur?" tanyanya waspada, matanya masih tetap awas.

"I-iya. Mereka lucu ya."

Jawaban yang diinginkan sekaligus pernyataan yang tidak dikehendaki oleh Elazul. Ia seperti tersambar sesuatu.

"Kau baik-baik saja, 'kan?"

Pearl hanya mengangguk agak ketakuakan atas perubahan pada suara Elazul. Pemilik core berwarna biru laut yang tertanam di dadanya itu menghela napas lega. Ia lalu meletakkan dua daging yang sudah dikuliti di atas daun lebar.

"Ke mana mereka?"

"Mencarimu."

"Mencariku?"

"Iya, mencarimu."

Elazul memutar bola matanya. Sejak kapan Pearl mengerti bahasa monster. Yang terpenting sekarang Pearl selamat dan ia mendapat makanan yang cukup untuk mereka berdua.

"Kau pasti kehausan," gumam Elazul setelah memperhatikan gadis yang sedang duduk di sampingnya.

Pearl mengangguk. Elazul lantas memberikan sebotol minuman ukuran sedang—dan satu-satunya—miliknya yang telah terisi penuh dengan air. Pearl meminumnya hingga tersisa seperempat botol. Sadar akan kesalahannya, Pearl meminta maaf.

"Tidak masalah. Itu untukmu saja. Aku akan memanggang daging."

Pearl tersenyum senang. Perlakuan Elazul kali ini berbeda dari sebelumnya. Pemuda lapis lazuli itu mulai mencabuti ranting yang ia tancapkan kemudian membakarnya dengan dedaunan kering. Ia memanggang dua daging berukuran tidak terlalu besar karena pemburuan kali ini tidak terlalu sukses.

"Apa masih terasa sakit?" tanyanya tanpa memandang ke arah Pearl. Tangannya sedang sibuk membalikkan daging.

Pearl mencoba merasakan sesuatu. "H-hanya sedikit. Besok juga sudah tidak sakit lagi."

"Maafkan aku, Pearl. Aku menyesal menjadi knight yang tidak berguna, bahkan aku telah melukaimu."

Untuk pertama kalinya Pearl mendengar perkataan maaf yang penuh dengan penyesalan dari Elazul. Pearl tersenyum tulus.

"Tidak apa-apa, Elazul. Aku juga guardian yang selalu merepotkanmu, juga tidak bisa menangis untukmu."

Suasana seketika menjadi hening hingga daging panggang berubah warna menjadi kecokelatan.

"Ini."

Elazul memberikan sepotong daging matang yang telah ditusuk dengan ranting. Pearl menerimanya dengan mata berbinar, perutnya sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ia memakan daging tersebut dengan lahap. Elazul menggelengkan kepalanya.

"Ini enak sekali," gumam Pearl.

Mulutnya tidak berhenti mengunyah. Elazul hanya tersenyum simpul. Di saat begini, makanan yang kurang disukaipun akan terasa enak. Sesekali Pearl minum hingga airnya habis.

"Maaf, Elazul. A-aku menghabiskan airnya."

Elazul menggeleng pelan, tidak apa-apa. Ia bisa mengumpulkan air lagi dari embun, meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama. Dari arah depan, terdengar sesuatu yang mulai mendekat. Pupil Elazul membesar demi melihat kegelapan di hadapannya. Tangannya—seperti biasa—telah terpegang kuat sebuah pedang yang melengkung di bagian ujung.

Pearl memeluk tangan kanan Elazul yang tergenggam pedang. Elazul bingung, tatapannya penuh tanya. Pearl menggelengkan kepala tidak menyetujui.

"Ja-jangan. Itu pasti mereka."

Elazul tetap siaga dalam posisi tidak bergerak. Keyakinan Pearl membuahkan hasil. Dua ekor monster jenis Mushboom dan Shrieknip keluar dari sesemakan. Mereka dengan susah payah membawa sekumpulan buah-buahan segar ke arah mereka.

Pearl memandang bebuahan yang diletakkan di depannya. "Apa ini untuk kami?"

Elazul memperhatikan gerak-gerik kedua monster aneh itu. Shrieknip mencoba mengatakan bahwa buah-buahan itu untuk Pearl, namun sepasang makhluk ras Jumi itu tidak mengerti. Alih-alih Mushboom ingin menuntun tangan Pearl ke arah bebuahan, Elazul langsung menarik kaki Mushboom lalu mengangkatnya sehingga kepala monster itu mengarah ke bawah.

"Apa yang akan kaulakukan, Jamur Busuk?" tanyanya dingin. "Berani kau menyentuh Pearl, aku tebas tanganmu."

Temannya, Shrieknip, melompat-lompat khawatir sambil menggumamkan sesuatu.

"Diam! Atau kau juga mau dibelah dua?" ketus Elazul pada strawberry merah jadi-jadian itu.

"Jangan, Elazul! Kau keterlaluan!"

Pearl mengambil alih kedua monster itu. Mereka berlindung di belakang tubuh Pearl. Seolah tersadar ia baru saja membentak Elazul, Pearl meminta maaf.

"Mereka tidak sejahat monster kebanyakan. Aku yakin pasti mereka pernah dipelihara oleh seseorang," lanjut Pearl.

Elazul mendengus kesal. Sifat kerasnya telah melumer seperti es dipanaskan. Pearl mengambil buah sejenis aprikot yang menyerupai bentuk kepala kucing, apricat.

"Apa aku boleh memakannya?" tanya Pearl pada Mushboom dan Shrieknip yang tengah duduk di pangkuannya.

Mereka berdua mengangguk seolah-olah mengerti bahasanya. Pearl tersenyum senang. Ia mencicipi buah apricat yang terasa manis di lidah itu.

"Kau tidak ingin mencicipinya, Elazul?" tanyanya seraya mengunyah. "Manis, loh."

Elazul tidak menanggapi. Ia melanjutkan memakan dagingnya yang baru dimakan dalam beberapa gigitan. Melihat Elazul yang sedang memakan dagingnya, Shrieknip turun dari pangkuan Pearl lalu melompat mendekati Elazul.

"Nya nyaaa," gumam Shrieknip yang dibalas dengan tatapan mematikan Elazul.

"Sepertinya dia ingin makan daging."

"Tidak ada daging untuknya," jawab Elazul seakan mengerti maksud perkataan Pearl.

Elazul, dengan tidak mempedulikan monster strawberry itu, melanjutkan mengunyah makanannya yang sempat tertunda. Shrieknip melompat lunglai mendekati Pearl. Seolah Pearl teringat akan dagingnya, ia memberi sisanya kepada Shrieknip.

"Anggap saja kita barter-an, oke?"

Pearl mulai menyuapi Shrieknip yang tidak memiliki kaki dan tangan seperti temannya. Daging yang hanya segenggam bayi itu habis hanya dengan sekali telan. Shrieknip kembali bergumam bahwa dagingnya kurang. Elazul yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, berhenti melanjutkan makannya.

Ia menjulurkan tangannya, "Kau membuatku tidak berselera makan ini," setelahnya meletakkan daging itu di atas dedaunan kering.

Shrieknip mengerti maksud Elazul. Ia kemudian memakan daging itu hingga tersisa rantingnya saja, sedangkan temannya memakan buah yang mirip pisang, springanana.

Setelah merasa kenyang, kedua monster itu mulai terlelap di dekat api unggun. Pearl memperhatikan Elazul yang sedang bersandar di tubuh pohon. Pandangannya yang kosong mengarah ke langit gelap. Pikirannya penuh akan sesuatu.

Dulu, ia merasa lelah akan pencarian sia-sianya untuk mencari ras Jumi yang tersisa. Selama bertahun-tahun, berpindah-pindah, tersesat, terluka, dan sendirian. Hingga suatu hari di Duma Desert, ia menemukan ras Jumi lain, seorang guardian pemilik core pearl, yang pingsan dan setelah tersadar ia tidak dapat mengingat apapun. Dari situlah Elazul memberi nama yang mirip dengan core si gadis, Pearl.

Bertahun-tahun kemudian, tidak ada yang berbeda dari sebelumnya, hanya saja ia kini melanjutkan perjalanan berdua. Elazul sebagai knight yang selalu melindungi Pearl dan Pearl sebagai guardian yang tidak dapat menangis untuk menyembuhkan luka Elazul. Kenyataan yang ironis.

"...zul."

"E-la-zul."

Yang dipanggil tersadar dari lamunan. Kedua matanya menangkap sosok Pearl yang telah berpindah ke hadapannya. Kedua tangan Pearl memeluk buah semangka besar yang menyerupai babi hutan, boarmelon.

"Kau belum minum, 'kan? Kita makan buah ini saja ya, sebagai ganti minum."

Pearl meletakkan boarmelon dengan hati-hati. Ia meringis pelan atas lukanya yang mulai terasa sakit. Elazul menyadari itu.

"Kau tidak apa-apa, Pearl?" tanyanya khawatir.

Beban berat membuat lukanya kembali terbuka. Elazul membuka simpul kain dengan perlahan. Darah segar meresapi kain. Ia melihat sekitar. Malam begini terlalu berbahaya mengajak Pearl mencari obat herbal. Matanya terhenti pada kulit springanana. Ia mengambil kulit tersebut kemudian membalutkan pada luka Pearl.

"Ini untuk sementara saja."

Elazul mengikat kembali luka Pearl dengan kain. Kulit springanana dapat mengeringkan luka meskipun membutuhkan waktu berjam-jam. Setidaknya bisa bertahan sampai besok pagi.

"Sekarang sudah tidak apa-apa lagi."

Pearl hanya mengangguk, tidak lupa ia mengucapkan terimakasih. Elazul mengikuti arah pandang Pearl.

"Kau mau buah itu?"

"Iya..."

Sebenarnya Pearl sudah kenyang, ia mencemaskan Elazul yang belum minum apapun sejak ia kembali. Di antara semua buah yang ada, hanya boarmelon yang mengandung banyak air. Elazul mengambil pedang sabitnya. Tangan batunya mulai mengayun ke arah boarmelon, mengirisnya dalam tujuh potongan. Pearl mengambil satu potong lalu memakannya. Mulutnya memang menelan lumatan buah manis itu, namun kedua matanya tidak henti mencuri pandang ke wajah knight-nya. Ia bersemu merah, semerah daging boarmelon.

"K-kau tidak mau mencobanya, Elazul?" tanya Pearl gugup. "A-aku tidak mungkin menghabiskan semuanya."

Tanpa disangka, mereka bertemu pandang. Keduanya menjadi salah tingkah, terutama pemuda yang tidak bisa menahan amarahnya itu.

"Sudah larut. Kau harusnya sudah tidur dari tadi, Pearl." Elazul mencoba bersikap seperti biasa, meskipun jantungnya memompa darah dengan lebih cepat. "Aku akan memakannya jika kau sudah tidur."

"I-iya, aku akan tidur sekarang." Pearl mengalihkan pandangan, mencari tempat yang bagus untuk terlelap.

Ia memilih tidur di samping Mushboom, membelakangi Elazul yang berjarak dua meter darinya. Kali ini Pearl tidak dapat memejamkan matanya. Jantungnya dari tadi berdetak kencang diikuti dengan lukanya yang berdenyut nyeri. Walaupun sudah kenal bertahun-tahun, mereka masih tetap menyembunyikan perasaan masing-masing. Ia berharap Elazul tidak dapat mendengar detak jantungnya. Alih-alih Pearl mencoba memejamkan matanya lagi, Elazul memanggil namanya. Pearl pura-pura tidur.

"Aku tahu kau belum tidur, Pearl."

Pearl membuka kembali kelopak matanya. Bangun kemudian duduk. "Maaf, Elazul."

"Tidak ada yang salah." Elazul mendekati Pearl lalu memeluk hangat dirinya. "Pasti masih terasa sakit."

Wajah Pearl—yang dibenamkan ke dada Elazul—kembali bersemu. Ia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Di lain pihak, wajah Elazul juga bersemu merah mengetahui apa yang ia lakukan. Ini bukan dirinya, namun ia tidak dapat mengubur rasa sentimentilnya. Elazul mulai mengelus rambut panjang kecokelatan itu. Pearl menutup matanya kembali, mencoba menghilangkan pedih yang terasa dengan mendengarkan detak jantung Elazul yang tidak beraturan.

Beberapa menit dalam kegemingan. Napas halus teratur Pearl meyakinkannya bahwa ia sudah memasuki dunia mimpi. Elazul melepaskan kain yang biasa digunakan untuk menutup kepalanya. Ia menyelimuti gadis di depannya dengan itu.

Aroma boarmelon menguar terbawa angin malam. Rasa haus Elazul tergantikan oleh dingin malam menusuk tulang. Kedua tangan kokohnya memeluk erat, menjadi perisai hawa dingin bagi Pearl. Ia tidak hentinya memandangi wajah gadis yang sedang bersandar di dadanya. Begitu rapuh sehingga ia bertekat untuk selalu melindunginya, meskipun ia tidak mendapatkan apapun. Untuk terakhir kalinya, ia mengecup kening 'mutiara' miliknya.

Enam potong boarmelon tidak terjamah. Enam helai daun melambai jatuh. Enam ekor kunang-kunang keluar dari persembunyiannya. Enam jam sebelum matahari menjalarkan sinar. Enam menit yang dibutuhkan untuk tertidur menjemput mimpi. Enam detik kemudian, api unggun menuntaskan tugasnya.

Tsuzuku, To be Continued, Bersambung—