Lima Syndrome

Summary: penculikan, pembunuhan dan usaha pelarian ternyata bisa berbuah cinta.

Rating: M

Pairing: Geduatujuh for evaaaaah \^^/

Disclaimer: KHR bukan punya saya. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: FULL OF CRIME! OOC sudah pasti. Abal, alay, gaje, gagal, mistypo, banyak OC, tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia dan EYD yang benar. Kacangan, bikin bete. Jika tidak suka jangan lanjutkan baca. Membaca kelanjutan diluar tanggung jawab author.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pearl Rouge Resident, Central Rome.

Sergeant Maggiore Colonello Edgley menekan bel pintu sebuah rumah yang besar dan kelam dengan canggung. Ia membawa sekeranjang buah ara masak untuk oleh-oleh bagi sang tuan rumah. Pintu rumah itu terbuka dan yang menyambutnya adalah Bianchi. Ia tidak begitu mengenal perempuan itu. Tetapi ketika istri dan suami mereka pergi kerja, Colonello sesekali suka mengobrol dengan Bianchi sambil merokok—Lal Mirch melarangnya sering merokok. Perempuan ini blak-blakan dan realistis, sangat cocok bagi Reborn yang praktis dan tidak suka basa-basi.

"Halo, tampan. Reborn baru masak makan malam." Katanya ramah.

"Um...gnocchi?" Colonello berusaha menebak-nebak. Bianchi mempersilakannya masuk.

"Oh, ayolah. Lal bilang kau suka sekali gnocchi. Apa pengetahuan masakan Italia-mu hanya sampai sana?"

Colonello tertawa. "Ayolah, Bianchi. Kau tahu kalau tentara tidak boleh pilih-pilih makanan. Dan gnocchi Lal Mirch lebih enak dari buatan Reborn."

Lal Mirch duduk di meja makan, sementara Reborn masih sibuk memasak. Bianchi mencium suaminya dari belakang dan mencuci buah ara yang dibawa Colonello. Hari ini benar-benar melelahkan. Reborn berjanji akan membelikan Lal Mirch jas baru untuk menghadapi persidangan. Jaksa Sawada Iemitsu belum pulang, ia ke kantor pusat untuk menyusun surat pengajuan sidang. Ketika Tsunayoshi sudah ketemu dan Cozart Shimon sudah mengakui bahwa dia adalah Antonov Rvell, masalah terbesarnya sekarang berada pada Giotto del Vongola.

"Kau tahu, Reborn? Colonello bilang kau memasak gnocchi. Dan dia bilang gnocchi buatanmu tidak enak." Bianchi tertawa geli.

"Bilang padanya bahwa kita makan polpo con salsa verde. Con radicchio stufato(gurita dengan saus salsa verde. Dengan semur raddichio). Lui mangia ogni cosa. Come lui sapere qual è delizioso? (dia makan segalanya. Mana bisa dia tahu mana yang enak?)" Balas Reborn, diselingi tawa kecil ketika ia melihat wajah tak mengerti Colonello.

"Apa katanya?" bisiknya pada Lal Mirch.

"Gurita dengan saus salsa verde. Gurita panggang. Dimakan dengan radicchio yang dilayur dengan kuah daging kental." Jawab Lal Mirch lembut, mengabaikan sindiran setelahnya.

"Bagaimana dengan kasus kalian?" tanya Colonello.

"Selesai. Kurasa."

Reborn menghidangkan makan malam, lalu memimpin doa sebelum makan. Masakan Reborn selalu enak, dan Colonello benar-benar lapar sehingga menghabiskan seluruh radicchio yang tersisa. Selesai makan, Bianchi menawarinya sebatang rokok. Colonello menghembuskan asap rokok perlahan, menikmati saat-saat istimewa dimana ia bisa merokok dengan bebas.

"Kau mau dengar ceritanya dari mana?" tanya Reborn.

"Terserah kalian. Aku merasa agak ketinggalan, jadi dari awal juga bisa. Kau setuju, Bianchi?"

"Aku tidak suka terlalu ingin tahu urusan Reborn. Aku mendengarkan saja." Jawab Bianchi ketus.

Baik Reborn dan Lal Mirch saling berpandangan. Akhirnya, Reborn mengisyaratkan Lal Mirch untuk memulai cerita duluan.

"Baiklah. Ceritanya begini..."

[FLASHBACK]

Professor Verde masih sibuk dengan laptopnya ketika Constatine Pugliese mempersilakan semua orang yang ada di apartemen Alaude untuk menyantap makan siang. Menunya adalah chicken cordon bleu dengan kentang panggang dan beberapa jenis sayuran kukus seperti brokoli dan asparagus. Seluruh anggota Devour 76 seakan membuat proteksi kepada Cozart Shimon. Ia makan dengan tenang, wajahnya kelihatan lebih bahagia. Alaude hanya mencuil-cuil kentangnya sambil menatap kosong ke jendela besar yang menghadap pada pemandangan gedung-gedung tua dan udara mediterania modern yang berpadu jadi satu dalam langit tengah hari yang cerah. Lal Mirch dan Reborn memutuskan untuk makan.

"Alaude, boleh aku tanya sesuatu?' ucap Lal Mirch tiba-tiba.

"Apa?" balasnya kosong. Tatapannya masih tidak lepas dari jendela.

"Dari catatanmu, kau selalu menanyai setiap narasumber dengan pertanyaan 'apakah Cozart Shimon/Antonov Rvell bisa Bahasa Jerman?'. Apa kau punya semacam pemikiran mendasar untuk itu?"

Alaude berpikir sebentar, lalu mengangkat bahu. "Antonov bukan nama Jerman. Lebih mirip nama-nama timur Eropa."

"Insting?"

"Bisa dibilang, naluri. Ada sesuatu yang mengganjal di kasus ini, dan ternyata butuh lebih dari 8 tahun untuk mengetahui bahwa ganjalan terbesar itu adalah bahasa."

"Alaude, kau harus lihat ini."

Professor Verde menggeser sebuah kertas kepada Alaude. Lal Mirch menjulurkan kepala dan melihat tulisan tangan terindah dan terbagus sepanjang hidupnya. Isi tulisan yang singkat itu adalah surat terakhir yang dikirimkan Photola Rvell pada Rokudo Mukuro.

.

.

.

7 Juni 2003

Salam sayangku untukmu, Mukuro.

Hari ini aku menjalani pemotretan, baju-bajunya bagus. Bagaimana pekerjaanmu? Sepertinya agak sulit, ya jadi seniman pada masa-masa seperti ini. Tapi aku tahu kau berbakat? Mau kumintakan nomor agency agar kau bisa lebih terkenal? Aku mau kau membuatkan aku lagu sekali-sekali. Dengan piano atau biola. Aku benar-benar suka melihatmu bermain biola, kau terlihat sangat dewasa. Aku masih simpan cincin perak yang kau berikan waktu melamarku di taman waktu itu. Ukurannya terlalu besar, jadi aku mengenakkannya di jari tengah. Aku harap kau tak keberatan. Atau aku akan memesankan cincin yang serupa, tapi seukuran dengan jariku. Jadi kita berdua benar-benar punya cincin pertunangan.

Mukuro, aku harap setelah ini kita bisa hidup bahagia. Aku ingin lepas dari bayang-bayang mantanku. Aku tidak ingin ragu lagi. Kau bisa meminta adikmu menjadi bridesmaid. Aku akan keluar dari rumah, tidak harus berurusan lagi dengan keluargaku. Aku mau kita tinggal di luar Jerman. Aku akan mendukung mimpimu. Mau ke Denmark, Perancis, Rusia, Jepang, Amerika, Australia bahkan ke neraka sekalipun. Aku akan sangat bangga menjadi istri seorang musisi sukses.

Kutunggu kehadiranmu di masa depanku.

Kekasihmu, Sasha.

.

.

.

"Kenapa Anda tidak menerjemahkan surat yang lain, Prof?" tanya Lal Mirch.

"Tidak bisa. Tintanya luntur. Hanya satu surat itu saja yang masih jelas." Jawab Professor Verde singkat, sambil menunjukkan surat-surat yang sudah rusak. "Suratnya tidak sengaja rusak. Ditulis dengan tinta kuning glitter yang mudah luntur. Tidak ada bekas tekanan kertasnya juga. Kurasa ia menulisnya dengan pena glitter berujung kuas yang biasa dipakai menghias scrapbook atau diari gadis-gadis ABG."

"Kekanakan sekali." Ketus Alaude.

"Apa setelah ini kau akan menghipnotis anak itu lagi?" Tanya Professor Verde.

Alaude menoleh ke arah Cozart Shimon. Dengan cepat ia menggeleng pelan, lalu menggedikkan kepalanya ke arah Lal Mirch.

"Kau mau memakai kemampuanmu?" tanyanya singkat.

"Aku?" Lal Mirch melongo. "Kenapa aku?"

"Jangan membantah. Aku punya bawahan untuk kusuruh-suruh." Alaude melengos.

Lal Mirch mengumpat pelan.

"Aku akan ikut denganmu." Sela Professor Verde. "Tapi, kelihatannya aku tidak akan banyak bicara. Aku bersama ahli."

"Anak itu lebih nurut pada Anda, Prof." Lal Mirch menggosok-gosok hidungnya. "Aku tidak ingin lembur. Aku harus memasak makan malam untuk Colonello."

"Suamimu bisa makan di luar. Dia pasti bangga melihat istrinya menegakkan keadilan disini." Professor Verde memberikan quotes indah yang meredakan semua kekesalan Lal Mirch pada atasannya.

"Oh, Prof." Reborn mendekati Professor Verde, lalu duduk di dekatnya. "Cozart selalu punya pendapat gigih bahwa pelaku rencana pelarian Giotto adalah orang IT."

Alis Professor Verde bertaut. "Lalu?"

"Irie Shouichi dan Spanner ditangkap. Mereka adalah sepasang homoseksual yang mendapat fax tentang rencana pelarian Giotto. Mereka dibayar, lalu dengan ribuan jam tangan dan ribuan ekor tikus, dia membom kantor kami."

"Mereka tidak tahu siapa yang mengirim fax itu?" tanya Professor itu.

"Tidak. Atas nama Albert Molish. Namun sang pemilik fax itu bilang bahwa sebelum tanggal di fax itu, rumahnya kebobolan maling dan semua alat elektroniknya dicuri. Komputer, laptop, fax." Balas Reborn lagi.

"Kau bilang, reaksi Byakuran agak aneh. Anehnya bagaimana?" potong Lal Mirch.

"Terlalu jujur." Balas Reborn. "Lalu dia kelihatan tidak suka dengan Cozart, ataupun nama Antonov Rvell. Tapi aku tidak tahu apakah dia sepandai begundal berambut merah itu. Aku tidak mau tahu kalau aku dibodohi oleh dua orang sekaligus."

"Karena Byakuran yang membunuh mereka!"

Cozart Shimon berdiri di dekat meja mereka. Ia menghampiri Lal Mirch, dan menyodorkan kedua tangannya yang kosong. Wajahnya menyiratkan kemantapan. Lal Mirch sedikit bingung, dan terus menatap anak itu sampai akhirnya dia berkata.

"Tahan aku."

"Kenapa kami harus menahanmu? Kau adalah saksi." Celetuk Alaude pendek.

"Kantor kalian. Microfall. Aku yang melakukannya. Maksudku...aku yang membayar Byakuran untuk meledakkan kantor CEDEF."

Hening.

"Bagaimana caranya?" tanya Alaude datar.

"Bom. Menggunakan tikus yang diselundupkan ke kantor kalian. Bomnya dibuat dari jam digital. Daya ledaknya sedikit. Maka ditambahkan kantung bensin. Aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk membuat Giotto keluar dari penjara."

Lal Mirch terbelalak. Reborn menarik Cozart Shimon dan menghempaskannya di sofa.

"ANAK KURANG AJAR!"

Reborn melayangkan tinjunya menghantam wajah Cozart. Ia tidak membalas. Ada ekspresi pilu di wajahnya. Nafas Reborn masih bergemuruh. Reborn duduk di sofa sebrangnya. Tinju Reborn meninggalkan sebuah luka lebam besar di tulang pipi Cozart. Separuh wajahnya seketika membengkak.

"Ceritakan saat dia buron. Setelah Giotto keluar dari penjara. Dan hubungan burukmu dengan Byakuran. Pembunuhan malam itu. Semuanya. Semuanya!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

(Cozart POV)

"Ayolah, Antonov. Aku tahu kau mau."

Aku menatap Kieren dengan tatapan muak. Selain karena tubuhnya yang gemuk dengan gelambir lemak dimana-mana, birahinya yang meletup-letup membuatku jijik. Aku bodoh. Amat bodoh. Aku menenggelamkan diriku ke dalam obsesinya pada laki-laki dan aku menjadi bahan percobaan sekaligus pelampiasan. Sekarang sudah jam dua pagi. Aku bahkan sudah tidak kuat duduk. Pulang sekolah, Kieren menyodomiku habis-habisan. Awalnya memang nikmat, tapi lambat laun seiring bentuk tubuhnya yang tak lagi menyenangkan, aku mulai dirundung bosan. Aku tidak boleh bosan dengannya. Hanya Kieren mata badai diantara guntur amarah keluarga Rvell. Setidaknya dia mau membelaku di hadapan ayah dan ibunya. Dan adiknya yang brengsek dan jalang. Melacurkan diri padanya kuanggap sebagai imbalan.

"Aku lelah." Bisikku, selembut yang aku bisa. "Sorry."

"Mungkin kau mau sedikit petualangan?" Kieren menciumi telingaku. "Aku punya seorang kawan, gigolo online. Kita bisa menyewanya."

Aku menggeleng lembut. "Aku tidak punya uang."

"Aku punya. Kadang-kadang aku bertemu dengannya di klub. Kalau mau, kapan-kapan akan kuajak kau, Antonov."

"Kapan?"

"Kapanpun kau mau. Misalkan...um...Sabtu ini?"

"Janji?" Aku mengacungkan kelingkingku. Kieren mengangguk dan mencium kelingkingku.

Maka, pada sabtu malam aku dan Kieren pergi ke klub. Paman Nico tidak mengerti cara mengenakkan E-banking, tetapi Kieren yang mengerti. Ia mencatut uang ayahnya sebesar 300 Euro dan pergi denganku ke klub itu. Kieren menawarkan aku minum, dan kudengar minuman alkohol itu enak. Tetapi aku menolak, dan Kieren memesan segelas martini.

Tidak lama, seorang pria pirang menghampiri kami. Ia mendaratkan kecupan di pipi Kieren dengan manis, lalu duduk di sebelahku, tersenyum ramah. Tubuhnya cukup berisi dan berotot. Wangi parfumnya lembut dan seksi. Ia tampan. Kedua matanya biru gelap dan menatapku dengan tatapan teduh. Rambut pirangnya mencuat-cuat, namun sangat halus.

"Namamu siapa?" tanyanya ramah.

"Antonov." Balasku. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. Pria pirang itu hanya tertawa.

"Aku Giotto." katanya, mengangkat genggaman kami dan mencium punggung tanganku. "Salam kenal."

Kieren banyak melontarkan suasana menyenangkan, dan teman-temannya banyak berdatangan. Tak lama, aku agak panik karena ia mulai meninggalkanku berdua dengan Giotto. Awalnya aku hendak mengejarnya. Namun Giotto menahanku dengan lembut.

"Sudahlah. Aku tahu Kieren akan pergi kemana. Jangan pergi."

"Tapi..." sanggahku.

"Aku akan menjagamu." Katanya mantap. "Kau belum pesan minum? Mau minum apa?"

"Um..." Aku mengangkat bahu. "Aku tidak mau minum. Pilihkan."

"Ah? Baiklah. Uum...champagne, oke?"

Aku hanya menjadi anak manis. Giotto memesan sebotol sampanye dingin, ditemani sepiring buffalo wings dan bratwurst. Kami makan dan minum, berbincang berdua dengan hangat di antara hiruk pikuk pesta klub yang semakin menggila. Aku melihat Kieren sesekali, berjingkrakan dengan teman-temannya dalam keadaan mabuk berat. Awalnya pembicaraan kami sederhana: rasa makanan, champagne, sampai pada pertanyaan sensitif seperti apa-apa saja yang sudah aku dan Kieren lakukan.

"Kieren berkata, kau agak kenes, Antonov. Manis-manis tapi nakal." Giotto tertawa. "Apa benar?"

Aku mengangkat bahu. "Biasa saja. Maksudku...kalau aku menikmatinya, ya sudah. Tidak ada yang salah kan?" kataku cuek sambil makan buffalo wings.

"Hmm...lalu, apakah tidak ada rasa jenuh? Kau bercinta dengannya hampir setiap hari." Giotto mengambil sehelai tisu dan mengelap saus di bibirku.

"Menurutmu? Semakin dia gemuk, dia semakin berat dan menjijikkan. Ia akan terus menggempurku sampai aku terasa mau mati." Ketusku.

Giotto tertawa. Ia memanggil seorang pramusaji dan meminta segelas cognac. Obrolan kami mendadak menjadi kejadian memadu kasih setelah Giotto meneguk dua gelas cognac. Aku bisa merasakan bibirnya yang tipis, berlekuk, penuh rasa dan dikuasai birahi. Aku memeluknya, mulai mabuk pada malam yang semakin larut. Entah karena rasa frustasi terhadap Kieren atau cognac yang terkecap dari bibirnya. Bibir Giotto mencumbu bibirku dengan rasa manis dan aroma mawar yang lembut dan buah aprikot dan kismis yang dominan. Lidahnya berusaha menguasai seluruh isi mulutku dengan rasa pahit yang kuat disusul asin dan masam yang menambah rasa nikmat.

Selanjutnya, segalanya terjadi semakin cepat dan samar. Aku pada akhirnya terhasut untuk meneguk sedikit cognac, lalu kembali menciuminya. Pria pirang itu menggandengku keluar, menuju sebuah rumah besar tempat ia dan teman-temannya tinggal. Kami berdua sedikit sempoyongan, sama-sama mabuk. Ciuman dan cumbuan kami berakhir di atas ranjang Giotto. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskan dirinya di sebelahku. Tangannya yang besar disusupkan ke dalam helai-helai rambutku. Jemarinya bergerak lembut, membelai rambut merah dan kulit kepalaku dengan penuh cinta.

"Kau pasti muak...kalau kuajak bercinta lagi, kan?" ucapnya, meskipun nadanya agak teler, aku tahu Giotto mengatakannya dengan penuh kelembutan.

"Mungkin." Kurebahkan kepalaku ke pundaknya. Jarak diantara kami tiada ketika ia merengkuhkan lengannya ke seluruh tubuhku. Tubuhnya menghangat karena mabuk. "Apa aku harus bayar jika kita bercinta?"

Giotto kembali tertawa. Ia mengecup puncak kepalaku, lalu menggeleng pelan. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu rebahan kembali begitu saja. Aku menganga, mengagumi lekuk-lekuk tubuhnya yang ramping namun kokoh, yang kelihatan begitu pantas disandingkan dengan wajahnya yang tampan. Kedua matanya meredup sendu. Bibir tipisnya menarik senyum manis yang menggodaku untuk kembali menciumnya.

"Kau tidak perlu bayar sepeserpun. Aku mengajakmu bercinta karena memang aku mau." Jawabnya.

"Hmmh..." Aku mengangguk, kembali melumat bibirnya dengan rakus.

"Mm...hmmh..." lenguhnya dalam ciuman kami. Aku melepaskannya. Giotto menarik nafas dalam-dalam, lalu ia mengusap pinggangku dengan cara yang begitu sensual.

"Lakukanlah semaumu. Mau nungging sampai pagi? Atau kau mau menyodomi aku?" Giotto terkekeh pelan. "Lakukan semaumu."

"Tak apa?" Aku mulai menanggalkan semua pakaianku. "Berapa usiamu, Giotto?"

"22." Jawab Giotto praktis.

"Bohong!" teriak Aku, lalu diiringi tawa. Ia menindih Giotto, menciumi perutnya yang kokoh lalu turun ke batang kemaluannya.

"Ngh...ah, ooh...ngaah." Giotto menjambak rambutku ketika kulahap miliknya. Ia mengeluarkannya dari mulutku, lalu duduk. Aku masih menjilati kemaluannya perlahan.

"Bocah brengsek. Setidaknya...ngh...angh...beri tahu aku harus dengan nama apa aku meneriakimu atas...ngh...ini?"

"Antonov." Jawabku singkat, lalu kembali kunikmati kelelakiannya.

Malam itu liar. Membara. Nyalang. Bahkan aku kehabisan diksi untuk menggambarkan seliar apa persetubuhanku dengan Giotto. Kami bagaikan sepasang binatang. Mungkin lebih rendah dari binatang. Tidak ada binatang yang mengawini sesama jenisnya. Tapi peduli setan. Setelah memuaskan egonya dengan memasukiku dengan posisi setengah nungging, kali ini aku yang memegang kendali. Staminaku sudah terkuras banyak. Namun birahi di dada dan selangkanganku seakan benar-benar mendorongku untuk terus bersetubuh dengan Giotto sampai aku benar-benar tidak sadarkan diri. Ketika giliranku tiba, kumasukkan dua jariku ke dalam liang analnya yang tidak lagi seketat yang kubayangkan dengan perlahan, dan berubah binal ketika ia memintaku memasukinya lebih dalam. Dadaku bergemuruh, seakan jantungku nyaris pecah karena adrenalin yang terpompa karena cognac dan keseksian Giotto.

"Katakan, berapa umur aslimu." Tegasku, setengah penasaran dan membentak. Aku menunduk, menjilati liang analnya perlahan sebelum kumasukkan kejantananku yang sudah benar-benar tidak sabar menikmati tubuhnya.

"Ngh...aaaah!" kami sama-sama menjerit, aku meremas lengan Giotto tempatku bertumpu. Wajahnya sendiri kelihatan seperti menahan sakit. Sensasi hangat dan mencengkram yang kurasakan ketika menyodominya membuatku menagih. Tubuhku menagih ingin menjamahnya lebih dalam. Giotto menahan pinggangku kuat-kuat. Ia bilang aku harus sedikit bersabar.

"Antonov...sabar...aku belum biasa." Rintihnya.

"Ah...ngah..." aku berusaha melepaskan dekapannya dari pinggangku, aku mau meliar! "Aku tak tahan..." ucapku.

"Ber...janjilah. Ngh...aku akan memberitahu umurku kalau kau mau pelan-pelan."

Aku menahan birahiku sekuat yang aku bisa. Kali ini, ia yang menentukan ritme permainan. Tubuhku seakan dibakar nafsu. Cara Giotto menghentak dan menggoyangkan pinggulnya, aku tahu bahwa ia sudah jauh lebih berpengalaman dibanding aku!

Maju, mundur, maju, mundur, maju, mundur, maju, mundur...

Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk...

Semuanya gelap. Aku merasa tubuhku meringan, dan tidak terasa apa-apa lagi. Mungkin saat ini aku benar-benar kehabisan tenaga. Mungkin aku pingsan. Aku tidak tahu. Kemudian sepasang tangan besar mengusap wajahku, membuat mataku terbelalak kaget. Pandanganku masih kabur, namun kulihat sosok indah itu menindihku. Wajahnya melukiskan airmuka yang sulit dibaca. Kedua alisnya bertaut janggal,

"Kau membuatku khawatir, sayang." Lirihnya parau. "Mungkin kita harus sudahi malam ini."

"Ngg..." igauku. Aku menggeleng sekuat yang kubisa. Susah payah kurengkuh tubuhnya dan meniadakan jarak diantara kami. Kami berpelukan. Erat sekali.

"Kau boleh tidur disini." Bisiknya. Giotto menarik sehelai selimut, lalu membenamkan wajahnya di pelukanku. Surai emasnya membuat dadaku agak geli. Matanya menutup perlahan, dan sekilas memperlihatkanku paras tampan yang kurang manusiawi. Aku menarik selimut sebatas leherku, lalu mendekap kepalanya penuh sayang. Kukecup puncak kepalanya. Perlahan aku mulai memasuki fase tak sadar. Antara mabuk, teler dan kehabisan tenaga...sosok Giotto tetap mempesonaku. Kulekatkan pipiku di rambutnya sebelum aku benar-benar tidur.

Aku tidak ingin kehilangan dia ketika aku bangun tidur nanti.

Ah, sudahlah.

Mungkin aku seperti Photola, terjangkit pesona cinta satu malam.

(end of Cozart's POV)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lal Mirch menjauhkan Reborn perlahan dari Cozart Shimon. Saat ia menceritakan malam-malamnya memadu kasih dengan Giotto, ada setitik airmata yang menetes, lalu menganak sungai di pipi dan hidungnya. Ia menghampiri anak itu dan merangkulkan kedua lengannya di pundak Cozart. Entah kenapa, rasa pilu dan frustasi yang dirasakan Cozart tersampaikan padanya. Tatapannya yang begitu terluka dibalik tangisnya yang tertahan memberitahu Lal Mirch bahwa anak itu tidak mungkin berbohong.

Ia benar-benar mencintai—memuja Giotto del Vongola.

Satu-satunya alasan mengapa seorang pengidap ADHD bisa bertingkah sangat stabil seperti delapan tahun terakhir, hingga detik ini.

"Kau masih kuat bercerita?" tanya Lal Mirch lembut.

Cozart mengangguk. Tangannya terjulur lemah. "Air..."

Professor Verde mengambilkannya segelas air. Lal Mirch mengelap bekas airmata Cozart dengan ujung jasnya dengan sikap keibuan. Anak itu meneguk air putih yang diambilkan untuknya dengan kalap. Ia menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali sebelum bercerita kembali.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

(Cozart POV)

Giotto tidak tinggal sendiri. Aku menyadari hal itu setelah dua malam menginap di ranjangnya.

Disana ada seorang wanita berambut pirang yang kelihatan agak kampungan, laki-laki berwajah mesum, dan laki-laki lain yang berambut putih dan selalu jarang ada di rumah. Perempuan kampungan itu bernama Elena Shetterfield. Masakannya enak, meskipun hanya Irish Stew dengan sedikit potongan daging babi atau kentang tumbuk dengan kepingan-kepingan bacon. Perempuan itu seorang pelacur. Penghasilannya ia makan sendiri, dan juga untuk menghidupi kekasihnya, Daemon Spade. Lelaki itu tidak kerja. Ia kelihatan hanya fokus pada Elena. Daemon Spade dengan Giotto saling tidak peduli, seakan berbagi tempat satu atap dirasa sudah lebih dari cukup.

Yang paling aku benci adalah pria berambut putih itu. Namanya Byakuran Gesso. Giotto tidak pernah meneriaki aku setiap aku mampir ke rumahnya untuk makan malam bersama, berbaring bersamanya sambil mengobrol atau memadu kasih sampai aku ambruk dan tak sadarkan diri lagi.

Tapi, laki-laki itu berani melakukannya!

Giotto selalu menenangkan aku. Bilang bahwa aku tidak boleh mendengarkan apa yang Byakuran katakan. Ia mengatakan hal itu dengan penuh cinta. Meskipun begitu, aku tidak terima setiap kali dia menyebutku anak setan. Aku tidak meminta apapun dari Giotto. Namun, pemilik paras tampan itu seringkali memberiku hadiah kecil seperti coklat mahal, sepasang sarung tangan dan sekedar makan di luar. Giotto dan Byakuran adalah pemasok dana di rumah ini, dan kehadiranku disinyalir membuat keuangan mereka menurun hingga nyaris ke angka minus.

"BUAT APA KAU MEMELIHARA ANAK JADAH INI DI RUMAH KITA?!" Geramnya ketika kami baru pulang dari salah satu piaza pada malam musim panas.

"Bukan urusanmu. Aku mengurusnya dengan uangku, bukan uangmu." Rutuknya kesal. Ia merangkulkan lengan kokohnya di pundakku.

Byakuran menjambak baju Giotto. Dengan tungkainya yang panjang ia memisahkan aku dan Giotto dengan sekali tendang. Ia melayangkan tinjunya ke dagu Giotto dengan pukulan uppercut dan membanting kekasih pirangku dengan bunyi debam keras di lantai. Mereka bergumul, saling memukul sampai akhirnya Byakuran berteriak.

"Bocah sialan itu anaknya Rvell, kan?! Kau tahu apa yang telah ayahnya lakukan terhadap perusahaanku?!"

"Bukan salah anak itu!" Giotto menghantamkan lututnya ke perut Byakuran. Namun pemuda berambut putih itu berhasil menghindarinya dengan sempurna.

"Tentu saja! Kita culik dia, minta tebusan, lalu bunuh! Cincang sampai halus lalu taruh dipinggir jalan, biar dia dimakan anjing!"

Aku berlari, berusaha sekuatku untuk mendorong Byakuran agar tidak memukuli kekasihku. Refleks, aku mengambil sebuah jambangan dan kulemparkan ke kepalanya. jambangan itu pecah, meninggalkan bercak merah pekat di seluruh kepalanya, dan menetes di pundak dan kausnya. Aku tidak gentar ketika melihat pupilnya yang menyempit dan tangannya yang gemetar, hendak benar-benar mencincangku dan menjadikanku makanan anjing. Namun Giotto mendorongku hingga terjerembab di sofa dan juga menjauhkan Byakuran dariku. Ia menarik tanganku menaiki kamarnya, lalu mengunci kami berdua di dalamnya.

"Maaf..." bisikku. Mengusap lengan dan wajahnya selembut yang aku bisa.

"Pulanglah. Lewat jendela." Tegasnya. "Jangan kesini dulu selama satu-dua minggu."

"Tapi..."

Giotto membekap mulutku dengan lembut. Ia menarik senyuman di bibirnya yang tipis dan menggairahkan.

"Kalau mau kemari, tetap lewat jendela. Ya?"

Aku mengangguk paham. Ia mencium telingaku, dan membisikkan bahwa usianya baru saja 16 tahun tiga minggu yang lalu. Aku mengucapkan selamat ulang tahun, lalu menghadiahkan kecupan di bibirnya sebelum aku pergi.

Dan pulang ke rumah Rvell seperti berpindah ke battlefield yang lain.

Bibi Marge mengomeliku kenapa aku tidak pulang. Aku mengacuhkannya, hanya mengangguk ketika kata-katanya merujuk pada nada kata tanya. Aku menyempatkan diri ikut makan malam dengan menu makanan yang bergelimang kemewahan. Melalui terjemahan Kieren, aku mendengar bahwa Paman Nico baru saja ketimpa durian runtuh. Ia diangkat menjadi CEO sebuah perusahaan elektronika dan software tempat ia bekerja, dan mulai menjadi pemilik gudang anggur dan perkebunannya. Photola masih berwajah mendung. Kabarnya ia punya seorang kekasih, dan Bibi Marge bilang laki-laki itu terlalu dewasa untuknya.

Agak janggal juga mendengarnya. Sebenarnya keluarga Rvell tidak sekaya itu. Aku menghabiskan makan malamku dan naik ke kamar Kieren. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, ia tidak memintaku melayaninya. Ia bilang sedang tidak fit. Aku berbaring tak jauh darinya, lalu kutanyakan dari mana Paman Nico mendapat kekayaan seheboh itu.

"Aku tidak tahu. Kita sudah beruntung hanya menadah padanya. Banyak tanya itu tidak baik, Antonov." Katanya, agak ngelindur.

CEO Perusahaan...

Gudang anggur dan ladang anggur...

Jangan-jangan,...

(end of Cozart POV)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bruk!

Lal Mirch terkejut bukan main ketika Cozart jatuh, condong ke arahnya. Ia menghindar, dan anak itu mendarat di lantai berkarpet dengan mulut. Kedua matanya menutup. Terdengar dengkuran halus setelahnya. Lal Mirch menatap Alaude dengan limbung. Namun sang pria Perancis dari bagian Barat itu hanya menggendong Cozart dan menidurkannya di sofa.

"Ini benar-benarnya melelahkan." Keluhnya. "Ia benar-benar memperbaharui ingatannya."

"Apa?" tanya Lal Mirch. "Memperbaharui ingatan? Memang bisa?"

Alaude mengangguk. "Misalkan, kau sekarang menikah dengan Colonello. Lalu, suatu hari kalian bercerai karena alasan yang menyakitkan. Lalu setelahnya kau menikah dengan Reborn, lalu hidup bahagia. Kau pasti menyusun ingatan dalam kepalamu bahwa selama ini Reborn adalah suami pertama dan terakhirmu. Colonello dengan sengaja kau lupakan karena ia meninggalkan trauma mendalam untukmu. Dengan asumsi yang sama, itulah yang dilakukan Cozart."

"Delapan tahun itu lama, lho. Dalam beberapa kasus, mengorek ingatan dari subconcious mind itu bisa menguras seluruh konsentrasi. Aku menghipnotis Cozart agar ia terus berkata jujur." Lanjut Alaude. "Baik dalam sadar ataupun tidak, sampai ia selesai menceritakan kasus pembunuhan itu."

"Kau kejam." Celetuk Professor Verde. "Sebenarnya itu menyalahi kode etik penggunaan hipnotis, kan?"

Alaude mengacuhkannya.

"Aku akan mengirim tim untuk memantau Byakuran Gesso. Dan Elena Shetterfield." Reborn berjalan keluar dan menelpon Tumeric.

"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Lal Mirch lelah.

"Kau bisa tidur dulu." Alaude menawarkan Lal Mirch sebuah kamar kosong yang masih rapi. "Anak itu bakal mencarimu nanti."

Lal Mirch menghela nafas lelah. Ia menyetujui tawaran Alaude. Setelah melepas sepatu dan jasnya, Lal Mirch merebahkan tubuhnya di kasur itu dan memejamkan mata. Tidur sejenak untuk melepas kepenatannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tsunayoshi tengah berbaring di ranjang flat ayahnya. Kasurnya empuk. Ia berguling ke kiri, ke kanan, lalu tengkurap. Wajahnya bersemu. Entah kenapa ia merasa begitu bahagia bisa mencium aroma tubuh ayahnya setelah beberapa bulan terakhir. Ponselnya sudah dibuang Giotto di sungai. Ayah memberikannya satu. Bukan Blackberry, namun ponsel berbasis Android yang sudah dipasang berbagai fitur yang tidak ia mengerti. Tsuna hanya mendownload beberapa game time management dan menyibukkan diri dengan bermain game.

"Konbanwa, Tsunayoshi-kun."

Tsuna memucat. Ia mendengar suara yang begitu familier di telinganya, dari balik pintu. Pintu itu bergerak terbuka, dan muncul sosok tinggi dengan tubuh dibalut kain kassa sekenanya. Yang kusam dan kotor karena darah dan keringat. Sosok itu berambut pirang dengan sepasang mata biru yang teduh. Sosok itu tidak terlihat kejam, manis atau image lain yang selalu dilihat Tsuna.

Ini Giotto yang berbeda.

"Pergi..." lirih Tsuna , merangkak menjauh. "Pergi!"

"Nee, sekarang kau bukan anak baik lagi, ya?" Giotto mendekat, merangkak menaiki ranjang. Di tangannya ada saputangan yang agak lembab.

"Pergi!"

Tsunayoshi melempari Giotto dengan apapun yang bisa ia jangkau. Giotto menghindarinya dengan mudah sampai ia bisa menangkap satu lengan Tsuna, dan menempelkan saputangan lembab itu ke hidung dan mulutnya. Tenaga Tsuna seketika melenyap. Ia merasa lemas dan tidak bertenaga. Giotto menangkap Tsuna yang tak sadarkan diri dengan mulus, lalu mendaratkan kecupan di bibir Tsuna dengan lembut.

"Tertangkap kau, Carmen." Bisiknya penuh kemenangan sambil membopong Tsunayoshi pergi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAMINAAAAAAA #BANGKIT DARI KUBUR

Uwaaaaaa bangkit dari hiatus benar-benar perjuangan. UN sudah selesai, dan sepertinya saya mengawalinya dengan meng-update Lima Syndrome. Teman-teman readers sekalian, maaf kalau saya tidak bisa balas review anda satu persatu. Maklum, kemalasan tingkat tinggi #digampar pake kulkas.

Review anda adalah penyemangat saya untuk terus menjalankan fic ini. Jadi, tolong RnR, fave dan follow ya #deepbow

See you next chapter :***