Maid-sama Meet Skip Beat!

Disclaimer: Maid-sama dan Skip Beat! bukanlah punya sama melainkan punya Hiro Fujiwara dan Yoshiki Nakamura sensei.


Chapter 1: First Meeting

"Beritahu aku sekali lagi kenapa kita ada di sini sekarang?"

Kanae Kotonami bertanya dengan urat nadi berdenyut di dahinya sementara Kyoko Mogami, sahabatnya, menatapnya dengan ekspresi bersalah bercampur antusias. "Karena, Moko-san, Maria-chan memberitahuku bahwa ada kafe yang maniiiis sekali di dekat sini!" seru Kyoko. Matanya berbinar-binar gembira namun ekspresi tidak senang Kanae tak berubah.

"Biar kutebak, kafe itu jenis yang memiliki aura moe dan menghidangkan bermacam jenis makanan manis. Benar begitu?"

"Benar!"

"Dengan suasana feminin yang disukai pria maupun wanita?"

"Iya!"

"Dan dilayani oleh para pelayan wanita yang memakai pakaian berenda dan semacamnya?"

"Benar sekali, Moko-san! Kenapa kau bisa tahu?"

Kanae menatap Kyoko dengan aura gelap menguar dari seluruh tubuhnya sebelum berbalik memunggungi gadis itu. "Aku pulang," ujarnya dengan nada datar. Kyoko tersentak dan buru-buru menarik ujung blus birunya.

"Eh? Kenapaaa?" ratapnya sambil berurai air mata. Si gadis berambut hitam panjang berbalik dan mengebor mata keemasan sahabatnya yang sedang menangis itu dengan sorot yang nyaris bisa membunuh.

"Kenapa, kau tanya padaku? Karena aku tidak suka makanan manis! Karena aku tidak suka suasana yang manis! Dan karena aku tidak suka pakaian berenda yang manis!" teriaknya dalam satu helaan napas, membuat Kyoko berkerut ketakutan.

"Ta, tapi waktu itu kita pernah makan es krim bersama kan? Dan waktu di pesta Maria-chan, kau juga makan banyak kue..."

"Karena itu aku tidak suka!" Kanae bertambah marah mengingat dosa-dosanya saat itu. "Kau tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membakar lemak-lemak karena es krim dan kue-kue itu? Aku bahkan tidak berani menelan apapun selain air putih selama berhari-hari!" kenangnya sambil bergidik ngeri. Kyoko membayangkan penderitaan Kanae saat itu dan meringis dalam hati. Ah, benar-benar sesuai dengan sifat perfeksionis Moko-san, batinnya.

Tapi bukan Kyoko Mogami namanya kalau menyerah begitu saja. "Tapi Moko-san, hari ini kan kita akan merayakan hari ulang tahunku. Kau sudah bilang akan mengabulkan apapun sebagai ganti hadiah ulang tahun."

Kanae terdiam mendengar hal itu. Dia ingat sudah berjanji – karena ratapan tanpa henti Kyoko selama berminggu-minggu – bahwa dia akan mengabulkan apapun yang Kyoko minta sebagai ganti tidak bisa datang di pesta ulang tahun sederhana di Darumaya tanggal 25 Desember karena pekerjaan. Kebetulan belum lama ini Maria memberitahu Kyoko bahwa ada kafe manis di kota sebelah dan Kyoko meminta Kanae untuk ikut ke sana bersamanya.

Akhirnya Kanae menghela napas panjang, menyerah. "Baiklah. Lalu di mana kafe sialan itu?" Jelas walau pasrah, dia tetap tidak menyukai ide pergi ke tempat manapun yang punya embel-embel 'manis.' Kyoko yang sudah biasa dengan mood buruk sahabatnya tidak menanggapi komentar pedas barusan dan sibuk mengamati peta yang diberikan Maria padanya.

"Eh, dari stasiun ini kira-kira..."

.

.

.

"Selamat datang, tuan!"

Hari ini Maid Latte lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena hari ini adalah malam tahun baru? Semua pelayan kafe datang hari ini, tidak terkecuali Ayuzawa Misaki.

"Maaf Misa-chan, padahal hari ini malam tahun baru," gumam Satsuki saat Misaki pergi ke dapur untuk mengambil pesanan. Misaki tersenyum sambil mengibaskan tangannya.

"Tidak apa-apa, manajer," jawabnya tapi ekspresi bersalah Satsuki tetap sama seperti sebelumnya.

"Tapi kau dan Usui-kun pasti sudah punya rencana kencan, kan?"

Misaki tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. "Eh, itu... sebenarnya tidak ada," jawabnya sambil menggaruk belakang kepalanya untuk menyembunyikan rasa tidak enaknya. Satsuki menutup mulutnya mendengar jawaban tak terduga itu.

"Ah, maafkan aku, Misa-chan."

"Tidak apa-apa,manajer. Lagipula aku mengerti kok kalau belakangan ini dia sangat sibuk," karena masalah keluarganya dan lain-lain, tambah Misaki dalam hati. Tiba-tiba saja ekspresi Satsuki berubah menjadi kesal.

"Usui-kun bodoh! Masa' dia meninggalkan pacarnya yang manis ini di malam tahun baru!"

Wajah Misaki memerah karena malu. "Ma, manis? Aku sama sekali tidak..."

Satsuki memekik girang melihat wajah malu-malu Misaki. "Kau memang manis sekali, Misa-chan! Tak heran Usui-kun begitu menyukaimu!"

"Aku tidak..."

Tapi sang manajer kafe sudah keburu melayang pergi dengan bunga-bunga moe bermekaran di sekitarnya.

"... tidak manis," lanjut Misaki tidak pada siapa-siapa.

Misaki menghela napas panjang dan mengambil pesanan yang ditunggunya sambil melamun. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia kecewa sekali saat Usui bilang bahwa mereka tidak bisa merayakan tahun baru karena ada acara keluarga. Diam-diam Misaki sudah menyiapkan rencana kencan malam tahun baru mereka. Sederhana saja sih, hanya makan kue (hasil latihannya selama berminggu-minggu) di apartemen Usui. Tapi intinya adalah, yang penting mereka berdua bersama-sama.

Tapi itu saja sepertinya tidak bisa.

Misaki memikirkan kue sponge yang saat ini ada di tasnya. Walau tahu sudah tidak ada gunanya tapi dia tidak bisa tidak membawa kue itu. Mungkin dia mengharap ada keajaiban yang membawa pemuda berambut madu itu datang ke mari malam ini, atau menjemputnya saat pulang nanti. Yah, kalau dia tidak datang juga, aku akan mampir ke apartemennya saat pulang nanti dan meninggalkan kotak kue itu di depan pintu, batinnya. Bagaimanapun juga dia ingin Usui memakan kue pertama yang dia buat seumur hidupnya.

Saat sedang berpikir begitu, pintu depan kafe terbuka. "Selamat datang tu... eh, nona-nona!" sambutnya saat melihat bahwa yang datang adalah dua orang gadis. Dilihat dari penampilan mereka sepertinya kedua orang itu usianya tidak jauh beda dengannya. Yang satu berambut pirang kecoklatan pendek dengan bola mata keemasan (sama sepertiku, Misaki menyadari, agak terkejut mendapati ada orang lain memiliki warna mata aneh yang sama dengannya) dan yang satu berambut hitam panjang berbola mata hitam dengan tubuh tinggi bagaikan model. Entah kenapa dua orang ini terlihat familier...

Si gadis berambut pendek menatap sekeliling kafe dengan mata berbinar-binar sementara temannya memasang ekspresi kesal. Seperti dipaksa, Misaki berspekulasi dalam hati. Dengan segera dia tersenyum dan membungkukkan badan. "Selamat datang di Maid Latte! Mari saya antar ke meja anda!" sapanya. Gadis yang sedang menatap sekeliling tersentak kaget dan balas membungkuk sopan kepadanya.

"Ah, mohon bantuannya," ujarnya. Temannya yang berambut hitam menyikut pinggangnya.

"Ngapain kau ikut-ikutan membungkuk juga, bodoh!"

"Ah, iya juga ya! Maaf, sudah kebiasaan!"

"Mou! Biar begitu juga kau harus lihat situasi dan kondisi juga, Kyoko Mogami!" omel si rambut hitam. Kyoko Mogami? Misaki mengerutkan dahi mendengar nama yang sepertinya pernah dia dengar itu.

"Maaf, Moko-san!" ratap Kyoko sambil menundukkan kepala berkali-kali kepada gadis itu, yang saat ini wajahnya merah padam karena malu.

"Sudah kubilang hentikan!"

"Anu..."

Misaki buka suara dan membuat dua gadis di hadapannya kembali menatapnya. "Bagaimana kalau saya mengantar anda berdua ke meja dahulu?" tanyanya sambil tersenyum kaku. Kyoko dan Kanae baru sadar kalau mereka sedang membuat keributan dan, sambil menundukkan kepala, mengikuti Misaki menuju salah satu meja kafe yang kosong.

.

.

.

"Ren, bukannya itu Kyoko-chan?"

Saat ini Ren Tsuruga baru saja pulang dari acara talk show malam tahun baru bersama – seperti biasa – manajernya Yashiro. Mereka berkendara melewati jalan yang biasanya tidak mereka lewati untuk menghindari seorang paparazi yang nekat ingin mendapatkan berita tentang Ren Tsuruga di malam tahun baru dan tanpa sengaja melewati kafe tempat Kyoko dan Kanae sekarang berada.

Sang aktor ternama menoleh ke arah yang ditunjuk Yashiro dan terkejut melihat gadis yang sejak beberapa lama ini mengisi hatinya berada dalam sebuah kafe bersama sahabatnya, Kanae Kotonami. Mereka berdua terlihat sedang mengobrol dengan asyik. Yah, setidaknya Kyoko sedang mengobrol dengan asyik sementara Kotonami-san terus memasang ekspresi yang jelas menunjukkan bahwa dia ingin secepatnya keluar dari tempat mereka berada sekarang, batin Ren sambil tersenyum kecil.

Dia menghentikan mobil dan menatap Kyoko dengan tatapan rindu. Sudah beberapa minggu mereka berdua tidak bertemu, kira-kira sejak peran Heel bersaudara berakhir. Dia bahkan tidak bisa datang ke pesta ulang tahun kecil yang diadakan gadis itu di Darumaya karena pekerjaan.

Ren sangat, sangat merindukan gadis itu sekarang.

Dia menoleh ke arah manajernya dan berkata dengan serius. "Yashiro-san, boleh aku minta bantuanmu?"

Yashiro tersenyum penuh arti seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan artis asuhannya padanya. "Tentu saja, Ren."


A/N: Halo! minamishiho desu!

Ini crossover kedua gue dan entah kenapa Maid-sama lagi.

Mind to RnR?