Suasana malam di rumah Hyuuga seharusnya ceria pada saat ini, namun yang ada rupanya sebaliknya.

Neji telah bercerita tentang Hinata yang belum kembali ke rumah, Hiashi, sang ayah, hanya mendengarkan dalam diam. Dari luar, pria itu memang tampak biasa saja dan wajahnya tetap garang - tapi jika yang melihat adalah Neji, Neji tahu kalau pamannya itu sedang khawatir.

Pukul tujuh lewat sepuluh menit, seharusnya makan malam yang dijanjikan sudah dimulai. Tetapi tidak ada satupun orang yang berani menyentuh makanannya. Bagaimana bisa mereka makan dengan tenang kalau tahu ada salah seorang dari mereka yang menghilang? Apalagi yang menghilang adalah putri dari sang kepala rumah.

Mereka tahu putri Hyuuga Hiashi, semua orang di kota tahu. Hyuuga Hinata, gadis berambut indigo yang katanya ikut serta dalam perlawanan terhadap Pein. Satu-satunya gadis yang turun langsung untuk membantu sang Anak Ramalan, Uzumaki Naruto.

Hiashi, beberapa saat yang lalu sangat bangga melihat putrinya yang selama ini ia anggap tidak berguna. Ia mulai membuka lagi sebelah matanya untuk Hinata, ia mulai menyayangi anaknya itu seperti ia menyayangi Hanabi. Dan ia sudah menetapkan bahwa penerus klan Hyuuga adalah dia, Hyuuga Hinata.

Namun sekarang, ke mana gadis itu? Hiashi tidak percaya bahwa Hinata diculik, apalagi dibunuh. Ia yakin anaknya itu kuat - seperti ibunya.

Maka dari itu, Hiashi berkata lantang pada semua yang menghadiri perjamuan itu, "Sekarang, marilah kita makan. Hinata akan baik-baik saja dan segera pulang, ia akan kembali sepertiku - dalam keadaan selamat."

"Dan Neji," ucap Hiashi, dalam suara yang lebih pelan. "Kau tidak usah khawatir."

Neji membelalakkan matanya, seolah menangkap maksud tersembunyi dari ucapan Hiashi. Namun ia mengangguk, dan tersenyum, lalu makan bersama-sama dengan mereka.

.

.

.

A/N: Wahooo! Auuoooo *terbang*

Gila, gua kalo update cerita lama beudh, trus lama-lama ntuh word/chaptuer(?)-nya makin pendek beudh, trus tambah abal beudh, pokoke jelek beudh! *alay* *ini ciyus lho(?)*

Ah, gua kalo di awal cerita selalu banyak bacot. Tapi gomenne buat yang udah baca, aku emang malas ngupdet setori T.T *bunuh aja sodara sodara*

Oh ya, ini fic semi-canon, jadi ceritanya gak bener-bener ikut alur di manga/anime-nya. Yang udah mati bisa hidup, yang masih hidup bisa mati kubuat(?).

Okeh, happy reading, minna ^^ kalo jelek jangan langsung muntah, ya ._.

.

.

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

We Need A Girl (c) Crimson Fruit

Warning: OOC, semi-canon, gaje, abal, jelek, gak jelas, alur ke mana-mana (tak gendong ... ke mana mana *nyanyi(?)), typo(s), author tidak sempurna, diksi campur aduk kayak beduk.

Pairing(s): Akatsuki x Hinata (yang jelek gak boleh ikut *ditonjok*), slight PeinKonan.

Satu persatu anggota Akatsuki akan dimunculkan, sabar, ya ^^ tapi tenang kok, yang jelek + puelit itu belakangan keluarnya *slapslapslap* #sayacumanbercanda (buktinya Kisame muncul di chapter satu *dor)

.

.

.

Chapter 3: Role to Play

Lemah.

Hinata Hyuuga menggeliat tak nyaman. Ia serasa mendapat mimpi buruk di ruangan dengan aura dingin itu. Perlahan, matanya terbuka. Semua orang di ruangan memperhatikannya, namun Pein satu-satunya yang mendelik tidak suka.

Tobi bergegas mengabaikan perintah Pein, dan menghampiri Hinata.

"Nee-chan ... Kau sadar!" seru Tobi dengan nada cerianya. Ia menatap wajah Hinata lekat-lekat dalam posisi minim. Kedua tangan Hinata ia genggam dan ditaruhnya di dekat dada.

Gadis itu pun mengerjap-ngerjapkan matanya dengan heran. "To-Tobi?"

"Ya, Tobi~!" sahut pria itu cepat sambil tersenyum lebar di balik topengnya.

"A-a-apa ini? Aku-aku di mana?" Hinata menatap sekelilingnya dengan kurang leluasa. Langit-langit putih, lampu gantung yang bergoyang ... Ia yakin ini bukan rumahnya. "Nee-chan di markas kami, markas Akatsuki."

"A-Akatsuki?!" Hinata kaget mendengar nama itu disebutkan, bukankah Akatsuki adalah organisasi yang kejam itu? Jadi, Tobi adalah anggota Akatsuki? Hinata hampir tidak mempercayainya.

"Cih! Tobi, berhenti berkomunikasi." Pein menyela, menatap dengan pandangan menusuk ke arah Tobi. Tobi memalingkan wajahnya pada Leader Akatsuki itu, dan langsung menggeram perlahan saat mendengar kalimat selanjutnya yang terlontar.

"Aku minta kau bawa dia pulang. Tapi berhubung dia sudah sadar, kukira ia bisa pulang sendiri."

"Leader!" Tobi berusaha menahan dirinya untuk tidak merasa kesal. Perkataan Pein itu menusuk - lumayan menusuk.

"Kukira tidak ada yang salah dengan Hinata, un!" Deidara berteriak, membuat Tobi dan Hidan langsung menoleh padanya.

Hidan diam-diam berdecak kagum pada pria berambut kuning yang baru saja menggertak ketua Akatsuki itu. Selama ini Hidan hanya menganggapnya setengah pria yang suka bermain bom, tapi tampaknya kali ini ia harus mengubah cara pandangnya.

"Lagipula, kau yang menyuruh kami untuk membawanya, kan, un?!" lanjut pria berambut pirang itu.

Pein, menatap Deidara dengan dingin, begitu juga tatapannya kepada Tobi dan Hinata. Ia kemudian berdecih kecil, "Apa yang membuatmu membelanya?"

Tanpa disadari orang-orang di sana, Pein mengepalkan tangannya gemas. Ia benar-benar merasa buruk. Apa yang membuatnya tidak suka dengan keberadaan gadis ini? Apa hanya karena ia lemah?

Tidak ... tidak, sesuatu di dalam Pein berkata; membuatnya semakin merasa bingung. Pein berusaha mencari tahu jawabannya - jawaban dari: 'kenapa ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Hinata Hyuuga'.

Pein mengerang saat ia tidak mendengar jawaban dari Deidara. Pria itu bungkam dan hanya menatapnya dengan dada yang naik-turun, tanda ia sedang berusaha mengatur emosi. Pein akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana - tanpa berkata apapun.

"Kenapa dia?" Hidan mulai berani buka suara. Ia berjalan mendekat ke Deidara yang hanya menoleh sedikit ke arahnya lalu berjalan ke dekat sofa.

Satu-satunya gadis di sana, Hinata Hyuuga, juga ingin mengeluarkan suaranya. Namun ia terlalu takut untuk bicara terlalu keras. Ia yang sedari tadi mendengar ucapan sinis dari Pein dan belaan dari Deidara, hanya bisa merasa sakit hati dan tertegun sekaligus.

Tobi membantu gadis itu untuk duduk. Ia berusaha menghibur Hinata yang tampak tidak begitu baik.

"A-aku tidak mengerti ... Ja-jadi Tobi adalah Akatsuki. A-apa aku akan dibunuh karena aku dibawa ke sini?" Hinata diam-diam memasang pose siaga yang tidak tertangkap oleh mata mereka.

"Ka-kami tidak akan membunuhmu, un!" Deidara berusaha terlihat ramah dengan tersenyum lebar, namun yang ada adalah ia tersenyum dengan canggung dan tangannya berada di belakang kepala. Kemudian ia berdehem, karena merasa bodoh barusan, lalu lanjut berkata, "Sebenarnya ... Pein menyuruh kami untuk membawa seorang Kunoichi ke sini ... untuk menggantikan Konan, un."

Hinata masih menatap Deidara dengan hati-hati. "Ko-Konan? A-aku me-menggantikan Konan?"

"Ya, un ... Tapi Pein sepertinya sedang stres, dia malah menolak gadis sepertimu."

Hinata makin bingung. "Me-memangnya Konan siapa?"

"Dia ... dia kekasih Pein, un."

"A-APAA?"

"Ah, Hinata-chan, jangan salah paham, maksudku ... kau di sini untuk ..."

Belum sempat Deidara menyelesaikan kalimatnya, petir kembali menggelegar. Hujan di luar memang masih deras. Namun setelah petir itu tidak terdengar lagi, Deidara segera menjelaskan semuanya pada Hinata malam itu. Ia dibantu oleh Tobi dan Hidan. Mereka juga berusaha meyakinkan Hinata kalau Akatsuki itu sudah berhenti dari misinya dan ia tidak akan dibunuh di sini. Mereka menjelaskannya dengan baik-baik, sehingga tidak menambahkan kecurigaannya pada mereka.

"Jadi, un ... Hinata mau?"

.

.

.

.

"Etto ... Etto ... A-aku ma-mau pulang saja." Hinata memainkan jarinya dengan gugup, matanya melirik ke kanan dan kiri dengan gelisah, takut jika perkataannya itu akan membuatnya dimarahi. Namun beberapa saat setelah ia berbicara, empat orang yang ada di sekelilingnya masih terdiam.

Tobi, Deidara dan Hidan, sebenarnya tampak kecewa dengan pernyataan Hinata. Namun satu orang lagi, yang berwajah agak tua dari orang-orang di sana, masih tampak kalem. Ia adalah Uchiha Itachi, kakak dari Uchiha Sasuke - dan hanya itu yang Hinata tahu.

"Ta-tapi Hinata-nee, kami benar-benar kacau, ma-masa tidak mau bantu kami?" Tobi dengan segala rasa kecewanya berusaha membujuk Hinata. Hinata terdiam selama beberapa saat. Ia sebenarnya sudah luluh dengan bujukan Tobi, tapi ia ingin pulang, ia ingin melihat ayahnya dan kakak laki-lakinya.

Itachi yang duduk di sofa dengan salah satu kaki berada di atas paha kaki yang lain dan tangan terlipat di depan dada menatap Hinata dengan datar, menunggu kalimat selanjutnya dengan tenang. Emosinya memang selalu stabil, lain lagi dengan Hidan yang terus-terusan mendesah kecewa dan Deidara yang tampak murung.

Itachi heran juga dengan tingkah ketiga orang itu. Mereka aneh, dan terlihat berbeda hanya karena seorang gadis. Namun ngomong-ngomong tentang gadis itu, rasanya ia pernah bertemu dengannya. Ia merasa familiar dengan matanya - namun ia tidak ingat kapan serta di mana, dan ia menertawakan ingatannya yang buruk itu.

'Akatsuki ... jadi aneh. Tidak mencari Bijuu lagi rasanya tidak menyenangkan. Jadi untuk apa organisasi ini tetap berdiri? Dasar Pein ... Apa dia mengubah misi Akatsuki menjadi mencari perempuan? Tsk. Tapi kudengar tadi ia menolak gadis ini ... Apa yang ia mau?'

"A-aku ingin membantu Tobi tapi ..." Hinata akhirnya buka suara, ia sedikit menghela nafas, berusaha menstabilkan nada dalam perkataannya, "Aku harus pulang, ayah dan Neji-nii pasti mencariku ... Aku tidak ingin membuat mereka khawatir ..."

Suara lembut itu tampaknya tulus, Tobi dan yang lainnya dapat mendengarnya dengan jelas. Namun tetap saja, tiga orang itu tidak mau melepas Hinata. Kalau Hinata pulang, apa yang akan terjadi pada mereka? Mereka sudah memakai jubah bermotif awan merah itu selama tiga hari non-stop(?). Kalau Hinata tidak mengurusi mereka dengan segera ...

"To-Tobi mengerti, Hinata-nee, tapi kami ..."

"Dasar bodoh." Suara tanpa intonasi itu mendadak terdengar. Deidara yang paling mengenali suara itu langsung menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati partner kerjanya saat mencari Bijuu dulu, Akasuna no Sasori.

Pria itu melangkah mendekat ke Deidara dan Tobi yang berdiri bersama dengan perempuan yang dilihatnya tadi siang. Ia menatap lurus-lurus ke Tobi, dan berkata dengan geram, "Kau ini diperintahkan untuk menculiknya, 'kan? Mana ada penculik yang memohon pada korbannya!"

"Me-menculik?" Tobi memberikan pandangan kaget pada pria berambut merah itu. "Tobi dan Deidara-senpai disuruh membawa gadis ..."

"... Membawa itu sama saja menculik, idiot. Mana ada gadis Konoha dengan tulusnya menyerahkan diri dibawa ke Akatsuki untuk dijadikan pembokat ... Apa kau gila, Hah?"

'Pembokat ... Oops. Aku baru ingat kalau gadis ini dibawa untuk mengurus Akatsuki.' Lagi-lagi Itachi menertawakan ingatannya.

Deidara sedikit sweatdrop melihat mantan partnernya itu berbicara cukup panjang. Tapi ia setuju dengan pernyataan itu, begitu juga dengan Hidan, yang berdiri di samping sofa tempat Itachi duduk.

Mereka berdua tiba-tiba menyeringai senang. Padahal barusan, mereka terlihat seperti orang yang putus cinta.

Saat ini, mereka mengira bahwa diri mereka adalah penculik, dan Hinata adalah tangkapan besar mereka. Dengan latar belakang sebagai kriminal kelas kakap, tentu mereka bisa menjadi penculik yang baik. Dua orang itu mulai memikirkan hal apa saja yang akan mereka lakukan selanjutnya. Hidan, dengan otak mesumnya, menyeringai makin lebar.

Hinata berusaha mencerna apa yang sudah didengarnya, apa yang sudah dikatakan Sasori. Jadi ini adalah penculikan? Dan ia diculik untuk menjadi pembantu?

'Aku merasa ... Akan dipaksa kerja rodi(?) di sini.' Hinata mengepalkan tangannya, menggigit bagian bawah bibirnya. Kalau mereka memang akan melakukan itu, ia harus melawan mereka. Dia itu kunoichi, kan? Dia tidak akan pasrah saja kalau disuruh seperti itu. Lagipula, dia orang yang terhormat.

Tapi, satu hal yang masih belum ia percaya, Tobi. Dia pria yang baik dan lugu ... Masa dia membohongiku seperti itu? Itu tidak mungkin. Namun apa yang ada dibalik topengnya itu? Wajah tua yang mengerikan?

Hinata menggelengkan kepalanya pelan sekali, sehingga tidak ada yang melihatnya. 'Tobi tidak mungkin melakukannya ... Tapi ...'

Gadis itu menelan ludahnya saat merasakan seseorang bergerak mendekatinya dari belakang. Suhu di sekitarnya makin panas, ia bisa merasakan orang itu dan cakranya yang teratur. 'Siapa yang ada di belakangku?'

Biasanya, ia hanya merasakan cakra yang teratur di sekitar teman-temannya. Apa ini berarti, orang yang berada dibelakangnya ini tidak ingin menyerangnya? Namun jantungnya tetap berdegup cepat, dan orang itu kini berada sangat dekat dengannya.

Greb.

"Kau benar, Sasori. Kita sedang menculik dia."

Sepasang tangan memeluk Hinata dari belakang. Gadis itu pun reflek berdiri dengan tegang karena kaget berlebihan, dan matanya mulai basah karena bersiap untuk menumpahkan air mata. "Dia akan jadi pengurus kita dan ... pelayan."

Orang itu membisikkan perkataannya tepat di telinga Hinata, membuat gadis itu merasa geli namun makin kaku.

Saat itu juga Hinata terisak dan merasa kalau seluruh tubuhnya menjadi lemas. Semua ancang-ancang untuk menyerang yang ia siapkan tadi terlupakan begitu saja. Matanya berat, kepalanya sakit, dan ia pun tidak sadar kembali.

Kalau saja Hidan tidak memeluknya, mungkin gadis itu akan terjatuh ke lantai sekarang.

...

...

"L-lho, kok pingsan?"

.

.

.

.

Seorang perempuan, berambut biru keunguan sebahu tampak berdiri di atas bukit; menikmati serbuan air hujan yang dingin. Ia di sana bukan untuk bermain, bukan juga untuk bunuh diri atau mencari sakit. Bukit itu adalah tempat di mana teman masa kecilnya dimakamkan. Ia sedang mengenangnya, masa-masa saat mereka masih bersama.

Ia masih ingat jelas bagaimana salah satu sahabatnya itu meninggal; peristiwa itu masih terlalu jelas dalam ingatannya. Mengingat akan hal itu membuatnya menangis. Namun air matanya tidak tampak, sebab sudah bercampur dengan air hujan yang terus mengguyur tanah.

"Nagato ... Konan ... Yahiko ..."

Ia bergumam pelan, menyebutkan namanya dan nama temannya dengan lirih. "Aku ingin bersama kalian lagi."

Ia terhisak, "Aku sudah kehilangan Nagato ... Karena itu aku jadi menyesal meninggalkanmu, Yahiko. Ah, maksudku, Pein."

"Aku ingin kembali ke sana, tapi itu akan memalukan."

Perempuan itu tertawa kecil. "Baru juga sebulan, masa aku tiba-tiba kembali?"

"Aku ingin tahu apa kalian merindukan persahabatan kita, Nagato, Yahiko ..."

"Dan yang paling membuatku penasaran ... aku ingin tahu apa kalian senang bersahabat denganku selama ini."

"Meskipun ..." Perempuan itu tertawa lagi, ia menertawakan dirinya sendiri, "Meskipun aku diam-diam menyukai Yahiko ..."

Perempuan itu tiba-tiba mendongak, seperti baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Nagato, kau yang tenang, ya, di sana? Aku akan menjaga Yahiko."

"Aku berharap kepergianku tidak membuatnya khawatir. Tapi ... cowok sedingin dia mana mungkin khawatir. Hihi, aku merasa bodoh sekarang."

"Tapi Nagato, aku benar-benar menyukainya. Aku pergi untuk melihat seberapa besar pedulinya padaku. Selama sebulan aku belum melihat apa-apa ... Kecewa juga, sih."

Perempuan itu terus bercerita layaknya anak kecil, bahkan sekarang ia duduk dengan tenang, seolah tidak merasa kedinginan. Tangannya memeluk lututnya, ia membenamkan setengah wajahnya di sana.

"Tapi aku akan menunggunya ... Kalau sudah ada tanda, aku akan pulang! Aku berjanji ..."

"Soalnya Akatsuki pasti hancur tanpaku," cibirnya tiba-tiba. "Mereka itu laki-laki yang merepotkan."

"Nagato, aku berharap mereka segera dapat istri."

.

.

.

TBC

Ah, kayaknya ada adegan yang maksa, nih -.-" author bahkan bingung mana yang Nagato, mana yang Yahiko, mana yang udah mati, mana yang masih hidup - author tulalit TAT

Tapi ini kesannya jadi maksa gak, ya? Aku emang gak bakat jadi author, nyak TAT jadi anggap saja Pein itu Yahiko, sementara Nagato udah mati. Karena rambut Yahiko sama kayak rambut Pein~ #alasangakmutu.

Ah, yasudahlah. Ini, kan, cuman semi-canon abal-abal TuT

Btw, mau ngucapin makasih buat readers, viewers, reviewers, favers sama followers cemuahh(?) ... Makasih, ya, cemen-cemen :') Aku cinta kalian, Happy New Yearr~ *tiba-tiba happy(?)*

Ini balasan reviewnya~ XD

Himatrou Ai: Iya, udah update meskipun lama, hehe, gomenne. Nanti pertanyaan kamu bakalan terjawab sendiri lhoo~(?) ^^

Thanks for ripiu :3

Cakekid-Airawliet: Wah~ di-fave~ *kasih permen gula* thanks for ripiu :3

Aimikka Uchia: Review double XD

Tobi manis karena suka makan lollipop, sih :3

Pein emang sadis, tapi gak bakalan sadis kok ke pacarnya~ XD thanks for ripiu :3

Darah: Udah update, hohoho. Makasih ripiunya :3

Hinata-chan cute nyan: Iya, dong XD

Ini udah panjang belum, ya? Kwkwk, author mikir kalo A/N sama balasan reviewnya yang panjang XD semoga saja memuaskan. Thanks for ripiuu :3

Sabaku No'Ruki-Chan: Wah, gomenne lama update #mukapolos *dor. Kalau nanti jadi DeiHina, Saso-nya buat author~ XD thanks for review :D

nurul .wn: Engga update kilat, nih, soalnya mogok wkwk. Gomenne, tapi thanks for review :D

Roux Marlet: Author juga penasaran kenapa fic ini buat orang penasaran ... (?)

Jawabannya sudah tahu, kann? :D

Wah, soal itu, author lupa memperhatikan XPP *tabok* tapi semoga engga kelihatan aneh, ya? Thanks for revieww :3

Nah, sekian ~ XD. Tapi maaf kalau fic ini makin jelek ._.

Dan ... Ah, ya, aku ini tipe author yang gak pandai nentuin akhir cerita. Menurut minna-san, ending dari cerita ini harus bagaimana? O.o

Kasih sarannya, dong~ Kalian kan kreatif cemuahh :* #authorsuperalay ^^

Jaa mata ne, minna. See you in the next chappie! :D

Thanks for reading this stupid fic, before :) *narik Kakashi-kun buat senyum sama minna juga*