Author : At last Chapie 9 is up! Maapkan author yang memang sedang malas-malasnya ini mengupdet dalam tenggang waktu cukup lama. Selain karena kekuarangan ide chapter ini sudah hasil rewrite sebanyak 2x. Diharapkan readers-sama tidak kecewa.. *bow* (_ _)

All chaser : *sunyi senyap*

Author : Koq jadi sunyi kayak kuburan gini sih?

Neva : *bisik di telinga Author*

Author : Oooh.. Jadi begitu rupanya..

Neva : *angguk*

.

Author : re:review untuk chapter 8:

to : Chalice07
Lass : *deathglare Chalice*
Kebetulan waktu mau tulis nih pas adanya event Nightmare Circus 2 jadi Author bisa memperhatikan setiap detail serangan NC member sekaligus menghafal ceritanya juga.

to : wannabedemongirl
Apaan tuh cliffhanger? Panjat tebing ya? #geplaked
Terus, clutz itu apa juga?
Beneran Author gak tahu, apalagi udah keliling kamus Inggris-Indonesia 7 kali sama sekali gak ketemu translasinya.. _

to : DarkMelt
Arigatou~ :)

to : awainotsubasa
Oh.. Ori story..
Ah, penulis bahasa Inggris.. :Da
Haha.. ya.. anda satu-satunya reviewer yang berhasil menebak soal nomor 3. /Haha/

to : Chloe Cyasesa
Ampun kak Rufus! *kibar bendera putih*
Neva memang punya kemampuan spesial, tapi bukan berarti dia hebat. Buktinya kemarin ngelawan Jack sendirian saja kalah.. /Lol/
Neva masih muncul meski sedikit..

to : ivory rasyida
Ohoho.. With pleasure~
So.. who'll be the first victim here?
All Chaser : *sembunyi*

to : FTP-IS-MY-NAME
Oh, ada triknya sih bagaimana agar tidak terdorong tangan aneh itu.. (kebetulan Author pakai Lire)
Hontou ni arigatou gozaimasu sudah mengikuti cerita yang makin lama makin gak jelas maksud dan tujuannya ini.
HD itu belum masuk GCID.

.
Author : Lalu, karena hasil polling 3 – 0 untuk yang "setuju" maka dari itu.. Selamat menikmati hidangan pembuka di chapie ini.. *smirk*

All Chaser : *Merinding*

Neva : Selamat membaca~

.

-:-:-:-THE MIGHTY MAGICIAN AND THE THIEF-:-:-:-

chapter 9 : Parallel Heart

.

Disclaimer

Grand Chase (game) isn't mine but trademark of KOG
Grand Chase (manhwa) trademark of Eun-Jeong Kim (story) dan Soo-Young Jeong (artwork).
Special Thanks to Megaxus Indonesia

.

Content Alert

Typo, OOC-ness, GaJe-ness, dan hal-hal menge-ness-kan mungkin tersebar di suatu tempat. Berhati-hatilah. Additional Genre : Dark

.

Ia membuka matanya perlahan lalu menguceknya beberapa kali. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tenda sirkus terbakar dan satu monster lagi muncul dengan kobaran api biru. Entah karena wangsit darimana ia langsung tahu bahwa monster api biru yang kedua tersebut adalah partnernya. Kekuatan api biru begitu kuat hingga dapat menghancurkan gelang pelacak di kakinya. Ia sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia bertekad mengalahkan lawan apapun yang terjadi, tak mempedulikan raga ribuan pengunjung yang tergeletak tak berdaya di area penonton.

Mereka, sang ringmaster dan Lass yang mengamuk tengah bertarung dengan sengit. Arme hanya menonton dari kejauhan karena tak adanya staff yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri.

"Lass.. tidak.. kau bukan dia." Gumamnya saat melihat pertarungan antar monster yang brutal.

.

"RONAN!" Teriak salah seorang yang tiba-tiba mendobrak pintu kantornya dengan kasar sehingga sang inspektur tersedak kopi yang sedang diminumnya.

"Uhuk.. Elesis.. Tidak bisakah kau pelan sedikit dan jangan panggil aku seperti itu di kantor." Protesnya sambil mengelap kopi yang tercecer dengan tisu.

"Sudahlah.. yang penting sekarang aku mau memberitahumu kalau kita kehilangan sinyal GPS dari bocah itu." Sang inspektur mengerutkan kening. Dikatubkannya kedua tangannya dengan siku tertopang di meja.

"Dimana keberadaannya sesaat sebelum kita kehilangan sinyal?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat serius.

"Arah Timur Laut, sekitar 1 kilometer di luar perbatasan kota." Sang inspektur segera membuka salah satu aplikasi komputernya dan melokasikan target dengan bantuan peta satelit. Elesis ikut melihat dari balik pundak sang inspektur.

"Aneh." Klaimnya saat melihat bentuk-bentuk permainan taman ria yang dilihat dari langit.

"Aku tak ingat di daerah sana ada semacam taman bermain." Sambung Elesis.

Kali ini pintu naas tadi kembali didobrak oleh komandan berambut raven yang terengah-engah. Belum sempat keduanya bertanya apa yang telah dilakuan sang komandan pemalas ia sudah mendahului bicara.

"Aku merasakan sesuatu yang abnormal terjadi di luar Serdin. Aku akan membawa tim Onyx untuk menginvestigasi." Kemudian ia langsung pergi lagi tanpa menunggu izin dari sang inspektur. Sang inspektur menangkap objek besar yang tersemat di punggung sang komandan. Sesuatu berwarna hitam dengan garis biru.

"Elesis.. bukankah itu.."

"Soluna. Kakek tua itu meminta izin pengunaan pedang karena dia sangat payah dalam urusan menembak. Dan beruntungnya, sersan menyetujui." Jelasnya.

.

Sementara itu sang manager tengah menggeledah ruang pribadi Arme di Lounge. Ia tengah panik mencari sesuatu di tumpukan kardus dan kostum ketika seseorang masuk dan mengetok pintu yang memang menganga sejak tadi.

"Manager?" Suara lelaki itu membuatnya tersentak kaget lalu berbaliklah ia kepada seorang yang dikenalnya.

"Maaf, apa aku mengejutkanmu?" Ia sebenarnya hanya ingin mengambil barangnya yang tertinggal tapi tak disangka ia akan bertemu dengan manager Arme.

"Aku sedang mencari pot, bisa kau bantu aku? Ini darurat." Pintanya tanpa basa basi, dijawab dengan anggukan ringan dari lelaki itu.

"Apanya yang darurat manager?" Tanya lelaki itu sembari membuka kardus satu per satu. Sang manager menceritakan semua yang telah diceritakan oleh Rin dari telepon yang membuat lelaki itu menjatuhkan kardus yang dipegangnya, sebuah pot ajaib yang telah dicari-cari keluar dari dalam kardus yang terbuka tersebut. Sang manager memungut pot berat tersebut dari lantai , berpamitan pada lelaki yang masih terpaku di tempat dengan tangan mengepal.

"Bawa aku turut serta!" Mintanya dengan sorotan mata tajam yang menyiratkan hasrat untuk membunuh. Ia kesal dan marah pada dirinya sendiri. Seandainya hari itu ia menerima tawaran gadis elf itu pasti tak akan begini jadinya.

"Baiklah, kita harus cepat." Mereka meninggalkan gedung, memacu mobil dengan kecepatan penuh.

.

Arme berlari ke tepi arena, melompat turun dan membaca mantra. Ia membuat bola-bola api yang dilemparnya untuk menghalau konsentrasi sang ringmaster, namun perkiraan timingnya meleset. Beberapa dari fireboltnya itu justru mengenai Lass. Meskipun sama sekali tak melukainya, ia tetap menganggapnya sebagai tantangan. Ia berpaling dari sang ringmaster dan langsung meyerangnya dengan cakar dan api birunya. Arme kewalahan menghindar, pasalnya perbedaan kecepatan di antara mereka terlampau besar. Setelah beberapa kali teleport salah satu serangan mengenai dan membuatnya terlempar di dinding seberang. Sang ringmaster tertawa puas melihatnya.

"Pertunjukan yang menarik sekali." Ia bertepuk tangan.

Arme terpojok dengan Lass yang berlari cepat ke arahnya dan cakar yang siap mencabiknya. Ia bisa saja menggunakan lightning bolt atau ice trap untuk melawan, tapi ia tak mau menyakiti sahabatnya itu. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak tahu, Ia hanya bisa memfokuskan pandangannya pada pergerakan lelaki itu. Jarak terus terpotong setiap mili-detiknya. Ketika itulah seseorang melompat turun dari atas dinding pembatas dibelakangnya dengan sebuah belati merah yang dihujamkan ke tanah tepat diantara ia dan Lass.

"SOUL SHACKLES!" Sebuah lingkaran hitam yang mirip seperti magic circle muncul dibawahnya lalu menyebabkan ledakan energi hitam yang memukul mundur Lass hinggga ke ujung lain arena.

"Hohoho.. Coba lihat siapa yang datang. Seorang bounty hunter tak ingin ketinggalan pertunjukanku." Ujar sang ringmaster pada seorang yang baru saja datang.

"Aku tak punya waktu untuk menonton pertunjukan kembang api murahanmu." Jawab sang bounty hunter dengan sinis. Ia menoleh pada gadis di belakangnya.

"Tampaknya kau mengalami masalah yang cukup rumit, eh?" Tanyanya retoris dengan wajah stoic.

"Sesuatu yang aneh terjadi, kami melawan ringmaster, aku pingsan dan.. aku tidak tahu apa yang terjadi.. Ketika aku sadar Lass sudah.." Ceritanya terbata-bata.

"Mengaktifkan Blue Flame yang tak terkontrol. Kalau tak segera dinon-aktifkan.. Tch." Ia mengerat gigi lalu menyiapkan dual handgunnya.

"Apa yang akan terjadi?" Tanyanya ketika melihat sang bounty hunter tengah bersiap di battle stancenya.

"Aku akan menghentikannya." Jawabnya dengan jawaban yang tidak sesuai.

Dalam sekejap mata ia sudah melesat jauh, begitu juga dengan Lass. Mereka mendekat, semakin mendekat, dan baku hantam pun terjadi.

Lass menyerang dengan cakarnya, Rufus secepat kilat mengganti pistol di tangan kirinya dengan sebuah belati merah untuk menepis kuku-kuku tajam tersebut, ditambah dengan spin motion kemudian ia menembak denga pistol di tangan kanannya. Ia tak terluka sama sekali karena api biru yag menyelubungi tubuhnya bertindak sebagai perisai. Arme hendak membantu tapi ringmaster menghalanginya.

"Tak akan kubiarkan kau menginterupsi pertunjukan seru ini."

Ia melemparkan bom. Arme teleport menghindar sambil menggambar bintang di udara yang meyala kehijauan. Lingkaran muncul sebagai bingkai kemudian lambang-lambang sihir mulai muncul di sisi kosong. Magic circle itu didorongnya dan mulai menggelinding di udara ke arah lawan. Sang ringmaster melopat tinggi dengan balonnya sehingga magic circle tidak mengenai sasaran.

Sesampainya di tanah ia menyulut roket yang meluncur dengan suara keras. Arme mengatupkan tangan lalu menghantam tanah dengan telapak tangannya.

"Fire Storm!" 3 buah pilar api memblokir jalur serang roket. Roket-roket tersebut pun meledak menjadi serpihan kertas warna warni ketika bersentuhan dengan dinding api.

"Kau semakin lihai gadis cilik." Puji sang ringmaster.

"Sepertinya bocah itu menularkan kecerdikannya padamu heh?" Ia tertawa, menghiraukan lawan dihadapannya yang menggembungkan pipinya dengan kesal. Tanpa peringatan ia teleport dan memasang perangkap.

"Ice Trap!" Lingkaran sihir berwarna biru bersinar muncul di bawah mereka, membekukan sang ringmaster. Perangkap itu tak akan bertahan lama tapi paling tidak ia dapat menggunakan jeda waktu itu untuk mengumpulkan mana.

.

Sementara itu sang bounty hunter menghilang untuk menghindari serangan lalu muncul kembali di udara di belakang lawan disertai lontaran peluru dari eyetoothnya. Dalam sekejap lawan bershadow dash sehingga seluruh peluru tidak ada yang mengenainya. Oleh karena efek hentakan ketika menembak ia terdorong hingga menggapai di atas dinding pembatas antara kursi penonton yang lebih tinggi daripada arena sirkus. Tak mau kalah, monster itu melompat dan mendarat keras diatas dinding hingga mengakibatkan kawah dan retak terbentuk di dinding yang tebalnya tak lebih dari 20 cm tersebut.

Lass mengayunkan cakarnya ke bawah. Rufus melompat mundur untuk mengambil jarak sekaligus menukar eyetooth di tangan kirinya dengan nether blade kemudian melesat maju kembali dan menancapkan pisaunya di dinding yang dipijak tepat dihadapan lawan.

"SOUL SHACKLES!"

Ledakan aura hitam membuat Lass terlontar mundur, namun dengan mudah merecover dengan backflip ketika masih di udara lalu mengerem dengan menancapkan kukunya yang tajam ke dinding dibawahnya. Mengakibatkan dinding tersebut bagai digali oleh truk penggali.

Ia berlari meniti di atas dinding yang mulai rapuh dengan tangan kiri diposisikan di samping kanan pinggangnya. Sang bounty hunter turut memacu kakinya, kali ini dengan nether blade yang masih di tangan kiri dan rupture di tangan kanan. Ia bersiap meluncurkan salah satu teknik andalannya sebelum ia sadar battle stance sang lawan tidak lagi lari ringan dan fleksibel tapi dash yang bertumpu pada kokohnya kuda-kuda, battle stance untuk striker. Lass menarik tangan kirinya seperti saat menggunakan nodachi, tangannya diselubungi oleh api biru berbentuk pedang. Segera Rufus melompat harimau dari area serang ke dalam arena sirkus. Lass pun melompat setelahnya dan siap menghujamkan pedang api pada lawan. Rufus kembali menggunakan eyetoothnya, sekali rolling ia menembak ke arah Lass yang belum mendarat di tanah kemudian dilanjutkan dengan memutar tubuh seperti seorang breakdancer, menggumpulkan keseimbangan dan menjejakkan kakinya ke atas tepat mengenai perut lawan dan mengirimnya terlempar beberapa meter.

Belum selesai sampai di situ, Lass dapat merecover counter attack dengan cepat. Pertarungan terus berlangsung sengit dalam jarak dekat hingga Lass dengan deranged blade spirit dan bloody gust oleh Rufus bertabrakan, menghasilkan ledakan hebat yang membuat masing-masing pengguna skill terlempar ke arah yang berlawanan. Lass menghantam tembok hingga hancur, sedangkan Rufus menghantam tiang hingga bengkok, sepercik darah keluar dari mulutnya akibat benturan yang amat keras.

Lass masih dapat berdiri tanpa luka yang berarti. Rufus bangkit kembali sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Kemungkinan telah mengalami patah tulang rusuk jika dilihat dimana ia meletakkan tangannya untuk menahan rasa sakit tersebut. Monster api biru itu lebih kuat dari dugaannya. Dilihatya Lass sudah kembali dalam pertarungan, memperpendek jarak diantara mereka dengan berlari. Arme yang melihat hal ini menghentikan aksi mengumpulkan mananya dan menyerang dengan seluruh mana yang ia miliki sekarang.

"LIGHTNING BOLT!" Ia memanggil petir.

"JANGAN!" Teriak Rufus mencegah.

Lass dapat menghindar, ia tidak lagi memburu Rufus. Armelah targetnya sekarang. Di arah lain sang ringmaster telah bebeas dari perangkap es, ia melompat mendekat dengan balon besarnya.

"Rufus?!" Arme terkisap ketika menyadari sang bounty hunter sudah berada di depannya, melindunginya dengan membidikkan kedua eyetooth ke masing-masing dari mereka.

"Lari!" Perintahnya dengan tegas.

'Tidak!" Tolaknya juga tak kalah tegas.

"Kali ini kuhabisi kalian!" Ujar sang ringmaster yang siap menyulut roketnya lagi.

"Bodoh! Kau ingin mati ya?" Bentaknya pada gadis dibalik punggungnya.

"RAAWRRR!" Auman Lass disertai api biru yang dipusatkan pada tangannya hingga berbentuk pedang.

"Aku harus menyadarkannya. HARUS!" Tegasnya lagi.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah tombak raksasa yang muncul entah darimana menghujam tanah beserta sang ringmaster diatasnya. Bersamaan dengan itu pula lingkaran penuh pedang menyerang Lass dari segala arah, disusul dengan tusukan vertikal yang kuat dan aura keunguan yang menyeruak seperti ledakan bom.

"Apa yang kalian tunggu? Evakuasi semua orang sekarang!" Perintah lelaki berambut raven itu kepada seluruh anggota timnya yang diam karena terpukau melihat aksi menegangkan secara langsung. Tim Onyx segera menyadarkan diri dari lamunan dan melaksanakan tugas yang seharusnya.

"Tampaknya kau baru saja menandatangani garansi kematianmu bocah. Tapi tenang saja, aku tak akan membunuhmu." Ujarnya lalu bertarung dengan monster api biru itu.

Sang ringmaster memfokuskan pandangannya yang kabur untuk bertatap mata dengan sepasang mata ungu wine yang menatapnya penuh dengki.

"Kau akan membayar atas perbuatanmu pada mereka semua badut jelek." Klaimnya geram.

"Menarik sekali." Jawabnya

"Arme!" Kali ini sang manager berlari ke arahnya sambil membawa pot ajaib yang baru.

"Manager? Bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang. Aku bawakan potmu, aku yakin kau butuh sekarang." Ujarnya lalu menyerahkan pot ungu yang dibawanya.

"Aku memang memerlukannya, terima kasih manager. Sebaiknya sekarang kau menjauh dari arena." Sang manager mengangguk lalu pergi membantu para polisi mengevakuasi orang-orang.

Ia mengaduk-aduk isi pot untuk mengambil short staffnya. Ia menyuruh Rufus berbaring agar mantra penyembuhnya bekerja dengan lebih efisien. Perlahan-lahan rasa sakit yang dideritanya memudar. Ia dapat merasakan kekuatannya kembali, tapi yang membebani pikirannya sekarang adalah keadaan Lass yang tak menunjukkan tanda-tanda kalau kesadarannya mulai kembali tapi justru semakin memburuk. Ia tak punya pilihan lain selain melakukan itu.

"Arme.. Aku butuh bantuanmu." Ucapnya pada sang pesulap yang tengah sibuk mengobatinya dengan mantra boost heal. Gadis itu memperhatikannya dengan seksama selagi tangan dan wandnya bekerja.

"Kau harus tarik kesadarannya secara paksa. Kalau terus begini rohnya akan diserap habis oleh api terkutuk itu." Jelasnya singkat. Arme terkisap mendengarnya. Ia sebagai seorang mage tahu kalau roh seseorang diambil dari tubuhnya, maka orang tersebut akan kehilangan dirinya. Seperti sebuah boneka, kosong tak bermakna.

"Bagaimana caranya?" Tanyanya dengan serius. Tidak seperti seorang Arme yang kekanak-kanakan dan ceroboh.

"Aku akan mengirimmu ke dalam dirinya. Cari dan bangkitkan jiwanya yang tertidur dalam api biru itu." Ia melepaskan sarung tangan kirinya. Ornamen tato yang menghiasi lengan kirinya menyala biru disusul dengan munculnya api biru kecil di ujung jari telunjuknya. Ia menggumamkan sesuatu dalam bahasa asing lalu menempelkan api di ujung jarinya ke dahi sang pesulap. Sekejap kemudian gadis itu pingsan. Ia menagkapnya lalu menitipkannya kepada sang manager dan para polisi.

'Kau satu-satunya harapan. Jangan sampai kau mati di sana, Arme.' Katanya dalam hati kemudian segera bergabung untuk membantu kedua petarung yang lain.

.

Arme mendapatkan kembali kesadarannya. Ia memandang langit merah darah dengan sedikit awan putih yang mengitari bulan sabit berwarna hitam di atas sana. Ia bangkit dan duduk. Memandang sekitarnya yang hanya ada dinding hitam di sisi kiri dan kanannya yang sedikit retak dan tersulut api biru di beberapa bagian. Ia pun berdiri, mengambil staffnya dan menyusuri lorong tersebut. Entah kenapa ia merasa staffnya menjadi lebih besar dan berat. Ia membuat cermin es dan setelah beberapa saat bercemin ia baru menyadari kalau dirinya kembali bertubuh anak berusia 6 tahun. Pasti karena efek skill apapun itu yang diberikan padanya. Ia terus berjalan hingga ia menemukan pertigaan. Ia berbelok ke kiri kemudian menemukan perempatan. Ia kembali memilih ke arah kanan. Jalan buntu? Ia berbalik arah, terus berjalan sampai ia kembali menemukan tikungan. Ia terus mengikuti. Melihat setiap celah yang ada di dinding di sekitarnya. Lagi-lagi ia terhenti di jalan buntu. Jalan yang berliku-liku dan tidak jelas ujungnya, itu berarti hanya ada satu kesimpulan. Ia berada di sebuah labirin. Labirin yang sangat luas dan menyesatkan.

Samar-samar ia dapat mendengar suara rantai bergemerincing dan lengking tawa yang aneh dari balik dinding di sebelah kirinya. Tanpa berpikir panjang ia berbalik arah dan berbelok pada celah di dinding pertama yang ia temukan, menuju ke arah suara asing itu. Ia masih dapat mendengarnya. Dentingan rantai, dan kali ini diikuti oleh desiran pasir yang terus menerus dengan frekuensi yang cukup sering. Dari arah kanan.

Ia kembali berlari mengikuti suara itu. Berbelok pada tikungan ke arah kiri. Kali ini ia menemukan perempatan dengan jejak memanjang yang melintang dari kiri ke kanan. Diperhatikannya alur tanah yang mungkin sebelumnya ada sebuah benda berat yang diseret melaluinya ke arah kiri. Ia pun mengikuti arah siapapun yang menyeret benda berat itu. Terus diikutinya, ke kanan, ke kiri, lurus, bahkan tikungan 180 derajat. Hingga akhirnya saat ia berbelok ia melihatnya. Seorang anak lelaki yang sepertinya berusia sekitar 7-8 tahun, berambut silver yang kotor, memakai pakaian yang kebesaran dengan warna merah hitam dimotif seperti harimau loreng. Lengan bajunya yang menutupi hingga seluruh jarinya, lubang baju untuk kepalanya yang besar hingga menampakkan sebagian pundaknya, celana panjangnya yang menyentuh lantai, tidak mengenakan alas kaki, dan sebuah bola besi yang biasa digunakan untuk merantai narapidana terikat ke lehernya. Ia berjalan perlahan sembari menyeret bola beban yang berat itu.

Arme menghampirinya, menepuk pundak anak itu dan memutarnya agar dapat berhadapan dengannya. Namun tak seperti yang ia harapkan. Wajah anak itu terlihat sangat lusuh dan menyeramkan. Ada sisik di sekitar rahang bawanya, kotor oleh hitamnya debu dan noda darah dibawah matanya seperti sisa air mata. Air mata darah. Iris mata azure milikya menatap tajam dan dingin pada orang yang menyentuhnya tadi.

"Apa maumu?" Tanya anak itu dengan nada dingin, tubuhnya terus gemetar meskipun ia menggunakan nada yang begitu menusuk.

"Kau.. Lass?" Tanya Arme dengan gugup.

"Bagaimana kau tahu namaku?" Tiba-tiba anak itu mengambil pisau kecil dari balik jubahnya, dengan panik ia menodongkan pisau itu ke arah Arme.

"Pasti Zidler menyuruhmu untuk menangkapku. Aku tidak akan tinggal diam!"

Ia berusaha menyerang Arme. Arme melompat mundur untuk menghindari serangannya. Anak itu kembali maju menyerang namun ia hanya dapat bergerak sejauh setengah meter karena terbebani oleh bola besi yang terantai melingkari lehernya. Arme memperhatikan wajah anak yang mengakui dirinya sebagai Lass itu nampaknya tengah panik dan ketakutan akan sesuatu. Mungkin yang berhubungan dengan siapapun yang ia sebutkan tadi. Anak itu terus mengayunkan pisaunya dengan liar meskipun tak dapat mengenai sang pesulap seujung rambut pun. Dengan hati-hati ia menangkap tangan yang terus mengayunkan pisau dihadapannya, melepaskan pisau itu dari tangannya dan membuangnya cukup jauh. Anak itu terbelalak dan terus bergerak mundur menjauhi sang pesulap. Rupanya pisau tadi merupakan satu-satunya senjata yang ia miliki. Arme mendekatinya dan ia terus menjauhinya hingga akhirnya punggungnya bersentuhan dengan dinding labirin. Ia tak bisa lari lagi, apalagi dengan beban seberat itu. Ia hanya bisa menutup mata dengan pasrah menunggu apapun yang akan terjadi padanya selanjutnya.

Ia hanya merasakan genggaman erat di kedua tangannya.

"Kau tak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu atau memberikanmu pada siapapun." Ia tersenyum lembut. Anak itu hanya diam. Setelah anak itu tenang ia melepaskan genggamannya.

"Biar kulepaskan rantai ini darimu." Ia mengucapkan mantra beku untuk membekukan sedikit rantai yang berjarak sekitar 15 sentimeter dari lehernya, ditempelkannya rantai itu ke dinding dan dihantamnya dengan staffnya hingga terputus.

"Siapa.. namamu?" Tanya anak itu dengan sedikit ragu.

"Namaku Arme." Jawab sang pesulap dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

"Bagaimana.. kau.. tahu namaku?" Tanyanya lagi.

"Hmm.. itu karena kau orang yang pernah kukenal." Jawabnya masih dengan senyum.

"Bagaimana.. kau.. bisa mengenalku? Kita.. tak pernah bertemu sebelumnya kan?" Tanyanya sekali lagi. Arme terdiam sesaat.

"Itu.. Aku sempat melihatmu sebelumnya saat sedang bersama teman-temanmu." Jawabnya berbohong. Anak itu hanya mengedipkan matanya sekali. Sepertinya tengah mencari kembali memori yang dimaksud oleh sang pesulap.

"Kemarilah, ayo kita cari jalan keluar bersama." Arme mengulurkan tangannya. Lass memandangnya sejenak kemudian meraih tangan mungil gadis itu.

Mereka berjalan menyusuri labirin yang tak tentu arah dan tujuannya. Mereka hanya terus berjalan hingga sesuatu mengenai kepala Arme dengan cukup keras.

"Ouch!"

Ia mengusap belakang kepalanya yang terkena lemparan bola tadi. Lass menemukan sebuah bola juggling yang berwarna merah dan putih berseling membujur. Ia kemudian membuang bola itu dan menarik Arme menjauh dari tempat itu. Kecepatannya meningkat drastis ketika beban di tubuhnya telah lenyap. Arme pun sedikit kewalahan untuk menyamakan langkah dengan Lass yang terus menggandengnya berlari melalui liku-liku labirin.

"Ano.. Lass.. jangan cepat-cepat!" Ucapnya sambil terengah-engah.

"Kalau kita tak segera menjauh.." Suara benda besar dan berat yang jatuh terdengar dari belakang mereka.

"Akhirnya aku menemukanmu." Suara berat orang itu diikuti dengan ayunan palu besar.

Mereka terkejut dan terkena serangan itu hingga terpental beberapa meter.

"Apa yang sedang kau lakukan dengan orang asing ini? Tidakkah kau tahu bahwa penonton sudah menunggumu dengan tidak sabar?" Ujar mahluk kekar raksasa berkostum badut berambut biru dimodel tanduk dengan palu besar di tangan kanannya. Makeupya menampakkan wajah badut yang menyeramkan. Mengingatkan Arme akan tingkah aneh Lass yang tiba-tiba menghajar badut tak bersalah. Ia mengerti sekarang, seandainya badut yang selama ini dia tahu seperti itu pastinya ia akan melakukan hal yang sama.

"TIDAK! AKU TIDAK AKAN KEMBALI DAN MENUNJUKKAN APAPUN!" Balas Lass pada badut zombie itu.

"Begitukah? Kalau begitu aku akan menyeretmu ke arena."

Tiba-tiba mereka dihujani oleh bola yang sama seperti sebelumnya oleh badut-badut juggler kecil yang entah sejak kapan berdiri di atas dinding labirin.

"Saver!" Ribuan bola juggling itu ditepis oleh Arme dengan bantuan barrier sihir.

Berikutnya bola-bola lain dilemparkan, namun kali ini bola itu berwarna hitam dengan kilasan percik api. Lass sadar bahwa bola yang mereka lempar kali ini bukanlah bola juggling, melainkan sebuah bola bom. Ia menarik Arme mundur tepat ketika ia hendak sekali lagi menggunakan saver sebagai pelindung. Benar saja, bola-bola itu langsung meledak ketika menyentuh tanah.

Lass menarik tangan Arme menyusuri labirin dengan badut raksasa besar yang mengayunkan palunya dan menghancurkan dinding labirin. Badut itu hanya berjalan, namun karena ukurannya ia dapat mngejar kedua anak kecil dengan mudah.

"Kemarilah kalian tikus-tikus kecil!" Celanya sambil terus mengejar dengan suara berdebam keras dan gempa kecil setiap kali melangkahkan kaki.

Lass ingin melemparnya dengan pisau padahal ia sama sekali tak memegang senjata, kemudian sebuah cahaya berkumpul di depan wajahnya, secara ajaib satu set kunai muncul dihadapannya. Tak pikir panjang lagi ia mengambil dan melemparnya beruntun. Saat sang badut lengah Arme memanfaatkannya untuk melucuti senjata besarnya.

"Lighting Bolt!"

Sengatan listrik tersebut mengenai tangan si badut. Palu besar yang dipegangnya terlempar jauh ke belakang. Lass berlari ke arahnya secepat yang ia bisa. Badut itu mengepalkan tangannya untuk memukul, tapi ia hanya berhasil memukul bayangan. Evasion, Lass muncul dibelakangnya, mundur selangkah lalu dengan cara yang sama ia memunculkan shuriken besar, mengambil dan kemudian melemparnya mengenai sang badut hingga roboh.

"Ayo pergi sebelum dia bangkit lagi." Ujarnya yang segera kembali berlari sambil menggandeng tangan Arme. Arme mengikuti tak jauh dibelakang. Sambil terus berlari ia menengok ke arah sang badut yang tergeletak tak bergerak mulai hilang menjadi partikel kaca pelangi lalu lenyap tak bersisa.

Tak berapa lama masalah kembali menghadang. Kali ini seekor singa betina yang berukuran sedikit lebih besar dari mereka menggeram, mengejar dan mengayunkan cakarnya. Mereka berusaha menghindarinya. Kuku-kuku tajam hewan tersebut berhasil menorehkan bekas di dinding dan lantai, juga merobekkan pakaian mereka. Si singa mengaum dan melompat untuk menerkam mereka tapi Arme sudah lebih dulu mengambil tindakan.

"EARTH WAVE!"

Bongkahan batu panjang keluar dari dalam tanah dan mendorong singa itu bergantian dengan batu lain yang terus muncul seperti barisan hingga jauh. Titik hitam yang semakin membesar terlihat di tanah disusul dengan turunnya seekor singa jantan yang ukurannya tiga kali lebih besar dari betina tadi.

"Lass.. Disini kau rupanya." Ujar sebuah suara dari arah sang singa jantan. Anehnya suara yang terdengar bukan suara laki-laki tapi perempuan.

"Ortina.. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Mengantarmu pulang. Penonton sudah menuggumu dengan tidak sabar." Suruh sang singa jantan.

"Aku sudah muak berada di tempat mengerikan itu. Jangan halangi aku! Meskipun kau teman baikku, aku tidak segan melawan." Geramnya kepada singa.. bukan.. seorang wanita yang menunggangi singa tersebut.

"Kalau begitu aku pun tak akan sungkan." Ia menyabetkan cambuknya ke lantai diikuti oleh auman sang singa.

Kali ini Lass memikirkan sepasang belati, muncullah belati yang diharapkannya di depan mata. Ia langsung mengenggamnya dengan kedua tangan. Arme takjub akan apa yang barusan dilihatnya. Lass bisa sihir?

"Lass, bagaimana kau bisa memunculkan senjata seperti itu?" Tanya Arme penasaran.

"Aku hanya membayangkannya kemudian benda ini muncul begitu saja." Jelasnya singkat.

"Lioness!" Ia menunjuk ke depan kemudian beberapa ekor singa betina bermunculan dari belakangnya dan mulai menyerang kedua anak kecil bagaikan mangsa untuk santapan makan malamnya.

Lass menyerang satu per satu singa-singa itu secara bergantian sambil menghindari serangan dari singa lain. Gerakannya memang cepat namun gaya bertarungnya masih sangat kaku, seperti belum terbiasa. Setiap ia menyerang salah satu yang lain datang membantu. Arme menghalaunya dengan firebolt, menyingkirkan singa-singa yang berdatangan. Lass mundur digantikan Arme yang menghentakkan staffnya ke bawah, memanggil bola meteor. Meski terkena serangan mereka masih dapat berdiri. Sang beast tamer dan singa yang dinaikinya berlari menubruk mereka hingga terpental menghancurkan salah satu sisi dinding labirin. Seandainya ia membawa war staff ia dapat membuat serangan yang lebih dahsyat tapi.. ingat.. ia ingat bagamana Lass menciptakan senjatanya hanya dengan membayangkan. Ia menutup mata untuk membayangkan sebuah war staff, namun ketika ia membuka mata ia tak dapat menemukan apa yang ia pikirkan. Tak ada yang terjadi. Ia mulai memikirkan sesuatu di benaknya, membuat sebuah teori yang harus ia buktikan saat itu juga.

"Lass, buatkan aku tongkat seperti ini tapi berukuran lebih panjang." Mintanya. Lass mengangguk menatap staff di tangan gadis itu sejenak lalu partikel cahaya berkumpul tepat di samping staff tersebut. Muncullah tongkat bermodel sama namun lebih panjang beberapa puluh sentimeter, war staff. Ia tersenyum puas karena teorinya telah terbukti benar. Ia mengambilnya, mengadahkannya ke langit lalu menghentakkannya ke bawah.

"DEEP IMPACT!"

Hujan meteor dengan versi yang lebih besar mengenai segalanya. Dinding roboh dan tanah berkawah, milyaran serpihan kecilnya beterbangan membentuk asap tebal yang membatasi pandangan mereka. Beberapa singa betina samar-samar terlihat roboh tak bergerak. Mereka menghela nafas lega.. untuk sekarang. Sebuah tali tiba-tiba menjerat pergelangan kaki Arme, ia ditarik dan dilemparkan ke langit. Saat itulah waktu seolah berjalan lebih lambat, ia melihat kobaran api biru yang besar tak jauh dari tempatnya berada sekarang.

'Mungkinkah itu..' Pikirannya tak berlanjut karena kakinya kembali ditarik ke bawah menghempaskannya ke bumi. Lass memposisikan diri untuk menangkapnya tapi Ortina lebih dahulu memainkan cambuknya hingga mengenai mereka.

.

"Uhuk.." Tiba-tiba Arme batuk darah dalam keadaan masih tak sadar. Sang manager panik, memanggil sang bounty hunter yang masih bertarung.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?" Geramnya dengan sebelah tangan menarik kerah baju lelaki itu.

"Parallel Mind. Hati dan pikirannya sekarang terhubung dengan Lass melalui api biruku. Selama kita tak membunuh raga Lass atau memorinya tak membunuh jiwa Arme dalam pikirannya lebih dahulu maka ia akan baik-baik saja." Jelasnya dengan wajah stoic dan nada datar.

"Bocah, kami butuh bantuan di sini!" Panggil komandan Sieghart yang sedang menahan serangan ganas dari monster api biru.

Sang manager yang juga mendengarnya segera melepaskan genggamannya lalu Rufus kembali pada tugasnya, memback up serangan kedua petarung tipe jarak dekat di arena duel. Sesekali ia meringis karena rasa sakit di tangan kirinya mulai kembali.

'Cih.. Efek obat itu mulai hilang.' Decihnya dalam hati.

.

Perih sekali. Ia menahannya untuk mengerem diri dan menangkap sang gadis.

"Kalian tangguh juga. LEON!" Sang beast tamer memberi peritah kepada singa jantan yang dikendarainya untuk melompat dan menghentak tanah dengan kuat, menciptakan gempa yang cukup hebat. Mau tak mau mereka mempertahankan keseimbangan dengan berpegangan pada dinding.

"Kita lihat sampai seberapa lama kalian dapat bertahan seperti itu." Tawanya sambil terus membuat gempa.

Ketika ia dan singanya melompat untuk ke sekian kalinya, Arme langsung menyiapkan war staffnya dan counter attack.

"FREEZING SPEAR!"

Tombak-tombak es bermunculan dari dalam tanah tepat dimana si singa akan mendarat. Mereka pun jatuh diatasnya, tertusuk dari bagian bawah hingga tembus di bagian atas oleh puluhan tombak es yang tajam. Sang beast tamer sudah tak bergerak. Si singa masih sempat meronta namun kemudian mereka hancur menjadi serpihan kaca pelangi.

"Maaf Ortina." Gumam anak lelaki itu sambil berlutut dihadapan tombak es yang mulai mencair.

Suara gemuruh terdengar dari atas. Mereka memandang langit yang mulai menurunkan titik-titik airnya ke bumi. Beberpa tetes mendarat di rambut dan pipi Lass. Arme mengadahkan tangannya untuk merasakan air hujan yang tak biasa kental. Ketika Lass menyeka air itu dari wajahnya ia melihat warna merah gelap, darah.. hujan darah.

"Apa kau masih sanggup melanjutkan?" Tanya sang gadis pada anak lelaki yang menggigil karena ngeri dengan cuaca yang tak lazim. Ia memantapkan diri untuk berdiri dan kembali berjalan.

Semakin jauh mereka berjalan, dinding api biru semakin jelas terlihat dengan sedikit kehijauan di puncaknya karena membakar tetesan darah dari langit. Suara tawa sarkastik menggema di dunia entah berantah itu diikuti dengan munculnya badut aneh lain dengan balon kuda berwarna orange di depan dinding api tersebut.

"Akhirnya kau pulang juga. Cepatlah, para peonton sudah tidak sabar menunggumu." Ia melompat-lompat dengan girang.

"Aku tidak akan kembali." Ia bersiap dengan pisau di tangan.

"Benarkah?" Tiba-tiba sang ringmaster melompat ke hadapan mereka. Dengan tangan besarnya ia menggenggam tubuh kecil Lass layaknya segulung koran pagi hari. Arme berusaha membantunya melepaskan diri dengan sambaran shockwave force dari war staffnya. Serangan itu tak lebih dari sekedar gigitan semut baginya.

"Kau milikku." Klaimnya pada Lass.

"Dan kau, ENYAHLAH!" Ia menggunakan tangannya yang satu lagi untuk memukul Arme dengan tongkatnya.

Merasa kesal kawan barunya diperlakukan kasar, ia menggigit tangan besar sang ringmaster hingga menjerit kesakitan. Alhasil, sang ringmaster yang murka melemparnya ke dalam api biru yang menjilat-jilat bagai tungku perapian.

"Jangan khawatir.. Kau akan segera menyusulnya mage kecil." Arme bersiaga menggunakan staffnya dengan berlinang air mata. Bukan karena ia takut mati, tapi karena fakta bahwa ia tak bisa melakukan upaya apapun untuk menolong Lass saat itu.

.

Lass membuka matanya di atas tanah yang dikelilingi oleh api biru membara. Ia mendapati seseorang yang duduk dengan tangan terantai di atas singasana dari batuan hitam berhiaskan lidah-lidah api berwarna biru. Yang ia herankan, orang itu seperti dikenalnya. Ia mendekat lalu menyentuh tangannya. Spontan aliran memori membanjiri pikirannya.

Mulai dari ketika ia bertemu seorang anak lain berambut cokelat, bermata scarlet yang sangat mirip dengannya. Bagaimana ia belajar menggunakan belati dan pistol milik anak itu. Bagaimana ia, anak itu dan beberapa anak jalanan lain mendirikan pondok kecil sendiri. Ketika anak itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ketika ia bertemu gadis berambut violet yang mirip dengan anak perempuan yang bersamanya sekarang, dan berbagai kejadian yang terjadi selanjutnya seperti sebuah rekaman yang diputar ulang dengan cepat di dalam pikirannya.

Seselesainya ia mendapat pengelihatan tersebut ia mengerti siapa dirinya, siapa orang dihadapinya dan apa yang harus dilakukannya. Sebuah pedang dan rantai muncul dihadapannya. Tak ragu ia mengambil pedang di tangan kanannya dan rantai di tangan kirinya kemudian ia pun berlari ke arah dinding api dimana ia dapat melihat bayangan bergumul. Menggambarkan dua orang yang sedang bertarung.

.

"Ahahaha.." Tawanya sambil mengayunkan tongkatnya yang kemudian diblok dengan war staff oleh sang mage cilik. Ia terus memukul bertubi-tubi sedangkan Arme terus pada posisi bertahan, menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya. Saat itulah sebuah rantai melesat keluar dari dalam bara api ke arah dimana sang ringmaster berada. Sang ringmaster sudah lebih dahulu menghindar sehingga rantai berujung tajam tersebut menancap kuat di tanah. Kemudian anak lelaki berambut silver melompat keluar dari dalam api dengan scimitar di tangan. Ia mendekati Arme dan menyuruhnya masuk ke dalam ruangan tadi.

"Gunakan wall of ice untuk membuat portal masuk. Aku akan tetap di sini untuk mencegahnya mengikutimu." Suruhnya tak seperti Lass kecil yang ia temui sebelumnya. Ia jauh lebih berani dan tegas.

Arme mengangguk, menyiapkan staff dan mana lalu menghentakkan tangannya ke atas di hadapan dinding api yang menjulang tinggi itu. Menciptakan dua pilar es yang berfungsi menghadang kobaran api dan membuat jalan aman baginya untuk lewat. Ia hendak melangkah masuk ketika suara sentakan membuat otaknya memaksa tubuhnya untuk berbalik. Tangannya bergetar hebat hingga staff di tangan kanannya terjatuh. Ia menggunakan tangannya itu untuk menutup mulutnya yang menganga, tak kuasa melihat apa yang ia lihat sekarang tapi tubuhnya seperti dilumpuhkan. Ia tak dapat menggerakkan dirinya sedikitpun.

Tongkat sang ringmaster menusuk anak itu tepat di dadanya, scimitar tergeletak tak bertuan, nafas tak teratur, darah dimuntahkan dari mulutnya. Bahkan dalam keadaan seperti itu pun ia masih sempat-sempatnya menahan sang ringmaster dengan belitan rantainya dan membisikkan agar Arme segera masuk. Beberapa detik setelahnya ia hancur menjadi serpihan kaca pelangi, sama halnya dengan Hammerman dan Ortina.

Ia kagum namun juga sedih. Selama ini tidak hanya Lass yang ia kenal namun juga Lass masa lalu dalam ingatan paralel ini selalu siap sedia melindunginya meskipun itu berarti mengorbankan nyawanya. Bahkan setelah kepergiannya pun rantai miliknya masih tetap ada untuk melindunginya.

Arme segera berlari melewati dinding api sesaat sebelum seluruh sihir esnya mencair. Ketika ia melewati portal es tubuhnya kembali menjadi postur tubuhnya di usia 15 tahun, tapi ia tak mempedulikan hal itu. Sekarang ia berada di dalam tanpa adanya hujan darah yang turun. Ia mengedarkan matanya. Ia menemukannya. Lass yang ia kenal sebagai partnernya duduk dengan tangan terantai di sebuah kursi singasana dari bebatuan hitam berhiaskan lidah-lidah api biru di beberapa bagian.

"Lass!" Panggilnya sambil mengguncangkan pundaknya. Tidak ada reaksi. Pandangannya kosong. Tangannya dingin. Sudah sejauh manakah api terkutuk ini memakannya? Masih mungkinkah ia menyelamatkannya? Ia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan segala pikiran negatif.

"Hei Lass!" Panggilnya lagi.

"Ayo bangun ini sudah pagi!"

"Aku buatkan pai ceri favoritmu lho!"

Berbagai macam cara ia lakukan untuk mendapatkan kembali kesadaran sang partner, namun tidak ada satupun yang berhasil. Ia benar-benar sudah kehabisan ide. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Maaf, setelah sejauh ini.. aku.. gagal.." Isaknya. Ia membungkuk sedikit lalu berbisik.

"Kalau kau mendengarku, kumohon kembalilah." Tanpa sadar ia semakin mendekat dan mengecup dahinya. Rantai yang membelengu tangan lelaki itu habis terbakar oleh api berwarna magenta. Begitu juga dengan api biru di kursinya perlahan dilahap oleh api magenta yang entah darimana asalnya

"Kau.. penyihir cilik.. beraninya mengacaukan rencanaku." Ujar geram sang ringmaster yang memaksa masuk melewati dinding api. Tentu saja api itu membakarnya hingga tersisa tulang saja. Tulang hidup.

Arme baru saja membalikkan wajahnya ketika sesuatu tak terlihat melesat diikuti oleh api biru yang berasal dari dinding dan menebas sang ringmaster seperti angin. Begitu cepatnya hingga mata tak dapat mengikuti. Dalam sekejap sang ringmaster terpotong dan terbakar api hingga tak bersisa.

Setelah ia selesai dengan apa yang dikerjakannya ia menampakkan diri dengan pedang berbahan baku api biru. Seorang berambut silver yang tak lagi kehilangan cahaya kehidupan dalam matanya. Seorang yang menampakkan senyuman hangat dan tulus untuk pertama kalinya.

"Maaf aku banyak merepotkanmu Arme." Ujarnya sambil membelai rambut violet gadis itu.

Gemuruh hebat dan gempa mengguncang. Tempat yang sebelumnya adalah sebuah labirin yang luas mulai runtuh ke dalam jurang kegelapan tak berdasar.

"Lantainya.." Panikya ketika mereka jatuh bersamaan dengan lantai yang sedang mereka pijak.

"Kau harus kembali. Kita akan bertemu lagi di alam nyata."

Setelah itu, semuanya kembali gelap gulita.

.

"Urgh.. Terima ini!" Sang komandan mengangkat solunanya ke samping.

"HIGHLANDER ASSA.." Ia membatalkan serangan ketika api biru yang menyelubungi lawannya meredup termakan oleh api magenta kemudian padam. Menyisakan sang sharpshooter jatuh tak sadarkan diri.

'Kau berhasil Arme. Dengan begini Zidler akan kehilangan sumber energi yang ia butuhkan.' Gumam lelaki berambut coklat dalam hati.

"Kesempatan! Serang dia sekarang!" Seru sang komandan sambil maju menyerang diikuti oleh lelaki berambut wine dan lelaki berambut cokelat.

Ia melemparkan beberapa roket. Komandan Sieghart membelahnya menjadi dua dalam sekali tebas. Ia melempar bola-bola bom ke berbagai arah. Dio melanjutkan serangan dengan menyedot semua bom ke arahnya dan meledakkannya di dalam sebuah ruang hitam yang ia ciptakan di sekelilingnya. Terakhir Rufus yang sudah menodongkan eyetoothnya di depan dahi sang ringmaster.

"Pertunjukanmu usai sampai di sini." Ungkap Rufus dengan nada dingin. Sang ringmaster tak menunjukkan rasa takutnya sama sekali.

"Kau akan segera bergabung dengan roh-roh tak bermoral lainnya di Underworld." Ia menembakkan empower tepat di tengah-tengah dahinya hingga menembus ke bagian belakang tengkoraknya.

"Kali ini aku memang kalah. Tapi aku akan kembali. Ingat itu baik-baik bounty hunter! Hyahahahaha!" Tawanya antagonis sebelum api biru di tengkoraknya padam. Sang ringmaster lenyap menjadi debu asap. Jiwa-jiwa manusia yang sudah ia kumpulkan berhamburan keluar dari dalam asap untuk mencari tubuh original mereka dan masuk ke dalamnya. Satu per satu para penonton yang pingsan mulai tersadar kembali dan bertanya-tanya akan apa yang telah mereka lewatkan.

Sesaat kemudian sang inspektur beserta tim Red Knights datang bersama beberapa ambulans.

"Bawa mereka ke rumah sakit, cepat!" Tegas sang inspektur kepada tim medis yang langsung menggelandang mereka, terutama Arme, Lass dan Rufus yang terluka paling parah.

Sementara tim medis memberikan pertolongan pertama telepon sang manager berbunyi.

"Halo?.. Syukurlah.. oh tunggu sebentar ya.." Sang manager mengisyaratkan Dio untuk mendekat lalu ia menyerahkan ponselnya.

"Halo?.. Rin? Baguslah kalau begitu.. Aku akan datang menjenguk besok." Ia mengembalikan ponsel tersebut kepada sang manager lalu bersama-sama menuju rumah sakit.

Selama di perjalanan Rufus tengah memikirkan sesuatu yang baru ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

'Fire of Affection... ternyata sehebat itu kemampuannya.' Ujarnya dalam hati sambil membayangkan bagaimana api magenta yang muncul begitu saja dan melahap api terkutuk Blue Flame.

.

Beberapa hari telah berlalu sejak hari itu. Lass mulai sadar dari hibernasinya. Ia memandang langit-langit ruangan yang putih bersih.

"Sudah bangun?" Tanya retoris seorang di kasur pasien di sampingnya.

"Yah, tapi rasanya seluruh tubuhku masih lumpuh." Ia berusaha bangun dari tempat tidurnya tapi sama sekali tak dapat mengangkatnya sesenti pun.

"Hmph.. Aku juga.." Ujarnya singkat.

Tiba-tiba pintu terbuka keras menampakkan seorang gadis berambut biru es yang membawa sebuah kantong plastik hitam yang cukup besar.

"Gezz.. kau ini.. selalu saja menyimpan masalah besar seperti ini sendiri." Amuknya tak lain kepada sang bounty hunter. Rufus sendiri tetap memasang wajah stoic sedangkan Lass terbengong-bengong akan gadis tak dikenal yang tiba-tiba saja masuk dan mengomel di hadapan mereka.

"Lain kali jangan kau ulangi. Sebagai partner, keselamatanmu juga tangung jawabku tahu." Ia menurunkan nadanya kembali tenang sambil menyerahkan sebungkus obat pada sang bounty hunter. Dibacanya obat itu adalah obat yang sama seperti yang biasa ia konsumsi. Ia tak tau bagaimana gadis itu bisa tahu tapi yang terpenting ia dapat menggunakannya di saat yang diperlukan.

"Hei, kau ini siapa?" Tanya Lass pada gadis itu.

"Neva. Crusader. Dari komunitas Haros." Jawabnya singkat, padat, tidak jelas sambil masih sibuk mengupas dan memotong-motong apel yang dibawanya.

"Singkatnya dia jugapemburu kriminalyang cukup sering menjalankan misinya denganku." Terang Rufus sambil menghela nafas.

"Dan kau pasti Lass si sharpshooter yang terkenal itu." Tambah gadis itu.

"Kau tahu?"

"Dia kadang melihat acara pertujukanmu di televisi." Katanya enteng sambil menunjuk Rufus dengan mata pisau yang dibawanya.

"Memangnya itu salah? Dia kan Adikku." Karena kaget jari Neva teriris pisau.

"Ouch, kalian bersaudara?" Tanyanya tak percaya sambil mengemut jarinya yang sobek. Lass mengangguk ringan. Selesai memotong apel ia memberikannya kepada keduanya.

"Aku akan menengok Arme. Kalian nikmati saja apelnya." Kemudian ia berlalu. Mendengar nama itu membuatnya teringat.

"Oh ya. Bagaimana keadaan Arme sekarang?" Tanyanya pada saudaranya.

"Dari yang ku(curi)dengar Arme masih belum sadar. Sepertinya mental shock dan Blue Flame yang memparasitinya saat itu akan membuatnya tetap tertidur selama beberapa minggu lagi." Terangnya. Eh? 'saat itu'? Lass yang menyadari kata itu langsung kembali bertanya.

"Sudah berapa lama aku tak sadar?"

"Sekitar seminggu." Ia kembali diam.

"Sebaiknya kau mulai berlatih untuk mengendalikan kekuatan buasmu itu sebelum hal yang lebih buruk terjadi." Tambah Rufus sambil memasukkan salah satu potongan apel ke dalam mulutnya.

"Seburuk apa?"

"Hmm.. katakan saja aku hampir meratakan sebuah kota dengan api itu dulu." Ia membayangkannya kembali, kejadian itu. Lass bergidik hanya dengan mendengar 'meratakan sebuah kota'.

"Kau beruntung, Red Flame memakan sebagian besar Blue Flame dalam dirimu. Akan butuh waktu 1 hingga 2 bulan bagi kekuatan iblis itu untuk kembali pulih. Sementara ini kau dapat berlatih dengan aman."

"Dimengerti."

.

Beberapa hari setelah ia dapat bangun dan beraktifitas ia mulai sering pergi berlatih. Biasanya tak jauh dari lingkungan rumah sakit atau hanya sekedar bermeditasi di taman kota. Dari pagi hingga sore. 1 hari, 3 hari, 1 minggu, 3 minggu, hingga suatu hari. Ia tak kunjung kembali.

"Ugh.." Arme membuka matanya disambut oleh sang manager di kursi di samping tempat tidurnya.

"Akhirnya kau bangun juga Arme." Sambut sang manager dengan wajah kucel.

"Kau terlihat lelah. Apa kau menungguiku setiap waktu?" Sang manager menggelengkan kepala.

"Lass.."

"Ada apa dengannya?"

"Dia menghilang." DEG.. Ia hanya bisa diam membelalakkan mata, tak percaya.

"Bagaimana bisa?" Tanyanya dengan panik.

"Rufus bilang dia memang sedang dalam tahap melatih kemampuannya mengendalikan kekuatan api biru, biasanya ia selalu pulang kemari sore harinya. Entah kenapa sejak 2 hari yang lalu ia tak pernah kembali. Bahkan di mansion pun para butler dan maid juga tidak melihatnya."

.

-:-:-:-To be continued-:-:-:-

.

Author : CUT! Good job everyone!

All Chaser (minus Rufus, Dio, Mari, Zero, Arme & Lass): *sorak sorai* Couple baru! Selamat ya~!

Arme : *blushed* Bukan bukan! Ini kan cuma casting!

Lass : *diam saja, terlalu shock buat bicara*

Amy : Oh ya? Lass saja gak protes tuh..

Lass : *deathglare Amy*

.

Author : Berikut adalah skill buatan author :

"Parallel Mind" Berfungsi mengirimkan jiwa seseorang ke orang lain demi tujuan tertentu. Biasa untuk terapi pada orang yang sedang stress atau depresi.

(Author : Tampaknya lebih baik kau menjadi psikiater saja deh Rufus..
Rufus : Ogah!
Author : Kan sudah ada satu calon pasien.. *lirik Azin*
Rufus : WTH?! Yang ada malah aku yang ketularan sintingnya dia.)

"Fire of Affection" atau "Red Flame" Adalah api kebahagiaan atau kasih sayang. Bukan merupakan teknik turunan. Siapa saja yang memiliki hati tulus di situlah Red Flame berdiam. Tapi hanya sedikit orang yang dapat menggunakannya dan selalu keluar secara kebetulan. It's power of love. :3

.

Author : Lalu bagi yang ingin mengetahui soal OC Author yang namanya Neva ini..

Neva : Silahkan lihat di profile Author.. :)
(N.B. Keterangan tambahan akan dihapus sekitar 2 minggu setelah chapie ini dipublish)

Arme : Hei Author! Kau kemanakan Lass?

Author : Soal itu.. Eits.. Tidak boleh spoiler.. :P

Arme : *pout* :I

Author : Tapi sebagai gantinya, Azin..

Azin : Grand Chaser. Aku Azin Tyrin akan datang menemani kalian mulai tanggal 11 Oktober 2012 via server Indonesia. *psyco smirk*

Jin : Jangan takut-takuti readers seperti itu.. *dorong Azin pergi*

Author : Lalu Miss Knight Master silahkan endingnya..

KM : Thanks to read everyone.. and Mind to review?

.

See you next chapter~