Falling to You

Pairing : HoMin / YunJae / slight YooSu

Rate : T

Warn : sedikit mengungkit kisah lama T.T

Banyak reviews, baru lanjut..

Changmin menghempaskan tubuhnya di sofa. Sejenak, dia memejamkan matanya. Dia merindukan Junsu. Lelaki itu selalu menjadi lawannya saat bertengkar. Bukan pertengkaran serius. Hanya beberapa tingkah kekanakan yang menghibur member-member lainnya, dulu.

Apartemen baru ini bisa dikatakan mewah. Luasnya bisa dibilang dua kali apartemen lamanya. Tidak masuk akal, padahal kini hanya berdua saja. Cih, perusahaan mereka sepertinya berusaha mengikat dia dan Yunho lebih kuat. Kontrak baru.. apartemen baru.. hadiah kecil berupa 'beberapa' lembar saham..

Mungkin sekali-kali dia harus bermain petak umpet dengan manajemennya. Lari ke Eropa, berganti identitas, dan tidak kembali ke Korea misalnya. Benar-benar kekanakan.. membayangkannya saja sudah membuat Changmin tersenyum aneh.

Klek.

Bunyi pintu terbuka. Yunho pulang sepertinya.

"kau sudah ma.. kan..?" suara Changmin berubah pelan saat melihat pria itu.

"hai Changmin.." ucap pria itu sambil menyeringai.

.

.

.

Di tempat lain..

"ini harus dihentikan Jae.." desah Yunho pelan.

Lelaki cantik di depannya menatapnya lurus-lurus.

"….."

"ini tidak akan berhasil. Kau yang memulai segalanya, kau tahu risikonya.."

"jadi sekarang kau menjadikan aku sebagai risiko terburuk Yun?" Jaejoong menatapnya dengan pandangan mengejek.

" bukan begitu maksudku.."

"kau pikir kau siapa Jung Yunho.." geram Jaejoong.

"aku masih mencintaimu Jae.. sungguh.."

"cukup mencintaiku hingga kau mencampakkanku, begitu?"

Yunho menarik napas panjang. Inilah akhirnya. Semoga ini yang terbaik.

"sorry, Kim jaejoong.." ucapnya lirih sambil melangkahkan kakinya menjauh.

Jaejoong menatap mobil itu nanar. Ketika telah kehilangan objek pandangannya yang berbelok di persimpangan jalan, dia seakan tertampar dengan kenyataan.

Dia dicampakkan.

Pria itu harusnya menyesal kan? Membuang pria sempurna seperti dirinya harusnya cukup untuk membuat rangkaian mimpi buruk sepanjang hidup kan?

Tidak.

Harusnya lelaki itu kembali dan berlutut padanya kan?

Benak jaejoong penuh dengan penghiburan karangannya sendiri. Lelaki bodoh yang bersamanya selama 4 tahun, pastinya sudah gila karena memintanya untuk mengakhiri semua ini. Tapi tetap saja, dadanya sangat sesak.

Dialah yang dicampakkan.

Dialah yang ditinggalkan.

.

.

.

"apa maumu?"

"begitukah caramu bertegur sapa dengan hyung-mu? Mana sopanmu Min-a?"

Changmin merasa mual. Dia sangat membenci pria dandy dihadapannya. Dari semua orang yang tidak disukainya, pria ini ada di urutan nomor satu 'orang-yang-paling-tidak-ingin-ditemuinya'.

"bagaimana kau bisa masuk?" ucap Changmin dingin.

"tidak adakah pertanyaan lain yang ingin kau tanyakan? Kabarku, misalnya.."

"aku malas mencari masalah denganmu Yoochun hyung. Pergilah, sebentar lagi Yunho hyung pulang"

"dia bertemu kekasihnya. Mereka akan lama.. kau tidak perlu khawatir" Yoochun menyunggingkan seulas senyum yang kaku.

"….."

"lagipula, aku ingin memberitahumu kalau.. Junsu dalam keadaan baik"

"….."

"yahh.. dia agak kurus belakangan ini tapi bisa dibilang kalau dia merasa senang. Kau tahu Min? dia sangat mencintaiku.. dia bahkan melakukan segalanya di ulang tahunku kemarin" Yoochun memberi penekanan diujung kalimatnya.

"lalu apa urusannya denganku?"

Hal utama yang Changmin benci dari lelaki dihadapannya adalah bagaimana dia memperlakukan Junsu. Dia memanfaatkan sifat Junsu. Junsu yang begitu naïf.

"aku berhutang budi padamu Changmin. Terima kasih karena telah mengoyak hati Junsu-ku.. aku bahagia sekali.." Yoochun mengucapkannya dengan nada mencemooh.

"….."

"aku akan pergi Min. terima kasih atas sambutannya"

Yoochun berjalan kearah pintu setelah meninggalkan ekspresi menyebalkan pada penglihatan Changmin. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba dia membalikkan badan.

"ah, aku lupa. Ada baiknya kau ganti saja pass code pintu kalian. Siapa tahu nanti aku akan kembali diam-diam untuk mencuri kan?" ejek yoochun.

Changmin menghirup udara sebanyak yang dia bisa. Apa ini adalah hari sialnya?

Cih, lelaki brengsek itu sengaja membawa nama Junsu dihadapannya. Mau apa? Memancing emosinya? Benar-benar lucu.

Junsu dulu memujanya.

Lelaki itu bersedia melakukan apa saja saja untuknya. Apa saja…

Semestinya ini menjadi kisah yang sempurna. Ada pria baik yang mencintainya. Shim Changmin akan merasa bahagia dengan seseorang yang mencintainya. Ya. Akan bahagia seandainya dia juga mencintai pria baik itu.

Hari itu Changmin mengatakan penolakannya. Baginya Junsu adalah sahabat yang menyenangkan. Hanya sebatas itu. Junsu menahan tangis hari itu. Changmin merasa bersalah. Dan segera saja dia mengacaukan segalanya dengan mengatakan satu kalimat yang membawanya pada kesalahan terbesar kedua dalam hidupnya..

"berbahagialah dengan orang yang mencintaimu hyung.. kau layak mendapatkannya.."

Kalimat itu terdengar indah bukan? Betapa Shim Changmin ingin meminta maaf atas penolakannya dengan cara memberi penghiburan bagi Junsu yang mencintainya.

Seperti sebuah skenario, ucapan Changmin menjadi sebuah kenyataan. Junsu perlahan mulai melupakan perasaannya. Dia menghapusnya, dengan mencintai pria lain.

Pria itu.. Yoochun.

Changmin mengenal banyak pria brengsek. Dia tidak bermasalah dengan mereka. Menjadi brengsek adalah sebuah pilihan, kan? Tapi tidak dengan Yoochun. Dia itu arsenik. Racun yang tidak punya rasa, tidak punya bau. Berbahaya.

Yoochun seseorang yang flamboyan. Lelaki penuh percaya diri.. yang memiliki pesona luar biasa..

Pesona yang cukup untuk memenangkan Junsu. Junsu yang malang.

Changmin merasakan penyesalannya sejak dia melihat sendiri bagaimana Junsu menceritakan segalanya. Menceritakan betapa dia beruntung karena 'dimiliki' Yoochun..

Yoochun yang sempurna di mata Junsu.

Changmin membenci Yoochun bukan karena dia menyesal telah menolak Junsu. Sampai hari ini, perasaannya masih sama. Junsu adalah sahabat yang menyenangkan. Itu saja.

Tapi memergoki pacar sahabatmu melakukan sex party..

Keterlaluan kau Yoochun.

.

.

.

"Okay! Wrap it!"

Pemotretan neraka ini akhirnya selesai.

Rasanya dia ingin menyalakan confetti untuk merayakannya. Lima jam dibawah terik sangat melelahkan. Kulitnya seakan telah berevolusi menjadi kepiting. Crap.

Pulau Saipan masih sama indahnya seperti saat dia terakhir kesini.

Ranjang yang besar! Akhirnya!

Changmin merebahkan tubuhnya. Ini surga. Cih, bahkan kebahagiaan bisa datang dari hal yang sederhana. Baru saja hendak mencoba memejamkan mata. Pintunya diketuk pelan. Dengan malas dia bangkit dari ranjangnya yang nyaman.

Cengiran Yunho menyambutnya dibalik pintu.

"hai Min.."

Changmin mengangkat alisnya. Tumben leadernya mampir ke kamarnya. Sejak berdua, sebenarnya tradisi saling mengunjungi kamar para member dapat dikatakan hilang.

Yunho menaruh sekantong besar belanjaan di atas meja dekat beranda.

"aku menyuruh staff membeli makanan" jelas Yunho tanpa ditanya.

Pria itu mengeluarkan beberapa kaleng bir.

Suasana menjadi hening.

"kapan kita pulang hyung?" ucap Changmin memecah keheningan. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Hanya saja, suasana beku ini sangat tidak nyaman.

"…." Yunho tidak menjawab. Khidmat sekali dia meminum birnya.

Changmin kembali naik ke ranjangnya. Dia mengerti. Leadernya sekarang sedang sibuk sendiri. Sibuk memikirkan sesuatu, entah apa. Changmin bukan tipe orang yang tertarik dengan urusan orang lain. Kecuali kalau orang tersebut cerita sendiri, mungkin dia akan mendengarkan.

Mata Changmin baru saja menutup matanya ketika dia mendengar Yunho menghembuskan napas berat.

"kami selesai Min.."

"…" Changmin menghela napas. Tepat seperti perkiraannya. Masalah terjadi.

"aku mencampakkan Jaejoong.."

"…"

"dia kesal. Aku tahu dia marah.." Yunho menenggak birnya lagi.

"…"

"tapi aku rasa ini yang terbaik. Ya kan Min?"

Daripada disebut pertanyaan, kalimat Yunho rasanya lebih seperti ditujukan pada dirinya sendiri.

Changmin hanya diam. Dia bukan pemberi saran yang baik. Jadi dia lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik.

Setelah beberapa kaleng, Yunho sampai pada pace-nya.

Changmin beringsut turun dari ranjangnya. Menyampirkan lengan panjang Yunho pada pundaknya dan membantu agar berbaring di ranjangnya. Kadang Changmin tidak habis pikir, lelaki menawan dan setia seperti leadernya ini.. Kenapa lebih memilih pria? Yoochun saja menyelingkuhi Junsu dengan banyak pria dan wanita. Ah, kenapa jadi memikirkan Casanova kampungan itu?

Tubuh Yunho sedikit panas. Demam sepertinya.

Changmin meraih handuk kecil, membasahinya dengan air. Dikompresnya kening Yunho. Dulu, Jaejoonglah yang melakukannya. Siapapun member yang sakit, Jaejoonglah yang mengurusi. Memasak bubur, memberi obat.. semua dengan sukarela. Kalau tidak menjadi idola, Changmin yakin kalau Jaejoong akan mengambil sekolah perawat.

Setahunya, hubungan Yunho dan Jaejoong adalah refleksi dari semua impian Yunjae-shipper. Mereka pasangan romantis. Saling mendukung. Saling menguatkan. Bikin iri saja.

Changmin tidak pernah mengalami hubungan emosional sedalam yang Yunho rasakan dengan Jaejoong. Dulu, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis saat awal debut. Gadis yang baik. Namun itu sangat singkat. Gadis itu meninggalkannya. Alasannya? Karena gadis itu merasa tidak bisa menembus dinding tinggi yang dibangun oleh Changmin. Changmin adalah orang yang sentimental. Ada ruang yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri. Gadis itu menyerah.

"eunghhh…" erang Yunho. Lelaki itu menggigil hebat.

Changmin merapatkan selimut ke tubuh Yunho.

Kasihan sekali kau, Yunho..

.

.

.

Sebenarnya Author masih shock dengan ff Ultimate Love yang tiba-tiba aja di-delete sama admin. Entah mengapa..

Jadi agak trauma mau nge-post T.T

Readers menurut kalian cerita ini perlu lanjut ga? Review ya.. kalo banyak yang minat, baru deh dilanjut.. ^^ *masih trauma*